Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 10, 11, 12  Next
PengirimMessage
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   31st January 2012, 07:42

heinskle wrote:

@ Silancah,
Simple questions, jika anda melakukan sholat, dan rukuk membelakangi ka'bah, apakah sholat anda diterima Alloh ?

Bila saya terjebak dalam hutan di Kalimantan dan tidak tahu arah Ka'bah (karena padatnya hutan sehingga tidak bisa melihat arah matahari terbit dan tidak memiliki kompas) lalu sholat dan tanpa disadari membelakangi arah Ka'bah atau menyampin dari arah Ka'bah ... insya Allah, sholat saya akan diterima karena Allah SWT berada di mana-mana.

QS Al Baqarah 2:115 "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah."

Tetapi bila kami mengetahui arah Ka'bah dan dengan sengaja sholat tidak mengharap ke arah itu maka insya Allah tidak akan diterima.
Kenapa?
Karena kami telah diperintahkan untuk menghadap ke arah Ka'bah dan jelas2 melanggarnya ... PERHATIKAN ... yang menjadi masalah di sini bukan karena Allah SWT bersemayam di dalam Ka'bah atau kami menyembah batu besar itu TETAPI kami diperintahkan untuk sholat ke satu arah tertentu lalu melanggarnya ... maka itulah yang menyebabkan sholat kami, insya Allah, tidak akan diterima.

Sebagaimana halnya kisah Iblis yang diperintahkan sujud kepada Nabi Adam as dan menolak sehingga dihukum oleh Allah SWT.
Yang menjadi masalah bukan karena Iblis tidak mau memberhalakan Nabi Adam as tetapi karena Iblis diperintahkan untuk sujud lalu melanggarnya.

heinskle wrote:

Maksud anda, Islam sebagai penyembah berhala dan Kristen sebagai penyembah Trinitas, bukan begitu bro..?? d\'oh

Coba definisikan dulu apa arti penyembah berhala menurut Anda sehingga kita bisa dengan mudah mengidentifikasi siapa yang menyembah berhala.
Saya sudah memaparkan analisis saya ... kalau Anda tidak setuju dengan definisi yang saya paparkan .... coba paparkan definisi menurut Anda.
Fair kan?

heinskle wrote:

Setahu saya yang menggunakan simbol, cuma islam doank bro...
dan simbol yang dipahami tsb itu juga diberlakukan serta berkekuatan penuh sebagai sesembahan.

Kalau begitu patung Yesus, patung Bunda Maria, roti dan anggur yang dipakai dalam misa itu simbol bukan, bro?
Ataukah roti dan anggur itu benar2 daging dan darah Yesus? affraid
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   31st January 2012, 09:36

Quote :
Ataukah roti dan anggur itu benar2 daging dan darah Yesus?

Beda sedikit pemahaman antara Katolik dan Protestan, kang.

Kalau Katolik betul mengimani bahwa Hosti dan Anggur saat ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus, bukan simbolis.

Pasti anda bingung ya? Tetapi jangan di ulas di thread ini ya kang, mungkin bisa dibuat thread lain, supaya pembahasannya lebih menyeluruh. Jangan sampai ada anggapan umat Katolik itu kanibal, he he he.

Salam

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
heinskle
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 326
Join date : 04.12.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   31st January 2012, 11:59

Silancah wrote:


Di bagian manakah di dalam artikel itu yang menunjukkan Gulshan Esther adalah keturunan Rasulullah SAW?
Dan di bagian manakah di dalam artikel itu yang menyebutkan Gulshan Esther masuk ke dalam Ka'bah dan melihat berhala2 di dalamnya?

Hahaha....@ Silancah,

Dengan artikel tentang hal-hal duniawi saja anda tidak bisa mudeng,
gimana ia-nya berbicara hal-hal sorgawi ??

Benar, seperti yang Yesus katakan dibawah ini:
" Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi " ( Yoh 3:10-12 )


Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   31st January 2012, 12:00

heinskle wrote:
Hahaha....@ Silancah,

Dengan artikel tentang hal-hal duniawi saja anda tidak bisa mudeng,
gimana ia-nya berbicara hal-hal sorgawi ??

Tunjukkan saja, tidak usah berputar-putar ...
Kembali Ke Atas Go down
heinskle
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 326
Join date : 04.12.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   31st January 2012, 12:15

Silancah wrote:

Bila saya terjebak dalam hutan di Kalimantan dan tidak tahu arah Ka'bah (karena padatnya hutan sehingga tidak bisa melihat arah matahari terbit dan tidak memiliki kompas) lalu sholat dan tanpa disadari membelakangi arah Ka'bah atau menyampin dari arah Ka'bah ... insya Allah, sholat saya akan diterima karena Allah SWT berada di mana-mana.

QS Al Baqarah 2:115 "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah."

Tetapi bila kami mengetahui arah Ka'bah dan dengan sengaja sholat tidak mengharap ke arah itu maka insya Allah tidak akan diterima.
Kenapa?
Karena kami telah diperintahkan untuk menghadap ke arah Ka'bah dan jelas2 melanggarnya ... PERHATIKAN ... yang menjadi masalah di sini bukan karena Allah SWT bersemayam di dalam Ka'bah atau kami menyembah batu besar itu TETAPI kami diperintahkan untuk sholat ke satu arah tertentu lalu melanggarnya ... maka itulah yang menyebabkan sholat kami, insya Allah, tidak akan diterima.

Sebagaimana halnya kisah Iblis yang diperintahkan sujud kepada Nabi Adam as dan menolak sehingga dihukum oleh Allah SWT.
Yang menjadi masalah bukan karena Iblis tidak mau memberhalakan Nabi Adam as tetapi karena Iblis diperintahkan untuk sujud lalu melanggarnya.

Well...well....well.....

Berdasarkan keterangan anda diatas,
maka izinkan saya menyimpulkan bahwa 'Islam' adalah " Agama Exceptional ", segala sesuatunya ada pengecualian dan sah.
Melihat ketetapan yang disampaikan Jibril selalu berdasarkan situasi dan kondisi.

well...well...well...
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   31st January 2012, 12:18

heinskle wrote:
Well...well....well.....

Berdasarkan keterangan anda diatas,
maka izinkan saya menyimpulkan bahwa 'Islam' adalah " Agama Exceptional ", segala sesuatunya ada pengecualian dan sah.
Melihat ketetapan yang disampaikan Jibril selalu berdasarkan situasi dan kondisi.

well...well...well...

Alhamdulillah ... Allah ar Rahmaan tidak memberatkan umatNya dalam beribadah kepadaNya.
Allah ar Rahiim mengizinkan beberapa pengecualian bila memang dalam keadaan darurat karena manusia tidak ada yang sempurna.
Subhanallah ... sesungguhnya Allah Maha Baik dan Pemurah
Kembali Ke Atas Go down
striker
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1393
Join date : 03.02.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   31st January 2012, 20:29

Silancah wrote:
heinskle wrote:
Hahaha....@ Silancah,

Dengan artikel tentang hal-hal duniawi saja anda tidak bisa mudeng,
gimana ia-nya berbicara hal-hal sorgawi ??

Tunjukkan saja, tidak usah berputar-putar ...

Assalamualaikum mas bro, lamo tak jumpo :)

Selamat melatih kesabaran ya mas bro Very Happy

Daku tak istirahat dulu Sleep
Kembali Ke Atas Go down
striker
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1393
Join date : 03.02.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   31st January 2012, 20:31

Silancah wrote:
heinskle wrote:
Well...well....well.....

Berdasarkan keterangan anda diatas,
maka izinkan saya menyimpulkan bahwa 'Islam' adalah " Agama Exceptional ", segala sesuatunya ada pengecualian dan sah.
Melihat ketetapan yang disampaikan Jibril selalu berdasarkan situasi dan kondisi.

well...well...well...

Alhamdulillah ... Allah ar Rahmaan tidak memberatkan umatNya dalam beribadah kepadaNya.
Allah ar Rahiim mengizinkan beberapa pengecualian bila memang dalam keadaan darurat karena manusia tidak ada yang sempurna.
Subhanallah ... sesungguhnya Allah Maha Baik dan Pemurah

Segala Puji Bagi Allah yg telah memberikan Rahmat-Nya kepada kita semua.
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   31st January 2012, 20:33

striker wrote:
Assalamualaikum mas bro, lamo tak jumpo :)

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Senang berjumpa lagi dengan Anda, bro ... hehehe

striker wrote:
Selamat melatih kesabaran ya mas bro Very Happy

Insya Allah ... :)

striker wrote:
Daku tak istirahat dulu Sleep

Mohon bantuannya kalau ada kesalahan atau kekhilafan dalam postingan ane, ya bro.
Ane kan cuma manusia biasa yang pasti tak luput dari kesalahan/kekhilafan dan masih perlu banyak diingatkan.
Kembali Ke Atas Go down
heinskle
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 326
Join date : 04.12.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   1st February 2012, 16:17

Silancah wrote:
heinskle wrote:
Well...well....well.....

Berdasarkan keterangan anda diatas,
maka izinkan saya menyimpulkan bahwa 'Islam' adalah " Agama Exceptional ", segala sesuatunya ada pengecualian dan sah.
Melihat ketetapan yang disampaikan Jibril selalu berdasarkan situasi dan kondisi.

well...well...well...

Alhamdulillah ... Allah ar Rahmaan tidak memberatkan umatNya dalam beribadah kepadaNya.
Allah ar Rahiim mengizinkan beberapa pengecualian bila memang dalam keadaan darurat karena manusia tidak ada yang sempurna.
Subhanallah ... sesungguhnya Allah Maha Baik dan Pemurah

Hahaha.... @ Silancah,

Allah itu memang sangat2lah MAHA BAIK dan Pemurah bahkan melebihi.

Yang dimaksud " Agama Exceptional ", adalah....
umat yang menganut agama tersebut merekayasanya sendiri seturut kehendak hati penganutnya saja, utk mengikuti selera dan sikon.

Contoh konkrit dalam penentuan arah kiblat, muhammad bersikeras memaksa Allah utk meng-approval proposalnya mengarah ke-Masjidill Haram, dan dalam ayat tersebut kelihatan Allah mengalah utk memenuhi kehendaknya.
Dan pengecualian diberikan dengan alasan bahwa Allah itu berada dimana-mana.

Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka dari kiblatnya yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus ". (Qs. 2:142 )

Dan demikian Kami telah menjadikan kamu , umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Qs.2:143 )

Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (Qs.2:144)

Dan tulisan berwarna 'merah' diatas, hanyalah merupakan alasan bahwa pengalihan kiblat tersebut se-olah2 telah dinubuatkan sebelumnya.

Well...well ...well....
Kembali Ke Atas Go down
heinskle
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 326
Join date : 04.12.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   1st February 2012, 16:19

striker wrote:
Silancah wrote:
heinskle wrote:
Hahaha....@ Silancah,

Dengan artikel tentang hal-hal duniawi saja anda tidak bisa mudeng,
gimana ia-nya berbicara hal-hal sorgawi ??

Tunjukkan saja, tidak usah berputar-putar ...

Assalamualaikum mas bro, lamo tak jumpo :)

Selamat melatih kesabaran ya mas bro Very Happy

Daku tak istirahat dulu Sleep

'KO' ya geek
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   1st February 2012, 16:45

heinskle wrote:
Hahaha.... @ Silancah,

Allah itu memang sangat2lah MAHA BAIK dan Pemurah bahkan melebihi.

Yang dimaksud " Agama Exceptional ", adalah....
umat yang menganut agama tersebut merekayasanya sendiri seturut kehendak hati penganutnya saja, utk mengikuti selera dan sikon.

Saya kok tidak melihatnya seperti itu ...
Di dalam agama Islam sudah jelas ada aturan mainnya ... tetapi memang, adanya pengecualian yang diberikan Allah ar Rahiim untuk umat manusia karena sang Dzat yang Esa tersebut memahami ada kalanya manusia mengalami hal2 darurat sehingga diperbolehkan untuk mengikuti ijtihad (pemikiran akal sehatnya) sendiri.

Sehubungan dengan masalah exceptional ini ... coba saya tanya kepada Anda. Apakah membunuh diperbolehkan oleh agama Anda?

heinskle wrote:
'KO' ya geek

Daripada berkomentar seperti ini ... coba dijawab dulu beberapa pertanyaan saya di atas yang belum terjawab, bro.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   2nd February 2012, 11:07

Damai bagimu, Cah.
Tanpa niatan untuk kembali ke bahagian yang lebih dahulu, ternyata ada bahagian posting Silancah yang ingin saya cari informasi lebih lanjut, yaitu mengenai ini,
Silancah wrote:
Husada wrote:
Dan saya pikir, perlu juga mendalami rentang waktu, bahwa cara pemahaman, penyembahan, dan/atau ibadah kaum Kristiani itu (khususnya setelah Yesus Kristus memperkenalkan hukum kasih) secara hitungan kasar, sudah lebih dahulu eksis paling sedikit 5 abad daripada saat Muhammad mendapat wahyu. Nah, dengan demikian, kalau kaum Muslim merasa lebih mengetahui tentang Kristus dan ajaranNya daripada kaum Kristiani, kok bagi saya terasa janggal ya?
Jawabannya mudah ... karena umat Muslim mengetahui tentang Kristus dan ajarannya dari wahyu Allah al Wahid yang tertuang di dalam Kitab Suci yaitu Al Quran ... hehehe
Tapi tentu saja Anda kan merasa janggal karena umat Kristiani memiliki pandangan bahwa Al Quran adalah karangan/tulisan orang Arab yang bernama Muhammad.
So ... ?
Menurut hemat saya, kejanggalan yang dirasakan kaum Kristiani atas hal tersebut bukan karena oknum penulis atau pengarang kisah itu, melainkan atas kesesuaian dengan nubuatan kedatangan Yesus Kristus.

Bahwa yang diimani kaum Kristiani, nubuatan kedatangan Yesus Kristus mulai diketahui ketika Tuhan mengadakan permusuhan antara perempuan (Hawa) dengan ular, seperti tertulis pada Kejadian 3:15, Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya. Nubuatan-nubuatan tentang kedatangan Yesus Kristus pada berbagai kisah Perjanjian Lama, terwujud pada pribadi Yesus Kristus.

Meski Wikipedia bilang Secara pasti tidak ada kriteria yang dipakai untuk kanonisitas Perjanjian Lama (http://id.wikipedia.org/wiki/Kanon_Alkitab), namun mengingat Wikipedia yang sama juga mengatakan, Kanonisasi Perjanjian Baru dimulai sekitar tahun 200, artinya, bahwa paling sedikit sejak tahun 200 M, kisah-kisah nubuatan tentang kedatangan Yesus Kristus yang di Perjanjian Lama itu sudah demikian adanya (secara tertulis).

Kemudian, pada abad keenam, muncul kisah-kisah mengenai Isa Putera Maryam, yang sebagian besar mengandung kesamaan dengan apa yang tertulis mengenai Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru, tetapi tidak identik. Para pembaca Al Qur'an mengimani bahwa yang tertilis dalam Al Qur'an itu yang paling pas menggambarkan Yesus Kristus. Nah, itu yang menjadi janggal.

Kaum Kristiani mengetahui kedatangan Yesus Kristus sejak jaman Perjanjian Lama, dimulai dari kisah Kitab Kejadian, dan kisah itu sudah dikanon paling tidak pada tahun 200 M. Kemudian pada abad keenam (bukan tahun pengkanonan Al Qur'an), muncul cerita agak bersamaan dengan kedatangan Yesus Kristus itu, dan kisah itu pula yang lebih dipercayai oleh kaum pembaca Al Qur'an. Pertanyaannya sekarang, apakah kisah mengenai Isa Putera Maram yang dikisahkan pada abad keenam, lebih dipercayai daripada kisah Yesus Kristus yang sudah diceritakan sejak jaman Kitab Kejadian?

Karena hal ini sudah masuk ke ranah iman, maka akan terjadi kebuntuan, munculllah bagimu agamamu, bagiku agamaku. Hanya saja, karena banyaknya kesamaan pada kisah Yesus Kristus dan kisah Isa Putera Maryam, mau-tidak mau, suka tidak suka, akan ada perselisihan piikiran/pemahaman. Kedua kelompok (kaum Kristiani dan kaum pembaca Al Qur'an) merasa kisahnya yang paling tepat untuk menggambarkan pribadi Yesus Kristus. Kalau masing-masing kelompok dapat memahami kelompok lainnya, tentu tidak akan ada masalah. Bila satu kelompok menganggap pemahamannyalah yang benar, dan pemahaman yang bukan seperti pemahaman kelompoknya, adalah salah, akan terjadi gesekan-gesekan.

Tidak dapat dipungkiri, nalar manusia mendorong keimanannya semakin kokoh. Jadi, kalau ada dua kisah yang hampir sama, para pemilik nalar akan berupaya mempertajam pemahamannya mengenai suatu kisah yang lebih berterima di pemahamannya. Jika dia telah sampai pada pengimanannya selaras dengan nalar, maka keimanan orang itu akan semakin kokoh. Sebaliknya, bila dengan menggunakan nalar ternyata sampai pada kesimpulan bahwa yang diimaninya kurang pas dengan nalar, sangat dimungkinkan orang tersebut akan mengedit keimanannya.

Jadi, yang ingin saya katakan sebenarnya adalah, suatu kisah, untuk dapat dipercaya sebagai yang paling benar, adalah sesuatu yang kesesuaiannya telah diuji dengan nalar. Bila setelah menguji dengan nalar, dan tetap menganut keimanan yang semula, yahhh manusia dicipta sebagai orang merdeka, bebas mengimanani apa saja. Berkenan ataui tidak kepada Tuhan, hanya Tuhan yang tahu pekenananNya.

Damai bagi LTBers.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
samiaji
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 392
Join date : 26.02.11
Age : 38

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   4th February 2012, 08:08

Silancah wrote:
samiaji wrote:
Saya hanya ingin memahami lebih jelas mengenai persepsi penyembahan berhala [umat Islam ataupun Kristen] :
# Apakah setiap patung atau lukisan dianggap sebagai berhala ?

Sepertinya tidak semua patung dan lukisan dianggap sebagai berhala .. tergantung pada tujuan dibuatnya patung dan lukisan itu.

samiaji wrote:
# Ataukah hanya patung / lukisan yang terlihat di hadapkan saat bersembahyang otomatis di anggap berhala ?

Hanya orang yang bersembahyang saja yang tahu apakah dia menyembah patung/lukisan di hadapannya atau sosok di baliknya.
Kalau menyembah patung atau lukisannya ... ia adalah penyembah berhala.
Kalau menyembah sosok yang diwakili oleh patung dan lukisannya ... ia adalah penyembah sosok itu.

Dalam Islam, kami tidak diizinkan untuk membayangkan/membuat patung atau lukisan yang mewakili dzat Allah sehingga bila seseorang membuat patung dan lukisan yang dianggapnya sebagai perwakilan Allah maka ... ia adalah penyembah selain Allah (menyimpang dari konsep tauhid)

samiaji wrote:
# Apabila patung / lukisan tsb dianggap sebagai perantara (artinya memiliki fungsi dan kuasa untuk hanya meneruskan doa / permintaan), maka bisa dianggap sebagai penyembahan thd patung = penyembahan berhala ?

Dalam Islam, ini juga termasuk menyembah sosok selain Allah karena saat seseorang sudah meninggal maka orang itu tidak bisa berbuat apa2 lagi, tidak bisa beramal atau melakukan dosa apalagi berkomunikasi dengan orang yang masih hidup ... hal ini jatuhnya orang yang melakukan doa kepada 'perantara' tersebut menjadi orang yang menyimpang dari konsep tauhid.

samiaji wrote:
# Apakah berhala hanya di representasikan oleh patung / lukisan mahluk hidup ? Mungkinkah berhala berupa benda mati atau representasi dari benda mati ?

Semua jenis benda entah mewakili sosok tertentu atau bukan ... selama ia disembah manusia maka hal itu digolongkan kepada tindakan pemberhalaan.

samiaji wrote:
# Apakah uang atau harta (atau anak, pasangan hidup, dll) yang terlalu diutamakan dalam kehidupan seseorang, bahkan melebihi tuhannya, bisa dikatakan sebagai berhala atau yang dipertuhankan ?

Betul .. makanya sekarang kita sering mendengar manusia memberhalakan uang/harta

samiaji wrote:
# Hal-hal apa saja kah yang bisa "Dipertuhankan" oleh manusia ?

Apa pun bisa dipertuhankan oleh manusia ... saat manusia menganggap benda itu lebih penting dari Tuhan maka ia telah mempertuhankan Tuhan.
bruce wrote:
Setahu saya, umat Muslim memang tidak menyembah dan memohon kepada Hajar Aswad, tetapi, adalah kebiasaan umat untuk menciumnya, dikatakan dengan menciumnya akan mendapatkan berkah. Say tidak tahu, apakah anggapan akan membawa berkah ini merupakan sesuatu pelanggaran dalam pandangan Islam atau tidak. Seperti juga umat Islam yang di solo dan Yogya, mereka berebut gunungan saat grebegan, dikatakan ngalap berkah, sepertinya butuh penjelasan dari umat Muslim yang kompeten seperti kang Lancah untuk memberi pencerahan. Karena dalam hal ini 'benda' yang dijadikan tumpuan berkah.

Identik dengan umat Kristen ataupun Katolik yang mengharapkan 'perlindungan' dari sebentuk patung ataupun salib, karena sudah menyalahi kegunaan patung ataupun salib itu.

Berhala, bisa berwujud bentukan serupa binatang ataupun manusia, tetapi bisa juga berwujud benda-benda lain, yang tidak berhubungan dengan mahluk hidup. Sekali kita merasa bahwa 'benda' ini memiliki 'kelebihan' dan 'mampu' memberikan sesuatu kepada kita. Maka itu adalah berhala. Bisa berbentuk patung, salib, hajar aswad, sayuran, buah-buahan, air tertentu, tulisan manusia, senjata, bahkan kitab suci.

Sementara segala hal yang dapat mengalihkan posisi Tuhan sebagai yang utama dari hati dan pikiran kita, adalah berhala bagi kita. Dalam hal ini, pengertiannya menjadi sangat luas, dan kita mudah sekali jatuh. Karena berarti semua manusia lain, bahkan yang kita cintai, semua keinginan kita, semua yang kita senangi, sayangi, cintai, tidak boleh sedikitpun mengalahkan senang, cinta, dan sayang kita kepada Tuhan.

Maka, adalah mudah menyatakan sebuah patung adalah berhala, padahal, sejatinya berhala yang menjadi 'pesaing' bagi Tuhan, adalah lebih 'perkasa' dari sekedar bentuk patung, karena bersemayam di hati kita.

Dari dua jawaban yang mewakili umat Islam dan Kristen, sampai saat ini saya menemukan pemahaman yang sama persis, yaitu:

Berhala adalah segala sesuatu, baik berupa fisik (patung, lukisan apapun) ataupun non-fisik (uang, kekayaan, cinta seseorang, hobby, dll), yang ditempatkan [kadang-kadang apalagi selalu] atau di prioritaskan di atas Tuhan pada dasarnya bisa disebut berhala.

Mungkin ada rekan lain yang mau menyumbangkan pendapatnya ?


Salam Damai
Kembali Ke Atas Go down
heinskle
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 326
Join date : 04.12.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   4th February 2012, 11:37

Silancah wrote:

Saya kok tidak melihatnya seperti itu ...
Di dalam agama Islam sudah jelas ada aturan mainnya ... tetapi memang, adanya pengecualian yang diberikan Allah ar Rahiim untuk umat manusia karena sang Dzat yang Esa tersebut memahami ada kalanya manusia mengalami hal2 darurat sehingga diperbolehkan untuk mengikuti ijtihad (pemikiran akal sehatnya) sendiri.

Hahaha.... @ Silancah,

Tentu, anda tidak akan melihatnya... karena mata rohani anda telah dibutakan oleh kekaguman anda pada figure Muhammad.

Dan saya tidak menafikan semua aturan yang ada didalam islam anda, dan itu HARUS !
Karena islam mengandalkan kemampuan pikiran dan kekuatan manusia itu sendiri utk mencapai keinginan Allah yang telah Allah tetapkan bagi manusia.

Sama halnya dengan Taurat, Taurat diberikan kepada bgs Israel pada zaman Musa, karena Allah melihat banyaknya pelanggaran-pelanggaran yg dilakukan manusia tsb.
Dan setiap kesalahan dan pelanggaran aturan yg ditetapkan oleh Allah tetaplah DOSA ( tidak ada kompromi untuk itu )

Tetapi jangan lupa " Allah bukanlah budak manusia " sehingga manusia itu memaksa kehendaknya untuk segera Allah penuhi seperti yg dilakukan oleh Muhammad Qs.142-144.


Silancah wrote:

Sehubungan dengan masalah exceptional ini ... coba saya tanya kepada Anda. Apakah membunuh diperbolehkan oleh agama Anda?

@ Silancah,

Apapun alasannya 'membunuh' adalah DOSA.
tidak ada exceptional utknya.

Tidak seperti islam ada 'dosa kecil' ada dosa besar' ; ada 'sunah' ada 'wajib'

well....well....well.....
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   4th February 2012, 13:23

heinskle wrote:

Hahaha.... @ Silancah,

Tentu, anda tidak akan melihatnya... karena mata rohani anda telah dibutakan oleh kekaguman anda pada figure Muhammad.

Kalau masalah tuduh menuduh mata rohani sudah dibutakan oleh ini dan itu, semua orang dari berbagai kalangan bisa menuduhkannya kepada orang lain yang berbeda agama dengannya.

Untuk yang satu ini saya ucapkan kepada Anda .. lakum diinukum waliyadiin ... untukmu agamamu untukku agamaku.
Walaupun saya kemungkinan besar tidak setuju dengannya, saya tetap menghormati apa yang ditunjukkan oleh mata rohani Anda .

heinskle wrote:

Sama halnya dengan Taurat, Taurat diberikan kepada bgs Israel pada zaman Musa, karena Allah melihat banyaknya pelanggaran-pelanggaran yg dilakukan manusia tsb.
Dan setiap kesalahan dan pelanggaran aturan yg ditetapkan oleh Allah tetaplah DOSA ( tidak ada kompromi untuk itu )

Kecuali setelah Yesus datang ... aturan di Taurat menjadi boleh dilanggar ... maaf, maksudnya menjadi tidak usah dituruti, ya?
Karena sudah ada yang menggenapkannya ...

heinskle wrote:
Silancah wrote:

Sehubungan dengan masalah exceptional ini ... coba saya tanya kepada Anda. Apakah membunuh diperbolehkan oleh agama Anda?

Apapun alasannya 'membunuh' adalah DOSA.
tidak ada exceptional utknya.

Coba kita lihat apa yang diyakini oleh umat Katolik (dan mungin diyakini oleh umat Protestan pula) ...

Saya kutipkan dari ini --> [You must be registered and logged in to see this link.]

In broad terms, Christians must not love violence. They must promote peace whenever possible and be slow to resort to the use of arms. But they must not be afraid to do so when it is called for. Evil must not be allowed to remain unchecked.

Kesimpulannya:
As the Second Vatican Council noted, "insofar as men are sinful, the threat of war hangs over them, and hang over them it will until the return of Christ" (Gaudium et Spes 78). The danger of war will never be completely removed prior to the Second Coming.
Christ's followers must be willing to meet this challenge. They must be willing to wage war when it is just and they must be willing to wage it in a just manner.

Katekismus 2308 menyebutkan "However, "as long as the danger of war persists and there is no international authority with the necessary competence and power, governments cannot be denied the right of lawful self-defense, once all peace efforts have failed.""

Katekismus 2265 menyebutkan "Legitimate defense can be not only a right but a grave duty for one who is responsible for the lives of others. The defense of the common good requires that an unjust aggressor be rendered unable to cause harm. For this reason, those who legitimately hold authority also have the right to use arms to repel aggressors against the civil community entrusted to their responsibility. "

Katekismus 2267 menyebutkan "Assuming that the guilty party's identity and responsibility have been fully determined, the traditional teaching of the Church does not exclude recourse to the death penalty, if this is the only possible way of effectively defending human lives against the unjust aggressor. "

heinskle wrote:
well....well....well.....

Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   4th February 2012, 13:54

Husada wrote:
Damai bagimu, Cah.

Damai juga untukmu, Husada.
Alhamdulillah, Anda berkenan untuk menanggapi postingan saya

Husada wrote:
Menurut hemat saya, kejanggalan yang dirasakan kaum Kristiani atas hal tersebut bukan karena oknum penulis atau pengarang kisah itu, melainkan atas kesesuaian dengan nubuatan kedatangan Yesus Kristus.

Mengomentari postingan di atas ... siapakah yang telah menubuatkan kedatangan Yesus Kristus. Dan di manakan tertulis nubuatan tersebut?

Husada wrote:

Nubuatan-nubuatan tentang kedatangan Yesus Kristus pada berbagai kisah Perjanjian Lama, terwujud pada pribadi Yesus Kristus.

Kaum Kristiani mengetahui kedatangan Yesus Kristus sejak jaman Perjanjian Lama, dimulai dari kisah Kitab Kejadian, dan kisah itu sudah dikanon paling tidak pada tahun 200 M. Kemudian pada abad keenam (bukan tahun pengkanonan Al Qur'an), muncul cerita agak bersamaan dengan kedatangan Yesus Kristus itu, dan kisah itu pula yang lebih dipercayai oleh kaum pembaca Al Qur'an. Pertanyaannya sekarang, apakah kisah mengenai Isa Putera Maram yang dikisahkan pada abad keenam, lebih dipercayai daripada kisah Yesus Kristus yang sudah diceritakan sejak jaman Kitab Kejadian?

Inikah jawabannya, bro?

Husada wrote:

Karena hal ini sudah masuk ke ranah iman, maka akan terjadi kebuntuan, munculllah bagimu agamamu, bagiku agamaku. Hanya saja, karena banyaknya kesamaan pada kisah Yesus Kristus dan kisah Isa Putera Maryam, mau-tidak mau, suka tidak suka, akan ada perselisihan piikiran/pemahaman. Kedua kelompok (kaum Kristiani dan kaum pembaca Al Qur'an) merasa kisahnya yang paling tepat untuk menggambarkan pribadi Yesus Kristus. Kalau masing-masing kelompok dapat memahami kelompok lainnya, tentu tidak akan ada masalah. Bila satu kelompok menganggap pemahamannyalah yang benar, dan pemahaman yang bukan seperti pemahaman kelompoknya, adalah salah, akan terjadi gesekan-gesekan.

Saya rasa selama kedua kelompok ini tidak memaksakan kebenaran yang dirasakan olehnya kepada kelompok lain ... dan hanya membahas perselisihan pemahaman itu di dalam kelompoknya masing2 .... seharusnya tidak terjadi gesekan2. Bukan begitu?

Husada wrote:

Jadi, yang ingin saya katakan sebenarnya adalah, suatu kisah, untuk dapat dipercaya sebagai yang paling benar, adalah sesuatu yang kesesuaiannya telah diuji dengan nalar. Bila setelah menguji dengan nalar, dan tetap menganut keimanan yang semula, yahhh manusia dicipta sebagai orang merdeka, bebas mengimanani apa saja. Berkenan ataui tidak kepada Tuhan, hanya Tuhan yang tahu pekenananNya.

Rasanya saya pernah membahas hal ini (keabsahan Perjanjian Lama) di LT yang lama dengan Bang Bruce.

Dan rasanya mendapatkan kesimpulan bahwa Perjanjian Lama itu memang tidak bisa dipastikan keabsahannya 100 persen mengingat bahwa penulisannya bukan dilakukan oleh yang mengalami peristiwa di dalamnya (Misalkan: Kitab Kejadian bukan dituliskan oleh Nabi Adam, Nabi Yakub atau Nabi Yusuf, Kitab Keluaran bukan dituliskan oleh Nabi Musa) melainkan disampaikan dari mulut ke mulut selama sekian ratusan atau ribuan tahun lamanya sebelum akhirnya dituangkan ke dalam bentuk tulisan (mirip dengan prosesi penulisan hadits namun tanpa kejelasan sanad (urutan orang2 yang menyampaikan) --> tolong koreksi kalau ingatan saya yang pendek ini salah, Bang Bruce.

Apakah bro Husada memiliki pendapat bahwa apa yang tertuang di dalam Kitab Kejadian, Keluaran, dsb itu benar2 100% luput dari kesalahan dan tidak memiliki penyimpangan dari apa yang terjadi sesungguhnya di zaman nabi2 yang diceritakan di dalamnya?
Kembali Ke Atas Go down
heinskle
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 326
Join date : 04.12.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   5th February 2012, 03:15

Silancah wrote:

Untuk yang satu ini saya ucapkan kepada Anda .. lakum diinukum waliyadiin ... untukmu agamamu untukku agamaku.
Walaupun saya kemungkinan besar tidak setuju dengannya, saya tetap menghormati apa yang ditunjukkan oleh mata rohani Anda .

Well ....well.....well.....
" .. lakum diinukum waliyadiin ... untukmu agamamu untukku agamaku. .."

maaf, saya kutip kalimat anda diatas...
Jika islam getol menggunakan kalimat " .. lakum diinukum waliyadiin ... untukmu agamamu untukku agamaku. ", kaum anda selalu menuduh dan menjelekan agama orang lain dengan tuduhan " kitab suci telah dipalsukan, kafir dll...." ?
bukankah itu 'munafik' brother...??? d\'oh d\'oh d\'oh

Silancah wrote:

Kecuali setelah Yesus datang ... aturan di Taurat menjadi boleh dilanggar ... maaf, maksudnya menjadi tidak usah dituruti, ya?
Karena sudah ada yang menggenapkannya ...

Kemudian Muhammad memporakporandakannya .... bukan begitu bro ?? d\'oh

Silancah wrote:

Coba kita lihat apa yang diyakini oleh umat Katolik (dan mungin diyakini oleh umat Protestan pula) ...

Saya kutipkan dari ini --> [You must be registered and logged in to see this link.]

In broad terms, Christians must not love violence. They must promote peace whenever possible and be slow to resort to the use of arms. But they must not be afraid to do so when it is called for. Evil must not be allowed to remain unchecked.

Kesimpulannya:
As the Second Vatican Council noted, "insofar as men are sinful, the threat of war hangs over them, and hang over them it will until the return of Christ" (Gaudium et Spes 78). The danger of war will never be completely removed prior to the Second Coming.
Christ's followers must be willing to meet this challenge. They must be willing to wage war when it is just and they must be willing to wage it in a just manner.

Katekismus 2308 menyebutkan "However, "as long as the danger of war persists and there is no international authority with the necessary competence and power, governments cannot be denied the right of lawful self-defense, once all peace efforts have failed.""

Katekismus 2265 menyebutkan "Legitimate defense can be not only a right but a grave duty for one who is responsible for the lives of others. The defense of the common good requires that an unjust aggressor be rendered unable to cause harm. For this reason, those who legitimately hold authority also have the right to use arms to repel aggressors against the civil community entrusted to their responsibility. "

Katekismus 2267 menyebutkan "Assuming that the guilty party's identity and responsibility have been fully determined, the traditional teaching of the Church does not exclude recourse to the death penalty, if this is the only possible way of effectively defending human lives against the unjust aggressor. "

Hahaha....@ Silancah

Lalu bagaimana dengan firman Allah kepada Daud dibawah ini,

28:2 Lalu berdirilah raja Daud dan berkata: "Dengarlah, hai saudara-saudaraku dan bangsaku! Aku bermaksud hendak mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN dan untuk tumpuan kaki Allah kita; juga aku telah membuat persediaan untuk mendirikannya.
28:3 Tetapi Allah telah berfirman kepadaku: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah ( I Tawarikh 28:2-3 )

bukankah Allah tetap menyatakan segala yang diperbuat oleh Daud adalah dosa, sehingga Ia tidak berkenan akan persembahan rumah bagi-Nya oleh tangan Daud.

well...well....well.......

Dosa ...tetap dosa, tidak ada kompromi bagi Allah, kecuali didalam islam ada 'exceptional' demi kepuasan ...(barangkali)

well....well....well.....

Sura 4:3 mengatakan bahawa orang lelaki boleh mempunyai paling banyak empat orang isteri,
tetapi Sura 33:50 membenarkan pengecualian kepada Muhamad.

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim , maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil , maka seorang saja , atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. ( Qs.4:3 )

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki
yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mu'min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu'min. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs.33:50 )

EXCEPTIONAL firman yang diturunkan kepada Muhammad, dengan penekanan kalimat ' sebagai pengkhususan bagimu ' utk.......
Woww...This is a special exceptional ...juga menikmati perempuan rampasan perang;
Again, exceptional for Muhammad... menerima ... bagi wanita yang menyerahkan diri alias 'pasrah' utk .....

Maaf,..ketentuan diatas BUKAN untuk pengikut Muhammad .. jadi silakan gigit jari bro'....
cukup empat saja bro' utk anda, itupun jika berkeinginan berpoligami

well...well....well.....
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   5th February 2012, 08:41

Quote :
28:2 Lalu berdirilah raja Daud dan berkata: "Dengarlah, hai saudara-saudaraku dan bangsaku! Aku bermaksud hendak mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN dan untuk tumpuan kaki Allah kita; juga aku telah membuat persediaan untuk mendirikannya.
28:3 Tetapi Allah telah berfirman kepadaku: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah ( I Tawarikh 28:2-3 )

Betul sekali, bro.
Memang betul, bahwa David berperang demi umat Allah, bahwa betul David membunuh atas ijin Allah.
Tetapi perintah Allah adalah tegas dan pasti, manusia tidak memiliki hak mencabut nyawa manusia lain.
Karenanya, konsekuensi dari pelanggaran itu tetap harus diterima David, antara lain namanya tidak berhak dikenang sebagai pendiri Bait Allah.

Bagaimana dengan orang yang 'mengatas namakan' Allah untuk melakukan pembunuhan? Hanya Allah yang tahu, dan mungkin kelak baru kita mengetahuinya.

Syalom

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
striker
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1393
Join date : 03.02.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   5th February 2012, 20:34

bruce wrote:
Quote :
28:2 Lalu berdirilah raja Daud dan berkata: "Dengarlah, hai saudara-saudaraku dan bangsaku! Aku bermaksud hendak mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN dan untuk tumpuan kaki Allah kita; juga aku telah membuat persediaan untuk mendirikannya.
28:3 Tetapi Allah telah berfirman kepadaku: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah ( I Tawarikh 28:2-3 )

Betul sekali, bro.
Memang betul, bahwa David berperang demi umat Allah, bahwa betul David membunuh atas ijin Allah.
Tetapi perintah Allah adalah tegas dan pasti, manusia tidak memiliki hak mencabut nyawa manusia lain.
Karenanya, konsekuensi dari pelanggaran itu tetap harus diterima David, antara lain namanya tidak berhak dikenang sebagai pendiri Bait Allah.

Bagaimana dengan orang yang 'mengatas namakan' Allah untuk melakukan pembunuhan? Hanya Allah yang tahu, dan mungkin kelak baru kita mengetahuinya.

Syalom

Bagaimana dengan pembunuhan Yesus mas, atas nama apakah pembunuhan tersebut dan apakah itu termasuk perintah Allah?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   5th February 2012, 21:00

striker wrote:
bruce wrote:
Quote :
28:2 Lalu berdirilah raja Daud dan berkata: "Dengarlah, hai saudara-saudaraku dan bangsaku! Aku bermaksud hendak mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN dan untuk tumpuan kaki Allah kita; juga aku telah membuat persediaan untuk mendirikannya.
28:3 Tetapi Allah telah berfirman kepadaku: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah ( I Tawarikh 28:2-3 )

Betul sekali, bro.
Memang betul, bahwa David berperang demi umat Allah, bahwa betul David membunuh atas ijin Allah.
Tetapi perintah Allah adalah tegas dan pasti, manusia tidak memiliki hak mencabut nyawa manusia lain.
Karenanya, konsekuensi dari pelanggaran itu tetap harus diterima David, antara lain namanya tidak berhak dikenang sebagai pendiri Bait Allah.

Bagaimana dengan orang yang 'mengatas namakan' Allah untuk melakukan pembunuhan? Hanya Allah yang tahu, dan mungkin kelak baru kita mengetahuinya.

Syalom

Bagaimana dengan pembunuhan Yesus mas, atas nama apakah pembunuhan tersebut dan apakah itu termasuk perintah Allah?

Maksudnya gimana sih, mas?
Sepertinya ngga masuk konteks deh

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
heinskle
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 326
Join date : 04.12.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   6th February 2012, 12:08

striker wrote:


Bagaimana dengan pembunuhan Yesus mas, atas nama apakah pembunuhan tersebut dan apakah itu termasuk perintah Allah?

Woiii.... bangun !!!
lagi bermimpi ya ??

well...well....well....
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   6th February 2012, 16:13

Damai bagimu Cah.
Quote :
Mengomentari postingan di atas ... siapakah yang telah menubuatkan kedatangan Yesus Kristus. Dan di manakan tertulis nubuatan tersebut?
Dipercayai berdasarkan penelitian-penelitian, lima kitab pertama Perjanjian Lama sebagian besar ditulis oleh Musa. Dan, itu saya imani. Artinya, lima kitab pertama Perjanjian Lama tidak seluruhnya ditulis oleh Musa, besar kemungkinan kitab-kitab itu telah diedit oleh orang sesudah Musa, sebab ada bagian kisah dalam kitab itu berceritera tentang kematian dan peristiwa setelah Musa dimakamkan. Siapa person penulis kitab-kitab itu belum pernah saya baca atau teliti. Tentang kitab-kitab lain Perjanjian Lama, penulisnya bukan Musa.

Teman lain bisa bantu Silancah?
Quote :
Saya rasa selama kedua kelompok ini tidak memaksakan kebenaran yang dirasakan olehnya kepada kelompok lain ... dan hanya membahas perselisihan pemahaman itu di dalam kelompoknya masing2 .... seharusnya tidak terjadi gesekan2. Bukan begitu?
Perasaan Silancah dalam hal itu menurut hemat saya, "SANGAT BENAR". Perbedaan pemahaman itu menimbulkan gesekan apabila perbedaan pemahaman itu dibicarakan oleh kalangan berbeda. Atau... meski dibicarakan dalam kalangan sendiri, bila menggunakan pengeras suara dan akhirnya terdengar oleh kalangan berbeda.
Quote :
Rasanya saya pernah membahas hal ini (keabsahan Perjanjian Lama) di LT yang lama dengan Bang Bruce.
Wah, ketika di LT, saya belum sempat membaca semua topik, keburu LT-nya hilang. Sekarang ada LTB, belum ada trit yang membahas hal itu. Semoga ada pihak yang mempunyai perbendaharaan informasi cukup, bersedia membukakan tritnya. Bagus untuk disimak.
Quote :
Apakah bro Husada memiliki pendapat bahwa apa yang tertuang di dalam Kitab Kejadian, Keluaran, dsb itu benar2 100% luput dari kesalahan dan tidak memiliki penyimpangan dari apa yang terjadi sesungguhnya di zaman nabi2 yang diceritakan di dalamnya?
Entah di trit mana, atau forum mana, saya sudah pernah mengutarakan pemahaman saya mengenai hal tersebut, yaitu saya mempercayai bahwa apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama, tidak identik seperti keterjadiannya. Contoh sederhana, bila dihitung dari generasi Adam sampai jamannya Yesus, katakanlah 50 generasi. Kalau tiap generasi berumur 1000 tahun, berarti baru berumur 50.000 tahun. Sementara, banyak temuan arkeolog yang diperkirakan berdasarkan disiplin ilmu yang telah diuji, bahwa usia temuan itu sudah ratusan ribu tahun. Nah, ada kesenjangan, bukan?

Karena pemahaman seperti itu, saya tidak mempercayai bulat-bulat apa yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Lama. Yang saya tangkap, kisah-kisah Perjanjian Lama itu adalah untuk menggambarkan penumbuhan iman percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan seluruh kisah Perjanjian Lama mengacu pada kedatangan dan pelayanan Yesus di dunia.

Quote :
Jawabannya mudah ... karena umat Muslim
mengetahui tentang Kristus dan ajarannya dari wahyu Allah al Wahid yang
tertuang di dalam Kitab Suci yaitu Al Quran ... hehehe
Silancah bukan ingin mengatakan bahwa Kristus dikisahkan dalam Al Qur'an, bukan? Silancah pernah mendengar atau membaca kisah mengenai Yesus Kristus selain Isa Putera Maryam dalam Al Qur'an? Menurut pendapat saya, meski belum saya baca sampai khatam dan bukunya sudah entah dimana, dalam Al Qur'an dan Terjemahannya terbitan Departemen Agama tahun 1966, tidak dikisahkan Yesus Kristus, melainkan Isa Putera Maryam. Kisah-kisah mengenai Isa Putera Maryam itu sangat banyak kemiripannya denga kisah Yesus Kristus, namun tidak identik.

Kalau, kaum Muslim mempelajari atau membahas tentang Isa Putera Maryam berdasarkan ayat-ayat Al Qur'an yang ada setelah abad ke enam, dan itu dipelajari atau dibahas di kalangan sendiri, tidak mungkin ada gesekan. Karena ada pihak yang ingin mencari kebenaran sejati, maka pembahasan itu dipublikasi secara terbuka, kemudian selanjutnya mendapat tanggapan terbuka juga, maka timbul gesekan karena kedua kelompok merasa membicarakan sosok yang sama antara Yesus Kristus dan Isa Putera Maryam.

Padahal, kisah Yesus Kristus sudah tertulis seperti sekarang ini paling tidak sejak tahun 200 M, yang kemudian pada abad ke enam terbit kisah Isa Putera Maryam yang banyak kemiripan dengan kisah Yesus Kristus. Nah, menjadi janggal kalau kemudian para pendengar kisah Isa Putera Maryam memaksakan pendapat bahwa Isa Putera Maryam adalah Yesus Kristus, dan mengajukan tuduhan bahwa Injil telah dirubah hingga kisah Isa Putera Maryam tidak identik dengan kisah Yesus Kristus.

Saya pikir, yang mungkin adalah bahwa penulis Al Qur'an yang nota bene telah bergaul dengan pendeta Kristen, banyak mendengar kisah tentang Yesus Kristus. Kemudian kisah-kisah itu direkonstruksi lagi dengan bahasa sendiri, maka disana-sini ada perbedaan dengan kisah Yesus Kristus yang telah tertulis dalam Injil sejak dikanon.

Dan kalau kembali ke bagimu agamamu bagiku agamaku, saya kira tidak jadi masalah. Masing-masing kelompok mengimani yang paling sesuai dengan pikirannya. Silancah benar, tidak akan menimbulkan gesekan kalau masing-masing pihak tidak hendak memaksakan pemahamannyalah yang benar.

Damai bagi LTBers.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   6th February 2012, 17:31

Kira kira ini data yang saya bisa berikan mengenai penulis dan keaslian kitab2 PL. Oiya, jangan lupakan juga bahwa ada Dead sea scroll, yakni temuan yang berisi gulungan kitab-kitab PL, yang isinya mengkonfirmasi isi kitab PL.


Authenticity

The contents of the Pentateuch furnish the basis for the history, the law, the worship, and the life of the Chosen People of God. Hence the authorship of the work, the time and manner of its origin, and its historicity are of paramount importance. These are not merely literary problems, but questions belonging to the fields of history of religion and theology. The Mosaic authorship of the Pentateuch is inseparably connected with the question, whether and in what sense Moses was the author or intermediary of the Old-Testament legislation, and the bearer of pre-Mosaic tradition. According to the trend of both Old and New Testament, and according to Jewish and Christian theology, the work of the great lawgiver Moses is the origin of the history of Israel and the basis of its development down to the time of Jesus Christ; but modern criticism sees in all this only the result, or the precipitate, of a purely natural historical development. The question of the Mosaic authorship of the Pentateuch leads us, therefore, to the alternative, revelation or historical evolution; it touches the historical and theological foundation of both the Jewish and the Christian dispensation. We shall consider the subject first in the light of Scripture; secondly, in the light of Jewish and Christian tradition; thirdly, in the light of internal evidence, furnished by the Pentateuch; finally, in the light of ecclesiastical decisions.

Testimony of Sacred Scripture

It will be found convenient to divide the Biblical evidence for the Mosaic authorship of the Pentateuch into three parts: (1) Testimony of the Pentateuch; (2) Testimony of the other Old-Testament books; (3) Testimony of the New Testament.

Witness of the Pentateuch

The Pentateuch in its present form does not present itself as a complete literary production of Moses. It contains an account of Moses' death, it tells the story of his life in the third person and in an indirect form, and the last four books do not exhibit the literary form of memoirs of the great lawgiver; besides, the expression "God said to Moses" shows only the Divine origin of the Mosaic laws but does not prove that Moses himself codified in the Pentateuch the various laws promulgated by him. On the other hand, the Pentateuch ascribes to Moses the literary authorship of at least four sections, partly historical, partly legal, partly poetical. (a) After Israel's victory over the Amalecites near Raphidim, the Lord said to Moses (Exodus 17:14): "Write this for a memorial in a book, and deliver it to the ears of Josue." This order is naturally restricted to Amalec's defeat, a benefit which God wished to keep alive in the memory of the people (Deuteronomy 25:17-19). The present pointing of the Hebrew text reads "in the book", but the Septuagint version omits the definite article. Even if we suppose that the Massoretic pointing gives the original text, we can hardly prove that the book referred to is the Pentateuch, though this is highly probable (cf. von Hummelauer "Exodus et Leviticus", Paris, 1897, p. 182; Idem, "Deuteronomium", Paris, 1901, p. 152; Kley, "Die Pentateuchfrage", Munster, 1903, p. 217). (b) Again, Exodus 24:4: "And Moses wrote all the words of the Lord." The context does not allow us to understand these words in an indefinite manner, but as referring to the words of the Lord immediately preceding or to the so-called "Book of the Covenant", Exodus 20-23. (c) Exodus 34:27: "And the Lord said to Moses: Write thee these words by which I have made a covenant both with thee and with Israel." The next verse adds: "and he wrote upon the tables the ten words of the covenant." Exodus 34:1-4, shows how Moses had prepared the tables, and Exodus 34:10-26, gives us the contents of the ten words. (d) Numbers 33:1-2: "These are the mansions of the children of Israel, who went out of Egypt by their troops under the conduct of Moses and Aaron, which Moses wrote down according to the places of their encamping." Here we are informed that Moses wrote the list of the people's encampments in the desert; but where it this list to be found? Most probably it is given in Numbers 33:3-49, or the immediate context of the passage telling of Moses' literary activity; there are, however, scholars who understand this latter passage as referring to the history of Israel's departure from Egypt written in the order of the people's encampments, so that it would be our present Book of Exodus. But this view is hardly probable; for its assumption that Numbers 33:3-49, is a summary of Exodus cannot be upheld, as the chapter of Numbers mentions several encampments not occurring in Exodus.

Besides these four passages there are certain indications in Deuteronomy which point to the literary activity of Moses. Deuteronomy 1:5: "And Moses began to expound the law and to say"; even if the "law" in this text refer to the whole of the Pentateuchal legislation, which is not very probable, it shows only that Moses promulgated the whole law, but not that he necessarily wrote it. Practically the entire Book of Deuteronomy claims to be a special legislation promulgated by Moses in the land of Moab: iv, 1-40; 44-49; v, 1 sqq.; xii, 1 sqq. But there is a suggestion of writing too: xvii, 18-9, enjoins that the future kings are to receive a copy of this law from the priests in order to read and observe it; xxvii, 1-8, commands that on the west side of the Jordan "all the words of this law" be written on stones set up in Mount Hebal; xxviii, 58, speaks of "all the words of this law, that are written in this volume" after enumerating the blessings and curses which will come upon the observers and violators of the law respectively, and which are again referred to as written in a book in xxix, 20, 21, 27, and xxxii, 46, 47; now, the law repeatedly referred to as written in a book must be at least the Deuteronomic legislation. Moreover, xxxi, 9-13 states, "and Moses wrote this law", and xxxi, 26, adds, "take this book, and put it in the side of the ark. . .that it may be there for a testimony against thee"; to explain these texts as fiction or as anachronisms is hardly compatible with the inerrancy of Sacred Scripture. Finally, xxxi, 19, commands Moses to write the canticle contained in Deuteronomy 32:1-43.

The Scriptural scholar will not complain that there are so few express indications in the Pentateuch of Moses' literary activity; he will rather be surprised at their number. As far as explicit testimony for its own, at least partial, authorship is concerned, the Pentateuch compares rather favourably with many other books of the Old Testament.

Witness of other Old Testament books

(a) Josue.-The narrative of the Book of Josue presupposes not merely the facts and essential ordinances contained in the Pentateuch, but also the law given by Moses and written in the book of the law of Moses: Joshua 1:7-8; 8:31; 22:5; 23:6. Josue himself "wrote all these things in the volume of the law of the Lord" (xxiv, 26). Prof. Hobverg maintains that this "volume of the law of the Lord" is the Pentateuch ("Über den Ursprung des Pentateuchs" in "Biblische Zeitschrift", 1906, IV, 340); Mangenot believes that it refers at least to Deuteronomy (Dict. de la Bible, V, 66). At any rate, Josue and his contemporaries were acquainted with a written Mosaic legislation, which was divinely revealed.

(b) Judges; I, II Kings.-In the Book of Judges and the first two Books of Kings there is no explicit reference to Moses and the book of the law, but a number of incidents and statements presuppose the existence of the Pentateuchal legislation and institutions. Thus Judges 15:8-10, recalls Israel's delivery from Egypt and its conquest of the Promised Land; Judges 11:12-28, states incidents recorded in Numbers 20:14; 21:13, 24; 22:2; Judges 13:4, states a practice founded on the law of the Nazarites in Numbers 6:1-21; Judges 18:31, speaks of the tabernacle existing in the times when there was no king in Israel; Judges 20:6-8 mentions the ark of the covenant, the various kinds of sacrifices, and the Aaronic priesthood. The Pentateuchal history and laws are similarly presupposed in 1 Samuel 10:18; 15:1-10; 10:25; 21:1-6; 22:6 sqq.; 23:6-9; 2 Samuel 6.

(c) 1 and 2 Kings.-The last two Books of Kings repeatedly speak of the law of Moses. To restrict the meaning of this term to Deuteronomy is an arbitrary exegesis (cf. 1 Kings 2:3; 10:31); Amasias showed mercy to the children of the murderers "according to that which is written in the book of the law of Moses" (2 Kings 14:6); the sacred writer records the Divine promise of protecting the Israelites "Only if they will observe to do all that I have commanded them according to the law which my servant Moses commanded them" (2 Kings 21:Cool. In the eighteenth year of the reign of Josias was found the book of the law (2 Kings 22:8, 11), or the book of the covenant (2 Kings 23:2), according to which he conducted his religious reform (2 Kings 23:10-24), and which is identified with "the law of Moses" (2 Kings 23:25). Catholic commentators are not at one whether this law-book was Deuteronomy (von Hummelauer, "Deuteronomium", Paris, 1901, p. 40-60, 83-7) or the entire Pentateuch (Clair, "Les livres des Rois", Paris, 1884, II, p. 557 seq.; Hoberg, "Moses und der Pentateuch", Frieburg, 1905, p. 17 seq.; "uber den Ursprung des Pentateuchs" in "Biblische Zeitschrift", 1906, IV, pp. 338-40).
(d) Paralipomenon.-The inspired writer of Paralipomenon refers to the law and the book of Moses much more frequently and clearly. The objectionable names and numbers occurring in these books are mostly due to transcribers. The omission of incidents which would detract from the glory of the Israelite kings or would not edify the reader is not detrimental to the credibility or veracity of the work. Otherwise one should have to place among works of fiction a number of biographical or patriotic publications intended for the young or for the common reader. On their part, the modern critics are too eager to discredit the authority of Paralipomena. "After removing the account of Paralipomena", writes de Wette (Beitrage, I, 135), "the whole Jewish history assumes another form, and the Pentateuchal investigations take another turn; a number of strong proofs, hard to explain away, for the early existence of the Mosaic books have disappeared, the other vestiges of their existence are placed in a different light." A glance at the contents of Paralipomenon suffices to explain the efforts of de Witte and Wellhausen to disprove the historicity of the books. Not only are the genealogies (1 Chronicles 1-9) and the descriptions of worship traced after the data and laws of the Pentateuch, but the sacred writer expressly points out their conformity with what is written in the law of the Lord (1 Chronicles 16:40), in the law of Moses (2 Chronicles 23:18; 31:3), thus identifying the law of the Lord with that written by Moses (cf. 2 Chronicles 25:4). The reader will find similar indications of the existence and the Mosaic origin of the Pentateuch in 1 Chronicles 22:12 seq.; 2 Chronicles 17:9; 33:4; 34:14; 35:12. By an artificial interpretation, indeed, the Books of Paralipomenon may be construed to represent the Pentateuch as a book containing the law promulgated by Moses; but the natural sense of the foregoing passages regards the Pentateuch as a book edited by Moses.

(e) I, II Esdras.-The Books of Esdras and Nehemias, too, taken in their natural and commonly accepted sense, consider the Pentateuch as the book of Moses, not merely as a book containing the law of Moses. This contention is based on the study of the following texts: I Esd., iii, 2 sqq.; vi, 18; vii, 14; II Esd., i, 7 sqq.; viii, 1, 8, 14; ix, 3; x, 34, 36; xiii, 1-3. Graf and his followers expressed the view that the book of Moses referred to in these texts is not the Pentateuch, but only the Priestly Code; but when we keep in mind that the book in question contained the laws of Lev., xxiii, and Deuteronomy 7:2-4; 15:2, we perceive at once that the book of Moses cannot be restricted to the Priestly Code. To the witness of the historical books we may add II Mach., ii, 4; vii, 6; Judith 8:23; Sirach 24:33; 45:1-6; 45:18, and especially the Preface of Ecclus.

(f) Prophetic Books.-Express reference to the written law of Moses is found only in the later Prophets: Bar., ii, 2, 28; Daniel 9:11-13; Mal., iv, 4. Among these, Baruch knows that Moses has been commanded to write the law, and though his expressions run parallel to those of Deuteronomy 28:15, 53, 62-64, his threats contain allusions to those contained in other parts of the Pentateuch. The other Prophets frequently refer to the law of the Lord guarded by the priests (cf. Deuteronomy 31:9), and they put it on the same level with Divine Revelation and the eternal covenant of the Lord. They appeal to God's covenant, the sacrificial laws the calendar of feasts, and other laws of the Pentateuch in such a way as to render it probable that a written legislation formed the basis of their prophetic admonitions (cf. Hosea 8:12), and that they were acquainted with verbal expressions of the book of the law. Thus in the northern kingdom Amos (iv, 4-5; v, 22 sqq.) and Isaias in the south (1:11 sqq.) employ expressions which are practically technical words for sacrifice occurring in Lev., i-iii; vii, 12, 16; and Deuteronomy 12:6.

Witness of the New Testament

We need not show that Jesus and the Apostles quoted the whole of the Pentateuch as written by Moses. If they attributed to Moses all the passages which they happen to cite, if they ascribe the Pentateuch to Moses whenever there is question of its authorship, even the most exacting critics must admit that they express their conviction that the work was indeed written by Moses. When the Sadducees quote against Jesus the marriage law of Deuteronomy 25:5, as written by Moses (Matthew 22:24; Mark 12:19; Luke 20:28), Jesus does not deny the Mosaic authorship, but appeals to Exodus 3:6, as equally written by Moses (Mark 12:26; Matthew 22:31; Luke 20:37). Again, in the parable of Dives and Lazarus (Luke 16:29), He speaks of "Moses and the prophets", while on other occasions He speaks of "the law and the prophets" (Luke 16:16), thus showing that in His mind the law, or the Pentateuch, and Moses are identical. The same expressions reappear in the last discourse addressed by Christ to His disciples (Luke 24:44-6; cf. 27): "which are written in the law of Moses, and in the prophets, and in the psalms concerning me". Finally, in John 5:45-47, Jesus is more explicit in asserting the Mosaic authorship of the Pentateuch: "There is one that accuseth you, Moses. . .for he wrote of me. But if you do not believe his writings, how will you believe my words?" Nor can it be maintained that Christ merely accommodated himself to the current beliefs of his contemporaries who considered Moses as the author of the Pentateuch not merely in a moral but also in the literary sense of authorship. Jesus did not need to enter into the critical study of the nature of Mosaic authorship, but He could not expressly endorse the popular belief, if it was erroneous.

The Apostles too felt convinced of, and testified to, the Mosaic authorship. "Philip findeth Nathanael, and saith to him: We have found him of whom Moses in the law, and the prophets did write." St. Peter introduces a quotation from Deuteronomy 18:15, with the words: "For Moses said" (Acts 3:22). St. James and St. Paul relate that Moses is read in the synagogues on the Sabbath day (Acts 15:21; 2 Corinthians 3:15). The great Apostle speaks in other passages of the law of Moses (Acts 13:33; 1 Corinthians 9:9); he preaches Jesus according to the law of Moses and the Prophets (Acts 28:23), and cites passages from the Pentateuch as words written by Moses (Romans 10:5-8; 19). St. John mentions the canticle of Moses (Revelation 15:3).

Witness of Tradition

The voice of tradition, both Jewish and Christian, is so unanimous and constant in proclaiming the Mosaic authorship of the Pentateuch that down to the seventeenth century it did not allow the rise of any serious doubt. The following paragraphs are only a meagre outline of this living tradition.

Jewish tradition

It has been seen that the books of the Old Testament, beginning with those of the Pentateuch, present Moses as the author of at least parts of the Pentateuch. The writer of the Books of Kings believes that Moses is the author of Deuteronomy at least. Esdras, Nehemias, Malachias, the author of Paralipomena, and the Greek authors of the Septuagint Version consider Moses as the author of the whole Pentateuch. At the time of Jesus Christ and the Apostles friend and foe take the Mosaic authorship of the Pentateuch for granted; neither our Lord nor His enemies take exception to this assumption. In the first century of the Christian era, Josephus ascribes to Moses the authorship of the entire Pentateuch, not excepting the account of the lawgiver's death ("Antiq. Jud.", IV, viii, 3-48; cf. I Procem., 4; "Contra Apion.", I, Cool. The Alexandrian philosopher Philo is convinced that the entire Pentateuch is the work of Moses, and that the latter wrote a prophetic account of his death under the influence of a special divine inspiration ("De vita Mosis", ll. II, III in "Opera", Geneva, 1613, pp. 511, 538). The Babylonian Talmud ("Baba-Bathra", II, col. 140; "Makkoth", fol. IIa; "Menachoth", fol. 30a; cf. Vogue, "Hist. de la Bible et de l'exegese biblique jusqua'a nos jours", Paris, 1881, p. 21), the Talmud of Jerusalem (Sota, v, 5), the rabbis, and the doctors of Israel (cf. Furst, "Der Kanon des Alten Testaments nach den Überlieferungen im Talmud und Midrasch", Leipzig, 1868, pp. 7-9) bear testimony to the continuance of this tradition for the first thousand years. Though Isaac ben Jasus in the eleventh century and Abenesra in the twelfth admitted certain post-Mosaic additions in the Pentateuch, still they as well as Maimonides upheld its Mosaic authorship, and did not substantially differ in this point from the teaching of R. Becchai (thirteenth cent.), Joseph Karo, and Abarbanel (fifteenth cent.; cf. Richard Simon, "Critique de la Bibl. des aut. eccles. de E. Dupin", Paris, 1730, III, pp. 215-20). Only in the seventeenth century, Baruch Spinoza rejected the Mosaic authorship of the Pentateuch, pointing out the possibility that the work might have been written by Esdras ("Tract. Theol.-politicus", c. viii, ed. Tauchnitz, III, p. 125). Among the more recent Jewish writers several have adopted the results of the critics, thus abandoning the tradition of their forefathers.

Christian tradition

The Jewish tradition concerning the Mosaic authorship of the Pentateuch was brought in to the Christian Church by Christ Himself and the Apostles. No one will seriously deny the existence and continuance of such a tradition from the patristic period onward; one might indeed be curious about the interval between the time of the Apostles and beginning of the third century. For this period we may appeal to the "Epistle of Barnabas" (x, 1-12; Funk, "Patres apostol.", 2nd ed., Tübingen, 1901, I, p. 66-70; xii, 2-9k; ibid., p. 74-6), to St. Clement of Rome (1 Corinthians 41:1; ibid., p. 152), St. Justin ("Apol. I", 59; P.G., VI, 416; I, 32, 54; ibid., 377, 409; Dialogue with Trypho 29), to the author of "Cohort. Ad Graec." (9, 28, 30, 33, 34; ibid., 257, 293, 296-7, 361), to St. Theophilus ("Ad Autol.", III, 23; ibid., 1156; 11, 30; ibid., 1100), to St. Irenæus (Cont. haer., I, ii, 6; P.G., VII, 715-6), to St. Hippolytus of Rome ("Comment. In Deut.", xxxi, 9, 31, 35; cf. Achelis, "Arabische Fragmente etc.", Leipzig, 1897, I, 118; "Philosophumena", VIII, 8; X, 33; P.G., XVI, 3350, 3448), to Tertullian of Carthage (Adv. Hermog., XIX; P.L., II, 214), to Origen of Alexandria (Contra. Cels., III, 5-6; P.G., XI, 928; etc.), to St. Eustathius of Antioch (De engastrimytha c. Orig., 21; P.G., XVIII, 656); for all these writers, and others might be added, bear witness to the continuance of the Christian tradition that Moses wrote the Pentateuch. A list of the later Fathers who bear witness to the same truth may be found in Mangenot's article in the "Dict. de la Bible" (V, 74 seq.). Hoberg (Moses und der Pentateuch, 72 seq.) has collected the testimony for the existence of the tradition during the Middle Ages and in more recent times.

But Catholic tradition does not necessarily maintain that Moses wrote every letter of the Pentateuch as it is today, and that the work has come down to us in an absolutely unchanged form. This rigid view of the Mosaic authorship began to develop in the eighteenth century, and practically gained the upper hand in the nineteenth. The arbitrary treatment of Scripture on the part of Protestants, and the succession of the various destructive systems advanced by Biblical criticism, caused this change of front in the Catholic camp. In the sixteenth century Card. Bellarmine, who may be considered as a reliable exponent of Catholic tradition, expressed the opinion that Esdras had collected, readjusted, and corrected the scattered parts of the Pentateuch, and had even added the parts necessary for the completion of the Pentateuchal history (De verbo Dei, II, I; cf. III, iv). The views of Génebrard, Pereira, Bonfrere, a Lapide, Masius, Jansenius, and of other notable Biblicists of the sixteenth and seventeenth centuries are equally elastic with regard to the Mosaic authorship of the Pentateuch. Not that they agree with the contentions of our modern Biblical criticism; but they show that today's Pentateuchal problems were not wholly unknown to Catholic scholars, and that the Mosaic authorship of the Pentateuch as determined by the Biblical Commission is no concession forced on the Church by unbelieving Bible students.

Voice of internal evidence

The possibility of producing a written record at the time of Moses is no longer contested. The art of writing was known long before the time of the great lawgiver, and was extensively practised both in Egypt and Babylon. As to the Israelites, Flinders Petrie infers from certain Semitic inscriptions found in 1905 on the Sinaitic peninsula, that they kept written accounts of their national history from the time of their captivity under Ramses II. The Tell-el-Amarna tablets show the language of Babylon was in a way the official language at the time of Moses, known in Western Asia, Palestine, and Egypt; the finds of Taanek have confirmed this fact. But it cannot be inferred from this that the Egyptians and Israelites employed this sacred or official language among themselves and in their religious documents (cf. Benzinger, "Hebraische Archaologie", 2nd ed., Tübingen, 1907, p. 172 sqq.). It is not merely the possibility of writing at the time of Moses and the question of language that confronts us here; there is the further problem of the kind of written signs used in the Mosaic documents. The hieroglyphic and cuneiform signs were widely employed at that early date; the oldest inscriptions written in alphabetical characters date only from the ninth century B.C. But there can hardly be any doubt as to the higher antiquity of alphabetic writing, and there seems to be nothing to prevent our extending it back to the time of Moses. Finally, the Code of Hammurabi, discovered in Susa in 1901 by the French expedition funded by Mr. And Mrs. Dieulafoy, shows that even in pre-Mosaic times legal enactments were committed to, and preserved in, writing; for the Code antedates Moses some five centuries, and contains about 282 regulations concerning various contingencies in the civic life.
Thus far it has been shown negatively that an historic and legal document claiming to be written at the time of Moses involves no antecedent improbability of its authenticity. But the internal characteristics of the Pentateuch show also positively that the work is at least probably Mosaic. It is true that the Pentateuch contains no express declaration of its entire Mosaic authorship; but even the most exacting of critics will hardly require such testimony. It is practically lacking in all other books, whether sacred or profane. On the other hand, it has already been shown that four distinct passages of the Pentateuch are expressly ascribed to the authorship of Moses. Deuteronomy 31:24-29, is especially noted; for it knows that Moses wrote the "words of this law in a volume" and commanded it to be placed in the ark of the covenant as a testimony against the people who have been so rebellious during the lawgiver's life and will "do wickedly" after his death. Again, a number of legal sections, though not explicitly ascribed to the writing of Moses, are distinctly derived from Moses as the lawgiver. Besides, many of the Pentateuchal laws bear evidence of their origin in the desert; hence they too lay an indirect claim to Mosaic origin. What has been said of a number of Pentateuchal laws is equally true of several historical sections. These contain in the Book of Numbers, for instance, so many names and numbers that they must have been handed down in writing. Unless the critics can bring irrefutable evidence showing that in these sections we have only fiction, they must grant that these historical details were written down in contemporary documents, and not transmitted by mere oral tradition. Moreover, Hommel ("Die altisraelitische Überlieferung in inschriftlicher Beleuchtung", p. 302) has shown that the names in the lists of the Book of Numbers bear the character of the Arabian names of the second millennium before Christ, and can have originated only in the time of Moses, though it must be admitted that the text of certain portions, e.g., Numbers 13, has suffered in its transmission. We need not remind the reader that numerous Pentateuchal laws and data imply the conditions of a nomadic life of Israel. Finally, both the author of the Pentateuch and its first readers must have been more familiar with the topography and the social conditions of Egypt and with the Sinaitic peninsula than with the land of Chanaan. Cf., e.g., Deuteronomy 8:7-10 and 11:10 sqq. These internal characteristics of the Pentateuch have been developed at greater length by Smith, "The Book of Moses or the Pentateuch in its Authorship, Credibility, and Civilisation", London, 1868; Vigouroux, "La Bible et les decouvertes modernes", 6th ed., Paris, 1896, I, 453-80; II, 1-213, 529-47, 586-91; Idem, Les Livres Saints et la critique rationaliste", Paris, 1902, III, 28-46, 79-99, 122-6; Heyes, "Bibel und Ægypten", Munster, 1904, p. 142; Cornely, "Introductio specialis in histor. Vet. Test. libros", I, Paris, 1887, pp. 57-60; Poole, "Ancient Egypt" in "Contemporary Review", March, 1879, pp. 757-9.

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
striker
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1393
Join date : 03.02.11

PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   6th February 2012, 18:56

bruce wrote:
striker wrote:
bruce wrote:
Quote :
28:2 Lalu berdirilah raja Daud dan berkata: "Dengarlah, hai saudara-saudaraku dan bangsaku! Aku bermaksud hendak mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN dan untuk tumpuan kaki Allah kita; juga aku telah membuat persediaan untuk mendirikannya.
28:3 Tetapi Allah telah berfirman kepadaku: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah ( I Tawarikh 28:2-3 )

Betul sekali, bro.
Memang betul, bahwa David berperang demi umat Allah, bahwa betul David membunuh atas ijin Allah.
Tetapi perintah Allah adalah tegas dan pasti, manusia tidak memiliki hak mencabut nyawa manusia lain.
Karenanya, konsekuensi dari pelanggaran itu tetap harus diterima David, antara lain namanya tidak berhak dikenang sebagai pendiri Bait Allah.

Bagaimana dengan orang yang 'mengatas namakan' Allah untuk melakukan pembunuhan? Hanya Allah yang tahu, dan mungkin kelak baru kita mengetahuinya.

Syalom

Bagaimana dengan pembunuhan Yesus mas, atas nama apakah pembunuhan tersebut dan apakah itu termasuk perintah Allah?

Maksudnya gimana sih, mas?
Sepertinya ngga masuk konteks deh

Hanya menggaris bawahi dan meneruskan pernyataan dan pertanyaan njenengan aja mas, yg ini lho:

Tetapi perintah Allah adalah tegas dan pasti, manusia tidak memiliki hak mencabut nyawa manusia lain

Bagaimana dengan orang yang 'mengatas namakan' Allah untuk melakukan pembunuhan?

Nah sehingga timbul pertanyaan saya tersebut.
Ya kalau berkenan menjawab ya Alhamdulillah, kalau tidak ya tidak apa kok. :)
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????   Today at 09:13

Kembali Ke Atas Go down
 
Mengapa umat islam sujud ke arah kabah?????
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 4 dari 12Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 10, 11, 12  Next
 Similar topics
-
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» Test Otak & Mata Anda
» UN ditiadakan?
» 20 Alasan Kita Cinta Indonesia
» Wortel, Telur, Biji Kopi

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Forum Terbuka :: Diskusi - Kristen Bertanya Non-Kristen Menjawab-
Navigasi: