Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   15th February 2011, 12:07

Mirza Ghulam Ahmad "Sang Mesias"
Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono
Minggu, 13 Februari 2011 | 22:06 WIB

Hari ini, 13 Februari, adalah hari kelahiran pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Macam apa kiranya sosok yang memiliki pengikut di banyak negara, termasuk Indonesia, dan telah memicu kontroversi sebagian umat Islam di negeri kita itu?

Menurut intelektual muda Nahdatul Ulama (NU), Zuhaeri Misrawi, perkembangan Islam di India yang dimotori oleh Gulam Ahmad, adalah sebuah konsekuensi dari agama Islam yang bersifat universal, sehingga dapat diterima di belahan bumi manapun dan dengan interpretasi yang khas sesuai dengan masyarakatnya.

Apabila di India muncul Ahmadiyah, maka di Iran muncul golongan Syiah, dan di Irak ada golongan Suni.

Kelahiran Ahmadiyah sendiri di India dipicu oleh tekanan imperialisme dan krisis sosial umat Islam setempat. Melalui pencarian yang panjang, akhirnya Gulam Ahmad mendapat serupa ilham atau risalah yang kemudian dibukukan, dan kemudian menjadi "kitab" bagi umat Ahmadiyah hingga kini.

Zuhaeri menambahkan, Mirza Gulam Ahmad mengaku sebagai nabi umati, yakni setara dengan ulama yang mendapatkan risalah, dan segala tindak tanduknya mencontoh perbuatan Nabi Muhammad. Perbedaan istilah inilah yang kemudian memicu ketegangan antara kalangan Ahmadiyah dan pemeluk Islam mainstream dari dulu hingga kini.

Nama asli tokoh ini adalah Ghulam Ahmad. Mirza sendiri melambangkan keturunan Moghul. Namun Gulam lebih menyukai menggunakan nama Ahmad karena dipandang ringkas. Maka, waktu menerima baiat dari orang-orang, Gulam hanya memakai nama Ahmad.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad lahir pada tanggal 13 Februari 1835 M, atau 14 Syawal 1250 H, bertepatan pada hari Jumat subuh, di rumah keluarga Mirza Ghulam Murtaza di Desa Qadian. Gulam lahir kembar. Namun saudara kembarnya, perempuan, tidak berapa lama kemudian meninggal dunia. Konon, kelahiran kembar Gulam sesuai dengan nubuat yang tertera di dalam "kitab-kitab" bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar. Nah, setelah dewasa, Gulam mengaku mendapat risalah dari "langit" yang memberitakan dirinya adalah sang mesias atau juru selamat, atau Imam Mahdi.

Qadian terletak 57 km sebelah Timur kota Lahore, dan 24 km dari kota Amritsar di provinsi Punjab, India.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh, yang merupakan paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khorasan dan Samarkand, dan mulai menetap di sana. Tetapi pada abad kesepuluh Hijriah atau abad keenambelas Masehi, seorang keturunan Haji Barlas, bernama Mirza Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khorasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias dengan mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km jauhnya darii sungai tersebut.

Mirza Hadi Beg dikenal cerdik dan pandai, karenanya oleh pemerintah pusat Delhi diangkat sebagai qadhi (hakim) untuk daerah sekelilingnya. Oleh sebab kedudukannya sebagai qadhi itulah maka tempat tinggalnya disebut Islampur Qadhi. Lambat laun kata Islampur hilang, tinggal Qadhi saja. Dikarenakan logat daerah setempat, akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian.

Demikianlah, keluarga Barlas pindah dari Khorasan ke Qadian secara permanen. Selama kerajaan Moghul berkuasa, keluarga ini senantiasa memperoleh kedudukan mulia dan terpandang dalam pemerintahan negara. Setelah kejatuhan kerajaan Moghul, keluarga ini tetap menguasai kawasan 60 pal sekitar Qadian, sebagai kawasan otonomi. Tetapi lambat laun bangsa Sikh mulai berkuasa dan kuat, dan beberapa suku Sikh dari Ramgarhia, setelah bersatu mulai menyerang keluarga ini.

Selama itu buyut Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tetap mempertahankan diri dari serangan musuh. Tetapi di zaman kakek Gulam Ahmad, daerah otonomi keluarga ini menjadi sangat lemah, dan hanya terbatas di dalam Qadian saja yang menyerupai benteng dengan tembok pertahanan di sekelilingnya, sementara daerah-daerah lain telah jatuh ke tangan musuh.

Akhirnya bangsa Sikh dapat juga menguasai Qadian dengan jalan mengadakan kontak rahasia dengan beberapa penduduk Qadian, dan semua anggota keluarga ini ditawan oleh bangsa Sikh. Tetapi setelah beberapa hari, keluarga ini diiziinkan meninggalkan Qadian, lalu mereka pergi ke Kesultanan Kapurtala dan menetap disana selama 12 tahun. Setelah itu tibalah zaman kekuasaan Maharaja Ranjit Singh yang berhasil menguasai semua raja kecil, dan beliau mengembalikan sebagian harta benda keluarga tersebut kepada ayah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang bekerja dalam tentara Maharaja itu beserta saudara-saudaranya.

Dokumen Tentang Keluarga

Di dalam buku The Punjab Chiefs yang ditulis Sir Lepel Griffin ada disebut-sebut tentang keluarga Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad :

Griffin menuilis, "Pada tahun 1530, tahun-tahun terakhir pemerintahan kaisar Babar, Hadi Beg, seorang Moghul dari Samarkand, hijrah ke Punjab dan menetap di daerah Gurdaspur. Ia adalah seorang terpelajar serta bijak, dan diangkat oleh pemerintah menjadi qazi atau magistrate untuk 70 kampung di sekitar Qadian. Dialah yang mendirikan Qadian, dan mula-mula dinamainya Islampur Qazi, yang lambat laun berubah menjadi Qadian. Keluarga ini tetap memegang kedudukan dan pangkat yang pantas serta terpandang dalam pemerintahan hingga beberapa turunan. Hanya waktu pemerintahan Sikh keluarga ini jatuh miskin.

Pada tahun 1891, Gulam Ahmad memproklamirkan diri sebagai Imam Mahdi atau Masih Mau'ud menurut agama Islam. Beliau adalah seorang yang pandai dan alim, sehingga perlahan-lahan banyaklah orang yang mengikutinya. Dan, sekarang Jemaat Ahmadiyah di Punjab serta kawasan-kawasan lainnya di India telah melebihi tiga ratus ribu orang.

Mirza Ghulam Ahmad mengarang banyak buku dalam bahasa Arab, Farsi, dan Urdu, serta memberikan penjelasan yang benar tentang masalah jihad. Lama beliau mengalami penderitaan karena perlawanan pihak lain. Acapkali beliau diseret ke pengadilan maupun ke dalam perdebatan-perdebatan. Akan tetapi sebelum beliau wafat pada tahun 1908, beliau telah memperoleh kedudukan yang demikian rupa sehingga orang-orang yang menentang pun menghormatinya.

Pusat golongan ini di Qadian. Di sana Anjuman Ahmadiyah telah mendirikan sebuah sekolah dasar dan percetakan yang digunakan untuk menyiarkan ajaran serta berita-berita tentang Jemaat ini. Pengganti Mirza Ghulam Ahmad yang pertama adalah Maulvi Nuruddin, yang pernah menjadi tabib terkemuka di Maharaja Kashmir beberapa tahun lamanya.

Tampil di Hadapan Umum

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mulai mengkhidmati agama Islam dengan mengarang buku yang berisi keterangan-keterangan untuk melawan agama Kristen dan Hindu Ariya. Karangan-karangannya diterbitkan juga di surat-surat kabar. Karena karangan-karangan inilah nama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad populer di masyarakat umum, meski pun dia sendiri jarang keluar dari ruangan yang kecil dan sunyi itu. Pada waktu tu nama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah mulai dikenal dan tersiar, tetapi dia sendiri tidak tampil di hadapan umum, dan tetap dalam suasana yang sunyi dan terpisah itu.

Ketika Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tengah menjalankan mujahidah tersebut, Allah Ta’ala sering memberi ilham kepada beliau yang mengandung kabar-kabar ghaib, dan menjadi sempurna pada waktunya. Hal-hal ini menambah keimanan serta keyakinan beliau maupun rekan-rekan beliau yang di antaranya terdapat juga orang-orang Sikh serta Hindu. Mereka amat heran dan takjub melihat kejadian-kejadian itu.

Mula-mula dia memuat karangan dalam surat-surat kabar saja. Tetapi ketika dirinya melihat bahwa musuh Islam menyerang dengan lebih hebat dan orang-orang Islam tidak mampu menjawab serangan-serangan itu, maka berdasarkan ilham dan wahyu Ilahi, Gulam bangkit untuk mengarang sebuah buku yang menerangkan perkara-perkara tentang kebenaran agama Islam, yang betul-betul tidak dapat dijawab oleh para musuh Islam untuk selamanya. Tiap-tiap orang Islam dapat mempergunakan keterangan-keterangan itu untuk menjawab segala serangan terhadap Islam. Dengan kemauan dan tujuan itulah Gulam mulai mengarang buku yang terkenal dengan nama "Barahiyn Ahmadiyah".

Ketika sebagian karangan telah selesai, Gulam menganjurkan agar dicetak, dan atas pertolongan orang-orang yang sangat gemar dan memuji karangan-karangannya, dapatlah tercetak bagian pertama berupa suatu pengumuman dan seruan. Bagian yang pertama itu saja telah menggoncangkan dan menggemparkan seluruh negeri. Walaupun bagian pertama itu hanya berupa pengumuman dan seruan, tetapi di dalamnya diterangkan juga hal-hal tertentu untuk membuktikan kebenaran Islam, yang amat menarik dan mendapat pujian dari para pembaca buku tersebut.

Dalam pengumuman itu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengemukakan suatu syarat bahwa keindahan-keindahan Islam. Inilah pertama kali Gulam memaparkan keindahan-keindahan Islam.

Bagian pertama buku ini dicetak pada tahun 1880, bagian kedua pada tahun 1881, bagian ketiga tahun 1883 dan bagian keempat pada tahun 1884.

Di dalam buku itu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad juga mencantumkan beberapa ilham yang diterimanya, sebagian di antaranya adalah: "Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya."

Ilham-ilham ini telah dicetak dalam Barahiyn Ahmadiyah pada tahun 1884, ketika Gulam masih hidup dalam suasana yang sepi dan terpisah dari dunia ramai. Tetapi setelah terbitnya buku itu, nama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mulai tersiar ke seluruh India. Banyak pula yang menaruh harapan bahwa pengarang Barahiyn Ahmadiyah akan membela Islam dan menjawab segala serangan serta tuduhan yang dilontarkan kepada Islam. (berbagai sumber)


Ahmadiyah, Islam atau Bukan?
Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono
Senin, 14 Februari 2011 | 12:05 WIB

Saat saya bertanya kepada intelektual muda Nahdatul Ulama, Zuhaeri Misrawi, "Ahmadiyah itu Islam atau bukan?" Maka, Misrawi yang lebih populer dengan panggilan Gus Mis ini hanya mengungkap bahwa Ahmadiyah adalah salah satu sekte dalam Islam yang muncul di Qadian dengan tokohnya Mirza Ghulam Ahmad.

Dalam konstelasi Islam, Ahmadiyah memang unik. Di beberapa negara, seperti di Arab dan Pakistan, pengikut Ahmadiyah dimusuhi secara terang-terangan. Bahkan, di Pakistan, Ahmadiyah harus "keluar" dari Islam dan membentuk agama baru yang bernama Ahmadi. Dengan demikian, jika kalangan Ahmadiyah di Pakistan hendak menunaikan ibadah haji, mereka harus keluar dulu dari negara tersebut lantaran pemerintah setempat hanya memberi izin naik haji kepada yang beragama Islam sesuai yang tercantum di paspor.

Namun, lantaran "dimusuhi" itulah, Ahmadiyah justru kerap menjadi perbincangan dan nama kelompok ini pun salah satu mashab yang paling dikenal di dunia selain Suni di Irak dan Syiah di Iran. Kenapa umat Islam marah kepada Ahmadiyah? Menurut mereka yang anti-Ahmadiyah, faham Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran pokok Islam.

Kalangan mainstream berpegang pada tafsir bahwa Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah penutup para Nabi. Maka, siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam karena berarti telah mendustakan ayat-ayat Al Quran dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sebagai penutup para nabi.

Di antara inti persoalan ketegangan tersebut adalah QS : Al Ahzab Ayat 40 berbunyi: "Maa kaana muhamadun abaa ahadin min rijalikum walakin rasullalahi wa khotamannabiyyin". Kalangan Islam mainstream menerjemahkan ayat ini sebagai berikut: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki dari kamu, tetapi dia adalah Rasullullah dan penutup Nabi-nabi. Dan, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".

Sementara Ahmadiyah menerjemahkannya, "Muhamad bukanlah bapak dari seorang laki-laki kamu, tetapi ia adalah seorang Rasul dan "Khatamanabiyyin". "Khatamanabiyyin" oleh pengikut Ahmadiyah diterjemahkan sebagai Nabi paling mulia dan nabi penutup yang membawa syariat.

Friksi berikutnya adalah tentang Nabi Isa AS. Umat Islam meyakini Isa tidak wafat, melainkan diangkat oleh Allah untuk kemudian diturunkan kembali pada akhir zaman untuk memerangi musuh-musuh Islam. Qs: 4:157: dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya Kami telah membunuh Almasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi(yang mereka bunuh ialah) orang serupa dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang orang yang berselisih faham tentang (pembunuhan) Isa, benar benar dalam keraguan tentang yang di bunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang di bunuh itu, kecuali mengikuti perasangka belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Sementara itu Ahmadiyah meyakini, Isa atau Imam Mahdi yang dipersonifikasikan sebagai Mirza Ghulam Ahmad telah meninggal dan dikuburkan.

Tentu saja persoalan yang muncul tak sesederhana itu. Bahkan, dialog-dialog yang telah dilakukan di antara dua kelompok yang "bersengketa" itu pun hingga kini tak pernah menemukan jalan keluar yang melegakan semua pihak.

Secara demografis, pergerakan Jemaat Ahmadiyah telah menyebar ke beberapa negara. Ahmadiyah mengaku memiliki cabang di 174 negara yang tersebar di Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia, dan Eropa. Dalam situs Ahmadiyah tertulis, saat ini jumlah anggota mereka di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang.

Jemaat ini membangun proyek-proyek sosial, lembaga-lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, penerbitan literatur-literatur Islam, dan pembangunan masjid-masjid.

Gerakan ini menganjurkan perdamaian, toleransi, kasih, dan saling pengertian di antara para pengikut agama yang berbeda. Menurut Ahmadiyah, gerakan ini sebenar-benarnya percaya dan bertindak berdasarkan ajaran Al Quran: "Tidak ada paksaan dalam agama" (2:257) serta menolak kekerasan dan teror dalam bentuk apa pun untuk alasan apa pun.

Pergerakan ini menawarkan nilai-nilai Islami, falsafah, moral dan spiritual yang diperoleh dari Al Quran dan sunnah Nabi Suci Islam, Muhammad SAW. Beberapa orang Ahmadi, seperti almarhum Sir Muhammad Zafrullah Khan (Menteri Luar Negeri pertama dari Pakistan; Presiden Majelis Umum UNO yang ke-17; Presiden dan Hakim di Mahkamah Internasional di Hague) dan Dr Abdus Salam (peraih hadiah Nobel Fisika tahun 1979) telah dikenal karena prestasi dan jasa-jasanya oleh masyarakat dunia.

Ahmadiyah Qadian dan Lahore

Terdapat dua kelompok Ahmadiyah. Keduanya sama-sama memercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa al Masih yang telah dijanjikan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, dua kelompok tersebut memiliki perbedaan prinsip:

1. Ahmadiyah Qadian, di Indonesia dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Bogor), merupakan kelompok yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaru) dan seorang nabi yang tidak membawa syariat baru.

2. Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Yogyakarta), adalah kelompok yang secara umum tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekadar mujaddid dari ajaran Islam.

Selengkapnya, Ahmadiyah Lahore mempunyai keyakinan bahwa mereka:

1. Percaya pada semua akidah dan hukum yang tercantum dalam Al Quran dan hadis, serta percaya pada semua perkara agama yang telah disetujui para ulama salaf dan ahlus-sunnah wal-jama'ah dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. 2. Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru. 3. Sesudah Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwwat kepada siapa pun. 4. Apabila malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat: walâkin rasûlillâhi wa khâtamun-nabiyyîn (QS 33:40) dan berarti membuka pintu khatamun-nubuwwat. 5. Sesudah Nabi Muhammad SAW silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup, tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka agar iman dan akhlak umat tetap cerah dan segar. 6. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa di dalam umat ini tetap akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, tetapi tidak akan datang nabi. 7. Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan, menurut hadis, mujaddid akan tetap ada. Dan kepercayaan kami bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid. 8. Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari Rukun Islam dan Rukun Iman. Maka, orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir. 9. Seorang Muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat tidak bisa disebut kafir. 10. Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah pelayan dan pengemban misi Nabi Muhammad SAW.

Ahmadiyah di mata ulama Islam

Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900 M, yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauhkan kaum Muslim dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran/bentuk khusus sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadiyani. Corong gerakan ini adalah Majalah Al-Adyan yang diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Sementara Mirza Ghulam Ahmad hidup pada tahun 1835-1908 M. Dia dilahirkan di Desa Qadian, di wilayah Punjab, India, tahun 1835 M. Dia tumbuh dari keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa menaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum Muslimin bergabung menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. Oleh pengikutnya, dia dikenal sebagai orang yang suka menghasut/berbohong, banyak penyakit, dan pencandu narkotik.

Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada Pemerintah Inggris.

Di antara yang melawan dakwah Mirza Ghulam Ahmad adalah Syaikh Abdul Wafa’, seorang pemimpin Jami’ah Ahlul Hadis di India. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam Ahmad, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya.

Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh Abul Wafa’ mengajaknya ber-mubahalah (berdoa bersama) agar Allah mematikan siapa yang berdusta di antara mereka dan yang benar tetap hidup. Tidak lama setelah bermubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908 M.

Pada awalnya, Mirza Ghulam Ahmad berdakwah sebagaimana para dai Islam yang lain sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaru). Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi Al-Muntazhar dan Masih Al-Maud. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian Nabi kita Muhammad SAW.

Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, buletin, serta artikel hasil karyanya.

Di antara kitab terpenting yang dimilikinya berjudul Izalatul Auham, I’jaz Ahmadi, Barahin Ahmadiyah, Anwarul Islam, I’jazul Masih, At-Tabligh, dan Tajliat Ilahiah.

Menurut para penentang Ahmadiyah, permulaan ketenarannya dimulai dengan seolah-olah membela Islam. Setelah ia meninggalkan pekerjaan kantornya, ia mulai mempelajari buku-buku India Nasrani sebab pertentangan dan perdebatan pemikiran begitu santer terjadi antara kaum Muslimin, para pemuka Nasrani, dan Hindu. Kebanyakan kaum Muslimin sangat menghormati orang-orang yang menjadi wakil Islam dalam perdebatan tersebut. Segala fasilitas duniawi pun diberikan kepadanya. Ghulam Ahmad berfikir bahwa pekerjaan itu sangat sederhana dan mudah, mampu mendatangkan materi lebih banyak dari pendapatannya saat bekerja di kantor.

Untuk mewujudkan gagasan yang terlintas dalam benaknya, pertama kali yang ia lakukan ialah menyebarkan sebuah pengumuman yang menentang agama Hindu. Berikutnya, ia menulis beberapa artikel di beberapa media massa untuk mematahkan agama Hindu dan Nasrani. Kaum Muslimin pun akhirnya memberikan perhatian kepadanya. Itu terjadi pada tahun 1877-1878 M.

Pada gilirannya, ia mengumumkan telah memulai proyek penulisan buku sebanyak lima puluh jilid, berisi bantahan terhadap lontaran-lontaran syubhat yang dilontarkan oleh kaum kuffar terhadap Islam. Oleh karena itu, ia mengharapkan kaum Muslimin mendukung proyek ini secara material. Sebagian besar kaum Muslimin pun tertipu dengan pernyataannya yang palsu, bahwa ia akan mencetak kitab yang berjumlah lima puluh jilid.

Sejak itu pula, ia menceritakan beberapa karomah (hal-hal luar biasa) dan kusyufat tipuan yang ia alami. Dengan demikian, orang awam menilainya sebagai wali Allah, tidak hanya sebagai orang yang berilmu. Orang-orang pun bersegera mengirimkan uang-uang mereka yang begitu besar kepadanya guna mencetak kitab yang dimaksud [Majmu’ah I’lanat Ghulam Al-Qadiyani, 1/25].

Volume pertama buku yang ia janjikan terbit tahun 1880 M, dengan judul Barahin Ahmadiyah. Buku ini sarat dengan propaganda dan penonjolan karakter penulisnya, cerita tentang alam gaib yang berhasil ia ketahui, juga berisi karomah dan kusyufatnya.


Ahmadiyah, Sejak Datang Sudah Ditentang
Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono
Selasa, 15 Februari 2011 | 05:32 WIB

Semenjak kehadirannya di Tapaktuan, Aceh pada tahun 1925, Ahmadiyah di Indonesia mengalami pasang surut. Sejarah mencatat, saat Ahmadiyah tiba di daerah Padang (1926), kelompok ini telah mendapat "perlawanan" dari penganut Islam setempat.

Metode dakwahnya yang dikenal lebih rasional dan liberal, membuat kalangan muda tertarik dengan "tawaran" Ahmadiyah. Di sisi lain, kehadiran mubaligh Ahmadiyah, menjadi serupa "ancaman" atas ajaran Islam yang dibawakan oleh para ulama. Bahkan mereka tak segan-segan mengajak berdebat mengenai Islam dengan kalangan ulama Islam yang telah mapan di tempat mereka bermukim.

Ahmadiyah yang datang melalui Sumatra dikenal sebagai Ahmadiyah Qadian, lantaran para penyebarnya memang berguru langsung ke tempat Ahmadiyah berasal, yakni di Desa Qadian, Punjab, India. Kelak mereka menamakan diri Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

Sementara yang pertama masuk ke Jawa, tepatnya di Yogyakarta pada tahun 1924 disebut Ahmadiyah Lahore karena berpusat di Lahore, Pakistan. Kelak mereka menamakan diri sebagai Gerakan Ahmadiyah Indonesia yang berpusat di Yogyakarta. Penyebar awal faham ini adalah dua mubaligh Ahmadiyah asal India bernama Maulana Ahmad dan Mirza Wali Ahmad Baigh.

Perbedaan dan persamaan kedua faham Ahmadiyah tersebut menurut Badan Fikih Islam dalam sidangnya di Jeddah (Saudi Arabia) pada tanggal 10-16 Rabiuts Tsani 1406 H atau bertepatan dengan tanggal 22-29 Desember 1985 M adalah, ajaran pokok Ahmadiyah Qadian ada 4 (empat), yaitu keyakinan bahwa Mirza Ghulamfaham Ahmad adalah : (1) seorang nabi, (2) Isa anak Maryam, (3) Imam Mahdi, dan (4) seorang mujaddid. Sedang ajaran pokok Ahmadiyah Lahore, menolak tiga ajaran pertama tersebut dan hanya meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujaddid.

Ahmadiyah menemukan puncak kejayaannya di Indonesia terjadi pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Kala itu, dengan terang-terangan Gus Dur menyatakan siap membela warga Ahmadiyah.

Namun bulan madu tersebut tak berlangsung lama, Zuhaeri Misrawi, Lulusan Fakultas Ushuludin Universitas Al Azhar, Kairo, yang meneliti Ahmadiyah secara intensif sepanjang lima tahun terakhir ini mencatat, penentangan umat Islam Indonesia terhadap Ahmadiyah paling masif terjadi pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Penentangan yang disertai tindak kekerasan diawali tahun 2005 yang mengakibatkan markas Ahmadiyah di Parung, hancur. Berikutnya,terjadi di Kuningan, Makassar, Lombok Barat, dan wilayah lainnya.

Awalnya

Pada laman Alislam.org/Indonesia, tertulis, awalnya adalah tiga pemuda dari Sumatera Tawalib - suatu pesantren Islam di Sumatera Barat - meninggalkan negeri mereka untuk melanjutkan sekolah agama. Mereka adalah (alm) Abubakar Ayyub, (alm) Ahmad Nuruddin, dan (alm) Zaini Dahlan. Mereka masih sangat muda sekali saat mereka pergi, yang paling tua baru berusia duapuluh tahun sementara yang paling muda baru berusia enambelas tahun.

Semula, mereka merencanakan untuk pergi ke Mesir, karena Mesir sudah lama terkenal sebagai pusat studi Islam. Tetapi para guru mereka di Sumatera Tawalib menyarankan mereka untuk pergi ke India, karena India mulai menjadi pusat pemikiran modernisasi Islam. Mereka berangkat secara terpisah, (alm) Abubakar Ayyub berangkat bersama dengan (alm) Ahmad Nuruddin, sedangkan (alm) Zaini Dahlan menyusul kemudian.

Ketiga pemuda itu berkumpul kembali di Lucknow, India. Tidak seorang pun dari ketiganya saat itu menyangka bahwa keberangkatan mereka akan menjadi satu peristiwa monumental terpenting dalam perkembangan Islam di Indonesia, khususnya bagi Ahmadiyah di Indonesia.

Ketiga pemuda Indonesia itu segera sampai di Lahore dan sangat terkesan pada ajaran Ahmadiyah yang banyak mengubah berbagai aspek keimanan dan pemahaman mereka akan Islam, meskipun saat itu mereka mendapatinya dari Anjuman Isyaati Islam atau dikenal dengan nama Ahmadiyah Lahore. Segera ketiga pemuda itu mendapati bahwa sumber dari Ahmadiyah adalah dari Qadian, dan sekalipun ditentang dan dilarang oleh Anjuman Isyaati Islam (Ahmadiyah Lahore), ketiga pemuda itu pergi ke Qadian, pusat Jemaat Ahmadiyah yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Ketiga pemuda Indonesia itu melanjutkan studi mereka di Madrasah Ahmadiyah. Tidak lama kemudian mereka merasa perlu membagi ilmu yang telah mereka terima itu dengan rekan-rekan mereka di Sumatera Tawalib. Mereka mengundang rekan-rekan pelajar mereka di Sumatera Tawalib untuk belajar di Qadian. Tidak lama kemudian duapuluh tiga orang pemuda Indonesia dari Sumatera Tawalib bergabung dengan ketiga pemuda Indonesia yang terdahulu, untuk melanjutkan studi juga baiat masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah.

Dua tahun setelah orang Indonesia yang pertama baiat ke dalam Ahmadiyah, pimpinan Ahmadiyah Qadian saat itu, Hadhrat Khalifatul Masih II, pergi ke Inggris untuk menghadiri Seminar Agama-agama di Wembley, kemudian mengadakan kunjungan di Eropa.

Setelah Hadhrat Khalifah kembali dari lawatan ke barat, para pelajar Indonesia menginginkan sekali agar negara mereka, Indonesia, mendapatkan pengajaran langsung dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. melalui khalifahnya. Para pelajar kemudian mengundang Hadhrat Khalifatul Masih II dalam suatu jamuan teh, yang di dalamnya (alm) Haji Mahmud - juru bicara para pelajar Indonesia - menyampaikan sambutan dalam Bahasa Arab, mengungkapkan harapan mereka bahwa sebagaimana Hadhrat Khalifatul Masih II telah mengunjungi barat, mereka mengharapkan Hadhrat Khalifatul Masih II berkenan mengunjungi ke timur, yaitu ke Indonesia.

Kemudian, (alm) Maulana Rahmat Ali dikirim oleh Hadhrat Khalifatul Masih II sebagai muballigh ke Indonesia sebagai. Pada hari yang dibasahi hujan, pertengahan musim panas tahun 1925, Hadhrat Khalifatul Masih II, Hadhrat Haji Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad memimpin pelepasan (alm) Maulana Rahmat Ali berangkat ke Indonesia. Semenjak itulah, pondasi perkembangan Ahmadiyah Qadian di Indonesia telah diletakkan.

Maulana Rahmat Ali tiba pertama kali di Tapaktuan, Aceh. Di sana ada beberapa orang Indonesia yang baiat masuk Ahmadiyah. Tidak lama kemudian Maulana Rahmat Ali berangkat menuju Padang, ibukota Sumatera Barat. Di Padang, titik balik terjadi, banyak kaum intelektual, ulama Islam dan tokoh-tokoh masuk ke dalam Ahmadiyah, demikian pula orang-orang biasa. Dan di Padang-lah pada tahun 1926 Ahmadiyah secara resmi berdiri sebagai suatu jemaat atau organisasi.

Pada tahun 1931 Maulana Rahmat Ali berangkat menuju Jakarta, ibukota Indonesia. Dan perkembangan Ahmadiyah semakin cepat, banyak kaum intelektual, orang terpelajar, tokoh-tokoh terkenal dan masyarakat ningrat masuk ke dalam Ahmadiyah. Dan di Jakarta-lah Pengurus Besar Ahmadiyah didirikan dengan (alm) R. Muhyiddin sebagai Ketua pertamanya.

Hadhrat Khalifatul Masih II juga mengirimkan beberapa muballigh, dan para pelajar Indonesia yang belajar di Qadian untuk pulang kembali. Tetapi perkembangan itu bukan tanpa perjuangan. Para ulama Indonesia, baik tradisional maupun modernis terus menyerang dan menentang. Banyak perdebatan resmi terjadi antara Ahmadiyah dan ulama Islam lainnya, dan yang terbesar adalah dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1933.

Kisah Maulana Rahmat Ali

Dalam bukunya, "Gerakan Ahmadiyah di Indonesia", Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain meencatat, Sumatra Barat merupakan pusat aktivitas penyebaran Ahmadiyah Qadian sebelum berkembang ke Jawa, meski sebenarnya benih pertama Ahmadiyah pertama ditebar di Tapaktuan, Aceh, pada 1925.

Semasa penjajahan, Sumatra Barat berstatus sebagai Karesidenan, Residentie Sumatra's Westkust. Daerah ini dulu sudah termasuk daerah yang cukup penting karena letaknya yang strategis, di mana pantai sebelah Barat Sumatra bagian tengah menjadi daerah penghubung ujung utra dan ujung selatan Sumatra. Daerah pesisirnya (padang laut) menempati posisi strategis sebagai pintu gerbang masuknya segala sesuatu, baik yang bersifat materi maupun ideologi. Itu karena di sana tempo dulu terdapat pelabuhan dagang yang ramai, seperti Air Bengis, Sasah, Pariaman, Painan, Kambang dan Air Haji.

Pada masa itu, Indonesia memang banyak didatangi oleh para" pembaharu" Islam. Dalam situasi keagamaan seperti itulah Ahmadiyah yang datang dari India turut mewarnai gerakan keagamaan di Indonesia.

Pada tahun 1926, Maulana Rahmat Ali meninggalkan Tapaktuan menuju Padang. Dalam catatan sejarah, di kota ini, atas petunjuk Abdul Azis Shareef yang saat itu belajar di Qadian; Maulana Rahmat Ali tinggal di rumah Daud Bonggo Dirajo yang terletak di Pasarmiskin.

Setibanya di Padang, Rahmat Ali mulai melakukan tabligh seperti pada waktu ia tiba di Tapaktuan hingga ke daerah Padang Panjang dan Bukit Tinggi. Namun tabligh Rahmat rupanya mendapat penentangan dari ulama setempat. Akhirnya berdiri sebuah komite yang bernama "KOmite Mencari Hak" yang dipimpin oleh Tahar Sutan Marajo. Tujuannya untuk mempertemukan mubaligh Ahmadiyah dengan ulama Minangkabau.

Itu terjadi pada permulaan tahun 1926. Akan tetapi, penyelenggaraan debat tidak jadi dilaksanakan karena pihak alim ulama tidak datang kecuali hanya murid-muridnya saja sehingga para anggota komite merasa kecewa. Kelak, pada

Reaksi lain, masih di tahun yang sama (1926), ayah Hamka, DR, H Abdul Karim Amrullah, mengecam keras paham Ahmadiyah yang dibawa Rahmat Ali dan menganggap bahwa kaum Ahmadiyah berada di luar Islam. Bahkan lebih tegas lagi, dianggap sebagai kafir. Kecaman tersebut dituangkan dalam tulisannya yang berjudul Al Qaul ash-Shahih. Namun hal itu tidak menghambat perkembangan jemaat Ahmadiyah di Padang. Anggota Ahmadiyah pada awal berdirinya berjumlah 15 orang. Mereka antara lain, Mohammad Taher Sutan Marajo, Daud Gelar Bongso Marajo, dan lain-lain.

Dengan demikian, Maulana Rahmat Ali boleh disebut sebagai pembawa paham Ahmadiyah Qadian ke Indonesia bersama pemuda-pemuda Indonesia yang belajar di Qadian. Oleh karena itu, Maulana Rahmat Ali dipandang sebagai perintis Ahmadiyah Qadian di Indonesia yang dalam perkembangannya menjadi sebuah organisasi dengan nama Jema'at Ahmadiyah Indonesia.

Setelah berdiri sebagai organisasi di tahun 1929, Maulana Rahmat Ali beserta para pengikutnya kerap mendapat ejekan. Bunyi ejekan yang dilontarkan adalah, "lore! Lore! Lore!" Sebutan ini berasal dari nama kota Lahore. Rahmat Ali disoraki dengan kata-kata Dajjal, tukang sihir, dan pembawa nabi baru. Meski demikian, Iskandar mencatat, Maulana Rahmat Ali tetap melakukan tabligh ke daerah lain, seperti Bukittinggi, Payakumbuh, dan beberapa daerah lainnya. Dia dibantu oleh M Haji Mahmud yang saat itu baru kembali dari Qadian.

Dua Ahmadiyah Bertemu di Jawa

Tahun 1931, Rahmat Ali meninggalkan Sumatra menuju Jawa. Akan tetapi dia tidak pergi berdakwah ke Yogyakarta, sebab di sana telah bermukim mubaligh asal India dari paham Ahmadiyah Lahore. Ahmadiyah Lahore sudah lebih dulu dikenal di Jawa, tepatnya di Yogyakarta pada 1924, setahun lebih awal dibanding Ahmadiyah Qadian yang dikenal di Sumatra atau dua belas tahun setelah Muhammadiyah berdiri. Informasi mengenai kedatangan Ahmadiyah Lahore di Jawa tidak sejelas kedatangan Ahmadiyah Qadian di Sumatra. Kedatangan dua orang mubaligh dari Hindustan, Maulana Ahmad dan Mirza Wali Ahmad Big, tak begitu jelas siapa yang mengundangnya.

Menurut sebuah sumber, Wali Ahmad Baigh sebenarnya ingin ke Manila, namun karena tidak ada biaya hidup yang cukup ia terpaksa tinggal di Indonesia.

Jika Ahmadiyah Qadian dikenal lebih progresif yang terang-terangan siap melakukan perdebatan dengan kaum muslimin, mubalig Ahmadiyah Lahore dalam penampilannya menampakkan kerendahan hati. Sasaran awalnya hanya sekelompok pemuda melalui pengajaran bahasa Inggris. Sasaran berikutnya baru masyarakat Islam Jawa, khususnya dari kalangan Muhammadiyah.

Ahmadiyah Lahore secara umum dipandang tidak begitu kontroversial jika dibanding dengan ajaran Ahmadiyah Qadian. Ahmadiyah Lahore tidak memperkenalkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, tetapi hanya sebagai mujaddid, serta tidak memandang kafir terhadap orang di luar Ahmadiyah.

Pada awal kemunculannya, kedua aliran tersebut dapat menarik simpati, khsusnya di kalangan kaum muda. Ini disebabkan karena kajian Islam yang ditawarkan lebih modern, dalam arti lebih rasional dan liberal, meski dalam perjalanannya tetap menimbulkan konflik dan mendapat perlawanan keras dari kaum muslimin.

Menurut Arnold J. Toynbee dalam bukunya A Study of History, tidaklah dapat dimungkiri bahwa kehadiran Ahmadiyah di Indonesia merupakan sebuah tantangan bagi umat Islam Indnesia, khsusnya para ulama dan tokoh-tokoh Islam. Apalagi setelah ada respons dari sebagian masyarakat Islam yang menyatakan diri mengikuti paham Ahmadiyah.

Salah satu respons positif muncul dari H.O.S Tjokoroaminoto. Meskipun Muhammadiyah telah mengambil jarak dan telah mengambil sikap tegas terhadap Ahmadiyah, namun hubungan Tjokroaminoto dengan Wali Ahmad Baig tetap berjalan baik. Bahkan konon, telah ada pembicaraan persahabatan secara tertutup yang mengakibatkan Muhammadiyah meminggirkan Sarekat Islam dan H.O.S Tjokroaminoto.

Ahmadiyah akhirnya berkembang di tanah Jawa, mulai dari Yogyakarta, Purwokerto, Wonosobo, Tasikmalaya, Garut, Surabaya, Bogor, Jakarta, dan daerah lainnya.

Ahmadiyah dari waktu ke waktu

Periode 1950-an merupakan periode perkembangan cepat namun juga periode yang penuh kepahitan bagi Ahmadiyah. Para pemberontak DI/TII, membantai beberapa orang Ahmadiyah di Jawa Barat. Kesalahan mereka hanyalah bahwa mereka tetap teguh dalam keimanan mereka, menolak untuk keluar dari Ahmadiyah. Pada tahun 1953, pemerintah mengesahkan Jemaat Ahmadiyah sebagai badan hukum dalam Republik Indonesia. Organisasi ini berbadan hukum dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia sejak 1953 (SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-1953). Ini membuka pintu tabligh lebih besar lagi. Pengaruhnya tampak pada tahun 1950-1970 ketika banyak tokoh negara yang sangat akrab dengan Ahmadiyah dan dekat dengan orang-orang Ahmadiyah.

Sebagaimana upaya-upaya negara-negara Islam untuk menghancurkan Ahmadiyah melalui Rabithah Alam al Islami semakin menjadi-jadi di awal 1970-an, para ulama Indonesia mengikuti langkah mereka. Maka ketika Rabithah Alam al Islami menyatakan Ahmadiyah sebagai non muslim pada tahun 1974, sebagaimana Majelis Nasional Pakistan melakukan hal yang sama, para ulama Indonesia juga terang-terangan tak menyukai Ahmadiyah. Sejak saat itu, Jemaat Ahmadiyah Indonesia menghadapi berbagai hambatan dan halangan dalam perkembangannya, baik dalam bidang tabligh maupun dalam bidang tarbiyat. Tahun 1974, MUI memberikan fatwa sesat terhadap Ahmadiyah.

Halangan dan rintangan tersebut oleh kaum Ahmadiyah dimaknai sebagai penggenapan nubuwatan Nabi Muhammad s.a.w. bahwa para pengikut Imam Mahdi - pengikut sejati Rasulullah s.a.w. di akhir zaman - akan menghadapi keadaan yang sama dengan para sahabat Rasulullah s.a.w., sebagaimana disebutkan dalam Al Quran Surah Al Jumu’ah: 3-4.

Periode 1980-an adalah periode perjuangan sekaligus penekanan dari pemerintah dan para ulama. Banyak mesjid Ahmadiyah yang dirubuhkan oleh massa. Majelis Ulama Indonesia merekomendasikan kepada pemerintah untuk menyatakan Ahmadiyah sebagai non-Islam. Banyak Ahmadi yang menderita serangan secara fisik. Selanjutnya MUI menetapkan Ahmadiyah sebagai aliran sesat.

Periode 1990-an menjadi periode perkembangan pesat Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Perkembangan itu menjadi lebih cepat setelah Hadhrat Khalifatul Masih IV atba, Hadhrat Tahir Ahmad, mencanangkan program Baiat Internasional dan mendirikan Moslem Television Ahmadiyya (MTA).

Tahun 1999 saat Abdurrahman Wahid menjadi presiden keempat Republik Indonesia, Ahmadiyah seperti mendapat bapak asuh yang melindungi mereka. Secara terbuka Gu Dur, pangilan akrab Abdurrahman Wahid siap membela kaum Ahmadiyah dari "serangan" umat Islam yang tak sepakat dengan ajaran Ahmadiyah.

Tahun 2000 warga Ahmadiyah berhasil menggapai mimpi lamanya untuk mendatangkan pimpinan Ahmadiyah internasional yag berkedudukan di London, Inggris, ke Indonesia. Pimpinan tertinggi Ahmadiyah Hadhrat Mirza Tahir Ahmad ke Indonesia datang dari London menuju Indonesia. Ketika itu dia sempat bertemu dan mendapat sambuatan baik dari Presiden Republik Indonesia, Abdurahman Wahid dan Ketua MPR, Amin Rais.

Tahun 2005, MUI menegaskan kembali fatwa sesat kepada Ahmadiyah. Akibatnya, banyak mesjid Ahmadiyah yang dirubuhkan oleh massa. Selain itu, banyak Ahmadi yang menderita serangan secara fisik.

Atas nama Pemerintah Indonesia, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung pada tanggal 9 Juni 2008 telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama, yang memerintahkan kepada penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya yang bertentangan dengan Islam.

Penyerbuan yang menimpa warga Ahmadiyah di Kampung Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, Ahad (6/2) pukul 10.45 yang mengakibatkan tewasnya tiga orang warga Ahmadiyah adalah peristiwa tragis paling aktual, setelah sebelumnya basis-basis mereka di Parung, Lombok Barat, Makassar, dan tempat-tempat lainnya diobrak-abrik massa.
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   21st February 2011, 11:00

Dua malam yang lalu saya sempat menonton diskusi di TvOne antara Ahmadiyah, MUI, dan HTI.

Di sana perwakilan HTI, dalam sebuah surat kabar, menunjukkan sebuah kalimat di dalam Kitab Suci Tadzkiroh milik Ahmadiyah yang menunjukkan adanya penambahan/penyelipan kata-kata di dalam ayat Al Quran. Beliau pun menunjukkan beberapa ayat Al Quran yang telah dirubah oleh pihak Ahmadiyah.

Perwakilan Ahmadiyah membantah:
- Tadzkiroh bukanlah Kitab Suci ... Al Quran tetap Kitab Suci umat Ahmadiyah ... tetapi Tadzkiroh hanyalah berisi kutipan2 catatan Mirza Ghulam Ahmad yang merupakan Wahyu Ilahi Shocked

- Beliau juga mengatakan bahwa Wahyu Ilahi tetap diturunkan setelah wafatnya Rasulullah SAW ... bahwa khalifah Abu Bakar, Umar, Usman juga menerima Wahyu Ilahi sehingga wajarlah bila MGA pun mendapatkan Wahyu Ilahi tersebut. Dan adalah wajar bila narasinya berbeda bila dibandingkan dengan Al Quran. Padahal di dalam Al Quran pada Al Maidah 5:3 disebutkan bahwa "(telah) Kusempurnakan untuk kamu agamamu"

Pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya:
- Jadi bila sebuah buku merupakan Wahyu Ilahi tapi tidak dianggap Kitab Suci maka derajat buku itu apa ya?
- Bila wahyu tetap turun kepada orang2 setelah Nabi, apalagi kepada pemimpin umat ... apakah wajar bila masih ada tambahan dari Allah SWT tentang ajaran2 yang telah termuat di dalam Al Quran
- Apalagi kalau tambahan wahyu itu memiliki redaksi dan muatan yang berbeda dari Al Quran

Dari dua hal tersebut saya rasa sudah jelas bahwa Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran Islam.

Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   21st February 2011, 13:55

Quote :
Dari dua hal tersebut saya rasa sudah jelas bahwa Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran Islam.

Jelas kang, mereka memang menyimpang. Yang jadi pertanyaan sulit adalah 'mau diapakan' mereka yang menyimpang itu? Disadarkan? Mereka malah merasa lebih benar dari kita koq. Apa dibantai? Kan kita yang jadi kelihatan lebih buas dari mereka.

Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   22nd February 2011, 07:48

bruce wrote:
Jelas kang, mereka memang menyimpang. Yang jadi pertanyaan sulit adalah 'mau diapakan' mereka yang menyimpang itu? Disadarkan? Mereka malah merasa lebih benar dari kita koq. Apa dibantai? Kan kita yang jadi kelihatan lebih buas dari mereka.

Kalau masalah menyimpang sih sudah jelas ... bahkan di luar negeri (Pakistan dan Arab Saudi) sudah sejak dari dulu dinyatakan menyimpang dan dilarang keberadaannya.
Yang di Indonesia ini yang ngeyel ...

Satu hal yang membuat saya kesal adalah mereka mengatakan utamakan dialog ... seakan2 dialog ini tidak pernah dilakukan sejak dahulu kala ... dan itu yang diungkapkan media.

Untuk di acara itu jelas ditunjukkan bahwa dialog sudah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu ... dialog besar dialukan tahun 1980 dan 2005 kalau tidak salah.
Lalu kemunculkan SKB 3 Menteri itu juga ternyata didasari pada dialog dari kedua belah pihak, penelitian, penelahaan cukup mendalam yang terjadi selama beberapa bulan lamanya ... jadi tidak ujug2 turun begitu saja.

Jadi rada kesel juga waktu politisi PDIP keukeuh MUI dan Ulama harus dialog ... jangan melarang keberadaan Ahmadiyah ... wong, mau dialog sampai kapan pun, kalau Ahmadiyah ini merasa sudah benar ... tidak akan ada ujungnya. Contoh sederhana: apakah dialog Islam-Kristen akan menyebabkan salah satu penganut agama beralih ke agama yang lain? Secara nalar, tidak mungkin.

Jadi memang solusinya adalah Ahmadiyah membuat agama sendiri, keluar dari Islam karena apa yang diyakininya sudah keluar dari Rukun Islam dan Al Quran. Dan pemerintahlah yang memiliki wewenang untuk mewujudkan fatwa MUI tersebut.

Kalau pembantaian, it's out of the question.
Kembali Ke Atas Go down
willie
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 6
Join date : 22.02.11

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   22nd February 2011, 10:22

Silancah wrote:

- Beliau juga mengatakan bahwa Wahyu Ilahi tetap diturunkan setelah wafatnya Rasulullah SAW ... bahwa khalifah Abu Bakar, Umar, Usman juga menerima Wahyu Ilahi sehingga wajarlah bila MGA pun mendapatkan Wahyu Ilahi tersebut. Dan adalah wajar bila narasinya berbeda bila dibandingkan dengan Al Quran. Padahal di dalam Al Quran pada Al Maidah 5:3 disebutkan bahwa "(telah) Kusempurnakan untuk kamu agamamu"

Pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya:
- Jadi bila sebuah buku merupakan Wahyu Ilahi tapi tidak dianggap Kitab Suci maka derajat buku itu apa ya?
- Bila wahyu tetap turun kepada orang2 setelah Nabi, apalagi kepada pemimpin umat ... apakah wajar bila masih ada tambahan dari Allah SWT tentang ajaran2 yang telah termuat di dalam Al Quran
- Apalagi kalau tambahan wahyu itu memiliki redaksi dan muatan yang berbeda dari Al Quran

Dari dua hal tersebut saya rasa sudah jelas bahwa Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran Islam.
Jika memang alur berpikirnya seperti itu, maka apakah muslim yg juga mengakui adanya Hadits Qudsi (hadits yg berisi Firman Allah selain yg ada di Quran), apakah mereka juga menyimpang semua?
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   22nd February 2011, 10:40

willie wrote:
Jika memang alur berpikirnya seperti itu, maka apakah muslim yg juga mengakui adanya Hadits Qudsi (hadits yg berisi Firman Allah selain yg ada di Quran), apakah mereka juga menyimpang semua?

Selamat datang di LTB bro ...
Good to see you again.

Hadits Qudsi itu diturunkan Allah SWT kepada siapa, bro?
Kembali Ke Atas Go down
willie
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 6
Join date : 22.02.11

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   22nd February 2011, 11:47

Silancah wrote:
Hadits Qudsi itu diturunkan Allah SWT kepada siapa, bro?
Harusnya memang Marfu', alias sanad-nya dari Muhammad sendiri. Tapi seriously, jika memang sudah disempurnakan agamanya, maka harusnya segala sesuatu yg menjadi bagian dari agama itu juga harus sempurna. Misalnya saja Kitab Suci-nya juga harus sempurna, jadi tidak ada lagi Firman Allah yg tercecer di luar Kitab Suci yg disebut sempurna itu karena jika masih ada yg tercecer di luar, maka Kitab Suci tersebut jadi tidak sempurna. Saya pikir itu masalahnya, daripada sekedar mempermasalahkan apakah selain Muhammad tidak boleh ada yg diberi wahyu lagi (saya belum cek klaim Ahmadiyah mengenai sahabat2 Muhammad yg dikatakan juga menerima wahyu).

Contoh lainnya adalah konsep Aul dan Ra'd dalam ilmu Fiqh (hukum Islam) terkait dengan pembagian warisan kepada anak2. Konsep ini tidak ada di Quran, tapi menjadi aturan dalam hukum waris Islam yg menjadikan hukum Islam pada dirinya sendiri adalah tidak sempurna sehingga masih dibutuhkan pemikiran dan penafsiran manusia.

Jadi, menurut saya, klaim Quran "telah disempurnakan untukmu agama (Islam)-mu" adalah self-contradictory. Sehingga jika sudah demikian, tidak dapat juga menjadi ukuran mengenai tidak boleh adanya wahyu ilahi lain di luar Islam.
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   22nd February 2011, 15:30

willie wrote:

Harusnya memang Marfu', alias sanad-nya dari Muhammad sendiri. Tapi seriously, jika memang sudah disempurnakan agamanya, maka harusnya segala sesuatu yg menjadi bagian dari agama itu juga harus sempurna. Misalnya saja Kitab Suci-nya juga harus sempurna, jadi tidak ada lagi Firman Allah yg tercecer di luar Kitab Suci yg disebut sempurna itu karena jika masih ada yg tercecer di luar, maka Kitab Suci tersebut jadi tidak sempurna. Saya pikir itu masalahnya, daripada sekedar mempermasalahkan apakah selain Muhammad tidak boleh ada yg diberi wahyu lagi (saya belum cek klaim Ahmadiyah mengenai sahabat2 Muhammad yg dikatakan juga menerima wahyu).

Kalau ada wahyu dari Allah SWT yang tidak dimasukkan ke dalam Al Quran bukan berarti Al Quran itu tidak sempurna ... karena kesempurnaan itu tidak melulu harus dilihat dari kedetilan sebuah topik yang dibahas.

Masalah klaim Ahmadiyah itu, saya tonton sendiri di acara TvOne ... tiga hari yang lalu kalau nggak salah.
Cuma saya tidak ingat nama perwakilan dari Ahmadiyah itu.

willie wrote:
Contoh lainnya adalah konsep Aul dan Ra'd dalam ilmu Fiqh (hukum Islam) terkait dengan pembagian warisan kepada anak2. Konsep ini tidak ada di Quran, tapi menjadi aturan dalam hukum waris Islam yg menjadikan hukum Islam pada dirinya sendiri adalah tidak sempurna sehingga masih dibutuhkan pemikiran dan penafsiran manusia.

Kembali, mengenai waris telah disebutkan di dalam Al Quran tentang hukum dan beberapa aturan mainnya.
Masalah perincian konsepnya memang tidak dijabarkan dengan rinci di dalam Al Quran ... tetapi kembali, sudut pandang kita mengenai kesempurnaan sebuah Kitab Suci memang sepertinya tidak sama, bro.

willie wrote:
Jadi, menurut saya, klaim Quran "telah disempurnakan untukmu agama (Islam)-mu" adalah self-contradictory. Sehingga jika sudah demikian, tidak dapat juga menjadi ukuran mengenai tidak boleh adanya wahyu ilahi lain di luar Islam.

Itu hak anda berdasarkan sudut pandang anda.
Saya tidak setuju tetapi saya hormati pandangan anda tersebut.
Kembali Ke Atas Go down
willie
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 6
Join date : 22.02.11

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   24th February 2011, 08:52

Jika memang ternyata wahyu ilahi-Nya "lengkap tapi tidak lengkap" dan hukum agamanya ternyata "rinci tapi tidak rinci", lalu dari manakah kesimpulan "telah sempurna" ini didapatkan? atau kasarannya, apanya sih yg disebut islam adalah agama yang telah disempurnakan Allah?

Inilah mengapa saya katakan, Quran, sama seperti buku2 lain yg disebut 'suci', tetap hanyalah sebuah buku belaka. Buku hanyalah benda mati belaka yg penafsirannya (termasuk frase "khataman nabiyin") adalah tergantung dari siapa yang menafsir dan dalam posisi apa pihak yang menafsir tersebut. Kita tentu ingat di abad 8-9, ketika kaum Mu'tazilah yg dekat dengan khalifah, maka tafsiran merekalah yg dipakai, sementara Asyariah difatwa sesat dan bahkan dibunuhi. Sebaliknya, ketika Asyariah berhasil memperoleh kembali dukungan khalifah yg baru, giliran Mu'tazilah yang difatwa sesat, dikejar2, dan dibunuhi. Jadi, memang Quran hanyalah sekedar buku yg bisa ditafsir semau2 penafsirnya yg sedang dalam posisi dominan.

Sekarang, Ahmadiyyah yg jauh dari kekuasaan, dibunuhi... tapi roda kehidupan berputar dan bisa jadi akan ada waktunya Ahmadiyah balik mengejar2 dan membunuhi lawan2nya. Percayalah, bila anda belajar dari sejarah, maka anda akan tau bahwa sejarah dunia ini hanya berputar2 dan berulang2 belaka.
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   24th February 2011, 09:39

willie wrote:
Jika memang ternyata wahyu ilahi-Nya "lengkap tapi tidak lengkap" dan hukum agamanya ternyata "rinci tapi tidak rinci", lalu dari manakah kesimpulan "telah sempurna" ini didapatkan? atau kasarannya, apanya sih yg disebut islam adalah agama yang telah disempurnakan Allah?

Sempurna itu tidak berarti harus rinci.
Sempurna itu adalah semua hal2 yang berhubungan dengan ibadah kepada Allah SWT dan hubungan dengan sesama sudah dijabarkan ...
Misalnya perintah untuk beriman kepada Allah, Nabi dan Rasul, Kitab suci. Informasi tentang ketauhidan Allah SWT, dsb
Aturan menikah, cerai, dsb.

willie wrote:
Inilah mengapa saya katakan, Quran, sama seperti buku2 lain yg disebut 'suci', tetap hanyalah sebuah buku belaka. Buku hanyalah benda mati belaka yg penafsirannya (termasuk frase "khataman nabiyin") adalah tergantung dari siapa yang menafsir dan dalam posisi apa pihak yang menafsir tersebut. Kita tentu ingat di abad 8-9, ketika kaum Mu'tazilah yg dekat dengan khalifah, maka tafsiran merekalah yg dipakai, sementara Asyariah difatwa sesat dan bahkan dibunuhi. Sebaliknya, ketika Asyariah berhasil memperoleh kembali dukungan khalifah yg baru, giliran Mu'tazilah yang difatwa sesat, dikejar2, dan dibunuhi. Jadi, memang Quran hanyalah sekedar buku yg bisa ditafsir semau2 penafsirnya yg sedang dalam posisi dominan.

Memang, seharusnya tafsiran itu diselaraskan dengan penafsiran Rasulullah SAW.
Sepanjang sejarah, sampai sekarang ini, terlalu banyak orang yang menafsirkan macam2 dan berujung kepada pengkafiran bahkan memerangi sesama Muslim.
Ini memang disayangkan.
Semoga Allah SWT akan memberikan penerangan dan tuntunan kepada kami semua.

willie wrote:
Sekarang, Ahmadiyyah yg jauh dari kekuasaan, dibunuhi... tapi roda kehidupan berputar dan bisa jadi akan ada waktunya Ahmadiyah balik mengejar2 dan membunuhi lawan2nya. Percayalah, bila anda belajar dari sejarah, maka anda akan tau bahwa sejarah dunia ini hanya berputar2 dan berulang2 belaka.

Mari kita harapkan bersama saja bahwa pepernagan/pembantaian asal yang didasari oleh persinggungan agama tidak terjadi lagi, ya?
Kembali Ke Atas Go down
willie
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 6
Join date : 22.02.11

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   24th February 2011, 14:48

Silancah wrote:

Sempurna itu tidak berarti harus rinci.
Sempurna itu adalah semua hal2 yang berhubungan dengan ibadah kepada Allah SWT dan hubungan dengan sesama sudah dijabarkan ...
Misalnya perintah untuk beriman kepada Allah, Nabi dan Rasul, Kitab suci. Informasi tentang ketauhidan Allah SWT, dsb
Aturan menikah, cerai, dsb.
Jika memang demikian definisinya, maka Allah tidak perlu menunggu ribuan tahun untuk Muhammad, karena Taurat Musa pun sudah menjabarkan "semua hal2 yang berhubungan dengan ibadah kepada Allah SWT dan hubungan dengan sesama sudah dijabarkan".. bahkan sampe detail ritual ibadah dan ukuran meter-per-meter tempat ibadahnya dirincikan segala...

Jadi, menurut saya definisi ini ngambang, insuefficient, tidak mencukupi pada dirinya sendiri karena harus diakui Perjanjian Lama berbicara lebih detail daripada sumber2 iman dalam Islam yg bahkan rincian ibadah kepada Allahnya saja tidak ada (i.e. sholat).

Quote :

Memang, seharusnya tafsiran itu diselaraskan dengan penafsiran Rasulullah SAW.
Masalahnya, Muhammad sendiri tidak mewariskan penafsiran yang benar menurut dirinya yg diklaim menerima wahyu itu bagaimana. Perseteruan Ali dan Usman-Aisyah sendiri selepas meninggalnya Muhammad (yg kini diabadikan dalam perseteruan Sunni VS Syiah) adalah bukti yg paling gamblang.

Jadi, problem penafsiran yang melanda semua agama ini, ternyata juga melanda Islam.
Tafsiran siapa yg benar?
Sunni kah?
Syiah kah?
Qurani kah?
atau malah Ahmadiyah?
Semua mengklaim bersandar pada satu teks yg sama, satu teks yg menyebut dirinya sebagai teks yg terang dan lengkap, tapi ternyata masih harus dijelaskan lagi oleh pemikiran2 manusia yg berada di luar teks tersebut per se.

Quote :

Mari kita harapkan bersama saja bahwa pepernagan/pembantaian asal yang didasari oleh persinggungan agama tidak terjadi lagi, ya?
Apapun, harapan anda harus didoakan bersama.

Jika memang ada perbedaan penafsiran, maka harus diselesaikan dengan dialog, perdebatan, pertukaran argumentasi sampe ludah muncrat ke mana2 dan cara2 beradab lainnya. Kalo pun belum berhasil menyamakan pendapat, ya sudah, anggap saja berbeda aqidah, tapi harus saling menghargai sebagai sesama anak manusia.

Saya sedang tidak berjualan jamu, tapi inilah yg harus didengungkan para ulama kita. Di youtube, banyak sekali video ulama Islam di acara2 tabligh akbar yg menganjurkan (memerintahkan?) umat untuk membunuhi Ahmadiyyah dengan jaminan halal darahnya. Seruan jualan surga itu, pasti akan masuk ke telinga dan pikiran umat, entah itu kemudian disimpan dalam hati ataupun dibuang. Sementara itu, di corong2 menara TOA gereja2 di Papua yg mayoritas Kristen, yg terdengar bukan ajakan ulama2 Kristen untuk balik memerangi muslim yg minoritas sebagai balas dendam, melainkan ajakan untuk mendoakan agar Tuhan mengubah hati mereka yg keras. Ajakan inipun, pasti akan masuk ke telinga dan pikiran umat, entah itu kemudian disimpan dalam hati ataupun dibuang.

Jadi, problem utamanya bukan hanya klaim penafsiran "saya benar, kamu salah", tapi sepertinya ulama2 kita yg memang harus disekolahkan dulu biar agak pintar sedikit dan terbuka wawasannya sehingga tidak asal nyuruh bunuh belaka.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   25th February 2011, 07:36

Quote :
Jadi, problem utamanya bukan hanya klaim penafsiran "saya benar, kamu salah", tapi sepertinya ulama2 kita yg memang harus disekolahkan dulu biar agak pintar sedikit dan terbuka wawasannya sehingga tidak asal nyuruh bunuh belaka.

setuju... :)
ajaran yang benar jika diajarkan dengan cara yang salah juga akan banyak menimbulkan kesalahan2 lain.
soalnya lebih gampang ikut yang salah daripada meniru yang benar... Laughing
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   25th February 2011, 07:54

willie wrote:
Jika memang demikian definisinya, maka Allah tidak perlu menunggu ribuan tahun untuk Muhammad, karena Taurat Musa pun sudah menjabarkan "semua hal2 yang berhubungan dengan ibadah kepada Allah SWT dan hubungan dengan sesama sudah dijabarkan".. bahkan sampe detail ritual ibadah dan ukuran meter-per-meter tempat ibadahnya dirincikan segala...

Jadi, menurut saya definisi ini ngambang, insuefficient, tidak mencukupi pada dirinya sendiri karena harus diakui Perjanjian Lama berbicara lebih detail daripada sumber2 iman dalam Islam yg bahkan rincian ibadah kepada Allahnya saja tidak ada (i.e. sholat).

Sebagaimana Allah tidak perlu menunggu ribuan tahun untuk mengirimkan 'Anaknya' untuk mengampuni dosa manusia, ya bro? Very Happy

Kembali ke topik,
Memang, Taurat Musa as sudah menjelaskan semuanya ... hanya masalahnya tuntunan2 itu tidak kekal dan telah menyebabkan banyak penyimpangan (sehingga menyebabkan penyimpangan oleh orang Saduki dsb, lalu ibadah thawaf yang diselewengkan oleh orang2 Arab jahiliyah).
Oleh karena itu Allah SWT telah menurunkan Al Quran kepada Nabi Muhammad SAW.

Kembali, Al Quran bukanlah buku manual yang memperinci 'The Big Manual for Life'
Kita bisa menemukan hal2 rinci seperti itu di dalam hadits atau ijma sahabat, dsb.

willie wrote:

Masalahnya, Muhammad sendiri tidak mewariskan penafsiran yang benar menurut dirinya yg diklaim menerima wahyu itu bagaimana. Perseteruan Ali dan Usman-Aisyah sendiri selepas meninggalnya Muhammad (yg kini diabadikan dalam perseteruan Sunni VS Syiah) adalah bukti yg paling gamblang.

Saya kok tidak mendapatkan informasi perseteruan Ali dan Usman-Aisyah ini didasari oleh perbedaan pemahaman atas wahyu ... yang saya ketahui perseteruan itu disebabkan oleh politik dan kekuasaan.

[quote="willie"]Jadi, problem penafsiran yang melanda semua agama ini, ternyata juga melanda Islam.
Tafsiran siapa yg benar?
Sunni kah?
Syiah kah?
Qurani kah?
atau malah Ahmadiyah?
Semua mengklaim bersandar pada satu teks yg sama, satu teks yg menyebut dirinya sebagai teks yg terang dan lengkap, tapi ternyata masih harus dijelaskan lagi oleh pemikiran2 manusia yg berada di luar teks tersebut per se.
[quote]

Anda mengenal hal2 pokok dan cabang, kan?
Kalau mengenai hal2 pokok seharusnya tidak ada perbedaan karena semua bisa merujuk kepada Al Quran dan Sunnah ... sedangkan hal2 cabang bisa saja terjadi perbedaan dan tidak usah dipermasalahkan lebih jauh apalagi menyebabkan pengkafiran atau pertempuran antara aliran.

Mungkin ini yang belum bisa dipahami oleh orang2 yang berseteru dan senang mengkafirkan tersebut.

Wallahu a'lam...

[quote="willie"]
Jika memang ada perbedaan penafsiran, maka harus diselesaikan dengan dialog, perdebatan, pertukaran argumentasi sampe ludah muncrat ke mana2 dan cara2 beradab lainnya. Kalo pun belum berhasil menyamakan pendapat, ya sudah, anggap saja berbeda aqidah, tapi harus saling menghargai sebagai sesama anak manusia.
willie wrote:
te="willie"]
Saya sedang tidak berjualan jamu, tapi inilah yg harus didengungkan para ulama kita. Di youtube, banyak sekali video ulama Islam di acara2 tabligh akbar yg menganjurkan (memerintahkan?) umat untuk membunuhi Ahmadiyyah dengan jaminan halal darahnya. Seruan jualan surga itu, pasti akan masuk ke telinga dan pikiran umat, entah itu kemudian disimpan dalam hati ataupun dibuang. Sementara itu, di corong2 menara TOA gereja2 di Papua yg mayoritas Kristen, yg terdengar bukan ajakan ulama2 Kristen untuk balik memerangi muslim yg minoritas sebagai balas dendam, melainkan ajakan untuk mendoakan agar Tuhan mengubah hati mereka yg keras. Ajakan inipun, pasti akan masuk ke telinga dan pikiran umat, entah itu kemudian disimpan dalam hati ataupun dibuang.

Jadi, problem utamanya bukan hanya klaim penafsiran "saya benar, kamu salah", tapi sepertinya ulama2 kita yg memang harus disekolahkan dulu biar agak pintar sedikit dan terbuka wawasannya sehingga tidak asal nyuruh bunuh belaka.

Setuju lagi bro ...
Tidak ada perintah di dalam Al Quran untuk asal nyuruh bunuh belaka.
Seharusnya umat bisa lebih memahami hal ini instead of manut abiesz dengan ucapan para ulama yang mungkin mengandung kesalahan juga.
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)   Today at 13:47

Kembali Ke Atas Go down
 
Mengetahui lebih jauh tentang Ahmadiyah (dari Kompas)
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Kutipan-kutipan dari film tentang kehidupan
» Pisikopat & MP
» Fakta Mengerikan Tentang bumi
» SEBERAPA JAUH TENDANGANMU!
» Tentang ide saya ~ mohon saran ~

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Forum Terbuka :: Diskusi - Kristen Bertanya Non-Kristen Menjawab-
Navigasi: