Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2
PengirimMessage
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   22nd March 2011, 17:51

striker wrote:

hihi jangankan atheis, meyakinkan anda saja sulit bounce bounce bounce

kalau si atheis bisa tak yakinin ya mereka bisa masuk Islam mas bro :bball:

setidaknya saya menjawab pertanyaan mereka bagaimana membuktikan kalau Allah itu ADA, masalah mereka yakin atau tidak atas jawaban saya, ya terserah mereka, apa harus saya paksakan tuk yakin? :)


udah baca reply saya yang no 2 dari atas ? Laughing

Kembali Ke Atas Go down
striker
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1393
Join date : 03.02.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   22nd March 2011, 18:20

T2Y wrote:
striker wrote:

hihi jangankan atheis, meyakinkan anda saja sulit bounce bounce bounce

kalau si atheis bisa tak yakinin ya mereka bisa masuk Islam mas bro :bball:

setidaknya saya menjawab pertanyaan mereka bagaimana membuktikan kalau Allah itu ADA, masalah mereka yakin atau tidak atas jawaban saya, ya terserah mereka, apa harus saya paksakan tuk yakin? :)


udah baca reply saya yang no 2 dari atas ? Laughing


maksudnya yg ini mas bro:

biasanya orang atheist berpegang pada logika.
dan kayaknya logika kita gak akan pernah bisa mejelaskan keberadaan Tuhan, dehhh... Smile
yang bisa membuat orang atheist percaya Tuhan ya kayaknya Tuhan sendiri kalau di Kristen dinamakan tuntunan Roh Kudus, kalau di Islam dinamakan mendapat hidayah.
mungkin melalui peristiwa2 yang tidak mungkin/mustahil buat mereka sehingga mereka menyadari ada KUASA yang Besar yang ikut turut berperan dalam kehidupan di alam semesta. bounce bounce bounce


Jawaban yg SANGAT BAGUS.

tapi setiap orang kan mempunyai pendapat dan jawaban sendiri2 mas bro, njenengan dengan pendapat dan jawab yg sangat PINTAR, sedangkan saya mengemukakan jawaban dan pendapat sebagai orang AWAM.

kalau pendapat saya yg AWAM ini tdk bisa diterima ya monggo, tapi saya menerima kok pendapat mas bro yg pintar itu :)
Kembali Ke Atas Go down
hikaruman
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 49
Join date : 12.04.11
Age : 29
Lokasi : Makassar

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   11th May 2011, 11:36

sudah 2 kali saya pacaran sama orang atheis...
mereka lebih mengikuti logika mereka, walaupun udah berkali" berdebat....
tp saya juga sering mengalah karena pacar saya yg dulu orangnya emosian, drpd bertengkar terus...
bukankah agama harusnya membawa damai bagi umat-NYA????

yang saya sering perdebatkan tentang asal-usul manusia...
dia bilang dari si monyet tua, n saya bilang keturunan Adam...
tp dia juga nggak bisa menunjukkan alasan yang logis mengenai kenapa monyet bisa menjadi manusia...
monyet, manusia purba dan manusia modern menurutku semuanya diciptakan TUHAN, kenapa sekarang nggak ada manusia purba dan hewan purba lainnya???
karena TUHAN sendirilah menyeleksinya (Baca ayat" mengenai Air Bah)...
banyak salah presepsi bahwa Nuh yang mencari binatang, tetapi kenyataannya TUHAN sendirilah yang mendatangkan hewan-hewan tersebut...
jadi dengan kata lain TUHAN lah yg menyeleksinya....
sehingga punahnya bukan karena berevolusi atau sebab lain...

dia bilang ilmuan nggak mungkin bodoh sampai banyak yang percaya evolusi...
menurutku, ilmuan adalah manusia yang bisa salah, jadi nggak bisa dijadikan referensi...
selama 4000 tahun nggak ada satu ilmuanpun yang mampu menunjukkan terjadinya evolusi dan klasifikasi makhluk hidup hanya didasari pada morfologi (bentuk) makhluk hidup....
dan dari bermiliyar" manusia yang pernah ada, nggak ada satupun yang menunjukkan evolusi..
yang ada hanya keanekaragaman genetis dan kecacatan pada makhluk tertentu, misalnya klinefelter, hilangnya anggota tubuh, dll yang sama skali nggak bisa diturunkan ke keturunan selanjutnya....
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   11th May 2011, 13:02

@hikaru

Bro, banyak sanggahan yang menentang teori eolusi dari orang Kristen dengan argumen bahwa, saat ini tidak terdapat lagi manusia purba/monyet purba.

Sebenarnya apa anehnya kalau yang purba itu memang punah, mereka yang gagal berevolusi akan lenyap, punah. Contoh mudahnya adalah gajah, badak, dan hewan hewan yang masuk kategori endanger species, mereka memang terancam punah, bahkan sudah pasti punah kalau tanpa campur tangan perlindungan dari manusia.

Itu sekedar tanggapan saja. Karena walau jelas bukan atheist, saya sangat percaya teori evolusi, dan menganggap teori Adam dan Hawa adalah kisah yang kita haurs ambil inti sarinya saja, bukan kita terima secara literal.

Salam kasih
Kembali Ke Atas Go down
bukit
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 72
Join date : 19.02.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   12th June 2011, 15:00

ARGUMENTASI ALKITAB

Keberadaan Allah tidak harus dibuktikan. Alkitab bahkan mengatakan bahwa kita harus menerima keberadaan Allah dengan iman. “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibrani 11:6). Jikalau Allah menghendaki, Dia bisa muncul begitu saja dan membuktikan pada seluruh dunia bahwa Dia ada. Namun jikalau Dia melakukan hal itu, tidak diperlukan iman. “Kata Yesus kepadanya: `Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya’" (Yohanes 20:29).

Prinsip iman adalah percaya tanpa melihat atau harus membuktikan.

Di dalam hati kita masih ada bukti keberadaan Allah. Pengkhotbah 3:11 memberitahu kita, “bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Jauh di dalam diri kita ada suatu pengenalan bahwa ada sesuatu yang melampaui hidup dan dunia ini (benih agama). Kita dapat secara intelektual menolak pengenalan ini, namun kehadiran Allah di dalam diri kita dan melalui diri kita akan terus ada.

ARGUMENTASI ONTOLOGIS

Argumentasi ini bersifat kausalitas,yaitu segala sesuatu yang diciptakan harus ada penciptanya. Semua realitas didunia ini senantiasa melalui proses sebab akibat.
Oleh karena itu harus ada Sang Pencipta atau Penyebab Awal yang Agung yaitu Allah sendiri.

ARGUMENTASI DESIGNER

Melihat begitu kompleks dan rumitnya seluruh alam semesta ini mulai dari materi yang terbesar planet planet diruang hampa sampai dengan unsur biologis yang terkecil yaitu DNA manusia,penuh dengan misteri yang tidak mungkin bisa dipahami oleh kemampuan akal manusia. Kalau anda menemukan sebuah jam dipinggir pantai tentu jam tersebut tidak ada begitu saja disana,karena pasti ada yang membuatnya terlebih dahulu.

Designer Agung tersebut adalah Allah sendiri.


ARGUMENTASI MORAL

Setiap orang memiliki perasaan benar dan salah. Pembunuhan, berbohong, mencuri dan imoralitas hampir selalu ditolak secara universal. Dari manakah datangnya perasaan benar dan salah ini kalau bukan dari sumber segala kebenaran yaitu Allah sendiri.


ARGUMENTASI ATEIS

Orang-orang menolak untuk percaya kepada Tuhan karena “tidak ilmiah” atau “karena tidak ada bukti.” Alasan sebenarnya adalah begitu orang mengaku bahwa Allah itu ada, orang sadar bahwa mereka harus bertanggung jawab untuk segala sesuatu yang dilakukan. Kalau Allah tidak ada, maka kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan tanpa takut kepada Tuhan yang akan menghakimi kita. Saya percaya inilah sebabnya mengapa begitu banyak orang dalam masyarakat kita yang berpegang teguh pada evolusi, yaitu untuk memberi orang-orang alternatif untuk tidak percaya kepada Allah sang Pencipta. Allah ada dan pada akhirnya setiap orang tahu bahwa Allah ada. Bahkan fakta bahwa ada orang yang begitu sengitnya berusaha menolak keberadaan Allah pada dasarnya adalah merupakan bukti keberadaanNya.

Seorang Ateist pada dasarnya bukan tidak percaya bahwa Allah itu ada tetapi mereka tidak mau percaya bahwa IA ada. Saya pernah membaca bahwa Mao Tze Tung menjelang kematiannya maupun Gorbachev yang masih hidup pada akhirnya sadar bahwa Allah ada.




Kembali Ke Atas Go down
marmut
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 11
Join date : 30.01.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   12th June 2011, 16:28

@bukit

Argumentasi Alkitab, tentu tidak dapat dipergunakan kepada orang atheist, dimana seorang atheist tidak mempercayai agama, kitab suci dan Tuhan.

Argumentasi ontologis, seorang atheist tidak beranggapan bahwa segala sesuatu harus ada penciptanya, kalau penyebabnya masih diterima, dalam hal ini dunia dan isinya hanya memberikan sebab akibat, tidak memberikan ruang pada penciptanya.

Argumentasi designer, kerumitan dan ketidak tahuan umat manusia tidak kemudian membuktikan keberadaan Tuhan itu sendiri. Justru pengetahuan manusia dalam menggali ilmu pengetahuan seolah semakin menjauhkan Tuhan itu sendiri.

Argumentasi moral, rasa bersalah ada dalam pikiran manusia, dan itu berdasrkan didikan dan ajaran (agama) yang diterimanya sejak dini. Seorang yang hidup pada suku terpencil dan diajarkan membunuh dan memakan musuhnya, tidak akan merasa bersalah melakukannya, tetapi menangkap ikan di kolam keramat akan menyebabkannya merasa bersalah, itu semua karena ditanamkan pada pikiran manusia itu.

Argumentasi ateis, mengapa seorang yang begitu sengit menolak keberadaan Allah ternyata menerima keberadaan Allah? Karena kesengitn seorang atheist dalam membuktikan ketidak beradaan Allah karena atheist pun diserang oleh para Theist, jadi berlaku hukum sebab akibat.

:)
Kembali Ke Atas Go down
bukit
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 72
Join date : 19.02.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   13th June 2011, 00:01

Quote :
="marmut"]@bukit

Argumentasi Alkitab, tentu tidak dapat dipergunakan kepada orang atheist, dimana seorang atheist tidak mempercayai agama, kitab suci dan Tuhan.

Argumentasi Alkitab selain berguna bagi memperkuat keyakinan orang kristen sendiri,juga mengukuhkan argumentasi yang lainnya.[/quote]

Quote :
Argumentasi ontologis, seorang atheist tidak beranggapan bahwa segala sesuatu harus ada penciptanya, kalau penyebabnya masih diterima, dalam hal ini dunia dan isinya hanya memberikan sebab akibat, tidak memberikan ruang pada penciptanya.

Tidak semua atheist seperti anggapan anda,karena banyak juga mereka yang sependapat bahwa tidak mungkin sesuatu ada tanpa sebab. Tidak ada teori yang kokoh membuktikan sesuatu ada dengan sendirinya dialam semesta ini. From nothing nothing can exist.

Quote :
Argumentasi designer, kerumitan dan ketidak tahuan umat manusia tidak kemudian membuktikan keberadaan Tuhan itu sendiri. Justru pengetahuan manusia dalam menggali ilmu pengetahuan seolah semakin menjauhkan Tuhan itu sendiri.

Saya tidak sependapat dengan anda dalam hal ini,karena banyak kesaksian ilmuan yang bertobat karena kekagumannya akan misteri alam ini. Jangan lupa bahwa kemajuan sain dimotori oleh ilmuan kristen karena university tertua di Barat umumnya didirikan oleh gereja.

Quote :

Argumentasi moral, rasa bersalah ada dalam pikiran manusia, dan itu berdasrkan didikan dan ajaran (agama) yang diterimanya sejak dini. Seorang yang hidup pada suku terpencil dan diajarkan membunuh dan memakan musuhnya, tidak akan merasa bersalah melakukannya, tetapi menangkap ikan di kolam keramat akan menyebabkannya merasa bersalah, itu semua karena ditanamkan pada pikiran manusia itu.

Apa yang anda katakan itu menurut saya bukan sesuatu pola umum,karena didalam setiap kepercayaan manusia senantiasa kebaikan selalu menjadi inti pengajaran.
Apa yang anda katakan itu hanyalah minoritas bukan sesuatu yang bersifat universal.

Quote :
Argumentasi ateis, mengapa seorang yang begitu sengit menolak keberadaan Allah ternyata menerima keberadaan Allah? Karena kesengitn seorang atheist dalam membuktikan ketidak beradaan Allah karena atheist pun diserang oleh para Theist, jadi berlaku hukum sebab akibat.

:)


Adalah jauh lebih sulit membuktikan bahwa Allah tidak ada ketimbang Allah ada. Kaum Atheist tidak mempunyai dasar yang kokoh didalam membuktikan bahwa Allah tidak ada.

Kembali Ke Atas Go down
marmut
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 11
Join date : 30.01.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   13th June 2011, 00:34

Berikut saya lampirkan apa kata orang atheist :

Quote :
god

"The word god is for me nothing more than the expression and product of human weaknesses, the Bible a collection of honourable, but still primitive legends which are nevertheless pretty childish. No interpretation no matter how subtle can (for me) change this." --Albert Einstein*

A god is a being created by humans and given supernatural powers or attributes such as immortality, omniscience, telekinesis, and invisibility. These creations serve many purposes, such as imaginary protection from enemies or explanations for the origin of such things as good and evil, fire and wind, or life and death.

Gods are often the central figures around which religions are built. It is often claimed that religion began in fear and superstition. The same might be said for gods.

Some religions maintain that there is just one God and that all the gods of all religions except theirs were created by human beings. Yet, everyone who believes in a god of some sort believes their god is real.

Since gods are supernatural, they exist outside the bounds and laws of space and time. They can possess any of an infinite array of magical powers. Hence, there is no way to prove or disprove their reality. One might say: If gods exist, anything goes!

Kembali Ke Atas Go down
marmut
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 11
Join date : 30.01.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   13th June 2011, 00:40

Dan apa kata athist tentang apa yang kita sebut sebagai IMAN :

Quote :
faith

There are those who scoff at the school boy, calling him frivolous and shallow. Yet it was the school boy who said, Faith is believing what you know ain't so. --Mark Twain, Following the Equator, "Pudd'nhead Wilson's Calendar"

Faith is a non-rational belief in some proposition. A non-rational belief is one that is contrary to the sum of the evidence for that belief. A belief is contrary to the sum of the evidence if there is overwhelming evidence against the belief, e.g., that the earth is flat, hollow, or is the center of the universe. A belief is also contrary to the sum of the evidence if the evidence seems equal both for and against the belief, yet one commits to one of the two or more equally supported propositions.

A common misconception regarding faith—or perhaps it is an intentional attempt at disinformation and obscurantism—is made by Christian apologists, such as Dr. Richard Spencer, who wrote the following:

A statement like "There is no God, and there can't be a god; everything evolved from purely natural processes" cannot be supported by the scientific method and is a statement of faith, not science (Richard Spencer, Ph.D., associate professor of electrical and computer engineering at UC Davis and faculty adviser to the Christian Student Union. Quoted in The Davis Enterprise, Jan. 22, 1999).

The error or deception here is to imply that anything that is not a scientific statement, i.e., one supported by evidence marshaled forth the way scientists do in support of their scientific claims, is a matter of faith. To use 'faith' in such a broad way is to strip it of any theological significance the term might otherwise have.

Such a conception of faith treats belief in all non-empirical statements as acts of faith. Thus, belief in the external world, belief in the law of causality, or belief in the fundamental principles of logic, such as the principle of contradiction or the law of the excluded middle, would be acts of faith on this view. There seems to be something profoundly deceptive and misleading about lumping together as acts of faith such things as belief in the Virgin birth and belief in the existence of an external world or in the principle of contradiction. Such a view trivializes religious faith by putting all non-empirical claims in the same category as religious faith. In fact, it would be more appropriate to put religious faith in the same category as belief in superstitions, fairy tales, and delusions.

Physicist Bob Park explains this difference in a way even the most devious casuist should understand. The Oxford Concise English Dictionary, he notes, gives two distinct meanings for faith:

"1) complete trust or confidence, and 2) strong belief in a religion based on spiritual conviction rather than proof." A scientist's "faith" is built on experimental proof. The two meanings of the word "faith," therefore, are not only different, they are exact opposites.*

There are reasons for trusting science and there are reasons for religious convictions, but the reasons for our trust in science are called evidence and the reasons for our religious convictions all reduce to hope. William James, a scientist and a man of faith, understood this distinction well. In his essay "The Will to Believe," James opines that the evidence for God and an afterlife equals the evidence for non-belief and that his hope is for survival of the soul. In science when the evidence is equal for two opposing propositions, James argued, we should suspend judgment until the scales are tipped to one side or the other. We don't make a leap of faith in such cases, hoping our favored hypothesis is true. When we do give our assent to one scientific hypothesis over another it is because the evidence compels it, not because we hope it is true.

an erroneous view of faith

If we examine Dr. Spencer's claims, the error of his conflation of two senses of 'faith' should become obvious. He claims that the statement 'there is no God and there can't be a god; everything evolved from purely natural processes' is a statement of faith. There are three distinct statements here. One, 'there is no God'. Two, 'there can't be a god'. And three, 'everything evolved from purely natural processes'. Dr. Spencer implies that each of these claims is on par with such statements as 'there is a God', 'Jesus Christ is our Lord and Savior', 'Jesus's mother was a virgin', 'a piece of bread may have the substance of Jesus Christ's physical body and blood', 'God is one being but three persons', and the like.

The statement 'there cannot be a god' is not an empirical statement. Anyone who would make such a claim would make it by arguing that a particular concept of god contains contradictions and is, therefore, meaningless. For example, to believe that 'some squares are circular' is a logical contradiction. Circles and squares are defined so as to imply that circles can't be square and squares can't be circular. James Rachels, for one, has argued that god is impossible, but at best his argument shows that the concepts of an all-powerful God and one who demands worship from His creations are contradictory. The concept of worship, Rachels argues, is inconsistent with the traditional Judeo-Christian God concept.

Rachels makes an argument. Some find it convincing; others don't. But it seems that his belief is not an act of faith in the same sense that it is an act of faith to belief in the Incarnation, the Trinity, transubstantiation, or the Virgin birth. The first three articles of faith are on par with believing in round squares. They require belief in logical contradictions. Virgin births, we now know, are possible, but the technology for the implantation of fertilized eggs did not exist two thousand years ago. The belief in the Virgin birth entails the belief that God miraculously impregnated Mary with Himself. Such a belief defies experience but not logic. The Virgin birth is conceivable (to make a bad pun), unlike the Trinity.

All arguments regarding these articles of faith are quite distinct from Rachel's argument. To defend these articles of faith, the best one can hope for is to show that they cannot be shown to be false. However, the consequence of arguing that logical contradictions may nevertheless be true, seems undesirable. Such a defense requires the abandonment of the very logical principles required to make any argument and is therefore self-annihilating. The fact that arguments such as Rachel's and those defending articles of religious faith are not empirical or resolvable by scientific methods hardly makes them equally matters of faith.

The statement 'there is no God' is quite different from the claim that there can't be a god. The latter makes a claim regarding possibility; the former is an actuality or existential claim. I doubt that there are many theologians or Christian apologists who would claim that all their faith amounts to is a belief in the possibility of this or that. One can believe there is no God because there can't be a god, but one might also disbelieve in God while admitting the possibility of the Judeo-Christian or any other god. Disbelief in God is analogous to disbelief in Bigfoot, the Loch Ness Monster, Santa Claus, or the Easter Bunny. Yet, those who believe in Bigfoot and Nessie, for example, aren't known for claiming they believe out of faith. To say you have faith in Bigfoot or faith in Nessie sounds ludicrous. Believers in Bigfoot think there is good evidence for their belief. Disbelievers argue that the evidence is not strong at all and does not deserve assent to the proposition that Bigfoot exists. Disbelievers in Bigfoot do not disbelieve as an act of faith; they disbelieve because the evidence is not persuasive. Belief in God, on the other hand, could be either an act of faith or a belief based on conclusions from evidence and argument. If the theistic belief is an act of faith then the one holding the belief either thinks the evidence against belief outweighs or equals the evidence for belief, or the belief is held without regard for evidence at all. Otherwise, the belief is not an act of faith but of belief that the evidence is stronger for belief than against.

naturalism

Another scientist, physicist Paul Davies, represents another kind of deceptive misconception of faith: that science and religion are equally grounded in 'faith'. Here is how he puts it:

...science has its own faith-based belief system. All science proceeds on the assumption that nature is ordered in a rational and intelligible way. You couldn’t be a scientist if you thought the universe was a meaningless jumble of odds and ends haphazardly juxtaposed. When physicists probe to a deeper level of subatomic structure, or astronomers extend the reach of their instruments, they expect to encounter additional elegant mathematical order. And so far this faith has been justified. ("Taking Science on Faith," New York Times, Nov. 24, 2007)

The claim that the assumptions of science are of the same kind as the belief in the Trinity, the Virgin birth, or the existence of God is as wrong as Dr. Spencer's belief that the claim that 'everything evolved from natural processes' is an act of faith. Davies uses 'faith' to refer to beliefs that are uncertain or can't be proved to be necessarily true, but that is not the essential characteristic of religious faith. We can't prove that it is necessarily true that the laws of nature won't change drastically tomorrow, but that doesn't make the countless instances of experienced order and pattern by countless individuals of no evidential importance. Assuming that invisible green angels move objects to appear as if gravity were real is not on par with assuming there are laws of nature. Neither can be proved to be necessarily true but the latter is backed by evidence in support of it. To lump evidence-based belief with beliefs not based on any evidence as both being faith-based is absurd.

If the only alternatives are that everything evolved from either supernatural or natural forces, and one is unconvinced by the arguments and evidence presented by those who believe in supernatural forces, then logically the only reasonable belief is that everything evolved from natural forces. Only if the evidence supporting a supernatural being were superior or equal to the evidence and arguments against such a belief, would belief that everything evolved from natural forces be a matter of faith.

Those of us who are atheists and believe that everything evolved from natural forces nearly universally maintain that theists and supernaturalists have a very weak case for their belief, weaker even than the case for Bigfoot, Nessie, the Tooth Fairy, or Santa Claus. But, more important, we are convinced by the overwhelming nature of the evidence that natural forces have brought about the universe as we know it. Thus, our disbelief in a supernatural creator is not an act of faith, and therefore, not non-rational as are those of theists and Christian apologists. However, if Christian apologists insist on claiming that science is faith-based or that their version of Christianity and the rejections of their views are equally acts of faith, I will insist that the apologists have a non-rational faith, while their opponents have a rational faith. Though I think it would be less dishonest and less misleading to admit that atheists and naturalists do not base their beliefs on faith in any sense close to that of religious faith.
Kembali Ke Atas Go down
bukit
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 72
Join date : 19.02.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   13th June 2011, 18:33

marmut wrote:
Berikut saya lampirkan apa kata orang atheist :

Quote :
god

"The word god is for me nothing more than the expression and product of human weaknesses, the Bible a collection of honourable, but still primitive legends which are nevertheless pretty childish. No interpretation no matter how subtle can (for me) change this." --Albert Einstein*

A god is a being created by humans and given supernatural powers or attributes such as immortality, omniscience, telekinesis, and invisibility. These creations serve many purposes, such as imaginary protection from enemies or explanations for the origin of such things as good and evil, fire and wind, or life and death.

Gods are often the central figures around which religions are built. It is often claimed that religion began in fear and superstition. The same might be said for gods.

Some religions maintain that there is just one God and that all the gods of all religions except theirs were created by human beings. Yet, everyone who believes in a god of some sort believes their god is real.

Since gods are supernatural, they exist outside the bounds and laws of space and time. They can possess any of an infinite array of magical powers. Hence, there is no way to prove or disprove their reality. One might say: If gods exist, anything goes!



Membicarakan pandangan atau wawasan seorang Atheist tidak akan pernah terlepas dari pengaruh teori Evolusi dan Komunisme yang menjadi komplementernya.Ketiga hal tsb saling berkaitan dan saling melengkapi satu sama lain.


Kehidupan moral ada didalam hampir semua peradaban yang besar,apakah itu budaya Konghucu & Tao di Cina;Budha dan Hindu di India/Cina;Kristen di Eropa dan Amerika,Islam di Timur Tengah dan Indonesia,dll.

Seorang Atheist tidak akan mungkin bisa menjelaskan darimana datangnya ajaran moral tersebut karena mereka umumnya hanya percaya kepada hal hal yang bersifat fisikal saja (materialisme). Umumnya mereka tidak memiliki kamus untuk hal hal yang bersifat metafisik. Seorang Atheist misalnya tidak akan pernah dapat menjawab darimana datangnya kehidupan itu karena ia bukan suatu yang fisikal.

Kalau Tuhan tidak ada berarti Atheist tidak percaya suatu yang absolut,dengan demikian semua bersifat subjektif dan relatif. Semua orang boleh menentukan ukurannya sendiri. Kalau demikian semua teori maupun opini seorang Atheist juga diragukan kebenarannya karena pasti suatu yg bersifat relatif dan subjektif juga.



Kembali Ke Atas Go down
bukit
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 72
Join date : 19.02.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   13th June 2011, 18:38

[quote]["marmut"]Dan apa kata athist tentang apa yang kita sebut sebagai IMAN :

Quote :
faith

There are those who scoff at the school boy, calling him frivolous and shallow. Yet it was the school boy who said, Faith is believing what you know ain't so. --Mark Twain, Following the Equator, "Pudd'nhead Wilson's Calendar"

Faith is a non-rational belief in some proposition. A non-rational belief is one that is contrary to the sum of the evidence for that belief. A belief is contrary to the sum of the evidence if there is overwhelming evidence against the belief, e.g., that the earth is flat, hollow, or is the center of the universe. A belief is also contrary to the sum of the evidence if the evidence seems equal both for and against the belief, yet one commits to one of the two or more equally supported propositions.

A common misconception regarding faith—or perhaps it is an intentional attempt at disinformation and obscurantism—is made by Christian apologists, such as Dr. Richard Spencer, who wrote the following:

A statement like "There is no God, and there can't be a god; everything evolved from purely natural processes" cannot be supported by the scientific method and is a statement of faith, not science (Richard Spencer, Ph.D., associate professor of electrical and computer engineering at UC Davis and faculty adviser to the Christian Student Union. Quoted in The Davis Enterprise, Jan. 22, 1999).

The error or deception here is to imply that anything that is not a scientific statement, i.e., one supported by evidence marshaled forth the way scientists do in support of their scientific claims, is a matter of faith. To use 'faith' in such a broad way is to strip it of any theological significance the term might otherwise have.

Such a conception of faith treats belief in all non-empirical statements as acts of faith. Thus, belief in the external world, belief in the law of causality, or belief in the fundamental principles of logic, such as the principle of contradiction or the law of the excluded middle, would be acts of faith on this view. There seems to be something profoundly deceptive and misleading about lumping together as acts of faith such things as belief in the Virgin birth and belief in the existence of an external world or in the principle of contradiction. Such a view trivializes religious faith by putting all non-empirical claims in the same category as religious faith. In fact, it would be more appropriate to put religious faith in the same category as belief in superstitions, fairy tales, and delusions.

Physicist Bob Park explains this difference in a way even the most devious casuist should understand. The Oxford Concise English Dictionary, he notes, gives two distinct meanings for faith:

"1) complete trust or confidence, and 2) strong belief in a religion based on spiritual conviction rather than proof." A scientist's "faith" is built on experimental proof. The two meanings of the word "faith," therefore, are not only different, they are exact opposites.*

There are reasons for trusting science and there are reasons for religious convictions, but the reasons for our trust in science are called evidence and the reasons for our religious convictions all reduce to hope. William James, a scientist and a man of faith, understood this distinction well. In his essay "The Will to Believe," James opines that the evidence for God and an afterlife equals the evidence for non-belief and that his hope is for survival of the soul. In science when the evidence is equal for two opposing propositions, James argued, we should suspend judgment until the scales are tipped to one side or the other. We don't make a leap of faith in such cases, hoping our favored hypothesis is true. When we do give our assent to one scientific hypothesis over another it is because the evidence compels it, not because we hope it is true.

an erroneous view of faith

If we examine Dr. Spencer's claims, the error of his conflation of two senses of 'faith' should become obvious. He claims that the statement 'there is no God and there can't be a god; everything evolved from purely natural processes' is a statement of faith. There are three distinct statements here. One, 'there is no God'. Two, 'there can't be a god'. And three, 'everything evolved from purely natural processes'. Dr. Spencer implies that each of these claims is on par with such statements as 'there is a God', 'Jesus Christ is our Lord and Savior', 'Jesus's mother was a virgin', 'a piece of bread may have the substance of Jesus Christ's physical body and blood', 'God is one being but three persons', and the like.

The statement 'there cannot be a god' is not an empirical statement. Anyone who would make such a claim would make it by arguing that a particular concept of god contains contradictions and is, therefore, meaningless. For example, to believe that 'some squares are circular' is a logical contradiction. Circles and squares are defined so as to imply that circles can't be square and squares can't be circular. James Rachels, for one, has argued that god is impossible, but at best his argument shows that the concepts of an all-powerful God and one who demands worship from His creations are contradictory. The concept of worship, Rachels argues, is inconsistent with the traditional Judeo-Christian God concept.

Rachels makes an argument. Some find it convincing; others don't. But it seems that his belief is not an act of faith in the same sense that it is an act of faith to belief in the Incarnation, the Trinity, transubstantiation, or the Virgin birth. The first three articles of faith are on par with believing in round squares. They require belief in logical contradictions. Virgin births, we now know, are possible, but the technology for the implantation of fertilized eggs did not exist two thousand years ago. The belief in the Virgin birth entails the belief that God miraculously impregnated Mary with Himself. Such a belief defies experience but not logic. The Virgin birth is conceivable (to make a bad pun), unlike the Trinity.

All arguments regarding these articles of faith are quite distinct from Rachel's argument. To defend these articles of faith, the best one can hope for is to show that they cannot be shown to be false. However, the consequence of arguing that logical contradictions may nevertheless be true, seems undesirable. Such a defense requires the abandonment of the very logical principles required to make any argument and is therefore self-annihilating. The fact that arguments such as Rachel's and those defending articles of religious faith are not empirical or resolvable by scientific methods hardly makes them equally matters of faith.

The statement 'there is no God' is quite different from the claim that there can't be a god. The latter makes a claim regarding possibility; the former is an actuality or existential claim. I doubt that there are many theologians or Christian apologists who would claim that all their faith amounts to is a belief in the possibility of this or that. One can believe there is no God because there can't be a god, but one might also disbelieve in God while admitting the possibility of the Judeo-Christian or any other god. Disbelief in God is analogous to disbelief in Bigfoot, the Loch Ness Monster, Santa Claus, or the Easter Bunny. Yet, those who believe in Bigfoot and Nessie, for example, aren't known for claiming they believe out of faith. To say you have faith in Bigfoot or faith in Nessie sounds ludicrous. Believers in Bigfoot think there is good evidence for their belief. Disbelievers argue that the evidence is not strong at all and does not deserve assent to the proposition that Bigfoot exists. Disbelievers in Bigfoot do not disbelieve as an act of faith; they disbelieve because the evidence is not persuasive. Belief in God, on the other hand, could be either an act of faith or a belief based on conclusions from evidence and argument. If the theistic belief is an act of faith then the one holding the belief either thinks the evidence against belief outweighs or equals the evidence for belief, or the belief is held without regard for evidence at all. Otherwise, the belief is not an act of faith but of belief that the evidence is stronger for belief than against.


Kalau berbicara mengenai sistim iman maka seorang Atheist juga menggunakan sistim iman yaitu membuat suatu teori tanpa bukti ilmiah.

• Tidak pernah bisa dibuktikan bahwa manusia berasal dari kera karena dilema missing link yang diakui sendiri oleh Darwin tetap belum terpecahkan

• Mengapa tidak pernah ada contoh dijaman manusia ini bahwa kera lalu berevolusi menjadi manusia. Kera tetap masih ada dan mengapa evolusi berhenti ?

• Kalau manusia berasal dari kera, mengapa manusia setengah kera bisa punah sedangkan kera masih survive? bukankah itu bertentangan dengan teori seleksi alam? kalau kera merupakan hewan yang lolos seleksi alam mengapa harus berevolusi?

• Atheist tidak pernah bisa membuktikan bahwa sesuatu yang hidup berasal dari sumber yang mati atau materi. Tidak pernah bisa dibuktikan bahwa suatu yang hidup bisa terjadi melalui proses kimiawi.

• Melihat semakin lama manusia semakin pendek umurnya dan semakin bejat moralnya maka terori devolusi lebih dapat diterima ketimbang evolusi.


Quote :
naturalism

Another scientist, physicist Paul Davies, represents another kind of deceptive misconception of faith: that science and religion are equally grounded in 'faith'. Here is how he puts it:

...science has its own faith-based belief system. All science proceeds on the assumption that nature is ordered in a rational and intelligible way. You couldn’t be a scientist if you thought the universe was a meaningless jumble of odds and ends haphazardly juxtaposed. When physicists probe to a deeper level of subatomic structure, or astronomers extend the reach of their instruments, they expect to encounter additional elegant mathematical order. And so far this faith has been justified. ("Taking Science on Faith," New York Times, Nov. 24, 2007)

The claim that the assumptions of science are of the same kind as the belief in the Trinity, the Virgin birth, or the existence of God is as wrong as Dr. Spencer's belief that the claim that 'everything evolved from natural processes' is an act of faith. Davies uses 'faith' to refer to beliefs that are uncertain or can't be proved to be necessarily true, but that is not the essential characteristic of religious faith. We can't prove that it is necessarily true that the laws of nature won't change drastically tomorrow, but that doesn't make the countless instances of experienced order and pattern by countless individuals of no evidential importance. Assuming that invisible green angels move objects to appear as if gravity were real is not on par with assuming there are laws of nature. Neither can be proved to be necessarily true but the latter is backed by evidence in support of it. To lump evidence-based belief with beliefs not based on any evidence as both being faith-based is absurd.

If the only alternatives are that everything evolved from either supernatural or natural forces, and one is unconvinced by the arguments and evidence presented by those who believe in supernatural forces, then logically the only reasonable belief is that everything evolved from natural forces. Only if the evidence supporting a supernatural being were superior or equal to the evidence and arguments against such a belief, would belief that everything evolved from natural forces be a matter of faith.

Those of us who are atheists and believe that everything evolved from natural forces nearly universally maintain that theists and supernaturalists have a very weak case for their belief, weaker even than the case for Bigfoot, Nessie, the Tooth Fairy, or Santa Claus. But, more important, we are convinced by the overwhelming nature of the evidence that natural forces have brought about the universe as we know it. Thus, our disbelief in a supernatural creator is not an act of faith, and therefore, not non-rational as are those of theists and Christian apologists. However, if Christian apologists insist on claiming that science is faith-based or that their version of Christianity and the rejections of their views are equally acts of faith, I will insist that the apologists have a non-rational faith, while their opponents have a rational faith. Though I think it would be less dishonest and less misleading to admit that atheists and naturalists do not base their beliefs on faith in any sense close to that of religious faith.

Masalah naturalisme juga menimbulkan banyak pertanyaan terhadap Atheist :

• Kalau bumi hanya kebetulan ada di posisi yang memungkinkan untuk adanya kehidupan, lalu kenapa hanya bumilah planet yang memiliki persediaan oksigen yang cukup?

• Berazaskan Philosophy of Materialism yg tidak mengakui adanya supranatural atau metafisik,atau reality beyond space and time,oleh karena itu mereka hanya mengenal Physical Law yang Universal dan Matematik. Sedangkan kehidupan,moral dan etika bukanlah hanya soal fisik saja.

• Apakah alam semesta dapat dianggap sebagai ultimate reality

• Teori The Second Law of Thermodynamics tentu bertentangan dengan evolusi yang mengarah kepada kemajuan atau kesempurnaan kemasa depan.

• Kalau Athesime hanya berdasarkan kepada bukti sain belaka maka kita bisa lihat bahwa sain selalu berubah dan hipotesa yang satu bisa dibatalkan oleh hipotesa atau dalil yang lain sepanjang sejarah. Tidak ada kepastian yang pasti didalam sain. Hanya Firman Tuhan yang memiliki kepastian atas rahasia kehidupan manusia.

• Kalau Alkitab bukan wahyu dari Tuhan sang Pencipta alam semesta mengapa ada begitu banyak hal hal ilmiah yang sudah diwahyukan oleh Tuhan ribuan tahun yang lalu dan akhirnya terbukti secara ilmiah sekitar dua abad terakhir ini,misalnya :

o Bahwa bumi itu bulat (Yes.40:22…. 2700 tahun yg lalu)
o Bahwa bumi berada diruang hampa (Ayub 26:7…. 3500 tahun yang lalu)
o Sistim cuaca (Ayub 36:27,29;Pengkotbah 1:6,7)
o Sistim evaporasi / hujan (Mazmur 135:7 ; Yer.10:13)
o Sudut bumi sudah terukur secara sempurna (Ayub 38:4,5)
o Hukum Thermodinamika 2 (Maz.102:26,27)

Apakah ini hanya “kebetulan saja “?



KESIMPULAN

Kelemahan dasar dari semua teori Atheist adalah :

1. Semua kehidupan terjadi serba kebetulan sehingga tidak perlu ada suatu awal penyebab yang aktif

2. Butuh waktu yg sangat panjang agar teorinya bisa diterima. Didalam mengukur waktu juga masih debatable karena tidak ada kepastian.

3. Tidak pernah bisa menjelaskan apa yang menjadi awal dan akhir dari kehidupan

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” ( Roma 1:19-20 )


Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   13th June 2011, 19:04

@bukit

Syalom bro.

Bro ada sedikit yang musti saya koreksi, pertama adalah, seseorang yang percaya teori evolusi belum tentu atheist, dan seorang atheist belum tentu percaya teori evolusi. Dalam hal ini, saya seorang Katolik, dan saya sangat percaya bahwa teori evolusi itu benar adanya.

Kedua, anda pernah baca teori evolusi dari Charles Darwin? Tidak pernah dikatakan dalam teori evolusi, bahwa manusia berasal dari kera, tidak pernah. Dan hanya kalangan yang tidak sependapat dengan teori darwin lah yang memelintir seolah dalam teori itu dikatakan manusia dari kera, sesuatu yang sangat absurd.

Kera yang anda amati saat ini, tentu saja tidak kemudian menjelma menjadi manusia, kecuali dalam dongeng Lutung Kesarung, karena manusia dan kera berada pada generasi yang sama, dalam arti manusia dan kera, dan seluruh mahluk mamalia berada pada turunan yang sama dari induk yang sama.

Satu hal lagi, seandainyapun kera kera yang sekarang anda lihat itu masih berevolusi, tentu anda tidak akan sempat menyaksikan nya secara langsung bro, karena waktu yang dibutuhkan untuk evolusi lebih panjang dari usia anda tentunya.

Menurut siapa usia manusia semakin lama semakin pendek? Coba amati dari data mortalitas penduduk bumi, dari tahun ke tahun kemungkinan hidup manusia semakin baik. Usia orang orang lansia saat ini sudah lebih tiggi dari beberapa puluh tahun lalu. Atau anda berdasarkan data dari Alkitab yang usianya ratusan tahun itu? Mungkin orang atheist akan berkata 'sejak kapan orang dulu pinter itung itungan?', he he he.

Oksigen tidak harus ada untuk adanya kehidupan, tentu anda pernah mendengar yang namanya bakteri anaerob, yaitu bakteri yang tidak membutuhkan oksigen untuk hidup. Itu kalau kita mau 'bersombong' bahwa hanya kondisi yang cocok dengan manusia lah yang bisa untuk hidup.

Atheisme berbeda dengan ilmu pengetahuan bro, itu kembali saya tegaskan, saya sangat percaya pada ilmu pengetahuan, sekaligus saya sangat meyakini keberadaan Tuhan.

Apa yang anda kutip dari Alkitab yang berisi cuaca, bumi dan sebagainya, akan dianggap pseudo science oleh orang atheist.

Begitu kira kira yang bisa saya jabarkan, satu hal yang perlu kita pahami adalah, semakin lama semakin besar para penganut atheistme dan agnostikisme di dunia saat ini. Dan sebagian sebabnya adalah karena kita umat Kristen tidak menganggap ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk maju. Kita (banyak dari kita) yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah ancaman bagi kepercayaan dan iman. Ini yang harus diperbaiki. Kita harus menjadi umat Kristen yang beriman kuat dan berpikiran maju.

Salam dalam kasih Kristus.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
bukit
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 72
Join date : 19.02.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   13th June 2011, 21:22

Bro Bruce,


Quote :
@bukit

Syalom bro.

Bro ada sedikit yang musti saya koreksi, pertama adalah, seseorang yang percaya teori evolusi belum tentu atheist, dan seorang atheist belum tentu percaya teori evolusi. Dalam hal ini, saya seorang Katolik, dan saya sangat percaya bahwa teori evolusi itu benar adanya.

Shalom juga bro Bruce,senang bisa berdiskusi dengan anda yang sudah berpengalaman. Saya juga ingin bertukar argumentasi mengenai masalah ini kalau anda tidak keberatan.

Didalam komentar saya sebelumnya yang khusus menyorot seorang atheist (yang intelektual) yang biasanya sepanjang pengetahuan saya selalu menggunakan teori Evolusi didalam pembelaannya,karena mau tidak mau setiap perdebatan yang ada pasti akan menyinggung masalah creation versus evolusi,agama dan Tuhan.


Quote :
Kedua, anda pernah baca teori evolusi dari Charles Darwin? Tidak pernah dikatakan dalam teori evolusi, bahwa manusia berasal dari kera, tidak pernah. Dan hanya kalangan yang tidak sependapat dengan teori darwin lah yang memelintir seolah dalam teori itu dikatakan manusia dari kera, sesuatu yang sangat absurd.

Darwin didalam bukunya “Descent of Man” khususnya bab 6 jelas jelas menggolongkan manusia sebagai sejenis primate yaitu segolongan dengan monkeys. Ada kalimat yang berbunyi sbb :

"The Simiadae then branched off into two great stems, the New World and Old World Monkeys; and from the latter at a remote period, Man, the wonder and glory of the universe, proceeded."

Darwin sendiri didalam bukunya The Origin of Species didalam bab yang berjudul “difficulties on Theory” mengakui masih banyak persoalan yang tidak mampu dijelaskannya.

Menurut saya ini sama sekali bertentangan dengan ajaran Alkitab mengenai penciptaan.

Alkitab mengakui apa yang kita kenal evolusi mikro yaitu variasi dari species yang sama tetapi menolak sama sekali makro evolusi yaitu perpindahan antar species seperti yang ada didalam “Tree of Life” teori evolusi.

Quote :
Kera yang anda amati saat ini, tentu saja tidak kemudian menjelma menjadi manusia, kecuali dalam dongeng Lutung Kesarung, karena manusia dan kera berada pada generasi yang sama, dalam arti manusia dan kera, dan seluruh mahluk mamalia berada pada turunan yang sama dari induk yang sama.

Satu hal lagi, seandainyapun kera kera yang sekarang anda lihat itu masih berevolusi, tentu anda tidak akan sempat menyaksikan nya secara langsung bro, karena waktu yang dibutuhkan untuk evolusi lebih panjang dari usia anda tentunya.

Istilah berasal dari induk yang sama ini lah yang menurut pemahaman saya tidak didukung oleh kebenaran Alkitab karena Tuhan menciptakan beraneka ragam binatang yang semuanya terjadi sekaligus bukan berangsung angsur berdasarkan teori evolusi. Kuasa Firman Allah tidak memerlukan formula hukum alam didalam menciptakan alam semesta berikut isinya ini.

Quote :
Menurut siapa usia manusia semakin lama semakin pendek? Coba amati dari data mortalitas penduduk bumi, dari tahun ke tahun kemungkinan hidup manusia semakin baik. Usia orang orang lansia saat ini sudah lebih tiggi dari beberapa puluh tahun lalu. Atau anda berdasarkan data dari Alkitab yang usianya ratusan tahun itu? Mungkin orang atheist akan berkata 'sejak kapan orang dulu pinter itung itungan?', he he he.

Dijaman sebelum air bah umur manusia diatas 500an tahun dan mendekati 1000 tahun,tetapi setelah air bah menurun terus dari seratusan tahun sampai sekarang yang umumnya dibawah 100 tahun saja.

Sebagai seorang kristen sumber apologetika kita hanyalah Alkitab karena itulah satu satunya otoritas Tuhan yang tertinggi.

Kalau atheist tidak bisa menerimanya maka memang tanpa karunia dan pencerahan dari Roh Kudus tidak mungkin manusia bisa percaya Tuhan dan Kitab Suci.

Tetapi seperti Antony Flew dan C.S.Lewis yang mulanya seorang Atheist berat dan Evolutionist sekarang sudah bertobat dan meninggalkan kepercayaan lamanya.

Saya yakin masih banyak atheist lainnya yang bertobat karena Firman Tuhan,sebab Tuhan sendiri mengatakan sbb :

Roma 1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.


Quote :
Oksigen tidak harus ada untuk adanya kehidupan, tentu anda pernah mendengar yang namanya bakteri anaerob, yaitu bakteri yang tidak membutuhkan oksigen untuk hidup. Itu kalau kita mau 'bersombong' bahwa hanya kondisi yang cocok dengan manusia lah yang bisa untuk hidup.

Ahli kimia Amerika,Stanley Miller pernah melalukan percobaan tahun 1953 yaitu “percobaan atmosfir purba” untuk mendukung skenario evolusi molekular ternyata juga gagal total.

Okseigen memang sudah ada dalam jumlah besar pada atmosfir bumi purba,tetapi asam amino sebagai unsur utama biologis manusia tidak mungkin terbentuk begitu saja didalam atmosfir.

Tetapi mengatakan bahwa manusia berasal dari bakteri (tree of life) tetap tidak ada bukti dan dasar ilmiahnya sama sekali bro.

Lagi pula teori “Lumpur Haeckel” sudah ditolak sama sekali karena tidak mungkin materi menghasilkan suatu organ yang hidup.

Pembentukan ”secara kebetulan” sebuah sel hidup tidaklah mungkin terjadi,bahkan untuk membuatnya melalui proses yang disengaja dilaboratorium tercanggih pun ternyata tidak mungkin. Kehidupan terlalu kompleks untuk dapat terbentuk secara kebetulan.


Quote :
Atheisme berbeda dengan ilmu pengetahuan bro, itu kembali saya tegaskan, saya sangat percaya pada ilmu pengetahuan, sekaligus saya sangat meyakini keberadaan Tuhan.

Menurut pendapat saya baik atheisme maupun evolusi bukanlah sain melainkan semacam agama juga bagi pengikutnya,karena prinsip kerja sain adalah :

1. Bisa diformulasikan

2. Bisa dilakukan experiment secara berulang kali

3. Hasilnya selalu konsisten dengan hipotesa atau formula


Quote :
Apa yang anda kutip dari Alkitab yang berisi cuaca, bumi dan sebagainya, akan dianggap pseudo science oleh orang atheist.

Begitu kira kira yang bisa saya jabarkan, satu hal yang perlu kita pahami adalah, semakin lama semakin besar para penganut atheistme dan agnostikisme di dunia saat ini. Dan sebagian sebabnya adalah karena kita umat Kristen tidak menganggap ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk maju. Kita (banyak dari kita) yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah ancaman bagi kepercayaan dan iman. Ini yang harus diperbaiki. Kita harus menjadi umat Kristen yang beriman kuat dan berpikiran maju.

Salam dalam kasih Kristus.


Orang atheist boleh saja beranggapan demikian,tetapi sain membuktikan bahwa hal tersebut memang benar secara ilmiah.

Sain hanyalah menemukan apa yang sudah diciptakan Allah dialam fisik ini (wahyu umum). Semua hukum alam adalah hasil ciptaan Tuhan,dan sepenuhnya bagi kemuliaan-Nya saja.

Demikian juga didalam wilayah metafisik atau rohani Allah memberikan hukum rohaninya (wahyu khusus) kepada manusia untuk ditaati.

Karena keduanya berasal dari Allah yang Esa maka tidaklah mungkin satu dengan yang lainnya bertentangan.

Penemuan sain (wahyu umum) selalu harus tunduk kepada kebenaran Firman Tuhan (wahyu khusus) bukan sebaliknya. Dalam hal inilah kita melaksanakan tugas kita didalam memuliakan Tuhan.

Kita tidak bisa memberikan cek kosong untuk klaim klaim sains mengenai apa yang membentuk pengetahuan dan kepercayaan. Sain yang sekular tidak mungkin netral karena dia berdasarkan presaposisi “Closed System.” Apa yang kita lihat selalu dipengaruhi oleh presaposisi latar belakangnya,dan itu juga berlaku pada cara bagaimana dunia menampak dan terasa bagi kita.

Sain yang berlandaskan wahyu Tuhan tidak akan pernah salah tetapi yang salah selalu adalah konsepsi kita mengenainya.

Adapun mengenai “semakin lama semakin besarnya para penganut atheistme dan agnostikisme di dunia saat ini” ….itu memang sudah dinubuatkan oleh Alkitab mengenai akhir jaman tetapi kita tetap harus memegang kebenaran Firman Tuhan karena bukan sains melainkan Alkitablah yang akan kelak akan menjadi hakim kita.


Mazmur 11:3 Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?


Shalom




Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   13th June 2011, 23:41

@bukit

Ok, bro, harus saya katakan ada beberapa pendapat anda yang benar secara Alkitab, jika diartikan secara literal, tetapi sayangnya saya mengartikannya secara berbeda. Tetapi memang kita tidak perlu selalu sependapat.

Salam kenal dan selamat bergabung.

:)

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   14th June 2011, 15:19

Quote :
Cerdas, Homo Soloensis Bersenjata Tulang
Tri Wahono | Selasa, 14 Juni 2011 | 14:57 WIB

SRAGEN, KOMPAS.com - Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) menemukan tiga senjata tajam manusia purba Homo erectus Soloensis yang terbuat dari tulang kerbau dan sapi purba di Situs Ngandong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Temuan itu melengkapi data kecerdasan sekaligus evolusi budaya manusia purba yang hidup sekitar 150.000 tahun lalu.

Tiga senjata itu ditemukan ketika penelitian lanjutan di lokasi temuan Homo erectus Soloensis selama Maret 2011. Ketiga tulang berujung tajam itu mempunyai panjang 15-20 sentimeter dan berada dalam kondisi utuh. Saat ini, BPSMPS menyimpan temuan itu di Museum Sangiran di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jateng.

Kepala BPSMPS Harry Widianto, Senin (13/6/2011) di Sragen, mengatakan, manusia purba menggunakan tulang itu sebagai senjata tajam atau alat penusuk buruan. Peneliti BPSMPS menduga manusia purba meruncingkan bagian ujung tulang itu menggunakan alat serpih yang terbuat dari batu. "Alat serpih dari batu itu kami temukan lokasinya saat survei di Ngandong," kata Harry.

Menurut Harry, pada zaman itu, manusia purba menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu dan tulang. Mereka bahkan mampu memanfaatkan sebuah alat untuk membuat alat lain. Hal itu memperkuat sebutan mereka sebagai manusia purba yang cerdas atau Homo sapiens.(HEN)

Bagaimana para penentang teori evolusi dalam menanggapi temuan berupa fosil dari manusia purba seperti ini?


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   15th June 2011, 11:49

Mungkin tulisan Ulil bisa dijadikan jawaban bagi pendapa yang mengatakan bahwa moralitas seseorang ditanamkan melalui agama, silahkan.

Quote :
Hidup bisa teratur hanya dengan agama? — Surat kepada seorang kawan

Hamid yang baik,

BETULKAH kehidupan manusia bisa teratur hanya dengan agama? Apakah kehidupan manusia tidak mungkin dibuat begitu rupa menjadi tertib dengan hukum-hukum dan peraturan yang mereka buat sendiri berdasarkan akal, pengalaman, dan tahap kematangan mental-intelektual mereka sendiri?

Apakah jalan satu-satunya menjadi manusia bermoral dan etis hanya melalui agama? Apakah moralitas yang berasal dari sumber di luar agama sama sekali tak bisa menjadi landasan untuk mengatur kehidupan manusia?

Beberapa kalangan dalam agama, terutama Islam, mengajukan sebuah logika yang menarik. Bukankah, tanya mereka, Tuhan lebih tahu tinimbang manusia? Bukankah Tuhan Maha Tahu tentang segala-galanya? Dengan demikian, bukankah hukum-hukum dan peraturan yang diberikan oleh Tuhan lebih baik ketimbang hukum yang dibuat manusia sendiri?

Sejak lama saya beregelut dengan pertanyaan ini, dan perkenankan saya mengajukan sebuah refleksi berikut ini. Jawaban saya ini mungkin saja terasa “keras” di telinga sebagian kalangan beragama; tetapi saya harus mengatakannya. Sekurang-kurangnya apa yang saya sampaikan ini bisa menjadi semacam “pengimbang” bagi pendapat yang umum diikuti oleh umat Islam saat ini.

Pertama-tama, perkenankan saya mengatakan: sama sekali tidak benar bahwa jalan satu-satunya menjadi manusia bermoral dan hidup secara etis hanya melalui agama. Seseorang yang tak memeluk agama apapun di dunia ini bisa menjadi manusia yang baik dan hidup secara bermoral.

Bahkan dalam pandangan sebagian kaum Mu’tazilah, kelompok rasionalis yang sudah lahir dalam sejarah Islam sejak seribu tahun lebih yang lalu, sumber moralitas pertama-tama adalah akal manusia. Wahyu hanya datang belakangan untuk mengkonfirmasi moralitas yang sudah diketahui oleh akal manusia itu.

Saya duga orang beragama memiliki asumsi tersembunyi: jika seseorang tak mengikuti ajaran agama apapun, alias agnostik atau ateis, yang bersangkutan akan menjadi orang yang secara moral bejat. Misalnya: yang bersangkutan suka mencuri harta orang lain, menyetubuhi setiap perempuan yang ia jumpai di jalan secara seenaknya seperti binatang, mengganggu orang lain tanpa peduli, membunuhi manusia seenak udelnya sendiri, dsb.
Walhasil, orang yang tak beragama atau anti-agama akan dengan sendirinya bertingkah-laku seenaknya tanpa ikatakan apapun.

Asumsi seperti ini, mohon maaf, adalah asumsi yang bodoh sekali dan tak melihat dunia sekitar. Orang beragama pura-pura tak tahu bahwa tanpa dalil-dalil agama sekalipun, manusia menciptakan aturan yang kompleks untuk mengatur kehidupan mereka agar tidak kacau. Ribuan hukum diciptakan di dunia ini tanpa keterlibatan agama atau wahyu.
Ambillah contoh yang sangat sederhana dari kehidupan modern sekarang. Setelah ditemukannya pesawat terbang oleh Wilbur dan Orville Right pada 1903, muncullah konvensi, hukum, dan peraturan internasional yang sengaja diciptakan untuk menjamin tegaknya industri penerbangan yang akan menjaga keselamatan penumpang.
Di bawah PBB, misalnya, ada sebuah lembaga yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan sejumah regulasi dan “code of conduct” dalam penerbangan internasional, yaitu ICAO (International Civil Aviation Organization) yang bermarkas di Montreal, Kanada.
Berdasarkan hukum dan regulasi internasional inilah, misalnya, Uni Eropa melarang perusahaan penerbangan nasional kita, Garuda, untuk memasuki wilayah Eropa. Larangan ini juga berlaku untuk beberapa penerbangan dari negeri-negeri lain, seperti Angola. Uni Eropa mengeluarkan larangan ini pada bulan Juni 2008 yang lalu dan berlaku efektif sejak 6 Juli 2008.

Hukum dan peraturan itu sama sekali tidak lahir dari agama, dan ditulis bukan dengan merujuk pada ayat-ayat Kitab Suci agama tertentu. Tokoh-tokoh agama sama sekali tak terlibat sedikitpun dalam perumusan dan pembuatan peraturan ini. Tak ada seorang fikih pun yang terlibat di sini, sebab saat fikih ditulis oleh ulama Islam ratusan tahun yang lalu, teknologi dan industri penerbangan belum muncul.


Jika anda mengelola perusahaan penerbangan, maka yang disebut “hidup bermoral” dalam konteks usaha anda itu adalah mengikuti peraturan internasional dalam bidang penerbangan itu. Semua orang, baik beragama atau tidak, diikat oleh moralitas tersebut. Jia ia melanggar moralitas itu, ia akan dikeluarkan dari komunitas penerbangan internasional, sebab akan membahayakan keselamatan penumpang.

Taruhlah ada seorang pilot yang kebetulan juga seorang agnostik atau ateis yang tak percaya pada agama apapun, apakah dia langsung akan menyetir pesawat terbang dengan seenaknya saja tanpa mengikuti peraturan internasional? Kan tidak toh?

Ribuan peraturan dan “code of conduct” diciptakan oleh manusia modern untuk membuat hidup mereka teratur. Peraturan ini dibuat tanpa merujuk sedikitpun pada ajaran agama. Peraturan ini bisa kita temukan dalam semua bidang kehidupan manusia modern.
Kalau anda hidup di Amerika dan kebetulan anda adalah penggemar mancing-memancing, anda akan menjumpai aturan yang begitu ketat sampai ke hal yang sederhana itu. Anda, misalnya, tak boleh memancing ikan yang beratnya kurang dari standar tertentu yang ditentukan oleh hukum negara bagian setempat.

Apakah aturan memancing itu dibuat manusia dengan merujuk pada ayat-ayat dalam Kitab Suci agama tertentu? Jelas tidak. Aturan ini dibuat semata-mata karena pertimbangan kepentingan umum, karena akal manusia menghendaki kehidupan yang baik.
Contoh sederhana ini bisa diperluas ke bidang-bidang lain. Intinya: moralitas agama memang memainkan peranan dalam mengatur kehidupan manusia dalam batas-batas tertentu; tetapi untuk sebagian besar, kehidupan manusia diatur oleh hukum dan peraturan sekuler yang dibuat oleh manusia sendiri tanpa merujuk pada agama. Peraturan agama hanyalah setitik saja di tengah “lautan” aturan yang dibuat oleh manusia.

Lihatlah parlemen negeri-negeri demokrasi di seluruh dunia yang memproduksi ribuan hukum setiap tahun guna mengatur kehidupan manusia agar tertib, agar hak-hak seseorang tidak dilanggar oleh orang lain. Khazanah fikih Islam tak ada apa-apanya dibdaning dengan khazanah hukum sekuler yang terus berkembang makin kompleks itu. Khazanah hukum sekuler jauh lebih kaya ketimbang hukum agama manapun, termasuk Islam.

Orang beragama terlalu “ge-er” sekali manakala beranggapan bahwa tanpa aturan agama, hidup manusia akan kacau-balau. Mereka beranggapan bahwa manusia begitu jahatnya sehingga kalau tak diatur oleh hukum agama akan menjadi binatang buas. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, asumsi ini salah besar. Manusia, dengan atau tanpa agama, akan menciptakan aturan-aturan yang kompleks untuk membuat hidupnya teratur.

Salah satu cara yang mudah untuk mengetahui apakah manusia hidup teratur atau tidak sangatlah sederhana, yaitu apakah ia mengikuti hukum atau tidak. Makin masyarakat menjadi “law abiding society“, masyarakat yang taat hukum, maka makin tertib dan teratur pula masyarakat itu. Sekarang kita lihat sendiri, mana masyarakat yang paling tertib karena taat hukum, karena hukum ditegakkan dengan baik: apakah masyarakat sekuler seperti kita lihat di negeri-negeri Barat, atau masyarakat religius, misalnya, di negeri Muslim?
Marilah kita lihat dengan sederhana saja soal lalu-lintas di kota sebuah negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam, yaitu Jakarta. Bandingkan saja kota Jakarta dengan kota di sebuah negeri sekuler, taruhlah kota New York yang tak kalah padat dengan Jakarta. Dari dua kota itu, mana yang lebih teratur?

Sudah tentu tidak semua kota di dunia dengan mayoritas penduduk Muslim kacau balau seperti Jakarta, Islamabad, Karachi atau Kairo. Kuala Lumpur, misalnya, sangat teratur dan tak kalah dengan kota-kota di negeri maju yang lain. Tetapi jika kita tengok gambar secara umum, kota-kota negeri-negeri yang maju di Eropa yang sekuler itu jauh lebih indah, teratur, taat hukum, dan relatif terkontrol tingkat polusinya ketimbang kota-kota di negeri-negeri Muslim.

Saya akan bertanya kepada umat beragama, terutama Islam: apakah kota negeri-negeri sekuler kacau balau dan kehidupan masyarakat di sana hancur berantakan karena mereka tak mengikuti hukum agama?

Ada salah paham yang berkembang luas di kalangan sebagian kalangan Islam, yaitu bahwa liberalisme sama saja dengan hidup bebas tanpa aturan (tentu maksudnya aturan agama). Pandangan semacam ini hanya bisa dipercaya oleh orang-orang yang tak mempelajari dengan baik bagaimana praktek sosial dalam masyarakat liberal.

Kalau kita tengok negeri-negeri dengan tradisi demokrasi-liberal yang mapan, kita akan tahu bahwa di sana hukum jauh lebih ditegakkan ketimbang di negeri-negeri otoriter (termasuk di dalamnya negeri-negeri Islam sendiri).

Mereka yang hidup di negeri-negeri seperti itu akan tahu bagaimana ketatnya hukum yang berlaku dalam masyarakat. Sekedar gambaran sederhana: jika anda hidup di Amerika Serikat, lalu tengah malam tetangga anda melakukan keributan yang mengganggu tidur anda, maka anda bisa menelpon 911 dan memanggil polisi untuk mengingatkan tetangga anda itu.

Jika anda mengendarai mobil, anda tak bisa memarkir di sembarang tempat. Jika anda memarkir mobil yang disediakan untuk orang-orang “dis-abled” (orang cacat, maaf memakai istilah ini), anda bisa terkena denda yang sangat besar, sekitar US $200 (hampir dua juta rupiah).

Kehidupan sosial begitu tertib di negeri-negeri liberal yang maju, persis karena adanya “rule of law”. Kebalikan dari pandangan sebagian kalangan Islam selama ini, negara demokrasi-liberal adalah sebuah negara dengan ciri-ciri tertentu, antara lain “rule of law“, artinya kedaulatan hukum, bukan negeri yang bebas dari hukum.

Perbedaan mendasar antara negara demokrasi-liberal denga negeri syariat seperti dikehendaki oleh sebagian kalangan Islam adalah sebagai berikut. Dalam negara demokrasi-liberal, hukum dibuat berdasarkan proses politik yang disebut dengan “deliberasi publik”, atau perdebatan publik. Sebelum sebuah hukum ditetapkan oleh parleman melalui proses yang disebut “enactment“, ia harus diuji terlebih dulu melalui perdebatan publik.
Ini berbeda dengan hukum syariat yang dirumuskan secara “sepihak” oleh oligarki sarjana ahli hukum agama (disebut dengan “fuqaha”, bentuk jamak dari kata “faqih”). Hukum syariat seperti kita kenal dalam Islam mempunyai ciri khas yang lebih elitis ketimbang hukum sekuler dalam negara demokrasi modern.

Beda yang lain: hukum sekuler bisa dipersoalkan dan diperdebatkan tanpa yang bersangkutan khawatir dituduh kafir atau murtad. Ini berbeda dengan hukum syariat yang mengkleim berasal dari Tuhan sehingga siapa saja yang mencoba mempersoalkannya bisa terkena tuduhan kafir. Hukum syariat rentan menjadi lahan subur untuk tumbuhnya otoritarianisme politik (meskipun tidak selalu demikian), persis karena kleimnya sebagai “hukum suci” yang secara umum tak boleh diperdebatkan, terutama aspek-aspek di sana yang dianggap “qath’i” atau pasti.

MASALAH yang selalu menghantui pikiran orang beragama, terutama Islam, adalah masalah seks dan perempuan. Orang beragama berasumsi bahwa tanpa hukum dan moralitas agama, kehidupan seksual manusia akan kacau balau. Apakah asumsi ini benar?
Saya khawatir, umat Islam diam-diam mempunyai anggapan bahwa jika perempuan tak memakai pakaian yang menutup aurat, maka dia akan dimangsa oleh laki-laki, seperti ayam betina dimangsa oleh ayam jago di sembarang tempat.

Sementara itu, aurat perempuan, menurut hukum Islam yang “standar”, adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Dengan demikian, perempuan yang berpakaian sopan dan rapi tetapi tidak menutup seluruh tubuhnya (misalnya rambutnya masih tampak kelihatan), dia dianggap sebagai tak menutup aurat. Seorang imam dari Australia yang berasal dari Mesir pernah melontarkan statemen beberapa waktu lalu bahwa seorang perempuan yang tak menutup seluruh tubuhya, “head-to-toe” , sama dengan daging yang tak ditutup. Maksudnya, rawan dirubung “lalat”.

Mari kita tinjau sekali lagi fakta-fakta empiris di lapangan. Apakah betul demikian?
Tengok saja kehidupan sehari-hari di kota Jakarta, tak usah terlalu jauh ke negeri normal seperti Amerika atau Eropa Barat. Lihatlah para perempuan yang bekerja di kantor-kantor, baik pemerintah atau swasta. Sebagian besar mereka mamakai baju biasa, bukan baju penutup aurat seperti dikehendaki oleh hukum Islam. Apakah perempuan-perempuan itu langsung menjadi “mangsa” laki-laki? Apakah kehidupan seksual manusia Jakarta langsung kacau-balau?

Meskipun tingkat keamanan di kota Jakarta tak sebaik di Boston, misalnya, tetapi kita menyaksikan sendiri bagaimana perempuan bisa berjalan dengan aman di tempat-tempat umum, walaupun tak memakai baju yang menutup seluruh aurat. Memang ada insiden di sana-sini, misalnya pemerkosaan. Tetapi secara umum, ruang publik di kota Jakarta dan kota-kota lain sangat aman bagi perempuan, walaupun mereka tak memakai pakaian yang sesuai dengan tuntutan hukum Islam mengenai aurat.

Saya sudah pernah menulis bahwa asumsi sebagian umat Islam begitu buruknya sehingga memandang laki-laki seolah-olah sebagai “binatang buas” yang haus seks, seolah-olah jika melihat perempuan yang tak menutup aurat akan langsung menerkamnya dan ingin bersetubuh dengannya “on the spot“. Sebegitu burukkah asumsi umat beragama yang konon menganggap manusia sebagai “citra Tuhan”, imago Dei (dalam Quran ditegaskan “tsumma sawwahu wa nafakha fihi min ruhihi” QS 32:9)?

Jangan salah paham. Isteri saya memakai jilbab, karena, berdasarkan tradisi di mana ia tumbuh, jilbab dianggap sebagai pakaian yang bisa menjaga martabat perempuan. Tetapi isteri saya tidak menganggap bahwa pakaian-pakaian lain di luar jilbab tidak bisa menjaga kehormatan perempuan dan kepantasan publik.

DENGAN menulis ini semua bukan berarti saya anti-agama. Saya tetap seorang Muslim. Tetapi saya mencoba menjadi seorang beragama yang rendah hati. Saya beragama, tetapi tak menganggap bahwa agama adalah satu-satunya jalan menuju kehidupan yang tertib. Oleh karena itu, saya menghormati orang-orang yang agnostik dan ateis, dan tak beranggapan bahwa manusia yang agnostik akan dengan sendirinya menjadi manusia bejat.
Saya berteman dengan banyak orang-orang yang agnostik: mereka tak kalah humanisnya dengan manusia beragama. Mereka manusia yang bermartabat dan menghormati manusia lain. Bahkan dalam banyak hal, mereka jauh lebih humanis ketimbang manusia beragama.
Bagaimana anda bisa menjelaskan tingkah-laku orang yang konon beragama tetapi menyerang secara fisik, membunuhi, dan mempersekusi orang-orang yang berbeda pandangan dan keyakinan seperti dilakukan oleh orang-orang beragama, sebagaimana kita baca dalam sejarah Kristen dan Islam selama ini?

Yang menarik, hanya di negeri sekulerlah semua agama dan sekte dijamin dengan bebas. Semua sekte dan mazhab bisa mekar dengan bebas di tanah Amerika, misalnya. Sementara di negeri-negeri yang konon “relijius” seperti Indonesia, hak-hak kaum minoritas seperti Ahmadiyah, misalnya, justru ditindas dengan seenaknya oleh orang-orang yang mengaku beragama.

Saya harus menambahkan catatan sebagai “caveat” untuk surat saya ini. Istilah “agama” di sini saya pakai dalam konteks yang terbatas, yaitu agama sebagaimana ditafsirkan oleh orang-orang bigot, fanatik, dan totaliter.

Saya ingin menutup surat ini dengan mengatakan bahwa setiap bentuk “bigotry”, fanatisme, dan totalitarianisme adalah jahat dan berlawanan dengan akal sehat manusia, entah sumbernya dari agama atau non-agama. Totalitarianisme dan fanatisme agama sama saja bahanya dengan totalitarianisme sekuler seperti dipraktekkan oleh Nazi dan sistem totaliter di Uni Soviet dulu. Di mata saya, kaum bigot dan totaliter di mana-mana sama saja: mereka adalah ancaman bagi manusia.

Mohon maaf jika surat saya ini terlalu berkepanjangan dan membosankan

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
bukit
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 72
Join date : 19.02.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   15th June 2011, 20:54

bruce wrote:
@bukit

Ok, bro, harus saya katakan ada beberapa pendapat anda yang benar secara Alkitab, jika diartikan secara literal, tetapi sayangnya saya mengartikannya secara berbeda. Tetapi memang kita tidak perlu selalu sependapat.

Salam kenal dan selamat bergabung.

:)



Memang bro sekarang ini Kitab Suci semakin banyak ditafsirkan secara allegorical dan liturgical ketimbang historical dan scientific.


Shalom
Kembali Ke Atas Go down
bukit
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 72
Join date : 19.02.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   15th June 2011, 21:30

bruce wrote:
Quote :
Cerdas, Homo Soloensis Bersenjata Tulang
Tri Wahono | Selasa, 14 Juni 2011 | 14:57 WIB

SRAGEN, KOMPAS.com - Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) menemukan tiga senjata tajam manusia purba Homo erectus Soloensis yang terbuat dari tulang kerbau dan sapi purba di Situs Ngandong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Temuan itu melengkapi data kecerdasan sekaligus evolusi budaya manusia purba yang hidup sekitar 150.000 tahun lalu.

Tiga senjata itu ditemukan ketika penelitian lanjutan di lokasi temuan Homo erectus Soloensis selama Maret 2011. Ketiga tulang berujung tajam itu mempunyai panjang 15-20 sentimeter dan berada dalam kondisi utuh. Saat ini, BPSMPS menyimpan temuan itu di Museum Sangiran di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jateng.

Kepala BPSMPS Harry Widianto, Senin (13/6/2011) di Sragen, mengatakan, manusia purba menggunakan tulang itu sebagai senjata tajam atau alat penusuk buruan. Peneliti BPSMPS menduga manusia purba meruncingkan bagian ujung tulang itu menggunakan alat serpih yang terbuat dari batu. "Alat serpih dari batu itu kami temukan lokasinya saat survei di Ngandong," kata Harry.

Menurut Harry, pada zaman itu, manusia purba menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu dan tulang. Mereka bahkan mampu memanfaatkan sebuah alat untuk membuat alat lain. Hal itu memperkuat sebutan mereka sebagai manusia purba yang cerdas atau Homo sapiens.(HEN)

Bagaimana para penentang teori evolusi dalam menanggapi temuan berupa fosil dari manusia purba seperti ini?



SKANDAL MANUSIA PILTDOWN

[You must be registered and logged in to see this image.]


Tengkorak Manusia Piltdown dikemukakan kepada dunia selama lebih dari 40 tahun sebagai bukti terpenting terjadinya "evolusi manusia". Akan tetapi, tengkorak ini ternyata hanyalah sebuah kebohongan ilmiah terbesar dalam sejarah.

Pada tahun 1912, seorang dokter terkenal yang juga ilmuwan paleoantropologi amatir, Charles Dawson, menyatakan dirinya telah menemukan satu tulang rahang dan satu fragmen tengkorak dalam sebuah lubang di Piltdown, Inggris. Meskipun tulang rahangnya lebih menyerupai kera, gigi dan tengkoraknya menyerupai manusia. Spesimen ini diberi nama "Manusia Piltdwon". Fosil ini diyakini berumur 500.000 tahun, dan dipamerkan di berbagai museum sebagai bukti nyata evolusi manusia. Selama lebih dari 40 tahun, banyak artikel ilmiah telah ditulis tentang "Manusia Piltdown", sejumlah besar penafsiran dan gambar telah dibuat, dan fosil ini diperlihatkan sebagai bukti penting evolusi manusia. Tidak kurang dari 500 tesis doktoral telah ditulis tentang masalah ini. 63

Pada tahun 1949, Kenneth Oakley dari departemen paleontologi British Museum mencoba melakukan "uji fluorin", sebuah cara uji baru untuk menentukan umur sejumlah fosil kuno. Pengujian dilakukan pada fosil Manusia Piltdown. Hasilnya sungguh mengejutkan. Selama pengujian, diketahui ternyata tulang rahang Manusia Piltdown tidak mengandung fluorin sedikit pun. Ini menunjukkan tulang tersebut telah terkubur tak lebih dari beberapa tahun yang lalu. Sedangkan tengkoraknya, yang mengandung sejumlah kecil fluorin, menunjukkan umurnya hanya beberapa ribu tahun.


[You must be registered and logged in to see this image.]


Manusia Piltdown merupakan pemalsuan yang dilakukan dengan merekatkan rahang kera pada tengkorak manusia.


Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa Manusia Piltdown merupakan penipuan ilmiah terbesar dalam sejarah. Ini adalah tengkorak buatan; tempurungnya berasal dari seorang lelaki yang hidup 500 tahun yang lalu, dan tulang rahangnya adalah milik seekor kera yang belum lama mati! Kemudian gigi-giginya disusun dengan rapi dan ditambahkan pada rahang tersebut, dan persendi-annya diisi agar menyerupai pada manusia. Kemudian seluruh bagian ini diwarnai dengan potasium dikromat untuk memberinya penampakan kuno.

Le Gros Clark, salah seorang anggota tim yang mengungkap pemalsuan ini, tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya dan mengatakan: "bukti-bukti abrasi tiruan segera tampak di depan mata. Ini terlihat sangat jelas sehingga perlu dipertanyakan - bagaimana hal ini dapat luput dari penglihatan sebelumnya?" 64 Ketika kenyataan ini terungkap, "Manusia Piltdown" dengan segera dikeluarkan dari British Museum yang telah memamerkannya selama lebih dari 40 tahun.

Skandal Piltdown dengan jelas memperlihat-kan bahwa tidak ada yang dapat menghentikan para evolusionis dalam rangka membuktikan teori-teori mereka. Bahkan, skandal ini menunjukkan para evolusionis tidak memiliki penemuan apa pun yang mendukung teori mereka. Karena mereka tidak memiliki bukti apa pun, mereka memilih untuk membuatnya sendiri.


Sumber:


[You must be registered and logged in to see this link.]




Terakhir diubah oleh bukit tanggal 16th June 2011, 10:11, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
bukit
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 72
Join date : 19.02.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   15th June 2011, 22:19

ASAL USUL KEHIDUPAN


[You must be registered and logged in to see this image.]

Evolusionis menyatakan bahwa makhluk hidup membentuk diri mereka sendiri secara mandiri dari benda mati. Namun, ini adalah dongeng takhayul abad pertengahan yang bertentangan dengan hukum dasar biologi.
B agi kebanyakan orang, pertanyaan "apakah manusia berasal dari kera atau tidak" muncul dalam benak mereka ketika teori Darwin disebutkan. Tapi sebelum membahas masalah ini, sebenarnya masih terdapat beragam pertanyaan yang harus dijawab oleh teori evolusi. Pertanyaan pertama adalah bagaimana makhluk hidup pertama muncul di bumi.

Evolusionis menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa makhluk hidup pertama adalah sel tunggal yang terbentuk dengan sendirinya dari benda mati secara kebetulan. Menurut teori ini, pada saat bumi masih terdiri atas bebatuan, tanah, gas dan unsur lainnya, suatu organisme hidup terbentuk secara kebetulan akibat pengaruh angin, hujan dan halilintar. Tetapi, pernyataan evolusi ini bertentangan dengan salah satu prinsip paling mendasar biologi: Kehidupan hanya berasal dari kehidupan sebelumnya, yang berarti benda mati tidak dapat memunculkan kehidupan.

SEL YANG MEMBELAH DIRI


[You must be registered and logged in to see this image.]


Hukum paling mendasar dari kehidupan adalah "kehidupan hanya berasal dari kehidupan". Suatu makhluk hidup hanya dapat muncul dari kehidupan sebelumnya.

Hanya DNA species manusia yang menghasilkan manusia melalui pembelahan sel didalam rahim wanita.

Kepercayaan bahwa benda mati dapat memunculkan kehidupan sebenarnya sudah ada dalam bentuk kepercayaan takhayul sejak abad pertengahan. Menurut teori ini, yang disebut "spontaneous generation", tikus diyakini dapat muncul secara alami dari gandum, atau larva lalat muncul "tiba-tiba dengan sendirinya secara kebetulan" dari daging. Saat Darwin mengemukakan teorinya, keyakinan bahwa mikroba dengan kemauan sendiri membentuk dirinya sendiri dari benda mati juga sangatlah umum.

"LUMPUR YANG BERUBAH MENJADI MAKHLUK HIDUP"

"Bathybius Haeckelii", yang berarti "Lumpur Haeckel". Ernst Haeckel, seorang pendukung gigih teori evolusi, mencoba mengamati lumpur yang berhasil dikeruk dengan cawan dan menganggapnya sangat menyerupai sejumlah sel yang dilihatnya di bawah mikroskop. Berdasarkan pengamatan ini, ia menyatakan bahwa lumpur ini adalah materi tak hidup yang berubah menjadi organisme hidup. Haeckel dan rekannya, Darwin, meyakini kehidupan memiliki struktur sederhana sehingga dapat terbentuk dari benda mati. Akan tetapi, ilmu pengetahuan abad ke-20 menunjukkan bahwa kehidupan tidak pernah dapat muncul dari sesuatu yang tak hidup.

Penemuan biologiwan Prancis, Louis Pasteur, mengakhiri kepercayaan ini. Sebagaimana perkataannya: "Pernyataan bahwa benda mati dapat memunculkan kehidupan telah terkubur dalam sejarah untuk selamanya". Setelah Pasteur, para evolusionis masih berkeyakinan bahwa sel hidup pertama terbentuk secara kebetulan. Namun, semua percobaan dan penelitian yang dilakukan sepanjang abad ke-20 telah berakhir dengan kegagalan. Pembentukan "secara kebetulan" sebuah sel hidup tidaklah mungkin terjadi, bahkan untuk membuatnya melalui proses yang disengaja di laboratorium tercanggih di dunia pun ternyata tidak mungkin.



SPONTANEOUS GENERATION: TAKHAYUL ABAD PERTENGAHAN

Di antara kepercayaan takhayul yang diyakini masyarakat abad pertengahan adalah benda mati dapat memunculkan kehidupan dengan sendirinya secara tiba-tiba. Saat itu diyakini, misalnya, katak dan ikan terbentuk dengan sendirinya dari lumpur di dasar sungai. Di kemudian hari terungkap, hipotesis yang dikenal sebagai "spontaneous generation (kemunculan tiba-tiba)" ini adalah kebohongan belaka. Akan tetapi, di kemudian hari dengan skenario yang sedikit berbeda, kepercayaan ini dihidupkan kembali dengan nama "teori evolusi".
Oleh karenanya, pertanyaan tentang bagaimana makhluk hidup pertama muncul telah menempatkan teori evolusi dalam kesulitan sejak awal. Salah satu tokoh utama pendukung teori evolusi tingkat molekuler, Prof. Jeffrey Bada, membuat pengakuan berikut ini:
Saat ini, ketika kita meninggalkan abad keduapuluh, kita masih dihadapkan pada masalah terbesar yang belum terpecahkan pada saat kita memasuki abad keduapuluh: Bagaimana kehidupan muncul pertama kali di bumi?


MITOS "EVOLUSI KIMIAWI"

Evolusionis terkenal, Alexander Oparin, muncul dengan gagasan "evolusi kimiawi" di awal abad ke-20. Gagasan ini menyatakan bahwa sel hidup pertama muncul secara kebetulan melalui sejumlah reaksi kimia yang terjadi pada kondisi bumi purba. Akan tetapi, tak satu evolusionis pun, termasuk Oparin sendiri, yang mampu memberikan satu pun bukti yang mendukung gagasan "evolusi kimia". Sebaliknya, setiap penemuan baru di abad ke-20 menunjukkan kehidup-an terlalu kompleks untuk dapat terbentuk secara kebetulan. Evolusionis terkenal Leslie Orgel membuat pengakuan berikut ini: "(Dengan mempelajari struktur DNA, RNA, dan protein) seseorang mestinya berkesimpulan: ternyata kehidupan tidak akan pernah dapat terbentuk melalui reaksi-reaksi kimiawi."



Selain menggugurkan teori evolusi, hukum "kehidupan muncul dari kehidupan sebelumnya" juga menunjukkan bahwa makhluk hidup pertama muncul di bumi dari kehidupan yang ada sebelumnya, dan ini berarti ia diciptakan oleh Allah. Allah, Dia-lah satu-satunya Pencipta yang dapat menghidupkan benda mati

Kej. 2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Tangan Tuhanlah yang membentuk manusia langsung dari debu tanah yang diciptakan menurut peta dan teladan-Nya.



[You must be registered and logged in to see this image.]






Terakhir diubah oleh bukit tanggal 16th June 2011, 10:07, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
bukit
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 72
Join date : 19.02.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   16th June 2011, 10:01

Perkembangan Terakhir Tentang Manusia Flores


Pernyataan para pendukung evolusi bahwa Homo floresiensis merupakan suatu spesies tersendiri yang terpisah dari manusia zaman modern semakin memudar di hadapan penentangan yang semakin menguat.

The Times Online, edisi internet dari surat kabar The Times dan The Sunday Times, merangkum sejumlah perkembangan terakhir seputar bahasan tersebut dalam kalimat berikut:

"Sebuah temuan yang diumumkan sebagai penemuan terbesar di bidang antropologi selama seabad telah terpuruk dan menjadi salah satu sengketa tersengit di bidang itu." (1)

Perkembangan yang menyulut api perselisihan tersebut adalah adanya para pakar lain yang mendukung pandangan para ilmuwan Indonesia yang berkeberatan atas dikemukakannya H. floresiensis sebagai suatu spesies tersendiri yang terpisah dari Homo sapiens.

Yang terkemuka dari sederetan ilmuwan tersebut adalah ilmuwan Australia Dr. Maciej Henneberg dan Dr. Alan Thorne, dan para peneliti dari Field Museum Chicago di Amerika.

Sejumlah sanggahan baru, sebagaimana yang dilontarkan oleh para ilmuwan Indonesia, menegaskan bahwa Manusia Flores mungkin telah menderita penyakit syaraf yang dikenal sebagai microcephaly (kelainan berupa kepala yang berukuran kecil).

Dukungan penting bagi pandangan ini datang dari Profesor Maciej Henneberg, ilmuwan anatomi dan pakar palaeopatologi selama 32 tahun. Henneberg, ketua Departement of Anatomical Sciences, the University of Adelaide, Australia, pertama-tama mengkaji hasil pengukuran tengkorak Manusia Flores yang diterbitkan di situs internet majalah Nature.

Di sinilah ilmuwan tersebut teringat akan tengkorak lain dengan bentuk dan ukuran yang mirip. Tengkorak tersebut adalah spesimen Homo sapiens berusia 4.000 tahun yang didapatkan dalam penggalian di pulau Kreta. Tengkorak milik individu H. sapiens ini memiliki ukuran agak kecil, dan para ilmuwan yang menelitinya telah menjelaskan fenomena ini sebagai microcephaly.

Berdasarkan hasil perbandingan statistik yang ia lakukan pada 15 hasil pengukuran tengkorak, ilmuwan Australia itu mengungkapkan bahwa terdapat "perbedaan tidak nyata" antara keduanya.

Henneberg, yang sanggahannya diberitakan dalam jurnal terkenal terbitan Amerika Serikat Science (2), menyimpulkan bahwa ukuran tengkorak Manusia Flores diakibatkan oleh microcephaly. Peneliti tersebut juga menyatakan bahwa anatomi wajah Manusia Flores masih dalam batas H. sapiens.

Pengkajian lain oleh Henneberg yang mengungkap hasil mengejutkan tentang Manusia Flores adalah perhitungannya tentang tulang lengan depan (radius) yang ditemukan di dalam sebuah gua.

Dari panjang tulangnya, yang ditetapkan sebagai 210 mm (8,3 inci), Henneberg menghitung bahwa pemiliknya bertinggi tubuh antara 151 dan 162 cm (4,9 - 5,3 kaki).

Angka ini agak lebih besar daripada 1 meter (3 kaki) yang diduga merupakan ukuran tinggi Manusia Flores, dan masih dalam batas yang dianggap normal untuk manusia zaman sekarang. Henneberg mengumumkan kesimpulan yang ia capai sebagai hasil dari penelitian ini:

"Hingga tambahan tulang-tulang lain dari 'spesies baru' dugaan ini diketemukan, saya akan tetap menyatakan bahwa suatu kondisi yang sudah sangat dikenal yang diakibatkan oleh penyakitlah yang menjadi penyebab timbulnya penampakan khusus dari rangka tersebut." (3)


[You must be registered and logged in to see this image.]

Sebagaimana dijelaskan para ilmuwan, perbedaan dalam hal ukuran tengkorak maupun struktur rahang antara Manusia Flores dan Homo sapiens dapat dijelaskan dengan fenomena microcephaly (kelainan berupa ukuran kepala yang kecil).



Peneliti evolusi manusia terkemuka lainnya, antropolog Dr. Alan Thorne dari Australian National University, menyatakan penemuan Manusia Flores hanya memperlihatkan bahwa "tak seorang pun memperkirakan sesuatu seperti itu ada di sana," dan menyebutkan bahwa adalah melebih-lebihkan fakta untuk menyatakan H. floresiensis mewakili suatu spesies tersendiri. (4)

Robert Martin, ilmuwan primatologi dari Field Museum Chicago, dan arkeolog James Phillips melontarkan pernyataan berikut yang mendukung teori microcephaly berkaitan dengan volume otak Manusia Flores yang berukuran kecil:

"Satu-satunya tengkorak adalah milik seorang perempuan yang menderita microcephaly, suatu kelainan yang jarang terjadi yang berakibat pada kepala dan otak yang berukuran kecil.

Microcephaly menyebabkan wajah tumbuh pada laju yang normal, tapi kepalanya tidak. Orang [tersebut] akhirnya berdahi miring dan tanpa dagu -- persis seperti Hobbit." (5) (Hobbit: Julukan untuk Manusia Flores yang diambil dari film The Lord of the Rings.)

Karena sejumlah sanggahan ini, tidak beralasannya penggambaran Manusia Flores sebagai suatu spesies tersendiri yang terpisah dari H. sapiens sekali lagi terungkap.

Pengkajian oleh Henneberg sudah pasti berperan besar dalam hal ini: karena individu H. sapiens yang berusia 4.000 tahun dikabarkan telah menderita kelainan microcephaly, lalu mengapa Manusia Flores, dengan ukuran tengkorak yang sama, digambarkan sebagai suatu spesies yang berbeda?

Barangkali penafsiran paling mencolok tentang debat seputar Manusia Flores ini berasal dari Robert Matthews, seorang penulis ilmu pengetahuan yang berpengalaman untuk surat kabar Inggris The Sunday Telegraph.

Matthews mendukung gagasan microcephaly, dan mengecam keinginan sebagian kalangan untuk menampilkan Manusia Flores sebagai suatu spesies tersendiri. Ia juga mengutip skandal Manusia Nebraska, salah satu skandal terbesar dalam sejarah paleoantropologi, dalam mengungkap betapa tidak beralasannya keinginan itu. Dengan judul utama "Big Claims, meagre evidence; welcome to palaeontology" (Klaim Besar, bukti sangat kurang; selamat datang di palaeontologi), Matthews menulis:

"Minggu yang lain, dan perseteruan yang lain lagi di kalangan ilmuwan tentang sejumlah tulang kuno dan pernyataan tentang telah ditemukannya suatu spesies manusia baru yang lain lagi. Kali ini perselisihan tersebut tertuju pada penemuan tulang belulang berusia 18.000 tahun milik sejenis manusia dengan tinggi badan 3 kaki di pulau Flores, Indonesia.
... para ilmuwan yang menggalinya telah menerbitkan makalah di jurnal Nature, mengumumkannya sebagai suatu spesies baru manusia, dan memberinya nama Latin yang terdengar indah: Homo floresiensis.

Kemudian, sebagaimana kebiasaan lama, para ilmuwan lain bermunculan untuk membantah klaim tersebut sebagai terlalu dini. Seorang pakar terkemuka di bidang palaeoanatomi mengatakan kepada jurnal tandingan Science bahwa tengkorak berusia 18.000 tahun yang seukuran dengan jeruk besar tersebut mirip dengan tengkorak yang ditemukan di pulau Kreta yang merupakan milik spesimen berusia 4.000 tahun dari jenis Homo sapiens kuno yang sudah terlalu sering, dengan microcephaly sekunder, suatu keadaan yang ditandai dengan tengkorak yang secara tidak wajar berukuran kecil.

... Microcephaly sekunder memiliki banyak sekali penyebab, mulai dari infeksi virus selama kehamilan hingga luka atau kekurangan gizi ketika baru lahir. Spesimen-spesimen tersebut ditemukan di sebuah gua di suatu pulau. Siapakah yang bisa mengatakan bahwa pulau itu belum pernah dilanda wabah virus 18.000 tahun lalu yang menyebabkan berjangkitnya kelainan tersebut? Atau mungkin penghuni [pulau itu] telah terkena wabah itu di tempat lain di gugusan kepulauan Indonesia, dan telah diusir ke Flores karena penampakan mereka yang aneh.

Atau mungkin saja bahwa mereka yang mengidap microcephaly sekunder dapat bertahan hidup dan bahkan beranak pinak: kelainan itu tidak selalu harus dihubungkan dengan kecerdasan yang rendah.

Sebenarnya, [tingkat kecerdasan] bukan dikarenakan ukuran otak yang kecil saja penentu terpenting adalah jumlah bagian [otak yang berwarna] abu-abu. Karena bagian ini tidak terawetkan pada sisa-sisa peninggalan fosil, kita tidak memiliki gambaran apakah para "hobbit" tersebut cerdas, bodoh atau biasa saja. Apa yang jelas adalah bahwa para palaeontolog terlalu bernafsu mendasarkan klaim besar pada bukti yang sudah dipastikan sangat kurang.

Ini adalah kecenderungan kuat yang tidak begitu membantu mereka di masa lalu. Pada tahun 1922, pakar fosil Amerika, Henry Fairfield Osborn menjadi judul utama pemberitaan dengan mengumumkan penemuan tentang apa yang ia nyatakan sebagai kera mirip manusia pertama yang pernah ditemukan di Amerika, yang ia beri nama Hesperopithecus ( yang berarti "Ape from the Land of the Evening Sun" atau Kera dari Daratan Matahari Sore").

Ilmuwan anatomi terkenal Profesor Grafton Elliot Smith dari London University melangkah lebih jauh, ia bersikukuh bahwa Hesperopithecus setidaknya merupakan "anggota paling awal dan paling primitif dari keluarga manusia yang masih dapat ditemukan". Namun apakah bukti dari klaim yang lantang ini? Sebuah gigi tunggal yang sudah menjadi fosil yang ditemukan di Nebraska.

Tanggapan Prof Smith kepada mereka yang meragukan kearifan berpegang pada bukti yang sangat sedikit sungguh mirip dengan apa yang kini sedang dilakukan oleh para penemu Manusia Hobbit dari Flores: "Orang akan memandang kesimpulan yang demikian sangat penting dengan keraguan", ujar Prof Smith, "jika saja bukan karena kepakaran para ilmuwan Amerika di bidang itu yang tidak perlu dipertanyakan lagi."

Gertakan itu tidak menyurutkan langkah the American Museum of Natural History untuk mencari bukti lebih lanjut. Bukti itu ditemukan di saat yang tepat di Nebraska, dan mengungkap bahwa "Hesperopithecus" tak lebih dari seekor babi punah.

Prof Smith di kemudian hari menjadikan dirinya tenar dengan membuat gambar populer dari manusia Neanderthal sebagai manusia berpenampilan dungu yang sedang mengunyah tulang, sembari pula mendukung klaim bahwa potongan-potongan tengkorak yang ditemukan di Inggris pada tahun 1912 adalah milik nenek moyang tertua H. sapiens yang pernah diketahui.

Di kemudian hari diketahui bahwa manusia Neanderthal "khas bikinan" Prof Smith sebenarnya adalah seorang pria yang diketahui pasti tidak bertubuh normal dan bungkuk karena menderita radang sendi. Sedangkan mengenai potongan tulang tengkorak, ternyata berasal dari sebuah lubang galian di Sussex yang dikenal sebagai Piltdown; kelanjutannya bisa dipahami.

Tampaknya, tak satu pun dari kejadian ini menyurutkan semangat para palaeontolog untuk terus mengkhayal tentang keberadaan lebih banyak lagi "spesies" di luar pohon kekerabatan manusia. Semua yang dibutuhkan adalah beberapa potongan tulang yang tidak biasa ditambah dengan kamus bahasa Latin yang bagus, dan tempat dalam sejarah palaeontologi pun akan diperoleh.

Semuanya tampak bergantung pada bisa tidaknya potongan tulang tersebut dianggap "tidak seperti biasanya" sehingga berada di luar batasan spesies mana pun yang diketahui. Orang ngeri membayangkan kesimpulan apa yang akan dicapai para palaeontolog jika mereka diberi tulang belulang seorang cebol zaman sekarang dan seorang penambang minyak dari Texas." (6)

Kesimpulan:

Fakta yang terungkap melalui perkembangan ilmiah terkini tentang Manusia Flores maupun pelajaran dari sejarah sebagaimana yang diingatkan oleh Matthews adalah:

Para ilmuwan evolusionis dan media massa sama-sama sangat bernafsu untuk menampilkan dan memberitakan fosil-fosil yang baru ditemukan sebagai spesies baru. Hasilnya, hampir setiap penemuan fosil diumumkan dengan kehebohan dan kegemparan besar oleh media massa, meskipun klaim ini lalu dengan senyap terbantahkan di kemudian hari.

Perkataan berikut dari Robert Locke, editor pelaksana majalah Discovering Archaeology, tentang penelitian di bidang palaeoantropologi adalah menyerupai gambaran tentang keraguan dan propaganda fanatik yang melingkupi pengkajian di bidang ini:

"Mungkin tidak ada bidang ilmu pengetahuan yang lebih banyak dipenuhi persengketaan daripada pencarian tentang asal usul manusia. Para paleontolog terkemuka saling tidak sepakat bahkan mengenai bagan paling mendasar dari pohon kekerabatan manusia sekalipun. Cabang-cabang baru bermunculan di tengah-tengah keriuhan, hanya untuk kemudian layu dan mati di hadapan temuan-temuan fosil baru." (7)

Akan tetapi, skenario khayal evolusi manusia, yang dipertahankan keberadaannya melalui propaganda, hasutan, pemutarbalikan fakta dan bahkan pemalsuan, akan pasti tersingkirkan di hadapan penemuan-penemuan ilmiah modern.

Hal ini dikarenakan temuan ilmiah nyata mengungkap bahwa kehidupan terlalu rumit untuk dapat terbentuk melalui ketidaksengajaan, dan bahwa mekanisme mutasi acak dan seleksi alam tidak dapat menjelaskan keberadaan informasi genetik pada DNA suatu spesies.

Klaim evolusi seputar masalah tersebut tidak lagi memiliki dasar ilmiah di hadapan penemuan-penemuan yang dibuat hampir setiap harinya. Karenanya tak dapat dihindarkan, upaya dari mereka yang meyakini bahwa memaparkan kisah khayal tentang masa lampau berdasarkan kemiripan antartulang sebagai ilmu pengetahuan akan berakhir dengan kegagalan.

Manusia diciptakan oleh Allah, beserta seluruh perangkat sempurna pada tubuhnya. Hal ini dinyatakan Allah dalam Alkitab:

Kejadian 1:26,27 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.



[You must be registered and logged in to see this image.]




Sumber:

1- Nigel Hawkes, "Kidnap marks the latest chapter in Hobbit's story," Times Online, December 4, 2004; online at: [You must be registered and logged in to see this link.]
2- Michael Balter, "Skeptics Question Whether Flores Hominid Is a New Species," Science, Vol 306, Issue 5699, 1116 , November 12, 2004
3- Maciej Henneberg, "Why The 'Hobbitt' May Not Be a New Species of Humans;" online at: [You must be registered and logged in to see this link.]
4- Heather Catchpole, "Tiny Human a Big Evolutionary Tale," October 27, 2004; online at: [You must be registered and logged in to see this link.]
5- Jim Ritter, "Experts here knock claim of new 'Hobbit' species," Chicago Sun-Times, November 16, 2004; online at: [You must be registered and logged in to see this link.]
6- Robert Matthews, "Big claims, meagre evidence; welcome to palaeontology," The Telegraph, December 8, 2004; online at: [You must be registered and logged in to see this link.]
7- Robert Locke, "Family Fights," Discovering Archaeology, July/August 1999, h. 36-39





Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   16th June 2011, 12:31

Darwin & Gish

Darwin’s theory of how evolution happened is called natural selection. That theory is quite distinct from the fact of evolution. Other scientists have different theories of evolution, but only a negligible few deny the fact of evolution. In the Origin of Species Darwin provided vast amounts of data about the natural world that he and others had collected or observed. Only after providing the data did he demonstrate how his theory accounted for the data much better than the belief in special creation. Gish, on the other hand, assumes that whatever data there is must be explained by special creation, because, he thinks, God said so in the Bible. Furthermore, Gish claims that it is impossible for us to understand special creation, since the Creator “used processes which are not now operating anywhere in the natural universe.” Thus, Gish, rather than gather data and demonstrate how special creation explains the data better than natural selection, must take another approach, the approach of apologetics. His approach, and that of many other creation scientists, is to attack at every opportunity what they take to be the theory of evolution. Rather than show the strengths of their own belief, they rely on trying to find and expose weaknesses in evolutionary theory. Gish and the other creation scientists actually have no interest in scientific facts or theories. Their interest is in defending the faith against what they see as attacks on God’s Word.

For example, creation scientists, mistaking the uncertain in science for the unscientific, see the debate among evolutionists regarding how best to explain evolution as a sign of weakness. Scientists, on the other hand, see uncertainty as an inevitable element of scientific knowledge. They regard debates on fundamental theoretical issues as healthy and stimulating. Science, says evolutionary biologist Stephen Jay Gould, is “most fun when it plays with interesting ideas, examines their implications, and recognizes that old information may be explained in surprisingly new ways.” Thus, through all the debate over evolutionary mechanisms biologists have not been led to doubt that evolution has occurred. “We are debating how it happened,” says Gould (1983, 256).

"creation science" and pseudoscience

Creation science is not science but pseudoscience. It is religious dogma masquerading as scientific theory. Creation science is put forth as being absolutely certain and unchangeable. It assumes that the world must conform to its understanding of the Bible. Where creation science differs from creationism in general is in its notion that once it has interpreted the Bible to mean something, no evidence can be allowed to change that interpretation. Instead, the evidence must be refuted.

Compare this attitude to that of the leading European creationists of the 17th century who had to admit eventually that the Earth is not the center of the universe and that the sun does not revolve around our planet. They did not have to admit that the Bible was wrong, but they did have to admit that human interpretations of the Bible were in error. Today’s creationists seem incapable of admitting that their interpretation of the Bible could be wrong.

Creation scientists are not scientists because they assume that their interpretation of the Bible cannot be in error. They put forth their views as irrefutable. Hence, when the evidence contradicts their reading of the Bible, they assume that the evidence is false. The only scientific investigation they do is aimed at proving some evolutionary claim is false. Creation scientists see no need to test their belief, since God has revealed it. Infallible certainty is not the hallmark of science. Scientific theories are fallible. Claims of infallibility and the demand for absolute certainty characterize not science but pseudoscience.

What is most revealing about the creation scientists’ lack of any true scientific interest is the way they willingly and uncritically accept even the most preposterous of claims, if those claims seem to contradict traditional scientific beliefs about evolution. For example, any evidence that seems to support the notion that dinosaurs and humans lived together is welcomed by the creationists. And the way creation scientists treat the second law of thermodynamics indicates either gross scientific incompetence or deliberate dishonesty. They claim that evolution of life forms violates the second law of thermodynamics, which “specifies that, on the macroscopic scale of many-body processes, the entropy of a closed system cannot decrease (Stenger).”

Consider simply a black bucket of water initially at the same temperature as the air around it. If the bucket is placed in bright sunlight, it will absorb heat from the sun, as black things do. Now the water becomes warmer than the air around it, and the available energy has increased. Has entropy decreased? Has energy that was previously unavailable become available, in a closed system? No, this example is only an apparent violation of the second law. Because sunlight was admitted, the local system was not closed; the energy of sunlight was supplied from outside the local system. If we consider the larger system, including the sun, entropy has increased as required (Klyce).

Creation scientists treat the evolution of species as if it were like the bucket of water in the example above, which, they incorrectly claim, occurs in a closed system. If we consider the entire system of nature, there is no evidence that the second law of thermodynamics is violated by evolution.

Finally, although Karl Popper’s notion that falsifiability distinguishes scientific from metaphysical theories has been much attacked by philosophers of science (Kitcher), it seems undeniable that there is something profoundly different about beliefs such as creationism and theories such as natural selection. It also seems undeniable that one profound difference is that the metaphysical belief of creationism is consistent with every conceivable empirical state of affairs, while the scientific theory of evolution is not. “I can envision observations and experiments that would disprove any evolutionary theory I know,” writes Gould, “but I cannot imagine what potential data could lead creationists to abandon their beliefs. Unbeatable systems are dogma, not science” (Gould, 1983).

Creationism can’t be refuted, even in principle, because everything is consistent with it, even apparent contradictions and contraries. Scientific theories allow definite predictions to be made from them; they can, in principle, be refuted. Theories such as the Big Bang theory, the steady state theory, and natural selection can be tested by experiment and observation. Metaphysical theories such as creationism are “airtight” if they are self-consistent, i.e., contain no self-contradictory elements. No scientific theory is ever airtight.

What makes "scientific creationism" a pseudoscience is that it attempts to pass itself off as science even though it shares none of the essential characteristics of scientific theorizing. Creation science will remain forever unchanged as a belief. It will engender no debate among scientists about fundamental mechanisms of the universe. It generates no empirical predictions that can be used to test it. It is taken to be irrefutable. And it assumes a priori that there can be no evidence that will ever falsify it.

creationism as a scientific theory

Religious creationism could be empirical, however. For example, if it said that the world was created in 4004 B.C. and accepted that the empirical evidence indicates that Earth is several billions of years old, then the belief would be empirical refuted by the evidence. But if, for example, the ad hoc hypothesis is made that God created the world in 4004 B.C. complete with fossils that make the Earth look much older than it really is (to test our faith, perhaps, or to fulfill some mysterious divine plan), then the religious belief is not empirical but metaphysical. Nothing could refute it; it is airtight. Philip Henry Gosse made this claim in Darwin’s time in a work entitled Creation (Omphalos): An Attempt to Untie the Geological Knot, published in 1857. The idea never caught on. I wonder why. No I don't.

If the age or scientific dating techniques of fossil evidence is disputed, but considered relevant to the truth of the religious hypothesis and is prejudged to be consistent with the hypothesis, then the hypothesis is a metaphysical one. A scientific theory cannot prejudge what its investigative outcomes must be. If the religious cosmologist denies that the earth is billions of years old on the grounds that their own “scientific” tests prove the Earth is very young, then the burden of proof is on the religious cosmologist to demonstrate that the standard scientific methods and techniques of dating fossils, etc., are erroneous. Otherwise, no reasonable person should consider such an unsupported claim that would require us to believe that the entire scientific community is in error. Gish has tried this. The fact that he is unable to convert even a small segment of the scientific community to his way of thinking is a strong indication that his arguments have little merit. This is not because the majority must be right. The entire scientific community could be deluded. However, since the opposition issues from a religious dogmatist who is not doing scientific investigation but theological apologetics, it seems more probable that it is the creation scientists who are deluded rather than the evolutionary scientists.

metaphysical creationists

There are many believers in a religious cosmology such as that given in Genesis who do not claim that their beliefs are scientific. They do not believe that the Bible is to be taken as a science text. To them, the Bible contains teachings pertinent to their spiritual lives. It expresses spiritual ideas about the nature of God and the relationship of God to humans and the rest of the universe. Such people do not believe the Bible should be taken literally when the issue is a matter for scientific discovery. The Bible, they say, should be read for its spiritual messages, not it lessons in biology, physics or chemistry. This used to be the common view of religious scholars. Allegorical interpretations of the Bible go back at least as far as Philo Judaeus (b. 25 BCE). Philosophical analyses of the absurdity of popular conceptions of the gods were made by philosophers such as Epicurus (342-270). Creation scientists have no taste for allegorical interpretations.

creationism and politics

Advocates of creation science have campaigned to have their Biblical version of creation taught as science in U.S. public schools. One of their successes was in the state of Arkansas, which passed a law requiring the teaching of creationism in public schools. This accomplishment may seem significant but it must be remembered that until 1968 it was illegal to teach evolution in Arkansas! In 1981, however, the law was ruled unconstitutional by a federal judge who declared creationism to be religious in nature (McLean v. Arkansas). A similar Louisiana law was overturned by the United States Supreme Court in 1987 (Edwards v. Aguillard). In 1994, the Tangipahoa Parish school district passed a law, under the guise of promoting “critical thinking,” requiring teachers to read aloud a disclaimer before they taught evolution. This dishonest ruse was thrown out by the 5th Circuit Court of Appeals in 1999. Another tactic was tried by creationist biology teacher John Peloza in 1994. He sued his school district for forcing him to teach the “religion of evolutionism.” He lost and the 9th Circuit Court of Appeals ruled that there is no such religion. In 1990 the Seventh Circuit Court of Appeals ruled that school districts may forbid the teaching of creationism since it is a form of religious advocacy (Webster v. New Lenox School District). Many religious leaders support this ruling. They recognize that allowing school districts to teach creationism is to favor one group’s religious views over the religious views of others and has nothing to do with critical thinking or fairness in the science curriculum.

Creation scientists may have failed in their attempts to have evolution banned from the classroom and to have creationism taught alongside evolution. However, politically active creationists have not given up; they have just changed tactics. Creationists have been encouraged to run for local school boards to try to gain control of the teaching of evolution that way. School boards can determine what texts the schools may and may not use. Creationists who complain to school boards about the teaching of evolution are more likely to be successful in their efforts at censoring science texts if the school board has several creationists.

In Alabama, biology textbooks carry a warning that says that evolution is “a controversial theory some scientists present as a scientific explanation for the origin of living things. . . .No one was present when life first appeared on earth. Therefore, any statement about life’s origins should be considered as theory, not fact.” In Alabama, it seems, if you wake up to snow on the ground, but no one saw it snowing, then you may only propose a "theory" as to the origin of the snow.

In August of 1999 the Kansas State Board of Education rejected evolution and the Big Bang theory as scientific principles. The 10-member board voted six to four to eliminate these topics from the science curricula. The Kansas Board did not ban the teaching of evolution or of the Big Bang theory. The Board simply deleted any mention of evolution and the Big Bang theory from the science curriculum and from the materials used to test graduating students. Creationists, such as Board Member Steve Abrams, a former head of the state Republican Party, hailed the decision as a victory in the war against evolutionists. A new Board restored the scientific theories to their previous place in February 2001. Creationists want children to believe that God made them and every other species individually for a purpose. They do not want children to think that a divine power might be behind the Big Bang or evolution of species.

The main political organization of creationists, the Discovery Institute, which masquerades as an educational institution, has tried another tactic: it called creationism "intelligent design" and declared it was a scientific theory that is a worthy, but blackballed, alternative to natural selection. After its defeat in federal court in Dover, Pennsylvania, in 2005 where the local school board had mandated the teaching of intelligent design as an alternative to evolution, the Discovery Institute has supported so-called "academic freedom" legislation in several states. This is the creationists' latest ruse to get their religious beliefs taught in the public school science classroom. The only difference I can detect between this new onslaught of attempts to legislate religion and the kind of legislation passed in places like the Tangipahoa Parish school district that was ruled unconstitutional is that the proposed bills include other favored conservative political agenda items like global warming and cloning along with religious alternatives to evolution.

Nationwide, nearly half a dozen states are considering variants of such bills, some of which throw in the origin of life and climate change for good measure. Legislators in Florida recently introduced such a bill in response to new educational standards that were the first to formalize the teaching of evolution. Although two incompatible bills passed the state House and Senate, they died when the legislature went out of session; similar measures are still pending in other states. These bills appear to have originated at the pro-Intelligent Design think tank the Discovery Institute, and constitute part of its latest effort towards reducing the teaching of evolution in public schools.*

On June 26, 2008, the Louisiana Science Education Act (LSEA) was signed into law by Governor Bobby Jindal. Under the guise of academic freedom, the bill allows local school boards to approve supplemental classroom materials specifically for the critique of scientific theories such as evolution.

The text of the LSEA suggests that it's intended to foster critical thinking, calling on the state Board of Education to "assist teachers, principals, and other school administrators to create and foster an environment within public elementary and secondary schools that promotes critical thinking skills, logical analysis, and open and objective discussion of scientific theories." Unfortunately, it's remarkably selective in its suggestion of topics that need critical thinking, as it cites scientific subjects "including, but not limited to, evolution, the origins of life, global warming, and human cloning."*

It is likely, but not a foregone conclusion, that courts will see through this guise. The purpose is not to encourage critical thinking, as the legislation asserts, but to promote favored ideas.

evil Darwinism

At the same time that militant creationists are trying to censor textbooks that treat evolution properly, they complain of censorship against creationist works.* This tactic of fighting fire with fire has led creationist Jerry Bergman to argue that evolution (unlike Genesis?) teaches that women are inferior to men. The goal of militant creationists is to debunk evolution wherever possible, not to forward scientific knowledge. (See Revolution Against Evolution.) One of their favorite tactics is to blame all sin and crime on lack of proper Bible study and the teaching of “godless” theories such as evolution and the Big Bang theory. Marc Looy of the group Answers in Genesis says that the 1999 Kansas vote was important because

students in public schools are being taught that evolution is a fact, that they're just products of survival of the fittest. . . .It creates a sense of purposelessness and hopelessness, which I think leads to things like pain, murder, and suicide.

That there is no scientific evidence to support these claims is a matter of indifference to those who believe them. When science does not support their beliefs, they attack science as the handmaiden of Satan. I wonder what Mr. Looy has to say about Christian Identity (Buford Furrow Jr.) or Erich Rudolph or Operation Rescue (Randall Terry) and other Bible-loving groups that preach hatred and inspire violence and murder. What would he say about Matthew and Tyler Williams who, in the words of their mother, "took out two homos" because that's what God's law [Leviticus 20:13] demands? (Sacramento Bee, "Expert: Racists often use Bible to justify attacks," by Gary Delsohn and Sam Stanton, Sept. 23, 1999.) These killers have certainly found a purposeful existence, but there is clearly no connection between purposefulness and the end of pain, murder, or suicide. Had more people been forced to read Biblical quotations on their schoolroom walls or in their textbooks, for all we know, there would be more, not less pain, murder, and violence.

The desperation of many creationists is evident from the fact that despite numerous corrections by evolutionists, they still try to get the public to identify evolution with Social Darwinism. This straw man tactic is common and is exemplified in the following letter to the Sacramento Bee. The letter was in response to an article on an expert who claims that racists often use the Bible to justify their hate.

It is Darwinian evolution, not holy Scripture, that justifies racism.... evolution teaches survival of the fittest, including (as Hitler recognized) survival of the fittest "branch" of the human family tree. Genuine evolution has no place for true equality. This same evolutionist thinking underlies the hatred that racist groups display toward homosexuals. They view homosexuals as defective and thus inferior. (-------10/3/99)

The view that Darwin’s theory of natural selection implies racism or inequality is a claim made by one either ignorant of Darwin's theory or by one who knows the truth and thinks a lie spread in the name of religion is a morally justified lie. (For those who think otherwise, I refer you to my response to comments from someone who thinks Darwin's views are racist.)

militant creationism evolves

The creation science folks accept microevolution but not macroevolution. This allows them to account for development and changes within species without requiring them to accept the concept of natural selection.

Macroevolution is the direct attempt to explain the origin of life from molecules to man in purely naturalistic terms. In doing so, it is an affront to Christians because it deliberately tries to get rid of God as the creator of life. The idea that man is a result of millions of happy accidents that mutated their way from slime through the food chain to monkeys should be offensive to every thinking person (Sharp).*

What should be an affront to many Christians and non-Christian creationists is the insinuation that if one does not adhere to this Christian’s interpretation of the Bible, one is offending God. Many creationists believe that God is behind the beautiful unfolding of evolution (Haught).* There is no contradiction in believing that what appears to be a mechanical, purposeless process from the human perspective, can be teleological and divinely controlled. Natural selection does not require that one “get rid of God as the creator of life” any more than heliocentrism requires one to get rid of God as the creator of the heavens.

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
heinskle
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 326
Join date : 04.12.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   6th December 2011, 00:50

marmut wrote:

Sebagian besar umat beragama tentu saja percaya, bahwa Tuhan itu ada, Dia lah pencipta seluruh jagad raya ini. Sebagai umat Kristen berpegang pada Alkitab, sebagai umat Islam berpegang pada Alquran.

Bagaimana jika pertanyaan tentang keberadaan Tuhan ditanyakan oleh orang atheist? Tentu saja sebagai orang Kristen, anda tidak bisa menggunakan Alkitab, karena atheist tidak percaya Alkitab. Begitu juga sebagai Muslim, anda tidak bisa berpegang pada Alquran, karena atheist tidak percaya pada Alquran.

Nah, ada yang bisa membantu menjelaskan pada orang atheist? Bagaimana membuktikan keberadaan Tuhan yang kita sembah itu?

bounce bounce bounce bounce

Athies selalu berpikir dan berbicara berdasarkan logika.
Jika kita hendak bersaksi kepada mereka, jgn gunakan kitab suci manapun, krn bagi mereka itu hanyalah dongeng belaka.
tetapi gunakanlah pertanyaan berlogika secara technologie.
Sikap dan tingkah laku andalah yg akan bersaksi kepada mereka bahwa Allah itu ada dan berbeda sprt yg mereka artikan.

Ini hanya contoh pendekatan:

Tanyakan saja pada mereka,
Kenapa mobil / kereta dll. dapat bergerak maju?
Jika dijawab, karena memiliki motor yang bekerja sbg tenaga pendorong.
Tanyakan lagi, yg menggerakan motor tsb sebenarnya apa?
si-Athies akan menceritakan process kerja mechanical motor tersebut.
Apa bahan / bahan bakarnya yg membuat motor itu bergerak?
Dia akan menjawab bahan bakar gasolin dll.
Apakah motor dan manusia / hewan sama?
Jika dia bilang sama, dimanakah letak motor didalam tubuh manusia ? maka dia akan berpikir panjang.
dia akan menceritakan process dan kinerja jantung dan organ tubuh lainnya.
Jika organ tubuh tsb tidak berfungsi alias mati, apa yg harus kita lakukan?
Dia akan menjawab selesailah hidup manusia tsb, dan ditanam.
Tanyakan kembali, apakah tidak ada bengkel yg dapat berupaya menghidupkan kembali.
Dia akan menjawab tidak. Lalu kenapa bayi yang baru lahir bisa hidup / ada kehidupan ?
Dari mana datangnya kehidupan itu? dia tidak akan bisa /tidak akan mau menjawab karena mereka tidak mengenal dan tidak percaya Allah.

Pertanyaan jangan diteruskan, akan menimbulkan perdebatan, biarkan dia berpikir dan berikan kesempatan kepada Roh Kudus utk melakukan tugasnya. Penampilan anda adalah surat2 Kristus yg nyata yg dapat dibaca oleh mereka.

Selamat melayani. GBU.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   6th December 2011, 08:21

heinskle wrote:
marmut wrote:

Sebagian besar umat beragama tentu saja percaya, bahwa Tuhan itu ada, Dia lah pencipta seluruh jagad raya ini. Sebagai umat Kristen berpegang pada Alkitab, sebagai umat Islam berpegang pada Alquran.

Bagaimana jika pertanyaan tentang keberadaan Tuhan ditanyakan oleh orang atheist? Tentu saja sebagai orang Kristen, anda tidak bisa menggunakan Alkitab, karena atheist tidak percaya Alkitab. Begitu juga sebagai Muslim, anda tidak bisa berpegang pada Alquran, karena atheist tidak percaya pada Alquran.

Nah, ada yang bisa membantu menjelaskan pada orang atheist? Bagaimana membuktikan keberadaan Tuhan yang kita sembah itu?

bounce bounce bounce bounce

Athies selalu berpikir dan berbicara berdasarkan logika.
Jika kita hendak bersaksi kepada mereka, jgn gunakan kitab suci manapun, krn bagi mereka itu hanyalah dongeng belaka.
tetapi gunakanlah pertanyaan berlogika secara technologie.
Sikap dan tingkah laku andalah yg akan bersaksi kepada mereka bahwa Allah itu ada dan berbeda sprt yg mereka artikan.

Ini hanya contoh pendekatan:

Tanyakan saja pada mereka,
Kenapa mobil / kereta dll. dapat bergerak maju?
Jika dijawab, karena memiliki motor yang bekerja sbg tenaga pendorong.
Tanyakan lagi, yg menggerakan motor tsb sebenarnya apa?
si-Athies akan menceritakan process kerja mechanical motor tersebut.
Apa bahan / bahan bakarnya yg membuat motor itu bergerak?
Dia akan menjawab bahan bakar gasolin dll.
Apakah motor dan manusia / hewan sama?
Jika dia bilang sama, dimanakah letak motor didalam tubuh manusia ? maka dia akan berpikir panjang.
dia akan menceritakan process dan kinerja jantung dan organ tubuh lainnya.
Jika organ tubuh tsb tidak berfungsi alias mati, apa yg harus kita lakukan?
Dia akan menjawab selesailah hidup manusia tsb, dan ditanam.
Tanyakan kembali, apakah tidak ada bengkel yg dapat berupaya menghidupkan kembali.
Dia akan menjawab tidak. Lalu kenapa bayi yang baru lahir bisa hidup / ada kehidupan ?
Dari mana datangnya kehidupan itu? dia tidak akan bisa /tidak akan mau menjawab karena mereka tidak mengenal dan tidak percaya Allah.

Pertanyaan jangan diteruskan, akan menimbulkan perdebatan, biarkan dia berpikir dan berikan kesempatan kepada Roh Kudus utk melakukan tugasnya. Penampilan anda adalah surat2 Kristus yg nyata yg dapat dibaca oleh mereka.

Selamat melayani. GBU.

Argumen yang baik sekali bro, juga caranya.

Saya tambahkan sedikit dari Thomas Aquinas.

Membuktikan keberadaan Tuhan dengan dasar filosofi dari St. Thomas Aquinas.
Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana dengan menggunakan akal budi – melalui pendekatan filosofi – dapat ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan kepada Tuhan yang satu adalah kepercayaan yang sangat logis. Sebaliknya, kalau seseorang tidak percaya akan Tuhan yang satu, bisa dibilang bahwa itu melawan akal budi. Tidak ada pertentangan antara iman dan akal budi. Teologi sendiri dapat didefinisikan sebagai “iman yang mencari pengertian atau faith seeking understanding.” Paus Yohanes Paulus II berkata “akal budi dan iman adalah seperti dua sayap dimana roh manusia naik untuk mencapai kontemplasi kebenaran.” Akal budi ini sudah menjadi bagian integral manusia, yang mempunyai kapasitas untuk menginginkan pencapaian suatu kebenaran. Untuk membuktikan kebenaran akan eksistensi dari Tuhan, maka St. Thomas Aquinas di dalam bukunya “Summa Theology,” memberikan lima metode, yang terdiri dari: 1) prinsip pergerakan, 2) prinsip sebab akibat, 3) ketidakkekalan dan kekekalan, 4) derajat kesempurnaan, dan 5) desain dunia ini.

Bukti 1: Prinsip pergerakan.
Mari sekarang kita meneliti pembuktian pertama, yaitu dari pergerakan. St. Thomas mengambil contoh dari pergerakan, karena pergerakan terjadi dimana saja, kapan saja, dan bisa diamati dalam kejadian sehari-hari. Sebagai contoh, pada waktu mobil saya mogok, tetap bisa bergerak karena mobil saya ditarik oleh mobil derek. Namun mobil derek ini bisa bergerak karena adanya koordinasi sistem mesin yang begitu rumit. Walaupun demikian, mobil tidak akan bergerak, kalau tidak ada tangan manusia yang memasukkan kunci dan “menstarter” mobil itu. Tangan digerakkan oleh sistem kerja tubuh yang melibatkan miliaran sel, dimana dikoordinasikan oleh otak. Namun siapa yang menggerakkan otak? Karena ada kehidupan, ada jiwa yang tinggal di dalam tubuh manusia. Siapa yang membuat kehidupan dan jiwa tetap bertahan… dan seterusnya, sampai ada suatu titik, kita dapat mengambil kesimpulan ada “unmoved mover” atau penggerak yang tidak digerakkan oleh yang lain, karena Dia adalah sumber dari pergerakan itu. Sumber pergerakan inilah yang dinamakan “Tuhan”.

Bukti 2: Prinsip sebab akibat.
Pembuktian ke dua adalah dari “Prinsip sebab akibat.” Semua orang di dunia ini tahu kalau sesuatu terjadi dikarenakan oleh sesuatu. Prinsip ini begitu sederhana, sehingga bayipun dapat menerapkan prinsip ini. Bayi tahu kalau dia lapar, maka dia akan menangis. Dia tahu bahwa tangisannya akan menyebabkan ibunya datang dan kemudian menyusui dia. Ibu ini mau menyusui anaknya, walaupun kadang terjadi pagi-pagi buta, karena dia menyayangi anaknya. Dia sayang, karena anak itu lahir dari rahimnya, dan terjadi karena buah kasih sayang dengan suaminya. Komitmen untuk membentuk rumah tangga dikarenakan keinginan untuk mendapatkan kebahagian. Dan kebahagiaan, kalau ditelusuri terus-menerus akan sampai pada suatu titik, yang disebabkan oleh “uncaused cause” atau penyebab yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Sumber dari penyebab inilah yang disebut orang “Tuhan“.
Dari pembuktian pertama dan kedua, orang bisa mengatakan bahwa “tapi sesuatu bisa terjadi tanpa batas“. Namun keberatan ini dapat disanggah dengan membagi semua pergerakan dan semua sebab akibat menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah “saat ini (current movement/change).” Bagian ke dua adalah deretan yang terhingga dari gerak dan sebab, atau yang disebut “bagian tengah / inter-mediate cause(s)“. Dan kemudian bagian yang terakhir adalah “bagian awal / first mover / causel“. Nah, bagian awal inilah yang disebut “Tuhan, Sang Alfa.”

Bukti 3: Dari prinsip ketidakkekalan dan kekekalan.
Kemudian pembuktian yang ketiga adalah “dari mahluk yang bersifat sementara (contingent beings) dan yang kekal (necessary beings)“. Di dunia ini, tidak mungkin semuanya bersifat sementara, karena kalau demikian maka ada suatu waktu semuanya akan lenyap. Bayangkan orang tua kita cuma hidup sekitar 80 tahun. Terus kakek kita mungkin 90 tahun. Kakek dari kakek kita mungkin 100 tahun. Mau berapa panjang usia nenek moyang kita, mereka toh pada akhirnya telah meninggal. Jika ditelusuri terus, maka garis keturunan kita akan sampai pada manusia pertama. Pertanyaannya adalah, bagaimana manusia pertama itu bisa ada dan hidup? Tidak mungkin dia terjadi begitu saja dari ketidak-adaan. Sebab sesuatu yang tidak ada tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang ada/nyata. Jadi disimpulkan bahwa kalau semua mahluk tidak kekal, maka harus ada “Mahluk lain” yang keberadaannya kekal dan tidak mungkin hilang. KekekalanNya membuat mahluk yang tidak kekal terus bertahan dan memenuhi bumi, sehingga kehidupan tidak punah. Kekekalan yang tidak disebabkan oleh yang lain inilah yang disebut “Tuhan, Sang Kekal.”

Bukti 4: Derajat kesempurnaan.
Pembuktian ke empat adalah dari sisi “derajat kesempurnaan.” Kalau kita amati, semua yang ada di dunia ini ada tingkatannya. Ada yang miskin, kaya, konglomerat. Kasih, kebajikan, kebaikan, keindahan, kebenaran, semuanya ada tingkatannya. Peribahasa “kasih anak sepanjang galah dan kasih ibu sepanjang jalan,” secara tidak langung menunjukkan ada tingkatan dan derajat kasih. Jadi, kalau semua ada tingkatannya, tentu ada yang paling tinggi tingkat kesempurnaanya. Jadi, semua tingkatan berpartisipasi dalam sesuatu yang tingkatannya paling tinggi. Sebagai contoh, kalau kita menaruh besi di dalam api, maka besi itu menjadi panas. Namun panasnya besi bukan karena akibat dari besi itu sendiri, melainkan karena partisipasi besi itu dalam api.
Contoh di atas membuka suatu prinsip yang sangat penting, yaitu “seseorang atau sesuatu tidak dapat memberi apa yang dia tidak punya.” Air dingin tidak bisa membuat besi menjadi panas, karena air dingin tidak mempunyai sifat panas. Semua yang ada di dunia ini tidaklah sempurna, namun semuanya ada karena partisipasi dalam sesuatu yang tingkatannya paling tinggi, dan yang tingkatannya paling tinggi inilah yang di sebut “Tuhan, Sang Maha Sempurna.”

Bukti 5: Dari desain dunia ini dan tujuan akhir.
Pembuktian yang terakhir adalah dari sisi “desain dunia ini dan tujuan akhir“. Ini adalah sesuatu yang dapat dibuktikan di dalam hidup kita sehari-hari. Kita setiap hari melihat jalan setapak, jalan raya, dan juga jalan layang. Apakah mungkin kalau kita mengatakan bahwa jalan itu memang ada dengan sendirinya, tanpa ada yang mendesain dan membangun. Bagaimana dengan desain rumah, desain tata kota, dll. Semua terjadi karena ada yang mendesain dan tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Kalau kita percaya bahwa rumah kita tidak terjadi dengan sendirinya, namun didesain oleh diri sendiri atau seorang arsitek, apakah kita dapat menyangkal bumi ini, sistem grafitasi, dan juga sistem tata surya terjadi dengan sendirinya? Apakah mungkin kita berpendapat bahwa pergerakan planet-planet dan bintang-bintang, yang semuanya berjalan dengan keharmonisan tertentu dikarenakan karena faktor kebetulan? Desain alam semesta ini jauh lebih rumit daripada desain rumah kita. Kalau kita percaya akan arsitek yang mendesain rumah kita, maka kita harus percaya bahwa ada arsitek tata surya ini, yaitu Tuhan. Kalau kita lebih percaya bahwa semuanya terjadi secara kebetulan, maka ini adalah argumen yang tidak mungkin, karena kemungkinan bahwa semua itu terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur adalah bisa dibilang “tidak mungkin.” Sama halnya seperti kalau kita bilang bahwa rumah saya terjadi secara kebetulan tanpa ada yang merencanakan dan menbangunnya.

Bagaimana dengan mahluk yang tidak berakal budi, seperti tumbuhan dan binatang. Mereka mempunyai suatu pola dalam hidup mereka. Siapa yang mengatur kehidupan mereka? Hukum alam? Namun siapa yang mengatur hukum alam? Hanya mahluk rasional yang mungkin mengatur sesuatu yang punya aturan tertentu dan menuju ke suatu tujuan tertentu.
Contoh lain adalah gravitasi bumi, dan pergerakan tata surya yang mempunyai nilai tertentu dan tetap sepanjang sejarah. Jika nilai- nilai tersebut berubah sedikit saja, maka kacaulah segala planet di tata surya ini. Maka jelaslah bahwa semua yang bergerak dan beroperasi menurut urutan tertentu akan bergerak untuk mencapai tujuan akhir. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada “Mahluk Rasional” yang memelihara dan mengarahkan semua yang ada di alam ini ke tujuan akhir. Inilah yang disebut “Tuhan, Sang Omega.” Dengan demikian lebih logis dan lebih mungkin, kalau kita percaya bahwa ada sesuatu yang mengatur sistem alam semesta, yaitu Tuhan Sang Pencipta.
Kemudian, variasi dari demonstrasi ke lima ini adalah dari sisi “aturan moral.” Kalau di atas kita melihat bagaimana Tuhan mengatur mahluk yang tidak berakal budi dengan “hukum alam“, maka berikut ini adalah demontrasi yang menunjukkan bahwa Tuhan juga mengatur mahluk yang berakal budi, yaitu manusia melalui “hukum moral.” Kalau kita teliti lebih jauh, manusia dengan latar belakang, kebangsaan, suku, ras yang berbeda, diatur oleh suatu hukum yang dinamakan hukum moral yang secara alami tertulis di dalam hati nurani manusia. Hukum moral inilah yang membuat manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang jahat. Hukum ini bersifat obyektif, dan mengikat manusia secara universal. Kita bisa melihat bagaimana aturan baku di semua negara: anak harus menghormati orang tua, seorang ibu mengasihi anaknya, seseorang akan merasa tidak enak hati kalau membalas kebaikan dengan kejahatan, dll. Kalau orang melawan hukum universal ini, maka dia sebenarnya melawan hati nuraninya sendiri.
Kata “hukum atau aturan” pada dasarnya adalah sesuatu yang terjadi karena tuntutan akal (dictate of reason) yang dibuat untuk kepentingan umum oleh seseorang yang mempunyai otoritas. Misalnya, kalau peraturan lalu lintas adalah peraturan dengan alasan yang logis untuk keselamatan pengendara, yang dibuat oleh pihak kepolisian lalu lintas. Dengan menerapkan prinsip “sebab akibat“, kita tahu bahwa hukum moral yang tertulis di setiap hati nurani manusia tidaklah terjadi dengan sendirinya, namun diberikan oleh Sang Pemberi Hukum yaitu: “Tuhan, Sang Maha Adil.” Jadi hukum moral ini juga dapat membuktikan keberadaan Tuhan, yang memberikan aturan yang tertulis di dalam hati manusia untuk kepentingan umum.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   19th January 2012, 18:17

Berat. Trit ini berat bagi saya.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?   Today at 02:18

Kembali Ke Atas Go down
 
Bagaimana umat beragama membuktikan bahwa Tuhan itu ada?
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 2 dari 2Pilih halaman : Previous  1, 2
 Similar topics
-
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» [Tantangan] Hanya 5% orang yg bisa melakukan ini "bagaimana dgn detektif?"
» Test Otak & Mata Anda
» Song of The Day
» mintol lagi dong!

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Ruang Antar Kristen (Khusus Penganut Kristen Trinitarian) :: Diskusi Umum Kristen-
Navigasi: