Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Doktrin Calvinist

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6  Next
PengirimMessage
epafras
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 50
Join date : 11.09.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   28th September 2011, 14:04

bruce wrote:
Quote :
Sepertinya penggunaan kata iming2 diatas tidak tepat om
Konotasi nya negatif gitu hehe

Muzizat adlh masalah iman dan percaya, bukan sebuah program hadiah menarik yg bisa ditawarkan kpd calon konsumen.

Setelah menuliskannya kemarin, saya memang ragu-ragu, tepat ngga ya pakai kata iming-iming? Ataukah tawaran? Tetapi karena iming-iming dan tawaran bermakna mirip-mirip, saya biarkan saja. He he he, sorry kalo salah tempat bro. Sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah 'daya tarik' dari kegiatan penyembuhan dan semacamnya, nah apa yang tepat ya?

Betul mujijat adalah iman dan percaya, tetapi tentu merupakan daya tarik tersendiri kan? Ini kita bicara faktor marketing ya bro.

:)

Tambah lagi, Bro...

Saya mau menambah satu lagi dari faktor 'worldview' (pola pandang satu kelompok masyarakat dalam satu budaya).

Worldview Barat adalah rasional-matematis-naturalistik.
Worldview Timur adalah suprarasional-intuitif-supranaturalistik (mistis).

Nah, Alkitab kira-kira lebih dekat ke worldview yang mana? Indonesia memiliki worldview yang mana?

Kecocokan worldview itulah yang menjadi penyebab timbulnya akselerasi pertumbuhan agama-agama.

(Coba bayangkan, setelah 400 tahun kekristenan hadir di Indonesia, ternyata statistik tidak berubah secara signifikan. Mengapa? Alkitab memiliki worldview Timur, dan Indonesia memiliki worldview yang sama, tetapi para missionaris justru mengemas Alkitab dalam worldview Barat... Ya... bablas, dong...)
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   28th September 2011, 14:52

Quote :
tetapi para missionaris justru mengemas Alkitab dalam worldview Barat... Ya... bablas, dong..

Lha kalau para misionaris mulai pakai kembang tujuh rupa dan bakar menyan tiap jumat, nanti malah kita mulai bingung bro, ha ha ha

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   28th September 2011, 18:46

Quote :
tetapi para missionaris justru mengemas Alkitab dalam worldview Barat... Ya... bablas, dong...
Damai bagi semua.

Ngomong-ngomong, bagaimana memaknai pengemasan Alkitab? Menurut pengertian saya, Alkitab yang berterima umum bagi masyarakat Indonesia yaitu yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, adalah alih bahasa dari bahasa mana itu... Yunani kalau tidak salah. Ada juga sih katanya (saya tahu dari suatu forum entah forum mana, sudah lupa), Alkitab yang beredar atau ada di Indonesia yang bukan terbitan LAI, yang konon alih bahasanya lebih mendekati pemaknaan bahasa aslinya.

Apakah pengemas Alkitab oleh missionaris yang dimaksudkan tersebut adalah metode atau cara atau teknis alih bahasa? Kalau itu, saya pikir, LAI tidak mempekerjakan missionaris. Namun, memang tidak menutup kemungkinan bahwa missionaris dipekerjakan menjadi staf atau konsultan pada pengalihbahasaan Alkitab. Tapi, ketika missionaris dipekerjakan oleh LAI, tentu tidak dilihat sebagai missionaris, karena dia bekerja atas nama LAI.

Nah, bagaimana memaknai missionaris mengemas Alkitab?

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Limited
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 17
Join date : 03.10.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   9th December 2011, 16:40

Imho, terjemahan LAI sudah terkontaminasi dengan yang namanya 'SOLA FIDE'..!
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   13th December 2011, 17:53

Baca kata sola, jadi ingat sola gratias. Mungkin itu lebih enak ya? Artinya HANYA TERIMA KASIH/SYUKUR, kan? Wong diajarkan untuk mengucap syukur setiap saat, berarti sola gratias to?

Lho, lho, lhooo kenapa saya jadi OOT yach?

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
samiaji
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 392
Join date : 26.02.11
Age : 38

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   27th December 2011, 16:34

Saya merasa ini adalah topik yang paling tepat untuk posting saya, tapi kalau dirasa salah tempat, tolong Oom Moderator Husada pindahkan ke tempat yang lebih sesuai ya... Shocked

Pagi hari sebelum saya berangkat ke bandara, saya membaca forum topik yang kurang lebih sama dengan topik TULIP-Predestiny-limited atonement dan saat itu bacaan saya terhenti pada diskusi apakah Allah kejam jika "Allah menentukan (beberapa) manusia untuk binasa, dan (beberapa) manusia untuk selamat" ?
Beberapa argumen mengatakan bahwa Allah tidak mungkin menentukan ke-binasa-an bagi manusia, yang lain mengatakan bahwa kedua-duanya memang ada di kitab suci..

Lalu saya pun berangkat ke bandara.

Saat check in, saya diberi nomor duduk 6D, merupakan tempat duduk yang cukup istimewa dalam pikir saya karena berada di bagian depan, walaupun masih dalam kelas ekonomi. Tetapi sesaat setelah pintu boarding dibuka, nama saya dipanggil oleh petugas, lalu dia mengganti kartu boarding saya, dan tertulis di sana tempat duduk 2D, dia berkata bahwa saya telah dipindahkan ke kelas bisnis. Saya cukup terkejut, dan menanyakan alasannya, petugas itu menjawab bahwa telah terjadi overbooking tanpa ada penjelasan apa itu artinya.

Yang pasti untuk pertama kalinya saya merasakan kenyamanan kelas bisnis dan segala fasilitasnya.


Kembali saya teringat dengan topik ini,
Saya jadi berpikir, bahwa mungkin yang dimaksud dengan "Allah menentukan (beberapa) manusia untuk binasa" adalah : manusia seharusnya mendapatkan apa yang menjadi upah mereka (upah dosa ialah maut, semua orang telah berbuat dosa) [seperti saat seharusnya saya duduk kursi di kelas ekonomi.. ]
Namun ternyata saya diberi anugerah untuk pindah ke kelas bisnis tanpa saya ikut adil dalam melakukan sesuatu apapun.

Jadi menurut pandangan saya, sama sekali tidak ada ada alasan mengatakan Allah tidak adil atau bahkan kejam dengan mengatakan bahwa "Allah menentukan (beberapa) manusia untuk binasa". Binasa adalah upah kita pada awalnya. Keselamatan itulah justru Anugerah dan bukan upah pekerjaan kita.


Salam Damai
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   27th December 2011, 18:28

Damai bagimu Samiaji.

Suatu kehormatan rasanya ketika Sam minta saya memindah posting Samiaji ke tampat yang lebih sesuai. Dengan perasaan menyesal, harus saya katakan, saya itu masih gaptek. Belum tahu teknis pemindahan posting. Meski demikian, akan saya coba usulan Samiaji kepada Bruce.

Oh, ya. Samiaji jangan terperangah melihat kemoderatoran yang selalu mengikuti nama saya di tiap posting-an, itu hadiah saja. Sungguh, rasanya saya belum punya kemampuan untuk menjadi moderator. Namun sudah demikian, yah... jangan sampai menjadi penghalang diskusi. Ini posting-anmu,

samiaji wrote:
Saya merasa ini adalah topik yang paling tepat untuk posting saya, tapi kalau dirasa salah tempat, tolong Oom Moderator Husada pindahkan ke tempat yang lebih sesuai ya... Shocked

Pagi hari sebelum saya berangkat ke bandara, saya membaca forum topik yang kurang lebih sama dengan topik TULIP-Predestiny-limited atonement dan saat itu bacaan saya terhenti pada diskusi apakah Allah kejam jika "Allah menentukan (beberapa) manusia untuk binasa, dan (beberapa) manusia untuk selamat" ?
Beberapa argumen mengatakan bahwa Allah tidak mungkin menentukan ke-binasa-an bagi manusia, yang lain mengatakan bahwa kedua-duanya memang ada di kitab suci..

Lalu saya pun berangkat ke bandara.

Saat check in, saya diberi nomor duduk 6D, merupakan tempat duduk yang cukup istimewa dalam pikir saya karena berada di bagian depan, walaupun masih dalam kelas ekonomi. Tetapi sesaat setelah pintu boarding dibuka, nama saya dipanggil oleh petugas, lalu dia mengganti kartu boarding saya, dan tertulis di sana tempat duduk 2D, dia berkata bahwa saya telah dipindahkan ke kelas bisnis. Saya cukup terkejut, dan menanyakan alasannya, petugas itu menjawab bahwa telah terjadi overbooking tanpa ada penjelasan apa itu artinya.

Yang pasti untuk pertama kalinya saya merasakan kenyamanan kelas bisnis dan segala fasilitasnya.


Kembali saya teringat dengan topik ini,
Saya jadi berpikir, bahwa mungkin yang dimaksud dengan "Allah menentukan (beberapa) manusia untuk binasa" adalah : manusia seharusnya mendapatkan apa yang menjadi upah mereka (upah dosa ialah maut, semua orang telah berbuat dosa) [seperti saat seharusnya saya duduk kursi di kelas ekonomi.. ]
Namun ternyata saya diberi anugerah untuk pindah ke kelas bisnis tanpa saya ikut adil dalam melakukan sesuatu apapun.

Jadi menurut pandangan saya, sama sekali tidak ada ada alasan mengatakan Allah tidak adil atau bahkan kejam dengan mengatakan bahwa "Allah menentukan (beberapa) manusia untuk binasa". Binasa adalah upah kita pada awalnya. Keselamatan itulah justru Anugerah dan bukan upah pekerjaan kita.


Salam Damai
Baiklah, Sam. Demikian itu pandangan Samiaji, saya menghargainya. Ketepatan, pengalaman Samiaji yang Sam angkat di posting-an ini adalah keberuntungan, atau kebaikan, atau kemurahhatian, sehingga Samiaji dapat merasakan kenikmatan kelas bisnis di penerbangan itu, dan Samiaji merasa tidak melakukan apa-apa untuk itu.

Ini agak berbeda dengan masalah yang Samiaji sampaikan (kalau saya tidak salah tangkap). Masalah yang menjadi pertanyaan di hati Samiaji justru merupakan kesialan, atau keburukan, atau kekejaman, dimana seseorang ditetapkan sejak semula untuk menderita, atau mengenaskan, atau hal-hal negatif lainnya.

Nah, dalam hal itu, saya ingin mengutarakan pemahaman saya. Bila demikian adanya, yaitu ada orang yang ditetapkan sejak semula sebagai pelengkap penderita, maka saya menyimpulkan bahwa "pihak yang menetapkan itu" adalah kejam, tidak adil, tidak berperikemanusiaan. (Mohon dibedakan dengan penetapan suatu landasan bagi sesuatu ya? Maksud saya, bila kita menetapkan sesuatu -bukan manusia- sebagai landasan, misalkan tatakan ceret berisi air panas di meja makan, itu harus dibedakan dari penetapan seseorang sejak semula untuk menderita).

Mengapa saya berkesimpulan demikian, tak lain karena dapat kita baca di Alkitab bahwa manusia itu dicipta secitra dengan Pencipta. Mosok Tuhan mencipta manusia secitra dengannya tetapi menyediakan manusia ciptaanNya itu untuk menderita? Menurut pemahaman saya, yang begitu itu kejam, tidak adil.

Dan lagi, bila kita baca kisah Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya pada Kejadian, kisah itu ditutup oleh ayat 31 yang berkata, "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam". Artinya, menurut pemahaman saya, sejak semula ciptaan Tuhan itu, termasuk manusia, adalah baik adanya, bukan dicipta untuk dibinasakan.

Karena kedegilan manusia itulah (sering saya sebut kemerdekaan, atau kebebasan) maka manusia itu berubah dari "baik" saat diciptakan menjadi binasa pada perjalanan waktu, karena mengikuti pikirannya, tidak menuruti perintah Tuhan.

Begitu menurut saya, Sam. Mungkin ada partisipan lain yang mau urun rembug? Monggo.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   27th December 2011, 20:24

@Samiaji & Husada

Sepertinya post bro Sam sudah sangat tepat di thread ini, yang kebetulan membahas Doktrin Calvinist denan TULIP nya.

Oiya, post di atas sangat menarik, dan sekaligus contoh nyata, walau terkesan seperti nasib baik, sesuatu yang tidak dipercaya oleh umat Kristen.

Saya akan coba tanggapi setelah ini.

Syalom

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   28th December 2011, 01:33

samiaji wrote:
Saya merasa ini adalah topik yang paling tepat untuk posting saya, tapi kalau dirasa salah tempat, tolong Oom Moderator Husada pindahkan ke tempat yang lebih sesuai ya... Shocked

Pagi hari sebelum saya berangkat ke bandara, saya membaca forum topik yang kurang lebih sama dengan topik TULIP-Predestiny-limited atonement dan saat itu bacaan saya terhenti pada diskusi apakah Allah kejam jika "Allah menentukan (beberapa) manusia untuk binasa, dan (beberapa) manusia untuk selamat" ?
Beberapa argumen mengatakan bahwa Allah tidak mungkin menentukan ke-binasa-an bagi manusia, yang lain mengatakan bahwa kedua-duanya memang ada di kitab suci..

Lalu saya pun berangkat ke bandara.

Saat check in, saya diberi nomor duduk 6D, merupakan tempat duduk yang cukup istimewa dalam pikir saya karena berada di bagian depan, walaupun masih dalam kelas ekonomi. Tetapi sesaat setelah pintu boarding dibuka, nama saya dipanggil oleh petugas, lalu dia mengganti kartu boarding saya, dan tertulis di sana tempat duduk 2D, dia berkata bahwa saya telah dipindahkan ke kelas bisnis. Saya cukup terkejut, dan menanyakan alasannya, petugas itu menjawab bahwa telah terjadi overbooking tanpa ada penjelasan apa itu artinya.

Yang pasti untuk pertama kalinya saya merasakan kenyamanan kelas bisnis dan segala fasilitasnya.


Kembali saya teringat dengan topik ini,
Saya jadi berpikir, bahwa mungkin yang dimaksud dengan "Allah menentukan (beberapa) manusia untuk binasa" adalah : manusia seharusnya mendapatkan apa yang menjadi upah mereka (upah dosa ialah maut, semua orang telah berbuat dosa) [seperti saat seharusnya saya duduk kursi di kelas ekonomi.. ]
Namun ternyata saya diberi anugerah untuk pindah ke kelas bisnis tanpa saya ikut adil dalam melakukan sesuatu apapun.

Jadi menurut pandangan saya, sama sekali tidak ada ada alasan mengatakan Allah tidak adil atau bahkan kejam dengan mengatakan bahwa "Allah menentukan (beberapa) manusia untuk binasa". Binasa adalah upah kita pada awalnya. Keselamatan itulah justru Anugerah dan bukan upah pekerjaan kita.


Salam Damai
Benar bahwa keselamatan adalah anugrah tetapi dalam menanggapi anugrah itu Allah tetap punya requirementnya...

tidak terus bablas begitu saja...

untuk naik pesawat anda harus beli tiket begitu juga dalam menanggapi anugrah Allah itu, manusia harus punya justifiasinyanya yaitu iman + perbuatan.

Calvin kebablasan karena melenyapkan hal tersebut sehingga peran manusia dalam menanggapi anugrah Allah tersebut sama sekali diabaikan .

Padahal jelas sekali dalm ayat ini
Mat 23:37
"Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

Kembali Ke Atas Go down
samiaji
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 392
Join date : 26.02.11
Age : 38

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   28th December 2011, 14:52

@bro leo
di atas saya hanya bermaksud menganalogikan kebinasaan manusia sebagai upah yang seharusnya di dapatkan manusia karena telah berbuat dosa = Saya membeli tiket ekonomi dan seharusnya mendapatkan kelas ekonomi
Sedangkan saya mendapatkan lebih dari yang saya berikan = Anugerah
Jadi "Allah menetapkan (beberapa) manusia untuk binasa" saya artikan sebagai sebab upah dosa adalah binasa, dan seluruh manusia telah berbuat dosa, maka Allah telah menetapkan upah manusia, yaitu binasa.. Menurut saya tidaklah berarti bahwa Allah kejam. [Tetapi keselamatan adalah Anugerah..]
Itu saja bro...

@Oom Bruce
Seperinya memang hanya nasib baik saja, atau saya saja yang menghubung-hubungkan hal yang sebenarnya tidak berhubungan.. Tapi konon katanya tidak ada hal yang namanya kebetulan.

@all
Saya tidak bermaksud membahas masalah keselamatan dan syarat-syaratnya karena saya sudah mendapatkan gambaran (dari berbagai forum) bagaiman pandangan / sudut pandang berbagai ajaran yang ada di dalam kekristenan.. Walaupun belum memahami sepenuhnya tiap ajaran tersebut.

GBU
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   28th December 2011, 22:42

samiaji wrote:
@bro leo
di atas saya hanya bermaksud menganalogikan kebinasaan manusia sebagai upah yang seharusnya di dapatkan manusia karena telah berbuat dosa = Saya membeli tiket ekonomi dan seharusnya mendapatkan kelas ekonomi
Sedangkan saya mendapatkan lebih dari yang saya berikan = Anugerah
Jadi "Allah menetapkan (beberapa) manusia untuk binasa" saya artikan sebagai sebab upah dosa adalah binasa, dan seluruh manusia telah berbuat dosa, maka Allah telah menetapkan upah manusia, yaitu binasa.. Menurut saya tidaklah berarti bahwa Allah kejam. [Tetapi keselamatan adalah Anugerah..]
Itu saja bro...

@Oom Bruce
Seperinya memang hanya nasib baik saja, atau saya saja yang menghubung-hubungkan hal yang sebenarnya tidak berhubungan.. Tapi konon katanya tidak ada hal yang namanya kebetulan.

@all
Saya tidak bermaksud membahas masalah keselamatan dan syarat-syaratnya karena saya sudah mendapatkan gambaran (dari berbagai forum) bagaiman pandangan / sudut pandang berbagai ajaran yang ada di dalam kekristenan.. Walaupun belum memahami sepenuhnya tiap ajaran tersebut.

GBU
Apakah anugrah itu hanya ditetapkan buat segelintir manusia tanpa requirement sama sekali imho ini juga penting untuk dibahas dan berhubungan dengan doktrin Calvinis .

Begitu juga dengan adakah TUhan tidak menghargai freewill manusia sudah dijelaskan dengan ayat Yerusalem tersebut yang menghargai freewill manusia sekalipun dipakai untuk menolak Dia.

shalom :)
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   28th December 2011, 22:54

@Samiaji, damai bagimu.

Senang bertukar pandangan denganmu. Meski terkesan dingin, namun engkau tidak mampu menghilangkan kesan kasih yang mendalam darimu. Apresiasi dariku untukmu.

Puji Tuhan atas kasihNya yang membukakan pemahaman untukmu. Tanpa niat mengintervensi kemurahan Tuhan, ijinkan saya memberi sedikit komentar, semoga sinkron, atau sejalan, atau tidak bertentangan dengan apa yang telah Samiaji simpulkan dari berbagai forum yang Samiaji baca-baca dan ikuti.

Hukum keberapa itu yang memerintahkan agar manusia menghormati orang tuanya? Disitu dikatakan agar panjang umurmu di tanah yang diberikan Tuhan padamu. Nah, menurut pemahaman saya, kepanjangan umur saya artikan sebagai keberuntungan. Mendapat fasilitas kelas bisnis pada suatu penerbangan dari yang seharusnya kelas ekonomi, juga saya katagorikan sebagai keberuntungan. Itu bukan kebetulan semata, sebab sebelum mendapatnya, Samiaji sudah mengikuti atau menghormati aturan yang sesuai dengan itu, yaitu membeli tiket, check in, bayar pajak bandara, dan semua aturan.

Yang manusia pandang dalam hal tersebut sebagai kebetulan ialah, megapa Samiaji yang mendapat keberuntungan itu? Mengapa bukan orang lain? Padahal, semua penumpang penerbangan itu seluruhnya mengikuti atau menghormati aturan yang berlaku. Dalam hal itu, menurut pemahaman saya, karena 'ada suatu kekuatan tersembunyi' yang ikut berperan. Selaku pengikut Kristus, saya menyimpulkan bahwa semua penumpang dan awak penerbangan itu diberkati, tetapi ada berkat yang lebih bagi Samiaji. Mengapa demikian? Menurut saya, hanya Tuhan yang tahu. Menurut dugaan saya, dari seluruh penumpang itu, Tuhan berkenan, tetapi Tuhan lebih berkenan pada Samiaji.

Bila saja Samiaji tidak membeli tiket penerbangan itu, atau Samiaji melakukan hal-hal yang tidak layak bagi penerbangan itu, maka dapat dipastikan, Samiaji tidak akan dipilih untuk duduk di kelas bisnis ketika itu. Artinya, yang ingin saya katakan ialah, sejauh ini, yang saya imani, Tuhan mengambil sikap atas manusia, bukan sekonyong-konyong. Tuhan berkenan memberi hadiah atau keberuntungan, tetapi bukan tanpa pertimbangan. Dan meski Tuhan memberi keberuntungan tanpa pertimbangan, ya terserah Tuhan. Saya hanya mencoba memahami Tuhan (walaupun takkan sempurna) dari berbagai pengajaran dan pengalaman.

Tentang kesialan, atau ketidakberuntungan, atau penderitaan, atau hal-hal negatif lainnya, bukan Tuhan yang menetapkannya untuk kita (kecuali neraka ya?). Hal-hal negatif di dunia ini yang kita alami, itu adalah pilihan kita. Meski kelihatannya oleh mata manusia bukan pilihan kita, namun saya mengimani bahwa itu adalah pilihan kita.

Neraka, menurut pengimanan saya, disediakan bagi mereka yang tidak mau menerima dan mematuhi ajaran. Meski kepada orang sudah dikatakan, "Perbuatlah kepada orang lain seperti yang engkau inginkan diperbuat kepadamu", namun orang itu terlalu disitir oleh egonya. Jika ada orang lain berbuat menyakitinya atau kelompoknya, serta merta dia akan menggebug orang lain itu, sementara kalau dia atau kelompoknya berbuat menyakiti orang lain atau kelompok lain, dia ingin agar orang lain atau kelompok lain itu diam saja.

Nah, sekarang ke keselamatan abadi. Saya percaya, bahwa ketika seseorang dibabtis dengan cara yang benar dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, orang itu telah beroleh keselamatan (tanpa abadi). [Keselamatan pada baptisan adalah jalan ke keselamatan abadi.] Sebab, dia telah dijadikan murid Yesus Kristus oleh murid Yesus Kristus sesuai dengan amanat Yesus Kristus. Namun, keselamatan itu bukan suatu yang melekat pada orang itu, karena ada syarat lain, yaitu orang itu harus 'berbuah' seperti yang diinginkan Tuhan.

Dalam pejiarahan hidupnya, kalau orang yang sudah dibaptis tadi ternyata hanya mengagungkan egonya yang sudah dibaptis, berbuat hanya untuk menyenangkan hati dan pikiran sendiri, menurut iman saya, yang begitu itu tidak layak di hadapan Tuhan. Artinya, meski seseorang telah dibaptis sesuai dengan amanat Yesus Kristus, orang itu harus memelihara keselamatan baptisan itu, yaitu dengan berbuah, berguna bagi orang lain, bukan hanya berguna bagi yang berbuat baik kepadanya. Yesus Kristus bilang, "Jika kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, apa upahmu? Orang fasik juga, yang tidak mengenal Tuhan, melakukan hal seperti itu," gitu kira-kira, bukan redaksional ya?

Yang ingin saya katakan sebenarnya adalah, keselamatan abadi itu adalah pemberian Tuhan, manusia diharap memberi jalan agar Tuhan dapat memberi keselamatan abadi itu. Caranya? Manusia diharapkan melakukan perbuatan kepada orang lain seperti perbuatan yang diinginkannya diperbuat orang lain kepadanya.

Itu dariku, Sam. Jangan beranggapan saya menggurui ya? Kita saling belajar. Oke? Kalau bertentangan dengan kesimpulan yang telah Samiaji simpulkan, abaikan saja.

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   29th December 2011, 09:04

@Husada

Quote :
Tentang kesialan, atau ketidakberuntungan, atau penderitaan, atau hal-hal negatif lainnya, bukan Tuhan yang menetapkannya untuk kita (kecuali neraka ya?). Hal-hal negatif di dunia ini yang kita alami, itu adalah pilihan kita. Meski kelihatannya oleh mata manusia bukan pilihan kita, namun saya mengimani bahwa itu adalah pilihan kita.

Neraka, menurut pengimanan saya, disediakan bagi mereka yang tidak mau menerima dan mematuhi ajaran. Meski kepada orang sudah dikatakan, "Perbuatlah kepada orang lain seperti yang engkau inginkan diperbuat kepadamu", namun orang itu terlalu disitir oleh egonya. Jika ada orang lain berbuat menyakitinya atau kelompoknya, serta merta dia akan menggebug orang lain itu, sementara kalau dia atau kelompoknya berbuat menyakiti orang lain atau kelompok lain, dia ingin agar orang lain atau kelompok lain itu diam saja.

Dalam hal neraka, sepertinya saya agak beda pendapat bro.
Tuhan tidak menetapkan dan menyediakan neraka untuk kita, tetapi justru kitalah yang memilih neraka.

Dasar pertimbangannya adalah sbb, Sifat Tuhan yang Mahabaik tidak mungkin bertentangan dengan sifat kejam dalam menyediakan tempat yang super kejam seperti neraka. Tetapi, seperti juga bahwa ada sumber panas tetapi tidak ada sumber dingin, ada sumber cahaya tetapi tidak ada sumber kegelapan. Maka semakin jauh dari Kasih akan berjumpa dengan ketiadaan Kasih (hingga titik dimana tidak ada kasih sama sekali), nah itulah neraka dalam pengertian saya.

Entah benar entah tidak, tetapi konsep di atas tidak mempertentangkan sifat Tuhan (Kasih dan kejam).

Very Happy

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   29th December 2011, 14:50

bruce wrote:
Tuhan tidak menetapkan dan menyediakan neraka untuk kita, tetapi justru kitalah yang memilih neraka.
Very Happy
Okeh, saya kira kita sependapat Bruce. Ada kesalahpengertian dari Bruce, mungkin karena Bruce mencermati ini,
Husada wrote:
Tentang kesialan, atau ketidakberuntungan, atau penderitaan, atau
hal-hal negatif lainnya, bukan Tuhan yang menetapkannya untuk kita
(kecuali neraka ya?).
sehingga Bruce menangkap seolah-olah saya memahami bahwa neraka disediakan buat kita.

Padahal, yang saya maksudkan dengan "(kecuali neraka ya?)" itu ialah, apabila orang sudah melalui penghakiman terakhir, maka Tuhan akan menetapkan neraka bagi orang yang memenuhi kriteria untuk neraka itu. Jadi, seseorang ditetapkan masuk neraka setelah melalui penghakiman terakhir, itu karena pilihan orang itu, yang ditunjukkan atau dibuktikan dari sikap dan perilakunya selama berjiarah di dunia.

Penjelasan maksud saya itu tampak dari kelanjutan tulisan saya pada satu alinea berikutnya yang dimulai dengan,
Husada wrote:
Neraka, menurut pengimanan saya, disediakan bagi mereka yang tidak mau menerima dan mematuhi ajaran. ...
Dengan ketidakmauan menerima dan mematuhi ajaran, seseorang membuat pilihan sendiri bahwa dia memilih terpisah dari ajaran atau perintah dan kasih Tuhan. Pemilihan itu sama seperti ketika Hawa dan Adam memilih tidak mematuhi perintah Tuhan. Sama seperti Yudas Iskariot yang meneruskan niat menjual Yesus, walaupun Yesus sudah memberi peringatan dengan memberitahu ke semua murid bahwa yang mencelup roti dengan Yesuslah orang yang tidak bersih diantara para murid (Markus 14:20 berkata "Orang itu ialah salah seorang dari kamu yang dua belas ini, dia
yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku).


Pada alinea ketujuh tersebut, pemahaman saya jelas, bahwa neraka memang disediakan, tetapi diperuntukkan bagi mereka yang memenuhi kriteria Tuhan untuk itu. Dan itu diberikan atau ditetapkan nanti setelah penghakiman terakhir. Bila di penghakiman terakhir itu seseorang memenuhi kriteria Tuhan untuk masuk neraka, maka Tuhan akan menetapkan orang itu masuk neraka. (Kalau dianalogikan dengan di negara kita, saat setelah penghakiman terakhirlah dikeluarkan SK untuk memasukkan orang ke neraka sesuai sikap dan perilaku yang diterapkan selama berjiaah di bumi).

Selama manusia berjiarah di bumi, menurut pengimanan saya, tidak akan bertemu dengan neraka sebenarnya, meskipun kita pernah mendengar kertak gigi. Dengan perkataan lain, kertak gigi yang kita dengar di dunia ini bukan neraka sebenarnya.

PB menggambarkan neraka dalam berbagai ayat, artinya, neraka itu memang disediakan. Siapa bakal penghuninya? Bisa dicari di PB. Beberapa yang saya ingat, tapi lupa ayatnya, 'carang yang tidak berbuah', 'ilalang di tengah gandum', 'kambing di antara domba', dan masih ada yang lain deh.

Gitu Bruce. Saya jadi menyesal mencantumkan
"(kecuali neraka ya?)" pada alinea keenam posting terdahulu itu. Maksud saya memperjelas pemahaman saya, e'e'eee... malah menjadi faktor pemicu penyalahartian. Semoga saja dengan posting ini dapat meralat kesalahartian itu.

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   29th December 2011, 15:09

He he he he, dasar akuntan, ngga boleh ada kesalahan ya bro, salah dikit aja nyeselnya sampe ngga bisa tidur, he he heh e

Very Happy


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   29th December 2011, 15:18

bruce wrote:
He he he he, dasar akuntan, ngga boleh ada kesalahan ya bro, salah dikit aja nyeselnya sampe ngga bisa tidur, he he heh e

Very Happy

Hmmm... Bruce itu, ya? Jadi ingat pada seseorang yang konon udah bertanya pada akuntan senior tentang akuntan, kontestan, protestan. Untung dia tidak tanya tentang angkutan ke akuntan senior. Padahal, trit ini tidak terkait dengan keakuntanan lho.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
samiaji
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 392
Join date : 26.02.11
Age : 38

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   30th December 2011, 13:51

Terima kasih @all atas tanggapannya,

Husada wrote:
apabila orang sudah melalui penghakiman terakhir, maka Tuhan akan menetapkan neraka bagi orang yang memenuhi kriteria untuk neraka itu. Jadi, seseorang ditetapkan masuk neraka setelah melalui penghakiman terakhir, itu karena pilihan orang itu, yang ditunjukkan atau dibuktikan dari sikap dan perilakunya selama berjiarah di dunia.
versi saya (tambahan kalimat yang dipergunakan bro Husada) :
Quote :
maka Allah telah menetapkan upah manusia (yang memenuhi kriteria), yaitu binasa
Perbedaan kata akan dan telah pada kedua kalimat di atas menurut saya tidak jadi masalah sebab Allah mengetahui past-present-future. Ia sudah mengetahui putusan sebelum penghakiman terjadi.


# Mungkinkah "Baik" dan "Buruk" hanyalah persepsi manusia, tergantung bagaimana sikap / pandangan kita terhadap hal (bisa dibaca sebagai ketetapan Allah) yang terjadi ? Atau Baik/Buruk manusia berbeda dgn Baik/Buruk Allah ?
# Bukankah Banjir Besar bisa dikatakan sebagai hal "Buruk" (buruk dalam pengertian manusia) dan bukankah Banjir tsb datangnya dari ketetapan Allah ?
# Bila seseorang dengan itikad hatinya, mengatakan bahwa Allah selalu merencanakan hal yang baik dalam hal Banjir besar, bisakah ia juga menganggap "masuk neraka" sebagai "upah yang sewajarnya", dan dia tidak melihat dalam hal tersebut Allah berlaku kejam ?




Salam Damai


Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   30th December 2011, 18:58

samiaji wrote:
Terima kasih @all atas tanggapannya,
Sami-sami, Sami.

Quote :
# Mungkinkah "Baik" dan "Buruk" hanyalah persepsi manusia, tergantung bagaimana sikap / pandangan kita terhadap hal (bisa dibaca sebagai ketetapan Allah) yang terjadi ? Atau Baik/Buruk manusia berbeda dgn Baik/Buruk Allah ?
Wah... menurut saya, pertanyaan ini sangat sulit. Maaf kalau jawaban saya tidak memuaskan.

Saya sepakat dengan "baik" dan "buruk" hanyalah persepsi manusia, tergantung bagaimana sikap/pandangan manusia terhadap hal itu. Saya percaya ada kesamaan "baik" menurut manusia dan menurut Tuhan. Saya berpikiran begitu mengingat manusia dicipta secitra dengan Tuhan. Jadi, ada kesamaan "baik" menurut pengertian manusia dengan "baik" menurut Tuhan.

Jadi, menurut saya, "baik" dan "buruk" menurut penilaian manusia berkesamaan dengan penilaian Tuhan. Namun, karena manusia adalah ciptaan Tuhan, maka lingkup penilaian manusia hanya sekitar tatasurya, tetapi lingkup penilaian Tuhan adalah jagad raya. Karena perbedaan lingkup itu, maka bisa saja terjadi bahwa tidak mungkin menurut penilaian manusia, justru mudah saja menurut penilaian Tuhan.

Ambil contoh, seorang dari dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Kalau menurut penilaian manusia, kedua orang penjahat itu tidak akan diberi keberuntungan. Ternyata, kepada seorang dari antaranya, Yesus menjanjikan, hari itu juga akan bersama dengan Yesus di Firdaus. Nah, yang tidak mungkin bagi manusia, ternyata mungkin bagi Tuhan.

Quote :
# Bukankah Banjir Besar bisa dikatakan sebagai hal "Buruk" (buruk dalam pengertian manusia) dan bukankah Banjir tsb datangnya dari ketetapan Allah?
Entah banjir mana yang Samiaji maksudkan, tetapi saya asumsikan banjir jaman Nuh saja.

Menurut pemahaman saya, banjir jaman Nuh itu memang ketetapan Allah. Kitab Suci menceritakan bahwa Allah membuat air bah itu karena Allah melihat bumi sudah rusak oleh manusia, maka Allah menghukum manusia, tetangga-tetangga Nuh.

Oh ya, kisah bah jaman Nuh ini masih diterjemahkan, atau diartikan bermacm-macam, dalam hal apakah benar air menutup seluruh permukaan bumi atau tidak? Saya sendiri berpikirn bahwa tidak identik seperti itu kejadian sebenarnya. Saya berpikiran begitu karena jaman itu moda transportasi masih sangat primitif, berarti perlu waktu bertahun-tahun mengevakuasi seluruh jenis hewan ke bahtera Nuh, misalnya komodo dari Nusa Tenggara.

Sementara, berapa tahun sih kisah pembuatan bahtera Nuh sampai terjadinya air bah itu? Apa iya, ketika Nuh membuat bahtera, Nuh sudah membentuk tim ekspedisi mengevakuasi seluruh jenis hewan ke bahteranya? Jadi, menurut saya, kisah bah jaman Nuh itu hanya suatu kisah untuk memberi pengajaran iman bagi manusia, yaitu iman kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala isinya.

Kembali ke topik kita, maka menurut mata atau penilaian manusia, kejadian air bah jaman Nuh itu sangat kejam, karena kita berpikir pada lingkup bumi (bahkan bumi yang dimaksudkan di kisah itu juga belum tentu seperti globe bola dunia). Sementara pandangan Allah, la ya itu yang paling baik bagi manusia saat itu.

Quote :
# Bila seseorang dengan itikad hatinya, mengatakan bahwa Allah selalu merencanakan hal yang baik dalam hal Banjir besar, bisakah ia juga menganggap "masuk neraka" sebagai "upah yang sewajarnya", dan dia tidak melihat dalam hal tersebut Allah berlaku kejam ?
Pikiran saya tentang banjir jaman Nuh sudah saya kemukakan di atas. Pasti tidak sempurna. Maafkan atas ketidaksempurnaan.

Tentang masuk neraka, saya pikir bisa saja dipandang oleh sekelompok orang sebagai wujud kekejaman dari Allah. Menurut pemahaman saya, kelompok itu terdorong oleh egoismenya sehingga menuduh Allah kejam dengan konsep neraka. Seperti saya utarakan terdahulu, menurut pemahaman saya, neraka memang disediakan, tetapi belum berisi manusia.

Allah melalui para nabi, dan hakim-hakim, bahkan melalui diriNya sendiri dalam diri Yesus Kristus sudah memberikan gambaran neraka itu. Juga sudah menggambarkan kriteria-kriteria apa yang mengharuskan manusia ditempatkan ke neraka, yaitu jika manusia tidak menerima ajaran dan ajakan Yesus Kristus, untuk mematuhi Firman Tuhan, maka pada saatnya nanti, manusia itu akan dimasukkan neraka.

Nah, orang yang merasakan pemasukan ke neraka itu sendiri, akan menilai bahwa pemasukan ke neraka itu adalah bentuk kekejaman. Padahal, kepada manusia/orang itu telah diberitahukan kriteria-kriteria agar orang/manusia terhindar dari neraka. Jadi, pada saatnya tiba, menurut saya, tidak pantas disebut pemasukan ke neraka itu sebagai sesuatu yang kejam. Itu adalah keadilan. Orang masuk neraka karena itu pilihannya, sikap dan perilakunya selama hidup memilih neraka meski telah diajar dan diperintah untuk tidak memilih neraka.

Itu sharing dariku Sam. Damai bagi LTBers.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   31st December 2011, 12:26

Damai bagimu Samiaji.

Ngomong-ngomong, menurut Samiaji, apakah Doktrin Calvinist itu tepat? Menurut saya sendiri, yang belum pernah mendalami doktrin itu, mengetahui bahwa doktrin itu mengimani pre destinasi, yang saya artikan sebagai bahwa sebelum diciptakan, manusia itu sudah ditetapkan tujuan (destinasi) akhirnya. Karena tujuan akhir ada 2 yaitu sorga atau neraka, maka saya artikan bahwa pre destinasi mengajarkan, sebelum diciptakan, manusia sudah ditetapkan apakah sebagai penghuni neraka atau sorga.

Nah, itu artinya, usaha atau perbuatan, atau sikap apa saja yang diperagakan oleh manusia itu selama hidupnya, tidak akan mempengaruhi penetapan akhir manusia itu. Hal seperti itu berbeda dengan ajaran Tuhan Yesus Kristus.

Kepada pengikut Tuhan Yesus Kristus diajarkan: carilah maka kamu akan menemukan, mintalah maka kamu kan mendapatkan, ketuklah maka pintu akan dibukakan untukmu, gitu. Itu saya artikan, bahwa apa-apa yang kita temukan, karena kita cari. Apa-apa yang kita dapat, karena kita minta. Pintu dibukakan untuk kita, karena kita mengetuk. Jadi, hasil akhir yang kita peroleh, bukan karena sudah ditetapkan, melainkan itulah yang kita pilih.

Menurut pemahaman saya, sejak manusia dicipta, kepada manusia sudah diberi kebebasan untuk memilih. Kepada manusia ditunjukkan 'batu sandungan', tetapi Pencipta tidak menghambat manusia itu kalau manusia memilih tersandung. Tuhan menginginkan manusia itu patuh, tetapi Tuhan tidak otoriter atau diktator, maka manusia bebas mau patuh atau tidak patuh. Bila manusia patuh, Tuhan memberikan rupa-rupa kegembiraan dan kebahagiaan. Kalau manusia membelot, manusia akan tersandung dan mendapat rupa-rupa penderitaan.

Pertanyaannya mungkin, mengapa Tuhan membiarkan manusia ciptaanNya menderita? Menurut pemahaman saya, karena Tuhan menghargai keputusanNya. Tuhan sudah memberikan kebebasan kepada manusia, maka kebebasan itu tidak akan dicabut. Jadi, manusia itu secara bebas memilih patuh pada Tuhan, dan bebas pula untuk menjauh dari Tuhan. Pilihan ada di pihak manusia ciptaan.

Begitu menurut pemahaman saya Sam. Damai bagi LTBers, selamat memasuki tahun 2012.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara


Terakhir diubah oleh Husada tanggal 6th January 2012, 15:14, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
samiaji
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 392
Join date : 26.02.11
Age : 38

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   31st December 2011, 20:29

Husada wrote:
Damai bagimu Samiaji.

Ngomong-ngomong, menurut Samiaji, apakah Doktrin Calvinist itu tepat? Menurut saya sendiri, yang belum pernah mendalami doktrin itu, mengetahui bahwa doktrin itu mengimani predestinasi, yang saya artikan sebagai bahwa sebelum diciptakan, manusia itu sudah ditetapkan tujuan (destinasi) akhirnya. Karena tujuan akhir ada 2 yaitu sorga atau neraka, maka saya artikan bahwa pre destinasi mengajarkan, sebelum diciptakan, manusia sudah ditetapkan apakah sebagai penghuni neraka atau sorga.

Nah, itu artinya, usaha atau perbuatan, atau sikap apa saja yang diperagakan oleh manusia itu selama hidupnya, tidak akan mempengaruhi penetapan akhir manusia itu. Hal seperti itu berbeda dengan ajaran Tuhan Yesus Kristus.

Kepada pengikut Tuhan Yesus Kristus diajarkan: carilah maka kamu akan menemukan, mintalah maka kamu kan mendapatkan, ketuklah maka pintu akan dibukakan untukmu, gitu. Itu saya artikan, bahwa apa-apa yang kita temukan, karena kita cari. Apa-apa yang kita dapat, karena kita minta. Pintu dibukakan untuk kita, karena kita mengetuk. Jadi, hasil akhir yang kita peroleh, bukan karena sudah ditetapkan, melainkan itulah yang kita pilih.

Menurut pemahaman saya, sejak manusia dicipta, kepada manusia sudah diberi kebebasan untuk memilih. Kepada manusia ditunjukkan 'batu sandungan', tetapi Pencipta tidak menghambat manusia itu kalau manusia memilih tersandung. Tuhan menginginkan manusia itu patuh, tetapi Tuhan tidak otoriter atau diktator, maka manusia bebas mau patuh atau tidak patuh. Bila manusia patuh, Tuhan memberikan rupa-rupa kegembiraan dan kebahagiaan. Kalau manusia membelot, manusia akan tersandung dan mendapat rupa-rupa penderitaan.

Pertanyaannya mungkin, mengapa Tuhan membiarkan manusia ciptaanNya menderita? Menurut pemahaman saya, karena Tuhan menghargai keputusanNya. Tuhan sudah memberikan kebebasan kepada manusia, maka kebebasan itu tidak akan dicabut. Jadi, manusia itu secara bebas memilih patuh pada Tuhan, dan bebas pula untuk menjauh dari Tuhan. Pilihan ada di pihak manusia ciptaan.

Begitu menurut pemahaman saya Sam. Damai bagi LTBers, selamat memasuki tahun 2012.
Secara khusus saya pun belum mendalami ajaran calvanist ini secara lebih mendalam..
Dari berbagai posting sebelumnya di topik ini juga, saya lebih melihat bahwa penetapan Allah dibaca sebagai pengetahuan Allah akan akhir segala sesuatu. Kalau dikatakan "Allah menetapkan sebagian orang untuk binasa", Saya lebih senang membacanya sebagai "Allah mengetahui bahwa sebagian orang akan mendapatkan upah kebinasaan". Pemahaman saya masih mentok segitu..
Saya kira di dalam Alkitab, selain unsur freewill, unsur penetapan oleh Allah juga sama dominannya [nubuatan tentang mesias menurut saya adalah contoh ketetapan Allah]

Apakah Allah benar-benar tidak pernah menetapkan suatu hal, dan selalu "membiarkan sesuai" keinginan manusia ?
Ataukah Allah selalu menetapkan segala hal sampai detail sehingga tidak ada kemungkinan freewill manusia untuk berperan ?
Ataukah kedua hal tersebut, penetapan Ilahi dan kebebasan manusia dimungkinkan berjalan secara sinergi ? (Ini yang menurut saya paling tepat, walau sulit . Tetapi saya terus terang belum mampu merangkum semuanya itu menjadi satu pemahaman yang komprehensif.)

Setelah membaca lebih banyak bahan dari wikipedia, mungkin pemikiran saya lebih condong kepada Armenian, tapi saya masih sangat terbuka untuk mengkaji pandangan-pandangan lain ;)


Salam Damai
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   2nd January 2012, 13:35

Damai bagimu Sam.

samiaji wrote:

Dari berbagai posting sebelumnya di topik ini juga, saya lebih melihat bahwa penetapan Allah dibaca sebagai pengetahuan Allah akan akhir segala sesuatu. Kalau dikatakan "Allah menetapkan sebagian orang untuk binasa", Saya lebih senang membacanya sebagai "Allah mengetahui bahwa sebagian orang akan mendapatkan upah kebinasaan". Pemahaman saya masih mentok segitu.
Saya kira di dalam Alkitab, selain unsur freewill, unsur penetapan oleh Allah juga sama dominannya [nubuatan tentang mesias menurut saya adalah contoh ketetapan Allah]
Puji Tuhan.

Saya juga mengartikan seperti itu, bahwa freewill dan predestinasi sama-sama berperan dalam pejiarahan manusia. Saya sepakat dengan Mas Sam tentang kedatangan Mesias yang telah dinubuatkan, dan tidak seorang pun yang mampu menghambat atau membatalkannya, merupakan predestinasi.

Pada post sebelum ini, yaitu tentang penyediaan neraka, menurut
pemahaman saya, penyediaan neraka itu sendiri yang telah dipredestinasi,
bukan orang atau manusia yang akan menjadi pengisi neraka itu. Namun,
andaikan kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan seperti komunikasi
diantara manusia, dan kepada Tuhan kita tanyakan siapa saja yang menjadi
pengisi neraka itu, berdasarkan kemahatahuan Tuhan, menurut pemahaman
saya, Tuhan dapat mejawab.

Saya tidak tahu harus mengelompokkan pemahaman saya, apakah termasuk pada Arianisme, Lutheranisme, atau Calvinisme. Yang pasti, sampai sejauh ini, pemahaman saya masih sebatas pemahaman saya sendiri. Meski saya menganut suatu denominasi, ternyata saya tidak tahu apakah pemahaman saya itu sesuai dengan ajaran-ajaran denominasi saya itu atau tidak. Sebab, sampai sekarang saya belum memiliki kepustakaan yang berisikan ajaran denominasi yang saya ikuti. Hanya saja, sampai sejauh ini, belum ada suatu ajaran denominasi saya yang saya ketahui bertentangan dengan pemahaman saya.

Tentang freewill dan predestinasi, salah satu contoh dalam pemahaman saya adalah seperti pada kisah mengenai talenta di Injil Matius. Kepada tiga orang diberikan talenta sebagai modal usaha.

Seorang mendapat 5 talenta, seorang mendapat 2 talenta, seorang mendapat 1 talenta. Nah, menurut saya, predestinasi bagi ketiga orang itu ialah jumlah talenta yang mereka dapat atau terima, karena yang mendapat 5 tidak berhak meminta agar kepadanya diberikan 4 saja. Demikian juga, bagi yang mendapat 1 tidak berhal meminta agar kepadanya diberikan 2 atau 3, atau 4.

Ketiga orang itu, dengan freewill-nya mengusahakan talenta tersebut sebaik-baiknya, agar bermanfaat, berdayaguna, dan berhasilguna. Terlepas dari berbagai alasan masing-masing orang, ternyata perumpamaan itu dikisahkan Yesus untuk menggabarkan watak, atau karakter manusia.

Dalam kisah itu, tidak dikisahkan bahwa ternyata ada juga orang yang memperoleh talenta banyak, tetapi tidak mendayagunakan talentanya. Juga tidak dikisahkan bahwa ada juga yang mendapat 1 talenta, tetapi talenta yang 1 itu digunakan sebaik mungkin dan berhasil menjadi 2 ketika tuannya datang.

Selain itu, tentang predestinasi dan freewill, sering juga saya tangkap seperti kandungan kisah lima gadis bijaksana dan gadis bodoh. Di kisah itu, saya artikan predestinasi ialah kedatangan mempelai pria. Tak seorang pun dapat menundanya, atau mempercepatnya. Tapi dipastikan bahwa mempelai pria pasti datang. Freewill] bagi kesepuluh gadis itu adalah kesiapannya menyediakan minyak persediaan.

Andaikan gadis itu adalah A, B, C, D, E, F, G, H, I, dan J, tidak dikisahkan bahwa A, B, C, D, dan E dipredestinasi menyediakan minyak persediaan, dan lainnya dipredestinasi tidak menyediakan minyak persediaan. Disitu digambarkan, lima gadis bijaksana menggunakan [ifreewill
-nya untuk menyediakan minyak persediaan. Sedangkan lima lainnya, apatis saja, tidak menggunakan freewill-nya untuk menyediakan minyak persediaan. Apapun latar pemikiran kelima gadis apatis itu, yang dapat saya tangkap adalah bahwa mereka yakin akan diajak ke pesta penyambutan mempelai itu, karena mereka memegang "Undangan". Nyatanya, audzubuneeeng, sudah begadang hampir semalaman, tetapi tetap aja tidak diikutsertakan dalam pesta karena pelitanya kehabisan minyak saat mempelainya datang.

Begitu pemahaman saya Mas Sam.

Damai bagi pengikut Kristus.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
samiaji
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 392
Join date : 26.02.11
Age : 38

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   4th January 2012, 23:38

@bro Husada

Dari kedua contoh di atas, tentang talenta dan gadis bijaksana, saya membaca bro Husada dapat memilah yang mana peranan predestiny dan yang mana peranan freewill dengan begitu mudahnya (terlihat sangat jelas pembagiannya).
Namun bagi saya pembagian seperti itu malah sepertinya membuat kesan bahwa predestiny dan freewill berperan bukan secara bersinergi, melainkan bergantian dan tidak saling berkaitan antar unsur tersebut.

Mungkin contoh yang menurut saya lebih cocok untuk kasus ber-sinergi-nya antara predestiny dan freewill, saya mengambil contoh kehidupan Yakub / Israel.
Kita mengetahui watak Yakub sebagai anak kedua dulunya adalah seorang penipu, tetapi entah karena usahanya sendiri atau memang sudah ketetapan dari Allah, ia mendapatkan berkat kesulungan... Berbagai kesulitan hidup menempanya sehingga akhirnya dia menjadi seseorang yang kita pandang layak menerima janji berkat tersebut dan mengganti nama menjadi Israel. Dan memang ia menerima realisasi janji Allah (untuk diberkati).
Predestiny - ketetapan Allah - bahwa Yakub akan menjadi bapak bangsa yang besar, adalah hal yang telah diketahui oleh Allah. Bahwa Yakub akan ditempa dan berusaha sedemikian hingga, bukan hanya karena Allah telah berjanji - melainkan karena usaha Yakub juga - akhirnya nubuatan Allah terhadap Yakub / Israel terwujud juga.

Maaf kalau penjelasan saya agak kurang jelas atau malah memusingkan, saya berusaha se-simple mungkin menerangkan pemahaman saya, tetapi saya masih merasa kesulitan baik dalam memahami apalagi dalam menerangkan predestiny-freewill ini.


Salam Damai
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   5th January 2012, 09:48

Damai bagimu Sam.

Baiklah, saya kira Mas Sam tidak harus minta maaf atas penjelasan yang telah Mas Sam sampaikan. Penjelasan yang sangat bagus saya kira. Tidak sampai memusingkan, kok. Saya berupaya 'mencerna' penjelasan Mas Sam.

Menurut pemahaman saya, walau contoh yang Mas Sam ajukan, yaitu sosok Yakub dalam kehidupannya, tetap juga belum saya tangkap kesinerjian antara freewill dan predestinasinya. Karena, sinerji yang saya pahami adalah adanya kolaborasi, atau kerjasama, atau saling isi dari dua atau lebih faktor untuk menghasilkan suatu hasil tertentu. Jadi, dalam sosok Yakub, saya belum melihat kerjasama antara freewill dan predestinasi.

Satu yang membuat saya bersukacita dari diskusi kita, kita sama-sama mengimani bahwa dalam kehidupan manusia, bukan hanya freewill saja, dan bukan hanya predestinasi saja yang berperan. Kedua hal itu, yaitu freewill dan predestinasi, masing-masing terdapat dalam kehidupan manusia. Terlepas dari segi bagaimana kita memahami kedua hal tersebut, yang pasti, dari diskusi kita, saya simpulkan bahwa kita memahami bahwa kedua hal tersebut berperan dalam hidup manusia.

Begitu Mas Sam. Karena saya ada tugas kecil, saya permisi dahulu, ya? Nanti kita lanjut. Kalau Mas Sam masih mempunyai sesuatu yang ingin Mas Sam sampaikan pada saya terkait diskusi ini, ya monggo.

Damai bagi LTBers.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   5th January 2012, 11:03

Kalau dari kisah di Alkitab, saya justru melihat contoh Freewill yang sangat nyata adalah pada peletakan pohon Pengetahuan di taman Eden.

Tuhan meletakan pohon itu, tanpa dijaga kerub, tetapi Tuhan memberi larangan untuk memetik buah dan memakannya.

Tuhan memberi kebebasan kepada Adam, apakah patuh atau tidak kepada laranganNya, tentu beserta resiko yang telah disampaikanNya.

Jika Tuhan berkehendak agar Adam tidak makan buah itu, tentu tidak sukar bagi Tuhan untuk menempatkan kerub yang menjaga, atau bahkan membentak Adam saat akan menggigit buah itu. Tetapi Tuhan membiarkan pelanggaran terjadi sesuai freewill Adam.

Syalom

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   6th January 2012, 11:18

bruce wrote:
Kalau dari kisah di Alkitab, saya justru melihat contoh Freewill yang sangat nyata adalah pada peletakan pohon Pengetahuan di taman Eden.

Tuhan meletakan pohon itu, tanpa dijaga kerub, tetapi Tuhan memberi larangan untuk memetik buah dan memakannya.

Tuhan memberi kebebasan kepada Adam, apakah patuh atau tidak kepada laranganNya, tentu beserta resiko yang telah disampaikanNya.

Jika Tuhan berkehendak agar Adam tidak makan buah itu, tentu tidak sukar bagi Tuhan untuk menempatkan kerub yang menjaga, atau bahkan membentak Adam saat akan menggigit buah itu. Tetapi Tuhan membiarkan pelanggaran terjadi sesuai freewill Adam.

Syalom
Ya, bisa juga. Contoh itu pernah saya angkat ketika acara Pendalaman Kitab Suci bersama teman-teman sekomunitas kecil pada Bulan Kitab Suci. Pertanyaan yang saya lontarkan ke tengah komunitas kecil itu ialah Apakah Tuhan tidak mampu meniadakan pohon pengetahuan itu sehingga pohon itu tidak menjadi sandungan bagi Adam dan Hawa (manusia)? Untuk menjawab pertanyaan itu, semua peserta PA sepakat bahwa Tuhan sebenarnya mampu meniadakan pohon pengetahuan itu dari taman Eden.

Lalu, pertanyaan berkembang mencari jawaban pertanyaan MENGAPA TUHAN TIDAK MENIADAKANNYA? Meski tidak tersimpulkan secara tegas dalam Pendalaman Alkitab itu, namun intisari pendalaman ialah, bahwa TUHAN MAU, AGAR CIPTAANNYA DENGAN MERDEKA, BEBAS, SADAR SEPENUHNYA MEMATUHI TUHAN. Ciptaan (manusia) yang mempunyai keinginan untuk tidak patuh, tidak akan dihalangi pada saat itu dan nanti, tetapi konsekuensi pilihannya sudah diinformasikan. Jadi, kalau seorang manusia memilih suatu sikap secara bebas merdeka, maka dia seharusnya siap menerima konsekuensi pilihannya. Mungkin latar pikir seperti itu yang disadari oleh leluhur orang Indonesia sehingga diciptakan pepatah, Tangan mencencang, bahu memikul. Hihhihhiii bergaya seperti peramal saya yah?

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Doktrin Calvinist   Today at 17:32

Kembali Ke Atas Go down
 
Doktrin Calvinist
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 3 dari 6Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Ruang Antar Kristen (Khusus Penganut Kristen Trinitarian) :: Ajaran Kristen-
Navigasi: