Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8  Next
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    26th May 2013, 18:19

Quote :
Makasih mas.
Sebagai member yg berusaha untuk
menjadi member yg baik saya tidak akan merespon or berkomentar lagi thdp
postingan sampeyan mas , meskipun ada beberapa point yg saya tidak
sependapat atau perlu dikomentari ..
Makasih.

Jika masih ada yang ingin dikomentari, atau kurang dalam penjelasan, anda bisa dan malah diharapkan mebuka thread baru, mas. Sehingga forum kita ii bisa semakin semarak dan mencerdaskan kita semua.

Salam

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    26th May 2013, 18:29

Damai bagimu DS.

Anda post seperti ini,
dadap serep wrote:
Ma'af mas yg saya maksud adalah phrasa "ayat" pada ayat ayat AQ yg sampeyan kutip itu .

QS 2:106 AYAT mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

Klo judul trit sih no doubt mas , jelas menyoroti tentang ayat AQ .
Makasih mas.
O itu. Saya kira, kalau post DS sendiri mengatakan "ayat-ayat Al Quran", menurut pemahaman DS, masih mungkin diartikan sebagai ayat-ayat yang tidak tercantum di Al Quran? Kalau menggunakan logika sederhana, dikatakan "ayat-ayat Al Quran", berarti ayat-ayat yang tercantum di Al Quran?

Damai bagimu.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    26th May 2013, 18:55

dadap serep wrote:
Bicara tentang pejabat dan jabatannya memang bisa didekati dari berbagai arah mas. Dalam suatu organisasi dikenal ada beberapa strata kepemimpinan . Ada top managemen , managemen biasa, dan para pelaksana .
Pada level pelaksana , ketika jam kerja usai dia sudah tidak berstatus sbg pelaksana pada prsh tsbt , pelaksanaan tugas tugasnya sdh digantikan oleh org lain , jadi lebih gampang dipilah kapan dia sbg pelaksana kapan dia sebagai warga masyarakatnya.
Berbeda dengan top managemen , meskipun jam kerja usai maka dia tetap pimpinan organisasi tsbt , jadi susah dipisahkan --klo tidak bisa dibilang mustahil-- kapan dia sebagai top manager di organisasi itu dan kapan dia bukan sbg top manager warga biasa.

Dengan premis yg seperti itu mas , menurut saya selama dia masih sbg mentri agama ya ucapan dia itu ya sebagai menteri mas , dan tetep juga dia sebagai muslim yg punya kaidah kaidah yg jadi acuan amalannya.
Wah, hebat juga teorimu DS. Di Kementerian Agama itu ada beberapa Direktorat Jenderal. Jika kementerian Agama ingin berbicara tentang Islam di suatu even, Kementerian Agama mengutus Direktur Jenderal yang membidanginya. Namun Kalau Menterinya sendiri, itu harus memperlakukan sama kepada semua agama yang resmi dianut di negara ini. Bisa DS tangkap maknanya?
Quote :
Makanya mas , umat Islam diluar Ahmadiyah , menyilahkan mereka untuk tidak mengklaim dirinya sebagai umat Islam mas. Silahkan mereka menyatakan diri sebagai umat non Islam , bila sdh demikian masalahnya jadi jelas , Ahmadiyah adalah non Islam. Nah klo sudah demikian , maka saya setuju dengan pendapat sampeyan , Suryadarma Ali sbg menteri tidak boleh menilai tentang ajaran Ahmadiyah , karena mereka telah menjadi suatu "agama" yg punya ajaran sendiri yg harus dihormati dan diperlakukan sama dg agama lain.
Posting saya di atas, saya kira sudah cukup jelas, bahwa apabila Kementerian Agama hendak terlibat dalam suatu kegiatan agama resmi di negara ini, maka Kementerian Agama mengutus Diretur Jenderal yang terkait. Kalau Menteri, itu harus berdiri netral di antara agama-agama resmi.
Paham?

Quote :
Husada wrote:
DS dapat menangkap yang saya maksudkan?
Dapat mas , dapat.
Syukur. Puji Tuhan.

Quote :
Tapi rasanya mas Husada bisa juga menerima kenyataan bahwa jemaah Ahmadiyah itu tidak mau dibilang non muslim , sehingga pendapat ataupun yg disampaikan menag itu masih dalam koridor ajaran Islam untuk umat Islam.
Klo dia membandingkan ataupun menilai agama lain / non Islam , itu baru dia masuk area "memihak" , meskipun yg disampaikan itu sesuai dg ajaran Islam mas , saya sefaham itu !
Ooo... ternyata DS belum faham benar.

Sekali lagi saya sampaikan dengan redaksi berbeda, ketatanegaraan yang mendirikan Kementerian Agama, adalah untuk mengurusi hal-hal yang terkait agama resmi di negara ini. Bila hendak mengurusi salah satu agama resmi saja, maka Kementerian Agama menyerahkan urusannya kepada Direktorat Jenderal terkait di kementerian tersebut.

Menteri, harus bersikap netral, sebab dia adalah menteri negara, bukan menteri salah satu agama resmi.
Quote :
Bila sampeyan memandang Ahmadiyah itu non Muslim saya sependapat dngan postingan sampeyan yg diatas itu mas , spt yg saya postingkan diatas.
Saya kira, saya tidak dalam posisi memberi pendapat untuk menentukan apakah suatu aliran yang tidak saya anut, tergolong masuk kemana. Bahkan penggolongan-penggolongan di agama yang saya anut saja saya tidak kompeten menentukannya, karena di agama yang saya anut, dikenal hirarki keberagamaan. Kompetensi saya selaku penganut agama, belum mencakup pada penentuan suatu aliran masuk kemana.

Quote :
Seperti yg saya posting mas , selama ybs itu sebagai "pelaksana" , berada pada posisi pelaksana , maka dia bisa dibedakan kapan dia sebagai pelaksana dan kapan bukan. Namun klo sebagai top managemen dlm organisasi spt Suryadarma Ali sebagai menteri agama , maka pemisahan itu bagi say sangat susah dilakukan , maka dalam kasus yg kita bicarakan dia berbicara sebagai menteri dan sekaligus sebagai umat Islam yg berbicara tentang ajaran Islam dan tentang umat Islam mas.

Makasih mas.
Nah, agar fenomena koruptif terhindarkan, maka bila seorang Menteri Agama yang harus berdiri netral di antara agama resmi nyata-nyata harus berdiri mencampuri urusan suatu agama tertentu, dia harus menanggalkan terlebih dahulu kementeriannya. Bila Kementerian Agama harus bersikap berdiri dan mencampuri urusan suatu agama resmi, maka dia harus mengutus Direktur Jenderal terkait.

Paham?

Damai bagimu.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara


Terakhir diubah oleh Husada tanggal 27th May 2013, 13:40, total 3 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    26th May 2013, 19:46

Damai bagimu DS.
dadap serep wrote:
Wah kenapa pakai ekpresi "menguntungkan" dirinya . Ada nuansa "prasangka" keliatannya mas . Sangka sangka awal . Dari awal sudah didahului dg "sangka-sangka".
Saya harap tidak demikian adanya.
Kalau itu DS duga sebagai sangka-sangka, ya silahkan saja. Tetapi maksud saya di situ bukan sangka-sangka, melainkan hipotesa. Saya ber-hipotesa seperti itu, karena membaca-baca riwayat hidup Muhammad. Dia sejak usia 5 tahun sudah yatim piatu. Dia dididik oleh kakeknya, kemudian oleh pamannya. Sejak kecil sampai remaja, sudah berkenalan dengan penganut Nestorian dan Ebionit. Bahkan penganut Nestorian dan Ebonit itu meramalkan bahwa Muhammad akan tumbuh dan menjadi Nabi.

Karena kepahitan hidup yang dialami (sejak usia 5 tahun sudah yatim piatu), cenderung menilai segala sesuatu berdasarkan materi yang dirasanya tidak pernah tercukupi sesuai keinginannya. Kemudian dia menikah dengan seorang janda kaya penganut Kristen Ebionit, dimana Kristen 'mengharamkan' beristri lebih dari satu. Maka, selama istri pertamanya, yang sebelumnya adalah janda terkaya di daerahnya masih hidup, Muhammad tidak memperistri perempuan lain. Setalah istri pertamanya meninggal, dia kawin lagi dan lagi.

Ayat-ayat Kitab Suci yang dikatakan diterimanya dari Allah melalui Malaikat Jibril, selalu menguntungkannya. Ambil contoh, tentang pembagian barang jarahan. Bagiannya lebih besar daripada bagian orang lain. Bagian Allah diserahkan kepadanya. Contoh lain, ayat-ayat tentang perkawinan yang katanya diterimanya, bagi dia bisa beristri lebih dari 4, sementara bagi pengikutnya paling banter 4. Dll, dll.

Semua itu menggiring pikiran saya menarik hipotesa, bukan sangka-sangka, bahwa Muhammad itu selalu mencari keuntungan sendiri. Lhah... kalau hipotesa yang saya tarik dari riwayat Muhammad itu ternyata salah, berkenankah DS mengungkapkan yang benar? Mari kita diskusikan.

Quote :
Amalan yg saya maksudkan --terkait dengan topik-- adalah amalan beliau dalam melaksanakan --menterjemahkan dalam tindakan-- syariah yg termaktub dlm AQ mas. Itulah yg bisa dikatakan sbg "tafsir resmi" dari ayat ayat AQ . Adanya hadist hadist beliau tentang pelarangan minum khomr misalnya. Atau tindakan beliau dalam kaitan kehidupan rumah tangga , perkawinan beliau , hubungan beliau dg istri , menantu, mertua dg para sahabat , dg umat muslim kala itu dalam berbagai permasalahan hidup dan kehidupan dll.
O, begitu.

Jadi, kalau ada dua ayat di Al Quran yang berbicara mengenai hal yang sama, keduanya berlaku, dan untuk menilai ayat mana yang lebih valid adalah tergantung kepada hadits-hadits. Begitu? Tidak boleh kalau hanya dikaitkan dengan kronologis kurun waktu turunnya ayat tersebut. Begitu? Jika demikian adanya, maka ayat yang berbicara mengenai Allah akan menurunkan ayat yang setara atau lebih baik, menjadi tidak bermanfaat?

Justru karena ada ayat berisikan Allah akan menurunkan ayat yang setara atau lebih baik, maka saya pikir, ayat yang lebih dahulu turun menjadi tidak berlaku, sebab sudah diturunkan ayat yang setara atau lebih baik. Dan kalau ayat setara atau lebih baik sudah diturunkan, maka ayat terdahulu yang setara atau lebih buruk, sudah tidak berguna, lalu untuk apa itu dipertahankan dalam Al Quran?
Quote :
Perkara sampeyan menduga duga tentang masalah kehidupan perkawinan beliau spt itu , informasi yg bisa didapat dari berbagai situs yg bisa diakses dg gampang dan buku buku syirah nabi Muhammad , tidak persis seperti itu mas.
Maksud DS, ada situs riwayat Muhammad yang berkisah bahwa ketika istri pertamanya masih hidup, Muhammad sudah mengawini perempuan lain?
Quote :
Silahkan saja googling .
Tolong sebut satu saja DS, akan saya coba baca.
Quote :
Saya tidak dalam posisi untuk menyanggah atau membenarkan "dugaan" sampeyan mas . Silahkan mencarinya sendiri dan memahaminya spt apa.
Dari yang saya cari, semua riwayat Muhammad mengatakan bahwa selama istri pertama Muhammad masih hidup, Muhammad tidak memperistri perempuan lain. Nah, kalau berkenan menolong saya, sebut satu situs saja untuk saya baca?

Quote :
Dari sudut pemahaman saya , semua ayat yg ada di AQ adalah valid adanya , semua ayat itu merupakan pegangan umat dalam beramal , bersikap mas . Kalau ada lebih dari satu yg berisi perintah atau batasan sikap atau tindak yg harus dilakukan oleh umat ya lakukan spt itu mas. Kecuali dinyatakan lain . Seperti adanya perintah sholat , mendirikan sholat . Ayat tentang bagai mana itu sholat , ada lebih dari satu ayat dan banyak hadist nya. Ya kami sholat berdasarkan referensi referensi itu semua mas.
Lhah, karena memang begitu maka bila ada 2 ayat yang berisikan substansi yang sama atau hampir sama, kemudian semau kita hendak menggunakan yang mana, bukan? Keduanya valid sii... Tidak salah dipraktikkan. Begitu kan?
Quote :
Oh ya tidak mas , klo jelas dinyatakan bahwa ayat itu lebih baik dari ayat ini , ya jelas kita laksanakan yg lebih baik to mas , wajar saja mas.
Makasih mas.
DS melakukan yang lebih baik, tetapi sepanjang ayat yang lebih buruk itu tidak dihilangkan dari dalam Al Quran, karena ayat itu valid, maka Muslim lain yang mempraktikkan ayat yang lebih buruk itu, tidak salah bukan? Dan itulah sumber pertikaian yang tidak akan henti-henti. Sebab, yang mempraktikkan amalan berdasarkan ayat yang lebih baik, adalah benar, dan yang mempraktikkan amalan berdasarkan ayat yang lebih buruk, adalah benar, sebab dua ayat tersebut sama-sama valid. Begitu yang DS maksudkan, bukan?

Lebih lanjut, karena seperti itu pula maka terkesan bahwa Allah yang menurunkan ayat Al Quran kepada Muhammad itu, tidak konsisten. Memandang valid dua ayat yang bernuansa berbeda.

Damai bagimu DS.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    26th May 2013, 20:03

Damai sejahtera Tuhan Jesus Kristus menyertaimu Nothingman.
nothingman wrote:
Mohon maaf to bro Husada, klo sy menyela diskusinya bro Husada dgn bro Dadap ya..
Weih, ndak salah kenapa minta maaf? Saya malah berterima kasih. Nothingman membahasakannya lebih baik, sehingga logika normal dapat menangkap lebih jelas. Sekali lagi, terima kasih.
[You must be registered and logged in to see this image.]
...
Quote :
makanya dlm hal ini sy mau minta saran dr bro Husada dan bro Bruce, bagaimana cara yg harus sy gunakan utk mendiskusikan masalah2 yg lebih rumit terkait topik ini dgn serius dgn bro Dadap..??
Weleh, weleh, weleh... Nothingman ini suka merendah.

Saya sungguh tidak punya terapi khusus. Mungkin, orang yang mendalami psikologi yang dapat memenuhi permintaan Nothingman itu. Kalau tidak salah menilai, saya usulkan Bruce yang kasi masukan untuk Nothingman, ato itu... non yang dari Lawang itu. Beliau berdua sangat piawai mencarikan terapi-terapi berkaitan dengan kejiwaan. Jempolan.
[You must be registered and logged in to see this image.]

Damai, damai, damai. [You must be registered and logged in to see this image.] [You must be registered and logged in to see this image.] [You must be registered and logged in to see this image.]

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
nothingman
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1503
Join date : 13.11.12

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    28th May 2013, 10:22

Husada wrote:
Damai sejahtera Tuhan Jesus Kristus menyertaimu Nothingman.
nothingman wrote:

Mohon maaf to bro Husada, klo sy menyela diskusinya bro Husada dgn bro Dadap ya..
Weih, ndak salah kenapa minta maaf? Saya malah berterima kasih. Nothingman membahasakannya lebih baik, sehingga logika normal dapat menangkap lebih jelas. Sekali lagi, terima kasih.

Quote :
makanya dlm hal ini sy mau minta saran dr bro Husada dan bro Bruce, bagaimana cara yg harus sy gunakan utk mendiskusikan masalah2 yg lebih rumit terkait topik ini dgn serius dgn bro Dadap..??
Weleh, weleh, weleh... Nothingman ini suka merendah.

Saya sungguh tidak punya terapi khusus. Mungkin, orang yang mendalami psikologi yang dapat memenuhi permintaan Nothingman itu. Kalau tidak salah menilai, saya usulkan Bruce yang kasi masukan untuk Nothingman, ato itu... non yang dari Lawang itu. Beliau berdua sangat piawai mencarikan terapi-terapi berkaitan dengan kejiwaan. Jempolan.

Damai, damai, damai. [You must be registered and logged in to see this image.] [You must be registered and logged in to see this image.] [You must be registered and logged in to see this image.]
Damai sejahtera menyertai anda jg bro Husada..
klo gitu mari kita lanjutkan diskusi ke materi yg terkait trit ini aj ya bro Hus, masalah bagaimana nti tanggapan dr masing2 member yg ada, kita serahkan aj penilaiannya ke masing2 pribadi, jd nda perlu dipermasalahkan lg..

Okay sy akan sedikit memberikan penjelasan mengenai ayat yg terkait masalah nasakh mansuk dlm AlQuran yaitu pd surat Al Baqarah 2:106 yg pd AlQuran terjemahan Indonesia berbunyi :

(QS 2:106) Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?
Sumber : [You must be registered and logged in to see this link.]

dan menurut sy dlm terjemahan versi Indonesia tsb diatas ada perbedaan dr versi Inggrisnya (terlebih terhadap kata2 yg didalam kurung) yg sy ambil dr Tafsirannya Ibn Kathir yg berbunyi demikian:

(106. Whatever a verse (revelation) do Nansakh (We abrogate) or Nunsiha (cause to be forgotten), We bring a better one or similar to it. Know you not that Allah is Able to do all things)
sumber: [You must be registered and logged in to see this link.]

dan klo ayat pd tafsirannya Ibn Kathir tsb diterjemahkan secara bebas mjd demikian :
Apapun ayat (wahyu) yang Kami lakukan Nansakh (Kami batalkan) atau Nunsiha (kami sebabkan untuk dilupakan), Kami berikan yang lebih baik atau yang mirip dengan itu. Tahukah kamu, bahwa Allah dapat/berkuasa untuk melakukan semuanya itu.

yah walaupun versi terjemahan bebas ini masih agak mirip dgn ayat yg ada pd Quran versi Indonesianya, tp ada hal yg penting yg harus diperhatikan yaitu ttg adanya kata "manusia" dlm Quran versi Indonesia yg didalam kurung dan sy tebalkan diatas.. sedangkan dlm versi Inggrisnya yg sy ambil dr tafsiran Ibn Kathir tidak ada kata2 yg bisa diartikan sbg "manusia" disana, hanya tertulis "cause to be forgotten".. dan dlm Quran versi Indonesia diartikan bahwa "Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya"..

tapi kenapa dlm versi Indonesianya bisa ada kata2 "manusia" disana ya..? apa yg menjadi sebabnya, dan siapakah "manusia" yg dimaksud..??

mari kita sama2 lihat tafsiran dr Ibn Kathir terkait ayat Surat Al Baqarah 2:106 ini ya bro, sy akan copaskan dan terjemahkan seperti berikut ini :
(ket: yg didalam kurung dan sy tebalkan adlh ayat2 dlm Quran, yg dicetak biasa adlh tafsirannya, dan yg sy garis bawahi adlh yg harus diperhatikan)
ini tafsiran menurut Ibn Kathir dan ini sumbernya: [You must be registered and logged in to see this link.]
------------------------------
The Meaning of Naskh
Ibn Abi Talhah said that Ibn `Abbas said that,
Terjemahan:
Arti dari Naskh
Ibn Abi Thalhah mengatakan bahwa Ibn 'Abbas mengatakan bahwa,

(Whatever a verse (revelation) do Nansakh) means, "Whatever an Ayah We abrogate.'' Also, Ibn Jurayj said that Mujahid said that,
Terjemahan:
(Ayat mana saja yang Kami nasakhkan) berarti, "Apa pun Ayat yang Kami batalkan.'' Selain itu, Ibnu Jurayj mengatakan bahwa Mujahid mengatakan bahwa,

(Whatever a verse (revelation) do Nansakh) means, "Whatever an Ayah We erase.'' Also, Ibn Abi Najih said that Mujahid said that,
Terjemahan:
(Ayat mana saja yang Kami nasakhkan) berarti, "Apa pun Ayat yang Kami hapus.'' Juga, Ibnu Abi Najih mengatakan bahwa Mujahid mengatakan bahwa,

(Whatever a verse (revelation) do Nansakh) means, "We keep the words, but change the meaning.'' He related these words to the companions of `Abdullah bin Mas`ud. Ibn Abi Hatim said that similar statements were mentioned by Abu Al-`Aliyah and Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi. Also As-Suddi said that,
Terjemahan:
(Ayat mana saja yang Kami nasakhkan) berarti, "Kami tetap menjaga kata-katanya, tapi mengubah maknanya.'' Dia mengaitkan kata-kata ini kepada sahabat 'Abdullah bin Mas`ud. Ibnu Abi Hatim mengatakan bahwa pernyataan yang sama disebutkan oleh Abu Al-`Aliyah dan Muhammad bin Ka`b Al-Qurazi. Juga As-Suddi mengatakan bahwa,

(Whatever a verse (revelation) do Nansakh) means, "We erase it.'' Further, Ibn Abi Hatim said that it means, "Erase and raise it, such as erasing the following wordings (from the Qur'an), `The married adulterer and the married adulteress: stone them to death,' and, `If the son of Adam had two valleys of gold, he would seek a third.'''
Ibn Jarir stated that,
Terjemahan:
(Ayat mana saja yang Kami nasakhkan) berarti, "Kami menghapusnya.'' Selanjutnya, Ibnu Abi Hatim mengatakan bahwa itu berarti," Menghapus dan mengangkatnya, seperti menghapus susunan kata berikut (dari Al Qur'an), `bagi lelaki dewasa dan wanita dewasa yang berzinah: lempari batu (rajam) mereka sampai mati, ' dan, 'Jika anak Adam memiliki dua lembah emas, ia akan mencari ketiga.' ''
Ibnu Jarir menyatakan bahwa,

(Whatever a verse (revelation) do Nansakh) means, "Whatever ruling we repeal in an Ayah by making the allowed unlawful and the unlawful allowed.'' The Nasakh only occurs with commandments, prohibitions, permissions, and so forth. As for stories, they do not undergo Nasakh. The word, `Nasakh' literally means, `to copy a book'. The meaning of Nasakh in the case of commandments is removing the commandment and replacing it by another. And whether the Nasakh involves the wordings, the ruling or both, it is still called Nasakh.
Allah said next,
Terjemahan:
(Ayat mana saja yang Kami nasakhkan) berarti, "Apapun aturan yang kita cabut/gantikan dalam sebuah Ayat dengan membuat sesuatu diperbolehkan dari sesuatu yang dilarang dan melarang sesuatu yang diperbolehkan.'' Nasakh hanya terjadi/berkaitan dengan perintah, larangan, perizinan, dan sebagainya. Adapun cerita , mereka yang tidak mengalami terjadinya nasakh. kata, `nasakh' secara harfiah berarti, `untuk menyalin sebuah buku'. makna nasakh dalam hal perintah adalah menghilangkan perintah dan menggantinya dengan yang lain. dan apakah nasakh melibatkan susunan kata, peraturan atau keduanya, masih disebut nasakh.

Allah berfirman berikutnya,

(or Nunsiha (cause it to be forgotten)). `Ali bin Abi Talhah said that Ibn `Abbas said that,
Terjemahan:
(atau Nunsiha (menyebabkan itu untuk dilupakan)) 'Ali bin Abi Talhah mengatakan bahwa Ibn Abbas mengatakan bahwa,

(Whatever a verse (revelation) do Nansakh or Nunsiha) means, "Whatever Ayah We repeal or uphold without change.'' Also, Mujahid said that the companions of Ibn Mas`ud (who read this word Nansa'ha) said that it means, "We uphold its wording and change its ruling.'' Further, `Ubayd bin `Umayr, Mujahid and `Ata' said, `Nansa'ha' means, "We delay it (i.e., do not abrogate it).'' Further, `Atiyyah Al-`Awfi said that the Ayah means, "We delay repealing it.'' This is the same Tafsir provided by As-Suddi and Ar-Rabi` bin Anas. `Abdur-Razzaq said that Ma`mar said that Qatadah said about Allah's statement,
Terjemahan:
(Ayat mana saja yang Kami nasakhkan atau Nunsiha (menyebabkan itu untuk dilupakan)) berarti, "Apapun ayat Kami cabut/hapuskan atau tegaskan tanpa perubahan.'' Juga, Mujahid mengatakan bahwa para sahabat Ibnu Mas`ud (yang membaca kata ini Nansa'ha) mengatakan bahwa berarti, "Kami tegaskan makna kata-katanya dan mengubah aturan/hukumnya.'' Selanjutnya,` Ubaid bin `Umayr, Mujahid dan` Ata 'berkata,' Nansa'ha' berarti, "Kami menunda itu (yaitu, tidak/tanpa menghapusnya)." "Selanjutnya,` Atiyyah Al-`Awfi mengatakan bahwa Ayat ini berarti, "Kami menunda membatalkan itu.'' ini adalah Tafsir yang sama yang disediakan oleh As-Suddi dan Ar-Rabi `bin Anas. `Abdur Razzaq-mengatakan bahwa Ma`mar mengatakan bahwa Qatadah mengatakan tentang pernyataan Allah,

(Whatever a verse (revelation) do We abrogate or cause to be forgotten) "Allah made His Prophet forget what He willed and He abrogated what He will.''
Allah's said,
Terjemahan:
(Apapun ayat (wahyu) yang Kami batalkan atau menyebabkan untuk dilupakan) "Allah membuat Nabi-Nya melupakan apa yang Dia kehendaki dan Dia membatalkan apa yang Dia kehendaki.''

Allah berkata,

--> coba lihat tafsiran diatas yg sy garis bawahi, yg dibuat lupa ol Awloh itu adlh Muhammad sendiri, bukan seluruh manusia.. jd jelas yg lupa akan Firman2 yg diturunkan ol Awloh itu ternyata adlh Nabinya sendiri broooww.. dan utk menutupi 'fakta'/kenyataan tsb dlm AlQuran versi Indonesianya digantikan dgn kata "manusia" dlm tafsirannya..

jd 'teka-teki' kenapa Muhammad tidak pernah menyatakan ayat2 mana yg dihapuskan dan dinasakh dlm Quran terjawab sudah, itu karena dia sendiri LUPA ayat2 mana aj yg sudah diturunkan/difirmankan ol Awlohnya selama hidupnya..
huahahahahahaha [You must be registered and logged in to see this image.] [You must be registered and logged in to see this image.] [You must be registered and logged in to see this image.]


okay lanjut ke tafsirannya Ibn Kathir :

(We bring a better one or similar to it), better, relates to the benefit provided for the one it addresses, as reported from `Ali bin Abi Talhah that Ibn `Abbas said,
Terjemahan:
(Kami berikan yang lebih baik atau yang mirip dengan itu), lebih baik, berkaitan dengan manfaat yang telah dialamatkan/ditujukannya, seperti dilansir dari `Ali bin Abi Thalhah bahwa Ibn 'Abbas mengatakan,

(We bring a better one) means, "We bring forth a more beneficial ruling, that is also easier for you.'' Also, As-Suddi said that,

Terjemahan:
(Kami berikan yang lebih baik) berarti, "Kami mendatangkan aturan/hukum yang lebih menguntungkan, yang juga lebih mudah bagi anda.'' Juga, As-Suddi mengatakan bahwa,


--> Ooh jd Awloh sengaja menggantikan hukum/aturan yg lama supaya lebih menguntungkan orang Muslim, dan jg supaya lebih mudah dipraktekkan, mudah dimengerti, dan jg mudah utk 'diingat' ol sang Nabi..
ya ya yaaa... [You must be registered and logged in to see this image.] lanjuuuutt...


(We bring a better one or similar to it) means, "We bring forth a better Ayah, or similar to that which was repealed.'' Qatadah also said that,

Terjemahan:
(Kami berikan yang lebih baik atau yang mirip dengan itu) berarti, "Kami mendatangkan Ayat yang lebih baik, atau sama dengan yang dicabut/dihapuskan.'' Qatadah juga mengatakan bahwa,

(We bring a better one or similar to it) means, "We replace it by an Ayah more facilitating, permitting, commanding, or prohibiting.''

Terjemahan:
(Kami berikan yang lebih baik atau yang mirip dengan itu) berarti, "Kami menggantinya oleh Ayat yg lebih memfasilitasi, lebih mempermudah, lebih membimbing, atau lebih melarang.''
------------------

Okay itu adlh akhir tafsiran Ibn Kathir ttg ayat pd Surat Al Baqarah 2:106, dan menurut tafsir tsb jelas bahwa yg dimaksud "Ayat" yg dinansikh atau digantikan itu adlh mengacu pd "Ayat"/Firman Awloh yg ada di AlQuran, BUKAN Ayat/Firman yg diturunkan sejak jaman Adam spt penjelasan dr bro Dadap, bukan pula Firman atau Kitab yg telah diturunkan pd jamannya Nabi2 sebelum Muhammad spt penjelasan dr bro Raihan pd postingan diatas..


Semoga pemaparan sy diatas bisa menjawab pertanyaan yg diajukan ol bro Husada atau member lain yg Non Muslim yg bertannya2 ttg pengertian nasikh mansuk dlm AlQuran, tp jika ada konfirmasi atau penjelasan/tanggapan terkait hal ini dr member Muslim sy persilahkan..

Syalom, [You must be registered and logged in to see this image.]
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    1st June 2013, 07:47

Ma'af kepada forum , baru saat ini saya bisa mempost jawaban atas pertanyaan atau respon yg ditujukan kepada saya . Mohon maklum.
Makasih.
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    1st June 2013, 07:49

bruce wrote:
Quote :
Makasih mas.
Sebagai member yg berusaha untuk
menjadi member yg baik saya tidak akan merespon or berkomentar lagi thdp
postingan sampeyan mas , meskipun ada beberapa point yg saya tidak
sependapat atau perlu dikomentari ..
Makasih.

Jika masih ada yang ingin dikomentari, atau kurang dalam penjelasan, anda bisa dan malah diharapkan mebuka thread baru, mas. Sehingga forum kita ii bisa semakin semarak dan mencerdaskan kita semua.

Salam


Makasih mas atas sarannya , namun demikian rasanya dalam
forum ini --sesuai dengan judul forum-- saya adalah sebagai nara sumber , saya akan memberikan keterangan , jawaban ,
penjelasan atas masalah atau persoalan yg disampaikan oleh forum , semampu saya

Jadi rasanya saya tidak dalam posisi untuk membuka tret deh.
Tapi anyhow trima
kasih atas penawarannya.
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    1st June 2013, 07:51

Husada wrote:
Damai bagimu DS.

Anda post seperti ini,
dadap serep wrote:
Ma'af mas yg saya maksud adalah phrasa "ayat" pada ayat ayat AQ yg sampeyan kutip itu .

QS 2:106 AYAT mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

Klo judul trit sih no doubt mas , jelas menyoroti tentang ayat AQ .
Makasih mas.
O itu. Saya kira, kalau post DS sendiri mengatakan "ayat-ayat Al Quran", menurut pemahaman DS, masih mungkin diartikan sebagai ayat-ayat yang tidak tercantum di Al Quran? Kalau menggunakan logika sederhana, dikatakan "ayat-ayat Al Quran", berarti ayat-ayat yang tercantum di Al Quran?

Damai bagimu.



Rasanya postingan saya cukup jelas ya , klo saya lihat lagi
copasan saya dari salah satu ayat AQ
diatas , yaitu QS.2:106 kalimat nya diawali dg :"AYAT",..........dst
dst , nah yg saya tanya kepada sampeyan adalah "AYAT" atau
dalam teks arabnya berbunyi "aayatin" itu dimaknai bagaimana , gitu mas ,.......... bukan “ayat ayat Al
Qur’an” nya.



Tapi baiklah ,..... daripada diskusi ini nggak maju maju , tidak ada salahnya
(bila salah silahkan dibetulkan) dari jawaban sampeyan itu --sementara ini --
saya pahami bahwa sampeyan memaknai kata arab "aayatin" atau ayat
dalam qs 2:106 itu , adalah sebagai "ayat Al Qur'an" , maka Qs.2:106
tsbt bisa dibaca spt ini :" AYATal Qur'an mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan
(manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang
sebanding dengannya.........."



Maka yg sgt mungkin muncul kemudian --dg nalar yg normal-- adalah pertanyaan :
Lalu yg dinasahk kan oleh Allah itu ayat yg mana ? kan narasinya Ayat al Qur'an
mana saja ,........... Itu satu pertanyaan mas , pertanyaan yg lain ,... disitu
ada rangkaian kata "...atau Kami jadikan (manusia) lupa
kepadanya......."
wajar kiranya muncul pertanyaan :" lha lalu
ayat Al Qur'an yg mana yg dilupakan atau Allah jadikan manusia lupa itu ? toh
sang nabi hapal semua ayat ayat yg diwahyukan kepadanya , atau mas Husada punya
referensi mana mana ayat yg dilupakan oleh manusia itu ?

Maka mas menurut saya dari pemahman yg ada pada saya , berdasarkan referensi
referensi yg ada pada saya dan berdasarkan nalar yg dikaruniakan Allah kepada
saya , narasi "ayat" disitu (QS.2:106) adalah bermakna “ firman Allah
yg berisi syareat ajaran aturan Allah sejak nabi Adam sampai utusan sebelum
Muhammad “. Karena berbagai hal mungkin karena waktu , tidak sempurnanya
pendokumentasian ,atau karena keterbatasan tehnologi dan daya ingat manusia
maka manusia bisa lupa atau karena berbakai sebab dari sifat sifat negative
manusia kemudian "melupakan" suatu ayat .


Atau juga karena perkembangan akal budaya manusia maka untuk
mengcovernya perlu dibuat atau dilengkapi suatu ayat dengan yg lebih baik shg ayat ayat Al Qur’an yg ada tsbt merupakan
syareat yg mutakhir ! Pemahman yg
demikian justru mengkonfirmasikan bahwa Al Qur'an , ayat ayat Al Qur'an itu
adalah merupakan syareat release terakhir dari syareat syareat Allah terdahulu
yg mungkin sudah terlupakan atau ayat ayat yg disesuaikan dengan perkembangan
akal budaya manusia yg kian berkembang itu.


Maka
tidak ada ayat AQ yg perlu dinasahk , wong release terbaru kok udah
dikoreksi , jelas dalam Islam Allah itu maha dalam segalanya ! Kecuali ada
keimanan yg menyatakan Tuhan itu punya (sifat sifat) manusia , itu “kacamata”
masing masing mas.

Maturnuwun mas smoga bisa memahaminya.
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    1st June 2013, 07:54

Husada wrote:
dadap serep wrote:
Bicara tentang pejabat dan jabatannya memang bisa didekati dari berbagai arah mas. Dalam suatu organisasi dikenal ada beberapa strata kepemimpinan . Ada top managemen , managemen biasa, dan para pelaksana .
Pada level pelaksana , ketika jam kerja usai dia sudah tidak berstatus sbg pelaksana pada prsh tsbt , pelaksanaan tugas tugasnya sdh digantikan oleh org lain , jadi lebih gampang dipilah kapan dia sbg pelaksana kapan dia sebagai warga masyarakatnya.
Berbeda dengan top managemen , meskipun jam kerja usai maka dia tetap pimpinan organisasi tsbt , jadi susah dipisahkan --klo tidak bisa dibilang mustahil-- kapan dia sebagai top manager di organisasi itu dan kapan dia bukan sbg top manager warga biasa.

Dengan premis yg seperti itu mas , menurut saya selama dia masih sbg mentri agama ya ucapan dia itu ya sebagai menteri mas , dan tetep juga dia sebagai muslim yg punya kaidah kaidah yg jadi acuan amalannya.
Wah, hebat juga teorimu DS. Di Kementerian Agama itu ada beberapa Direktorat Jenderal. Jika kementerian Agama ingin berbicara tentang Islam di suatu even, Kementerian Agama mengutus Direktur Jenderal yang membidanginya. Namun Kalau Menterinya sendiri, itu harus memperlakukan sama kepada semua agama yang resmi dianut di negara ini. Bisa DS tangkap maknanya?
Quote :
Makanya mas , umat Islam diluar Ahmadiyah , menyilahkan mereka untuk tidak mengklaim dirinya sebagai umat Islam mas. Silahkan mereka menyatakan diri sebagai umat non Islam , bila sdh demikian masalahnya jadi jelas , Ahmadiyah adalah non Islam. Nah klo sudah demikian , maka saya setuju dengan pendapat sampeyan , Suryadarma Ali sbg menteri tidak boleh menilai tentang ajaran Ahmadiyah , karena mereka telah menjadi suatu "agama" yg punya ajaran sendiri yg harus dihormati dan diperlakukan sama dg agama lain.
Posting saya di atas, saya kira sudah cukup jelas, bahwa apabila Kementerian Agama hendak terlibat dalam suatu kegiatan agama resmi di negara ini, maka Kementerian Agama mengutus Diretur Jenderal yang terkait. Kalau Menteri, itu harus berdiri netral di antara agama-agama resmi.
Paham?

Quote :
Husada wrote:
DS dapat menangkap yang saya maksudkan?
Dapat mas , dapat.
Syukur. Puji Tuhan.

Quote :
Tapi rasanya mas Husada bisa juga menerima kenyataan bahwa jemaah Ahmadiyah itu tidak mau dibilang non muslim , sehingga pendapat ataupun yg disampaikan menag itu masih dalam koridor ajaran Islam untuk umat Islam.
Klo dia membandingkan ataupun menilai agama lain / non Islam , itu baru dia masuk area "memihak" , meskipun yg disampaikan itu sesuai dg ajaran Islam mas , saya sefaham itu !
Ooo... ternyata DS belum faham benar.

Sekali lagi saya sampaikan dengan redaksi berbeda, ketatanegaraan yang mendirikan Kementerian Agama, adalah untuk mengurusi hal-hal yang terkait agama resmi di negara ini. Bila hendak mengurusi salah satu agama resmi saja, maka Kementerian Agama menyerahkan urusannya kepada Direktorat Jenderal terkait di kementerian tersebut.

Menteri, harus bersikap netral, sebab dia adalah menteri negara, bukan menteri salah satu agama resmi.
Quote :
Bila sampeyan memandang Ahmadiyah itu non Muslim saya sependapat dngan postingan sampeyan yg diatas itu mas , spt yg saya postingkan diatas.
Saya kira, saya tidak dalam posisi memberi pendapat untuk menentukan apakah suatu aliran yang tidak saya anut, tergolong masuk kemana. Bahkan penggolongan-penggolongan di agama yang saya anut saja saya tidak kompeten menentukannya, karena di agama yang saya anut, dikenal hirarki keberagamaan. Kompetensi saya selaku penganut agama, belum mencakup pada penentuan suatu aliran masuk kemana.

Quote :
Seperti yg saya posting mas , selama ybs itu sebagai "pelaksana" , berada pada posisi pelaksana , maka dia bisa dibedakan kapan dia sebagai pelaksana dan kapan bukan. Namun klo sebagai top managemen dlm organisasi spt Suryadarma Ali sebagai menteri agama , maka pemisahan itu bagi say sangat susah dilakukan , maka dalam kasus yg kita bicarakan dia berbicara sebagai menteri dan sekaligus sebagai umat Islam yg berbicara tentang ajaran Islam dan tentang umat Islam mas.

Makasih mas.
Nah, agar fenomena koruptif terhindarkan, maka bila seorang Menteri Agama yang harus berdiri netral di antara agama resmi nyata-nyata harus berdiri mencampuri urusan suatu agama tertentu, dia harus menanggalkan terlebih dahulu kementeriannya. Bila Kementerian Agama harus bersikap berdiri dan mencampuri urusan suatu agama resmi, maka dia harus mengutus Direktur Jenderal terkait.

Paham?

Damai bagimu.
Ma'af mas --meskipun saya tidak sefaham dibeberapa posting sampeyan diatas-- rasanya klo memang mo diterusin spt jawaban saya ke mas Bruce , silahkan buka tret baru saja , saya sebg nara sumber disini hanya ikutan share saja perihal masalah yg diperbincangkan , dan judul topik ini adalah bukan mengenai menag tapi :"Kronologi turunnya Al Qur'an dan Abrogations Ayat Al Qur'an"
Smoga maklum.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    1st June 2013, 09:42

Damai bagimu DS.
dadap serep wrote:
Rasanya postingan saya cukup jelas ya , klo saya lihat lagi
copasan saya dari salah satu ayat AQ
diatas , yaitu QS.2:106 kalimat nya diawali dg :"AYAT",..........dst
dst , nah yg saya tanya kepada sampeyan adalah "AYAT" atau
dalam teks arabnya berbunyi "aayatin" itu dimaknai bagaimana , gitu mas ,.......... bukan “ayat ayat Al
Qur’an” nya.

Tapi baiklah ,..... daripada diskusi ini nggak maju maju , tidak ada salahnya
(bila salah silahkan dibetulkan) dari jawaban sampeyan itu --sementara ini --
saya pahami bahwa sampeyan memaknai kata arab "aayatin" atau ayat
dalam qs 2:106 itu , adalah sebagai "ayat Al Qur'an" , maka Qs.2:106
tsbt bisa dibaca spt ini :" AYATal Qur'an mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan
(manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang
sebanding dengannya.........."

Maka yg sgt mungkin muncul kemudian --dg nalar yg normal-- adalah pertanyaan :
Lalu yg dinasahk kan oleh Allah itu ayat yg mana ? kan narasinya Ayat al Qur'an
mana saja ,........... Itu satu pertanyaan mas , pertanyaan yg lain ,... disitu
ada rangkaian kata "...atau Kami jadikan (manusia) lupa
kepadanya......."
wajar kiranya muncul pertanyaan :" lha lalu
ayat Al Qur'an yg mana yg dilupakan atau Allah jadikan manusia lupa itu ? toh
sang nabi hapal semua ayat ayat yg diwahyukan kepadanya , atau mas Husada punya
referensi mana mana ayat yg dilupakan oleh manusia itu ?

Maka mas menurut saya dari pemahman yg ada pada saya , berdasarkan referensi
referensi yg ada pada saya dan berdasarkan nalar yg dikaruniakan Allah kepada
saya , narasi "ayat" disitu (QS.2:106) adalah bermakna “ firman Allah
yg berisi syareat ajaran aturan Allah sejak nabi Adam sampai utusan sebelum
Muhammad “. Karena berbagai hal mungkin karena waktu , tidak sempurnanya
pendokumentasian ,atau karena keterbatasan tehnologi dan daya ingat manusia
maka manusia bisa lupa atau karena berbakai sebab dari sifat sifat negative
manusia kemudian "melupakan" suatu ayat .

Atau juga karena perkembangan akal budaya manusia maka untuk
mengcovernya perlu dibuat atau dilengkapi suatu ayat dengan yg lebih baik shg ayat ayat Al Qur’an yg ada tsbt merupakan
syareat yg mutakhir ! Pemahman yg
demikian justru mengkonfirmasikan bahwa Al Qur'an , ayat ayat Al Qur'an itu
adalah merupakan syareat release terakhir dari syareat syareat Allah terdahulu
yg mungkin sudah terlupakan atau ayat ayat yg disesuaikan dengan perkembangan
akal budaya manusia yg kian berkembang itu.

Maka
tidak ada ayat AQ yg perlu dinasahk , wong release terbaru kok udah
dikoreksi , jelas dalam Islam Allah itu maha dalam segalanya ! Kecuali ada
keimanan yg menyatakan Tuhan itu punya (sifat sifat) manusia , itu “kacamata”
masing masing mas.

Maturnuwun mas smoga bisa memahaminya.
Saya sekedar menglklarifikasi saja, bahwa yang dapat saya tangkap dari penjelasan DS diatas ialah, menurut DS, seluruh ayat yang tercantum di Al Qur'an, apakah ayat itu bermaterikan hal yang sama atau hampir sama, semua diperlukan untuk tetap dicantumkan di Al Qur'an, bukan? Itu sejalan (konsisten) dengan penjelasan DS pada beberapa posting terahulu, dimana DS berpandangan, seluruh ayat yang tercantum dalam Al Qur'an adalah ayat yang penting bagi pengikut Muhammad.

Hmmm... baiklah. Tapi, kalau berkenan, mohon tampilkan ayat dalam Al Qur'an ato literatur lain sebagai dasar DS dalam memaknai seperti itu? Atau, mungkin seperti yang pernah DS kemukakan, bahwa DS memaknai sedemikian itu hanya berdasar logika DS semata?

Jika demikian adanya, bahwa uraian DS itu hanya menurut DS, maka siapa sajapun juga (walaupun tidak mendalami Islamologi) kiranya dapat mengartikan sesuai logika masing-masing, bukan? Pada akhirnya, bila setiap orang (manusia) dapat memaknainya sesuai dengan logika masing-masing, akan menimbulkan kesan, tidak ada tafsiran salah. Jadi, walau bersumber dari ayat yang satu, tetapi tafsirannya bisa bermacam-macam, sesuai selera si penafsir. Mmm... ini berlaku menurut pemahaman Muslim keseluruhan, atau hanya sebagian saja?

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    1st June 2013, 09:53

dadap serep wrote:
Ma'af mas --meskipun saya tidak sefaham dibeberapa posting sampeyan diatas-- rasanya klo memang mo diterusin spt jawaban saya ke mas Bruce , silahkan buka tret baru saja , saya sebg nara sumber disini hanya ikutan share saja perihal masalah yg diperbincangkan , dan judul topik ini adalah bukan mengenai menag tapi :"Kronologi turunnya Al Qur'an dan Abrogations Ayat Al Qur'an"
Smoga maklum.
Baiklah.

Jadi menurut DS, ayat-ayat yag eksis dalam Al Qur'an itu sudah merupakan hasil pemfilteran oleh Allah, kan? Bahwa seluruh ayat yang dirasakan oleh Allah perlu di-nasakh-kan dan di-mansukh-kan, sudah dilaksanakan, sehingga ayat yang dapat dibaca dari Al Qur'an merupakan hasil final. Tetapi, dari posting-an NM sebelum ini, menampilkan pemaknaan yang berbeda. Tidak inginkah DS mengomentarinya?

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    1st June 2013, 10:12

Husada wrote:
Damai bagimu DS.
dadap serep wrote:
Wah kenapa pakai
ekpresi "menguntungkan" dirinya . Ada nuansa "prasangka" keliatannya mas
. Sangka sangka awal . Dari awal sudah didahului dg "sangka-sangka".
Saya
harap tidak demikian adanya.
Kalau itu DS duga sebagai
sangka-sangka, ya silahkan saja. Tetapi maksud saya di situ bukan
sangka-sangka, melainkan hipotesa. Saya ber-hipotesa seperti itu, karena
membaca-baca riwayat hidup Muhammad. Dia sejak usia 5 tahun sudah yatim
piatu. Dia dididik oleh kakeknya, kemudian oleh pamannya. Sejak kecil
sampai remaja, sudah berkenalan dengan penganut Nestorian dan Ebionit.
Bahkan penganut Nestorian dan Ebonit itu meramalkan bahwa Muhammad akan
tumbuh dan menjadi Nabi.

Karena kepahitan hidup yang
dialami (sejak usia 5 tahun sudah yatim piatu), cenderung menilai segala
sesuatu berdasarkan materi yang dirasanya tidak pernah tercukupi sesuai
keinginannya
. Kemudian dia menikah dengan seorang janda kaya
penganut Kristen Ebionit, dimana Kristen 'mengharamkan' beristri lebih
dari satu. Maka, selama istri pertamanya, yang sebelumnya adalah janda
terkaya di daerahnya masih hidup, Muhammad tidak memperistri perempuan
lain. Setalah istri pertamanya meninggal, dia kawin lagi dan lagi.
Hypotesa pada dasarnya adalah asumsi/prasangka berdasarkan referensi,
bila itu dihadapkan dengan referensi lain atau dianalias dg lebih cermat bisa
saja berubah. Seperti kalimat yg saya bold itu adalah asumsi yg perlu
pembuktian bila mau dijadikan suatu premis . Dari syiroh nabi yg bisa
digoogling , klan Muhammad bukanlah merupakan klan rendahan , nenek beliau
adalah merupakan tokoh yg terpandang dimasyarakatnya , paman yg mengasuhnya
adalah tokoh yg tidak miskin. Kalau permasalahan "keinginan" mah
kapan sih suatu keinginan seorang bocah , seorang manusia merasa dicukupi mas ?
Untuk Muhammad adakah suatu kisah atau informasi yg menyatakan bahwa “keyatim piatuan” nya kemudian menjadikan dia “menilai
segala sesuatu berdasarkan materi” , kalau karena keyatim piatuan itu
menimbulkan hilangnya perlindungan dan asuhan dari kedua ortunya ya jelas itu .
Perkara agama Siti Khatidjah diklaim sebagai penganut Kristen Ebionit --yg
mengharamkan beristri lebih dari satu-- , memangnya kenapa mas ? Memangnya di
Mekkah saat itu agama yg dianut penduduknya semua Kristen Ebionit ? Dari syiroh
yg ada , ada berbagai kepercayaan yg hidup dan dipegang oleh penduduk Mekkah
kala itu , disamping "adat istiadat" budaya lokal suku suku Arab juga
masih kuat mempengaruhi perilaku mereka. Salah satunya adalah dominasi pria
atas wanita . Lalu kenapa agama sang istri yg mengharamkan istri lebih dari
satu itu dijadikan "alasan" Muhammad sang suami tidak beristri lagi ?
Klo sang suami yg beragama Kristen Ebionit ya itu nalar yg wajar , tapi
klo sang istri --dimasyarakat arab ketika itu-- rasanya suatu "loncatan
logika" yg kurang pas mas.


Husada wrote:

Ayat-ayat
Kitab Suci yang dikatakan diterimanya dari Allah melalui Malaikat
Jibril, selalu menguntungkannya. Ambil contoh, tentang pembagian barang
jarahan. Bagiannya lebih besar daripada bagian orang lain. Bagian Allah
diserahkan kepadanya. Contoh lain, ayat-ayat tentang perkawinan yang
katanya diterimanya, bagi dia bisa beristri lebih dari 4, sementara bagi
pengikutnya paling banter 4. Dll, dll.

Semua itu menggiring
pikiran saya menarik hipotesa, bukan sangka-sangka, bahwa Muhammad itu
selalu mencari keuntungan sendiri.
Oh yaaa mas , silahkan mas baca lebih lengkap Al Qur'annya mas , nabi
pernah kena tegur beberapa kali oleh Allah, saya melihat itu bukan sebagai
sesuatu yg “selalu menguntungkan”, atau “selalu mencari keuntungan sendiri” , terutama dari segi badaniah/materi !
Klo sampeyan menyoroti mengenai harta rampasan perang lalu kemudian dikaitkan
dg "keuntungan" sekali lagi silahkan baca syiroh nabi yg bisa diakses
atau dibaca dari dunia maya atau buku buku syiroh nabi , bila anda memakai kaca
mata netral , maka tidak ada yg memberitakan bahwa sang nabi itu hidup dengan
berlebihan , bahkan ketika beliau meninggal hampir tidak ada harta yg
ditinggalkan !
Perkara perkawinan sang nabi dengan beberapa wanita , kalau itu merupakan
"keuntungan" untuk beliau , silahkan saja mas sampeyan berpendapat
spt itu , dalam Islam setiap "keuntungan" --bukan hanya kerugian--
adalah merupakan cobaan , ujian mas ! dan bila sampeyan teliti mempelajari
syiroh para rasul pendahulu Muhammad tidak sedikit mereka itu mendapat
previlage dari Allah , lihat nabi Sulaiman yg kaya raya , nabi Musa yg umatnya
dilarang membunuh , namun beliau pernah membunuh dll dll.


Husada wrote:

Lhah... kalau hipotesa yang saya tarik dari riwayat Muhammad itu
ternyata salah, berkenankah DS mengungkapkan yang benar? Mari kita
diskusikan.
Yesss ,........ dan saya sudah menyodorkan sudut pandang dan analisa
lain dari kehidupan Muhammad mas silahkan.


Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    1st June 2013, 10:19

Lanjutannya,..........................


Husada wrote:

Quote :
Amalan yg saya maksudkan --terkait dengan topik-- adalah amalan
beliau dalam melaksanakan --menterjemahkan dalam tindakan-- syariah yg
termaktub dlm AQ mas. Itulah yg bisa dikatakan sbg "tafsir resmi" dari
ayat ayat AQ . Adanya hadist hadist beliau tentang pelarangan minum
khomr misalnya. Atau tindakan beliau dalam kaitan kehidupan rumah tangga
, perkawinan beliau , hubungan beliau dg istri , menantu, mertua dg
para sahabat , dg umat muslim kala itu dalam berbagai permasalahan hidup
dan kehidupan dll.
O, begitu.
Jadi, kalau ada dua ayat di
Al Quran yang berbicara mengenai hal yang sama, keduanya berlaku, dan
untuk menilai ayat mana yang lebih valid adalah tergantung kepada
hadits-hadits. Begitu? Tidak boleh kalau hanya dikaitkan dengan
kronologis kurun waktu turunnya ayat tersebut. Begitu? Jika demikian
adanya, maka ayat yang berbicara mengenai Allah akan menurunkan ayat yang setara atau lebih baik, menjadi tidak bermanfaat?
Saya tidak pernah bilang tidak boleh mas , silahkan baca
lagi postingan saya . Urutan turunnya ayat
bisa saja jadi guide dalam memahami aturan secara keseluruhan , namun
untuk m engambil kesimpulan bahwa hukum yg ada pada suatu ayat itu menjadi
tidak berlaku karena ada ayat yg turun kemudian –tanpa ada diktum nya dlm ayat
ybs—jelas itu tidak bisa mas , penentu hukum adalah ayat dan hadist , bukan
kesimpulan manusia. Dan apa yg disampaikan disini , --spt ayat
yg berbicara mengenai perang -- hanyalah kesimpula yg menyatakan bahwa ayat
sebelumnya (sesuai dg urutan turunnya) tidak berlaku lagi . Atau
mengenai minum kohmr yg dianggap Allah memperbolehkan, itu merupakan kesimpulan
saja , tidak ada yg menyatakan Allah membolehkan tapi kemudian melarang secara
gradual dan kemudian “akhirnya” melarang total ! Itu semua hanya kesimpulan ,
tidak ada ayat AQ , atau dg kata lain Allah tidak berfirman spt
itu ,pernah diperbolehkan “kemudian” dilarang total .


Kalau sampeyan kaitkan dengan “Allah akan menurunkan ayat yang
setara atau lebih baik” , maka
itu -- spt
yg saya jelaskan diatas--- , yg lebih baik itu adalah “Al Qur’an”, jelas AQ sangat bermanfaat bagi umat
,.......yg beriman tentunya mas , klo kagak mengimani itu sebagai Firman Nya ,
syareatNya ,.................... ya jelas kagak bermanfaat .Kagak nurut perintah “
waaatuu
alzzakaata”
--antara lain di
Qs.2:43-- ya kagak bermanfaatlah bagi diri maupun orang lain mas. Atau malahan
berpendapat spt ini :”
tuuuh lihat sendiri bro, Awloh
anda terkesan plin-plan kan,
pd ayat diatas dia bilang Quran itu
sempurna dan sudah ada dan tertulis di Akhirat (Lauh Mahfus), tapi kenapa harus
pake dihapus dan digantikan ya ayat2nya..??” (hal.5 tg 12/5)



Husada wrote:

Justru karena ada ayat berisikan Allah akan menurunkan ayat yang setara atau lebih baik,
maka saya pikir, ayat yang lebih dahulu turun menjadi tidak berlaku,
sebab sudah diturunkan ayat yang setara atau lebih baik. Dan kalau ayat
setara atau lebih baik sudah diturunkan, maka ayat terdahulu yang setara
atau lebih buruk, sudah tidak berguna, lalu untuk apa itu dipertahankan
dalam Al Quran?

Maka dari awal saya sudah persoalkan kan , bagaimana
sampeyan memaknai “Ayat” dalam firmanNya
tsbt ! (2:106)



Lalu kalau itu within AQ , siapa yg menentukan bahwa ayat
ini lebih baik dari yg itu , ayat ini menggantikan yg itu ? Rasanya sudah saya
sampaikan pertanyaan sehubungan dg ini
mas , sama sama di Surat Al Bakhoroh , ada ayat 190 dan 191 , namun juga ada
ayat 256 , lalu mana yg buruk mana yg baik , dan kemudian mana yg berlaku , dan
siapa yg menentukan itu ? Kalau yg menentukan adalah manusia , maka AQ itu
bukan aturan buatan manusia mas , manusia kagak punya kapasitas untuk tidak
mempertahankan suatu ayat dlm AQ.



Husada wrote:

Quote :
Perkara sampeyan menduga duga tentang masalah
kehidupan perkawinan beliau spt itu , informasi yg bisa didapat dari
berbagai situs yg bisa diakses dg gampang dan buku buku syirah nabi
Muhammad , tidak persis seperti itu mas.
Maksud DS, ada situs
riwayat Muhammad yang berkisah bahwa ketika istri pertamanya masih
hidup, Muhammad sudah mengawini perempuan lain?
Rasanya saya tidak menyanggah itu lho mas , silahkan chek postingan saya.
Husada wrote:

Quote :
Silahkan saja googling .
Tolong sebut satu saja DS, akan saya coba baca.


Silahkan search saja dengan entry Muhammad mas . Istri nabi setelah
meninggalnya Siti Khatidjah adalah Saudah , dan berumah tangga dengan Siti
Aisyah ketika sudah hijrah , dimana sebagian besar harta beliau –termasuk peninggalan istrinya—ditinggal di Mekah ,
bagaimana bisa dikatakan “Dan ketika
menambah istri itu, dia sudah memiliki kekayaan, yang diwarisi dari istri
pertama dan hasil pekerjaannya sendiri.”
Dengan konotasi“adalah hanya
yang menguntungkan dirinya.”
Spt yg
sampeyan postingkan itu mas



Husada wrote:

Quote :
Saya
tidak dalam posisi untuk menyanggah atau membenarkan "dugaan" sampeyan
mas . Silahkan mencarinya sendiri dan memahaminya spt apa.
Dari
yang saya cari, semua riwayat Muhammad mengatakan bahwa selama istri
pertama Muhammad masih hidup, Muhammad tidak memperistri perempuan lain.
Nah, kalau berkenan menolong saya, sebut satu situs saja untuk saya
baca?
Saya tidak menyanggah hal itu kan mas , silahkan baca baik baik postingan saya !





Husada wrote:

Quote :
Dari sudut pemahaman saya , semua ayat yg ada
di AQ adalah valid adanya , semua ayat itu merupakan pegangan umat
dalam beramal , bersikap mas . Kalau ada lebih dari satu yg berisi
perintah atau batasan sikap atau tindak yg harus dilakukan oleh umat ya
lakukan spt itu mas. Kecuali dinyatakan lain . Seperti adanya perintah
sholat , mendirikan sholat . Ayat tentang bagai mana itu sholat , ada
lebih dari satu ayat dan banyak hadist nya. Ya kami sholat berdasarkan
referensi referensi itu semua mas.
Lhah, karena memang begitu
maka bila ada 2 ayat yang berisikan substansi yang sama atau hampir
sama, kemudian semau kita hendak menggunakan yang mana, bukan? Keduanya valid sii... Tidak salah dipraktikkan. Begitu kan?
Quote :
Oh
ya tidak mas , klo jelas dinyatakan bahwa ayat itu lebih baik dari ayat
ini , ya jelas kita laksanakan yg lebih baik to mas , wajar saja mas.
Makasih
mas.
DS melakukan yang lebih baik, tetapi sepanjang ayat yang
lebih buruk itu tidak dihilangkan dari dalam Al Quran, karena ayat itu valid,
maka Muslim lain yang mempraktikkan ayat yang lebih buruk itu, tidak
salah bukan? Dan itulah sumber pertikaian yang tidak akan henti-henti.
Sebab, yang mempraktikkan amalan berdasarkan ayat yang lebih baik,
adalah benar, dan yang mempraktikkan amalan berdasarkan ayat yang lebih
buruk, adalah benar, sebab dua ayat tersebut sama-sama valid. Begitu yang DS maksudkan, bukan?
Bukan mas , kembali mas “yg lebih buruk atau yg lebih baik”
itu sapa mas yg nentuin ? Allah kah melalui firmannya , atau kesimpulan , sangka
sangka sesuai dg kemampuan akal dan
prasangka manusia mas ? biasanya dlm
ayat ada diktum yg kudu dikonsider , atau merefer kepada apa yg ada dalam
hadist/sunnah nabi ,itu yg jadi acuan.


Sekali lagi mas bukan semaunya , tetapi semuanya kudu
dikonsider !



Husada wrote:

Lebih lanjut, karena seperti itu pula maka terkesan bahwa Allah yang
menurunkan ayat Al Quran kepada Muhammad itu, tidak konsisten. Memandang
valid dua ayat yang bernuansa berbeda.
Gitu ya mas ,....... bisa saja mas namanya saja “nuansa” mas
, image , kesan , itu muncul tidak hanya disebabkan obyect nya saja tetapi
sangat dipengaruhi oleh subyectnya !
Husada wrote:

Damai bagimu DS.

Semoga Allah membuka hati kita untuk menerima kebenarana dari Nya. Amin.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    1st June 2013, 11:10

dadap serep wrote:
Hypotesa pada dasarnya adalah asumsi/prasangka berdasarkan referensi, bila itu dihadapkan dengan referensi lain atau dianalias dg lebih cermat bisa saja berubah. Seperti kalimat yg saya bold itu adalah asumsi yg perlu pembuktian bila mau dijadikan suatu premis . Dari syiroh nabi yg bisa
digoogling , klan Muhammad bukanlah merupakan klan rendahan , nenek beliau adalah merupakan tokoh yg terpandang dimasyarakatnya , paman yg mengasuhnya adalah tokoh yg tidak miskin.
Dari beberapa riwayat yang saya baca, dikatakannya, kakek Muhammad adalah kuncen tempat penyimpanan benda-benda berhala.
Quote :
Kalau permasalahan "keinginan" mah kapan sih suatu keinginan seorang bocah , seorang manusia merasa dicukupi mas ? Untuk Muhammad adakah suatu kisah atau informasi yg menyatakan bahwa “keyatim piatuan” nya kemudian menjadikan dia “menilai segala sesuatu berdasarkan materi” , kalau karena keyatim piatuan itu menimbulkan hilangnya perlindungan dan asuhan dari kedua ortunya ya jelas itu
Segala kesan, baik fisik maupun psikis yang dialami seseorang sejak perkembangan kesadarannya, itu akan membentuk orang iru di hari kemudiannya. Jika kesan fisik dan psikis yang dialami adalah kesepian karena ditinggal orang-orang yang selayaknya mengasihinya, maka kesan kesepian itu menjadikan ingin menarik banyak orang ke dekatnya, dan sedapat mungkin mengupayakan orang-orang itu mengikuti kemauannya. Itu cikal bakal mengkultuskan diri sendiri. Tetapi sadar betul bahwa kemampuannya terbatas, maka untuk menghimpun kekuasaan, siap melakukan penghambaan diri.
Quote :
Perkara agama Siti Khatidjah diklaim sebagai penganut Kristen Ebionit --yg mengharamkan beristri lebih dari satu-- , memangnya kenapa mas ? Memangnya di Mekkah saat itu agama yg dianut penduduknya semua Kristen Ebionit ? Dari syiroh yg ada , ada berbagai kepercayaan yg hidup dan dipegang oleh penduduk Mekkah kala itu , disamping "adat istiadat" budaya lokal suku suku Arab juga
masih kuat mempengaruhi perilaku mereka. Salah satunya adalah dominasi pria atas wanita . Lalu kenapa agama sang istri yg mengharamkan istri lebih dari satu itu dijadikan "alasan" Muhammad sang suami tidak beristri lagi ? Klo sang suami yg beragama Kristen Ebionit ya itu nalar yg wajar , tapi klo sang istri --dimasyarakat arab ketika itu-- rasanya suatu "loncatan logika" yg kurang pas mas.
'Loncatan logika' bagaimana? Menurut yang DS baca, di pihak mana acara pernikahan itu dilaksanakan? Di pihak Muhammad atau di pihak Khadidjah? Siapa wali Khadidjah menurut yang DS baca? Menurut yang saya baca, wali dari Khadidjah adalah pamannya, Waraka Ibn Nawfal yang adalah seorang pendeta Kristen Ebionit (https://en.wikipedia.org/wiki/Waraka_ibn_Nawfal). Menurut pemahaman saya, karena wali Khadidjah adalah Pendeta Kristen Ebionit, besar kemungkinan bahwa Khadidjah juga menganut Kristen Ebionit. Karena Wali Khadidjah adalah seorang pendeta, sementara ketika itu paman Muhammad adalah penyembah berhala, maka upacara pernikahan dilangsungkan menuruti tatacara Kristen Ebionit, yang dipimpin oleh Waraka Ibn Nawfal. (Apakah itu masuk logika DS? Atau menurut logika DS, ketika itu Muhammad sudah menganut Islam? Padahal, kalao benar ayat Al Qur'an diturun baru pada 15 tahun kemudian?)

Quote :
Oh yaaa mas , silahkan mas baca lebih lengkap Al Qur'annya mas,
Nanti, kalo ada waktu. Tetapi kalo DS ingin mngutip suatu ayat, tunjuk saja, akan saya upayakan. Kalo hanya ujug-ujug DS minta saya membaca Al Qur'an, nanti dulu.
Quote :
nabipernah kena tegur beberapa kali oleh Allah, saya melihat itu bukan sebagai sesuatu yg “selalu menguntungkan”, atau “selalu mencari keuntungan sendiri” , terutama dari segi badaniah/materi !
Klo sampeyan menyoroti mengenai harta rampasan perang lalu kemudian dikaitkan dg "keuntungan" sekali lagi silahkan baca syiroh nabi yg bisa diakses
atau dibaca dari dunia maya atau buku buku syiroh nabi , bila anda memakai kaca mata netral , maka tidak ada yg memberitakan bahwa sang nabi itu hidup dengan berlebihan , bahkan ketika beliau meninggal hampir tidak ada harta yg ditinggalkan !
Gaya hidup berlebihan atau tidak, kelihatannya tidak dikisahkan di Al Qur'an, ya? Bahkan, kemungkinan besar, meski diimlakan untuk dicatat, Muhammad akan menutupinya, karena tidak ada saksi sih, saat ayat itu diturunkan. Yang jelas, ayat-ayat itu menguntungkan Muhammad. Masalah keuntungan itu dikemanakan, kelihatannya tidak dikisahkan di ayat-ayat yang pernah saya baca.
Quote :
Perkara perkawinan sang nabi dengan beberapa wanita , kalau itu merupakan "keuntungan" untuk beliau , silahkan saja mas sampeyan berpendapat
spt itu , dalam Islam setiap "keuntungan" --bukan hanya kerugian-- adalah merupakan cobaan , ujian mas ! dan bila sampeyan teliti mempelajari syiroh para rasul pendahulu Muhammad tidak sedikit mereka itu mendapat previlage dari Allah , lihat nabi Sulaiman yg kaya raya , nabi Musa yg umatnya dilarang membunuh , namun beliau pernah membunuh dll dll.
Kalo saya memaknainya, justru karena melihat previlage itu pula maka Muhammad sangat berhasrat menunjuk dirinya sebagai nabi.
Quote :
Yesss ,........ dan saya sudah menyodorkan sudut pandang dan analisa lain dari kehidupan Muhammad mas silahkan.
Terima kasih. Dan sudut pandang yang DS berikan itu akan lebih mantap kalo menampilkan dasar referensinya. Jika seperti yang pernah DS kemukakan bahwa itu menurut subyektivitas DS sendiri, terima kasih. Sulit berterima di pemahaman saya.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    1st June 2013, 20:55

Husada wrote:
DS wrote:
Kalau permasalahan "keinginan" mah kapan sih suatu keinginan seorang bocah , seorang manusia merasa dicukupi mas ?Untuk Muhammad adakah suatu kisah atau informasi yg menyatakan bahwa “keyatim piatuan” nya kemudian menjadikan dia “menilai segala sesuatu berdasarkan materi” , kalau karena keyatim piatuan itu menimbulkan hilangnya perlindungan dan asuhan dari kedua ortunya ya jelas itu .
Segala kesan, baik fisik maupun psikis yang dialami seseorang sejak perkembangan kesadarannya, itu akan membentuk
orang iru di hari kemudiannya. Jika kesan fisik dan psikis yang dialami adalah kesepian karena ditinggal orang-orang yang selayaknya
mengasihinya, maka kesan kesepian itu menjadikan ingin menarik banyak orang ke dekatnya, dan sedapat mungkin mengupayakan orang-orang itu mengikuti kemauannya. Itu cikal bakal mengkultuskan diri sendiri. Tetapi sadar betul bahwa kemampuannya terbatas, maka untuk menghimpun kekuasaan, siap melakukan penghambaan diri."
Lha yg saya warnai itu bicara apalagi mas , kan postingan saya yg sampeyan kutip itu adalah membahas keyatim piatuan Muhammad sampeyan kaitkan dg :"Karena kepahitan hidup yang dialami (sejak usia 5 tahun sudah yatim piatu), cenderung menilai segala sesuatu berdasarkan materi yang dirasanya tidak pernah tercukupi sesuai keinginannya."
Buat hypotesa baru ya mas ???

Husada wrote:
'Loncatan logika' bagaimana? Menurut yang DS baca, di pihak mana acara pernikahan itu dilaksanakan? Di pihak Muhammad atau di pihak Khadidjah? Siapa wali Khadidjah menurut yang DS baca?
Menurut yang saya baca, wali dari Khadidjah adalah pamannya, Waraka Ibn Nawfal yang adalah seorang pendeta Kristen Ebionit
(https://en.wikipedia.org/wiki/Waraka_ibn_Nawfal). Menurut pemahaman saya, karena wali Khadidjah adalah Pendeta Kristen Ebionit, besar kemungkinan bahwa Khadidjah juga menganut Kristen Ebionit. Karena Wali Khadidjah adalah seorang pendeta, sementara ketika itu paman Muhammad adalah penyembah berhala, maka upacara pernikahan dilangsungkan menuruti tatacara Kristen Ebionit, yang dipimpin oleh Waraka Ibn Nawfal. (Apakah itu masuk logika DS? menurut logika DS, ketika itu Muhammad sudah
menganut Islam? Padahal, kalao benar ayat Al Qur'an diturun baru pada 15 tahun kemudian?)
Difihak mana,...... lha memang insiatip berada difihak Siti Khatidjah , bisa saja memang spt itu , lalu apakah dengan itu membuktikan Muhammad juga menganut Kristen Ebionit , yg mengharamkan kawin lagi selagi masih beristri ?
Kan yg beragama Kristen Ebionit Siti Khatijah ?
Lalau siapa pula yg bilang Muhammad sudah menganut Islam ketika itu ? Argumen saya merujuk pada adanya adat istiadat masyarakat Arab yg jelas laki laki lebih dominan dibanding perempuan.! Ingat nasab seseorang (Arab) mengacu pada sang ayah !

Husada wrote:
Nanti, kalo ada waktu. Tetapi kalo DS ingin mngutip suatu ayat, tunjuk saja, akan saya upayakan. Kalo hanya ujug-ujug DS minta saya membaca Al Qur'an, nanti dulu.
He he he jadi belum baca seluruhnya kannnn,.......? Lalu darimana sampeyan bisa posting spt ini :"Ayat-ayat Kitab Suci yang dikatakan diterimanya dari Allah melalui Malaikat Jibril, SELALU menguntungkannya " Ayat AQ itu jumlahnya lebih dari 6 ribuan mas , dan itu sampeyan bilang S E L A L U menguntungkan Muhammad , tapi ternyata sampeyan blum baca seluruhnya , jadiiiiiiii,...................... ?

Husada wrote:
Gaya hidup berlebihan atau tidak, kelihatannya tidak dikisahkan di Al Qur'an, ya? Bahkan,
kemungkinan besar, meski diimlakan untuk dicatat, Muhammad akan
menutupinya, karena tidak ada saksi sih, saat ayat itu diturunkan.

Yang jelas, ayat-ayat itu menguntungkan Muhammad. Masalah keuntungan
itu dikemanakan, kelihatannya tidak dikisahkan di ayat-ayat yang pernah
saya baca.
Oh ya mas , lha emangnya Al Qur'an tuh biografi Muhammad mas ?
Klo sampeyan nulis spt yg saya bold itu , lalu kenapa nanya nanya spt dalam forum ini mas , rasanya ndak ada manfaat nya kan diskusi , klo sampeyan sudah punya mind set spt itu ? Aneh juga nalar normal sampeyan itu mas diskusi for nothing!!!
Bagi saya , bagi umat Islam, sampeyan tidak mempercayai Muhammad sebagai Rasulullah , Al Qur'an adalah Kalamullah ,
itu kagak ngaruh mas , silahkan saja bagimu agamamu dan bagiku agamaku .
Sekali lagi saya tegaskan , saya disini hanya menyampaikan message meneruskan tugas nabi kepada yg bertanya , --kali ini dlm forum ini-- saya tidak berpretensi untuk membuat sampeyan percaya kok .

Husada wrote:
Kalo saya memaknainya, justru karena melihat previlage itu pula maka Muhammad sangat berhasrat menunjuk dirinya sebagai nabi
Lha silahkan saja mas , wong dari awal memang sampeyan kagak percaya sebagai sang nabi , meskipun sampeyan kagak
pernah bertemu ama beliau, tapi sudah merasa punya kemampuan untuk menilai beliau , bahkan merasa tahu keinginan dan hasrat beliau , apa yg ada dalam hati beliau ,...........wow ! .

Husada wrote:

Quote :
Yesss ,........ dan saya sudah menyodorkan sudut pandang dan analisa lain dari kehidupan Muhammad mas silahkan.
Terima kasih. Dan sudut pandang yang DS berikan itu akan lebih mantap kalo menampilkan dasar referensinya. Jika seperti yang pernah DS kemukakan bahwa itu menurut subyektivitas DS sendiri, terima kasih. Sulit berterima di pemahaman saya.
Apakah referensi berguna bagi sampeyan mas , klo kenyataannya sudah punya mind set seperti yg sdh sampeyan postingkan . Jadi memang sampeyan sulit menerima , sulit memahami karena sampeyan sudah tidak menerima argumentasi , hanya sibuk tanya referensi , sedangkan "referensi" utama -- Muhammad Rasulullah -- dan apa yg dibawanya (AQ) saja kagak sampeyan percayai !
Bagi saya , saya sudah tunaikan apa yg shrsnya saya sampaikan , perkara tanggapannya itu terserah penerimanya saja , tergantung kepada kemampuan dan kemauan masing masing.
Makasih , turnuwun , tabeek.
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    2nd June 2013, 08:42

Husada wrote:
Saya sekedar menglklarifikasi saja, bahwa
yang dapat saya tangkap dari penjelasan DS diatas ialah, menurut DS,
seluruh ayat yang tercantum di Al Qur'an, apakah ayat itu bermaterikan
hal yang sama atau hampir sama, semua diperlukan untuk tetap dicantumkan
di Al Qur'an, bukan? Itu sejalan (konsisten) dengan penjelasan DS pada
beberapa posting terahulu, dimana DS berpandangan, seluruh ayat yang tercantum dalam Al Qur'an adalah ayat yang penting bagi pengikut Muhammad.

Hmmm...
baiklah. Tapi, kalau berkenan, mohon tampilkan ayat dalam Al Qur'an ato
literatur lain sebagai dasar DS dalam memaknai seperti itu? Atau,
mungkin seperti yang pernah DS kemukakan, bahwa DS memaknai sedemikian
itu hanya berdasar logika DS semata?
Terima kasih mas Husada.
Bagi saya mas , setiap insan itu pada awalnya tidak punya " ,pengetahuan" sama sekali , kecuali "potensi" yg dikaruniakan Tuhan kepadanya yg installed pada "hardwarenya" , termasuk insting , talenta , default operating prosedure standard untuk survive. Disamping tentunya hal ghoib yg mempengaruhinya spt takdir dan batasan lainnya.
Kemudian masuklah input input dari luar , melui segenap indera yg dipunyainya. Dengan hardware dan software (potensi) yg dipunyai manusia mengolah smua input tsbt shg menjadi perbendaharaan pengetahuan dlm dirinya. Perbendaharaan pengetahuan tsbt akan mengendap dalam "memory"nya, dan melalui proses internal menjadi "acuan" pada aktivitas kemanusiaannya.
Dengan basic pemahaman diri spt itu mas ,kalau sampeyan tanya referensi atau orang lain tanya referensi maka yg terjadi adalah saya harus membongkar "memory" input saya , yg mungkin sudah tertimbun demikian lama atau hal tersebut sudah merupakan output dari input sblmnya yg telah melalui proses internal saya mas.
Saya tidak keberatan kalo itu treated sbg pendapat saya mas , shg saya dg leluasa akan bisa mempertahankan atau merubah , memodifikasi pendapat saya berdasrkan masukan/input yg nyamperin kemudian. Ini akan lebih fair dibandingkan kalau saya menyandarkan diri pada referensi dari input tsbt, kemudian ketika mendapat chalange kita berlindung pada referensi itu , sementara kita kurang, /belum atau tidak menguasai "back ground" pemikiran atau alasan dari sang refensi . Ini merupakan situasi yg tidak fair dari sang "refensi" kan , wong dia kagak bisa ikut diskusi.
Namun demikian spt yg saya sampaikan pemikiran / pemahaman spt yg saya sampaikan itu bisa sampeyan dapati ringkasannya di Insiklopedia Islam dengan entry "Nasikh dan mansukh" kalau pada buku yg saya miliki ada di halaman 16 dan mengenai pendapat ulama di hal.17.

Husada wrote:

Jika demikian adanya, bahwa uraian DS itu hanya menurut DS, maka siapa sajapun juga (walaupun tidak mendalami Islamologi) kiranya dapat mengartikan sesuai logika masing-masing, bukan? Pada akhirnya, bila setiap orang (manusia) dapat memaknainya sesuai dengan logika masing-masing, akan menimbulkan kesan, tidak ada tafsiran salah. Jadi, walau bersumber dari ayat yang satu,
tetapi tafsirannya bisa bermacam-macam, sesuai selera si penafsir.
Mmm... ini berlaku menurut pemahaman Muslim keseluruhan, atau hanya sebagian saja?

Damai, damai, damai.

Silahkan saja mas Husada memaknai postingan saya itu , kemudian saya anda nilai sebagai "menafsirkan dg selera" saya atau tidak , bagi saya tidak masalah. Yg penting pendapat saya itu saya sertai dengan argumen , mungkin berbeda , atau mirip , atau sama dengan ulama yg terdahulu baik yg terekod maupun kagak , itu bisa saja. Dalam Islam mas setiap perbuatan manusia itu akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah di akherat nanti. Dan Allah dalam Islam itu bukan manusia yg penuh keterbatasan mas , Dia maha tahu refensi , kemampuan dan bahkan niat yg ada didada manusia mas , kagak bakalan Dia salah faham spt yg bisa terjadi pada manusia mas.
Allah sangat bijak mas dalam menilai umatnya , penuh pengertian dan welas asih , Dia maha perencana dan rencananya pasti berlaku.

Nice discuss with u mas , biarlah Allah yg memberi balasan sesuai dg ketentuanNya yg pasti terjadi itu. Amin.


Terakhir diubah oleh dadap serep tanggal 2nd June 2013, 09:25, total 1 kali diubah (Reason for editing : ,)
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    2nd June 2013, 09:34

Husada wrote:
dadap serep wrote:
Ma'af mas --meskipun saya tidak sefaham dibeberapa posting sampeyan diatas-- rasanya klo memang mo diterusin spt jawaban saya ke mas Bruce , silahkan buka tret baru saja , saya sebg nara sumber disini hanya ikutan share saja perihal masalah yg diperbincangkan , dan judul topik ini adalah bukan mengenai menag tapi :"Kronologi turunnya Al Qur'an dan Abrogations Ayat Al Qur'an"
Smoga maklum.
Baiklah.

Jadi menurut DS, ayat-ayat yag eksis dalam Al Qur'an itu sudah merupakan hasil pemfilteran oleh Allah, kan? Bahwa seluruh ayat yang dirasakan oleh Allah perlu di-nasakh-kan dan di-mansukh-kan, sudah dilaksanakan, sehingga ayat yang dapat dibaca dari Al Qur'an merupakan hasil final. Tetapi, dari posting-an NM sebelum ini, menampilkan pemaknaan yang berbeda. Tidak inginkah DS mengomentarinya?

Damai, damai, damai.
Betul sekali mas rasanya memang demikian.
Perkara beda pendapat mah biasa mas , apalagi dengan sudut pandang yg berbeda , ditambah pakai " kacamata " mas .
Rasanya mas Nothing yg kagak mau diskusi dg saya mas silahkan baca saja postingannya ketika merespon postingan saya kepadanya.
Diskusi kagak akan gatuk , kagak produktip mas lha , dalam mengartikan teks bahasa inggris yg saya minta konfirmasi saja kagak mau !

Tabeek mas.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    2nd June 2013, 12:31

Damai bagumu DS.
dadap serep wrote:
Husada wrote:
Segala kesan, baik fisik maupun psikis yang dialami seseorang sejak perkembangan kesadarannya, itu akan membentuk orang iru di hari kemudiannya. Jika kesan fisik dan psikis yang dialami adalah kesepian karena ditinggal orang-orang yang selayaknya mengasihinya, maka kesan kesepian itu menjadikan ingin menarik banyak orang ke dekatnya, dan sedapat mungkin mengupayakan orang-orang itu mengikuti kemauannya. Itu cikal bakal mengkultuskan diri sendiri. Tetapi sadar betul bahwa kemampuannya terbatas, maka untuk menghimpun kekuasaan, siap melakukan penghambaan diri."
Lha yg saya warnai itu bicara apalagi mas , kan postingan saya yg sampeyan kutip itu adalah membahas keyatim piatuan Muhammad sampeyan kaitkan dg :"Karena kepahitan hidup yang dialami (sejak usia 5 tahun sudah yatim piatu), cenderung menilai segala sesuatu berdasarkan materi yang dirasanya tidak pernah tercukupi sesuai keinginannya."
Buat hypotesa baru ya mas ???
Hehheehheeehheeee... apakah DS memaknai perbedaan yang substansial pada kedua hipotesa saya itu? Padahal sebenarnya, itu tidak berbeda jauh, sama-sama dilatarik dari kepahitan hidup, yaitu ketika dikandungan ditinggal sang ayah, ketika balita ditinggal sang bunda, ketika remaja ditinggal sang kakek, dan sampai menikah diasuh, ato dididik, ato dilindungi oleh sang paman. Saya belum menemukan literatur yang menguraikan detil pengalaman Muhammad mulai dari lahir hingga menyatakan diri menerima ayat-ayat dalam gua. Pengalaman fisik dan psikis yang diterima Muhammad sejak dilahirkan sampai memasuki masa dewasanya, adalah pembentuk karakternya.

dadap serep wrote:
Difihak mana,...... lha memang insiatip berada difihak Siti Khatidjah , bisa saja memang spt itu , lalu apakah dengan itu membuktikan Muhammad juga menganut Kristen Ebionit , yg mengharamkan kawin lagi selagi masih beristri ?
Kan yg beragama Kristen Ebionit Siti Khatijah ?
Lalau siapa pula yg bilang Muhammad sudah menganut Islam ketika itu ? Argumen saya merujuk pada adanya adat istiadat masyarakat Arab yg jelas laki laki lebih dominan dibanding perempuan.! Ingat nasab seseorang (Arab) mengacu pada sang ayah !
Sebagai tambahan informasi, DS baca [You must be registered and logged in to see this link.] Saya juga tidak mengatakan bahwa Muhammad sudah menganut Islam ketika menikahi Khadidjah. Yang dapat saya maknai ialah, bahwa pernikahan Muhammad dengan Khadidjah dilaksanakan berdasarkan tatacara Kristen Ebionit, dan upacara pernikahan dipimpin oleh Waraka Ibn Nawfal, yang adalah paman Khadidjah dan seorang Pendeta Kristen Ebionit.

Karena pernikahan mengikuti tatacara Kristen Ebionit, maka kepada mempelai diperjanjikan untuk tidak menceraikan pasangannya kecuali diceraikan oleh maut. Karena pada pernikahan itu Muhammad dan Khadidjah berjanji tidak akan menceraikan pasangannya, maka selama Khadidjah masih hidup, dia tidak diceraikan Muhammad. Selain karena janji nikah itu, Muhammad juga, dari fakta yang ada ternyata tidak menceraikan Khadidjah atau memadunya dan harta kekayaan mereka sebagian besar adalah hasil perniagaan yang dirintis oleh Khadidjah.

Jadi hipotesa saya itu bukan masing-masing hipotesa tunggal yang tercerai satu sama lain, melainkan merupakan rangkaian sebagai dampak dari hidup Muhammad yang ditinggal oleh ayahnya, oleh ibunya, dan oleh kakeknya. Artinya, kepahitan yang dialami oleh Muhammad bukan semata-mata kepahitan fisik, tetapi juga kepahitan psikis. Berterima di pikiran DS?

dadap serep wrote:
He he he jadi belum baca seluruhnya kannnn,.......? Lalu darimana sampeyan bisa posting spt ini :"Ayat-ayat Kitab Suci yang dikatakan diterimanya dari Allah melalui Malaikat Jibril, SELALU menguntungkannya " Ayat AQ itu jumlahnya lebih dari 6 ribuan mas , dan itu sampeyan bilang S E L A L U menguntungkan Muhammad , tapi ternyata sampeyan blum baca seluruhnya , jadiiiiiiii,...................... ?
Hehheehheeehheeee... o, ya. Mungkin DS tidak atau belum membaca penjelasan saya mengenai hilangnya nafsu saya membaca Al Qur'an, ya?

Begini ringkasnya. Saya sempat 'jatuh hati' ingin menganut Islam karena saya tertarik pada kedisiplinannya berdoa. Ketepatan teman sebangku saya di SD, sejak kelas 2 sampai kelas 6 adalah seorang penganut Islam. Teman saya itu selalu juara 2.

Ketika semester 3-4 di PT, saya membaca Al Qur'an dan Terjemahannya di perpustakaan keluarga seorang perwira polisi. Buku terbitan Departemen Agama RI, tahun 1966. Setelah membaca Kata Pegantar dan Preambule-nya, saya kehilangan selera membacanya, karena simpulan saya, isinya banyak mengandung sumpah, menakut-nakuti, menularkan kebencian, dll hal negatif lainnya. Sejak itu saya kehilangan selera membaca Al Qur'an, sampai sesekali membaca di dumay karena bisa membaca online. Harus saya akui, "Ayat-ayat Kitab Suci yang dikatakan diterimanya dari Allah melalui Malaikat Jibril, SELALU menguntungkannya " memang mengandung hiperbolis. Hehheehheee... maaf kalo tidak berkenan.

dadap serep wrote:
Oh ya mas , lha emangnya Al Qur'an tuh biografi Muhammad mas ?
Kurang tahu. Tetapi, banyak perintah yang konon disampaikan melalui Al Qur'an itu langsung ke Muhammad, dan mempengaruhi hidup Muhammad. Artinya, meski Al Qur'an itu bukan semata-mata berisikan riwayat hidup Muhammad, namun Al Qur'an itu cukup kompeten menggambarkan kehidupan Muhammad, sebab Muhammad patuh pada ayat Al Qur'an. Sering (konon juga), suatu sikap Muhammad mendahului turunnya ayat Al Qur'an yang mengatur tentang itu, misalnya mengawini bekas istri anak angkatnya.
dadap serep wrote:
Klo sampeyan nulis spt yg saya bold itu , lalu kenapa nanya nanya spt dalam forum ini mas , rasanya ndak ada manfaat nya kan diskusi , klo sampeyan sudah punya mind set spt itu ? Aneh juga nalar normal sampeyan itu mas diskusi for nothing!!!
Hehheehheee... ketepatan saja sudah ada trit ini, maka saya urun nanya. Kalau itu aneh menurut DS, ya monggo. Menurut saya tidak aneh, karena trit ini sudah ada. Tentang gaya bahasa yang saya gunakan, saya kira masih okke, tidak sampai aneh. Hehheehheee...
dadap serep wrote:
Bagi saya , bagi umat Islam, sampeyan tidak mempercayai Muhammad sebagai Rasulullah , Al Qur'an adalah Kalamullah, itu kagak ngaruh mas , silahkan saja bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
Dimengerti. Jangankan dengan saya yang tidak menganut Islam, bahkan antarpenganut Islam saja kalian sudah saling mengkafirkan, kan?
dadap serep wrote:
Sekali lagi saya tegaskan, saya disini hanya menyampaikan message meneruskan tugas nabi kepada yg bertanya , --kali ini dlm forum ini-- saya tidak berpretensi untuk membuat sampeyan percaya kok.
Terima kasih. Menambah khasanah pemahaman. Dan dengan logika yang ada pada partisipan, masing-masing memperoleh informasi tambahan, kan?

dadap serep wrote:
Lha silahkan saja mas , wong dari awal memang sampeyan kagak percaya sebagai sang nabi, meskipun sampeyan kagak pernah bertemu ama beliau, tapi sudah merasa punya kemampuan untuk menilai beliau , bahkan merasa tahu keinginan dan hasrat beliau , apa yg ada dalam hati beliau ,...........wow !
Betul, setelah membaca Mukadimmah dari Al Qur'an dan Terjemahannya yang saya ceritakan di atas, sungguh, saya tidak percaya atas kenabian Muhammad.

dadap serep wrote:
Apakah referensi berguna bagi sampeyan mas , klo kenyataannya sudah punya mind set seperti yg sdh sampeyan postingkan . Jadi memang sampeyan sulit menerima , sulit memahami karena sampeyan sudah tidak menerima argumentasi , hanya sibuk tanya referensi , sedangkan "referensi" utama -- Muhammad Rasulullah -- dan apa yg dibawanya (AQ) saja kagak sampeyan percayai !
Bagi saya , saya sudah tunaikan apa yg shrsnya saya sampaikan , perkara tanggapannya itu terserah penerimanya saja , tergantung kepada kemampuan dan kemauan masing masing.
Saya kira, setiap penganut logika normal, masih mengakui referensi yang dapat diklarifikasi, dapat dikonfirmasi, dan berterima di akal sehat. Lhah... kalo referensinya tidak terdukung oleh bukti yang berterima di akal normal, bagaimana pula mengakuinya? Misalnya, seorang yang mengatakan bahwa dia mengasihi sesama manusia, tetapi di tangannya terhunus pedang berlumur darah, dan di sampingnya tergelimpang sosok manusia yang sudah kehilangan nyawa dengan luka lebar di leher, maka nalar sehat saya tidak mengakui dan menjadikan pernyataan orang itu sebagai referensi. Dapat DS tangkap maksud saya?
dadap serep wrote:
Makasih , turnuwun , tabeek.
Sama-sama. Damai sertamu.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    3rd June 2013, 22:35

Husada wrote:
Damai bagumu DS.
dadap serep wrote:
Husada wrote:
Segala kesan, baik fisik maupun psikis yang dialami seseorang sejak perkembangan kesadarannya, itu akan membentuk orang iru di hari kemudiannya. Jika kesan fisik dan psikis yang dialami adalah kesepian karena ditinggal orang-orang yang selayaknya mengasihinya, maka kesan kesepian itu menjadikan ingin menarik banyak orang ke dekatnya, dan sedapat mungkin mengupayakan orang-orang itu mengikuti kemauannya. Itu cikal bakal mengkultuskan diri sendiri. Tetapi sadar betul bahwa kemampuannya terbatas, maka untuk menghimpun kekuasaan, siap melakukan penghambaan diri."
Lha yg saya warnai itu bicara apalagi mas , kan postingan saya yg sampeyan kutip itu adalah membahas keyatim piatuan Muhammad sampeyan kaitkan dg :"Karena kepahitan hidup yang dialami (sejak usia 5 tahun sudah yatim piatu), cenderung menilai segala sesuatu berdasarkan materi yang dirasanya tidak pernah tercukupi sesuai keinginannya."
Buat hypotesa baru ya mas ???
Hehheehheeehheeee... apakah DS memaknai perbedaan yang substansial pada kedua hipotesa saya itu? Padahal sebenarnya, itu tidak berbeda jauh, sama-sama dilatarik dari kepahitan hidup, yaitu ketika dikandungan ditinggal sang ayah, ketika balita ditinggal sang bunda, ketika remaja ditinggal sang kakek, dan sampai menikah diasuh, ato dididik, ato dilindungi oleh sang paman. Saya belum menemukan literatur yang menguraikan detil pengalaman Muhammad mulai dari lahir hingga menyatakan diri menerima ayat-ayat dalam gua. Pengalaman fisik dan psikis yang diterima Muhammad sejak dilahirkan sampai memasuki masa dewasanya, adalah pembentuk karakternya.
Ndak ada yg nyangkal kok mas klo pengalaman ,input yg didapat oleh seseorang memang bisa membentuk karakter seseorang , namun apakah karakter yg terbentuk itu linear sejajar dengan pengalaman yg didapat mas ? apakah pengalaman "negative" seseorang itu akan menghasilkan karakter yg negative pula , atau sebaliknya pengalaman "positive" itu otomatis pasti membentuk karakter yg positive pula ?

Dari pada bermain hipotesa , napa kagak nyari "referensi" laporan penilaian masyarakat dimana beliau berinteraksi kala itu mas. Padahal gampang kok , tanya aja mbah wiki dengan entry Muhammad , maka akan muncul antara lain kalimat spt ini :"Due to his upright character he acquired the nickname "al-Amin" (Arabic: الامين), meaning "faithful, trustworthy" and "al-Sadiq" meaning "truthful"[62] and was sought out as an impartial arbitrator.[12][17][63]" , dan itu kliatannya kagak senafas dengan hypotesa karakter Muhammad spt yg sampeyan sampaikan mas.

Husada wrote:

dadap serep wrote:
Difihak mana,...... lha memang insiatip berada difihak Siti Khatidjah , bisa saja memang spt itu , lalu apakah dengan itu membuktikan Muhammad juga menganut Kristen Ebionit , yg mengharamkan kawin lagi selagi masih beristri ?
Kan yg beragama Kristen Ebionit Siti Khatijah ?
Lalau siapa pula yg bilang Muhammad sudah menganut Islam ketika itu ? Argumen saya merujuk pada adanya adat istiadat masyarakat Arab yg jelas laki laki lebih dominan dibanding perempuan.! Ingat nasab seseorang (Arab) mengacu pada sang ayah !
Sebagai tambahan informasi, DS baca [You must be registered and logged in to see this link.] Saya juga tidak mengatakan bahwa Muhammad sudah menganut Islam ketika menikahi Khadidjah. Yang dapat saya maknai ialah, bahwa pernikahan Muhammad dengan Khadidjah dilaksanakan berdasarkan tatacara Kristen Ebionit, dan upacara pernikahan dipimpin oleh Waraka Ibn Nawfal, yang adalah paman Khadidjah dan seorang Pendeta Kristen Ebionit.

Karena pernikahan mengikuti tatacara Kristen Ebionit, maka kepada mempelai diperjanjikan untuk tidak menceraikan pasangannya kecuali diceraikan oleh maut. Karena pada pernikahan itu Muhammad dan Khadidjah berjanji tidak akan menceraikan pasangannya, maka selama Khadidjah masih hidup, dia tidak diceraikan Muhammad. Selain karena janji nikah itu, Muhammad juga, dari fakta yang ada ternyata tidak menceraikan Khadidjah atau memadunya dan harta kekayaan mereka sebagian besar adalah hasil perniagaan yang dirintis oleh Khadidjah.

Jadi hipotesa saya itu bukan masing-masing hipotesa tunggal yang tercerai satu sama lain, melainkan merupakan rangkaian sebagai dampak dari hidup Muhammad yang ditinggal oleh ayahnya, oleh ibunya, dan oleh kakeknya. Artinya, kepahitan yang dialami oleh Muhammad bukan semata-mata kepahitan fisik, tetapi juga kepahitan psikis. Berterima di pikiran DS?
Saya bisa memaklumi apa yg sampeyan nalari , tapi ya tetep jatuhnya hipotetis to , lha wong premisnya juga tidak semua proven to mas , seperti :" Karena pada pernikahan itu Muhammad dan Khadidjah berjanji tidak akan menceraikan pasangannya,..."

Husada wrote:

dadap serep wrote:
He he he jadi belum baca seluruhnya kannnn,.......? Lalu darimana sampeyan bisa posting spt ini :"Ayat-ayat Kitab Suci yang dikatakan diterimanya dari Allah melalui Malaikat Jibril, SELALU menguntungkannya " Ayat AQ itu jumlahnya lebih dari 6 ribuan mas , dan itu sampeyan bilang S E L A L U menguntungkan Muhammad , tapi ternyata sampeyan blum baca seluruhnya , jadiiiiiiii,...................... ?
Hehheehheeehheeee... o, ya. Mungkin DS tidak atau belum membaca penjelasan saya mengenai hilangnya nafsu saya membaca Al Qur'an, ya?

Begini ringkasnya. Saya sempat 'jatuh hati' ingin menganut Islam karena saya tertarik pada kedisiplinannya berdoa. Ketepatan teman sebangku saya di SD, sejak kelas 2 sampai kelas 6 adalah seorang penganut Islam. Teman saya itu selalu juara 2.

Ketika semester 3-4 di PT, saya membaca Al Qur'an dan Terjemahannya di perpustakaan keluarga seorang perwira polisi. Buku terbitan Departemen Agama RI, tahun 1966. Setelah membaca Kata Pegantar dan Preambule-nya, saya kehilangan selera membacanya, karena simpulan saya, isinya banyak mengandung sumpah, menakut-nakuti, menularkan kebencian, dll hal negatif lainnya. Sejak itu saya kehilangan selera membaca Al Qur'an, sampai sesekali membaca di dumay karena bisa membaca online. Harus saya akui, "Ayat-ayat Kitab Suci yang dikatakan diterimanya dari Allah melalui Malaikat Jibril, SELALU menguntungkannya " memang mengandung hiperbolis. Hehheehheee... maaf kalo tidak berkenan.
!
Jadi memang betul kan mas bahwa sampeyan belum membaca secara keseluruhan , karena keburu "kehilangan selera" ! Jadi jelas sampeyan beropini dan berkesimpulan berdasarkan input yg tidak represen tidak cukup bin minim , minim referensi , ya saya maklum dan itu sudah saya prediksi melihat kesimpulan kesimpulan yg sampeyan sampaikan . Sekali lagi no problemo bagi saya mas , AQ --spt yg pernah saya sampaikan --adalah bermanfaat bagi mereka yg mengimani kok. Lha kalo sampeyan tidak mengimani --karena terhalang selera-- ndak perlu minta ma'af mas ! Obat sebagian besar emang kagak ngundang selera mas n tidak semua yg mengundang selera itu baik bagi kita mas. Apalagi selera yg sudah hiperbolis mas bisa jadi memperbudak pikiran/nalar , nalar ketutup ama "selera" !

Husada wrote:

dadap serep wrote:
Oh ya mas , lha emangnya Al Qur'an tuh biografi Muhammad mas ?
Kurang tahu.
Lho kok bisa posting spt ini :"Gaya hidup berlebihan atau tidak, kelihatannya tidak dikisahkan di Al Qur'an, ya?"
Maka mas klo mo membicarakan suatu permasalahan , kuasai dulu dong , jangan dikendalikan oleh "selera saja" ya kan mas.
Husada wrote:

Tetapi, banyak perintah yang konon disampaikan melalui Al Qur'an itu langsung ke Muhammad, dan mempengaruhi hidup Muhammad. Artinya, meski Al Qur'an itu bukan semata-mata berisikan riwayat hidup Muhammad, namun Al Qur'an itu cukup kompeten menggambarkan kehidupan Muhammad, sebab Muhammad patuh pada ayat Al Qur'an. Sering (konon juga), suatu sikap Muhammad mendahului turunnya ayat Al Qur'an yang mengatur tentang itu, misalnya mengawini bekas istri anak angkatnya.
He he he , jadinya masih teteup berpendapat nabi Muhammad itu hidup dengan mewah --berdasarkan kesimpulan-- tanpa adanya informasi yg pendukung , spt warisan yg melimpah atau rumah mewah dsb dsb ? monggo saja masss,......

Husada wrote:

dadap serep wrote:
Klo sampeyan nulis spt yg saya bold itu , lalu kenapa nanya nanya spt dalam forum ini mas , rasanya ndak ada manfaat nya kan diskusi , klo sampeyan sudah punya mind set spt itu ? Aneh juga nalar normal sampeyan itu mas diskusi for nothing!!!
Hehheehheee... ketepatan saja sudah ada trit ini, maka saya urun nanya. Kalau itu aneh menurut DS, ya monggo. Menurut saya tidak aneh, karena trit ini sudah ada. Tentang gaya bahasa yang saya gunakan, saya kira masih okke, tidak sampai aneh. Hehheehheee...
He he he he jadi "diskusi for nothing" itu hal yg biasa , tidak aneh ya mas,............................ iyaaaa deh !

Husada wrote:

Dadap serep wrote:
Bagi saya , bagi umat Islam, sampeyan tidak mempercayai Muhammad sebagai Rasulullah , Al Qur'an adalah Kalamullah, itu kagak ngaruh mas , silahkan saja bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
Dimengerti. Jangankan dengan saya yang tidak menganut Islam, bahkan antarpenganut Islam saja kalian sudah saling mengkafirkan, kan?
Lho lha memangnya saya ngomong apa sih mas , kok maslah kafir mengkafirkan segala. Kok kliatannya meski sampeyan nulis "Dimengerti" sepertinya sampeyan kagak bisa memahami postingan saya itu .
Masss mas.................... emangnya saya bilang sampeyan kafir mas ? meskipun kenyataannya mungkin emang demikian , bahwa sampeyan kagak percaya dengan konsep ketuhanan dalam Islam (Tauhid) dan kerasulan Muhammad .
Atau maksud mas Husada "dimengerti" itu bahwa mas itu emang kafir maka dimengerti klo saya bilang spt itu ( sampeyan tidak mempercayai Muhammad sebagai Rasulullah , Al Qur'an adalah Kalamullah ) , kalau emang gitu ,.....ituuuu sih pengertian mas Husada sendiri , saya tak bisa ngelarang ! tapi jelas dalam postingan itu saya tidak menggunakan kosa kata "kafir" kpd siapapun lho !

Husada wrote:

dadap serep wrote:
Sekali lagi saya tegaskan, saya disini hanya menyampaikan message meneruskan tugas nabi kepada yg bertanya , --kali ini dlm forum ini-- saya tidak berpretensi untuk membuat sampeyan percaya kok.
Terima kasih. Menambah khasanah pemahaman. Dan dengan logika yang ada pada partisipan, masing-masing memperoleh informasi tambahan, kan?
Yup demikian.

Husada wrote:

dadap serep wrote:
Lha silahkan saja mas , wong dari awal memang sampeyan kagak percaya sebagai sang nabi, meskipun sampeyan kagak pernah bertemu ama beliau, tapi sudah merasa punya kemampuan untuk menilai beliau , bahkan merasa tahu keinginan dan hasrat beliau , apa yg ada dalam hati beliau ,...........wow !
Betul, setelah membaca Mukadimmah dari Al Qur'an dan Terjemahannya yang saya ceritakan di atas, sungguh, saya tidak percaya atas kenabian Muhammad.
sooooo,........?????

Husada wrote:

dadap serep wrote:
Apakah referensi berguna bagi sampeyan mas , klo kenyataannya sudah punya mind set seperti yg sdh sampeyan postingkan . Jadi memang sampeyan sulit menerima , sulit memahami karena sampeyan sudah tidak menerima argumentasi , hanya sibuk tanya referensi , sedangkan "referensi" utama -- Muhammad Rasulullah -- dan apa yg dibawanya (AQ) saja kagak sampeyan percayai !
Bagi saya , saya sudah tunaikan apa yg shrsnya saya sampaikan , perkara tanggapannya itu terserah penerimanya saja , tergantung kepada kemampuan dan kemauan masing masing.
Saya kira, setiap penganut logika normal, masih mengakui referensi yang dapat diklarifikasi, dapat dikonfirmasi, dan berterima di akal sehat. Lhah... kalo referensinya tidak terdukung oleh bukti yang berterima di akal normal, bagaimana pula mengakuinya?
He he he he kliatannya sampeyan sudah mulai ngerti bahwa "referensi" bukan hal yg terlalu bermanfaat , spt postingan sampeyan ini " kalo referensinya tidak terdukung oleh bukti yang berterima di akal normal, bagaimana pula mengakuinya?" good.
Tinggal sekarang kita menyamakan persepsi tentang "akal normal" mas. Moga moga seperti "referensi" akhirnya bisa disepakati maknanya.

Husada wrote:
Misalnya, seorang yang mengatakan bahwa dia mengasihi sesama manusia,
tetapi di tangannya terhunus pedang berlumur darah, dan di sampingnya
tergelimpang sosok manusia yang sudah kehilangan nyawa dengan luka lebar
di leher, maka nalar sehat saya tidak mengakui dan menjadikan
pernyataan orang itu sebagai referensi. Dapat DS tangkap maksud saya?
Hmmmm saya sih ngerti kira kira maksud sampeyan mas , tapi kliatannya sampeyan kesulitan dalam mengekpresikannya dalam narasinya mas. Kalau "yg mengatakan dia mengasihi sesama manusia" itu memang yg menebas leher manusia yg tergelimpang disampingnya itu , adalah dalam usaha membela keselamatan diri dan keluarganya , kalau tidak dia dan keluarganya yg mati/dibunuh ?
Lalau apakah demi akal sehat siorang tersebut membiarkan diri dan keluarganya dibunuh ?
Lalau akal sehat yg mana yg sampeyan pakai mas ?
Maka mas , periksa dengan teliti suatu permasalahan , pahami permasalahan dengan tuntas ,jangan gampang memvonis hanya dengan sudut pandang , informasi yg secuil mas ! apalagi hanya masalah selera ! blaikkkk masssss,..... !

Husada wrote:

dadap serep wrote:
Makasih , turnuwun , tabeek.
Sama-sama. Damai sertamu.
siiiipppppppp,........
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    4th June 2013, 00:56

Damai bagimu DS.
dadap serep wrote:
Ndak ada yg nyangkal kok mas klo pengalaman ,input yg didapat oleh seseorang memang bisa membentuk karakter seseorang , namun apakah karakter yg terbentuk itu linear sejajar dengan pengalaman yg didapat mas ? apakah pengalaman "negative" seseorang itu akan menghasilkan karakter yg negative pula , atau sebaliknya pengalaman "positive" itu otomatis pasti membentuk karakter yg positive pula ?

Dari pada bermain hipotesa , napa kagak nyari "referensi" laporan penilaian masyarakat dimana beliau berinteraksi kala itu mas. Padahal gampang kok , tanya aja mbah wiki dengan entry Muhammad , maka akan muncul antara lain kalimat spt ini :"Due to his upright character he acquired the nickname "al-Amin" (Arabic: الامين), meaning "faithful, trustworthy" and "al-Sadiq" meaning "truthful"[62] and was sought out as an impartial arbitrator.[12][17][63]" , dan itu kliatannya kagak senafas dengan hypotesa karakter Muhammad spt yg sampeyan sampaikan mas.
Weihh... kalo begini, kelihatannya DS juga menggunakan referensi, to? Puji Tuhan. Di satu sisi, DS mengatakan bahwa referensi tidak penting, semetara di sisi lain, DS menyajikan referensi juga. Bagus juga siii...

Quote :
Jadi memang betul kan mas bahwa sampeyan belum membaca secara keseluruhan , karena keburu "kehilangan selera" ! Jadi jelas sampeyan beropini dan berkesimpulan berdasarkan input yg tidak represen tidak cukup bin minim , minim referensi , ya saya maklum dan itu sudah saya prediksi melihat kesimpulan kesimpulan yg sampeyan sampaikan . Sekali lagi no problemo bagi saya mas , AQ --spt yg pernah saya sampaikan --adalah bermanfaat bagi mereka yg mengimani kok. Lha kalo sampeyan tidak mengimani --karena terhalang selera-- ndak perlu minta ma'af mas ! Obat sebagian besar emang kagak ngundang selera mas n tidak semua yg mengundang selera itu baik bagi kita mas. Apalagi selera yg sudah hiperbolis mas bisa jadi memperbudak pikiran/nalar , nalar ketutup ama "selera" !
Betul. Saya kehilangan selera mendalami. Selain karena yang telah saya sampaikan itu, bahwa pada preambule saja sudah menggambarkan berbagai sumpah, kebencian, balas dendam dan menakut-nakuti, juga dari pengamatan lapangan, bahwa sering saya temukan kelompok orang yang menyatakan diri membaca Al Qur'an tetapi sangat beringas ingin menghanguskan pihak lain. Menurut hemat saya, jika benar membaca Kitab Suci yang benar, maka perbuatannya tidak akan berminat menghanguskan pihak lain, hanya karna berbeda pandangan.

Quote :
He he he , jadinya masih teteup berpendapat nabi Muhammad itu hidup dengan mewah --berdasarkan kesimpulan-- tanpa adanya informasi yg pendukung , spt warisan yg melimpah atau rumah mewah dsb dsb ? monggo saja masss,...
Hehheehheee... kayaknya saya tidak mengatakan Muhammad hidup mewah, deh. Melainkan, ayat-ayat yang konon diturunkan dari yang Maha Adil itu, nyata-nyata memberikan keuntungan bagi Muhammad. Maha adil yang saya maknai, yah... agak bisa didekati dengan matahari yang menyinarkan sinarnya tanpa melebihkan bagi suatu tempat daripada tempat lain. Pun kalau jumlah sinarnya berbeda diterima di suatu tempat daripada tempat lain, itu bukan karena keinginan matahari. Itu karena pihak lain, misalnya awan, atau pohon, atau yang lainnya. Matahari itu sendiri, menyinarkan sinarnya tanpa membedakan apakah yang disinari itu tokoh utama atau tokoh figuran. Sementara ayat-ayat yang konon diturunkan oleh Yang Maha Adil, nyata-nyata membedakan.
Quote :
He he he he jadi "diskusi for nothing" itu hal yg biasa, tidak aneh ya mas,............................ iyaaaa deh !
Jiyahhaahhaaahhaaaa... kelihatannya, penganut "diskusi for nothing" ditunjukkan oleh inkonsistensi deh. Tujuannya hanya untuk memenangkan kata, bukan memenangkan makna. Kalau harus, tidak mempermasalahkan konsistensi, sekali bilang referensi tidak perlu, dikesempatan lain bilang referensi itu perlu.
Quote :
Lho lha memangnya saya ngomong apa sih mas , kok maslah kafir mengkafirkan segala. Kok kliatannya meski sampeyan nulis "Dimengerti" sepertinya sampeyan kagak bisa memahami postingan saya itu.
Duh, DS tidak menangkap? Saya coba lagi, deh. DS yang mendalami Al Qur'an dengan saya yang tidak mendalami Al Qur'an, pasti berbeda pemahaman mengenai ketuhanan. Jangankan DS dengan saya, sesama orang yang mendalami Al Qur'an pun saling mengkafirkan. Apalagi seorang yang mendalami Al Qur'an dengan orang yang tidak mendalami Al Qur'an? Mbok ya diperluas sedikit cara pandangnya. Jangan mau terkungkung, DS. Merdekakan pandanganmu.
Quote :
Masss mas.................... emangnya saya bilang sampeyan kafir mas ? meskipun kenyataannya mungkin emang demikian , bahwa sampeyan kagak percaya dengan konsep ketuhanan dalam Islam (Tauhid) dan kerasulan Muhammad.
DS saja yang mengingatnya, tidak masalah bagi saya. Perluas saja cakrawala pandanganmu DS, agar terhindar dari logika yang terbolak-balik.
Quote :
Atau maksud mas Husada "dimengerti" itu bahwa mas itu emang kafir maka dimengerti klo saya bilang spt itu ( sampeyan tidak mempercayai Muhammad sebagai Rasulullah , Al Qur'an adalah Kalamullah ) , kalau emang gitu ,.....ituuuu sih pengertian mas Husada sendiri , saya tak bisa ngelarang ! tapi jelas dalam postingan itu saya tidak menggunakan kosa kata "kafir" kpd siapapun lho !
Jiyahhaahhaaahhaaaa... kalo masih belum nangkap, ya sudah, jangan dipaksakan.

Quote :
Lha silahkan saja mas , wong dari awal memang sampeyan kagak percaya sebagai sang nabi, meskipun sampeyan kagak pernah bertemu ama beliau, tapi sudah merasa punya kemampuan untuk menilai beliau , bahkan merasa tahu keinginan dan hasrat beliau , apa yg ada dalam hati beliau ,...........wow !
Hehheehheee... hukum gigi ganti gigi, mata ganti mata sudah dirubah oleh Jesus Kristus menjadi, doakanlah orang yang membencimu, bagaimana pula saya akan kembali ke gigi ganti gigi, dan mata ganti mata yang diajarkan Muhammad yang dituangkan di Al Qur'an? Tuhan yang saya kenal bukan Tuhan yang inkonsisten menasakh dan memansukhkan suatu ayat.
Quote :
He he he he kliatannya sampeyan sudah mulai ngerti bahwa "referensi" bukan hal yg terlalu bermanfaat , spt postingan sampeyan ini " kalo referensinya tidak terdukung oleh bukti yang berterima di akal normal, bagaimana pula mengakuinya?"
Bwahhaahhaaahhaaaa... DS yang menganggap referensi tidak bermanfaat, bahwa referensi DS cukup pada apa yang dikatakan Muhammad, apa yang dikatakan Muhammad disampaikan kepadanya oleh Yang Maha Adil padahal jelas-jelas memihak, kenapa malah mengatakan saya mulai mengerti? Mulai mengerti pada logika terbolak-balik? Bwahhaahhaaahhaaaa...
Quote :
Tinggal sekarang kita menyamakan persepsi tentang "akal normal" mas. Moga moga seperti "referensi" akhirnya bisa disepakati maknanya.
Bwahhaahhaaahhaaaa... apakah ini tidak menjadikan pelebaran masalah? Apakah itu masih dalam kronologis turunnya ayat-ayat Al Qur'an dan [i]aAbrogation[i] ayat-ayat Al Qur'an?

Quote :
Hmmmm saya sih ngerti kira kira maksud sampeyan mas , tapi kliatannya sampeyan kesulitan dalam mengekpresikannya dalam narasinya mas. Kalau "yg mengatakan dia mengasihi sesama manusia" itu memang yg menebas leher manusia yg tergelimpang disampingnya itu , adalah dalam usaha membela keselamatan diri dan keluarganya , kalau tidak dia dan keluarganya yg mati/dibunuh ?
Lalau apakah demi akal sehat siorang tersebut membiarkan diri dan keluarganya dibunuh ?
Lalau akal sehat yg mana yg sampeyan pakai mas ?
Jiyahhaahhaaahhaaaa... bagaimana pula DS menduga bahwa yang tergelimpang itu hendak menyerang/membunuh, sementara di tangannya tidak ada senjata?
Quote :
Maka mas , periksa dengan teliti suatu permasalahan , pahami permasalahan dengan tuntas ,jangan gampang memvonis hanya dengan sudut pandang , informasi yg secuil mas ! apalagi hanya masalah selera ! blaikkkk masssss,..... !
DS, Guru dan Tuhan saya yang saya terima sebagai Juru Selamat, pernah bilang di InjilNya, POHON DIKENAL DARI BUAHNYA.


Damai sertamu.

Ngomong-ngomong, perasaan saya, seperti sedang berdiskusi dengan seseorang yang menamakan dirinya Striker, tetapi gaya tutur kata yang lebih runtun. Puji Tuhan.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    5th June 2013, 22:19

Husada wrote:
Damai bagimu DS.
dadap serep wrote:
Ndak ada yg nyangkal kok mas klo pengalaman ,input yg didapat oleh seseorang memang bisa membentuk karakter seseorang , namun apakah karakter yg terbentuk itu linear sejajar dengan pengalaman yg didapat mas ? apakah pengalaman "negative" seseorang itu akan menghasilkan karakter yg negative pula , atau sebaliknya pengalaman "positive" itu otomatis pasti membentuk karakter yg positive pula ?

Dari pada bermain hipotesa , napa kagak nyari "referensi" laporan penilaian masyarakat dimana beliau berinteraksi kala itu mas. Padahal gampang kok , tanya aja mbah wiki dengan entry Muhammad , maka akan muncul antara lain kalimat spt ini :"Due to his upright character he acquired the nickname "al-Amin" (Arabic: الامين), meaning "faithful, trustworthy" and "al-Sadiq" meaning "truthful"[62] and was sought out as an impartial arbitrator.[12][17][63]" , dan itu kliatannya kagak senafas dengan hypotesa karakter Muhammad spt yg sampeyan sampaikan mas.
Weihh... kalo begini, kelihatannya DS juga menggunakan referensi, to?
Makanya mas , pratiin dg cermat klo orang posting tu , saya nggak pernah mengharamkan referensi kan. Klo referensi mesti kudu copasan itu yg yg saya kagak sependapat.

Husada wrote:

Puji Tuhan. Di satu sisi, DS mengatakan bahwa referensi tidak penting, semetara di sisi lain, DS menyajikan referensi juga. Bagus juga siii...
,
He he he memang menjadi kagak penting manakala referensi itu harus dimaknai sebagai copasan . Sekali lagi ini yg saya harapkan bisa difahami dg akal yg sehat . Tapi susah menghilangkan pandangan sempit ini , terbukti ketika saya copas kalimat dari mbah Wiki , langsung diakui --dg ucapan puji sukur-- (saya juga menggunakan referensi ) dg komentar spt postingan sampeyan itu mas. Padahal sebelumnya saya juga menggunakan atau menunjuk suatu refensi , tapi tidak berujut copasan . Fhiuhhhh,...........

Husada wrote:

Quote :
Jadi memang betul kan mas bahwa sampeyan belum membaca secara keseluruhan , karena keburu "kehilangan selera" ! Jadi jelas sampeyan beropini dan berkesimpulan berdasarkan input yg tidak represen tidak cukup bin minim , minim referensi , ya saya maklum dan itu sudah saya prediksi melihat kesimpulan kesimpulan yg sampeyan sampaikan . Sekali lagi no problemo bagi saya mas , AQ --spt yg pernah saya sampaikan --adalah bermanfaat bagi mereka yg mengimani kok. Lha kalo sampeyan tidak mengimani --karena terhalang selera-- ndak perlu minta ma'af mas ! Obat sebagian besar emang kagak ngundang selera mas n tidak semua yg mengundang selera itu baik bagi kita mas. Apalagi selera yg sudah hiperbolis mas bisa jadi memperbudak pikiran/nalar , nalar ketutup ama "selera" !
Betul. Saya kehilangan selera mendalami. Selain karena yang telah saya sampaikan itu, bahwa pada preambule saja sudah menggambarkan berbagai sumpah, kebencian, balas dendam dan menakut-nakuti, juga dari pengamatan lapangan, bahwa sering saya temukan kelompok orang yang menyatakan diri membaca Al Qur'an tetapi sangat beringas ingin menghanguskan pihak lain. Menurut hemat saya, jika benar membaca Kitab Suci yang benar, maka perbuatannya tidak akan berminat menghanguska.
n pihak lain, hanya karna berbeda pandangan.

Ehmmmm "menggambarkan berbagai sumpah, kebencian, balas dendam dan menakut-nakuti," pada preambule ? wowww,....syeremmmmmm !
Maksud sampeyan pada surat Al Fatihah gitu ?
Mari kita teliti apa sih kalimat yg terdapat dalam srt tsbt yg dlm bhsa Indonesia kurang lebih spt ini:
1. Dengan menyebut asma Allah yg Maha Pengasih Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah tuhan seru sekalian alam
3. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
4. Yg Menguasai di Hari pembalasan
5. Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami berlindung
6. Tunjukkanlah kami jalan yg lurus ,
7. yaitu jalan bagi mereka yg Engkau beri kenikmatan dan bukan (jalan) mereka yg dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yg sesat.

Silahkan tunjukkan pada ayat yg mana selera sampeyan memberikan gambaran berbagai sumpah, kebencian, balas dendam dan menakut-nakuti ! Monggo massss,......................

Husada wrote:

Quote :
He he he , jadinya masih teteup berpendapat nabi Muhammad itu hidup dengan mewah --berdasarkan kesimpulan-- tanpa adanya informasi yg pendukung , spt warisan yg melimpah atau rumah mewah dsb dsb ? monggo saja masss,...
Hehheehheee... kayaknya saya tidak mengatakan Muhammad hidup mewah, deh. Melainkan, ayat-ayat yang konon diturunkan dari yang Maha Adil itu, nyata-nyata memberikan keuntungan bagi Muhammad. Maha adil yang saya maknai, yah... agak bisa didekati dengan matahari yang menyinarkan sinarnya tanpa melebihkan bagi suatu tempat daripada tempat lain. Pun kalau jumlah sinarnya berbeda diterima di suatu tempat daripada tempat lain, itu bukan karena keinginan matahari. Itu karena pihak lain, misalnya awan, atau pohon, atau yang lainnya. Matahari itu sendiri, menyinarkan sinarnya tanpa membedakan apakah yang disinari itu tokoh utama atau tokoh figuran. Sementara ayat-ayat yang konon diturunkan oleh Yang Maha Adil, nyata-nyata membedakan.
Ohhhhh mengenai maha adil nih ?
Pan saya juga udah posting spt ini :",...lihat nabi Sulaiman yg kaya raya , nabi Musa yg umatnya dilarang membunuh namun beliau pernah membunuh " atau dalam bentuk yg lain , kenapa seorang yg membawakan pesan kebaikan harus digebukin , dicambukin , dan akhirnya mati ditiang salib ? apakah sampeyan tidak menanyakan kondisi kondisi mereka itu dari sudut keadilan ?
Saya yakin anda sebetulnya tahu bahwa masalah adil ini kudu didekati dengan pendekatan yg bgmana !? paham kannnn,......?

Husada wrote:

Quote :
He he he he jadi "diskusi for nothing" itu hal yg biasa, tidak aneh ya mas,............................ iyaaaa deh !
Jiyahhaahhaaahhaaaa... kelihatannya, penganut "diskusi for nothing" ditunjukkan oleh inkonsistensi deh. Tujuannya hanya untuk memenangkan kata, bukan memenangkan makna. Kalau harus, tidak mempermasalahkan konsistensi, sekali bilang referensi tidak perlu, dikesempatan lain bilang referensi itu perlu.
He he he masih penasaran dengan referensi nih yeeeee,....................
Sebagai penganut referensi copasan , monggo sampeyan copas dlm kalimat yg lengkap postingan saya yg menunjukkan ketidak konsistenan saya dalam menggunakan referensi ini masss ,...............monggo monggo.

Husada wrote:

Quote :
Lho lha memangnya saya ngomong apa sih mas , kok maslah kafir mengkafirkan segala. Kok kliatannya meski sampeyan nulis "Dimengerti" sepertinya sampeyan kagak bisa memahami postingan saya itu.
Duh, DS tidak menangkap? Saya coba lagi, deh. DS yang mendalami Al Qur'an dengan saya yang tidak mendalami Al Qur'an, pasti berbeda pemahaman mengenai ketuhanan. Jangankan DS dengan saya, sesama orang yang mendalami Al Qur'an pun saling mengkafirkan. Apalagi seorang yang mendalami Al Qur'an dengan orang yang tidak mendalami Al Qur'an? Mbok ya diperluas sedikit cara pandangnya. Jangan mau terkungkung, DS. Merdekakan pandanganmu.

He he he he gituuuu ya mas . Klo sampeyan berpendapat bahwa perbedaan itu karena saya mendalami AQ sementara mas tidak mendalami , dan itu saya sikapi dengan menyampaikan suatu ayat AQ yn maknanya "bagimu agamamu dan bagiku agamaku" itu suatu pernyataan yg menurut saya sangat fair , paling pas .Dan itu jelas tidak analog dengan masalah pengkafiran sesama umat Islam mas ! Sesama umat Islam mengacu pada hukum , sumber hukum yg sama , sedangkan saya dan sampeyan berhukum (agama) yg berbeda , maka saya meng ekpresikan perbedaan ini dengan "lakum dinukum waliyadin" dien kita eamng beda !
Klo sampeyan maunya cara pandang saya diperluas , bagaimana hal spt itu diperluas wong udah jelas , jelas itu fokus , makin diperluas jadi tidak fokus bin kabur mas ! apa maunya spt itu ?

Husada wrote:

Quote :
Masss mas.................... emangnya saya bilang sampeyan kafir mas ? meskipun kenyataannya mungkin emang demikian , bahwa sampeyan kagak percaya dengan konsep ketuhanan dalam Islam (Tauhid) dan kerasulan Muhammad.
DS saja yang mengingatnya, tidak masalah bagi saya. Perluas saja cakrawala pandanganmu DS, agar terhindar dari logika yang terbolak-balik.
Quote :
Atau maksud mas Husada "dimengerti" itu bahwa mas itu emang kafir maka dimengerti klo saya bilang spt itu ( sampeyan tidak mempercayai Muhammad sebagai Rasulullah , Al Qur'an adalah Kalamullah ) , kalau emang gitu ,.....ituuuu sih pengertian mas Husada sendiri , saya tak bisa ngelarang ! tapi jelas dalam postingan itu saya tidak menggunakan kosa kata "kafir" kpd siapapun lho !
Jiyahhaahhaaahhaaaa... kalo masih belum nangkap, ya sudah, jangan dipaksakan.
he he he he ya ya ya ,...................nangkep nangkep nangkep , udah saya jelasin diatas.

Husada wrote:

Quote :
Lha silahkan saja mas , wong dari awal memang sampeyan kagak percaya sebagai sang nabi, meskipun sampeyan kagak pernah bertemu ama beliau, tapi sudah merasa punya kemampuan untuk menilai beliau , bahkan merasa tahu keinginan dan hasrat beliau , apa yg ada dalam hati beliau ,...........wow !
Hehheehheee... hukum gigi ganti gigi, mata ganti mata sudah dirubah oleh Jesus Kristus menjadi, doakanlah orang yang membencimu, bagaimana pula saya akan kembali ke gigi ganti gigi, dan mata ganti mata yang diajarkan Muhammad yang dituangkan di Al Qur'an? Tuhan yang saya kenal bukan Tuhan yang inkonsisten menasakh dan memansukhkan suatu ayat.

Whuallllahhhhhhhhh,............ piye to simase kiiiiii , lha yg ngakui menasahk hukum "gigi ganti gigi" dengan "ditampar pipi kiri kasih yg kanan , diminta baju kasih jubah sekalian " itu sopoooooo to yo ! Lha kandane Yesus Kristus itu Tuhan , disitu jelas kok beliau ngeganti /menasakh , wong narasinya :" kamu telah mendengar firman,........... Tapi Aku berkata kepadamu ,....bla bla bla,......"
Masak sehhhhh gak kenal ama Tuhan Yesus anda sendiri ?
Sopo sik kebolak balik massss,......................?

Husada wrote:

Quote :
He he he he kliatannya sampeyan sudah mulai ngerti bahwa "referensi" bukan hal yg terlalu bermanfaat , spt postingan sampeyan ini " kalo referensinya tidak terdukung oleh bukti yang berterima di akal normal, bagaimana pula mengakuinya?"
Bwahhaahhaaahhaaaa... DS yang menganggap referensi tidak bermanfaat, bahwa referensi DS cukup pada apa yang dikatakan Muhammad, apa yang dikatakan Muhammad disampaikan kepadanya oleh Yang Maha Adil padahal jelas-jelas memihak, kena pa malah mengatakan saya mulai mengerti? Mulai mengerti pada logika terbolak-balik? Bwahhaahhaaahhaaaa...
Ups ups upsssss , sareh mas sarehhhhhhh , pelan pelan klo ngebaca postingan mas , rasanya saya pernah copas mbah wiki , saya refer insiklopedia Islam , disamping emang ayat ayat AQ --lha wong sedang ngebicarain AQ jee -- , malahan saya juga mensitir Matius 5 ayat 38,39 deh ! Jadi logika terbolak baliknya sapa yg pake masssss ,................................silahkeun diteliti .

Husada wrote:

Quote :
Tinggal sekarang kita menyamakan persepsi tentang "akal normal" mas. Moga moga seperti "referensi" akhirnya bisa disepakati maknanya.
Bwahhaahhaaahhaaaa... apakah ini tidak menjadikan pelebaran ? Apakah itu masih dalam kronologis turunnya ayat-ayat Al Qur'an dan [i]aAbrogation[i] ayat-ayat Al Qur'an?
Wahhhhhh ,............lha memangggg ,................ jadi udahan ya ngebicarain referensi dan akal normal , mbalik maning nang laptop !

Husada wrote:

Quote :
Hmmmm saya sih ngerti kira kira maksud sampeyan mas , tapi kliatannya sampeyan kesulitan dalam mengekpresikannya dalam narasinya mas. Kalau "yg mengatakan dia mengasihi sesama manusia" itu memang yg menebas leher manusia yg tergelimpang disampingnya itu , adalah dalam usaha membela keselamatan diri dan keluarganya , kalau tidak dia dan keluarganya yg mati/dibunuh ?
Lalau apakah demi akal sehat siorang tersebut membiarkan diri dan keluarganya dibunuh ?
Lalau akal sehat yg mana yg sampeyan pakai mas ?
Jiyahhaahhaaahhaaaa... bagaimana pula DS menduga bahwa yang tergelimpang itu hendak menyerang/membunuh, sementara di tangannya tidak ada senjata?
Lha itu yg saya maksud narasi penggambaran kejadiannya kagak lengkap , masih banyak kemungkinannya , spt mungkin saja senjatanya udah dirampas atau terlempar ketika terjadi perklaian itu.

Husada wrote:

Quote :
Maka mas , periksa dengan teliti suatu permasalahan , pahami permasalahan dengan tuntas ,jangan gampang memvonis hanya dengan sudut pandang , informasi yg secuil mas ! apalagi hanya masalah selera ! blaikkkk masssss,..... !
DS, Guru dan Tuhan saya yang saya terima sebagai Juru Selamat, pernah bilang di InjilNya, POHON DIKENAL DARI BUAHNYA.Damai sertamu.
Halaghhhh masss mas , lho monggo saja to mas , duluuuuu itu bisa dijadikan pegangan mas , sekarang mangga manalagi induknya batang pohon mangga gadung , lengkeng lembah induk batangnya lengkeng lokal ! Lalu dengan akal yg normal gimana buah labu parang (waloh/pumpkin) itu dikaitkan dikenali/dibayangkan pohonnya bila kita bandingkan buah beringin dg batang pohonnyanya mas ?
Tapi sekali lagi monggo saja saya hargai keyakinan sampeyan , tanpa keyakinan , memang sungguh repot hidup ini mas !

Husada wrote:

Ngomong-ngomong, perasaan saya, seperti sedang berdiskusi dengan seseorang yang menamakan dirinya Striker, tetapi gaya tutur kata yang lebih runtun. Puji Tuhan.
Bisa saja sama , tapi ma'af saya Dadap Serep mas bukan Striker , dan kebetulan saya bukan pecandu bola juga.
Tabeek mas.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    6th June 2013, 09:08

Damai bagimu DS.

Kalau DS ingin melanjutkan pembahasan trit ini, biarlah hal-hal yang tidak sangat relevan dibahas sekedarnya saja, sekedar menyamakan persepsi tentangnya. Trit ini, menurut yang saya tangkap dari awal, TS menyajikan bahwa terkait dengan Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran, telah mengelompokkan tahapan turunnya ayat Al Qur'an menjadi 3 tahap, yaitu:
Tahap I : Islam agama damai karna Muhammad dan pengikutnya masih lemah;
Tahap 2 : Masa Peralihan menuju Kejayaan, sebelum berhasil merebut kota Mekkah; dan
Tahap 3: Penyerangan Agresif Tanpa Batas untuk Menyebarkan Islam.

Bahasan-bahasan lain, sepanjang terkait erat dengan trit, bisa saja dibahas. Namun kalau pembahasan justru berkutat di referensi dan pemaknaan arti kata, saya kira cukup berupa kilasan-kilasan saja.

Kalau kembali ke topik, menurut DS, apakah tahapan-tahapan seperti yang dikemukakan itu sudah memadai? Atau, masih ada yang perlu DS tambahkan atau kurangkan?

Damai bagimu.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
dadap serep
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 58
Join date : 21.04.13

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    6th June 2013, 14:45

Husada wrote:
Damai bagimu DS.

Kalau DS ingin melanjutkan pembahasan trit ini, biarlah hal-hal yang tidak sangat relevan dibahas sekedarnya saja, sekedar menyamakan persepsi tentangnya. Trit ini, menurut yang saya tangkap dari awal, TS menyajikan bahwa terkait dengan Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran, telah mengelompokkan tahapan turunnya ayat Al Qur'an menjadi 3 tahap, yaitu:
Tahap I : Islam agama damai karna Muhammad dan pengikutnya masih lemah;
Tahap 2 : Masa Peralihan menuju Kejayaan, sebelum berhasil merebut kota Mekkah; dan
Tahap 3: Penyerangan Agresif Tanpa Batas untuk Menyebarkan Islam.

Bahasan-bahasan lain, sepanjang terkait erat dengan trit, bisa saja dibahas. Namun kalau pembahasan justru berkutat di referensi dan pemaknaan arti kata, saya kira cukup berupa kilasan-kilasan saja.

Kalau kembali ke topik, menurut DS, apakah tahapan-tahapan seperti yang dikemukakan itu sudah memadai? Atau, masih ada yang perlu DS tambahkan atau kurangkan?

Damai bagimu.


"Bahasan bahasaan lain, sepanjang terkait erat dg trit ,bisa saja dibahas. Namun kalau pembahasan justru berkutat di referensi dan pemaknaan arti kata , saya kira cukup berupa kilasan-kilasan saja."


Saya pada prinsipnya sependapat bahwa pembahasan yg berkutat di referensi memang kontra produktip. Tetap dalam trit ini --menurut saya-- bukannya justru "pemaknaan arti kata" itu sumber dalam pemahamannya mas , pemaknaan arti kata yg berbeda jelas akan berakibat pada kesimpulan yg berbeda kan ? Kita sudah membuktikannya !

Saya sudah mendemonstrasikan betapa pemaknaan arti kata "AYAT" di 2:106 punya implikasi yg sangat signifikan !

Demikan juga "pemaknaan arti kata" yg berbeda bahkan sampai menimbulkan anggapan bahwa Tuhan inkonsisten , sedangkan dalam pemahaman arti kata dalam kitab suci lain , tidak menimbulkan anggapan spt itu !


Spt juga postingan sampeyan diatas , perbedaan pemaknaan arti kata pada kalimat srt Al Fatihah , (preambule) begitu berpengaruh thdp kesimpulan yg sampeyan sampaikan :"menggambarkan berbagai sumpah , kebencian, balas dendam dan menakut nakuti ",.......................spt yg sampeyan sampaikan kliatannya sulit dicari kaitannya dengan salah satu ayat preambule tsbt mas , just contoh , dlm memaknai arti kata.

Perkara pengelompokan tahapan turunnya AQ seperti itu , menurut saya hanyalah sebagai akibat dari pemaknaan arti kata dalam ayat ayat AQ spt yg disampaikan TS. Spt saya sampaikan kronologi ,tahapan yg spt disampaikan itu bisa saja dijadikan pendekatan untuk memahami suatu ayat , tetapi jelas tidak bisa dipakai untuk menentukan status hukum yg ada dalam ayat tsbt .

Saya tidak memungkiri bahwa perjuangan uamat Islam , nabi Muhamamad dalam melaksanakan tugas nya menyampaikan risalah Ilahiyah itu melalui periode : awal masih susah berkembang ( ketika di Mekah awal) karena adanya resisstensi yg besar dari mayarakat yg masih memegang keyakinan yg tradisional ,shg mereka harus mengungsi , di Medinah bisa di katakan sebagai periode pemantapan dan konsolidasi dan penuntasan penyampaian ajaran , penolakan masyarakat terhadap ajaran yg dibawa Muhammad sudah sangat berkurang , kemudian penaklukan Mekah , sebagai closing penugasan sang nabi .

Itu adalah fakta sejarah . Tetapi apakah urutan turunnya ayat ayat pada periode periode tsbt kemudian mempunyai dampak thdp kandungan hukum pada ayat ayatnya ?

Ini yg sebetulnya menjadi pokok permasalahannya , ini yg perlu didiskusikan mas , menurut saya ! .
Pemahaman thdp adanya dampak pada kandungan hukum ayat spt itu , bertumpu pada adanya ayat QS 2:106 ! pada pemaknaan kata "A Y A T " yg dimaknai sebagai "ayat Al Qur'an".

Maka mas , diskusi ini menurut saya tidak bisa dihindari untuk mendiskusikan "pemaknaan" ayat , pemaknaan kata.
Berkutat pada referensi atau tidak , itu mah tergantung kemampuan partisipan diskusi dlm memahami dan meresponnya mas .
Bagi saya diskusi yg cenderung tidak maju maju memang perlu dihindari .

Makasih.


Terakhir diubah oleh dadap serep tanggal 7th June 2013, 08:14, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Raihan Danielsan
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 236
Join date : 04.02.11

PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    6th June 2013, 16:38

Husada wrote:
Damai bagimu DS.

Kalau DS ingin melanjutkan pembahasan trit ini, biarlah hal-hal yang tidak sangat relevan dibahas sekedarnya saja, sekedar menyamakan persepsi tentangnya. Trit ini, menurut yang saya tangkap dari awal, TS menyajikan bahwa terkait dengan Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran, telah mengelompokkan tahapan turunnya ayat Al Qur'an menjadi 3 tahap, yaitu:
Tahap I : Islam agama damai karna Muhammad dan pengikutnya masih lemah;
Tahap 2 : Masa Peralihan menuju Kejayaan, sebelum berhasil merebut kota Mekkah; dan
Tahap 3: Penyerangan Agresif Tanpa Batas untuk Menyebarkan Islam.

Bahasan-bahasan lain, sepanjang terkait erat dengan trit, bisa saja dibahas. Namun kalau pembahasan justru berkutat di referensi dan pemaknaan arti kata, saya kira cukup berupa kilasan-kilasan saja.

Kalau kembali ke topik, menurut DS, apakah tahapan-tahapan seperti yang dikemukakan itu sudah memadai? Atau, masih ada yang perlu DS tambahkan atau kurangkan?

Damai bagimu.

Berulangkali telah saya jelaskan bahwa trit ini dibuat untuk menggiring opini yg bertujuan mendiskreditkan Islam dg jalan menunjukkan kronologis turunnya ayat kemudian menasakh (menghapus) ayat-ayat yg turun lebih dahulu yg berbicara mengenai perdamaian, berlaku adil, memberikan perlindungan, dan toleransi terhadap non muslim yg banyak bertebaran di dalam al-Quran. Dan juga sudah saya jelaskan panjang lebar mengenai hal ini bahwa terjadi ikhtilaf diantara ulama dalam menafsirkan ayat nasakh tsb. Dan ulama yg berpendapat adanya ayat yg menasakh ayat lain dalam al-Quran, tidak ada yg berpendapat bahwa memerangi orang kafir pada surat at-Taubah ayat 123 yg merupakan ayat yg turun setelah fathu Mekkah adalah menasakh (menghapus) ayat-ayat sebelumnya yg memrintahkan berlaku adil, memberikan perlindungan, toleransi, dsb. terhadap non muslim. Akan lebih jauh lagi bila berpegang para ulama yg berpendapat bahwa tidak ada ayat yg menasakh ayat yg lain dalam al-Quran, melainkan adanya ayat-ayat al-Quran yg ketentuan hukumnya membatalkan ketentuan hukum yg lalu terdapat pada Taurat dan Injil.

Apalagi dikatakan memerangi orang-orang non muslim tujuannya adalah menyebarkan Islam. Al-Quran dg terang menjelaskan bahwa Rasulullah seorang Nabi yg tugasnya hanya menyampaikan agama Allah dan pemberi peringatan adanya pembalasan di hari kemudian. Allah berfirman,

"Jika mereka tetap berpaling, sesungguhnya kewajiban atasmu (Muhammad) menyampakan (agama Allah) dengan terang." (Qs. an-Nahl: 82)

"Sesungguh kamu (Muhammad) hanyalah seorang pemberi peringatan, dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk." (Qs. ar-Ra'ad: 7)

Dan tidak ada paksaan dalam memeluk Islam, karena sudah sangat jelas Allah berfirman,

Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat." (Qs. al-Baqarah: 256)

Beriman kepada Allah atau mau kafir itu adalah pilihan yg konsekuensinya akan ditanggun tiap-tiap individu kelak dihadapan Allah. Allah berfirman,

Dan katakanlah, "kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." (Qs. al-Kahfi: 29)

Dan oleh musuh-musuh Islam mengenai ayat-ayat di atas dg entengnya dijawab, "ooo, ayat-ayat itu kan sudah dinasakh oleh surat at-Taubah: 123. lihat dong kronologis turunnya ayat ... Umat muslim harus nurut mereka musuh-musuh islam itu daripada para ulama-ulama muktabar, karena pendapat mereka musuh-musuh Islam itulah yang benar dan mereka lebih tahu al-Quran dari pada para Mufasir atau para ulama muktabar dari kalangan Islam sendiri.

[You must be registered and logged in to see this image.]
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran    Today at 21:38

Kembali Ke Atas Go down
 
Kronologi turunnya Al Quran dan Abrogations Ayat Al-Quran
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 7 dari 8Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8  Next
 Similar topics
-
» rahasai kepintaran yahudi
» Tips Apabila Kena tilang
» RPM lambat turuuunn.!!
» (ask)agan2 sekalian nunggu plat, stnk, n bpkb brp lama..??

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Forum Terbuka :: Diskusi - Kristen Bertanya Non-Kristen Menjawab-
Navigasi: