Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Apakah Sola Scriptura cukup ?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : 1, 2, 3, 4, 5  Next
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Apakah Sola Scriptura cukup ?   11th July 2011, 16:07

Pendahuluan

Dalam diskusi antara umat Katolik dan non- Katolik perihal Kitab Suci, sering timbul perkataan demikian, “Mari setuju dulu bahwa Kitab Suci adalah pegangan satu-satunya dalam iman kita”. Seharusnya, jika kita mendengar pernyataan sedemikian, kita harus menjawab, “Tidak”. Sebab Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Pandangan yang mengutamakan “hanya Kitab Suci saja” (Sola Scriptura) atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, adalah pandangan yang menolak Tradisi Suci dan otoritas Gereja, dan hal ini tidak sesuai dengan pengajaran Kristus dan para rasul.


Apa itu Sola Scriptura?

Sola Scriptura adalah doktrin Protestan yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah “sumber otoritas yang terutama dan absolut, keputusan akhir dalam menentukan, untuk semua doktrin dan praktek (iman dan moral)” dan bahwa “Kitab suci, tidak lebih dan tidak kurang, dan tidak ada lagi yang lain- yang diperlukan untuk iman dan moral.”[1]


Apakah yang Gereja Katolik ajarkan dalam hal ini?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi tidak saja disampaikan kepada kita dengan cara tertulis sebagai pembicaraan Allah (speech of God) dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam bentuk Sabda Allah yang disampaikan secara lisan dari Kristus dan Roh Kudus kepada para rasul.((lih. Katekismus Gereja Katolik no. 81, Dei Verbum 9))Pengajaran yang bersumber dari ajaran lisan ini disebut sebagai Tradisi Suci, kemudian juga dituliskan dan diturunkan kepada para penerus Rasul. Maka karena sumbernya sama, maka keduanya berhubungan erat sekali, terpadu, tidak mungkin bertentangan, karena mengalir dari sumber yang sama dan mengarah ke tujuan yang sama yaitu Tuhan sendiri.[2].

Selanjutnya dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian:

KGK 82 Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).

Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak “merendahkan” Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.


Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci

Jika “Sola Scriptura” adalah doktrin yang benar, tentunya Kitab Suci harus secara eksplisit mengatakannya, namun tidak demikian yang kita baca dari Kitab Suci:

1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)

2. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak semua ajaran Kristus terekam dalam Kitab Suci.
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)
Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan Yesus yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.

3. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa Yesus adalah sungguh- sungguh Tuhan.

4. Kristus memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat 16:13- 20; 18:18; Luk 10:16). Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan Kristus oleh kuasa Roh Kudus akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 28:19-20; Yoh 14:16). Karena itu, Kristus memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ wewenangan mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya.

5. Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat, contohnya dalam hal sunat. Pada saat terjadinya krisis itu sekitar tahun 40-an, kitab PB belum terbentuk, dan Kristus sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat ini. Namun atas inspirasi Roh Kudus, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut Kristus (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci PL yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel12:48) dengan terang Roh Kudus dan penggenapannya oleh Kristus dalam PB, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran Kristus.

6. Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15) Kristus mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh Kristus untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.

7. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan. Kristus itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (“when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan ini adalah Tradisi Suci.


Sola Scriptura tidak sesuai dengan sejarah Gereja

Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.

Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan Kristus dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Silakan anda membaca bagaimana terbentuknya Kitab Suci yang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damaskus pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthage (397) dan Chalcedon (451) seperti yang pernah ditulis di artikel ini, silakan klik. Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.


Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja

Sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi. Sebagai contoh Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli mempunyai banyak perbedaan pandangan dalam hal Ekaristi Kudus dalam menginterpretasikan perikop Yoh 6, hal Pengakuan Dosa, dll. Pendapat manakah yang benar dari para pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan ajarannya hanya berdasarkan Alkitab? Belum lagi dalam hal- hal lain seperti apakah Pembaptisan itu perlu atau hanya simbol saja, hal Pembaptisan bayi, Pembaptisan dalam nama Allah Trinitas atau dalam nama Yesus saja, dan seterusnya. Tiap-tiap kelompok yang bertentangan mengklaim bahwa Alkitab saja cukup jelas untuk menentukannya, namun terjadi bermacam- macam interpretasi. Maka secara fakta harus diakui bahwa Alkitab saja tidak cukup jelas mengajarkannya, dan diperlukan peran otoritas Magisterium untuk menginterpretasikannya.

Hal ini mirip dengan yang terjadi di setiap negara, yang mempunyai konstitusi, namun juga mempunyai kekuasaan yudikatif untuk menginterpretasikannya dengan benar. Jika setiap warga dapat mengartikan sendiri konstitusi ini, tanpa adanya kuasa otoritas yang menjaga dan melestarikannya, maka dapat terjadi kekacauan. Tuhan pastilah lebih bijaksana daripada para bapa pendiri negara dalam hal ini. Ia tidak mungkin hanya meninggalkan dokumen tertulis sebagai pedoman tanpa otoritas untuk menjaga dan menginterpretasikannya dengan benar.

Kalau memang “hanya Alkitab” saja cukup, dan dapat membawa persatuan Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan Yesus terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam tubuh Kristus, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah pengikut Kristus (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja Katolik untuk menyatukan seluruh umat Allah, yang dapat dilihat dari dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio).


Tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja

Jika kita telah mengetahui bahwa Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Alkitab itu sendiri, maka kita dapat melihat pula bahwa sebenarnya Kristus telah menentukan tiga pilar kebenaran yang tidak terpisahkan yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium.


Ayat yang umumnya digunakan untuk menyatakan pandangan Sola Scriptura

Sekarang mari kita melihat kepada ayat-ayat yang sering digunakan sebagai dasar Sola Scriptura[3]:

1. 2 Tim 3:16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Ada banyak orang menginterpretasikan bahwa karena ayat ini, maka mereka hanya membutuhkan Kitab suci untuk menjadi umat Kristen yang baik. Padahal pada saat surat kepada Timotius ini ditulis, kanon Kitab Suci belum ada. Jadi di kalangan jemaat masih beredar berbagai tulisan, dan jemaat tidak dapat tahu dengan pasti, mana tulisan yang “diilhami oleh Allah”, dan mana yang tidak.

Lihatlah juga bahwa “sesuatu yang bermanfaat” itu bukan berarti hanya satu-satunya yang kita perlukan, atau segalanya yang kita butuhkan. Sesuatu dapat bermanfaat, tetapi tidak menjadi satu-satunya yang kita butuhkan. Misalnya, cahaya matahari diperlukan untuk tanaman agar tumbuh, tetapi tanaman juga memerlukan air dan tanah agar dapat bertumbuh dengan baik.

Juga perkataan “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” juga tidak dapat dijadikan dasar bahwa Kitab Suci secara total mencukupi semuanya. Rasul Paulus pada 2 Tim 2:19-21 juga menggunakan frasa yang sama, pada waktu mengatakan, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (pan ergon agathon- dalam bahasa Yunani). Jika logika yang sama dipakai untuk mengartikan ayat ini, maka pandangan tersebut mengatakan bahwa perbuatan menyucikan diri adalah “cukup”, tanpa kasih karunia, iman dan pertobatan, dan ini adalah kesimpulan yang keliru.

2. Ul 4:2 “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya….”

Ada orang yang berpendapat, dengan adanya ayat ini maka Kitab Suci sudah cukup, dan segala “tambahan” di luar Kitab Suci berarti tidak diilhami Tuhan. Namun jika logika ini yang dipakai, maka semua kitab dalam Kitab Suci selain kitab Ulangan dianggap sebagai “tambahan” Wahyu Allah yang hanya sampai pada kitab Ulangan. Dan tentu ini tidak benar, karena Inkarnasi Kristus, yaitu panggenapan Wahyu Allah tersebut, malah ada berabad- abad setelah kitab Ulangan ditulis.

3. Mat 4:1-11 Tiga kali Yesus menanggapi pencobaan Iblis dengan Kitab Suci, “Ada tertulis….”

Ada yang berpendapat, bahwa dari ayat ini Kristus mengacu hanya kepada Kitab Suci, dan tidak kepada Tradisi Suci atau Gereja. Namun sebenarnya Yesus mengatakan, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (ay.4) Namun Kitab Suci juga mengatakan bahwa tidak semua perkataan Tuhan tercantum dalam Kitab Suci, sebab banyak di antaranya juga sampai kepada kita lewat pengajaran lisan (lih. Yoh 21:25; Kis 20:27; 1 Tes 2:14-15, 3:6; 2 Tim 2:2). Dan jangan kita lupa, bahwa Kristus sendiri adalah Sabda Allah (Yoh 1:1, 14) yang tidak dapat dibatasi oleh tulisan dan lembaran-lembaran Kitab Suci.

Maka di sini Yesus tidak sedang mengajarkan Sola Scriptura, tetapi sedang mengajarkan kita untuk berpegang pada semua pengajaran yang dikatakan-Nya, tidak hanya yang tertulis di Kitab Suci. Lagipula jangan lupa, Iblispun mengutip Kitab Suci untuk maksud yang tentu saja keliru dan jahat. Jadi kita harus memahami Kitab Suci dan menginterpretasikannya dengan benar. Ingatlah pesan Rasul Petrus pada saat mengomentari surat Rasul Paulus, “Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2 Pet 3:16)

4. Mat 15:3 “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (lih. Mrk 7:7-9, Kol 2:Cool

Di sini kita melihat tradisi yang dikecam oleh Yesus dan Rasul Paulus adalah tradisi manusia yang bertentangan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Mereka tidak sedang mengecam semua tradisi, sebab Rasul Paulus mengatakan juga demikian,

“Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran [tradisi] yang kuteruskan kepadamu.” (1 Kor 11:2)
“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.
(2 Tes 2:15)

5. Why 22: 18-19: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

Ada pula yang mengartikan ayat ini dengan mengatakan bahwa Gereja Katolik menambahkan Tradisi Suci kepada Kitab Suci, sehingga ini tidak benar. Namun pada ayat ini yang dimaksud dengan “kitab ini” adalah kitab Wahyu itu sendiri, dan bukan Kitab Suci secara keseluruhan. “Kitab ini” juga mengacu kepada “scroll“/ gulungan naskah di mana kitab dituliskan. Maka perintah ini mengacu kepada larangan agar jangan mengadakan perubahan pada salinan teks kitab Wahyu ini, dan ini juga berlaku pada kitab-kitab lainnya.


Kesimpulan

“Sola Scriptura” atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, bukanlah merupakan pengajaran yang bersumber dari Kitab Suci. Kitab Suci adalah sebagian dari Tradisi Suci Gereja, sehingga Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci secara keseluruhan, yang dijaga dan dilestarikan oleh otoritas Magisterium Gereja Katolik. Kristus mendirikan Gereja untuk mengajar, menyucikan dan memimpin umat manusia dalam nama-Nya, sampai kepada akhir jaman. Maka jika kita menolak otoritas dari Tuhan ini, yang diberikan kepada para rasul dan para penerusnya, maka sesungguhnya kita menolak Kristus (lih. Luk 10:16). Gereja Katolik menerima Kitab Suci sebagai salah satu pedoman iman (lihatlah kepada Katekismus dan hasil- hasil Konsili yang mengutip banyak sekali ayat Kitab Suci sebagai landasan ajarannya), dan karenanya, menerima otoritas Kitab Suci sebab Kitab Suci merupakan Sabda Allah. Namun umat Katolik tidak dapat menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman (Sola Scriptura), terutama karena Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Selain itu, Sola Scriptura juga bertentangan dengan sejarah, karena pada faktanya Gereja-lah yang menentukan kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Kitab Suci, dan kitab-kitab mana yang tidak. Akhirnya, Sola Scriptura juga bertentangan dengan akal sehat dan membawa perpecahan, karena bahkan di kehidupan sehari-haripun, kita mengetahui bahwa setiap peraturan tertulis (contohnya konstitusi negara) memerlukan otoritas yang menjaga, menjamin dan menginterpretasikannya dengan benar. Jika tidak, tentu terjadi kekacauan, karena tiap pribadi dapat mempunyai pandangan yang berbeda. Dan ini sungguh telah terbukti dengan adanya sekitar 28.000 jumlah denominasi gereja Protestan.

Semoga Roh Kudus sendiri menerangi kita untuk mengetahui kebenaran ini, bahwa memang Kitab Suci adalah sangat perlu dan sangat penting untuk menuntun dan menumbuhkan iman kita, namun Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman kita. Sebab Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita Magisterium Gereja yang menyampaikan juga ajaran lisan dari-Nya dan para rasul -yaitu Tradisi Suci, dan Magisterium ini dengan setia menginterpretasikan semua ajaran itu dalam terang Roh Kudus sesuai dengan ajaran Kristus dan para rasul.

CATATAN KAKI:
diterjemahkan dari Geisler, Norman L. dan MacKenzie, Ralph E., Roman Catholics and Evangelicals: Agreements and Differences (Grand Rapids: Baker, 1995) [↩]
lih. Katekismus Gereja Katolik no. 80, 81, Dei Verbum 9 [↩]
disarikan dari Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, (Farmington: San Juan Catholic Seminars, 2003), hl. 17-19 [↩]


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   11th July 2011, 17:42

Quote :
Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.

berarti Tradisi Suci kedudukannya lebih tinggi dari Kitab Suci, karena yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui kelompok orang yang disebut Magisterium ?

Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   11th July 2011, 17:56

Bukankah sudah dijelaskan di atas bro ?

Quote :
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Wahyu Ilahi tidak saja disampaikan kepada kita dengan cara tertulis sebagai pembicaraan Allah (speech of God) dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam bentuk Sabda Allah yang disampaikan secara lisan dari Kristus dan Roh Kudus kepada para rasul.((lih. Katekismus Gereja Katolik no. 81, Dei Verbum 9))Pengajaran yang bersumber dari ajaran lisan ini disebut sebagai Tradisi Suci, kemudian juga dituliskan dan diturunkan kepada para penerus Rasul. Maka karena sumbernya sama, maka keduanya berhubungan erat sekali, terpadu, tidak mungkin bertentangan, karena mengalir dari sumber yang sama dan mengarah ke tujuan yang sama yaitu Tuhan sendiri.[2].

Selanjutnya dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian:

KGK 82 Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).

Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak “merendahkan” Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.

Syalom


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
siip
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 630
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   11th July 2011, 18:21

Sistem Scriptura, Magisterium, Tradition sbg tiga pilar yg setara basically sangat baik.
Saya stuju skali bhw ketiga pilar itu mjd dasar dari Jemaat.

Psoalannya, dlm prakteknya, pd suatu masa terjadi inkonsistensi kesetaraan dari ketiga dasar tsb, shg salah satu piliar khilangan kredibilitasnya.

----------

Kita introspeksi aja deh :

Masalah di Gereja Protestan adl tidak diakuinya (juga mhindari adanya pngakuan akan) magisterium umum sbg gembala sluruh umat shg kami mjd liar, byk ptentangan dan ppecahan.

Masalah di Gereja Katolik adl pnyelewengan dan over-power dr Magisterium di masa lalu yg mnimbulkan luka batin, ppecahan dan trauma shg sesama saudara mjd btentangan.

Makin lama jurang pmisah dan krisis kpercayaan dari masing-masing pihak smakin mlebar.

Gmn cara mnyatukannya?
Dg pnganiayaan.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   11th July 2011, 18:39

Quote :
Makin lama jurang pmisah dan krisis kpercayaan dari masing-masing pihak smakin mlebar.

Gmn cara mnyatukannya?

Kalau saya pribadi, maka saya katakan lebih baik biarkan saja apa yang sudah terjadi, masing masing berusaha menjadi lebih baik, tanpa merendahkan pihak lain agar dirinya sendiri terangkat tinggi. Masing masing pihak menyampaikan posisinya (yang merupakan fakta sejarah) untuk saling mengenal satu sama lain. Jika memang pada akhirnya Gereja yang satu kembali bersatu, maka biarlah terjadi dengan sendirinya, tanpa unsur pemaksaan salah satu pihak.

Oiya, yang anda katakan over power dari Magisterium itu tidak tepat bro, jika kekuasaan Paus menjadi terlalu besar itu benar, tetapi bedakan antara Paus/Uskup dengan Magisterium.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   11th July 2011, 20:23

Quote :
masing masing berusaha menjadi lebih baik, tanpa merendahkan pihak lain agar dirinya sendiri terangkat tinggi.

jujur saja, Om...
yang berpendapat kalau diluar katolik itu sesat, bukan domba tapi kambing, murtad (seperti yang pernah anda tulis Razz) juga banyak.

tapi saya menganggap itu suatu yang wajar, karena mereka merasa lebih mengetahui ajaran2-Nya karena lebih dulu ada (saudara tua Very Happy ... kayak Jepang sama Indonesia ajah... Razz) dan punya wahyu (?) kerasulan yang diberi oleh Yesus sendiri.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   11th July 2011, 20:31

T2Y wrote:
Quote :
masing masing berusaha menjadi lebih baik, tanpa merendahkan pihak lain agar dirinya sendiri terangkat tinggi.

jujur saja, Om...
yang berpendapat kalau diluar katolik itu sesat, bukan domba tapi kambing, murtad (seperti yang pernah anda tulis Razz) juga banyak.

tapi saya menganggap itu suatu yang wajar, karena mereka merasa lebih mengetahui ajaran2-Nya karena lebih dulu ada (saudara tua Very Happy ... kayak Jepang sama Indonesia ajah... Razz) dan punya wahyu (?) kerasulan yang diberi oleh Yesus sendiri.

Jujur juga ya bro, biasanya Katolik menganggap umat Kristen diluar Katolik adalah ibarat domba yang lepas. Anda bisa cari di semua situs Katolik, pasti sesuai dengan yang saya katakan itu.

Sedangkan yang menganggap pihak lain itu sesat, bahkan yang paling kejam menganggap penyembah setan (666, Lambang salib terbalik, Lambang salib bengkok, dan sebagainya yang sangat tidak etis) adalah pihak diluar Katolik dalam menilai 'saudara tua' nya itu. Untuk inipun anda bisa melihat dibanyak situs Kristen non-Katolik, bahkan di situs LT lama ataupun FK.

Padahal, menganggap pihak lain dari sesama Kristen sebagai sesat, itu adalah suatu tuduhan serius yang sangat kejam, dan tentu saja tidak pantas keluar dari seseorang yang mengaku Kristen. Tapi, mungkin para penghujat itu tidak mengetahui sejarah Gereja yang sebenarnya.

Syalom

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   11th July 2011, 20:46

bruce wrote:
T2Y wrote:
Quote :
masing masing berusaha menjadi lebih baik, tanpa merendahkan pihak lain agar dirinya sendiri terangkat tinggi.

jujur saja, Om...
yang berpendapat kalau diluar katolik itu sesat, bukan domba tapi kambing, murtad (seperti yang pernah anda tulis Razz) juga banyak.

tapi saya menganggap itu suatu yang wajar, karena mereka merasa lebih mengetahui ajaran2-Nya karena lebih dulu ada (saudara tua Very Happy ... kayak Jepang sama Indonesia ajah... Razz) dan punya wahyu (?) kerasulan yang diberi oleh Yesus sendiri.

Jujur juga ya bro, biasanya Katolik menganggap umat Kristen diluar Katolik adalah ibarat domba yang lepas. Anda bisa cari di semua situs Katolik, pasti sesuai dengan yang saya katakan itu.

he..he..he...
apapun iistilah yang dipakai, maka nama Luther tetap membangkitkan suatu perasaan yang berbeda buat umat Katolik.
iya, kan ? Very Happy

Quote :

Sedangkan yang menganggap pihak lain itu sesat, bahkan yang paling kejam menganggap penyembah setan (666, Lambang salib terbalik, Lambang salib bengkok, dan sebagainya yang sangat tidak etis) adalah pihak diluar Katolik dalam menilai 'saudara tua' nya itu. Untuk inipun anda bisa melihat dibanyak situs Kristen non-Katolik, bahkan di situs LT lama ataupun FK.
Padahal, menganggap pihak lain dari sesama Kristen sebagai sesat, itu adalah suatu tuduhan serius yang sangat kejam, dan tentu saja tidak pantas keluar dari seseorang yang mengaku Kristen. Tapi, mungkin para penghujat itu tidak mengetahui sejarah Gereja yang sebenarnya.

Syalom


[/quote]

makanya yang buruk jangan dicontoh, Om... :)
kalau kita tahu itu menyakiti hati saudara kita, mbokya jangan pakai kata murtad, sesat, kafir dsb... :)

seharusnya kita kan berpikir bagaimana menyatukan diri sebagai sesama tubuh Kristus dan menjadikan hanya Kristus satu2nya Kepala kita tanpa menganggap diri kita lebih baik dari yang lainnya hanya karena kita merasa diri kita lebih baik dari mereka.

Syalom... :)
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   11th July 2011, 21:12

Quote :
apapun iistilah yang dipakai, maka nama Luther tetap membangkitkan suatu perasaan yang berbeda buat umat Katolik.
iya, kan ?

Tidak tuh, btw anda sudah nonton film berjudul 'Luther'? Kalau belum, itu salah satu film yang layak tonton, walau saya akui film itu agak 'sedikit kasar' dalam menunjukan dekadensi moral gereja yang terjadi saat itu. Tetapi film itu berusaha jujur, oiya film itu dibuat oleh pihak Lutheran, jadi bukan dibuat oleh Katolik.

Saya, bahkan jauh sebelum mempelajari perbedaan Katolik-Protestan, menganggap Luther salah satu pribadi yang mengembalikan Gereja Katolik pada rel yang ditentukan Kristus. Hanya saja, akibat arogansi kekuasaan gereja saat itu, ditambah urusan politik antara negara Jerman dan Roma, serta perbedaan kelas antara kaum ningrat yang mendukung Roma dan kaum jelata yang mendukung Luther, urusannya jadi rumit, dan terjadilah perpecahan itu. Seandainya, semua pihak bisa berdiskusi dengan tenang, tidak mengutamakan ego dan tekanan, mungkin perpisahan tidak perlu terjadi (?).

Salah satu 'kesalahan' Luther menurut saya adalah, setelah melepaskan diri dari Roma, Gereja Jerman dibiarkan tanpa kendali (mungkin Luther sudah muak dengan sistem Hirarki gereja?), sehingga gereja Protestan meka tanpa kendali.

Orthodox, dan Anglikan, juga memisahkan diri dari Roma, masing masing dengan alasan yang berbeda, tetapi kontrol tetap ada, tidak tercerai berai. Sehingga hingga saat ini, gereja Orthodox dan Anglikan masih tetap memiliki doktrin yang sama sejak terpisah dari Gereja Roma.

Sebaliknya, Protestan yang tanpa pimpinan menjadi tercerai berai, menurut data terakhir yang saya dengar, sudah berjumlah lebih dari 34.000 aliran. Bahkan banyak diantaranya merupakan aliran yang bisa digolongkan 'sesat', misalkan Mormon dan Saksi Yehuwa, begitu juga yang dikenal dengan aliran 'Jesus only'.


Quote :
makanya yang buruk jangan dicontoh, Om...
kalau kita tahu itu menyakiti hati saudara kita, mbokya jangan pakai kata murtad, sesat, kafir dsb...

seharusnya kita kan berpikir bagaimana menyatukan diri sebagai sesama tubuh Kristus dan menjadikan hanya Kristus satu2nya Kepala kita tanpa menganggap diri kita lebih baik dari yang lainnya hanya karena kita merasa diri kita lebih baik dari mereka.

Kapan ya saya mengatakan pihak di luar Katolik adalah sesat (Kecuali yang memang masuk golongan yang jelas jelas sesat SY dan Mormon)?

Menyatukan diri sebagai sesama tubuh Kristus tentu harus, tetapi menyampaikan fakta sejarah Gereja, tanpa menutup-nutupi tentu adalah salah satu manfaat forum seperti ini. Karena kita semua tentulah termasuk penganut Kristen yang sudah matang dan dewasa, untuk bia menerima kebenaran yang sesuai dengan fakta sejarah.

Begitu juga, masalah doktrin Gereja, yang kadang memang berbeda jauh, masig masing tentu berhak menyampaikan argumen dengan bahasa yang baik dan tanpa berniat untuk menjadikan forum menjadi arena tarung menang dan kalah.

Dengan masing masing menyampaikan artikel yang baik, maka masing masing pihak bisa mengerti (tanpa perlu setuju) mengapa pihak lain berpegang pada doktrin ini sementara pihak yang lain lagi berpegang pada doktrin yang lain lagi. Misalnya Sola Scriptura / Sola Fide / Sola Gracia dari Protestan, dan Tiga pilar dari Katolik.

Dengan mengetahui (tanpa harus setuju) maka masing masing pihak menjadi mengerti apa yang menjadi dasar perbedaan antar denom, dan tidak menggunakan perbedaan itu untuk saling menjatuhkan. Maka, Gereja Kristus, walau saat ini sudah terpecah pecah, masih dapat tergambar secara utuh, terutama dalam kasih terhadap sesama.

Syalom

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   11th July 2011, 23:52

Apakah sola scriptura itu cukup?

Tentu tidak sebab kalau sudah cukup Yesus tidak perlu membentuk Gereja dengan para rasul yang diberi otoritas namun Ia cukup menulis kitab suci saja.

Kembali Ke Atas Go down
siip
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 630
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 09:01

bruce wrote:


Oiya, yang anda katakan over power dari Magisterium itu tidak tepat bro, jika kekuasaan Paus menjadi terlalu besar itu benar, tetapi bedakan antara Paus/Uskup dengan Magisterium.


Apakah Paus bukan bagian dari Magisterium?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 10:27

siip wrote:
bruce wrote:


Oiya, yang anda katakan over power dari Magisterium itu tidak tepat bro, jika kekuasaan Paus menjadi terlalu besar itu benar, tetapi bedakan antara Paus/Uskup dengan Magisterium.


Apakah Paus bukan bagian dari Magisterium?

Magisterium bukan pribadi bro, tetapi hak pengajaran nya.

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
siip
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 630
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 10:29

bruce wrote:
siip wrote:
bruce wrote:


Oiya, yang anda katakan over power dari Magisterium itu tidak tepat bro, jika kekuasaan Paus menjadi terlalu besar itu benar, tetapi bedakan antara Paus/Uskup dengan Magisterium.


Apakah Paus bukan bagian dari Magisterium?

Magisterium bukan pribadi bro, tetapi hak pengajaran nya.

Iya Bro, pengajaran oleh siapa?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 10:36

Wikipedia :

Magisterium adalah sebuah pihak berwenang dalam hal pengajaran dalam (khususnya) Gereja Katolik Roma. Kata ini berasal dari kata bahasa Latin magisterium yang aslinya bermakna kantor presiden/pemimpin/direktur/pengawas atau yang lainnya (juga khususnya, walau jarang dipakai, kantor guru/pengajar/instruktur anak-anak muda) atau bermakna ajaran, instruksi atau nasihat.

Dalam Gereja Katolik Roma kata "Magisterium" merujuk pada pihak berwenang Gereja urusan pengajaran ajaran Gereja. Kewenangan ini diwujudkan dalam episkopasi, yakni kumpulan semua uskup Gereja, yang dipimpin oleh Uskup Roma (Sri Paus) yang memiliki kekuasaan di atas para uskup lainnya, baik secara pribadi maupun secara institusi, yang juga memiliki kekuasaan atas diri setiap umat Katolik secara langsung. Menurut doktrin Katolik, Magisterium dapat mengajarkan atau menginterpretasikan kebenaran-kebenaran Iman Gereja, dan pihak ini melakukannya dengan atau tanpa status infalibilitas.
"Tugas untuk menginterpretasikan Sabda Tuhan aslinya telah dipercayakan sepenuhnya kepada Magisterium Gereja, yakni Sri Paus dan para Uskup dalam kebersamaan dengan-Nya" (Katekismus Gereja Katolik).


KGK :

Berikut ini definisi dan penjelasan tentang Magisterium, yang terjemahan bebasnya adalah “Wewenang mengajar”, yang diambil dari Katekismus Gereja Katolik (KGK):

KGK 85 “Adapun tugas menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu, dipercayakan hanya kepada Wewenang Mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus” (DV 10).

KGK 86 “Wewenang Mengajar itu tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, yakni dengan,hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh Sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan Roh Kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipelihara dengan suci, dan diterangkannya dengan-setia; dan itu semua diambilnya dari satu perbendaharaan iman itu, yang diajukannya untuk diimani sebagai hal-hal yang diwahyukan oleh Allah” (DV 10).

KGK 87 Kaum beriman mengenangkan perkataan Kristus kepada para Rasul: “Barang siapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku” (Luk 10:16) Bdk. LG 20. dan menerima dengan rela ajaran dan petunjuk yang diberikan para gembala kepada mereka dalam berbagai macam bentuk.

KGK 888 Bersama para imam, rekan sekerjanya, para Uskup mempunyai “tugas utama… mewartakan Injil Allah kepada semua orang” (PO 4), seperti yang diperintahkan Tuhan Bdk. Mrk 16:15.. Mereka adalah “pewarta iman, yang mengantarkan murid-murid baru kepada Kristus dan mereka pengajar yang otentik atau mengemban kewibawaan Kristus” (LG 25).

KGK 889 Untuk memelihara Gereja dalam kemurnian iman yang diwariskan oleh para Rasul, maka Kristus yang adalah kebenaran itu sendiri, menghendaki agar Gereja-Nya mengambil bagian dalam sifat-Nya sendiri yang tidak dapat keliru. Dengan “cita rasa iman yang adikodrati”, Umat Allah memegang teguh iman dan tidak menghilangkannya di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja yang hidup Bdk. LG12;DV 10.

KGK 890 Perutusan Wewenang Mengajar berkaitan dengan sifat definitif perjanjian, yang Allah adakan di dalam Kristus dengan Umat-Nya. Wewenang Mengajar itu harus melindungi umat terhadap kekeliruan dan kelemahan iman dan menjamin baginya kemungkinan obyektif, untuk mengakui iman asli, bebas dari kekeliruan. Tugas pastoral Wewenang Mengajar ialah menjaga agar Umat Allah tetap bertahan dalam kebenaran yang membebaskan. Untuk memenuhi pelayanan ini Kristus telah menganugerahkan kepada para gembala karisma “tidak dapat sesat” [infallibilitas] dalam masalah-masalah iman dan susila. Karisma ini dapat dilaksanakan dengan berbagai macam cara:

KGK 891 “Ciri tidak dapat sesat itu ada pada Imam Agung di Roma, kepala dewan para Uskup, berdasarkan tugas beliau, bila selaku gembala dan guru tertinggi segenap umat beriman, yang meneguhkan saudara-saudara beliau dalam iman, menetapkan ajaran tentang iman atau kesusilaan dengan tindakan definitif… Sifat tidak dapat sesat, yang dijanjikan kepada Gereja, ada pula pada Badan para Uskup, bila melaksanakan wewenang tertinggi untuk mengajar bersama dengan pengganti Petrus” (LG 25) terutama dalam konsili ekumenis Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3074.. Apabila Gereja melalui Wewenang Mengajar tertingginya “menyampaikan sesuatu untuk diimani sebagai diwahyukan oleh Allah” (DV 10) dan sebagai ajaran Kristus, maka umat beriman harus “menerima ketetapan-ketetapan itu dengan ketaatan iman” (LG 25). Infallibilitas ini sama luasnya seperti warisan wahyu ilahi Bdk. LG 25.

KGK 892 Bantuan ilahi juga dianugerahkan kepada pengganti-pengganti para Rasul, yang mengajarkan dalam persekutuan dengan pengganti Petrus, dan terutama kepada Uskup Roma, gembala seluruh Gereja, apabila mereka, walaupun tidak memberikan ketetapan-ketetapan kebal salah dan tidak menyatakannya secara definitif, tetapi dalam pelaksanaan Wewenang Mengajarnya yang biasa mengemukakan satu ajaran, yang dapat memberi pengertian yang lebih baik mengenai wahyu dalam masalah-masalah iman dan susila. Umat beriman harus mematuhi ajaran-ajaran otentik ini dengan: “kepatuhan kehendak dan akal budi yang suci” (LG 25), yang walaupun berbeda dengan persetujuan iman, namun mendukungnya.

Jadi kesimpulannya, Magisterium adalah Wewenang Mengajar Gereja, yang terdiri dari Bapa Paus (sebagai pengganti Rasul Petrus) dan para uskup (sebagai pengganti para rasul) dalam persekutuan dengannya, yang diberikan karisma “tidak dapat sesat” (infalibilitas) oleh Yesus, yaitu dalam hal pengajaran mengenai iman dan moral. Maka kita ketahui bahwa sifat infalibilitas ini tidak berlaku dalam segala hal, namun hanya dalam hal iman dan moral, yaitu pada saat mereka mengajarkan dengan tindakan definitif, seperti yang tercantum dalam Dogma dan doktrin resmi Gereja Katolik.

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
siip
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 630
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 11:01

Quote :
Jadi kesimpulannya, Magisterium adalah Wewenang Mengajar Gereja, yang terdiri dari Bapa Paus (sebagai pengganti Rasul Petrus) dan para uskup (sebagai pengganti para rasul) dalam persekutuan dengannya, yang diberikan karisma “tidak dapat sesat” (infalibilitas) oleh Yesus, yaitu dalam hal pengajaran mengenai iman dan moral. Maka kita ketahui bahwa sifat infalibilitas ini tidak berlaku dalam segala hal, namun hanya dalam hal iman dan moral, yaitu pada saat mereka mengajarkan dengan tindakan definitif, seperti yang tercantum dalam Dogma dan doktrin resmi Gereja Katolik.

Oke Bro.
Jd Magisterium itu terdiri dari Paus dan para uskup.

Saya quote lagi tulisan saya :

Quote :
Masalah di Gereja Katolik adl pnyelewengan dan over-power dr Magisterium di masa lalu yg mnimbulkan luka batin, ppecahan dan trauma shg sesama saudara mjd btentangan.

Respon Bro adalah :

Quote :
Oiya, yang anda katakan over power dari Magisterium itu tidak tepat bro, jika kekuasaan Paus menjadi terlalu besar itu benar, tetapi bedakan antara Paus/Uskup dengan Magisterium.

Sedangkan...

Quote :
Magisterium adalah Wewenang Mengajar Gereja, yang terdiri dari Bapa Paus (sebagai pengganti Rasul Petrus) dan para uskup (sebagai pengganti para rasul) dalam persekutuan dengannya

Makanya,

Karena

Quote :
Masalah di Gereja Katolik adl pnyelewengan dan over-power dr Magisterium di masa lalu yg mnimbulkan luka batin, ppecahan dan trauma shg sesama saudara mjd btentangan.

Maka terjadilah

Quote :
Psoalannya, dlm prakteknya, pd suatu masa terjadi inkonsistensi kesetaraan dari ketiga dasar tsb, shg salah satu piliar khilangan kredibilitasnya.

--------

Yg saya sorot bukan 'harusnya sistem Magisterium itu tidak ada'.
Saya berpendapat Magisterium itu haruslah ada.
Kalo tidak ada, maka liarlah Gereja (spt yg tjd skrg ini di Protestan dan anak-anaknya).

Tp yg saya sorot adl inkonsistensi kesetaraan Scriptura, Magisterium dan Tradition.
Kembali Ke Atas Go down
Djo
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 794
Join date : 28.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 11:08

Mungkin pertanyaannya bisa dibalik, apa yg kurang dari Sola Scriptura ?

Dalam menjalankan kehidupan kita sehari2, hal apa yg membuat kita bingung dan ragu2 krn tidak terdapat dlm alkitab ?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 11:12

@Siip

Bro, magisterium memang bertugas mengajar, karena itu memang tugas yang diberikan oleh Jesus sendiri (iman Katolik).

Paus dan Uskup termasuk didalam magisterium, mereka secara pribadi bisa salah, bisa arogan, bisa jatuh dalam dosa. Tetapi magisterium dalam ajarannya tidak pernah salah, karena ajaran magisterium adalah ajaran yang diajarkan oleh Jesus sendiri.


Quote :
Yg saya sorot bukan 'harusnya sistem Magisterium itu tidak ada'.
Saya berpendapat Magisterium itu haruslah ada.
Kalo tidak ada, maka liarlah Gereja (spt yg tjd skrg ini di Protestan dan anak-anaknya).

Tp yg saya sorot adl inkonsistensi kesetaraan Scriptura, Magisterium dan Tradition.

Bisa diberikan contoh kasusnya, agar bisa kita diskusikan bersama di forum?

Syalom

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 11:14

Djo wrote:
Mungkin pertanyaannya bisa dibalik, apa yg kurang dari Sola Scriptura ?

Dalam menjalankan kehidupan kita sehari2, hal apa yg membuat kita bingung dan ragu2 krn tidak terdapat dlm alkitab ?

Mungkin bisa dibaca ulang dari posting awal saya bro, sepertinya disitu sudh dipaparkan lengkap.

Syalom

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Djo
Perwira Pertama
Perwira Pertama


Jumlah posting : 794
Join date : 28.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 11:51

bruce wrote:
Djo wrote:
Mungkin pertanyaannya bisa dibalik, apa yg kurang dari Sola Scriptura ?

Dalam menjalankan kehidupan kita sehari2, hal apa yg membuat kita bingung dan ragu2 krn tidak terdapat dlm alkitab ?

Mungkin bisa dibaca ulang dari posting awal saya bro, sepertinya disitu sudh dipaparkan lengkap.

Syalom

Tidak menjawab pertanyaan saya om.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 12:31

Bruce wrote:
Tidak tuh, btw anda sudah nonton film berjudul 'Luther'? Kalau belum, itu salah satu film yang layak tonton, walau saya akui film itu agak 'sedikit kasar' dalam menunjukan dekadensi moral gereja yang terjadi saat itu. Tetapi film itu berusaha jujur, oiya film itu dibuat oleh pihak Lutheran, jadi bukan dibuat oleh Katolik.

kira2 gimana yah, pandangan para pemimpin gereja pada saat itu terhadap dia ?
seseorang yang berani menantang wakil Tuhan ?
dan menurut anda tidak, itu karena anda punya cara pandang yang berbeda, tapi tentunya gak setiap orang katolik sepakat dengan anda, kan ? :)

Quote :
Kapan ya saya mengatakan pihak di luar Katolik adalah sesat (Kecuali yang memang masuk golongan yang jelas jelas sesat SY dan Mormon)?

kalau murtad ? Razz
he..he..he...
tapi gak usah dibahas lagi, deh...
saya nonton aja, kan udah rame... Laughing
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 14:04

@t2y

Kata kata murtan yng saya tulis itu kan pakai tanda kurung bro, anda terlalu perasa atau suka suudzon sih, he he he.



@djo

Pertanyaannya apa bro?
Sola scriptura tidak akan cukup, karena anda tetap butuh bimbingan gereja untuk beribadah, anda butuh gereja untuk berhimpun, anda maih butuh pendeta untuk membantu anda mengerti ayat ayat Alkitab. Bahkan kita butuh forum untuk berinteraksi, he heh e


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 14:15

gimana kalau judulnya dirubah saja biar tidak profokatif ?

misalnya jadi :
apa sih perlunya kegereja ?
atw apa sih kegunaan gereja sebagai suatu organisasi ?

kalau judulnya kayak yang diatas mah banyak yang nangkepnya lain... Razz
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 14:26

T2Y wrote:
gimana kalau judulnya dirubah saja biar tidak profokatif ?

misalnya jadi :
apa sih perlunya kegereja ?
atw apa sih kegunaan gereja sebagai suatu organisasi ?

kalau judulnya kayak yang diatas mah banyak yang nangkepnya lain... Razz

Kan tujuannya memang untuk memancing posting. Jadi member Protestan juga diharapkan menampilkan doktrinnya, untuk kita bahas bersama, agar kita semua saling memahami satu sama lainnya.

:)

Syalom

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 14:46

bruce wrote:
T2Y wrote:
gimana kalau judulnya dirubah saja biar tidak profokatif ?

misalnya jadi :
apa sih perlunya kegereja ?
atw apa sih kegunaan gereja sebagai suatu organisasi ?

kalau judulnya kayak yang diatas mah banyak yang nangkepnya lain... Razz

Kan tujuannya memang untuk memancing posting. Jadi member Protestan juga diharapkan menampilkan doktrinnya, untuk kita bahas bersama, agar kita semua saling memahami satu sama lainnya.

:)

Syalom

jago ngeles... Razz
ntar kalau Om White dah posting baru dah ada lawan yang seimbang... Laughing
hahahahaha...
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   12th July 2011, 15:12

Quote :
jago ngeles...
ntar kalau Om White dah posting baru dah ada lawan yang seimbang...
hahahahaha...

Ngeles is my middle name, bro.

Btw, oom white udah berkali kali saya bujuk dan tantang, eh belakangan malah bilang 'sekarang udah pulih, tetapi kok merasa sudah tua', waduh, musti didukung doa tuh.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Apakah Sola Scriptura cukup ?   Today at 21:40

Kembali Ke Atas Go down
 
Apakah Sola Scriptura cukup ?
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 5Pilih halaman : 1, 2, 3, 4, 5  Next
 Similar topics
-
» Apakah ganti knalpot racing itu akan beresiko di tilang...?
» (WTA) Apakah motor yang jarang dipakai akan mempengaruhi Oli mesin didalamnya?
» Apakah haram ganti koil bila sudah pake CDI Racing??
» Tes apakah Anda seorang Indigo
» MUTILASI V*GINA...??!!!!!

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Ruang Antar Kristen (Khusus Penganut Kristen Trinitarian) :: Ajaran Kristen-
Navigasi: