Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : 1, 2  Next
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   8th June 2011, 23:11

Quote :
Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik

SAYA sering terganggu oleh sikap beberapa kalangan Muslim apologetik yang dengan mudah menunjukkan adanya kontradiksi dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru. Dengan gigih sekali mereka mencoba memperlihatkan bahwa dalam dua kitab “suci” itu tersua sejumlah pertentangan internal.

Usaha itu bukan tanpa tujuan: yaitu untuk menunjukan kehebatan Quran sebagai Kitab “Suci” yang paling baik, solid, koheren, logis, tidak mengandung pertentangan internal apapun. Lalu mereka mengutip sebuah ayat dalam Quran yang terkenal, “Afala yatadabbarun al-Quran, wa law kana min ‘indi ghair al-Lahi lawajadu fihi ikhtilafan katsira.” (4:82) Artinya: Apakah mereka tak merenungkan secara mendalam mengenai Quran itu; seandainya ia berasal dari selain Tuhan, maka sudah pasti mereka akan menjumpai banyak pertentangan di dalamnya.

Hal serupa juga ada pihak Kristen (dan juga Yahudi). Saya banyak sekali menjumpai buku-buku apologetika Kristen (juga Yahudi) yang menunjukkan adanya sejumlah pertentangan internal dalam Quran.
Maryam Jameelah, seorang perempuan Yahudi dari New York yang semula bernama Margaret Marcus, menceritakan proses dia masuk Islam (pada tahun 1961) dalam bukunya “Islam versus West”. Di sana ia berkisah tentang kelas yang ia ikuti di New York University tentang “Judaism in Islam” yang diampu oleh seorang rabbi bernama Abraham Isaac Katsh. Rabbi itu mencoba menunjukkan kelemahan Quran sebagai kitab yang sekedar menyontek saja dari Torah atau Perjanjian Lama.

Saya memandang sikap apologetik seperti itu kurang tepat, bahkan hanya menimbulkan perceckokan yang kurang produktif dan kleim paling benar sendiri yang menghalangi adanya dialog yang positif.

Tanpa mengurangi penghormatan saya pada kepercayaan teman-teman Muslim yang lain mengenai Quran, sejauh menyangkut kontradiksi, dalam Quran banyak sekali kita jumpai kontradiksi dan pertentangan internal.
Bukan hanya itu, dalam hampir semua Kitab “Suci” selalu akan kita jumpai kontradiksi semacam itu. Tugas penafsirlah untuk melakukan “harmonisasi” agar pertentangan itu bisa “dihaluskan” (explained away) atau malah dihilangkan sama sekali.

Orang yang datang dari luar tradisi Islam (terutama orang Kristen), misalnya, dan ujug-ujug langsung membaca Quran, kemungkinan akan terperanjat, karena Quran di matanya boleh jadi mirip sebuah “jumble mumble”, atau kitab yang sama sekali tanpa struktur, temanya loncat-loncat tanpa aturan, seperti sebuah buku yang tak diedit dengan baik, dan mengandung banyak kontradiksi di dalamnya. Dia akan cenderung membandingkan Quran dengan Kitab Perjanjian Lama yang lebih memiliki struktur naratif yang rapi.

Hal yang sama terjadi pada orang yang datang luar tradisi Kristen (misalnya seorang Muslim), lalu ujug-ujug membaca Kitab Perjanjian Lama atau Baru, boleh jadi dia akan menjumpai sejumlah kontradiksi internal dalam kitab itu, apalagi menyangkut gambaran Tuhan dalam Perjanjian Lama yang, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Kontradiksi itu akan makin menjadi-jadi kalau kita membaca kitab agama lain dengan prasangka buruk, apalagi dengan niat untuk mencari kejelekannya, seperti yang dilakukan oleh banyak kalangan apologetik dari, terutama, kedua belah agama, Islam dan Kristen.

Di mata orang beriman, kontradiksi itu memang tak kelihatan, karena yang bersangkutan sudah dikondisikan oleh imannya untuk mempercayai apa saja yang termuat dalam kitab tersebut.

Seorang Muslim yang membaca Bibel bisa melihat kontradiksi dalam kitab itu karena dia tak “mengimani”-nya sebagaimana ia mengimani Quran. Begitu juga seorang Kristen bisa melihat kontradiksi dalam Quran karena dia tidak mengimani Kitab “Suci” tersebut.

Memang benar, sorang Muslim percaya bahwa kitab-kitab sebelum Quran bersumber dari Tuhan yang sama. Tetapi, iman mereka pada kitab-kitab itu tak sama dengan iman mereka pada Quran. Meskipun mengimani Bibel, tetapi mereka memandang Kitab “Suci” itu sebagai buku yang “defektif” atau cacat.

Bagaimana cara membaca Kitab “Suci” agama lain tanpa harus berhadapan dengan kontradiksi itu?

Caranya adalah sederhana: gunakanlah kaca-mata orang yang mengimani Kitab “Suci” itu. Seorang Muslim yang hendak mendapatkan manfaat dari Bibel saat membacanya, dan tak sekedar terpaku pada kontradiksi yang ada di sana, dia harus membaca kitab itu dengan “hati” dan “mata” sebagaimana dipakai oleh orang Kristen saat membacanya.
Hal ini berlaku juga untuk orang Kristen yang hendak membaca Quran dan ingin mendapatkan sesuatu yang berguna dari sana, tanpa terjebak dalam kontradiksi yang ia lihat di sana.

Nasehat sosiolog besar dari Perancis, Emile Durkheim, kepada para sarjana yang hendak mengkaji agama bisa kita pertimbangkan di sini:
“What I ask of the free thinker is that he should confront religion in the same mental state as the believer… He who does not bring to the study of religion a sort of religious sentiment cannot speak about it! He is like a blind man trying to talk about colour.” (hal. xvii, dikutip dari pengantar Karen E. Fields atas karya utama Durkheim, “Elementary Forms of Religious Life”).
Dengan kata lain, saat membaca suatu Kitab “Suci” dari agama manapun, kita harus memiliki “religious sentiment” –meminjam istilah dari Durkheim itu– sebagaimana dimiliki oleh orang yang mengimani kitab itu. Jika kita kehilangan sentimen itu, maka kita akan melihat sejumlah pertentangan dalam kitab tersebut.

Jika anda kebetulan seorang Muslim, cobalah sekali-kali anda membaca Quran dengan mengambil “jarak” sebentar, mencoba keluar dari sentimen keimanan yang selama ini anda miliki.

Dalam keadaan sebagai seorang “skeptis sementara” itu, anda akan menjumpai sejumlah hal yang kontradiktif dan tak masuk akal dalam Quran. Sebagai contoh saja, dalam satu ayat dikatakan bahwa Tuhan tak menyerupai apapun, Laisa kamitslihi syai’un (42:11), tetapi dalam banyak ayat yang lain Tuhan digambarkan memiliki tangan, wajah, bahkan dalam hadis digambarkan pula memiliki jari-jari (ashabi’ al-rahman).

Jika orang Islam keberatan dengan penggambaran tentang Tuhan yang “brutal” dan sangat antropomorfis dalam, misalnya, Perjanjian Lama, maka mereka sebetulnya lalai bahwa dalam Quran juga kita jumpai penggambaran yang kurang lebih serupa: Tuhan yang “brutal” dan antropomorfis.

Bagaimana umat Islam bisa melewatkan begitu saja kisah tentang Nabi Nuh di Quran tanpa bertanya-tanya secara “kritis”: bagaimana mungkin Tuhan menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? Apakah reaksi Tuhan semacam ini tidak keterlaluan? Mana sifat belas-kasih Tuhan? Baiklah, granted,Tuhan memang mempunyai sifat adil dan pengazab, selain sifat rahman dan rahim (kasih sayang).

Tetapi mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh — apakah azab seperti itu proporsional? (Jawab seseorang yang memiliki sentimen keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami tindakan Tuhan).

Banyak hal dalam Quran yang bisa kita persoalkan secara “kritis”, kalau kita mau sebentar melepaskan diri dari sentimen keimanan sebagai seorang Muslim.

Itulah yang terjadi pada seorang Muslim yang membaca Bibel: karena mereka tak memiliki sentimen keagamaan seperti dimiliki oleh umat Kristen, maka mereka menjumpai banyak sekali kontradiksi dalam Kitab “Suci” itu, seraya lupa bahwa kontradiksi serupa bisa dijumpai dalam Quran.

Sementara itu, jika anda berdiri sepenuhnya sebagai seorang agnostik tulen yang tak terikat atau malah skeptik terhadap semua bentuk sentimen keimanan apapun, maka anda sudah pasti akan “sinis” pada semua Kitab “Suci”, sebab kitab agama manapun akan mengandung hal-hal yang di mata rasio yang kritis akan tampak kontradiktoris dan tak masuk akal.
Apalagi jika kita perhitungkan bahwa semua Kitab “Suci” agama-agama dunia saat ini lahir ribuan tahun lalu. Ilmu pengetahuan manusia maju begitu pesat dan mereka bisa menjelaskan secara lebih memuaskan gejala-gejala alam yang di mata manusia kuno tampak misterius dan fantastik.

Di hadapan rasio manusia modern yang skeptik, jelas Kitab-Kitab “Suci” itu tampak seperti dongeng anak-anak. Contoh paling bagus untuk ini adalah dua sarjana yang akhir-akhir ini melakukan “crusade” melawan agama-agama dunia, yaitu Richard Dawkins dan Sam Harris.

Lihatlah kisah tentang Musa yang menyeberangkan orang-orang Israel melewati Laut Merah dengan memakai tongkatnya. Jika seseorang sebentar melepaskan diri dari sentimen keagamaan lalu membaca kisah itu dalam Perjanjian Lama atau Quran, sudah pasti dia akan bertanya-tanya: apakah ini kisah nyata atau hanya dongeng belaka.

Seorang beriman tak pernah bertanya-tanya dengan skeptis seperti itu sebab mereka membaca kitab “suci” dengan “mata seorang beriman”. Thomas Aquinas, seorang teolog Kristen dari abad 13, dengan baik sekali mengemukakan hal ini dalam Summa Theologiae: “Believers proves things from the premises of faith” (hal. 329, dalam edisi terjemahan ringkas yang diedit oleh Timothy McDermott). Apa yang dimaksud oleh Aquinas sebagai “premis iman” itu adalah “the authoritative sources of sacred scripture”.
Dengan kata lain, syarat seseorang bisa mengapresiasi suatu Kitab “Suci” agama manapun adalah ia harus memiliki “mata iman”, atau, jika mau memakai kembali istilah Durkheim, “religious sentiment”. Begitu sentimen atau premis iman itu hilang atau tak ada, maka kitab “suci” akan tampak sebagai dokumen yang aneh, sebagai “jumble mumble”.

Di mata saya, pertengkaran antara seorang Muslim apologetik dengan seorang Kristen yang juga apologetik untuk membuktikan bahwa Kitab “Suci” merekalah yang paling baik dan benar, jelas, mohon maaf, lucu. Sebab, sekali lagi, itu sama dengan tukang jamu yang semuanya teriak jamu yang dia jual lah yang paling baik.

Kembali lagi di sini, kita bisa belajar dari Durkheim. Dalam pengantar untuk karya besarnya di bidang sosiologi agama, “Elementary Forms of Religious Life”, Durkheim membuat sebuah pernyataan yang boleh jadi akan membuat semua orang beragama akan kaget seperti terkena setrum listrik. Durkheim mengatakan:

Fundamentally, then, there are no religions that are false. All are true after their own fashion: All fulfill given conditions of human existence, though in different ways (hal. 2).

Semua agama jelas benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua orang yang beragama merasa bahwa kebutuhan eksistensialnya sebagai manusia tercukupi dan terpenuhi oleh agama dan kepercayaan yang dipeluknya itu.
Kalau pernyataan Durkheim ini mau kita tarik secara lebih spesifik ke dalam konteks diskusi saya mengenai Kitab “Suci”, maka semua Kitab “Suci” adalah benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua pemeluk agama yang memiliki “religious sentiment” akan melihat Kitab “Suci”-nya itu sebagai paling baik dan benar.

Nada tulisan Durkheim itu memang tampak sangat relativis. Di mata saya, sikap ini jauh lebih sehat, karena dengan itu kita bisa mengapresiasi banyak hal, termasuk Kitab-Kitab “Suci” dari agama lain. Sikap ini lebih sehat ketimbang sikap apologetik yang, sekali lagi maaf, tampak seperti “katak dalam tempurung”. Jika kita menenggelamkan diri dalam tempurung, memang segala hal yang kita miliki tampak paling baik dan sempurna.

Sikap relativis Durkheimian itu mengajarkan kita untuk keluar dari tempurung sehingga kita melihat keluasan dunia di luar “dunia” kita sendiri yang selama ini kita peluk erat-erat dengan sentimen yang mendalam.
DALAM tulisan ini, saya selalu menulis Kitab “Suci” dengan tanda kutip pada kata “suci”. Saya sengaja melakukan itu, sebab Quran tidak pernah disebut sebagai Kitab Suci (al-Kitab al-Muqaddas), baik oleh Quran sendiri, hadis, atau oleh ulama tafsir klasik. Sebutan “Kitab Suci” untuk Quran muncul pada era modern sekarang ini, mungkin karena pengaruh tradisi Kristen.
Sebutan Quran untuk dirinya adalah “Kitab Mulia” (al-Quran al-Karim), sebagaimana terbaca dalam ayat “innahu laqur’anun karim fi kitabin maknun” (56:77).

Oleh karena itu, istilah “The Holy Qur’an” sebetulnya tampak aneh. Bahkan istilah “Tanah Suci” (Holy Land) pun juga terdengar aneh dalam konteks Islam. Dua tanah yang selama ini dianggap suci, Mekah dan Madinah, lebih tepat disebut sebagai “Tanah Terlarang”, terjemahan harafiah dari istilah “haramain”, maksudnya dua tanah yang “haram” alias terlarang; bukan tanah suci.

Disebut “terlarang” sebab orang yang tinggal di sana dilarang untuk memotong pohon atau membunuh hewan yang ada di dua tanah itu. Istilah “haramain” mungkin lebih tepat dikaitkan dengan konsep “taboo” sebagaimana kita lihat pada agama-agama kuno


Luar biasa pemikiran Ulil ini, beliau memang seorang pemikir Muslim yang sangat luar biasa dan sangat patut disegani.

Ada yang tidak sependapat dengan tulisan di atas?


Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 07:56

Ada beberapa hal yang ingin saya komentari dari tulisan/pemikiran Ulil di atas terutama tentang kontradiksi yang ditemukan di Al Quran.

Tetapi yang ingin saya kemukakan secara singkat adalah:
1. Saya sepakat dengan beliau untuk yang ini
Quote :
bahkan hanya menimbulkan perceckokan yang kurang produktif dan kleim paling benar sendiri yang menghalangi adanya dialog yang positif.
--> bila menelaah Kitab Suci miliki umat lain dengan tujuan atau konsekwensi menimbulkan percekcokan yang kurang produktif maka sebenarnya sia2 belaka ... buat apa melakukan hal yang lebih banyak mudharat dibandingkan manfaatnya? Untuk kasus ini, ayat lakum diinukum waliyadiin sudah tepat ... biarlah agamamu (kitab sucimu) untukmu dan agamaku (kitab suciku) untukku.

2. Saya setuju dengan yang ini
Quote :
Semua agama jelas benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua orang yang beragama merasa bahwa kebutuhan eksistensialnya sebagai manusia tercukupi dan terpenuhi oleh agama dan kepercayaan yang dipeluknya itu.
dalam konteks semua agama akan menunjukkan cara yang baik dan benar dalam habluminannas - hubungan antara manusia ... tetapi tidak dalam konteks semua agama akan mengantarkan manusia bersatu dengan Sang Khalik.

Wallahu a'lam ...

Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 12:58

Quote :
dalam konteks semua agama akan menunjukkan cara yang baik dan benar dalam habluminannas - hubungan antara manusia ... tetapi tidak dalam konteks semua agama akan mengantarkan manusia bersatu dengan Sang Khalik.

Untuk yang saya bold itu kang, siapa yang mengatakan bahwa agama A satu satunya yang mengantar pemeluknya kepada sang khalik? Apakah diakui oleh semua pemeluk agama atau hanya oleh agama A saja? Atau adakah agama yang dipercaya oleh pemeluknya bahwa agama tersebut tidak mengantar pemeluknya kepada sang Khalik ?

Cool
Kembali Ke Atas Go down
siip
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 630
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 13:17

bruce wrote:
Quote :
dalam konteks semua agama akan menunjukkan cara yang baik dan benar dalam habluminannas - hubungan antara manusia ... tetapi tidak dalam konteks semua agama akan mengantarkan manusia bersatu dengan Sang Khalik.

Untuk yang saya bold itu kang, siapa yang mengatakan bahwa agama A satu satunya yang mengantar pemeluknya kepada sang khalik? Apakah diakui oleh semua pemeluk agama atau hanya oleh agama A saja? Atau adakah agama yang dipercaya oleh pemeluknya bahwa agama tersebut tidak mengantar pemeluknya kepada sang Khalik ?

Cool

Mksdnya apa ini Bro?

Kl udah diakui oleh smua pmeluk agama, maka agama hanya akan ada 1.



Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 13:26

Quote :
Mksdnya apa ini Bro?

Kl udah diakui oleh smua pmeluk agama, maka agama hanya akan ada 1

Wah, kalimat saya salah dimengerti ya bro?

Oke, saya perinci aja ya,

1. Semua agama mengajarkan keselamatan, sampai ke pada Khaliknya.
2. Semua pemeluk agama tertentu meyakini kebenaran dari agama tertentu itu.
3. Kita tidak bisa menyangkal ada agama lain diluar agama kita.
4. Memberi selamat merayakan agama lain, berarti mengakui keberadaan agama itu, bukan akidah dari agama itu.

Nah....
Kembali Ke Atas Go down
siip
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 630
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 13:39

bruce wrote:
Quote :
Mksdnya apa ini Bro?

Kl udah diakui oleh smua pmeluk agama, maka agama hanya akan ada 1

Wah, kalimat saya salah dimengerti ya bro?

Oke, saya perinci aja ya,

1. Semua agama mengajarkan keselamatan, sampai ke pada Khaliknya.
2. Semua pemeluk agama tertentu meyakini kebenaran dari agama tertentu itu.
3. Kita tidak bisa menyangkal ada agama lain diluar agama kita.
4. Memberi selamat merayakan agama lain, berarti mengakui keberadaan agama itu, bukan akidah dari agama itu.

Nah....

Ow ow owwww...
Utk no. 4, pasti ngga smua stuju sama Bro.

Hehehehe...

Kl saya sih tetap mngucapkan slamat, bukan utamanya krn mngakui kbradaan agama lain, tp utk mngucapkan selamat atas kbahagiaan orang lain.

Ya misalnya ginilah...
Anggaplah ada org yg anaknya udh 8 pdhl dia miskin. Tp kmudian branak lagi yg ke-9. Walau dalam hati saya ngga stuju dg klahiran anak yg ke-9, tp saya akan ucapkan slamat juga krn dia bahagia.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 13:46

@siip

Betul bro, yang kita sampaikan adalah ucapan untuk seseorang yang sedang berbahagia, entah karena ulang tahun, entah lebaran, entah natalan, entah naik pangkat, entah pindah rumah. Intinya kita menyampaikan rasa bahagia karena orang lain bebahagia.

Karenanya ucapannya begini, "Selamat merayakan Idul Fitri".

Kecuali, saya tidak tahu kalau ada agama Adadeh, saya tidak tahu agama Adadeh merayakan hari raya hari ini. Maka saya tidak mengucapkan ucapan selamat hari raya pada penganut agama Adadeh itu.

Cool
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 13:47

Quote :
Anggaplah ada org yg anaknya udh 8 pdhl dia miskin. Tp kmudian branak lagi yg ke-9. Walau dalam hati saya ngga stuju dg klahiran anak yg ke-9, tp saya akan ucapkan slamat juga krn dia bahagia.

kalau saya gak mau memberikan selamat, karena tuh orang ndablek udah punya anak banyak malah gak mau ikut KB. Razz
malah saya beritahu sama temen2 dan kerabat saya supaya jangan nengok atw bawain apa2, bahkan ucapan selamat juga jangan, karena nantinya dibilang setuju dia punya anak lagi.
malah jangan2 nanti tahun depannya lagi lahir lagi anak yang ke-10. Laughing
wkwkwkwkwk

dari pendapat bro siip dan pendapat saya, silahkan menilai bagaimana karakter kami berdua... Laughing
Kembali Ke Atas Go down
siip
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 630
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 13:48

bruce wrote:
@siip

Betul bro, yang kita sampaikan adalah ucapan untuk seseorang yang sedang berbahagia, entah karena ulang tahun, entah lebaran, entah natalan, entah naik pangkat, entah pindah rumah. Intinya kita menyampaikan rasa bahagia karena orang lain bebahagia.

Karenanya ucapannya begini, "Selamat merayakan Idul Fitri".

Kecuali, saya tidak tahu kalau ada agama Adadeh, saya tidak tahu agama Adadeh merayakan hari raya hari ini. Maka saya tidak mengucapkan ucapan selamat hari raya pada penganut agama Adadeh itu.

Cool

Tp Bro...saya jd btanya-tanya, andaikan ada org yg korupsi, lalu mjd kaya krn korupsi dan kita tau persis dia kaya krn korupsi (anggaplah krn dia crita ke kita), akankah kita mngucapkan slamat juga?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 13:50

Quote :
Tp Bro...saya jd btanya-tanya, andaikan ada org yg korupsi, lalu mjd kaya krn korupsi dan kita tau persis dia kaya krn korupsi (anggaplah krn dia crita ke kita), akankah kita mngucapkan slamat juga?

Memang ada yang kita beri selamat karena kaya bro?

Razz
Kembali Ke Atas Go down
siip
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 630
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 14:11

bruce wrote:
Quote :
Tp Bro...saya jd btanya-tanya, andaikan ada org yg korupsi, lalu mjd kaya krn korupsi dan kita tau persis dia kaya krn korupsi (anggaplah krn dia crita ke kita), akankah kita mngucapkan slamat juga?

Memang ada yang kita beri selamat karena kaya bro?

Razz

Bukan slamat krn kaya.
Misalnya, dpt rumah mewah krn korupsi.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   9th June 2011, 14:17

@siip

Jika orng itu teman kita, dn kita belum tahu apakah rumah barunya didapatkan dari korupsi atau KPR, maka rasanya sih ngga salah kalau kita tahu/diberi tahu bahwa dia pindah rumah, maka kita ucapkan selamat atas rumah barunya. Kalau kemudian dia ditangkap karena korupsi, toh kita juga tidak menikmati hasil korupsi nya itu. Jadi urusan korupsi dan urusan rumah serta urusan memberi selamat rasanya menempati post yang berbeda deh bro, he hehe. Kecuali kita adalah hakim atau jaksa ata malah KPK yang sedang mengusut, maka sebaiknya jangan dekat dekat, untuk mencegah KKN.

Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   10th June 2011, 23:12

bruce wrote:
Untuk yang saya bold itu kang, siapa yang mengatakan bahwa agama A satu satunya yang mengantar pemeluknya kepada sang khalik? Apakah diakui oleh semua pemeluk agama atau hanya oleh agama A saja? Atau adakah agama yang dipercaya oleh pemeluknya bahwa agama tersebut tidak mengantar pemeluknya kepada sang Khalik ?

Cool

Saya rasa baik penganut agama Islam maupun Kristen meyakini bahwa agamanya adalah satu2nya yang akan menghantarkan penganutnya ke dalam keselamatan.

Kalau ada yang memiliki pendapat yang berbeda ... saya rasa itu hanyalah minoritas dari penganut kedua agama besar ini ... atau mungkin memiliki pemahaman yang salah tentang ajaran agamanya.

CMIIW ...
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   11th June 2011, 09:31

[quote=]
Saya rasa baik penganut agama Islam maupun Kristen meyakini bahwa agamanya adalah satu2nya yang akan menghantarkan penganutnya ke dalam keselamatan.[/quote]

kalau saya sih bukan meyakini agama saya yang menyelamatkan... Laughing
tapi TUHAN saya lewat penebusannya, jadi bukan karena apa yang saya lakukan (mengikuti perintah agama). Razz

Quote :

Kalau ada yang memiliki pendapat yang berbeda ... saya rasa itu hanyalah minoritas dari penganut kedua agama besar ini ... atau mungkin memiliki pemahaman yang salah tentang ajaran agamanya.
CMIIW ...

mungkin saya adalah bagian dari minoritas itu ?
Kembali Ke Atas Go down
siip
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 630
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   13th June 2011, 15:24

bruce wrote:
@siip

Jika orng itu teman kita, dn kita belum tahu apakah rumah barunya didapatkan dari korupsi atau KPR, maka rasanya sih ngga salah kalau kita tahu/diberi tahu bahwa dia pindah rumah, maka kita ucapkan selamat atas rumah barunya. Kalau kemudian dia ditangkap karena korupsi, toh kita juga tidak menikmati hasil korupsi nya itu. Jadi urusan korupsi dan urusan rumah serta urusan memberi selamat rasanya menempati post yang berbeda deh bro, he hehe. Kecuali kita adalah hakim atau jaksa ata malah KPK yang sedang mengusut, maka sebaiknya jangan dekat dekat, untuk mencegah KKN.


Ngga mjawab ptanyaan nih.

Misalkan kita jelas tau dari dia bhw rumah mewah itu ddapatkan dari korupsi.
Akankah kita mngucapkan selamat buat dia?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   13th June 2011, 17:07

Quote :
Ngga mjawab ptanyaan nih.

Misalkan kita jelas tau dari dia bhw rumah mewah itu ddapatkan dari korupsi.
Akankah kita mngucapkan selamat buat dia?

Bagaimana kita tahu dengan pasti seseorang membeli rumah dari hasil korupsinya bro? Apakah kita KPK atau auditor yang mengaudit keuangannya?

Sebutlah, jika kita adalah sanak keluarganya, yang tahu persis berapa gaji perbulannya, dan dia ternyata bisa pindah ke rumah mewah, apakah kita yakin dia tidak mendapat rumah itu dari tempatnya bekerja?

Sebutlah, dengan berbagai kemungkinan, kita bisa tahu persis bahwa yang bersangkutan bisa menempati rumah mewah, dan kita diundang untuk hadir pada acara pindahan, maka saran saya hadirlah dan ucapkan 'selamat menempati rumah baru', selesai.

Razz

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   16th June 2011, 13:20

T2Y wrote:

kalau saya sih bukan meyakini agama saya yang menyelamatkan... Laughing
tapi TUHAN saya lewat penebusannya, jadi bukan karena apa yang saya lakukan (mengikuti perintah agama). Razz

You know what I mean bro :) ... I'm sure of that.

T2Y wrote:


Kalau ada yang memiliki pendapat yang berbeda ... saya rasa itu hanyalah minoritas dari penganut kedua agama besar ini ... atau mungkin memiliki pemahaman yang salah tentang ajaran agamanya.
CMIIW ...[/quote]

mungkin saya adalah bagian dari minoritas itu ? [/quote]

Rasanya tidak ... dari postingan Anda, saya melihat Anda memiliki pendapat bahwa jalan keselamatan adalah dengan meyakini ketuhanan Yesus (doktrin agama Kristen) ... dengan kata lain orang yang tidak meyakini hal itu (tidak mengikuti doktrin agama Kristen) maka tidak akan mendapatkan keselamatan.

Apa saya salah?
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   6th September 2011, 18:19

Damai bagi LTBers.

Diskusi yang menarik. Ikut Berependapat atas ini:
Quote :
Saya rasa baik penganut agama Islam maupun Kristen meyakini bahwa agamanya adalah satu2nya yang akan menghantarkan penganutnya ke dalam keselamatan.

Kalau ada yang memiliki pendapat yang berbeda ... saya rasa itu hanyalah minoritas dari penganut kedua agama besar ini ... atau mungkin memiliki pemahaman yang salah tentang ajaran agamanya.

CMIIW ...
Agak sama dengan posting-an setelah ini, saya ingin menampaikan pengimanan saya tentang kesampaian kepada Bapa. Sebenarnya, secara tersirat, sudah pernah juga saya posting di trit lain.

Begini.
Meski saya menganut suatu agama, berdasarkan pemahaman Silancah pada paragraf kedua yang saya quote, saya termasuk minoritas menurut terminologi Silancah, bahwa saya tidak meyakini agama saya satu-satunya sarana pembawa penganutnya sampai kepada Bapa. Dengan kata lain, yang saya imani ialah, bukan agama menentukan seseorang sampai kepada Bapa.

Yang saya yakini adalah, tidak seorangpun yang dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Yesus Kristus. Artinya, bukan tentang cara sampai kepada Bapa itu (yang saya terjemahkan sebagai agama) yang diperlukan, melainkan ;yang dilalui' itu. Melalui agama apa saja, seseorang tidak akan sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Yesus Kristus. Jadi, yang perlu bukan agamanya, melainkan Yesus Kristus. Mungkin cara sampainya kepada Bapa karena dituntun oleh orang tuanya bertemu Yesus Kristus, atau karena dituntun oleh teman bertemu dengan Yesus Kristus, atau karena pencarian sendiri lemudian bertemu dengan Yesus Kristus dan menjadi sahabat, atau Yesus Kristus sendiri menjemput orang itu untuk dihantarkan kepada Bapa, atau cara-cara lain. Yang saya yakini, tidak seorangpun dapat sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Yesus Kristus. Begitu.

Damai bagi Indonesia.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
epafras
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 50
Join date : 11.09.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   11th September 2011, 22:56

bruce wrote:
Quote :
Ngga mjawab ptanyaan nih.

Misalkan kita jelas tau dari dia bhw rumah mewah itu ddapatkan dari korupsi.
Akankah kita mngucapkan selamat buat dia?

Bagaimana kita tahu dengan pasti seseorang membeli rumah dari hasil korupsinya bro? Apakah kita KPK atau auditor yang mengaudit keuangannya?

Sebutlah, jika kita adalah sanak keluarganya, yang tahu persis berapa gaji perbulannya, dan dia ternyata bisa pindah ke rumah mewah, apakah kita yakin dia tidak mendapat rumah itu dari tempatnya bekerja?

Sebutlah, dengan berbagai kemungkinan, kita bisa tahu persis bahwa yang bersangkutan bisa menempati rumah mewah, dan kita diundang untuk hadir pada acara pindahan, maka saran saya hadirlah dan ucapkan 'selamat menempati rumah baru', selesai.

Razz

[Newbe] Ikut nimbrung bentar, ya...

Koq jadi mirip, sih...

"Selamat berbahagia karena kelahiran anak ke-9...", dan
"Selamat berbahagia karena menempati rumah baru..."

Jadi mirip dengan seorang Yahudi yang mengucapkan selamat kepada seseorang karena sudah masuk Kristen... dan pindah dari Yudaisme..., apa begitu, maksudnya?

Atau seorang Kristen mengucapkan 'selamat' kepada seseorang karena ia berpindah dari agama Kristen ke Islam, begitu?

Apa ada seseorang di sini yang mengharapkan munculnya pertanyaan: "Apa perlu tindakan semacam 'pembuktian terbalik' oleh 'KPK' bahwa 'kepindahan' itu adalah hasil 'korupsi'?" Tapi apa benar Ulil menyinggung tentang hal ini?

Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   11th September 2011, 23:21

Quote :
Koq jadi mirip, sih...

"Selamat berbahagia karena kelahiran anak ke-9...", dan
"Selamat berbahagia karena menempati rumah baru..."

Jadi mirip dengan seorang Yahudi yang mengucapkan selamat kepada seseorang karena sudah masuk Kristen... dan pindah dari Yudaisme..., apa begitu, maksudnya?

Atau seorang Kristen mengucapkan 'selamat' kepada seseorang karena ia berpindah dari agama Kristen ke Islam, begitu?

Beda mas, beda sekali antara memberi selamat karena seseorang yang diberi selamat itu sedang berbahagia, dibanding dengan perpindahan seseorang ke agama lain.

Seseorang yang sedang berulang tahun, kelahiran anak, menempati rumah baru, naik pangkat, merayakan hari besar keagamaannya, tentulah sedang berbahagia, dan itulah yang diberi ucapan selamat atas peristiwa yang membahagiakannya. Intinya, kita turut senang saat teman merasa senang.

Akan beda dengan ucapan selamat karena seseorang menjadi pemeluk baru agama tertentu. Seorang Muslim tentu tidak akan memberi selamat kepada temannya yang Buddhist yang menjadi Kristen. Seorang Kristen tentu tidak akan memberi selamat pada temannya yang Hindu yang menjadi Muslim. Itu adalah wajar untuk tidak memberi selamat, karena penganut agama tertentu menganggap hanya agama yang dianutnya yang memberi keselamatan. Karenanya, hanya penganut agama sama dengan agama yang baru dianut oleh temannya lah yang memberi selamat.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
epafras
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 50
Join date : 11.09.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   11th September 2011, 23:40

bruce wrote:


Beda mas, beda sekali antara memberi selamat karena seseorang yang diberi selamat itu sedang berbahagia, dibanding dengan perpindahan seseorang ke agama lain.

Seseorang yang sedang berulang tahun, kelahiran anak, menempati rumah baru, naik pangkat, merayakan hari besar keagamaannya, tentulah sedang berbahagia, dan itulah yang diberi ucapan selamat atas peristiwa yang membahagiakannya. Intinya, kita turut senang saat teman merasa senang.

Akan beda dengan ucapan selamat karena seseorang menjadi pemeluk baru agama tertentu. Seorang Muslim tentu tidak akan memberi selamat kepada temannya yang Buddhist yang menjadi Kristen. Seorang Kristen tentu tidak akan memberi selamat pada temannya yang Hindu yang menjadi Muslim. Itu adalah wajar untuk tidak memberi selamat, karena penganut agama tertentu menganggap hanya agama yang dianutnya yang memberi keselamatan. Karenanya, hanya penganut agama sama dengan agama yang baru dianut oleh temannya lah yang memberi selamat.


Ooo, gitu, ya, Mas... Saya baru ngerti. Semula saya pikir perumpamaan2 tentang ucapan selamat itu memang terkait dengan tulisan bang ulil tentang 'mengambil jarak'? Apakah 'KPK' atau 'auditor' yang Mas singgung itu juga tidak ada kaitannya dengan metode bang Ulil untuk 'jangan cari tahu kesalahan Kitab Suci agama lain...'?

Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   11th September 2011, 23:55

Quote :
Apakah 'KPK' atau 'auditor' yang Mas singgung itu juga tidak ada kaitannya dengan metode bang Ulil untuk 'jangan cari tahu kesalahan Kitab Suci agama lain...'?

Mengetahui kelemahan kitab suci pihak lain silahkan saja jika itu memang dianggap memperkuat iman pribadi, tetapi menyatakan secara terbuka kepada pihak lain yang mempercayai kitab itu tentulah tidak bijak dalam dunia yang majemuk seperti Indonesia ini.

Satu yang saya setuju dengan Ulil adalah, tidak ada kitab suci agama apapun yang bebas dari kesalahan. Karena tidak ada kitab suci agama apapun yang lepas dari campur tangan manusia, dan manusia tidak bisa lepas dari kesalahan. Dan ada bagian bagian dari kitab suci yang hanya bisa dimengerti dengan iman, masalahnya iman tidak bersifat universal untuk seluruh agama.

:)

Syalom


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
epafras
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 50
Join date : 11.09.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   12th September 2011, 00:17

bruce wrote:

...tidak ada kitab suci agama apapun yang bebas dari kesalahan. Karena tidak ada kitab suci agama apapun yang lepas dari campur tangan manusia, dan manusia tidak bisa lepas dari kesalahan. Dan ada bagian bagian dari kitab suci yang hanya bisa dimengerti dengan iman, masalahnya iman tidak bersifat universal untuk seluruh agama.


Maksud Mas, Kitab Suci Mas pun ada kesalahannya? Bisa tolong beri contoh ayat-ayatnya yang Mas anggap merupakan atau mengandung kesalahan? Dan mengapa pula bagian itu Mas anggap sebagai kesalahan? Apa itu merupakan pendirian Mas atau memang ajaran Katolik?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   12th September 2011, 00:35

Quote :
Maksud Mas, Kitab Suci Mas pun ada kesalahannya? Bisa tolong beri contoh ayat-ayatnya yang Mas anggap merupakan atau mengandung kesalahan? Dan mengapa pula bagian itu Mas anggap sebagai kesalahan? Apa itu merupakan pendirian Mas atau memang ajaran Katolik?

Mudah saja mas, coba lihat bagaimana penterjemahan Alkitab, apakah sudah sempurna? Apakah tidak ada 'kekeliruan' jika dibandingkan dengan terjemahan dari KJV misalkan.

"Kesalahan" yang saya maksud dengan post di atas, adalah penilaian dari pihak diluar Kristen mas. Jadi, Alkitab pasti dianggap mengandung kesalahan (bahkan dianggap dipalsukan) oleh kaum Muslim, sedangkan Alquran yang dipegang oleh kaum Muslim jelas dianggap 'hanya karangan' Muhammad oleh orang Kristen. Jadi kita melihat dari sudut mana, menentukan bagaimana sikap kita kan?


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
epafras
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 50
Join date : 11.09.11

PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   12th September 2011, 12:15

bruce wrote:


Mudah saja mas, coba lihat bagaimana penterjemahan Alkitab, apakah sudah sempurna? Apakah tidak ada 'kekeliruan' jika dibandingkan dengan terjemahan dari KJV misalkan.



Ooo, ternyata yang Mas maksud itu bukan kekeliruan dalam 'ayat-ayat'-nya, tapi ternyata karena adanya perbedaan dalam penterjemahan Alkitab. OK, deh, saya ngerti. Trim's, ya, Mas....

Sekarang kembali ke laptop...

Bagaimana pendapat Mas tentang 'misi' bang Ulil di atas? Tentang esensinya? Mas setuju dengan dia?
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla   Today at 13:48

Kembali Ke Atas Go down
 
Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik - Ulil Abshar Abdhalla
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 2Pilih halaman : 1, 2  Next
 Similar topics
-
» Misteri 11 hari yang hilang dari kehidupan Agatha Christie
» Cara Membedakan Knalpot Yoshimura Thailand dan Lokal Ninja 250 secara kasat mata gan :D
» N250R vs Y@m@h@ Sc*rp!*

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Forum Terbuka :: Diskusi - Beragam Agama-
Navigasi: