Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   20th October 2011, 20:28

BEIJING, KOMPAS.com - Gambar video tentang seorang bocah China yang ditabrak lari dan dibiarkan sekarat oleh 18 pelintas di pasar yang sibuk di kota Foshan, Provinsi Guandong, Kamis (13/10/2011), memunculkan pertanyaan. Ada apa dengan masyarakat negara itu. Benarkah mereka telah jadi apatis, tak peduli dengan sesamanya yang sedang celaka. Kalau benar, mengapa?

Video yang diambil dari rekaman kamera pemantau dan diposting di YouTube serta situs sejenis di China, Youku, memperlihatkan, seorang pengemudi van menabrak bocah dua tahun itu, yang bernama Yue Yue. Van itu hanya berhenti sejenak tetapi kemudian melaju lagi. Adegan selanjutnya sulit dipercaya! Selama tujuh menit tercatat 18 orang melintas dan melihat bocah itu terkapar-sekarat dalam kubangan darah tetapi tak seorang pun yang berhenti untuk menolongnya. Dalam selang waktu itu, Yue Yue justru dilindas lagi oleh sebuah truk. Seorang perempuan pemulung, Chen Xianmei (58 tahun), orang ke 19 yang melintas. Baru dia yang tergerak hatinya. Chen memindahkan bocah itu sebelum ibunya sendiri datang dan menggendongnya.

Sikap apatis para pelintas itu memicu kecaman dan debat emosional tentang kondisi moralitas masyarakat China yang tengah berkembang pesat secara ekonomi. Sejumlah pengguna media sosial di China telah menyuarakan bahwa ketidakpedulian warga atas gadis cilik itu sebagai tanda sebuah masyarakat yang moralnya memburuk.

Di Sina Weibo, situs microblogging China yang mirip Twitter, kisah itu terus menjadi topik utama. Pada saat bersamaan di situs itu muncul kampanye online bertopik "stop apatisme". Seorang pengguna Sina Weibo menyebut kejadian itu "memalukan orang-orang China". Pengguna lain, Xiaozhong001 menulis, "Sesungguhnya, ada apa dengan masyarakat kita? Saya melihat kejadian ini dan hati saya jadi beku." Microblogger lain yang menyebut dirinya Patton Yu menulis, "Bangsa macam apa ini?" "Masyarakat ini sakit parah," komentar microblogger lain. "Bahkan kucing dan anjing pun tidak seharusnya diperlakukan tanpa perasaan seperti itu."

Insiden itu pun menjadi berita media-media arus utama dunia, dengan pertanyaan mendasar, apakah apatisme jadi trend umum di China. Jika ya, mengapa? New York Times dalam sebuah artikel di situsnya yang terbit Rabu yang mengulas peristiwa itu, memuat prolog tentang sebuah peristiwa lain yang terjadi Jumat, sehari setelah drama tagis di pasar Fosham itu.

Pada peristiwa Jumat itu, seorang perempuan yang tampaknya ingin bunuh diri melompat ke danau di Hangzhou, sebuah kota di barat daya Shanghai. Ketika perempuan itu tampaknya mulai tenggelam, seorang perempuan, yang secara luas dilaporkan sebagai turis Amerika, langsung menanggalkan mantelnya. Perempuan itu terjun juga ke air, lalu berenang ke arah orang yang mau bunuh diri. Secara tangkas si penolong menarik perempuan itu ke tepi danau. Kemudian, ketika melihat perempuan itu selamat, si penolong pergi tanpa memberitahukan namanya.

Dua kejadian itu tentu tak dapat dikatakan mewakili moralitas dari dua bangsa itu. Namun ribuan microblogger di China telah menggunakan dua kejadian itu, yang satu memperlihatkan sifat tak berperasaan dan yang lain menunjukkan heroisme, sebagai bahan bakar dalam perdebatan memilukan atas apakah masyarakat China tidak berbelas kasih dan, jika benar demikian, mengapa. Topik itu jadi perbincangan nasional dan semakin umum. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya di negara yang media cetak dan media penyiarannya sebagian besar tetap dikendalikan Partai Komunis yang lebih tertarik dalam mengarahkan opini publik daripada merefleksikan suasana bangsa.

Seorang microblogger berkata tentang penyelamatan di Hangzhou. "Kemarin Obama minum bir dengan pekerja konstruksi yang kehilangan pekerjaan. Hari ini, saya membaca sebuah cerita tentang seorang turis Amerika yang melompat ke dalam air untuk menyelamatkan seseorang. Saya akhirnya menyadari mengapa Amerika menjadi negara yang kuat dan akan terus menjadi yang terkuat."

Booming ekonomi China dan kesenjangan yang menganga antara yang kaya dan miskin telah membuat perubahan nilai-nilai sosial menjadi topik perdebatan. Sejumlah orang meratapi bahwa materialisme telah menggantikan moral. Materialisme dinilai telah menjadikan orang-orang China bak mayat berjalan, tak punya spirit untuk berbelas kasih. Konsep ying yang, yang mengutamakan kesimbangan, dalam konteksnya ini berarti antara yang material dan yang spiritual, yang menjadi prinsip dasar filsafat China seakan hilang tak berbekas.

Namun sejumlah orang menduga, sistem hukum negara itu mungkin telah menghalangi munculnya orang Samaria yang murah hati, yang mau membantu mereka yang mengalami kecelakaan. Media Kanada, Toronto Star, dalam situsnya, Rabu, menulis bahwa di Ontario, dan sejumlah tempat lain di dunia, ada undang-undang tentang orang Samaria yang murah hati yang melindungi orang yang tidak profesional secara medis yang melakukan pertolongan pertama pada korban kecelakaan di tempat kejadian. Di banyak negara Eropa, seperti Perancis dan Jerman, UU tentang Orang Samaria yang Murah Hati malah mengharuskan warga yang ada di lokasi untuk melakukan tindakan penyelamatan.

Nah di China, tidak ada UU semacam itu, kata Pitman Potter, seorang profesor hukum di University of British Columbia. Ketiadaan UU semacam itu, kata Potter menghalangi orang untuk membantu.

Cerita tentang orang Samaria yang murah hati berasal dari Kitab Suci Kristen. Nabi Isa mengisahkan, ada seorang yang tengah bepergian, yang mungkin orang Yahudi tapi mungkin juga bukan. Orang itu dipukuli, dirampok dan dibiarkan sekarat di tengah jalan. Dua orang Yahudi, termasuk seorang imam, melintas tetapi mereka mengabaikan orang yang sekarat itu. Lalu orang Samaria lewat. Orang Samaria dan Yahudi sering berselisih. Namun orang Samaria itulah yang justru menolang si korban, yang mungkin saja seorang Yahudi.

Di China, kata Potter, yang terjadi sebaliknya. "Orang telah digugat oleh keluarga orang yang terluka atau diminta bertanggung jawab oleh pihak berwenang. Maka, terlibat dalam hal seperti itu (menjadi orang Samaria yang murah hati) merupakan sesuatu yang orang hindari."

Tahun 2006, seorang pria Nanjing yang mendampingi seorang perempuan tua ke rumah sakit setelah perempuan itu mengalami patah kaki justru diperintahkan untuk membayar 40 persen tagihan rumah sakit perempuan itu. Alasannya? Tidak bisa dipercaya bahwa pria itu rela pergi sejauh itu demi membantu perempuan tersebut jika ia sama sekali tidak bertanggung jawab atas kecelakaan dan cedera yang dialami perempuan itu.

"Alasan pengadilan adalah, jika Anda tidak melakukannya, mengapa Anda harus membawa mereka ke rumah sakit? Tidak ada orang waras yang akan membawa mereka (ke rumah sakit)," kata Donald Clarke, seorang profesor hukum di George Washington University yang punya sebuah blog tentang hukum di China seperti dikutip Toronto Star.

Sejumlah sumber China juga menduga, sopir van itu membiarkan bocah itu tewas karena kompensasi untuk kematian seringkali lebih ringan daripada untuk sebuah cedera jangka panjang. Untuk yang terakhir itu, kompensasinya mungkin termasuk biaya medis dan kompensasi pendapatan atas hilangnya kesempatan kerja selama bertahun-tahun.

"Jika dia (gadis itu) tewas, saya mungkin hanya membayar sekitar 20.000 yuan (3.180 dollar AS)," kata sopir van yang menabrak Yue Yue kepada China Daily sebelum dia menyerahkan diri kepada polisi. "Tapi jika dia cedera, itu mungkin membebani saya hingga ratusan ribu yuan."

China memperkenalkan asuransi wajib untuk mobil lima tahun lalu. Namun sebuah artikel di Hong Kong South China Morning Post pada awal tahun ini mengatakan, banyak pengemudi yang mengabaikan ketentuan itu.

Menurut Potter, pertangungan asuransi pribadi juga jarang. Itu berarti akan bijaksana secara finansial bagi pengemudi untuk melarikan diri dari kecelakaan.
.....

kalau yang mau menonton peristiwa yang sangat memilukan ini bisa diliat di sini link

Sungguh Tragedi kemanusiaan...semoga Tuhan melindungi dan menyembuhkan anak tersebut.

Kyrie Eleison.
Christe Eleison.


Dan menjadi hikmah tersendiri bagi kita yang mengaku Kristen.


Ada tertulis demikian
1 Kor 13:2
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

salam damai :)
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   21st October 2011, 01:04

Betul bro, saya menyaksikan bocah ditabrak itu di berita TV. Saya sangat-sangat terkejut menyaksikan si penabrak dan orang orang setelahnya, cuma cuek dan seolah yang ditabrak adalah tikus atau anjing, dan masih ditabrak sekali lagi. Gila !

Dan, ketika melihat pada akhirnya ada seorang wanita yang meraih si anak, menggendongnya, tak urung hati saya tergetar. Itulah kisah orang samaria yang pernah dikisahkan oleh Jesus 2000 tahun lalu. Dan terulang lagi sekarang ini.

Mengapa manusia bisa cuek seperti itu melihat sesamanya?

Kesibukan duniawi? Atau masalah kultur bangsa?

Mengapa saya bawa bangsa? Saya puya kisah menarik.

Kakak ipar saya, sekarang sudah meninggal karena stroke. Sekali waktu pernah bepergian dengan temannya dari suatu daerah di jawabarat ke daerah Tasikmalaya. Mereka berboncengan. Malangnya, kakak ipar saya terjatuh dari motor, luka cukup parah.

Penduduk sekitar mengiranya sudah meninggal, dan ditutupi koran. Untunglah ada seorang penduduk yang melihatnya masih bernafas. Maka si penduduk itu memanggil mobil pickup dan membawanya ke rumah sakit. Karena kakak saya tidak membawa uang, maka si penduduk desa itu membayar biaya rumah sakitnya. Setelah dirawat sekitar seminggu, kakak ipar saya pulih, hubungan mereka tetap baik hingga meninggalnya kakak ipar saya sekitar 8 tahun lalu.

Mungkin, jika kejadian si anak ditabrak itu terjadi di Indonesia, kejadiannya akan berbeda, si anak akan segera ke rumah sakit, berbarengan dengan sipengemudi truck yang dihakimi masa.

Very Happy

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   21st October 2011, 07:09

Nice sharing bro dan semoga Bapa di Sorga menerima jiwa kakak ipar bro bruce dengan belas kasih-Nya. amin.

Iya bro...saya sampai menitikkan airmata saya teringat putri saya yang baru berumur 1 tahun 4 bulan ...sudah bisa jalan dan berlari2 kecil...kesana kemari.


Bagaimana mungkin ada orang waras yang tega membiarkan peristiwa ini dan mereka yang lalu lalang seperti tidak melihat apa2.

Ini seperti menggemakan peristiwa alkitab tentang Samaria dan juga nas2 Yakobus yang mengatakan iman tanpa perbuatan adalah mati.

Iya kalau di negara kita masih banyak yang langsung menolong dan mereka yang melakukan tabrak lari bukan karena tega tetapi karena takut dihakimi masa Very Happy

btw...si penabrak akhirnya menyerahkan diri kepolisi saya kira hukuman dari hati nuraninya lebih berat dari hukuman dari pengadilan nanti.

salam damai :)

Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   21st October 2011, 10:44

Damai bagi LTBers.

Tragis memang. Bikin hati orang normal menjadi trenyuh. Semoga segala sesuatunya menjadi lebih baik. Banyak sumbang pikir yang dapat kita suguhkan disini mengenai hal tersebut. Sedikit berbeda, dari quoting posting-an itu memuat banyak hal, satu yang menarik hati saya, berikut ini:
Quote :
Topik itu jadi perbincangan nasional dan semakin umum. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya di negara yang media cetak dan media penyiarannya sebagian besar tetap dikendalikan Partai Komunis yang lebih tertarik dalam mengarahkan opini publik daripada merefleksikan suasana bangsa.
Poin yang menarik perhatian saya ialah dikatakannya:
1) Media penyiaran dikendalikan;
2) Media penyiaran lebih tertarik mengarahkan opini publik; dan
3) Media penyiaran tidak tertarik merefleksikan suasana bangsa.

Menurut hemat saya, justru ketiga poin itu mereduksi fungsi media penyiaran. Media penyiaran punya andil besar dalam membangun bangsa, tetapi fungsi membangun bangsa itu akan mandul apabila media penyiaran terbelenggu oleh ketiga poin itu.

Pada saat media penyiaran 'dikendalikan' oleh pihak tertentu, maka hilang kemerdekaan yang menjadi penggerak denyut hidup media tersebut. Pada saat media penyiaran hanya tertarik pada opini publik, sementara opini tinggal jadi opini yang tidak dapat merubah apa-apa bila tanpa eksekusi, maka sama saja media penyiartan tersebut menjadi ajang perdebatan para pokrol. Pada saat media penyiaran tidak tertarik merefleksikan suasana bangsa, maka masalah-masalah yang timbul di tengah masyarakat bangsa tidak mendapat porsi yang pas, akibatnya, masalah tidak akan tertangani dengan pas.

Beruntung, bangsa Indonesia bukan bangsa komunis, melainkan bangsa yang Pancasilais. Pancasila, bila dihayati dengan benar, mampu menumbuhkan rasa belas kasihan atas kemanusiaan mengingat sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Masalahnya pada kehidupan bernegara dan berbangsa di Indonesia, Pancasila tidak dihayati dan tidak diamalkan sebagaimana mestinya. Maka, implementasi hidup berbangsa dan bernegara tanpa greget, sehingga ternyata kondisi perilaku di Cina itu tidak begitu jauh dengan perilaku bangsa Indonesia. Bahkan, sering terjadi di Indonesia, bukan membiarkan orang yang tertimpa kemalangan saja, malah merekayasa kejadian yang menyebabkan orang lain ditimpa kemalangan.

Semoga penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila semakin menggelora di sanubari anak negeri Pancasila ini. Idealnya, jajaran pemerintah memberi contoh. Namun, tidak salah kalau LTBers mendahului memberi contoh. Hehhehheee...

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   21st October 2011, 14:32

Damai bagi LTBers.

Kalau posting dari saya sebelum ini mengenai hal lain yang terkandung dalam pemberitaan acuan trit ini, posting ini ingin memberi clue jawaban pertanyaan trit.

Menurut hemat saya, karena Cina adalah komunis, maka sejak jaman dahulu kala Cina itu sudah materialis, dalam arti, sering menilai segala aspek kehidupan dari segi materi. Jadi, watak seperti itu tertanam pada kebanyakan insan Cina. Ketika komunisme belum terlalu banyak disusupi oleh kapitalis, maka sesuatu yang diperlukan tiap orang masih diatur oleh partai melalui negara.

Setelah Cina dewasa ini mengenal kapitalisme, bahwa pemilik modal dapat berbuat semaunya, dengan sendirinya merubah kejiwaan warga Cina. Kalau tadinya menyerahkan segala sesuatu urusan kepada partai melalui negara, maka sekarang, masing-masing individu mementingkan kepentingan sendiri, bagaimana cara agar dapat mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya.

Pada saat terjadi peristiwa acuan trit, dimana terjadi penabrakan orang oleh kendaraan, kebanyakan warga Cina tidak perduli. Menurut kisah acuan, sudah 18 orang yang berlalu saja dari raga yang tergeletak habis tertabrak itu. Hingga orang ke-19, dari kalangan orang terpinggirkan, masih mempunyai sisa-sisa belas kasihan.

Mengerikan, kejiwaan dari komunis berubah menjadi kapitalis. Hilang nilai-nilai komunal (kebersamaan) dari sanubari kebanyakan warga Cina.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   21st October 2011, 17:03

Berita terbaru dari Beijing.

Bocah korban tabrak lari akhirnya tewas, Sungguh menyedihkan, tatapi mungkin lebih baik begitu, dia tidak pantas tinggal di lingkungan yang tidak peduli dengan nyawa manusia.

Sad

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   22nd October 2011, 17:22

Kelihatannya Bruce berpendapat bahwa masyarakat di China sebagian besar sudah apatis terhadap sesamanya?

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   22nd October 2011, 17:36

bruce wrote:
Berita terbaru dari Beijing.

Bocah korban tabrak lari akhirnya tewas, Sungguh menyedihkan, tatapi mungkin lebih baik begitu, dia tidak pantas tinggal di lingkungan yang tidak peduli dengan nyawa manusia.

Sad
Turut berduka cita. Sad

Semoga Bapa di Sorga menerima adik kecil kita ini dalam limpahan kasih-Nya yang tidak ia temui di dunia sekitarnya yang apatis.

Amin.
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   22nd October 2011, 17:49

Husada wrote:
Kelihatannya Bruce berpendapat bahwa masyarakat di China sebagian besar sudah apatis terhadap sesamanya?

Mudah2an menjadi pelajaran bagi masyarakat di sana.

Kalau dari pengalaman pribadi sih saya memiliki teman2 keturunan yang sangat baik jauh sekali dari sikap ketidakpedulian atau apatisme yang ditunjukkan dari peristiwa tragis di atas.

Dan pernah juga saya menyaksikan orang barat yang langsung menolong seorang nenek yang hampir jatuh pingsan dan menuntunnya di tempat yang nyaman dan menanyakan keadaannya apakah butuh bantuan medis atau bagaimana.

Begitu juga pengalaman di kantor saya punya rekan orang barat yang malah lebih ramah dan mau sharing pengetahuan dan pengalamannya. Malah teman orang indonesia sendiri malah pelit berbagi ilmu hehe...

Jadi bingung juga darimana muncul rasa apatis ini.

salam damai :)
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   22nd October 2011, 18:02

Dan hikmah tersendiri saya jadi semakin yakin dalam iman ke katolikkan saya...

Apalah gunanya iman yang sempurna atau pengetahuan setinggi langit jika tanpa kasih dan kepedulian pada sesama.

Di forum tetangga yang antar denom yang mengaku Kristen...malah lebih senang memojokkan, menjelekkan, memfitnah saudara-saudari seiman yang juga percaya dalam Kristus.

Ini bukan apatis lagi tetapi malah melukai hati saudara-saudarinya sendiri...
Tetapi yang begini ini malah masih bisa berkelit untuk menyatakan kebenaran dalam Kristus dan alkitab.

bagaimana mungkin membawa2 nama Tuhan dan alkitab untuk melukai hati saudara-saudarinya sendiri.

Satu yang saya senang disini , di forum ini modienya tegas dalam hal2 yang merusak kebersamaan kita.


Salam damai :)


Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   22nd October 2011, 18:37

Damai bagimu Leo.
Quote :
Kalau dari pengalaman pribadi sih saya memiliki teman2 keturunan yang sangat baik jauh sekali dari sikap ketidakpedulian atau apatisme yang ditunjukkan dari peristiwa tragis di atas.
Begitu Leo bilang "keturunan", berarti orang itu sudah bukan China, tapi sudah Indonesia, suku Tiong Hwa. Itu salah satu hebatnya Pancasila, mampu mengakomodir berbagai suku, agama, dan golongan. Nah, yang di kisah acuan trit, murni terjadi di China yang secara umum diketahui berhaluan komunis. Komunis yang materialis.

Jadi, meski saudara-saudara sebangsa di NKRI ada yang bersuku Tiong Hwa, agak bisa dipastikan bahwa dia sudah mendapat ajaran Pancasila. Sebagai seorang pendatang, dia akan mencoba menaturalisasi Pancasila itu dalam dirinya, dan dicoba dihayati dan diamalkan. Memang sih, ada saja yang begitu sulitnya menerima Pancasila itu, terutama mereka yang sudah dewasa keluar dari negeri asalnya. Tetapi sebagai seorang pendatang di negeri Pancasila ini, dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mengungkapkan ketidakbisaannya menerima Pancasila.

Yang mengherankan ialah, seorang pribumi, yang leluhurnya sudah mengamalkan Pancasila dalam bermasyarakat, namun karena mendapat ajaran dari bangsa asing, malah 'mencampakkan' Pancasila dan ingin menggantinya kepada sesuatu yang lain. Maka, kadang kita melihat kejadian yang lebih parah dari kisah acuan trit. Kisah acuan trit masih mengisahkan ketidakperdulian orang kepada sesamanya, sementara di negeri Pancasila ini sering kita dengar, dan kita lihat di TV, telah terjadi rekayasa untuk membumihanguskan sesamanya. Dapat kita lihat contoh penghancuran terhadap Ahmadiyah, pemboman gereja, dll, dll.

Nah, menurut saya, wajar saja kalau di China banyak orang yang sudah apatis terhadap sesamanya. Yang tidak wajar ialah, di negeri Pancasila ini, terjadi sesuatu yang lebih parah daripada sekedar apatis.

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   23rd October 2011, 12:02

Quote :
Yang mengherankan ialah, seorang pribumi, yang leluhurnya sudah mengamalkan Pancasila dalam bermasyarakat, namun karena mendapat ajaran dari bangsa asing, malah 'mencampakkan' Pancasila dan ingin menggantinya kepada sesuatu yang lain.
Damai bagi LTBers.

Bila direnungkan dengan tenang, Pancasila dapat mengakomodir berbagai kultur yang dinamis di negeri ini. Bahkan, mampu mengakomodir segala sesuatu yang dinilai baik dan sesuai dengan kultur keindonesiaan. Hal itu dikukuhkan dalam semboyan "BHINNEKA TUNGGAL IKA". Dan kalau dicermati lagi bahwa NKRI itu terdiri dari berbagai pulau, yang mau tidak mau, suka tidak suka, pasti ada perbedaan kultur di suatu daerah dengan daerah lain. Seluruh kultur yang baik itu diikat oleh Pancasila dalam wadah NKRI.

Sangat mengherankan bila ada pikiran-pikiran yang ingin menjadikan Indonesia ini monokultur. Lebih mengherankan lagi, kalau kultur yang ditawarkan adalah kultur yang tidak berasal dari daerah Indonesia. Padahal, seperti telah diungkapkan diatas, Pancasila mampu mengakomodir kultur-kultur baik dari mancanegara, tetapi akan memungkiri keindonesiaan apabila menjadikan kultur mancanegara itu menjadi kultur Indonesia. Warga Indonesia boleh-boleh saja menaturalisasi kultur mancanegara yang sungguh-sungguh baik dan sesuai dengan kultur Indonesia. Tidak salah warga Indonesia belajar dari Asia Tenggara, Asia, Eropa, Amerika, Afrika, bahkan kalau mungkin dari angkasa luar. Namun, Pancasila sudah mematerai kebhinnekaan menjadi bagian dari Indonesia.

Keperdulian kepada sesama, mendapat tempat pada nilai-nilai Pancasila. Maka menurut hemat saya, keapatisan bangsa China, tidak akan terjadi di Indonesia, karena diamalkannya Pancasila. Namun, adalah fakta, bahwa seperti telah saya katakan di posting sebelum ini, bahwa ada perekayasaan dari bangsa sendiri yang ingin membumihanguskan sesama sebangsanya. Naudzubillah mi zalik (maaf kalo salah eja).

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?   Today at 06:55

Kembali Ke Atas Go down
 
Benarkah Masyarakat China Jadi Apatis?
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» MITOS DI MASYARAKAT
» [WTA] Start Waktu Service pertama kok tidak dihitun disaat STNK jadi?
» BERITA HOT...NINJA 250R MADE IN CHINA BEREDAR...
» Ganti jadi pake setang model fat bar?
» Air Radiator berubah jadi coklat pekat

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Diskusi Umum :: Berita dan Diskusi Serius Tapi Santai-
Navigasi: