Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   5th June 2011, 16:44

Quote :
Puisi Paskah | Ulil Ashar Abdalla



Ia yg rebah, di pangkuan perawan suci, bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yg lemah, menghidupkan harapan yg nyaris punah.
Ia yang maha lemah, jasadnya menanggungkan derita kita.
Ia yang maha lemah, deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi, setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci, terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!

Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.
Saat aku jumawa dengan imanku, tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu, terus mengingatkanku:
Bahkan Ia pun menderita, bersama yang nista.

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu –
mereka semua guru-guruku, yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.
Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah, jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!

Tubuh yang mengucur darah di kayu itu, bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta, untuk mereka yang disesatkan dan dinista.
Penderitaan kadang mengajarmu tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci, kerap membuatmu merasa paling suci.

Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku.
Ia telah menebusku dari iman yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!
Semoga Semua Hidup Berbahagia dalam kasih Tuhan.


Test, test, test, satu, dua, dicoba. Ini copas dari:
[You must be registered and logged in to see this link.]

Uh... sulit menerapkan ilmumu Bruce. Percobaanku, ya begini jadinya.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   5th June 2011, 17:01

Waduh, emang sulit untuk tidak kagum kepada sosok Ulil ini. Luar biasa, dan sungguh pantas untuk dihormati.

Dan tentu saja dengan puisinya tersebut, tak heranlah jika ada 'muslim' (yang mengaku muslim) yang menghalalkan darahnya untuk ditumpahkan.

Sad
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   5th June 2011, 17:09

Ngomong-ngomong, cocok nggak penempatannya di Obrolan Bebas? Wong saya baru mulai new topic, tapi masih gamang sebagai TS. Bruce yang lanjutin ya? Hehhehheee... istilahnya lempar batu sembunyi tangan.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   5th June 2011, 17:14

Dan ini adalah komentar Ulil terhadap situs FFI, yang sepertinya sangat cocok dengan pendapat saya pribadi.

Quote :
Tentang situs Faithfreedom: Surat kepada seorang teman
Ulil Abshar-Abdalla on December 6th, 2008

[Catatan: "Note" ini saya tulis untuk seorang kawan di Facebook yang menulis surat pribadi ke saya tentang kegundahannya karena membaca sejumlah bahan-bahan dalam situs Faithfreedom. Semoga catatan ini bermanfaat untuk teman-teman yang lain].

SECARA pribadi, saya kerapkali menerima email-email yang isinya menyerang Islam dan bahan-bahannya, antara lain, diambil dari situs yang terkenal, “Faithfreedom”. Situs ini dikelola oleh seorang ex-Muslim bernama Ali Sina.

Menurut saya, Ali Sina, dalam beberapa hal, sama persis dengan Hj. Irena Handono, seorang yang konon mantan biarawati dan kemudian masuk Islam. Keduanya sama-sama meninggalkan agama yang mereka peluk, Islam dalam kasus Ali Sina dan Katolik dalam kasus Irena. Keduanya sama-sama menjelek-jelakkan “bekas agama” yang pernah mereka peluk. Perbedaannya, Ali Sina keluar dari Islam untuk kemudian menjadi agnostik, alias tak memeluk agama lain. Sementara, Irena meninggalkan Katolik untuk memeluk agama lain, yaitu Islam.

Sikap kedua orang ini sama sekali kurang saya sepakati. Saya tentu menghormati sikap seseorang yang pada tahap tertentu dalam hidupnya merasa tidak puas pada agama “warisan” yang ia peroleh dari keluarganya untuk kemudian meninggalkannya sama sekali; entah meninggalkan agama itu untuk memeluk agama baru yang lain, atau meninggalkan agama sama sekali. Itu adalah bagian dari kebebasan agama yang harus kita hormati pada masing-masing orang. Tetapi menjelek-jelekkan agama yang pernah anda peluk, tentu tak etis, sama tak etisnya dengan anda pindah kerja dari sebuah kantor ke kantor lain, seraya menjelek-jelekkan kantor sebelumnya.

Saya termasuk orang yang tak suka pada semangat di balik situs faithfreedom. Situs ini, menurut saya, secara tersembunyi ingin “menyerang Islam” dengan tujuan untuk mempromosikan agama Kristen, walaupun hal ini dilakukan secara tidak terang-terangan. Cara seperti ini sama dengan yang dilakukan oleh kelompok Islam apologetik atau fundamentalis yang juga gemar menyerang dan mencari segala kejelekan agama lain, terutama Kristen, seraya ingin mempromosikan Islam sebagai agama terbaik.

Kalau anda mencari kejelekan agama, maka anda dengan mudah bisa menjumpainya. Semua agama mengandung kelemahannya masing-masing. Saya tak pernah setuju dengan siapapun yang mengatakan bahwa agama yang ia peluk adalah terbaik secara mutlak. Menurut saya, pandangan seperti itu tidak tepat. Kalau kita mau jujur, ada banyak kelemahan dalam semua agama: Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konghucu, Taoisme, Zen, Sikh, Jain, Zoroastrianisme, dll. Tetapi setiap agama juga memiliki kelebihannya masing-masing. Saya menyukai metafor dalam dunia tasawwuf atau mistik: kebenaran adalah seperti cermin yang retak; masing-masing agama memungut secuil dari pecahan cermin itu.

Kalau pengelola situs faithfreedom ingin menunjukkan kelemahan Islam, antara lain melalui orang-orang eks-Muslim, dan sekaligus secara sembunyi-sembunyi ingin menunjukkan bahwa Kristen adalah terbaik, maka mereka jelas salah sekali. Kita bisa menemukan kelemahan yang sama dalam Kristen. Kritik yang keras pada sejumlah kelemahan Kristen sudah terlalu banyak ditulis oleh sejumlah kalangan, mulai dari para filosof, saintis, sampai orang-orang biasa, bahkan kalangan “dalam” Kristen sendiri.

Sekali lagi, kalau anda mau mencari kelemahan suatu agama, anda akan dengan mudah bisa melakukannya. Sebagian orang Kristen mungkin saja gembira sekali membaca bahan-bahan dalam situs faithfreedom itu, sebab bisa dipakai sebagai alat menyerang agama Islam. Begitu juga orang Islam akan gembira membaca serangan-serangan terhadap agama Kristen yang ditulis oleh para sarjana Barat misalnya. Banyak kalangan penulis Muslim yang gemar sekali mengutip sejumlah kritik terhadap agama Kristen yang dilakukan oleh sarjana Barat yang sebagian juga seorang Kristeb. Mereka seolah-olah hendak berkata, “Lihat saja, orang Kristen saja mengakui kelemahan agama itu.”

Kalau kita mau memahami agama secara baik, maka cara seperti itu tidak terlalu banyak gunanya. Yang timbul dari sana hanya saling cerca dan ejek. Yang ingin saya kembangkan pada kalangan Islam adalah kesadaran positif bahwa masing-masing pihak harus sadar akan kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Sikap semacam ini juga relevan dikembangkan dalam semua agama.

BAGAIMANA kita menanggapi kritik-kritik terhadap Islam seperti dilakukan oleh orang-orang semacam Ali Sina yang tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam situs faithfreedom itu?
Walaupun saya tidak sepakat dengan semangat di balik situs faithfreedom, saya kadang-kadang membaca secara sekilas beberapa artikel yang ditulis oleh Ali Sina dan kawan-kawan. Kritik-kritik mereka terhadap Islam, dalam banyak hal, bermanfaat, terutama untuk mengimbangi sejumlah kleim kalangan Islam yang kadang-kadang agak “kebablasan”.
Kenapa saya tidak sepakat dengan semangat situs itu? Sebab situs itu mengajak umat Islam untuk keluar dari Islam dengan alasan bahwa Islam adalah agama yang sangat jahat dan buruk sekali. Sekali lagi saya katakan bahwa kalau kita mencari keburukan setiap agama, tentu saja ada saja celah-celahnya. Kita semua tahu, semua agama yang ada sekarang ini, lahir dari zaman pra-modern. Tidak mengherankan jika agama-agama yang ada itu mengandung banyak “kelemahan” dilihat dari sudut pandang kesadaran modern.
Tetapi jika kaca-mata seperti itu yang kita pakai, maka kita harus mengatakan bahwa sebaiknya semua orang harus meninggalkan semua agama, sebab pada semua agama itu akan kita jumpai banyak cacat dan kelemahan dilihat dari sudut pandang sensitifitas modern. Tentu saja, seseorang boleh saja mengambil kesimpulan seperti itu dan mengajak agar semua orang menjauhi agama. Di Barat saat ini sedang marak kecenderungan yang disebut “new atheism” yang memandang semua agama adalah jahat dan jelek. Para penggagas gerakan ini mengkritik semua agama tanpa pandang bulu, terutama Yahudi, Kristen dan Islam. Semua kejelekan agama dibongkar habis.

Contoh yang sangat baik adalah fakta tentang Nabi Muhammad yang mengawini Aisyah pada umur 9 tahun. Meskipun ada kalangan Islam apologetik yang mengingkari fakta itu, tetapi sumber-sumber Islam sendiri jelas mengakui kebenaran fakta tersebut. Apakah dengan demikian Nabi bisa kita sebut melakukan kejahatan pedofilia?

Dalam standar modern, jelas tindakan Nabi seperti itu bisa tampak janggal dan tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang nabi melakukan tindakan seperti itu?

Saya sebagai seorang Muslim akan mencoba menafsirkan fakta itu sebagai berikut. Saya berpandangan sejak awal bahwa tidak semua tindakan Nabi tepat untuk ditiru “mentah-mentah” dalam konteks sekarang, sebab kesadaran manusia terus berkembang, dan karena itu kesadaran mereka mengenai “yang baik” dan “yang buruk” juga ikut berubah. Pada zaman Nabi, praktek menikahi gadis di bawah umur boleh jadi tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk dan tak pantas. Tetapi, zaman berubah, dan kita sekarang memandang tindakan seperti itu sudah tak pantas lagi ditiru secara harafiah.

Tetapi juga tidak seluruhnya tepat menghakimi Nabi berdasarkan standar modern. Sebab, jika hal itu kita lakukan, maka semua agama bisa kita anggap mengandung cacat. Itu adalah sejenis anakronisme.

Situs faithfreedom menurut saya seperti seorang yang menulis biografi seseorang, tetapi dengan semata-mata menyorot aspek keburukan orang itu, tanpa menyinggung sedikitpun kebaikan orang tersebut. Membaca bahan-bahan dalam faithfreedom memberi kesan bahwa Islam seolah-olah agama yang seluruhnya buruk dan tak menyumbangkan kebaikan apapun pada peradaban manusia.

Anda bisa melakukan hal yang sama seperti ditempuh oleh situs faithfreedom itu kepada semua agama. Anda bisa saja menulis sebuah buku khusus untuk mengorek-ngorek kesalahan Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dst. Anda bisa menulis buku seperti itu dan mengesankan bahwa agama-agama itu sama sekali tak mengandung kebaikan apapun, bahwa agama-agama itu seluruhnya jelek.

Sekali lagi, cara seperti ini sama sekali tidak tepat dan hanya akan menimbulkan sikap fobia, rasialisme, dan kebencian antar golongan.

Dengan mengatakan itu semua, bukan berarti saya ingin agar kita semua diam tak usah mengkritik agama apapun. Sikap terakhir ini juga tak tepat. Inilah sikap yang dalam konteks Amerika sekarang sering disebut sebagai “political correctness” atau “religious correctness“. Menurut saya, setiap agama bisa dikritik dan seharusnya memang dikritik secara terus-menerus. Tetapi kritik di sini bukan dengan tujuan untuk mencari kejelekan semata-mata pada agama itu. Kritik di sini kita butuhkan untuk menyadarkan bahwa dalam agama yang kita peluk terdapat aspek-aspek yang lemah dan kita harus awas terhadap aspek itu agar tidak “lupa daratan”.

Saya selama ini melakukan kritik terhadap sejumlah doktrin dan penafsiran dalam agama Islam, tetapi saya tidak kehilangan iman dan kepercayaan pada agama saya.
Kekeliruan umat bergama selama ini adalah membayangkan bahwa agama haruslah sempurna seluruhnya dan tak mengandung cacat. Manakala ada pihak lain menunjukkan kelemahan agama itu, maka orang bersangkutan marah bukan main dan berusaha menolak sekeras-kerasnya adanya kelemahan itu. Ini sikap apologetik yang menurut saya tidak sehat.

Saya tidak pernah mempunyai bayangan seperti itu. Saya tidak membayangkan bahwa Islam harus seluruhnya sempurna dan tanpa cacat. Sebagai agama yang lahir pada zaman pra-modern, tentu Islam memiliki beberapa ajaran yang tak seluruhnya tepat dengan zaman sekarang. Oleh karena itu Islam harus ditafsirkan terus-menerus. Kritik terhadap sejumlah ajaran dalam Islam harus ditanggapi secara positif agar kita terus mencari rumusan yang tepat dengan konteks yang terus berubah.

Selama ini, saya sering mendapat email dan tanggapan yang dikirim secara pribadi ke saya. Banyak yang bertanya: kalau Sdr. Ulil mengkritik sejumlah doktrin dan ajaran dalam Islam, kenapa anda tidak pindah agama saja? Buat apa mengikuti sebuah agama yang anda anggap mengandung kelemahan? Kenapa tidak mencari agama yang lain saja?

Tanggapan saya?

Kalaupun saya pindah ke agama lain, situasi serupa akan saya hadapi juga. Setiap agama mengandung kelemahan, selain, tentu, kelebihan masing-masing. Kalau saya meninggalkan Islam dan memeliuk agama lain, saya akan memeluk agama yang akan memiliki kelemahan serupa.

Sikap yang terbaik, menurut saya, adalah bahwa setiap orang loyal pada agamanya masing-masing, mencoba memaksimalkan kebaikan-kebaikan yang ada pada masing-masing agama itu untuk membangun dunia yang lebih baik, seraya awas dan sadar pada kelemahan-kelemahan yang ada.

Saya tahu bahwa setiap umat beragama akan menganggap agamanya sebagai yang terbaik. Tak ada yang salah dalam sikap semacam itu, asal dalam proporsi yang wajar. Sikap seperti itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan mempunyai kecintaan yang mendalam pada agama yang dipeluknya itu.

Setiap orang tua tentu bisa dimaklumi jika beranggapan bahwa anaknya adalah anak terbaik, anak yang menakjubkan. Asal sikap semacam ini terjaga dalam “dosis” yang wajar, menurut saya sehat saja. Sudah seharusnya kita masing-masing sunguh-sungguh pada agama yang kita peluk, loyal pada agama itu, memperdalam komitmen kita padanya. Tetapi, kita juga tak boleh berlebihan. Kita harus jangan lupa bahwa agama yang kita cintai itu boleh jadi tidak sesempurna yang kita bayangkan. Oleh karena itu, kita harus membuka diri pada kritik.

Inilah sikap keislaman yang saya anut selama ini. Semoga surat saya ini bermanfaat.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   5th June 2011, 17:30

Dan ini komentar Ulil terhadap pelarangan penggunaan kata 'Allah' oleh umat agama lain selain Islam.

Quote :
Apakah istilah “Allah” hanya milik umat Islam saja?
Ulil Abshar-Abdalla on November 30th, 2008

SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata “Allah”.

Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk memakai kata “Allah”, sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam (Catatan: Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti itu?)

Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata “Allah”? Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?

Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan larangan tersebut.
Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.

Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan “orang dalam”, tentu berhak mengemukakan pandangan mengenainya.
Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya, sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.

Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, Dalalat al-Ha’irin (Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.

Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: Fi al-bad’i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard (baca Al-Kitab al-Muqaddas edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.

Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.

Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang “mutakallim” atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, “Al-Fikr al-Islami fi al-Radd ‘Ala al-Nashara“, 2007).

Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan “asli” milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain.

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang sama, yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, “The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature“, 2001).

Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang), saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka’bah), ruku’ (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.

Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah “asli” milik umat Islam, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah sama sekali.

JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari Malaysia itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah ini dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua hal itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.

Penegasan bahwa kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja adalah bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh “klik” tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat. Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan justifikasi pada perasaan terancam itu.

Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan “beda” jelas alamiah belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak masuk akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai istilah “Allah” adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.
Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad — apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang “lucu” dan ekstrem seperti itu benar-benar terjadi.

Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang negatif tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra negatif tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.

Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam, sementara mereka sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan tak masuk akal.[]
Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik ini. Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia itu.

Sekali lagi, Ulil membuktikan bahwa dirinya adalah seorang Muslim yang sangat layak dihormati, dia taat beragama, dia berpikiran sangat luas, punya pandangan yang jauh melampaui rata rata umat Muslim. Walau harus saya akui, kalau dalam dunia martketing, maka Ulil ini adalah seorang lawan/pesaing yang sangat berbahaya. Karena dengan cara 'pemasaran' yang sangat baik seperti ini, 'penjualan' nya akan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.

Untunglah, belum banyak umat musim yang menyadari, bahwa justru orang orang sejenis Ulil inilah yang dapat meningkatkan citra dan penyebaran Islam secara luar biasa.

Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   5th June 2011, 19:40

bruce wrote:
Sekali lagi, Ulil membuktikan bahwa dirinya adalah seorang Muslim yang sangat layak dihormati, dia taat beragama, dia berpikiran sangat luas, punya pandangan yang jauh melampaui rata rata umat Muslim. Walau harus saya akui, kalau dalam dunia martketing, maka Ulil ini adalah seorang lawan/pesaing yang sangat berbahaya. Karena dengan cara 'pemasaran' yang sangat baik seperti ini, 'penjualan' nya akan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.

Untunglah, belum banyak umat musim yang menyadari, bahwa justru orang orang sejenis Ulil inilah yang dapat meningkatkan citra dan penyebaran Islam secara luar biasa.

pointing Ini kalimat marketer sejati. pointing Kelihatannya Bruce mengutamakan 'penjualnya' daripada 'apa yang dijual'. Kupikir, selaku Islam (yang berserah pada Tuhan) sejati, si 'penjual' harus lebih mengutamakan 'apa yang dijual'. pointing Atau, saya salah?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   5th June 2011, 20:52

Seorang 'marketer' sejati, bisa menjual produk apapun bro.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   6th June 2011, 10:04


Dan ini komentar ringan tentang pengalaman Ulil dalam ber sholat Jumat di beberapa masjid di Jakarta.

Quote :
Di sela-sela jamaah yang berhamburan keluar masjid itu, tentu selalu akan kita lihat pemandangan yang khas pada semua masjd di Jakarta, yaitu orang-orang yang mencari sekedar derma dari jamaah, atau panitia pembangunan masjid atau musalla yang mengedarkan proposal permintaan dana.

Pasar tiban semacam ini kita jumpai pula di sejumlah masjid-masjid di Jakarta, seperti Masjid Istiqlal, masjid besar di Pasar Tanah Abang (saya lupa namanya), masjid Al-A’raf di dalam toko buku Walisongo di Kwitang, masjid Arif Rahman Hakim di lingkungan kampus UI Salemba, dll. Tampkanya pasar tiban di depan masjid yang mendadak muncul saat menjelang salat Jumat ini makin menyebar ke sejumlah tempat di Jakarta dan kota-kota lain.

Buat saya yang datang dari kampung, pemandangan semacam itu agak sedikit aneh. Di mata kaum santri NU di kampung-kampung Jawa, masjid harus bersih dari unsur transaksi duniawi. Saat di pesantren dulu, saya pernah mempelajari kitab fikih yang terkenal di pesantren, yaitu Fath al-Mu’in karangan seorang ulama dari Malabar, India, yaitu Syekh Zainuddin al-Malibari. Dalam kitab itu, ada pembahasan panjang lebar tentang boleh tidaknya berjualan di dalam atau sekitar masjid.

Tetapi, lama-lama, pemandangan “duniawi” menjelang salat Jumat di masjid-masjid Jakarta itu menarik perhatian saya. Lama-lama, saya menyukai pemandangan itu. Salat Jum’at bukan sekedar peristiwa ibadah, tetapi juga peristiwa sosial yang melibatkan aspek-aspek non-ritual.

Tetapi pemandangan yang paling “dramatis” memang hanya saya lihat di masjid Sunda Kelapa, sebab hanya di sana saya jumpai dealer mobil yang ikut berjualan, berdesak-desakan di antara penjual mie pangsit, peci, songkok dan pedagang buku-buku bajakan.
Yang “ukhrawi” campur baur dengan yang “duniawi”, bukan dalam sebuah adonan yang “integratif” , tetapi dalam bentuk “montase” yang saling tak kongruen dan kacau-balau.
Saat salat Jumat di Boston di masjid kampus yang sebetulnya bukan merupakan masjid, hanya ruang yang dipinjam sementara untuk menjadi masjid, saya rindu pada suasana “kacau-balau” di depan Masjid Sunda Kelapa itu. Selain suasana “unik” itu, isi khutbah Jumat di masjid tersebut lumayan baik dan cerdas, meskipun kadang-kadang ada isi yang kurang saya setujui.

TIDAK semua pengalaman salat Jumat di Jakarta menyenangkan dan menarik. Kalau saya tak ada waktu untuk jalan ke Masjid Sunda Kelapa, biasanya saya pergi untuk salat Jumat di masjid yang lebih dekat lagi ke kantor Freedom Institute, yaitu di gedung parkiran milik Hotel Nikko di Jl. Thamrin. Jelas itu bukan masjid permanen, tetapi lantai parkiran yang disulap secara mendadak menjadi “masjid tiban”.

Umumnya isi khutbah yang hadir di “masjid tiban” itu tak terlalu menarik. Saya selalu datang menjelang salat dimulai, agar tak “tersiksa” mendengar khutbah yang membosankan. Kalau pun saya datang agak awal dan sempat mendengar khutbah, biasanya saya akan langsung “ngantuk”. Beberapa orang di samping kiri-kanan saya juga sama: mereka “theklak-thekluk” karena mengantuk. Saya duga, mereka tak terlalu terpikat oleh isi khutbah.

Kejadian yang menjengkelkan pernah pula saya alami di masjid tiban di belakang Hotel Nikko itu. Saya datang agak awal dan sempat mendengar isi khutbah sejak dari awal. Di luar dugaan, isi khutbah yang disampaikan, dalam pandangan saya, sangat provokatif, menyerang agama lain, menganjurkan kebencian kepada orang-orang yang berbeda agama.

Saya tak kuat mendengar khutbah yang “ngacau” itu, dan nyaris saya angkat tangan untuk protes. Tetapi, saya putuskan untuk tak melakukan tindakan yang tentu akan mengundang perhatian banyak orang itu. Jalan tengah saya ambil: saya walk out dari masjid itu dan balik ke kantor, sambil menggerutu di jalan. Saya ganti salat Jumat dengan salat zuhur biasa. Buat saya, tak ada gunanya melaksanakan salat Jumat yang justru sarat dengan “provokasi” semacam itu.

Kata “jum’at” adalah kata Arab yang secara harafiah berarti “berkumpul”, atau kongregasi. Bisa juga kata itu kita maknai sebagai berkumpul untuk rekonsiliasi. Tujuan salat Jumat antara lain adalah untuk menyediakan arena mingguan bagi umat Islam guna meneguhkan komitmen mereka terhadap solidaritas keumatan, bukan untuk memprovokasi dan memecah belah umat. Buat saya, salat Jumat yang menjadi ajang provokasi untuk menyerang agama lain atau sekte lain dalam Islam yang berbeda paham, sudah kehilangan “raison d’etre” atau alasan keberadaannya.

PENGALAMAN yang lucu terjadi di perumahan saya di kawasan Jatikramat, Bekasi. Suatu ketika, saat kantor libur, saya pergi untuk salat Jum’at di masjid yang terletak tak terlalu jauh di luar lingkungan perumahan saya. Sang khatib dengan menggebu membahas tentang aliran-aliran sesat dalam Islam. Islam liberal tak luput dari pembahasan sang khatib. Dengan penuh semangat dia mengkritik pemikiran Islam liberal, menyebut nama saya beberapa kali dengan perasaan “kebencian” yang sama sekali tak tersembunyikan.
Sang khatib tentu tak tahu kalau saya ada di antara jamaah yang hadir saat itu. Saya memutuskan untuk tetap duduk saja mengikuti khutbah dia hingga selesai. Saya hanya geli saja dalam hati. Karena masjid itu ada di luar perumahan saya, jarang di antara jama’ah yang mengenali saya.

Suatu hari, saya mendapat sms dari Rizal Sukma, teman saya yang menjadi salah satu direktur di CSIS. Dia mengirim pesan tentang kejengkelan dia yang baru saja menghadiri salat Jumat di (kalau tak salah ingat) kawasan Palmerah, Jakarta Selatan. Isi ceramah itu penuh dengan provokasi. Sang khatib menyebut dan mengkritik Islam liberal dan tentunya juga menyinggung nama saya.

Dalam pesan itu, Rizal bercanda, “Kalau saja saya tak takut sandal hilang, sudah pasti saya akan maju ke muka dan memprotes sang khatib”.
Yang menarik adalah pengalaman salat Jumat di kawasan Utan Kayu, di dekat kantor Jaringan Islam Liberal (JIL). Kalau kebetulan saya berada di kantor itu, saya biasanya pergi ke masjid Al-Taqwa yang ada persis di samping jembatan sungai kecil di Jl. Utan Kayu. Saya selalu merasa aman melaksanakan salat Jumat di sini karena tak pernah saya menjumpai khatib yang “menggebu-gebu” dengan ceramah yang provokatif. Ini adalah masjid tradisional khas Betawi. Tema-tema yang dibicarakan oleh khatib biasanya sebatas “kesalehan individual” yang menyejukkan.

Walaupun secara fisik masjid ini tidak terlalu mewah, dan sangat bising karena persis berada di pinggir jalan Utan Kayu yang lalu-lintasnya lumayan padat, serta dilengkapi dengan sistem pengeras suara yang sama sekali tak nyaman di telinga, tetapi saya tak merasa “terancam” saat salat Jumat di sana. Sebab, khatibnya bisa dijamin tak melakukan “provokasi”.

Hingga sekarang, saya belum menemukan masjid yang isi-isi ceramahnya sesuai dengan pandangan Islam liberal yang saya anut, masjid yang “cerdas” dan menyejukkan. Saya berpikir, mungkin suatu saat jamaah Islam liberal harus membuat masjid sendiri yang dapat menampung ceramah-ceramah dan khutbah yang cerdas dan menyejukkan.
Atau, boleh jadi, memang diperlukan pendidikan dan “training” yang lebih baik bagi para khatib. Memang ada kecenderungan di banyak negara-negara Islam di mana masjid menjadi ajang kaum Muslim konservatif atau fundamentalis untuk melancarkan “kampanye kebencian” melawan tokoh atau pemikir Muslim yang mereka anggap “sesat”. Sebagian jamaah boleh jadi akan dengan mudah terpengaruh oleh provokasi semacam itu. Kasus Dr. Nasr Hamid Abu Zayd di Mesir adalah contoh yang baik.

Kita semua tentu mengharap, masjid menjadi arena untuk membangun rekonsiliasi umat, bukan untuk memecah belah dengan cara menyebarkan provokasi yang “membakar” emosi umat.[]
Posted by Ulil Abshar-Abdalla

Saya akui, memang menjadi seorang Muslim yang berpikiran terbuka dan bertoleransi tinggi jauh lebih sulit, mungkin lebih sulit dibanding menjadi kafir. Menjadi kafir memang sudah nasibnya dibenci, sementara menjadi Muslim yang berpikiran liberal dijadikan musuh.
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   6th June 2011, 10:32

bruce wrote:
Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.

Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, Dalalat al-Ha’irin (Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.

Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: Fi al-bad’i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard (baca Al-Kitab al-Muqaddas edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.

Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang “mutakallim” atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, “Al-Fikr al-Islami fi al-Radd ‘Ala al-Nashara“, 2007).

Ini mungkin OOT ... apa sebaiknya dibuatkan thread sendiri?

Apakah rekan2 Kristiani setuju dengan pendapat Ulil di atas bahwa Allah merupakan sebutan yang sudah dipakai umat Kristen dan Yahudi sejak dahulu kala?

Korelasi penggunaan lafal Allah dengan YHWH itu jadinya bagaimana ya?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   6th June 2011, 10:41

Betul kang, ulasan Allah dan YHWH itu bisa dibuatkan thread baru saja, karena menarik dan cukup luas juga bahasannya.

Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala   Today at 09:10

Kembali Ke Atas Go down
 
Puisi Paskah Ulil Ashar Abdala
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» PUISI TENTANG ALAM & KELESTARIAN LINGKUNGAN
» Puisi Depresi "Perut"
» Si Ijo trip to Bandoeng

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Diskusi Umum :: Obrolan bebas-
Navigasi: