Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Tanya Kenapa?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   10th April 2012, 13:39

Princess_Maesaroh wrote:
haiii,,

sebaiknya lady gaga ketika konser nanti mengenakan jilbab saja,, lebih syar'i,, Insya Allah menghindari fithah

Percuma sis, mengenakan jilbab, kalau bagian lainnya diobral, begitu juga kalau gerakannya erotis, sama saja.

Mending ngga usah nonton kalau tidak suka, sayapun tidak.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 10:06

bruce wrote:
Mending ngga usah nonton kalau tidak suka, sayapun tidak.
Jitu. Saya suka ini. Menurut saya, menunjukkan kedewasaan jiwa dan mental, bahwa kalau ada sesuatu yang tidak kita sukai, karena alasan apapun, kita merdeka untuk menjauhinya, tidak perlu memberangus hal itu, wong mungkin orang lain suka.

Contohnya, pada pesta perjamuan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman yang bisa diambil secara swalayan. Undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Tuan pesta tidak mengharusan agar setiap undangan mencicipi semua jenis makanan dan minuman yang disediakan.

Bagi undangan yang karena disposisi dokter melarang mengkonsumsi jeroan, tentu hanya menghindarkan jeroan tersebut. Bukan lantas si undangan tersebut membuang jeroan yang sudah disediakan tuan pesta, tidak juga mengusulkan agar tuan pesta membuang jeroan tersebut.

Jika si undangan tersebut tetap mencicipi jeroan yang sudah didisposisikan dokter untuk tidak dikonsumsi, kemudian penyakitnya kambuh, siapa yang patut dipersalahkan? Apakah si tuan pesta yang menyediakan jeroan, atau dokter yang mendisposisikan untuk tidak makanjeroan, atau penyakitnya yang kambuh karena jeroan, atau sumber jeroan itu (misalnya kambinga), atau si undangan tersebut yang meski sudah tahu berpantang tetapi tetap mbandel?

Siapapun yang akan kita persalahkan, kita merdeka menyimpulkan seperti itu. Dan, di hati dan pikiran kita masing-masing, saya yakin, kita tahu siapa yang salah pada kasus jeroan itu. Jika kita menyimpulkan berbeda dari pengetahuan dan pemahaman kita, yaaa... kita merdeka.

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 10:12

Husada wrote:
Jitu. Saya suka ini. Menurut saya, menunjukkan kedewasaan jiwa dan mental, bahwa kalau ada sesuatu yang tidak kita sukai, karena alasan apapun, kita merdeka untuk menjauhinya, tidak perlu memberangus hal itu, wong mungkin orang lain suka.

Contohnya, pada pesta perjamuan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman yang bisa diambil secara swalayan. Undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Tuan pesta tidak mengharusan agar setiap undangan mencicipi semua jenis makanan dan minuman yang disediakan.

Bagi undangan yang karena disposisi dokter melarang mengkonsumsi jeroan, tentu hanya menghindarkan jeroan tersebut. Bukan lantas si undangan tersebut membuang jeroan yang sudah disediakan tuan pesta, tidak juga mengusulkan agar tuan pesta membuang jeroan tersebut.

Jika si undangan tersebut tetap mencicipi jeroan yang sudah didisposisikan dokter untuk tidak dikonsumsi, kemudian penyakitnya kambuh, siapa yang patut dipersalahkan? Apakah si tuan pesta yang menyediakan [/i]jeroan[/i], atau dokter yang mendisposisikan untuk tidak makan jeroan[/], atau penyakitnya yang kambuh kerna jeroan[/i], atau sumber jeroan itu (misalnya kambinga), atau si undangan tersebut yang meski sudah tahu berpantang tetapi tetap mbandel?

Siapapun yang akan kita persalahkan, kita merdeka menyimpulkan seperti itu. Dan, di hati dan pikiran kita masing-masing, saya yakin, kita tahu siapa yang salah pada kasus jeroan itu. Jika kita menyimpulkan berbeda dari pengetahuan dan pemahaman kita, yaaa... kita merdeka.

Damai, damai, damai.

Akan berbeda kasusnya bila sang tuan pesta sengaja menghidangkan makanan basi (karena lebih murah or whatever the reason).
Untuk undangan yang hati2 dan sensitif maka tentu bisa menghindari makanan tersebut.
Tetapi untuk undangan yang kelaparan dan kurang sensitif akan melahapnya juga. Lalu undangan itu jatuh sakit bahkan mungkin keracunan perut.

Rasanya kita tahu siapa yang salah (tidak bertanggung jawab) pada kasus makanan basi itu, kan?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 10:36

Silancah wrote:
Husada wrote:
Jitu. Saya suka ini. Menurut saya, menunjukkan kedewasaan jiwa dan mental, bahwa kalau ada sesuatu yang tidak kita sukai, karena alasan apapun, kita merdeka untuk menjauhinya, tidak perlu memberangus hal itu, wong mungkin orang lain suka.

Contohnya, pada pesta perjamuan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman yang bisa diambil secara swalayan. Undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Tuan pesta tidak mengharusan agar setiap undangan mencicipi semua jenis makanan dan minuman yang disediakan.

Bagi undangan yang karena disposisi dokter melarang mengkonsumsi jeroan, tentu hanya menghindarkan jeroan tersebut. Bukan lantas si undangan tersebut membuang jeroan yang sudah disediakan tuan pesta, tidak juga mengusulkan agar tuan pesta membuang jeroan tersebut.

Jika si undangan tersebut tetap mencicipi jeroan yang sudah didisposisikan dokter untuk tidak dikonsumsi, kemudian penyakitnya kambuh, siapa yang patut dipersalahkan? Apakah si tuan pesta yang menyediakan [/i]jeroan[/i], atau dokter yang mendisposisikan untuk tidak makan jeroan[/], atau penyakitnya yang kambuh kerna jeroan[/i], atau sumber jeroan itu (misalnya kambinga), atau si undangan tersebut yang meski sudah tahu berpantang tetapi tetap mbandel?

Siapapun yang akan kita persalahkan, kita merdeka menyimpulkan seperti itu. Dan, di hati dan pikiran kita masing-masing, saya yakin, kita tahu siapa yang salah pada kasus jeroan itu. Jika kita menyimpulkan berbeda dari pengetahuan dan pemahaman kita, yaaa... kita merdeka.

Damai, damai, damai.

Akan berbeda kasusnya bila sang tuan pesta sengaja menghidangkan makanan basi (karena lebih murah or whatever the reason).
Untuk undangan yang hati2 dan sensitif maka tentu bisa menghindari makanan tersebut.
Tetapi untuk undangan yang kelaparan dan kurang sensitif akan melahapnya juga. Lalu undangan itu jatuh sakit bahkan mungkin keracunan perut.

Rasanya kita tahu siapa yang salah (tidak bertanggung jawab) pada kasus makanan basi itu, kan?

Kalau memang tuan rumah mengundang dan menyajikan makanan basi, tentu yang tidak genah ya si tuan rumahnya, tapi apa ada tuan rumah yang seperti itu?


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 10:59

bruce wrote:
Kalau memang tuan rumah mengundang dan menyajikan makanan basi, tentu yang tidak genah ya si tuan rumahnya, tapi apa ada tuan rumah yang seperti itu?

Apa pun mungkin Bang Razz
Mungkin si tuan rumah pelit dan memilih makanan/bahan makanan yang mendekati kedaluwarsa. :face:
Kembali Ke Atas Go down
striker
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1393
Join date : 03.02.11

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 11:08

bruce wrote:
Silancah wrote:
Husada wrote:
Jitu. Saya suka ini. Menurut saya, menunjukkan kedewasaan jiwa dan mental, bahwa kalau ada sesuatu yang tidak kita sukai, karena alasan apapun, kita merdeka untuk menjauhinya, tidak perlu memberangus hal itu, wong mungkin orang lain suka.

Contohnya, pada pesta perjamuan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman yang bisa diambil secara swalayan. Undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Tuan pesta tidak mengharusan agar setiap undangan mencicipi semua jenis makanan dan minuman yang disediakan.

Bagi undangan yang karena disposisi dokter melarang mengkonsumsi jeroan, tentu hanya menghindarkan jeroan tersebut. Bukan lantas si undangan tersebut membuang jeroan yang sudah disediakan tuan pesta, tidak juga mengusulkan agar tuan pesta membuang jeroan tersebut.

Jika si undangan tersebut tetap mencicipi jeroan yang sudah didisposisikan dokter untuk tidak dikonsumsi, kemudian penyakitnya kambuh, siapa yang patut dipersalahkan? Apakah si tuan pesta yang menyediakan [/i]jeroan[/i], atau dokter yang mendisposisikan untuk tidak makan jeroan[/], atau penyakitnya yang kambuh kerna jeroan[/i], atau sumber jeroan itu (misalnya kambinga), atau si undangan tersebut yang meski sudah tahu berpantang tetapi tetap mbandel?

Siapapun yang akan kita persalahkan, kita merdeka menyimpulkan seperti itu. Dan, di hati dan pikiran kita masing-masing, saya yakin, kita tahu siapa yang salah pada kasus jeroan itu. Jika kita menyimpulkan berbeda dari pengetahuan dan pemahaman kita, yaaa... kita merdeka.

Damai, damai, damai.

Akan berbeda kasusnya bila sang tuan pesta sengaja menghidangkan makanan basi (karena lebih murah or whatever the reason).
Untuk undangan yang hati2 dan sensitif maka tentu bisa menghindari makanan tersebut.
Tetapi untuk undangan yang kelaparan dan kurang sensitif akan melahapnya juga. Lalu undangan itu jatuh sakit bahkan mungkin keracunan perut.

Rasanya kita tahu siapa yang salah (tidak bertanggung jawab) pada kasus makanan basi itu, kan?

Kalau memang tuan rumah mengundang dan menyajikan makanan basi, tentu yang tidak genah ya si tuan rumahnya, tapi apa ada tuan rumah yang seperti itu?


sepertinya kok ada mas, karena ada ayat tentang kewajiban tuan rumah seperti itu kepada tamu asingnya:

14:21 Janganlah kamu memakan bangkai apapun, tetapi boleh kauberikan kepada pendatang yang di dalam tempatmu untuk dimakan, atau boleh kaujual kepada orang asing; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam air susu induknya."
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 11:17

striker wrote:

sepertinya kok ada mas, karena ada ayat tentang kewajiban tuan rumah seperti itu kepada tamu asingnya:

14:21 Janganlah kamu memakan bangkai apapun, tetapi boleh kauberikan kepada pendatang yang di dalam tempatmu untuk dimakan, atau boleh kaujual kepada orang asing; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam air susu induknya."
Huahuahuahhahhahhaaa... striker memang pembaca Alkitab yang rajin, hingga banyak mengetahui ayat-ayat Alkitab. Mungkin karena dari dahulu (masa kecilnya) dia sudah menemukan Alkitab yang berbahasa Indonesia, sedangkan Al Qur'an baru mampu dibacanya setelah mengikuti pelajaran mengaji, dengan demikian, dia lebih banyak baca Alkitab daripada baca Al Qur'an, hahhahhahhaaa... damai bagimu striker.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 11:21

striker wrote:
bruce wrote:
Silancah wrote:
Husada wrote:
Jitu. Saya suka ini. Menurut saya, menunjukkan kedewasaan jiwa dan mental, bahwa kalau ada sesuatu yang tidak kita sukai, karena alasan apapun, kita merdeka untuk menjauhinya, tidak perlu memberangus hal itu, wong mungkin orang lain suka.

Contohnya, pada pesta perjamuan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman yang bisa diambil secara swalayan. Undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Tuan pesta tidak mengharusan agar setiap undangan mencicipi semua jenis makanan dan minuman yang disediakan.

Bagi undangan yang karena disposisi dokter melarang mengkonsumsi jeroan, tentu hanya menghindarkan jeroan tersebut. Bukan lantas si undangan tersebut membuang jeroan yang sudah disediakan tuan pesta, tidak juga mengusulkan agar tuan pesta membuang jeroan tersebut.

Jika si undangan tersebut tetap mencicipi jeroan yang sudah didisposisikan dokter untuk tidak dikonsumsi, kemudian penyakitnya kambuh, siapa yang patut dipersalahkan? Apakah si tuan pesta yang menyediakan [/i]jeroan[/i], atau dokter yang mendisposisikan untuk tidak makan jeroan[/], atau penyakitnya yang kambuh kerna jeroan[/i], atau sumber jeroan itu (misalnya kambinga), atau si undangan tersebut yang meski sudah tahu berpantang tetapi tetap mbandel?

Siapapun yang akan kita persalahkan, kita merdeka menyimpulkan seperti itu. Dan, di hati dan pikiran kita masing-masing, saya yakin, kita tahu siapa yang salah pada kasus jeroan itu. Jika kita menyimpulkan berbeda dari pengetahuan dan pemahaman kita, yaaa... kita merdeka.

Damai, damai, damai.

Akan berbeda kasusnya bila sang tuan pesta sengaja menghidangkan makanan basi (karena lebih murah or whatever the reason).
Untuk undangan yang hati2 dan sensitif maka tentu bisa menghindari makanan tersebut.
Tetapi untuk undangan yang kelaparan dan kurang sensitif akan melahapnya juga. Lalu undangan itu jatuh sakit bahkan mungkin keracunan perut.

Rasanya kita tahu siapa yang salah (tidak bertanggung jawab) pada kasus makanan basi itu, kan?

Kalau memang tuan rumah mengundang dan menyajikan makanan basi, tentu yang tidak genah ya si tuan rumahnya, tapi apa ada tuan rumah yang seperti itu?


sepertinya kok ada mas, karena ada ayat tentang kewajiban tuan rumah seperti itu kepada tamu asingnya:

14:21 Janganlah kamu memakan bangkai apapun, tetapi boleh kauberikan kepada pendatang yang di dalam tempatmu untuk dimakan, atau boleh kaujual kepada orang asing; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam air susu induknya."

Entah anda pura pura ngga tahu atau lupa, karena ayat itu sudah pernah diulas.

Saya sampaikan singkat saja ya.

Bangsa Yahudi, jauh sebelum Islam hadir, sudah menerapkan apa yang haram dan halal bagi mereka. Ternak yang mati alami, dianggap bangkai, dan tidak halal untuk dimakan oleh mereka. Tetapi, orang orang di luar bangsa yahudi tidak mengharamkan bangkai.

Jadi, yang bagi orang yahudi tidak boleh disajikan, tetapi untuk yang tidak mengharamkannya tentu tidak masalah.

Tolong diingat ingat ya, dan jangan pakai ayat Alkitab secara sembarangan untuk mengomentari yang tidak sesuai konteksnya. Karena anda pasti juga tidak suka kalau ayat ayat Quran dipakai secara sembarangan untuk mengomentari yang tidak ada hubungannya.

Salam

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
striker
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1393
Join date : 03.02.11

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 11:26

bruce wrote:
striker wrote:
bruce wrote:
Silancah wrote:
Husada wrote:
Jitu. Saya suka ini. Menurut saya, menunjukkan kedewasaan jiwa dan mental, bahwa kalau ada sesuatu yang tidak kita sukai, karena alasan apapun, kita merdeka untuk menjauhinya, tidak perlu memberangus hal itu, wong mungkin orang lain suka.

Contohnya, pada pesta perjamuan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman yang bisa diambil secara swalayan. Undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Tuan pesta tidak mengharusan agar setiap undangan mencicipi semua jenis makanan dan minuman yang disediakan.

Bagi undangan yang karena disposisi dokter melarang mengkonsumsi jeroan, tentu hanya menghindarkan jeroan tersebut. Bukan lantas si undangan tersebut membuang jeroan yang sudah disediakan tuan pesta, tidak juga mengusulkan agar tuan pesta membuang jeroan tersebut.

Jika si undangan tersebut tetap mencicipi jeroan yang sudah didisposisikan dokter untuk tidak dikonsumsi, kemudian penyakitnya kambuh, siapa yang patut dipersalahkan? Apakah si tuan pesta yang menyediakan [/i]jeroan[/i], atau dokter yang mendisposisikan untuk tidak makan jeroan[/], atau penyakitnya yang kambuh kerna jeroan[/i], atau sumber jeroan itu (misalnya kambinga), atau si undangan tersebut yang meski sudah tahu berpantang tetapi tetap mbandel?

Siapapun yang akan kita persalahkan, kita merdeka menyimpulkan seperti itu. Dan, di hati dan pikiran kita masing-masing, saya yakin, kita tahu siapa yang salah pada kasus jeroan itu. Jika kita menyimpulkan berbeda dari pengetahuan dan pemahaman kita, yaaa... kita merdeka.

Damai, damai, damai.

Akan berbeda kasusnya bila sang tuan pesta sengaja menghidangkan makanan basi (karena lebih murah or whatever the reason).
Untuk undangan yang hati2 dan sensitif maka tentu bisa menghindari makanan tersebut.
Tetapi untuk undangan yang kelaparan dan kurang sensitif akan melahapnya juga. Lalu undangan itu jatuh sakit bahkan mungkin keracunan perut.

Rasanya kita tahu siapa yang salah (tidak bertanggung jawab) pada kasus makanan basi itu, kan?

Kalau memang tuan rumah mengundang dan menyajikan makanan basi, tentu yang tidak genah ya si tuan rumahnya, tapi apa ada tuan rumah yang seperti itu?


sepertinya kok ada mas, karena ada ayat tentang kewajiban tuan rumah seperti itu kepada tamu asingnya:

14:21 Janganlah kamu memakan bangkai apapun, tetapi boleh kauberikan kepada pendatang yang di dalam tempatmu untuk dimakan, atau boleh kaujual kepada orang asing; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam air susu induknya."

Entah anda pura pura ngga tahu atau lupa, karena ayat itu sudah pernah diulas.

Saya sampaikan singkat saja ya.

Bangsa Yahudi, jauh sebelum Islam hadir, sudah menerapkan apa yang haram dan halal bagi mereka. Ternak yang mati alami, dianggap bangkai, dan tidak halal untuk dimakan oleh mereka. Tetapi, orang orang di luar bangsa yahudi tidak mengharamkan bangkai.

Jadi, yang bagi orang yahudi tidak boleh disajikan, tetapi untuk yang tidak mengharamkannya tentu tidak masalah.

Tolong diingat ingat ya, dan jangan pakai ayat Alkitab secara sembarangan untuk mengomentari yang tidak sesuai konteksnya. Karena anda pasti juga tidak suka kalau ayat ayat Quran dipakai secara sembarangan untuk mengomentari yang tidak ada hubungannya.

Salam

Tapi Bagaimana seorang yg tdk makan bangkai bisa menyajikan bangkai buat tamunya mas?

Kalau saya tdk makan babi, tidak mungkin saya menyajikan babi kepada anda/tamu asing (yg tdk saya ketahui makan babi atau tidak).

Apa yg buruk buat saya tidakpah mungkin saya sajikan kepada tamu saya mas. :)

salam.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 11:39

striker wrote:
bruce wrote:
striker wrote:
bruce wrote:
Silancah wrote:
Husada wrote:
Jitu. Saya suka ini. Menurut saya, menunjukkan kedewasaan jiwa dan mental, bahwa kalau ada sesuatu yang tidak kita sukai, karena alasan apapun, kita merdeka untuk menjauhinya, tidak perlu memberangus hal itu, wong mungkin orang lain suka.

Contohnya, pada pesta perjamuan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman yang bisa diambil secara swalayan. Undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Tuan pesta tidak mengharusan agar setiap undangan mencicipi semua jenis makanan dan minuman yang disediakan.

Bagi undangan yang karena disposisi dokter melarang mengkonsumsi jeroan, tentu hanya menghindarkan jeroan tersebut. Bukan lantas si undangan tersebut membuang jeroan yang sudah disediakan tuan pesta, tidak juga mengusulkan agar tuan pesta membuang jeroan tersebut.

Jika si undangan tersebut tetap mencicipi jeroan yang sudah didisposisikan dokter untuk tidak dikonsumsi, kemudian penyakitnya kambuh, siapa yang patut dipersalahkan? Apakah si tuan pesta yang menyediakan [/i]jeroan[/i], atau dokter yang mendisposisikan untuk tidak makan jeroan[/], atau penyakitnya yang kambuh kerna jeroan[/i], atau sumber jeroan itu (misalnya kambinga), atau si undangan tersebut yang meski sudah tahu berpantang tetapi tetap mbandel?

Siapapun yang akan kita persalahkan, kita merdeka menyimpulkan seperti itu. Dan, di hati dan pikiran kita masing-masing, saya yakin, kita tahu siapa yang salah pada kasus jeroan itu. Jika kita menyimpulkan berbeda dari pengetahuan dan pemahaman kita, yaaa... kita merdeka.

Damai, damai, damai.

Akan berbeda kasusnya bila sang tuan pesta sengaja menghidangkan makanan basi (karena lebih murah or whatever the reason).
Untuk undangan yang hati2 dan sensitif maka tentu bisa menghindari makanan tersebut.
Tetapi untuk undangan yang kelaparan dan kurang sensitif akan melahapnya juga. Lalu undangan itu jatuh sakit bahkan mungkin keracunan perut.

Rasanya kita tahu siapa yang salah (tidak bertanggung jawab) pada kasus makanan basi itu, kan?

Kalau memang tuan rumah mengundang dan menyajikan makanan basi, tentu yang tidak genah ya si tuan rumahnya, tapi apa ada tuan rumah yang seperti itu?


sepertinya kok ada mas, karena ada ayat tentang kewajiban tuan rumah seperti itu kepada tamu asingnya:

14:21 Janganlah kamu memakan bangkai apapun, tetapi boleh kauberikan kepada pendatang yang di dalam tempatmu untuk dimakan, atau boleh kaujual kepada orang asing; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam air susu induknya."

Entah anda pura pura ngga tahu atau lupa, karena ayat itu sudah pernah diulas.

Saya sampaikan singkat saja ya.

Bangsa Yahudi, jauh sebelum Islam hadir, sudah menerapkan apa yang haram dan halal bagi mereka. Ternak yang mati alami, dianggap bangkai, dan tidak halal untuk dimakan oleh mereka. Tetapi, orang orang di luar bangsa yahudi tidak mengharamkan bangkai.

Jadi, yang bagi orang yahudi tidak boleh disajikan, tetapi untuk yang tidak mengharamkannya tentu tidak masalah.

Tolong diingat ingat ya, dan jangan pakai ayat Alkitab secara sembarangan untuk mengomentari yang tidak sesuai konteksnya. Karena anda pasti juga tidak suka kalau ayat ayat Quran dipakai secara sembarangan untuk mengomentari yang tidak ada hubungannya.

Salam

Tapi Bagaimana seorang yg tdk makan bangkai bisa menyajikan bangkai buat tamunya mas?

Kalau saya tdk makan babi, tidak mungkin saya menyajikan babi kepada anda/tamu asing (yg tdk saya ketahui makan babi atau tidak).

Apa yg buruk buat saya tidakpah mungkin saya sajikan kepada tamu saya mas. :)

salam.


Coba baca ulang penjelasan saya di atas itu. Selain bangsa Yahudi saat itu, bangsa apa lagi yang mengharamkan makan bangkai? Romawi? Mesir? Yunani? Persia? Semua menghalalkan daging yang tidak disembelih.

Maka ketika ayat itu ditulis, seorang Yahudi tidak diharamkan memberi suguhan daging dari binatag yang mati wajar kepada tamunya yang bukan Yahudi, tetapi bagi mereka tetap diharamkan.

Kalau anda sangkutkan kepada masalah sekarang ini, itu beda lagi. Tetapi, toh anda juga memiliki ayat, dimana daging yang diberikan oleh orang Yahudi dan ahli Kitab, tetap dianggap halal.

Betulkah ingatan saya terhadap ayat Quran itu?

Salam

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
striker
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1393
Join date : 03.02.11

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 18:09

bruce wrote:
striker wrote:
bruce wrote:
striker wrote:
bruce wrote:
Silancah wrote:
Husada wrote:
Jitu. Saya suka ini. Menurut saya, menunjukkan kedewasaan jiwa dan mental, bahwa kalau ada sesuatu yang tidak kita sukai, karena alasan apapun, kita merdeka untuk menjauhinya, tidak perlu memberangus hal itu, wong mungkin orang lain suka.

Contohnya, pada pesta perjamuan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman yang bisa diambil secara swalayan. Undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Tuan pesta tidak mengharusan agar setiap undangan mencicipi semua jenis makanan dan minuman yang disediakan.

Bagi undangan yang karena disposisi dokter melarang mengkonsumsi jeroan, tentu hanya menghindarkan jeroan tersebut. Bukan lantas si undangan tersebut membuang jeroan yang sudah disediakan tuan pesta, tidak juga mengusulkan agar tuan pesta membuang jeroan tersebut.

Jika si undangan tersebut tetap mencicipi jeroan yang sudah didisposisikan dokter untuk tidak dikonsumsi, kemudian penyakitnya kambuh, siapa yang patut dipersalahkan? Apakah si tuan pesta yang menyediakan [/i]jeroan[/i], atau dokter yang mendisposisikan untuk tidak makan jeroan[/], atau penyakitnya yang kambuh kerna jeroan[/i], atau sumber jeroan itu (misalnya kambinga), atau si undangan tersebut yang meski sudah tahu berpantang tetapi tetap mbandel?

Siapapun yang akan kita persalahkan, kita merdeka menyimpulkan seperti itu. Dan, di hati dan pikiran kita masing-masing, saya yakin, kita tahu siapa yang salah pada kasus jeroan itu. Jika kita menyimpulkan berbeda dari pengetahuan dan pemahaman kita, yaaa... kita merdeka.

Damai, damai, damai.

Akan berbeda kasusnya bila sang tuan pesta sengaja menghidangkan makanan basi (karena lebih murah or whatever the reason).
Untuk undangan yang hati2 dan sensitif maka tentu bisa menghindari makanan tersebut.
Tetapi untuk undangan yang kelaparan dan kurang sensitif akan melahapnya juga. Lalu undangan itu jatuh sakit bahkan mungkin keracunan perut.

Rasanya kita tahu siapa yang salah (tidak bertanggung jawab) pada kasus makanan basi itu, kan?

Kalau memang tuan rumah mengundang dan menyajikan makanan basi, tentu yang tidak genah ya si tuan rumahnya, tapi apa ada tuan rumah yang seperti itu?


sepertinya kok ada mas, karena ada ayat tentang kewajiban tuan rumah seperti itu kepada tamu asingnya:

14:21 Janganlah kamu memakan bangkai apapun, tetapi boleh kauberikan kepada pendatang yang di dalam tempatmu untuk dimakan, atau boleh kaujual kepada orang asing; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam air susu induknya."

Entah anda pura pura ngga tahu atau lupa, karena ayat itu sudah pernah diulas.

Saya sampaikan singkat saja ya.

Bangsa Yahudi, jauh sebelum Islam hadir, sudah menerapkan apa yang haram dan halal bagi mereka. Ternak yang mati alami, dianggap bangkai, dan tidak halal untuk dimakan oleh mereka. Tetapi, orang orang di luar bangsa yahudi tidak mengharamkan bangkai.

Jadi, yang bagi orang yahudi tidak boleh disajikan, tetapi untuk yang tidak mengharamkannya tentu tidak masalah.

Tolong diingat ingat ya, dan jangan pakai ayat Alkitab secara sembarangan untuk mengomentari yang tidak sesuai konteksnya. Karena anda pasti juga tidak suka kalau ayat ayat Quran dipakai secara sembarangan untuk mengomentari yang tidak ada hubungannya.

Salam

Tapi Bagaimana seorang yg tdk makan bangkai bisa menyajikan bangkai buat tamunya mas?

Kalau saya tdk makan babi, tidak mungkin saya menyajikan babi kepada anda/tamu asing (yg tdk saya ketahui makan babi atau tidak).

Apa yg buruk buat saya tidakpah mungkin saya sajikan kepada tamu saya mas. :)

salam.


Coba baca ulang penjelasan saya di atas itu. Selain bangsa Yahudi saat itu, bangsa apa lagi yang mengharamkan makan bangkai? Romawi? Mesir? Yunani? Persia? Semua menghalalkan daging yang tidak disembelih.

Maka ketika ayat itu ditulis, seorang Yahudi tidak diharamkan memberi suguhan daging dari binatag yang mati wajar kepada tamunya yang bukan Yahudi, tetapi bagi mereka tetap diharamkan.

Kalau anda sangkutkan kepada masalah sekarang ini, itu beda lagi. Tetapi, toh anda juga memiliki ayat, dimana daging yang diberikan oleh orang Yahudi dan ahli Kitab, tetap dianggap halal.

Betulkah ingatan saya terhadap ayat Quran itu?

Salam

dlm onteks bagaimana dulu daging yg diberikan oleh yahudi dan ahli kitab itu dianggap halal mas? boleh disyaring ayatnya mas, please..

saya sungguh tdk habis pikir dengan ajaran yahudi yg ini, jikalau kita diharamkan meminum minuman keras/sesuatu yg buruk, bagaimana kita bisa diperbolehkan memberikan apa yg diharamkan kepada kita utk orang lain?

Mengapa kita dibolehkan membrikan apa yg dilarang / yg buruk2 bagi kita? Bukankah seharusnya kita diajarkan utk memberikan yg baik dan bahkan yg terbaik utk tetangga ataupun tamu kita?

Kalau dlm ajaran kristen bagaimana mas, apakah diperbolehkan menyuguhkan apa yg dilarang bagi umat kristen kepada pengikut ajaran lain?
Eh tapi apa yg dilarang tuk dimakan dan diminum dlm ajaran kristen ya mas? study
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   13th April 2012, 18:13

OOT sudah terlalu jauh, silahkan buat thread baru, thread ini saya LOCK supaya kembali kepada jalurnya.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Tanya Kenapa?   Today at 17:29

Kembali Ke Atas Go down
 
Tanya Kenapa?
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 2 dari 2Pilih halaman : Previous  1, 2
 Similar topics
-
» (iseng2 tanya)napa banyak ninja 250 dijual???
» [Tanya] IQ-nya brapa sih??
» Tanya tentang Oli pertamina
» kenapa kita pilih motor sport?
» (ask) helpp!! kenapa oli bisa bercampur bensin?

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Forum Terbuka :: Diskusi - Kristen Bertanya Non-Kristen Menjawab-
Navigasi: