Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  
Share | 
 

 Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 14:14

T2Y wrote:
bruce wrote:
Quote :
lah, katanya ada kelompok manusia yang otoritasnya sama tinggi dengan FT ???

Coba kutipkan post saya yang mengatakan seperti itu, sepertinya anda yang 'ngga nangkep' deh, atau memang 'harus' menolak? He he he he

kan anda bilang kalau kedudukan magisterium (yang diisi oleh Paus+Uskup) itu kedudukannya setara dengan FT ?
tapi mungkin ada di thread lain, yah ? Razz


Coba cari deh, pasti tidak ada, karena tidak pernah saya ucapkan kata kata itu

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 14:23

bruce wrote:
T2Y wrote:
bruce wrote:
Quote :
lah, katanya ada kelompok manusia yang otoritasnya sama tinggi dengan FT ???

Coba kutipkan post saya yang mengatakan seperti itu, sepertinya anda yang 'ngga nangkep' deh, atau memang 'harus' menolak? He he he he

kan anda bilang kalau kedudukan magisterium (yang diisi oleh Paus+Uskup) itu kedudukannya setara dengan FT ?
tapi mungkin ada di thread lain, yah ? Razz


Coba cari deh, pasti tidak ada, karena tidak pernah saya ucapkan kata kata itu

ya udah, deh...
sorry nih saya nanya lagi...
jadi otoritas tertinggi dalam Katolik itu apa selain FT ?
tradisi suci ?
atw wakil Tuhan yang punya wahyu tak terputus ?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 14:34

Quote :
ya udah, deh...
sorry nih saya nanya lagi...
jadi otoritas tertinggi dalam Katolik itu apa selain FT ?
tradisi suci ?
atw wakil Tuhan yang punya wahyu tak terputus ?

Otoritas dalam gereja berarti manusia bro, Paus, itu dalam Katolik. Jangan katakan Jesus atau Roh Kudus, karena Jesus lah yang disembah, bukan yang ngatur Gereja. Sedangkan Gereja mengatur umat Tuhan agar berjalan sesuai dengan Firman Tuhan.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 14:38

nah, perkataan Paus sama FT mana yang lebih tinggi ? Razz
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 14:51

T2Y wrote:
nah, perkataan Paus sama FT mana yang lebih tinggi ? Razz

FT dong, kok malah nanya sih?
Tetapi, kalau anda telisik lebih jauh lagi, apakah Alkitab sudah ditentukan isinya seperti yang anda lihat sekarang ini? Maka anda lihat bahwa para penulis FT itu adalah manusia (dengan bimbingan Roh Kudus), dan yang memilih buku mana saja yang sungguh sungguh FT, maka adalah Gereja yang berisi manusia itu yang memilihnya bro, tentu saja dengan bimbingan Roh Kudus.

Sekarang, jika anda percaya bahwa yang disebut FT itu awalnya adalah ucapan yang disampaikan secara lisan oleh para Rasul dengan bimbingan Roh Kudus, dan anda percaya janji Jesus bahwa Ia akan menyertai umatNya hingga akhir jaman, dan akan mengirim Roh Kudus untuk menyertai kita. Maka apakah anda ragu untuk percaya bahwa ucapan para penerus Rasul Jesus juga mengucapkan kebenaran yang sama dengan bimbingan Roh Kudus yang sama dan merupakan FT juga?

Syalom


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 15:00

Quote :
Sekarang, jika anda percaya bahwa yang disebut FT itu awalnya adalah ucapan yang disampaikan secara lisan oleh para Rasul dengan bimbingan Roh Kudus, dan anda percaya janji Jesus bahwa Ia akan menyertai umatNya hingga akhir jaman, dan akan mengirim Roh Kudus untuk menyertai kita.

ya, saya percaya janji-Nya.

Quote :

Maka apakah anda ragu untuk percaya bahwa ucapan para penerus Rasul Jesus juga mengucapkan kebenaran yang sama dengan bimbingan Roh Kudus yang sama dan merupakan FT juga?

tergantung apa yang mereka ucapkan, kalau buat saya sih saya akan coba lihat apakah sesuai dengan Alkitab ?
kalau enggak ya saya gak ikutin... Very Happy

oh, iya...
saya akan lihat dari apa yang mereka perbuat juga. :)
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 15:09

Quote :
tergantung apa yang mereka ucapkan, kalau buat saya sih saya akan coba lihat apakah sesuai dengan Alkitab ?
kalau enggak ya saya gak ikutin...

oh, iya...
saya akan lihat dari apa yang mereka perbuat juga.

Berarti anda menempatkan justru diri anda lebih tinggi dari FT yang diucapkan oleh para penerus Rasul Jesus kan bro? Karena FT yang anda sebut itu harus anda artikan sendiri, sebab tidak mungkin sesuatu yang jelas bertentangan dengan FT dilakukan oleh para penerus Rasul itu. Lain halnya dengan sesuatu yang bersifat tafsiran, dimana justru merekalah yang diberi wewenang untuk menafsirkan arti sebenarnya, dan anda justru merasa bisa menafsirkannya sendiri.

Syalom

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 15:28

Quote :
sebab tidak mungkin sesuatu yang jelas bertentangan dengan FT dilakukan oleh para penerus Rasul itu.

nah, disini perbedaannya Om... :)
anda yakin dan mengimani mereka tidak mungkin bertentangan dengan FT, tapi menurut saya mereka masih mungkin bertentangan.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 15:34

Quote :
nah, disini perbedaannya Om...
anda yakin dan mengimani mereka tidak mungkin bertentangan dengan FT, tapi menurut saya mereka masih mungkin bertentangan.

Makanya kan sejak di atas saya katakan, bahwa anda memang 'harus' menolak doktrin yang saya sampaikan (selogis apapun doktrin itu) karena akan langsung membentur doktrin yang anda imani selama ini.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 15:43

bruce wrote:
Quote :
nah, disini perbedaannya Om...
anda yakin dan mengimani mereka tidak mungkin bertentangan dengan FT, tapi menurut saya mereka masih mungkin bertentangan.

Makanya kan sejak di atas saya katakan, bahwa anda memang 'harus' menolak doktrin yang saya sampaikan (selogis apapun doktrin itu) karena akan langsung membentur doktrin yang anda imani selama ini.


bukan masalah logis gak logis, Om...
memang ada beberapa oknum diantara para penerus rasul Tuhan itu yang memang pernah bermasalah kan sepanjang kurun waktu pewahyuan pertama sejak Petrus sampai Pope Benedict XVI sekarang ini.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   12th July 2011, 16:05

Tidak dapat dipungkiri bahwa memang sejarah mencatat kehidupan beberapa Paus yang hidupnya tidak memberikan kesaksian yang baik tentang imannya. Beberapa contohnya terlampir di bawah ini (sumber dari New Advent Encyclopedia dan New Catholic Encyclopedia):

1. Paus Clement VII (1523-1534)
Giulio de’Medici (Clement VII) naik menjadi Paus menggantikan Paus Adrian VI. Di masa kepemimpinannya memang terjadi banyak masalah, yaitu berkembangnya revolusi Protestan, pertentangan politik antara Raja Francis I dan Kaisar Romawi Charles V, dan masalah permohonan pembatalan perkawinan Raja Henry VIII (Raja Inggris) dan kebutuhan untuk mengadakan reformasi Gereja.

a. Paus memihak reformer Protestan?
Setelah menjadi Paus, Clement VII memang menyampaikan keinginannya kepada Kaisar Charles V untuk mengadakan rekonsiliasi dengan para pengikut Luther. Kaisar Charles V menginginkan agar Paus mengadakan konsili, namun Paus menolak. Dua kali Paus bertemu dengan kaisar, namun mereka tidak mencapai kata sepakat, sehingga akhirnya di akhir pontifikat, masalah ini tidak terselesaikan, dan malah semakin parah. Karena sikapnya inilah, kemungkinan ada orang yang mencatatnya sebagai Paus yang kurang tegas, dan seolah membela pihak reformer Protestan. [Kita tidak pernah mengetahui alasan persisnya, namun mungkin saja justru ia ingin mengusahakan rekonsiliasi, tanpa perlu mengeluarkan pernyataan "anathema", seperti umumnya yang dinyatakan dalam konsili. Namun kemudian sejarah mencatat, bahwa akhirnya konsili tetap diadakan (Konsili Trent 1545- 1563) setelah masa pontifikat Clement VII, karena biar bagaimanapun Gereja perlu menyatakan kembali ajaran benar, dan menolak ajaran yang salah.

b. Paus memihak Perancis?
Terhadap persaingan politik Francis I dan Charles V, Paus berusaha tetap menjaga kondisi status quo, tidak memihak keduanya, namun ternyata tidak semudah itu. Pertikaian antara kedua Raja antara lain disebabkan oleh membelotnya panglima perang Raja Francis I yang bernama Duc de Bourbon, yang kemudian menjadi panglima perang Kaisar Charles V, dengan nama Constable Bourbon. Namun kemudian Kaisar Charles V kekurangan dana untuk membayar tentara di bawah pimpinan Constable tersebut, sehingga para serdadu mengancam akan memberontak. Dalam situasi ini Paus terombang- ambing akan kekuasaan kedua Kaisar. Akhirnya Raja Francis I ditangkap oleh tentara Spanyol dan diasingkan ke Madrid (14 Jan 1526). Raja Francis I lalu menyerahkan klaimnya di Italia. Pada bulan Mei 1526, Paus Clement VII membuat perjanjian dengan Perancis yang bersekutu dengan Venice dan Florence (tempat kelahiran Paus), untuk memeriksa perkembangan kekuasaan Charles V yang menciptakan suasana kegelisahan di Italia, terutama di Florence. Hal ini membuat Raja Charles V marah, dan kemudian menekan Paus untuk membayar tentara perang pimpinan Constable Bourbon. Demi keamanan, Paus setuju untuk membayar 60,000 ducats, dan bahkan tentara kaisar Charles kemudian memaksa pembayaran sebanyak 100,000 ducats. Namun pengorbanan ini ternyata masih dianggap kurang. Tentara bayaran tersebut yang banyak di antaranya adalah Lutheran memaksa Constable Bourbon untuk mengadakan perampokan/ penjarahan kota Roma. Terjadilah the Sack of Rome selama delapan hari, di mana terjadi penjarahan gedung- gedung gereja Katolik, para wanita termasuk para biarawati diperkosa, kedutaan dijarah, para kardinal diculik, dan upacara keagamaan diobrak- abrik dan para tentara berkelahi untuk memperebutkan hasil jarahan. Kerusuhan dan penjarahan ini mengakibatkan pemenjaraan Paus di Castel Sant'Angelo selama sekitar 7-8 bulan. Namun kemudian Paus bebas dan kembali ke Roma tahun 1528, dan akhirnya mengadakan perjanjian damai dengan Raja Charles V. Paus bahkan memahkotai Raja Charles di tahun 1530, dan perjanjian ini setidaknya menjadikan kondisi yang damai di Italia.

c. Paus tidak memihak Inggris?
Situasi menjadi lebih rumit lagi ketika pada saat itu juga terjadi kasus permohonan Anulasi (pembatalan perkawinan Raja Inggris) Henry VIII yang sudah menikah selama 18 tahun dengan Ratu Catherine dari Aragon, tetapi mereka tidak mempunyai keturunan, sehingga Raja Henry VIII berminat untuk menikah lagi dengan Anne Boleyn. Paus menunda untuk memberikan keputusan dengan harapan Raja Henry akan mengurungkan niatnya untuk menikahi Anne Boleyn. Ternyata harapan Paus tidak terjadi. Akhirnya dikeluarkannya keputusan tanggal 23 Maret 1534, tribunal kepausan menyatakan bahwa pernikahan Raja Henry VIII dengan Ratu Catherine tetap adalah perkawinan Kristiani yang sah. Namun sementara itu Raja Henry VIII sudah memisahkan diri dan membentuk skisma, yang kemudian menjadi pemimpin gereja Anglikan di Inggris.

Melihat fakta- fakta di atas, maka memang ceritanya cukup rumit, ada banyak kepentingan politik saat itu yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya. Maka cukup sulitlah juga untuk menilai apakah benar Paus "seringkali mengubah pandangan politiknya mengikuti siapa yang paling kuat dan kaya di setiap waktu," seperti yang dituduhkan. Walaupun sepertinya Paus tidak bermaksud memihak, namun kenyataannya tidak mudah, terutama juga dengan adanya keterlibatan para kaisar dan tentara pada jaman itu.

Para ahli sejarah setuju tentang karakter Paus Clement VII, yaitu ia adalah pertama- tama seorang diplomat, baru kemudian pemimpin rohani. Ia adalah seorang yang pandai namun diplomasinya lemah dan tidak tegas. Namun demikian, kehidupan pribadinya tidak tercela. Ia mempunyai banyak sifat- sifat yang positif, tetapi tidak memiliki sifat- sifat kepahlawanan dan kebesaran jiwa sebagai pemimpin. Mungkin saja sifat- sifatnya tidak populer, namun secara obyektif Paus Clement VII tidak mengajarkan hal yang salah. Ia bahkan dengan gigih mempertahankan ajaran Kristus tentang Perkawinan Kristiani yang tak terceraikan sampai mati (indissolubility of marriage), jika sudah sah sejak awalnya; walaupun taruhannya adalah terjadinya skisma. Di sini malah terlihat bahwa walaupun kepribadiannya mungkin lemah sebagai pemimpin, tetapi ketika sampai pada hal ajaran/ doktrin Gereja, ia tidak mau berkompromi. Jadi bahwa ia tidak memihak Raja Inggris, itu bukan karena urusan politik, tetapi karena ia tidak bisa menyetujui perbuatan Raja Henry VIII yang ingin menikah kedua kalinya.

Pada masa pontifikal Paus Clement VII lahirlah gerakan reformasi Gereja Katolik, yang dipelopori oleh the Oratory of the Divine Love, di Italia, dan kemudian timbullah tokoh- tokoh reformasi Katolik seperti Cajetan, Gian Pietro Carafa (Paulus IV), St. Ignatius dari Loyola (Jesuit), dan St. Angela Merici (Ursulin), dst.


2. Paus Leo X (1513-1521)
Pontifikat Paus Leo X diingat orang terutama karena pada masa kepemimpinannya terjadi pemisahan diri dari Martin Luther (1517) yang dipicu oleh kontroversi soal adanya surat indulgensi, yang sering disalahartikan sebagai penjualan surat pengampunan dosa. Tanggapan ini keliru, sebab maksud surat indulgensi itu bukan 'membayar/ menyumbang sejumlah uang supaya dosanya diampuni', tetapi 'menyumbang sejumlah uang sebagai tanda kasih setelah pertobatan dari dosa'.

Paus Leo X (Giovanni de' Medici) menjadi Paus pada tahun 1513, diusianya yang ke-38. Ia adalah Paus yang menyukai kesenian, musik, pertunjukan teater, aneka pertandingan, namun ia juga adalah seorang Paus yang murah hati dalam gerakan sosial, mendukung biara- biara, rumah sakit, para pelajar yang miskin, para prajurit, peziarah, pengungsi, penyandang cacat dan sakit, dan ia gemar berderma. Kedua jenis sifat- sifat ini nampak jelas dalam pribadi Paus Leo X. Dalam kepemimpinannya ia mendukung banyak karya sastra, karya seni dan ilmu pengetahuan, sehingga Roma menjadi pusat sastra di Eropa pada saat itu. Paus juga mendukung karya seni, terutama lukisan dan pahatan, dan beberapa tokoh seniman besar seperti Raphael dan Michael Angelo hidup pada masa Paus Leo X.

Di masa kepemimpinannya, Perancis beraliansi dengan Venice bermaksud untuk menguasai Milan, sedangkan Spanyol, dan Inggris beraliansi menentang Perancis. Awalnya Paus tidak memihak namun kemudian ia mengikuti kebijakan para pendahulunya, yaitu menentang rencana Perancis. Tahun 1513 itu juga terjadi rekonsiliasi dengan Perancis, dan para kardinal yang skismatik memperoleh pengampunan dan diterima kembali. Namun keadaan damai ini tidak berlangsung lama. Tahun 1516 Raja Spanyol berperang melawan Perancis dan Venesia, tapi kemudian mereka beraliansi demi memperoleh Italia Utara. Oleh karena itu posisi Paus menjadi terjepit. Dalam hal politik Paus nampaknya memang tidak tegas, namun itu tidak menjadikannya pengajar ajaran sesat. Sebab hal politik memang tidak berkaitan dengan hal doktrin Gereja.

Pada tahun 1517 terjadi Reformasi Protestan di Jerman yang dipelopori oleh Martin Luther. Saat itu Paus memberikan ijin untuk dikhotbahkannya tentang indulgensi di Jerman, agar diperoleh dana untuk membangun basilika St. Petrus di Roma. Sekarang mari kita melihat, bagaimana sebetulnya seseorang mendapatkan indulgesi. Tidak pernah Gereja mengajarkan bahwa indulgensi dapat diperoleh dengan uang. Gereja mengajarkan bahwa indulgensi tidak dapat dibeli, namun seseorang mendapatkan indulgensi dengan: 1) perbuatan kasih, 2) perbuatan baik: doa, berpuasa, dan memberikan sedekah/ derma, yang semuanya harus dilakukan dengan disposisi hati yang benar. Derma (almsgiving) selalu menjadi salah satu ungkapan perbuatan kasih (lih. Mat 6:2). Memberikan uang tidak dapat membeli indulgensi, namun memberi uang dengan dasar kasih membuat seseorang dapat memperoleh indulgensi. Kita melihat contoh bagaimana Yesus sendiri memuji persembahan janda miskin (Mk 12:41-44; Lk 21:1-4). Yesus memujinya bukan karena janda miskin memberikan uang, namun karena disposisi hatinya. Sebaliknya Gereja juga tidak memberikan indulgensi kalau seseorang memberikan uang tetapi tidak sebagai ungkapan kasih; sebab semuanya tergantung dari disposisi hati. Semua indulgensi selalu mensyaratkan “disposisi hati yang benar“.
Sayangnya, pada saat itu pengkhotbah Dominikan, Johann Tetzel yang diutus berkhotbah di Juterbog, Jerman, membuat suatu pantun yang memang “salah kaprah”, yang intinya seperti ini, “Begitu terdengar bunyi emas di kotak, bangkitlah jiwa menuju surga.” Maka kesannya seolah-olah orang didorong untuk menyumbang supaya dapat masuk surga. Padahal, jika kita membaca tentang ajaran indulgensi, terlihat bahwa yang dihapuskan dengan indulgensi itu adalah siksa dosa temporal dari dosa-dosa yang sudah diampuni (melalui Sakramen Tobat) dan bukan membebaskan seseorang dari siksa dosa dari dosa yang belum terjadi. Maka, yang mengampuni dosa tetaplah Kristus melalui para imam-Nya, dan sesungguhnya, perbuatan apapun tidak dapat menggantikan peran Kristus untuk mengampuni dan menyelamatkan seseorang. Yang diperoleh dari indulgensi ‘hanyalah’ penghapusan siksa dosa yang harus ditanggung seseorang, dari dosa yang sudah diampuni oleh Tuhan Yesus. (Doktrin Indulgensi terkait dengan doktrin Sakramen Tobat, Api Penyucian, dan mendoakan jiwa orang-orang beriman yang sudah meninggal. Doktrin-doktrin inilah yang kemudian ditolak oleh gereja Protestan).

Praktek korupsi yang terjadi sehubungan dengan penerapan ajaran indulgensi inilah yang diprotes oleh Martin Luther. Dalam 95 thesis yang diletakkan di pintu gereja tersebut tak lama setelah Tetzel datang, thesis no.27 Luther memprotes pantun Tetzel, dan thesis no. 50 dan 86 memprotes pembangunan basilika St. Petrus. Namun Luther sendiri sebenarnya tidak menolak prinsip pengajaran tentang indulgensi; ia hanya menentang penerapannya. Thesis no. 49 membuktikan hal ini di mana Luther mengatakan bahwa indulgensi sebenarnya “berguna”. (Sumber: Martin Luther, Disputation of Doctor Martin Luther on the Power and Efficacy of Indulgences, 1517, Project Wittenberg, 2 July 2008).

Dan kemudian beberapa konsili, the Councils of Fourth Lateran [1215], Lyons [1245 and 1274] and Vienne [1311-1312]. Dan di Konsili Trente [1545-1563], Paus Pius V membatalkan segala peraturan indulgensi yang melibatkan transaksi keuangan. Maka sampai sekarang, derma tidak termasuk dalam perbuatan yang disyaratkan untuk memperoleh indulgensi. Namun demikian, Gereja tetap mempunyai kuasa untuk melepaskan umat dari siksa dosa temporal akibat dari dosa-dosa yang sudah diakui dalam Sakramen Pengakuan Dosa.

Perlu diketahui di sini, bahwa indulgensi tidak pernah diperjualbelikan/ “for sale” seperti yang dituduhkan. Meskipun indulgensi pada jaman paus Leo X dapat diperoleh dengan menyumbang, namun jangan dilupakan bahwa hati yang bertobat, dan segala persyaratan religius lainnya harus ditepati agar indulgensi tersebut dapat sah diberikan. Jadi bukan semacam membeli surat dan setelah itu dosa diampuni. Bukan demikian, karena sebelum menerima indulgensi, seseorang harus tetap mengaku dosa dan menerima sakramen Tobat terlebih dahulu, dan juga memenuhi persyaratan religius lainnya. Maka, indulgensi bukan untuk menggantikan peran sakramen Pengakuan Dosa maupun silih dosa/ penance yang diberikan kepada umat pada sakramen tersebut oleh imam.


3. Paus Julius II (1503-1513)
Paus Julius II memang dikenal sebagai Paus yang keras dalam kebijakan politik luar negerinya, Paus yang menjadi patron dalam hal seni (arts), namun sayangnya, juga sebagai Paus yang tidak terpuji kehidupannya sebelum menjabat menjadi Paus, karena ia mempunyai anak perempuan yang bernama Felice della Rovere, yang lahir tahun 1483. Tidak lama setelah kelahirannya, ibunya yang bernama Lucrezia Normanni kemudian menikah dengan Bernardino de Cupis, seorang pembesar di casa milik sepupu Paus Julius II. Sedangkan catatan Pompeo Litta, bahwa Paus Julius II mempunyai dua anak lagi yaitu Guilia dan Clarice, adalah keliru, karena kedua anak itu sesungguhnya adalah anak dari Felice (lihat Litta, “Famiglie Celebri Italiane” (Celebrated Italian Families), 1833).
Saya juga membaca sumber Wikipedia (sama dengan sumber yang anda sebutkan), tetapi saya tidak menemukan pernyataan adanya tuntutan dewan (mungkin maksudnya konsili) karena tindakan cabul Julius. Konsili yang dilakukan pada tahun 1511 adalah konsili yang diadakan oleh para kardinal skismatik di Pisa, diadakan oleh para kardinal yang menentang Paus karena tidak setuju dengan kebijakan politiknya yang menentang Perancis, dan bukan karena kehidupan pribadinya.

Walaupun sejarah mencatat hal-hal buruk pada Paus Julius II, yaitu kebijakan politiknya yang keras, yaitu perang untuk melawan pengaruh Perancis atas wilayah Italia dan Kepausan; serta fakta bahwa ia mempunyai seorang anak perempuan sebelum menjadi Paus, namun itu tidak menjadikannya sebagai pengajar yang sesat. Beberapa keputusan Paus Julius II sehubungan dengan pengaturan Gereja adalah: 1) ia mengeluarkan Bulla (Bull) tentang peraturan menentang simony dalam kepemilihan Paus, 2) mendirikan Kepausan di Haiti, San Domingo, Porto Rico, 3) menolak ajaran sesat yang menentang Inkarnasi oleh Piero de Lucca 1511, 4) mengadakan reformasi ordo dan biara, 5) mendirikan sekolah chant gerejawi Capella Julia, 6) mengadakan Konsili Lateran V untuk menghentikan pelanggaran- pelanggaran yang dilakukan oleh Roman Curia, dan untuk menghentikan rencana- rencana kardinal skismatik; 7) menjadi patron seni. Bramante, Raphael dan Michael Angelo memberikan karya terbaik mereka hidup pada masa kepemimpinan Paus Julius II; Cool meletakkan batu penjuru gedung basilika St. Petrus.
4. Paus Alexander VI (1492- 1503)

Paus Alexander VI memang merupakan salah seorang Paus yang paling kontroversial. Kepemimpinannya diwarnai banyak hal yang sangat negatif, misalnya mempunyai hubungan dengan wanita Roma sampai mempunyai empat orang anak. Oleh karena itu memang hidupnya tidak lurus, ia banyak berpihak melindungi anak-anaknya, terutama Cesare Borgia. Pada masa kepemimpinannya juga terjadi perang dan pembunuhan salah seorang anggota keluarganya, yaitu suami dari salah seorang anak perempuannya.

Membaca kisah hidup Alexander VI ini kita memang dapat menjadi sangat prihatin, atau mungkin lebih tepatnya tercengang, mengapakah ada seorang Paus yang hidupnya sedemikian. Namun kisah yang benar tidak perlu ditutupi, agar umat Katolik sendiri mengetahui bahwa memang dalam sejarah Gereja, terdapat beberapa Paus yang hidupnya tidak kudus. Paus Leo XIII dalam suratnya kepada Cardinal De Luca (1889) tentang pembelajaran Sejarah Gereja menyatakan, “Para ahli sejarah Gereja mempunyai tugas untuk tidak menyembunyikan apapun pencobaan yang harus diderita oleh Gereja karena kesalahan anak- anaknya, dan bahkan karena kesalahan para pemimpinnya sendiri.” Namun kesalahan yang dimaksud di sini adalah kesalahan pribadi orang yang bersangkutan, dan bukan kesalahan ajaran Gereja. Dengan demikian, martabat kepemimpinan St. Petrus tetaplah terjaga seperti dikatakan oleh St. Leo Agung (440-461), “martabat St. Petrus tidak berkurang bahkan dalam para penerusnya yang tidak layak.”

Dari fakta di atas, terlihat bahwa bahkan dengan situasi yang parah sekalipun, Gereja Katolik tidak sesat ataupun bubar. Sebab para Paus yang tak bermoral itu (contohnya Paus Alexander VI dan Paus Julius II) tidak mempromulgasikan ajaran apapun yang bertentangan dengan ajaran Kristiani. Ini adalah bukti dari janji Kristus sendiri, “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18)


5. Paus Benediktus IX (1032-1048)
Tidak banyak yang dicatat tentang kegiatan kepausan Paus Benediktus IX, kecuali mengadakan 2-3 sinoda di Roma, dan memberikan beberapa hak istimewa kepada gereja- gereja dan biara. Paus Benediktus IX ini memang juga dikenal sebagai paus yang tak bermoral. Kehidupannya yang sedemikian mengakibatkan perpecahan, sehingga dipilihlan seorang Paus tandingan (antipope), yaitu Yohanes, Uskup Sabina (1045), yang mengambil nama Sylverster III. Paus Benediktus memberhentikan Sylvester tahun itu juga, lalu memberikan tahtanya kepada Yohanes Gratian yang mengambil nama Gregorius VI (1045). Tetapi kemudian Benediktus menyesal dan ingin menggeserkan Gregorius. Kekacauan akan adanya tiga paus ini kemudian diatasi oleh Konsili Sutri (1046) dan seorang Uskup Jerman, Suidger, naik menjadi Paus, dan mengambil nama Paus Klemens II. Paus Benediktus masing berusaha kembali menjadi Paus, namun tidak berhasil, dengan naiknya seorang Paus Jerman berikutnya, yaitu Paus Damasus II (1048).

Akhir hidup Paus Benediktus IX tidak diketahui dengan pasti. Ada yang mengisahkan bahwa sampai ia wafat, ia masih terus berusaha kembali naik menjadi Paus. Namun kemungkinan fakta yang benar adalah seperti yang tertulis dalam tradisi biara pertapaan Grottaferrata, yang diturunkan oleh Pemimpin Pertapa Lukas (wafat 1085) yang didukung oleh pahatan dan monumen lainnya di dinding- dinding biara. Dituliskan di sana oleh pemimpin ke empat yang bernama Batholomeus (1065) bahwa Paus Benediktus datang kepada Bartholomeus untuk berkonsultasi. Atas saran Bartholomeus, Paus mengundurkan diri dari kepausan dan meninggal dalam penyesalan atas dosa- dosanya, di Grottaferrata.[1]


6. Paus Yohanes XII (955-964).
Silakan anda membaca di sini, silakan klik, dan melihat bahwa Paus Yohanes XII ini memang pernah dituduh oleh sinode (963) para uskup (50 uskup Italia dan Jerman) bahwa ia melakukan sakrilegi, simoni, dusta, pembunuhan, percabulan dan incest. Paus Yohanes XII menolak mengakui sinode itu, namun kemudian timbullah kekacauan sampai terjadi penunjukan penggantinya yang mengambil nama Leo VIII, pada saat Yohanes XII masih menjabat sebagai Paus. Tidak ada pengajaran kepausan yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes XII.


7. Paus Stefanus VI (896-897)
Nampaknya ada kesalahan mengutip/ menerjemahkan pada sumber yang anda ambil. Di Wikipedia tidak dikatakan bahwa Paus Stefanus VI membunuh Paus pendahulunya, Paus Formosus. Yang dilakukan oleh Paus Stefanus – yang didukung oleh Kaisar Lambert dari Spoleto- adalah menggali kubur Paus Formosus, mengeluarkan mayatnya untuk diadili dalam sinode Cadaver (897). Seorang diakon ditunjuk untuk menjawab atas nama Paus Formosus, yang diadili karena semasa hidupnya menjalankan tugas sebagai Uskup ketika ia sudah diekskomunikasi, dan menerima tugas kepausan ketika ia menjadi Uskup Porto, dan beberapa tuduhan lainnya. Jasad tersebut kemudian dinyatakan bersalah, dilucuti pakaiannya, dipotong tiga jari tangan kanannya, dan kemudian jenazah Formosus itu dibuang di sungai Tiber. Pengadilan jenazah Formosus ini menimbulkan kerusuhan massa. Kerusuhan berakhir dengan dibunuhnya Paus Stefanus VI dengan dicekik. Demikianlah akhir dari masa kepausan Stefanus VI, yang tidak banyak melakukan tindakan kepausan, kecuali membatalkan ordo- ordo yang didirikan oleh Paus Formosus, dan memberikan beberapa hak istimewa (privileges) kepada gereja- gereja.

Berikut ini adalah juga daftar Paus yang juga pernah dipertanyakan.

8. Paus Innocentius III (1198-1216) membantai kelompok Kataris?
Di sini, saya rasa kita perlu melihatnya secara obyektif. Paus Innocentius III dikenal sebagai pembela dan pelindung Iman yang sejati dari ajaran sesat. Kelompok Kataris (yang mengaku sebagai kelompok puritan- yang murni), yang juga terkenal sebagai Albigenses (aliran Kataris dari Albi) memang pada saat itu menyebarkan ajaran yang sesat dengan begitu agresif dan menyebarkannya dengan paksa. Ajaran sesat itu adalah prinsip Dualisme, yang merupakan prinsip pengajaran ajaran sesat Manichaeism yang berakar pada ajaran Gnosticism pada abad pertama. Prinsip Dualisme ini sangat bertentangan dengan ajaran Kristiani. Dualisme percaya akan adanya dua kekuatan, yaitu kekuatan baik dan jahat. Kekuatan baik ini dikatakan sebagai pencipta alam spiritual yang tak kelihatan; sedangkan kekuatan jahat sebagai pencipta dunia material. Dengan demikian, mereka melihat bahwa tubuh/ materi adalah sesuatu yang jahat. Beberapa konsep yang keliru itu misalnya: 1) konsep keselamatan bagi mereka adalah ‘pembebasan dari tubuh’; 2) mereka membenci perkawinan, karena perkawinan memungkinkan terciptanya ‘tubuh’ yang baru 3) mereka mendukung homoseksualitas/ perkawinan sesama jenis; 4) mereka mentolerir/ mendorong tindakan bunuh diri, karena menyebabkan seseorang terlepas dari ‘tubuh’. Di atas semua itu, dengan konsep ‘merendahkan tubuh, mereka tidak menghargai Inkarnasi (Penjelmaan Tuhan Yesus menjadi manusia, dan mengambil ‘tubuh’ manusia). Dan karena Penjelmaan Kristus merupakan salah satu inti Iman Kristiani, maka dapat dimengerti bahwa ajaran Kataris ini sungguh sangat menentang kebenaran iman Kristiani. Semoga kita semua bisa menilai dengan obyektif, bahwa ajaran Kataris ini sungguh menyimpang!

Maka demi menjaga kemurnian ajaran iman Kristiani, Paus Innocentius mengirimkan dua orang pertapa Cisterian, yaitu Rainer dan Guido kepada kaum Albigenses di Perancis, untuk mengajarkan kepada kaum Albigensian itu ajaran Iman yang benar. Kedua pertapa itu kemudian diikuti oleh Diego, Uskup Osma, dan St. Dominikus, dan dua utusan kepausan, Peter Castelnau dan Raoul. Namun misi ini ditolak dan dihina oleh pihak Albigenses. Maka ketika utusan kepausan, Peter Castelnau dibunuh tahun 1208, Paus Innocentius memutuskan untuk menghadapi mereka dengan kekerasan. Dalam moral teologi, ini disebut sebagai ‘just war’, karena sudah didahului cara-cara perdamaian, namun tidak berhasil, sedangkan kebenaran iman-lah yang menjadi taruhannya. Suatu keputusan yang sangat sulit harus dilakukan oleh Paus Innocentius III untuk menjaga kemurnian ajaran iman.


9. Paus Urbanus VI (1378- 1389) menyiksa dan memenjarakan 6 kardinal?
Kisah tentang Paus Urbanus VI ini berkaitan dengan kondisi skisma yang dihasilkan setelah Tahta Kepausan dikembalikan dari Avignon ke Roma oleh Paus Gregorius XI (1378) yang mengakhiri Kepausan Avignon. Setelah Paus Gregorius XI wafat, orang-orang Roma mendesak agar Paus dipilih dari Italia, maka para kardinal memilih Paus Urban VI. Di awal kepemimpinannya terjadi pergolakan yang berkaitan dengan pemerintahan Naples, dan ia tidak mendengarkan advis dari para kardinalnya. Akhirnya para kardinal memberontak, dan kemudian 6 kardinal ini ditahan, dan disiksa, 5 di antara mereka dihukum mati. Ini memang adalah suatu perbuatan yang tidak bijaksana.

Kemudian para kardinal memilih Paus tandingan bernama Clemens VII. Lalu konsili di Pisa diadakan tahun 1409, untuk menyelesaikan hal ini, tapi kemudian malah memilih Paus yang ketiga Alexander V, dan segera diikuti oleh Paus Yohanes XXIII (Paus tandingan/ anti-pope yang memakai nama Paus Yohanes XXIII). Akhirnya Konsili Konstance tahun 1417 menurunkan Paus Yohanes XXIII (paus tandingan tersebut), Paus Avignon (Benediktus XIII), dan Paus Roma Gregorius XII, lalu memilih Paus Martin V untuk meneruskan kepemimpinan Rasul Petrus, dan dengan demikian mengakhiri skisma.

Sejak saat itu, didekritkan bahwa tidak akan ada lagi Konsili yang mempunyai kuasa di atas para Paus, dan tidak ada lagi jalan untuk membatalkan pemilihan Paus oleh seorangpun kecuali oleh Paus itu sendiri.


10. Paus Clement XIV (1769- 1774) membubarkan ordo Jesuit?
Dalam hal ini memang kita tidak dapat mengetahui secara pasti mengapa Paus Clement XIV memutuskan demikian. Dikatakan di dalam Brief untuk membubarkan SJ tersebut tidak disebutkan secara jelas mengapa; namun jika kita melihat deskripsi sejarahnya, kemungkinan ini berkaitan dengan tekanan politik terhadap Paus. Maka St. Alphonsus Liguori mengatakan, “What could the poor pope do when all the Courts insisted on the suppresion [of the Jesuits]?” Atau Jesuit Cordara, “”I think we should not condemn the pontiff who, after so many hesitations, has judged it his duty to suppress the Society of Jesus I love my order as much as any man, yet, had I been in the pope’s place I should probably have acted as he did. … (SJ), founded and maintained for the good of the Church, perished for the same good; it could not have ended more gloriously.”


11. Paus Gregorius XVI (1831-1846) melarang teknologi kereta api?
Tanggapan ini kelihatannya terlalu berlebihan. Paus Gregorius XVI memang terkenal sangat konservatif dan tidak menyukai hal-hal yang baru. Namun bukan berarti ia melarang secara resmi teknologi kereta api, dan tidak ada dokumen yang menyatakan pandangannya yang demikian secara tertulis. Setahu saya yang mengungkapkan bahwa Paus Gregorius tidak menyukai kereta api adalah Charles Dickens, seorang novelis dari Inggris. Maka hal ini serupa dengan seseorang penulis yang merekam kesan/ pendapat seseorang akan sesuatu. Tentu rekaman komentar ini tidak bernilai mengikat, karena itu sifatnya hanya kesan pribadi.


12. Paus Pius XI (1922-1939) anti komunis tapi pro NAZI?
Tanggapan ini keliru. Bahkan di sumber yang netral di Wikipedia (silakan klik), kita dapat melihat bahwa faktanya tidak demikian. Paus XI terkenal sebagai Paus yang menjunjung tinggi martabat manusia, menentang komunisme, dan eksploitasi kapitalisme internasional. Surat ensikliknya yang terkenal adalah Quadragesimo Anno, yang merupakan salah satu sumber ajaran sosial Gereja yang penting.

Yang benar adalah memang Paus Pius XI dan Adolf Hitler menandatangai perjanjian Concordat 1933, yang dimaksudkan terutama agar negara yang bersangkutan (dalam hal ini Jerman) mengakui dan menjamin hak-hak umat Katolik di negara itu. Namun kenyataannya kemudian Hitler melanggar perjanjian itu, dan bahkan semakin menunjukkan kekerasan terhadap umat Kristiani. Maka pada tahun 1937 Paus Pius XI menulis ensiklik, Mit Brennender Sorge, yang ngecam ideologi Nazi yaitu racisme, totalitarianisme dan pelanggaran Nazi terhadap Concordat. Ensiklik ini mengecam ideologi nasional- sosialisme yang bersifat pagan, mitos rasis dan darah kebangsawanan, dan konsep yang salah tentang Tuhan.

“Whoever exalts race, or the people, or the State, or a particular form of State, or the depositories of power, or any other fundamental value of the human community—however necessary and honorable be their function in worldly things—whoever raises these notions above their standard value and divinizes them to an idolatrous level, distorts and perverts an order of the world planned and created by God; he is far from the true faith in God and from the concept of life which that faith upholds.” (Mit Brennender Sorge Cool

Fakta selanjutnya adalah umat Katolik di Jerman yang mencetak dan menyebarkan surat ensiklik itu dipenjara atau dibuang ke kamp konsentrasi. Hanya sayangnya, hal ini tidak diberitakan oleh dunia Barat; maka Paus Pius XI mengatakan ini sebagai “a conspiracy of silence“. Paus Pius XI tetap pada pendiriannya, dan ia mengajarkan, “Mark well that in the Catholic Mass, Abraham is our Patriarch and forefather. Anti-Semitism is incompatible with the lofty thought which that fact expresses. It is a movement with which we Christians can have nothing to do. No, no, I say to you it is impossible for a Christian to take part in anti-Semitism. It is inadmissible. Through Christ and in Christ we are the spiritual progeny of Abraham. Spiritually, we [Christians] are all Semites”[2].

Pada dasarnya Paus Pius XI mengatakan tidaklah mungkin bagi seorang Kristiani untuk menjadi anti Yahudi. Sebab melalui Kristus dan di dalam Kristus, kita semua adalah keturunan Abraham secara spiritual. Maka secara spiritual umat Kristiani adalah orang Yahudi. Dengan demikian, tidaklah benar bahwa Paus Pius XI pro-Nazi dan anti Yahudi.


13. Paus Pius XII membiarkan holokaus di Roma?
Gambaran yang menyatakan Paus Pius XII pro NAZI dan membiarkan holokaus adalah tuduhan yang keliru. Silakan membaca kesaksian bahkan dari kaum Yahudi sendiri bagaimana Paus malah melindungi mereka, dan berperan dalam menyelamatkan sedikitnya 700, 000 orang Yahudi atau malah 860, 000 orang, menurut Pinchas Lapide, seorang teologian Yahudi dan diplomat Israel dalam bukunya Three Popes and the Jews, seperti dikutip di Wikipedia. Bahwa ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Paus XI mungkin dapat berbuat lebih banyak untuk melindungi orang Yahudi/ menyetop holokaus, itu mungkin masih dapat diperdebatkan (walau tetap tidak dapat memuaskan, karena tak seorangpun dari kita mengetahui secara persis keadaan yang dihadapi Paus pada saat itu), tetapi tuduhan yang mengatakan bahwa Paus Pius XII membiarkan holokaus dan tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan orang Yahudi, itu adalah tuduhan yang sangat keliru.

Bagi saya walaupun sejarah mencatat beberapa Paus yang kontroversial, itu tidak menggoyahkan iman saya, dan malah sebaliknya, makin meyakinkan saya akan janji kesetiaan Kristus untuk menyertai Gereja-Nya sampai akhir jaman (Mat 28:20). Sebab jika hal itu terjadi pada organisasi manusia, maka organisasi itu sudah bubar sejak lama. Namun karena Kristus menjaganya dengan Roh Kudus-Nya, maka Gereja Katolik tetap eksis sampai sekarang.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   13th July 2011, 12:27

Paus favorit saya : Paus Yohanes Paulus II (Karol Wojtyła)


kalau yang laen kagak tahu, kecuali yang sekarang Paus Benediktus XVI.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   13th July 2011, 13:06

@T2Y

Tanpa bermksud membanding badingkan antar Paus, saya sangat sangat sependapat dengan anda bro.

Pope John Paul II adalah contoh terbaik bagaimana menjadi seorang Kristen, dia banyak memberi inspirasi bagi seluruh manusia, bukan hanya bagi orang Kristen saja.




_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   13th July 2011, 13:46

Quote :
Pope John Paul II adalah contoh terbaik bagaimana menjadi seorang Kristen, dia banyak memberi inspirasi bagi seluruh manusia, bukan hanya bagi orang Kristen saja.

setuju... :)
lihat senyum beliau aja udah adem... Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   13th July 2011, 14:06


[You must be registered and logged in to see this image.]



Jujur saja, saya selalu kagum pada beliau, senyumnya begitu tulus dan penuh kasih, tidak ada kepura puraan di situ.

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.


Terakhir diubah oleh bruce tanggal 13th July 2011, 14:31, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   13th July 2011, 14:30

[You must be registered and logged in to see this image.]

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   13th July 2011, 14:34

kalem banget ya mukanya, kalau Paus yang sekarang agak lain... Razz
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   13th July 2011, 14:46

T2Y wrote:
kalem banget ya mukanya, kalau Paus yang sekarang agak lain... Razz

He he he, agak sangar ya?

Tetapi setahu saya, Paus Benedict XVI sewaktu masih kardinal, adalah salah satu pembantu Paus yang paling ahli soal doktrin Gereja.

Nah saat pemilihan Paus, memang para kardinal itu kesulitan, karena tidak ada satu orangpun yang akan sanggup mendekati apa yang dimiliki Pope John Paul II, jadi dari antara semua Kardinal, salah satu yang terbaik dalam kemampuan adalah Kardinal Ratzinger itu.

Nah, karenanya waktu di LT lama (atau di FK?) ada yang tanya tentang 'Paus mengijinkan penggunaan kondom oleh para homo' saya sebelum membacapun sudah langsung menentang itu, karena saya yakin, Ratzinger sangat kuat dalam doktrin, jadi tidak akan mungkin dia memberi sesuatu yang sangat diharamkan oleh doktrin Katolik.

Yah, masing masing ada plus minus nya, walau untuk Pope John Paul II, saya jujur saja, tidak menemukan satupun kekurangannya.



_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting: 301
Join date: 07.03.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   15th July 2011, 23:36

bruce wrote:
Tidak dapat dipungkiri bahwa memang sejarah mencatat kehidupan beberapa Paus yang hidupnya tidak memberikan kesaksian yang baik tentang imannya. Beberapa contohnya terlampir di bawah ini (sumber dari New Advent Encyclopedia dan New Catholic Encyclopedia):

1. Paus Clement VII (1523-1534)
Giulio de’Medici (Clement VII) naik menjadi Paus menggantikan Paus Adrian VI. Di masa kepemimpinannya memang terjadi banyak masalah, yaitu berkembangnya revolusi Protestan, pertentangan politik antara Raja Francis I dan Kaisar Romawi Charles V, dan masalah permohonan pembatalan perkawinan Raja Henry VIII (Raja Inggris) dan kebutuhan untuk mengadakan reformasi Gereja.

a. Paus memihak reformer Protestan?
Setelah menjadi Paus, Clement VII memang menyampaikan keinginannya kepada Kaisar Charles V untuk mengadakan rekonsiliasi dengan para pengikut Luther. Kaisar Charles V menginginkan agar Paus mengadakan konsili, namun Paus menolak. Dua kali Paus bertemu dengan kaisar, namun mereka tidak mencapai kata sepakat, sehingga akhirnya di akhir pontifikat, masalah ini tidak terselesaikan, dan malah semakin parah. Karena sikapnya inilah, kemungkinan ada orang yang mencatatnya sebagai Paus yang kurang tegas, dan seolah membela pihak reformer Protestan. [Kita tidak pernah mengetahui alasan persisnya, namun mungkin saja justru ia ingin mengusahakan rekonsiliasi, tanpa perlu mengeluarkan pernyataan "anathema", seperti umumnya yang dinyatakan dalam konsili. Namun kemudian sejarah mencatat, bahwa akhirnya konsili tetap diadakan (Konsili Trent 1545- 1563) setelah masa pontifikat Clement VII, karena biar bagaimanapun Gereja perlu menyatakan kembali ajaran benar, dan menolak ajaran yang salah.

b. Paus memihak Perancis?
Terhadap persaingan politik Francis I dan Charles V, Paus berusaha tetap menjaga kondisi status quo, tidak memihak keduanya, namun ternyata tidak semudah itu. Pertikaian antara kedua Raja antara lain disebabkan oleh membelotnya panglima perang Raja Francis I yang bernama Duc de Bourbon, yang kemudian menjadi panglima perang Kaisar Charles V, dengan nama Constable Bourbon. Namun kemudian Kaisar Charles V kekurangan dana untuk membayar tentara di bawah pimpinan Constable tersebut, sehingga para serdadu mengancam akan memberontak. Dalam situasi ini Paus terombang- ambing akan kekuasaan kedua Kaisar. Akhirnya Raja Francis I ditangkap oleh tentara Spanyol dan diasingkan ke Madrid (14 Jan 1526). Raja Francis I lalu menyerahkan klaimnya di Italia. Pada bulan Mei 1526, Paus Clement VII membuat perjanjian dengan Perancis yang bersekutu dengan Venice dan Florence (tempat kelahiran Paus), untuk memeriksa perkembangan kekuasaan Charles V yang menciptakan suasana kegelisahan di Italia, terutama di Florence. Hal ini membuat Raja Charles V marah, dan kemudian menekan Paus untuk membayar tentara perang pimpinan Constable Bourbon. Demi keamanan, Paus setuju untuk membayar 60,000 ducats, dan bahkan tentara kaisar Charles kemudian memaksa pembayaran sebanyak 100,000 ducats. Namun pengorbanan ini ternyata masih dianggap kurang. Tentara bayaran tersebut yang banyak di antaranya adalah Lutheran memaksa Constable Bourbon untuk mengadakan perampokan/ penjarahan kota Roma. Terjadilah the Sack of Rome selama delapan hari, di mana terjadi penjarahan gedung- gedung gereja Katolik, para wanita termasuk para biarawati diperkosa, kedutaan dijarah, para kardinal diculik, dan upacara keagamaan diobrak- abrik dan para tentara berkelahi untuk memperebutkan hasil jarahan. Kerusuhan dan penjarahan ini mengakibatkan pemenjaraan Paus di Castel Sant'Angelo selama sekitar 7-8 bulan. Namun kemudian Paus bebas dan kembali ke Roma tahun 1528, dan akhirnya mengadakan perjanjian damai dengan Raja Charles V. Paus bahkan memahkotai Raja Charles di tahun 1530, dan perjanjian ini setidaknya menjadikan kondisi yang damai di Italia.

c. Paus tidak memihak Inggris?
Situasi menjadi lebih rumit lagi ketika pada saat itu juga terjadi kasus permohonan Anulasi (pembatalan perkawinan Raja Inggris) Henry VIII yang sudah menikah selama 18 tahun dengan Ratu Catherine dari Aragon, tetapi mereka tidak mempunyai keturunan, sehingga Raja Henry VIII berminat untuk menikah lagi dengan Anne Boleyn. Paus menunda untuk memberikan keputusan dengan harapan Raja Henry akan mengurungkan niatnya untuk menikahi Anne Boleyn. Ternyata harapan Paus tidak terjadi. Akhirnya dikeluarkannya keputusan tanggal 23 Maret 1534, tribunal kepausan menyatakan bahwa pernikahan Raja Henry VIII dengan Ratu Catherine tetap adalah perkawinan Kristiani yang sah. Namun sementara itu Raja Henry VIII sudah memisahkan diri dan membentuk skisma, yang kemudian menjadi pemimpin gereja Anglikan di Inggris.

Melihat fakta- fakta di atas, maka memang ceritanya cukup rumit, ada banyak kepentingan politik saat itu yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya. Maka cukup sulitlah juga untuk menilai apakah benar Paus "seringkali mengubah pandangan politiknya mengikuti siapa yang paling kuat dan kaya di setiap waktu," seperti yang dituduhkan. Walaupun sepertinya Paus tidak bermaksud memihak, namun kenyataannya tidak mudah, terutama juga dengan adanya keterlibatan para kaisar dan tentara pada jaman itu.

Para ahli sejarah setuju tentang karakter Paus Clement VII, yaitu ia adalah pertama- tama seorang diplomat, baru kemudian pemimpin rohani. Ia adalah seorang yang pandai namun diplomasinya lemah dan tidak tegas. Namun demikian, kehidupan pribadinya tidak tercela. Ia mempunyai banyak sifat- sifat yang positif, tetapi tidak memiliki sifat- sifat kepahlawanan dan kebesaran jiwa sebagai pemimpin. Mungkin saja sifat- sifatnya tidak populer, namun secara obyektif Paus Clement VII tidak mengajarkan hal yang salah. Ia bahkan dengan gigih mempertahankan ajaran Kristus tentang Perkawinan Kristiani yang tak terceraikan sampai mati (indissolubility of marriage), jika sudah sah sejak awalnya; walaupun taruhannya adalah terjadinya skisma. Di sini malah terlihat bahwa walaupun kepribadiannya mungkin lemah sebagai pemimpin, tetapi ketika sampai pada hal ajaran/ doktrin Gereja, ia tidak mau berkompromi. Jadi bahwa ia tidak memihak Raja Inggris, itu bukan karena urusan politik, tetapi karena ia tidak bisa menyetujui perbuatan Raja Henry VIII yang ingin menikah kedua kalinya.

Pada masa pontifikal Paus Clement VII lahirlah gerakan reformasi Gereja Katolik, yang dipelopori oleh the Oratory of the Divine Love, di Italia, dan kemudian timbullah tokoh- tokoh reformasi Katolik seperti Cajetan, Gian Pietro Carafa (Paulus IV), St. Ignatius dari Loyola (Jesuit), dan St. Angela Merici (Ursulin), dst.


2. Paus Leo X (1513-1521)
Pontifikat Paus Leo X diingat orang terutama karena pada masa kepemimpinannya terjadi pemisahan diri dari Martin Luther (1517) yang dipicu oleh kontroversi soal adanya surat indulgensi, yang sering disalahartikan sebagai penjualan surat pengampunan dosa. Tanggapan ini keliru, sebab maksud surat indulgensi itu bukan 'membayar/ menyumbang sejumlah uang supaya dosanya diampuni', tetapi 'menyumbang sejumlah uang sebagai tanda kasih setelah pertobatan dari dosa'.

Paus Leo X (Giovanni de' Medici) menjadi Paus pada tahun 1513, diusianya yang ke-38. Ia adalah Paus yang menyukai kesenian, musik, pertunjukan teater, aneka pertandingan, namun ia juga adalah seorang Paus yang murah hati dalam gerakan sosial, mendukung biara- biara, rumah sakit, para pelajar yang miskin, para prajurit, peziarah, pengungsi, penyandang cacat dan sakit, dan ia gemar berderma. Kedua jenis sifat- sifat ini nampak jelas dalam pribadi Paus Leo X. Dalam kepemimpinannya ia mendukung banyak karya sastra, karya seni dan ilmu pengetahuan, sehingga Roma menjadi pusat sastra di Eropa pada saat itu. Paus juga mendukung karya seni, terutama lukisan dan pahatan, dan beberapa tokoh seniman besar seperti Raphael dan Michael Angelo hidup pada masa Paus Leo X.

Di masa kepemimpinannya, Perancis beraliansi dengan Venice bermaksud untuk menguasai Milan, sedangkan Spanyol, dan Inggris beraliansi menentang Perancis. Awalnya Paus tidak memihak namun kemudian ia mengikuti kebijakan para pendahulunya, yaitu menentang rencana Perancis. Tahun 1513 itu juga terjadi rekonsiliasi dengan Perancis, dan para kardinal yang skismatik memperoleh pengampunan dan diterima kembali. Namun keadaan damai ini tidak berlangsung lama. Tahun 1516 Raja Spanyol berperang melawan Perancis dan Venesia, tapi kemudian mereka beraliansi demi memperoleh Italia Utara. Oleh karena itu posisi Paus menjadi terjepit. Dalam hal politik Paus nampaknya memang tidak tegas, namun itu tidak menjadikannya pengajar ajaran sesat. Sebab hal politik memang tidak berkaitan dengan hal doktrin Gereja.

Pada tahun 1517 terjadi Reformasi Protestan di Jerman yang dipelopori oleh Martin Luther. Saat itu Paus memberikan ijin untuk dikhotbahkannya tentang indulgensi di Jerman, agar diperoleh dana untuk membangun basilika St. Petrus di Roma. Sekarang mari kita melihat, bagaimana sebetulnya seseorang mendapatkan indulgesi. Tidak pernah Gereja mengajarkan bahwa indulgensi dapat diperoleh dengan uang. Gereja mengajarkan bahwa indulgensi tidak dapat dibeli, namun seseorang mendapatkan indulgensi dengan: 1) perbuatan kasih, 2) perbuatan baik: doa, berpuasa, dan memberikan sedekah/ derma, yang semuanya harus dilakukan dengan disposisi hati yang benar. Derma (almsgiving) selalu menjadi salah satu ungkapan perbuatan kasih (lih. Mat 6:2). Memberikan uang tidak dapat membeli indulgensi, namun memberi uang dengan dasar kasih membuat seseorang dapat memperoleh indulgensi. Kita melihat contoh bagaimana Yesus sendiri memuji persembahan janda miskin (Mk 12:41-44; Lk 21:1-4). Yesus memujinya bukan karena janda miskin memberikan uang, namun karena disposisi hatinya. Sebaliknya Gereja juga tidak memberikan indulgensi kalau seseorang memberikan uang tetapi tidak sebagai ungkapan kasih; sebab semuanya tergantung dari disposisi hati. Semua indulgensi selalu mensyaratkan “disposisi hati yang benar“.
Sayangnya, pada saat itu pengkhotbah Dominikan, Johann Tetzel yang diutus berkhotbah di Juterbog, Jerman, membuat suatu pantun yang memang “salah kaprah”, yang intinya seperti ini, “Begitu terdengar bunyi emas di kotak, bangkitlah jiwa menuju surga.” Maka kesannya seolah-olah orang didorong untuk menyumbang supaya dapat masuk surga. Padahal, jika kita membaca tentang ajaran indulgensi, terlihat bahwa yang dihapuskan dengan indulgensi itu adalah siksa dosa temporal dari dosa-dosa yang sudah diampuni (melalui Sakramen Tobat) dan bukan membebaskan seseorang dari siksa dosa dari dosa yang belum terjadi. Maka, yang mengampuni dosa tetaplah Kristus melalui para imam-Nya, dan sesungguhnya, perbuatan apapun tidak dapat menggantikan peran Kristus untuk mengampuni dan menyelamatkan seseorang. Yang diperoleh dari indulgensi ‘hanyalah’ penghapusan siksa dosa yang harus ditanggung seseorang, dari dosa yang sudah diampuni oleh Tuhan Yesus. (Doktrin Indulgensi terkait dengan doktrin Sakramen Tobat, Api Penyucian, dan mendoakan jiwa orang-orang beriman yang sudah meninggal. Doktrin-doktrin inilah yang kemudian ditolak oleh gereja Protestan).

Praktek korupsi yang terjadi sehubungan dengan penerapan ajaran indulgensi inilah yang diprotes oleh Martin Luther. Dalam 95 thesis yang diletakkan di pintu gereja tersebut tak lama setelah Tetzel datang, thesis no.27 Luther memprotes pantun Tetzel, dan thesis no. 50 dan 86 memprotes pembangunan basilika St. Petrus. Namun Luther sendiri sebenarnya tidak menolak prinsip pengajaran tentang indulgensi; ia hanya menentang penerapannya. Thesis no. 49 membuktikan hal ini di mana Luther mengatakan bahwa indulgensi sebenarnya “berguna”. (Sumber: Martin Luther, Disputation of Doctor Martin Luther on the Power and Efficacy of Indulgences, 1517, Project Wittenberg, 2 July 2008).

Dan kemudian beberapa konsili, the Councils of Fourth Lateran [1215], Lyons [1245 and 1274] and Vienne [1311-1312]. Dan di Konsili Trente [1545-1563], Paus Pius V membatalkan segala peraturan indulgensi yang melibatkan transaksi keuangan. Maka sampai sekarang, derma tidak termasuk dalam perbuatan yang disyaratkan untuk memperoleh indulgensi. Namun demikian, Gereja tetap mempunyai kuasa untuk melepaskan umat dari siksa dosa temporal akibat dari dosa-dosa yang sudah diakui dalam Sakramen Pengakuan Dosa.

Perlu diketahui di sini, bahwa indulgensi tidak pernah diperjualbelikan/ “for sale” seperti yang dituduhkan. Meskipun indulgensi pada jaman paus Leo X dapat diperoleh dengan menyumbang, namun jangan dilupakan bahwa hati yang bertobat, dan segala persyaratan religius lainnya harus ditepati agar indulgensi tersebut dapat sah diberikan. Jadi bukan semacam membeli surat dan setelah itu dosa diampuni. Bukan demikian, karena sebelum menerima indulgensi, seseorang harus tetap mengaku dosa dan menerima sakramen Tobat terlebih dahulu, dan juga memenuhi persyaratan religius lainnya. Maka, indulgensi bukan untuk menggantikan peran sakramen Pengakuan Dosa maupun silih dosa/ penance yang diberikan kepada umat pada sakramen tersebut oleh imam.


3. Paus Julius II (1503-1513)
Paus Julius II memang dikenal sebagai Paus yang keras dalam kebijakan politik luar negerinya, Paus yang menjadi patron dalam hal seni (arts), namun sayangnya, juga sebagai Paus yang tidak terpuji kehidupannya sebelum menjabat menjadi Paus, karena ia mempunyai anak perempuan yang bernama Felice della Rovere, yang lahir tahun 1483. Tidak lama setelah kelahirannya, ibunya yang bernama Lucrezia Normanni kemudian menikah dengan Bernardino de Cupis, seorang pembesar di casa milik sepupu Paus Julius II. Sedangkan catatan Pompeo Litta, bahwa Paus Julius II mempunyai dua anak lagi yaitu Guilia dan Clarice, adalah keliru, karena kedua anak itu sesungguhnya adalah anak dari Felice (lihat Litta, “Famiglie Celebri Italiane” (Celebrated Italian Families), 1833).
Saya juga membaca sumber Wikipedia (sama dengan sumber yang anda sebutkan), tetapi saya tidak menemukan pernyataan adanya tuntutan dewan (mungkin maksudnya konsili) karena tindakan cabul Julius. Konsili yang dilakukan pada tahun 1511 adalah konsili yang diadakan oleh para kardinal skismatik di Pisa, diadakan oleh para kardinal yang menentang Paus karena tidak setuju dengan kebijakan politiknya yang menentang Perancis, dan bukan karena kehidupan pribadinya.

Walaupun sejarah mencatat hal-hal buruk pada Paus Julius II, yaitu kebijakan politiknya yang keras, yaitu perang untuk melawan pengaruh Perancis atas wilayah Italia dan Kepausan; serta fakta bahwa ia mempunyai seorang anak perempuan sebelum menjadi Paus, namun itu tidak menjadikannya sebagai pengajar yang sesat. Beberapa keputusan Paus Julius II sehubungan dengan pengaturan Gereja adalah: 1) ia mengeluarkan Bulla (Bull) tentang peraturan menentang simony dalam kepemilihan Paus, 2) mendirikan Kepausan di Haiti, San Domingo, Porto Rico, 3) menolak ajaran sesat yang menentang Inkarnasi oleh Piero de Lucca 1511, 4) mengadakan reformasi ordo dan biara, 5) mendirikan sekolah chant gerejawi Capella Julia, 6) mengadakan Konsili Lateran V untuk menghentikan pelanggaran- pelanggaran yang dilakukan oleh Roman Curia, dan untuk menghentikan rencana- rencana kardinal skismatik; 7) menjadi patron seni. Bramante, Raphael dan Michael Angelo memberikan karya terbaik mereka hidup pada masa kepemimpinan Paus Julius II; Cool meletakkan batu penjuru gedung basilika St. Petrus.
4. Paus Alexander VI (1492- 1503)

Paus Alexander VI memang merupakan salah seorang Paus yang paling kontroversial. Kepemimpinannya diwarnai banyak hal yang sangat negatif, misalnya mempunyai hubungan dengan wanita Roma sampai mempunyai empat orang anak. Oleh karena itu memang hidupnya tidak lurus, ia banyak berpihak melindungi anak-anaknya, terutama Cesare Borgia. Pada masa kepemimpinannya juga terjadi perang dan pembunuhan salah seorang anggota keluarganya, yaitu suami dari salah seorang anak perempuannya.

Membaca kisah hidup Alexander VI ini kita memang dapat menjadi sangat prihatin, atau mungkin lebih tepatnya tercengang, mengapakah ada seorang Paus yang hidupnya sedemikian. Namun kisah yang benar tidak perlu ditutupi, agar umat Katolik sendiri mengetahui bahwa memang dalam sejarah Gereja, terdapat beberapa Paus yang hidupnya tidak kudus. Paus Leo XIII dalam suratnya kepada Cardinal De Luca (1889) tentang pembelajaran Sejarah Gereja menyatakan, “Para ahli sejarah Gereja mempunyai tugas untuk tidak menyembunyikan apapun pencobaan yang harus diderita oleh Gereja karena kesalahan anak- anaknya, dan bahkan karena kesalahan para pemimpinnya sendiri.” Namun kesalahan yang dimaksud di sini adalah kesalahan pribadi orang yang bersangkutan, dan bukan kesalahan ajaran Gereja. Dengan demikian, martabat kepemimpinan St. Petrus tetaplah terjaga seperti dikatakan oleh St. Leo Agung (440-461), “martabat St. Petrus tidak berkurang bahkan dalam para penerusnya yang tidak layak.”

Dari fakta di atas, terlihat bahwa bahkan dengan situasi yang parah sekalipun, Gereja Katolik tidak sesat ataupun bubar. Sebab para Paus yang tak bermoral itu (contohnya Paus Alexander VI dan Paus Julius II) tidak mempromulgasikan ajaran apapun yang bertentangan dengan ajaran Kristiani. Ini adalah bukti dari janji Kristus sendiri, “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18)


5. Paus Benediktus IX (1032-1048)
Tidak banyak yang dicatat tentang kegiatan kepausan Paus Benediktus IX, kecuali mengadakan 2-3 sinoda di Roma, dan memberikan beberapa hak istimewa kepada gereja- gereja dan biara. Paus Benediktus IX ini memang juga dikenal sebagai paus yang tak bermoral. Kehidupannya yang sedemikian mengakibatkan perpecahan, sehingga dipilihlan seorang Paus tandingan (antipope), yaitu Yohanes, Uskup Sabina (1045), yang mengambil nama Sylverster III. Paus Benediktus memberhentikan Sylvester tahun itu juga, lalu memberikan tahtanya kepada Yohanes Gratian yang mengambil nama Gregorius VI (1045). Tetapi kemudian Benediktus menyesal dan ingin menggeserkan Gregorius. Kekacauan akan adanya tiga paus ini kemudian diatasi oleh Konsili Sutri (1046) dan seorang Uskup Jerman, Suidger, naik menjadi Paus, dan mengambil nama Paus Klemens II. Paus Benediktus masing berusaha kembali menjadi Paus, namun tidak berhasil, dengan naiknya seorang Paus Jerman berikutnya, yaitu Paus Damasus II (1048).

Akhir hidup Paus Benediktus IX tidak diketahui dengan pasti. Ada yang mengisahkan bahwa sampai ia wafat, ia masih terus berusaha kembali naik menjadi Paus. Namun kemungkinan fakta yang benar adalah seperti yang tertulis dalam tradisi biara pertapaan Grottaferrata, yang diturunkan oleh Pemimpin Pertapa Lukas (wafat 1085) yang didukung oleh pahatan dan monumen lainnya di dinding- dinding biara. Dituliskan di sana oleh pemimpin ke empat yang bernama Batholomeus (1065) bahwa Paus Benediktus datang kepada Bartholomeus untuk berkonsultasi. Atas saran Bartholomeus, Paus mengundurkan diri dari kepausan dan meninggal dalam penyesalan atas dosa- dosanya, di Grottaferrata.[1]


6. Paus Yohanes XII (955-964).
Silakan anda membaca di sini, silakan klik, dan melihat bahwa Paus Yohanes XII ini memang pernah dituduh oleh sinode (963) para uskup (50 uskup Italia dan Jerman) bahwa ia melakukan sakrilegi, simoni, dusta, pembunuhan, percabulan dan incest. Paus Yohanes XII menolak mengakui sinode itu, namun kemudian timbullah kekacauan sampai terjadi penunjukan penggantinya yang mengambil nama Leo VIII, pada saat Yohanes XII masih menjabat sebagai Paus. Tidak ada pengajaran kepausan yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes XII.


7. Paus Stefanus VI (896-897)
Nampaknya ada kesalahan mengutip/ menerjemahkan pada sumber yang anda ambil. Di Wikipedia tidak dikatakan bahwa Paus Stefanus VI membunuh Paus pendahulunya, Paus Formosus. Yang dilakukan oleh Paus Stefanus – yang didukung oleh Kaisar Lambert dari Spoleto- adalah menggali kubur Paus Formosus, mengeluarkan mayatnya untuk diadili dalam sinode Cadaver (897). Seorang diakon ditunjuk untuk menjawab atas nama Paus Formosus, yang diadili karena semasa hidupnya menjalankan tugas sebagai Uskup ketika ia sudah diekskomunikasi, dan menerima tugas kepausan ketika ia menjadi Uskup Porto, dan beberapa tuduhan lainnya. Jasad tersebut kemudian dinyatakan bersalah, dilucuti pakaiannya, dipotong tiga jari tangan kanannya, dan kemudian jenazah Formosus itu dibuang di sungai Tiber. Pengadilan jenazah Formosus ini menimbulkan kerusuhan massa. Kerusuhan berakhir dengan dibunuhnya Paus Stefanus VI dengan dicekik. Demikianlah akhir dari masa kepausan Stefanus VI, yang tidak banyak melakukan tindakan kepausan, kecuali membatalkan ordo- ordo yang didirikan oleh Paus Formosus, dan memberikan beberapa hak istimewa (privileges) kepada gereja- gereja.

Berikut ini adalah juga daftar Paus yang juga pernah dipertanyakan.

8. Paus Innocentius III (1198-1216) membantai kelompok Kataris?
Di sini, saya rasa kita perlu melihatnya secara obyektif. Paus Innocentius III dikenal sebagai pembela dan pelindung Iman yang sejati dari ajaran sesat. Kelompok Kataris (yang mengaku sebagai kelompok puritan- yang murni), yang juga terkenal sebagai Albigenses (aliran Kataris dari Albi) memang pada saat itu menyebarkan ajaran yang sesat dengan begitu agresif dan menyebarkannya dengan paksa. Ajaran sesat itu adalah prinsip Dualisme, yang merupakan prinsip pengajaran ajaran sesat Manichaeism yang berakar pada ajaran Gnosticism pada abad pertama. Prinsip Dualisme ini sangat bertentangan dengan ajaran Kristiani. Dualisme percaya akan adanya dua kekuatan, yaitu kekuatan baik dan jahat. Kekuatan baik ini dikatakan sebagai pencipta alam spiritual yang tak kelihatan; sedangkan kekuatan jahat sebagai pencipta dunia material. Dengan demikian, mereka melihat bahwa tubuh/ materi adalah sesuatu yang jahat. Beberapa konsep yang keliru itu misalnya: 1) konsep keselamatan bagi mereka adalah ‘pembebasan dari tubuh’; 2) mereka membenci perkawinan, karena perkawinan memungkinkan terciptanya ‘tubuh’ yang baru 3) mereka mendukung homoseksualitas/ perkawinan sesama jenis; 4) mereka mentolerir/ mendorong tindakan bunuh diri, karena menyebabkan seseorang terlepas dari ‘tubuh’. Di atas semua itu, dengan konsep ‘merendahkan tubuh, mereka tidak menghargai Inkarnasi (Penjelmaan Tuhan Yesus menjadi manusia, dan mengambil ‘tubuh’ manusia). Dan karena Penjelmaan Kristus merupakan salah satu inti Iman Kristiani, maka dapat dimengerti bahwa ajaran Kataris ini sungguh sangat menentang kebenaran iman Kristiani. Semoga kita semua bisa menilai dengan obyektif, bahwa ajaran Kataris ini sungguh menyimpang!

Maka demi menjaga kemurnian ajaran iman Kristiani, Paus Innocentius mengirimkan dua orang pertapa Cisterian, yaitu Rainer dan Guido kepada kaum Albigenses di Perancis, untuk mengajarkan kepada kaum Albigensian itu ajaran Iman yang benar. Kedua pertapa itu kemudian diikuti oleh Diego, Uskup Osma, dan St. Dominikus, dan dua utusan kepausan, Peter Castelnau dan Raoul. Namun misi ini ditolak dan dihina oleh pihak Albigenses. Maka ketika utusan kepausan, Peter Castelnau dibunuh tahun 1208, Paus Innocentius memutuskan untuk menghadapi mereka dengan kekerasan. Dalam moral teologi, ini disebut sebagai ‘just war’, karena sudah didahului cara-cara perdamaian, namun tidak berhasil, sedangkan kebenaran iman-lah yang menjadi taruhannya. Suatu keputusan yang sangat sulit harus dilakukan oleh Paus Innocentius III untuk menjaga kemurnian ajaran iman.


9. Paus Urbanus VI (1378- 1389) menyiksa dan memenjarakan 6 kardinal?
Kisah tentang Paus Urbanus VI ini berkaitan dengan kondisi skisma yang dihasilkan setelah Tahta Kepausan dikembalikan dari Avignon ke Roma oleh Paus Gregorius XI (1378) yang mengakhiri Kepausan Avignon. Setelah Paus Gregorius XI wafat, orang-orang Roma mendesak agar Paus dipilih dari Italia, maka para kardinal memilih Paus Urban VI. Di awal kepemimpinannya terjadi pergolakan yang berkaitan dengan pemerintahan Naples, dan ia tidak mendengarkan advis dari para kardinalnya. Akhirnya para kardinal memberontak, dan kemudian 6 kardinal ini ditahan, dan disiksa, 5 di antara mereka dihukum mati. Ini memang adalah suatu perbuatan yang tidak bijaksana.

Kemudian para kardinal memilih Paus tandingan bernama Clemens VII. Lalu konsili di Pisa diadakan tahun 1409, untuk menyelesaikan hal ini, tapi kemudian malah memilih Paus yang ketiga Alexander V, dan segera diikuti oleh Paus Yohanes XXIII (Paus tandingan/ anti-pope yang memakai nama Paus Yohanes XXIII). Akhirnya Konsili Konstance tahun 1417 menurunkan Paus Yohanes XXIII (paus tandingan tersebut), Paus Avignon (Benediktus XIII), dan Paus Roma Gregorius XII, lalu memilih Paus Martin V untuk meneruskan kepemimpinan Rasul Petrus, dan dengan demikian mengakhiri skisma.

Sejak saat itu, didekritkan bahwa tidak akan ada lagi Konsili yang mempunyai kuasa di atas para Paus, dan tidak ada lagi jalan untuk membatalkan pemilihan Paus oleh seorangpun kecuali oleh Paus itu sendiri.


10. Paus Clement XIV (1769- 1774) membubarkan ordo Jesuit?
Dalam hal ini memang kita tidak dapat mengetahui secara pasti mengapa Paus Clement XIV memutuskan demikian. Dikatakan di dalam Brief untuk membubarkan SJ tersebut tidak disebutkan secara jelas mengapa; namun jika kita melihat deskripsi sejarahnya, kemungkinan ini berkaitan dengan tekanan politik terhadap Paus. Maka St. Alphonsus Liguori mengatakan, “What could the poor pope do when all the Courts insisted on the suppresion [of the Jesuits]?” Atau Jesuit Cordara, “”I think we should not condemn the pontiff who, after so many hesitations, has judged it his duty to suppress the Society of Jesus I love my order as much as any man, yet, had I been in the pope’s place I should probably have acted as he did. … (SJ), founded and maintained for the good of the Church, perished for the same good; it could not have ended more gloriously.”


11. Paus Gregorius XVI (1831-1846) melarang teknologi kereta api?
Tanggapan ini kelihatannya terlalu berlebihan. Paus Gregorius XVI memang terkenal sangat konservatif dan tidak menyukai hal-hal yang baru. Namun bukan berarti ia melarang secara resmi teknologi kereta api, dan tidak ada dokumen yang menyatakan pandangannya yang demikian secara tertulis. Setahu saya yang mengungkapkan bahwa Paus Gregorius tidak menyukai kereta api adalah Charles Dickens, seorang novelis dari Inggris. Maka hal ini serupa dengan seseorang penulis yang merekam kesan/ pendapat seseorang akan sesuatu. Tentu rekaman komentar ini tidak bernilai mengikat, karena itu sifatnya hanya kesan pribadi.


12. Paus Pius XI (1922-1939) anti komunis tapi pro NAZI?
Tanggapan ini keliru. Bahkan di sumber yang netral di Wikipedia (silakan klik), kita dapat melihat bahwa faktanya tidak demikian. Paus XI terkenal sebagai Paus yang menjunjung tinggi martabat manusia, menentang komunisme, dan eksploitasi kapitalisme internasional. Surat ensikliknya yang terkenal adalah Quadragesimo Anno, yang merupakan salah satu sumber ajaran sosial Gereja yang penting.

Yang benar adalah memang Paus Pius XI dan Adolf Hitler menandatangai perjanjian Concordat 1933, yang dimaksudkan terutama agar negara yang bersangkutan (dalam hal ini Jerman) mengakui dan menjamin hak-hak umat Katolik di negara itu. Namun kenyataannya kemudian Hitler melanggar perjanjian itu, dan bahkan semakin menunjukkan kekerasan terhadap umat Kristiani. Maka pada tahun 1937 Paus Pius XI menulis ensiklik, Mit Brennender Sorge, yang ngecam ideologi Nazi yaitu racisme, totalitarianisme dan pelanggaran Nazi terhadap Concordat. Ensiklik ini mengecam ideologi nasional- sosialisme yang bersifat pagan, mitos rasis dan darah kebangsawanan, dan konsep yang salah tentang Tuhan.

“Whoever exalts race, or the people, or the State, or a particular form of State, or the depositories of power, or any other fundamental value of the human community—however necessary and honorable be their function in worldly things—whoever raises these notions above their standard value and divinizes them to an idolatrous level, distorts and perverts an order of the world planned and created by God; he is far from the true faith in God and from the concept of life which that faith upholds.” (Mit Brennender Sorge Cool

Fakta selanjutnya adalah umat Katolik di Jerman yang mencetak dan menyebarkan surat ensiklik itu dipenjara atau dibuang ke kamp konsentrasi. Hanya sayangnya, hal ini tidak diberitakan oleh dunia Barat; maka Paus Pius XI mengatakan ini sebagai “a conspiracy of silence“. Paus Pius XI tetap pada pendiriannya, dan ia mengajarkan, “Mark well that in the Catholic Mass, Abraham is our Patriarch and forefather. Anti-Semitism is incompatible with the lofty thought which that fact expresses. It is a movement with which we Christians can have nothing to do. No, no, I say to you it is impossible for a Christian to take part in anti-Semitism. It is inadmissible. Through Christ and in Christ we are the spiritual progeny of Abraham. Spiritually, we [Christians] are all Semites”[2].

Pada dasarnya Paus Pius XI mengatakan tidaklah mungkin bagi seorang Kristiani untuk menjadi anti Yahudi. Sebab melalui Kristus dan di dalam Kristus, kita semua adalah keturunan Abraham secara spiritual. Maka secara spiritual umat Kristiani adalah orang Yahudi. Dengan demikian, tidaklah benar bahwa Paus Pius XI pro-Nazi dan anti Yahudi.


13. Paus Pius XII membiarkan holokaus di Roma?
Gambaran yang menyatakan Paus Pius XII pro NAZI dan membiarkan holokaus adalah tuduhan yang keliru. Silakan membaca kesaksian bahkan dari kaum Yahudi sendiri bagaimana Paus malah melindungi mereka, dan berperan dalam menyelamatkan sedikitnya 700, 000 orang Yahudi atau malah 860, 000 orang, menurut Pinchas Lapide, seorang teologian Yahudi dan diplomat Israel dalam bukunya Three Popes and the Jews, seperti dikutip di Wikipedia. Bahwa ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Paus XI mungkin dapat berbuat lebih banyak untuk melindungi orang Yahudi/ menyetop holokaus, itu mungkin masih dapat diperdebatkan (walau tetap tidak dapat memuaskan, karena tak seorangpun dari kita mengetahui secara persis keadaan yang dihadapi Paus pada saat itu), tetapi tuduhan yang mengatakan bahwa Paus Pius XII membiarkan holokaus dan tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan orang Yahudi, itu adalah tuduhan yang sangat keliru.

Bagi saya walaupun sejarah mencatat beberapa Paus yang kontroversial, itu tidak menggoyahkan iman saya, dan malah sebaliknya, makin meyakinkan saya akan janji kesetiaan Kristus untuk menyertai Gereja-Nya sampai akhir jaman (Mat 28:20). Sebab jika hal itu terjadi pada organisasi manusia, maka organisasi itu sudah bubar sejak lama. Namun karena Kristus menjaganya dengan Roh Kudus-Nya, maka Gereja Katolik tetap eksis sampai sekarang.


wah salut deh two thumbs up buat bruce...dari awal sampai halaman 3 uraiannya runut, tenang dan cool. Very Happy

salut juga buat bro T2Y yang juga tenang walau sangat kritis hehe..

saya cuman menambahkan sedikit

ada tertulis demikian
Mat 23:2-3
23:2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Jadi relevansinya dengan kelakuan paus2 tersebut adalah : kejahatan mereka tidak membatalkan otoritas yang diberikan Tuhan pada mereka sebagai penerus para rasul dalam Gereja yang disertai-Nya hingga akhir zaman.
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting: 301
Join date: 07.03.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   15th July 2011, 23:59

bruce wrote:
@T2Y

Tanpa bermksud membanding badingkan antar Paus, saya sangat sangat sependapat dengan anda bro.

Pope John Paul II adalah contoh terbaik bagaimana menjadi seorang Kristen, dia banyak memberi inspirasi bagi seluruh manusia, bukan hanya bagi orang Kristen saja.




btw, ada yang bilang kalau JPII ini ada di neraka loh Laughing
begitu kata kesaksian si Angelica Zambrano...yang dikutip forum tetangga dan disharingkan di forum renungan mereka ...

gimana tuh bro tanggapannya :)

Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting: 9003
Join date: 27.01.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   16th July 2011, 00:08

Quote :
btw, ada yang bilang kalau JPII ini ada di neraka loh
begitu kata kesaksian si Angelica Zambrano...yang dikutip forum tetangga dan disharingkan di forum renungan mereka ...

gimana tuh bro tanggapannya

Bahkan di LT lama juga ada yang mempertanyakan tentang logo M di peti mati beliau, lambang salib terbalik di kursi Paus, dan segala hal yang buruk buruk.

Saya sih cuma bisa melihat dari sudut ini, orang yang jelas jelas baik tetapi masih dimusuhi dan di fitnah, pastilah yang memusuhi dan memfitnah anti pada kebaikan.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   16th July 2011, 10:00

leonardo wrote:
bruce wrote:
@T2Y

Tanpa bermksud membanding badingkan antar Paus, saya sangat sangat sependapat dengan anda bro.

Pope John Paul II adalah contoh terbaik bagaimana menjadi seorang Kristen, dia banyak memberi inspirasi bagi seluruh manusia, bukan hanya bagi orang Kristen saja.




btw, ada yang bilang kalau JPII ini ada di neraka loh Laughing
begitu kata kesaksian si Angelica Zambrano...yang dikutip forum tetangga dan disharingkan di forum renungan mereka ...

gimana tuh bro tanggapannya :)


iya, saya juga sudah baca... :)
kesaksiannya agak sedikit anti katolik yah... Razz
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   1st August 2011, 15:27

leonardo wrote:


wah salut deh two thumbs up buat bruce...dari awal sampai halaman 3 uraiannya runut, tenang dan cool. Very Happy

salut juga buat bro T2Y yang juga tenang walau sangat kritis hehe..

saya cuman menambahkan sedikit

ada tertulis demikian
Mat 23:2-3
23:2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.


maksudnya anda "mereka" itu sama kayak orang2 Farisi ?
anda berani sekali bilang gitu sama wakil Tuhan... Razz
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting: 301
Join date: 07.03.11

PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   1st August 2011, 21:39

T2Y wrote:
leonardo wrote:


wah salut deh two thumbs up buat bruce...dari awal sampai halaman 3 uraiannya runut, tenang dan cool. Very Happy

salut juga buat bro T2Y yang juga tenang walau sangat kritis hehe..

saya cuman menambahkan sedikit

ada tertulis demikian
Mat 23:2-3
23:2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.


maksudnya anda "mereka" itu sama kayak orang2 Farisi ?
anda berani sekali bilang gitu sama wakil Tuhan... Razz
hehe...baru bahas sekarang yah bro...

maksudnya kan sudah jelas kalau ada beberapa Paus dari ratusan paus tersebut yang perbuatannya sesat yah jangan ditiru tetapi ajaran Firman TUhannya tetap dituruti gitu loh...

Jadi tidak serta merta kejelekan perbuatan seseorang dapat menggugurkan otoritasnya. :)

salam :)
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)   3rd August 2011, 13:01

leonardo wrote:

hehe...baru bahas sekarang yah bro...

maksudnya kan sudah jelas kalau ada beberapa Paus dari ratusan paus tersebut yang perbuatannya sesat yah jangan ditiru tetapi ajaran Firman TUhannya tetap dituruti gitu loh...

amin... :)

Quote :

Jadi tidak serta merta kejelekan perbuatan seseorang dapat menggugurkan otoritasnya. :)

salam :)

menurut anda kenapa raja Saul ditinggalkan Tuhan dan Daud lah yang kemudian jadi Raja ?
Kembali Ke Atas Go down
 

Urutan Paus Gereja (Katolik Roma)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 3 dari 3Pilih halaman : Previous  1, 2, 3

 Similar topics

-
» Urutan Pangkat di PB dan urutan pangkat Clan PB Serta Informasinya
» The 10 Most Memorable Songs
» Ningen mahluk antartica (REPOST FROM Kaktus )
» knalpot yang bagus untuk harian apa ya??
» Menurut brader helm lokal spek racing mana yang paling mantabh????

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Ruang Antar Kristen (Khusus Penganut Kristen Trinitarian) :: Ajaran Kristen-