Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 penjelasan iman lewat logika

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : 1, 2, 3  Next
PengirimMessage
ichrezadariforumLI
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 50
Join date : 06.11.12

PostSubyek: penjelasan iman lewat logika   6th November 2012, 10:59

Keimanan adalah keyakinan, yang dalam Islam wajib dicapai dengan penuh
kesadaran dan pengertian, karena hanya dengan inilah kesetiaan tunggal pada
Islam (tauhid) bisa diharapkan, seperti halnya seorang fisikawan yang telah
yakin akan keakuratan instrumennya, sehingga ia pun segera berbuat sesuatu,
begitu instrumen itu mengabarkan existensi radiasi atom yang tidak pernah
bisa dideteksi oleh indera fisikawan itu sendiri.

FITRAH MANUSIA

Sejak adanya manusia, manusia memiliki berbagai ciri-ciri (fitrah) yang
membedakannya dari mahluk lain. Manusia memiliki intuisi untuk memilih dan
tidak mau menyerah pada hukum-hukum alam begitu saja. Manusia bisa
mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan nalurinya, misal makan meski
sudah kenyang (karena menghormati tuan rumah), atau tidak melawan meski
disakiti (karena menjaga perasaan orang). Hal ini tidak ada pada binatang.
Seekor kucing yang sudah kenyang tak mau lagi mencicipi makanan yang enak
sekalipun.

Manusia memiliki kemampuan mewariskan kepada manusia lain (atau
keturunannya) hal-hal baru yang telah dipelajarinya. Inilah asal peradaban
manusia. Hal ini tidak terdapat pada binatang. Seekor kera yang terlatih
main musik dalam circus tidak akan mampu melatih kera lainnya. Seekor kera
hanya bisa melatih seekor anak kera pada hal-hal yang memang nalurinya
(memanjat, mencari buah).

Kesamaan manusia dengan binatang hanya pada kebutuhan eksistensialnya
(makan, minum, istirahat dan melanjutkan keturunan).

MANUSIA MENCARI HAKEKAT HIDUPNYA

Manusia yang telah terpenuhi kebutuhan eksistensialnya akan mulai
mempertanyakan, untuk apa sebenarnya hidup itu. Hal ini karena manusia
memiliki kebebasan memilih, mau hidup atau mati. Karena faktor non
naluriahnya, manusia bisa putus asa dan bunuh diri, sementara tidak ada
binatang yang bunuh diri kecuali hal itu dilakukannya dalam rangka
mempertahankan eksistensinya juga (pada lebah misalnya).

Pertanyaan tentang hakekat hidup ini yang memberi warna pada kehidupan
manusia, yang tercermin dalam kebudayaan, yang digunakannya untuk mencapai
kepuasan ruhaninya.

MANUSIA MEMBUTUHKAN TUHAN

Dalam kondisi gawat yang mengancam eksistensinya (misalnya terhempas ombak
di tengah samudra, sementara pertolongan hampir mustahil diharapkan),
fitrah manusia akan menyuruh untuk mengharapkan suatu keajaiban.

Demikian juga ketika seseorang sedang dihadapkan pada persoalan yang sulit,
sementara pendapat dari manusia lainnya berbeda-beda, ia akan mengharapkan
petunjuk yang jelas yang bisa dipegangnya. Bila manusia tersebut menemukan
seseorang yang bisa dipercayainya, maka dalam kondisi dilematis ini ia
cenderung merujuk pada tokoh idolanya itu.

Dalam kondisi seperti ini, setiap manusia cenderung mencari "sesembahan".
Mungkin pada kasus pertama, sesembahan itu berupa dewa laut atau sebuah
jimat pusaka. Pada kasus kedua, "sesembahan" itu bisa berupa raja
(pepunden), bisa juga berupa tokoh filsafat, pemimpin revolusi bahkan
seorang dukun yang sakti.

TANDA-TANDA EKSISTENSI TUHAN

Di luar masalah di atas, perhatian manusia terhadap alam sekitarnya
membuatnya bertanya, "Mengapa bumi dan langit bisa sehebat ini, bagaimana
jaring-jaring kehidupan (ekologi) bisa secermat ini, apa yang membuat
semilyar atom bisa berinteraksi dengan harmoni, dan dari mana hukum-hukum
alam bisa seteratur ini".

Pada masa lalu, keterbatasan pengetahuan manusia sering membuat mereka
cepat lari pada "sesembahan" mereka setiap ada fenomena yang tak bisa
mereka mengerti (misal petir, gerhana matahari). Kemajuan ilmu pengetahuan
alam kemudian mampu mengungkap cara kerja alam, namun tetap tidak mampu
memberikan jawaban, mengapa semua bisa terjadi.

Ilmu alam yang pokok penyelidikannya materi, tak mampu mendapatkan jawaban
itu pada alam, karena keteraturan tadi tidak melekat pada materi. Contoh
yang jelas ada pada peristiwa kematian. Meski beberapa saat setelah
kematian, materi pada jasad tersebut praktis belum berubah, tapi
keteraturan yang membuat jasad tersebut bertahan, telah punah, sehingga
jasad itu mulai membusuk.

Bila di masa lalu, orang mengembalikan setiap fenomena alam pada suatu
"sesembahan" (petir pada dewa petir, matahari pada dewa matahari), maka
seiring dengan kemajuannya, sampailah manusia pada suatu fikiran, bahwa
pasti ada "sesuatu" yang di belakang itu semua, "sesuatu" yang di belakang
dewa petir, dewa laut atau dewa matahari, "sesuatu" yang di belakang semua
hukum alam.

"Sesuatu" itu, bila memiliki sifat-sifat ini:

1. Maha Kuasa
2. Tidak tergantung pada yang lain
3. Tak dibatasi ruang dan waktu
4. Memiliki keinginan yang absolut

maka dia adalah Tuhan, dan berdasarkan sifat-sifat tersebut tidak mungkin
zat tersebut lebih dari satu, karena dengan demikian berarti satu sifat
akan tereliminasi karena bertentangan dengan sifat yang lain.

TUHAN BERKOMUNIKASI VIA UTUSAN

Kemampuan berfikir manusia tidak mungkin mencapai zat Tuhan. Manusia hanya
memiliki waktu hidup yang terhingga. Jumlah materi di alam ini juga
terhingga. Dan karena jumlah kemungkinannya juga terhingga, maka manusia
hanya memiliki kemampuan berfikir yang terhingga. Sedangkan zat Tuhan
adalah tak terhingga (infinity). Karena itu, manusia hanya mungkin
memikirkan sedikit dari "jejak-jejak" eksistensi Tuhan di alam ini. Adalah
percuma, memikirkan sesuatu yang di luar "perspektif" kita.

Karena itu, bila tidak Tuhan sendiri yang menyatakan atau "memperkenalkan"
diri-Nya pada manusia, mustahil manusia itu bisa mengenal Tuhannya dengan
benar. Ada manusia yang "disapa" Tuhan untuk dirinya sendiri, namun ada
juga yang untuk dikirim kepada manusia-manusia lain. Hal ini karena
kebanyakan manusia memang tidak siap untuk "disapa" oleh Tuhan.

UTUSAN TUHAN DIBEKALI TANDA-TANDA

Tuhan mengirim kepada manusia utusan yang dilengkapi dengan tanda-tanda
yang cuma bisa berasal dari Tuhan. Dari tanda-tanda itulah manusia bisa
tahu bahwa utusan tadi memang bisa dipercaya untuk menyampaikan hal-hal
yang sebelumnya tidak mungkin diketahuinya dari sekedar mengamati alam
semesta. Karena itu perhatian yang akan kita curahkan adalah menguji,
apakah tanda-tanda utusan tadi memang autentik (asli) atau tidak.

Pengujian autentitas inilah yang sangat penting sebelum kita bisa
mempercayai hal-hal yang nantinya hanyalah konsekuensi logis saja. Ibarat
seorang ahli listrik yang tugas ke lapangan, tentunya ia telah menguji
avometernya, dan ia telah yakin, bahwa avometer itu bekerja dengan benar
pada laboratorium ujinya, sehingga bila di lapangan ia dapatkan hasil ukur
yang sepintas tidak bisa dijelaskanpun, dia harus percaya alat itu. Seorang
fisikawan adalah seorang manusia biasa, yang dengan matanya tak mungkin
melihat atom. Tapi bila ia yakin pada instrumentasinya, maka ia harus
menerima apa adanya, bila instrumen tersebut mengabarkan jumlah radiasi
yang melebihi batas, sehingga misalnya reaktor nuklirnya harus segera
dimatikan dulu.

Karena yakin akan autentitas peralatannya, seorang astronom percaya adanya
galaksi, tanpa perlu terbang ke ruang angkasa, seorang geolog percaya
adanya minyak di kedalaman 2000 meter, tanpa harus masuk sendiri ke dalam
bumi, dan seorang biolog percaya adanya dinosaurus, tanpa harus pergi ke
zaman purba.

Keyakinan pada autentitas inilah yang disebut "iman". Sebenarnya tak ada
bedanya, antara "iman" pada autentitas tanda-tanda utusan Tuhan, dengan
"iman"-nya seorang fisikawan pada instrumennya. Semuanya bisa diuji. Karena
bila di dunia fisika ada alat yang bekerjanya tidak stabil sehingga tidak
bisa dipercaya, ada pula orang yang mengaku utusan Tuhan tapi tanda-tanda
yang dibawanya tidak kuat, sehingga tidak pula bisa dipercaya.

MENGUJI AUTENTITAS TANDA-TANDA DARI TUHAN

Tanda-tanda dari Tuhan itu hanya autentis bila menunjukkan keunggulan
absolut, yang hanya dimungkinkan oleh kehendak penciptanya (yaitu Tuhan
sendiri). Sesuai dengan zamannya, keunggulan tadi tidak tertandingi oleh
peradaban yang ada. Dan orang pembawa keunggulan itu tidak mengakui hal itu
sebagai keahliannya, namun mengatakan bahwa itu dari Tuhan !!!

Pada zaman Nabi Musa, ketika ilmu sihir sedang jaya-jayanya, Nabi Musa yang
diberi keunggulan mengalahkan semua ahli sihir, justru mengatakan bahwa ia
tidak belajar sihir, namun semuanya itu hanya karena ijin Tuhan semata.

Demikian juga Nabi Isa, yang menyembuhkan penyakit yang tidak bisa
disembuhkan, meski masyarakatnya merupakan yang termaju dalam ilmu
pengobatan pada masanya. Toh Nabi Isa hanya mengatakan semua itu karena
kekuasaan Tuhan semata, dan ia bukan seorang tabib.

Dan Nabi Muhammad? Tanda-tanda beliau sebagai utusan yang utama adalah
Al-Quran. Pada saat itu Mekkah merupakan pusat kesusasteraan Arab, tempat
para sastrawan top mengadu kebolehannya. Dan meski pada saat itu semua
orang takjub pada keindahan ayat-ayat Al-Quran yang jauh mengungguli semua
puisi dan prosa yang pernah ada, Nabi Muhammad hanya mengatakan, ayat itu
bukan bikinannya, tapi datangnya dari Allah.

Itu 14 abad yang lalu. Pada masa kini, ketika ilmu alam berkembang pesat,
terbukti pula, bahwa kitab Al-Quran begitu teliti. Tidak ada ayat yang
saling bertentangan satu sama lain. Dan tak ada pula ayat Al-Quran yang
tidak sesuai dengan fakta-fakta ilmu alam.

Di sisi lain, fenomena pembawa ajaran itu juga menunjukkan sisi
autentitasnya. Meski mereka:

* orang biasa yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan, juga tidak
join dengan penguasa atau yang bisa menjamin kesuksesannya;
* menyebarkan ajaran yang melawan arus, bertentangan dengan tradisi yang
lazim di masyarakatnya;

mereka berhasil dengan ajarannya, dan keberhasilan ini sudah diramalkan
lebih dulu pula, dan semua itu dikatakannya karena Tuhanlah yang
menolongnya.

KONSEKWENSI SETELAH MEYAKINI AUTENTITAS TANDA-TANDA KENABIAN MUHAMMAD

Setelah kita menguji autentitas tanda-tanda kenabian Muhammad dengan
menggunakan segala piranti logika yang kita miliki, dan kita yakin bahwa
itu asli berasal dari Tuhan, maka kita harus menerima apa adanya yang
disebutkan oleh kitab Al-Quran maupun oleh hadits yang memang teruji
autentis berasal dari Muhammad.

Dan ajaran Nabi Muhammad saw ini adalah satu-satunya ajaran autentis dari
Allah, yang diturunkan kepada penutup para utusan, tidak tertuju ke satu
bangsa saja, tapi ke seluruh umat manusia, sampai akhir zaman.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   6th November 2012, 11:45

Hmmm... trit ini berada pada Pertanyaan dari Member Non-Kristen yang berada pada Forum Terbuka. Yang jadi pertanyaan di benak saya, apa yang ingin ditanyakan oleh iche melalui artikel ini? Menurut pemahaman saya, isi artikel ini bukan pertanyaan melainkan pernyataan.

Atau, pemahaman saya salah? Bersediakah iche menjelaskan?

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara


Terakhir diubah oleh Husada tanggal 6th November 2012, 11:46, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   6th November 2012, 11:46

Quote :
"Sesuatu" itu, bila memiliki sifat-sifat ini:

1. Maha Kuasa
2. Tidak tergantung pada yang lain
3. Tak dibatasi ruang dan waktu
4. Memiliki keinginan yang absolut

Saya tertarik menanyakan yang anda tulis, seperti yang saya quote di atas itu, bro. Terutama yang saya bold, tak dibatasi ruang dan waktu.

Bisa anda jelaskan lebih rinci dengan pengertian anda terhadap tak dibatasi ruang dan waktu ?

Salam

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   6th November 2012, 11:50

Husada wrote:
Hmmm... trit ini berada pada Pertanyaan dari Member Non-Kristen yang berada pada Forum Terbuka. Yang jadi pertanyaan di benak saya, apa yang ingin ditanyakan oleh iche melalui artikel ini? Menurut pemahaman saya, isi artikel ini bukan pertanyaan melainkan pernyataan.

Atau, pemahaman saya salah? Bersediakah iche menjelaskan?

Damai, damai, damai.


Saya mengerti kebingungan anda, dan juga memahami penempatan bro Reza.
Karena sebenarnya bro Reza bertujuan membuat post dan mengundang diskusi.
Tetapi karena tidak tersedia board lain, dan sebelumnya post Reza pernah saya pindahkan karena dipost di board pertanyaan dari member Kristen, yang saya pindahkan, karena bukan Kristen yang bertanya.
He he he he.

Jadi, kemungkinan judul board nya yang harus saya ganti, mungkin dengan judul 'Diskusi dengan non-Kristen', begitu lebih bagus mungkin?


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
ichrezadariforumLI
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 50
Join date : 06.11.12

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   6th November 2012, 11:53

bruce wrote:
Husada wrote:
Hmmm... trit ini berada pada Pertanyaan dari Member Non-Kristen yang berada pada Forum Terbuka. Yang jadi pertanyaan di benak saya, apa yang ingin ditanyakan oleh iche melalui artikel ini? Menurut pemahaman saya, isi artikel ini bukan pertanyaan melainkan pernyataan.

Atau, pemahaman saya salah? Bersediakah iche menjelaskan?

Damai, damai, damai.


Saya mengerti kebingungan anda, dan juga memahami penempatan bro Reza.
Karena sebenarnya bro Reza bertujuan membuat post dan mengundang diskusi.
Tetapi karena tidak tersedia board lain, dan sebelumnya post Reza pernah saya pindahkan karena dipost di board pertanyaan dari member Kristen, yang saya pindahkan, karena bukan Kristen yang bertanya.
He he he he.

Jadi, kemungkinan judul board nya yang harus saya ganti, mungkin dengan judul 'Diskusi dengan non-Kristen', begitu lebih bagus mungkin?


iya nih... harusnya ada board baru lho.....mungkin namanya bisa seperti itu, atau dengan judul anda bertanya, Muslim menjawab :)
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   6th November 2012, 11:54

bruce wrote:
Jadi, kemungkinan judul board nya yang harus saya ganti, mungkin dengan judul 'Diskusi dengan non-Kristen', begitu lebih bagus mungkin?
Laksanakan. Atau perlu saya adukan ke Mimin?

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
ichrezadariforumLI
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 50
Join date : 06.11.12

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   6th November 2012, 12:00

bruce wrote:
Quote :
"Sesuatu" itu, bila memiliki sifat-sifat ini:

1. Maha Kuasa
2. Tidak tergantung pada yang lain
3. Tak dibatasi ruang dan waktu
4. Memiliki keinginan yang absolut

Saya tertarik menanyakan yang anda tulis, seperti yang saya quote di atas itu, bro. Terutama yang saya bold, tak dibatasi ruang dan waktu.

Bisa anda jelaskan lebih rinci dengan pengertian anda terhadap tak dibatasi ruang dan waktu ?

Salam

kita bahas soal waktunya dulu bro, sementara soal ruang akan saya bahas di lain waktu :)

Quote :
Berbicara mengenai "waktu" mengingatkan penulis kepada
ungkapan Malik Bin Nabi dalam bukunya Syuruth An-Nahdhah
(Syarat-syarat Kebangkitan) [*] saat ia memulai uraiannya
dengan mengutip satu ungkapan yang dinilai oleh sebagian ulama
sebagai hadis Nabi Saw.:

[*] Edisi Indonesianya telah diterbitkan oleh Penerbit Mizan
dengan judul Membangun Dunia Baru Islam (1994)

Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru.
"Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang
menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak
akan kembali lagi sampai hari kiamat."

Kemudian, tulis Malik Bin Nabi lebih lanjut:

Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru
sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa,
membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia
diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak
menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya,
walaupun segala sesuatu --selain Tuhan-- tidak akan
mampu melepaskan diri darinya.

Sedemikian besar peranan waktu, sehingga Allah Swt.
berkali-kali bersumpah dengan menggunakan berbagai kata yang
menunjuk pada waktu-waktu tertentu seperti wa Al-Lail (demi
Malam), wa An-Nahar (demi Siang), wa As-Subhi, wa AL-Fajr, dan
lain-lain.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN WAKTU?

Dalam Kamus Besar Bahasa indonesia paling tidak terdapat empat
arti kata "waktu": (1) seluruh rangkaian saat, yang telah
berlalu, sekarang, dan yang akan datang; (2) saat tertentu
untuk menyelesaikan sesuatu; (3) kesempatan, tempo, atau
peluang; (4) ketika, atau saat terjadinya sesuatu.

Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk menunjukkan
makna-makna di atas, seperti:

a. Ajal, untuk menunjukkan waktu berakhirnya sesuatu, seperti
berakhirnya usia manusia atau masyarakat.

Setiap umat mempunyai batas waktu berakhirnya usia (QS
Yunus [10]: 49)

Demikian juga berakhirnya kontrak perjanjian kerja antara Nabi
Syuaib dan Nabi Musa, Al-Quran mengatakan:

Dia berkata, "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu.
Mana saja dan kedua waktu yang ditentukan itu aku
sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas
diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas yang kita
ucapkan" (QS Al-Qashash [28]: 28).

b. Dahr digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam
raya dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan-Nya
sampai punahnya alam sementara ini.

Bukankah telah pernah datang (terjadi) kepada manusia
satu dahr (waktu) sedangkan ia ketika itu belum
merupakan sesuatu yang dapat disebut (karena belum ada
di alam ini?) (QS Al-insan [76]: 1).

Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain saat kita
berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak
ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali dahr
(perjalanan waktu yang dilalui oleh alam)" (QS
Al-Jatsiyah [45]: 24).

c. Waqt digunakan dalam arti batas akhir kesempatan atau
peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa. Karena itu,
sering kali Al-Quran menggunakannya dalam konteks kadar
tertentu dari satu masa.

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban kepada
orang-orang Mukmin yang tertentu waktu-waktunya (QS
Al-Nisa' [4]: 103) .

d. 'Ashr, kata ini biasa diartikan "waktu menjelang
terbenammya matahari", tetapi juga dapat diartikan sebagai
"masa" secara mutlak. Makna terakhir ini diambil berdasarkan
asumsi bahwa 'ashr merupakan hal yang terpenting dalam
kehidupan manusia. Kata 'ashr sendiri bermakna "perasan",
seakan-akan masa harus digunakan oleh manusia untuk memeras
pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan
saja sepanjang masa.

Dari kata-kata di atas, dapat ditarik beberapa kesan tentang
pandangan Al-Quran mengenai waktu (dalam pengertian-pengertian
bahasa indonesia), yaitu:

a. Kata ajal memberi kesan bahwa segala sesuatu ada
batas waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang
langgeng dan abadi kecuali Allah Swt. sendiri.

b. Kata dahr memberi kesan bahwa segala sesuatu pernah
tiada, dan bahwa keberadaannya menjadikan ia terikat
oleh waktu (dahr).

c. Kata waqt digunakan dalam konteks yang berbeda-beda,
dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan
untuk menyelesaikan pekerjaan. Arti ini tecermin dari
waktu-waktu shalat yang memberi kesan tentang keharusan
adanya pembagian teknis mengenai masa yang dialami
(seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun,
dan seterusnya), dan sekaligus keharusan untuk
menyelesaikan pekerjaan dalam waktu-waktu tersebut, dan
bukannya membiarkannya berlalu hampa.

d. Kata 'ashr memberi kesan bahwa saat-saat yang
dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja memeras
keringat dan pikiran.

Demikianlah arti dan kesan-kesan yang diperoleh dari akar
serta penggunaan kata yang berarti "waktu" dalam berbagai
makna.

RELATIVITAS WAKTU

Manusia tidak dapat melepaskan diri dari waktu dan tempat.
Mereka mengenal masa lalu, kini, dan masa depan. Pengenalan
manusia tentang waktu berkaitan dengan pengalaman empiris dan
lingkungan. Kesadaran kita tentang waktu berhubungan dengan
bulan dan matahari, baik dari segi perjalanannya (malam saat
terbenam dan siang saat terbitnya) maupun kenyataan bahwa
sehari sama dengan sekali terbit sampai terbenamnya matahari,
atau sejak tengah malam hingga tengah malam berikutnya.

Perhitungan semacam ini telah menjadi kesepakatan bersama.
Namun harus digarisbawahi bahwa walaupun hal itu diperkenalkan
dan diakui oleh Al-Quran (seperti setahun sama dengan dua
belas bulan pada surat At-Taubah ayat 36), Al-Quran juga
memperkenalkan adanya relativitas waktu, baik yang berkaitan
dengan dimensi ruang, keadaan, maupun pelaku.

Waktu yang dialami manusia di dunia berbeda dengan waktu yang
dialaminya kelak di hari kemudian. Ini disebabkan dimensi
kehidupan akhirat berbeda dengan dimensi kehidupan duniawi.

Di dalam surat Al-Kahfi [18]: 19 dinyatakan:

Dan berkata salah seorang dan mereka, "Berapa tahunkah
lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami
tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari ..."

Ashhabul-Kahfi yang ditidurkan Allah selama tiga ratus tahun
lebih, menduga bahwa mereka hanya berada di dalam gua selama
sehari atau kurang,

Mereka berkata, "Kami berada (di sini) sehari atau
setengah hari." (QS Al-Kahf [18]: 19).

Ini karena mereka ketika itu sedang ditidurkan oleh Allah,
sehingga walaupun mereka berada dalam ruang yang sama dan
dalam rentang waktu yang panjang, mereka hanya merasakan
beberapa saat saja.

Allah Swt. berada di luar batas-batas waktu. Karena itu, dalam
Al-Quran ditemukan kata kerja bentuk masa lampau (past
tense/madhi) yang digunakan-Nya untuk suatu peristiwa mengenai
masa depan. Allah Swt. berfirman:

Telah datang ketetapan Allah (hari kiamat), maka
janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya ...
(QS Al-Nahl [16]: 1).

Bentuk kalimat semacam ini dapat membingungkan para pembaca
mengenai makna yang dikandungnya, karena bagi kita, kiamat
belum datang. Tetapi di sisi lain jika memang telah datang
seperti bunyi ayat, mengapa pada ayat tersebut dilarang
meminta disegerakan kedatangannya? Kebingungan itu insya Allah
akan sirna, jika disadari bahwa Allah berada di luar dimensi
waktu. Sehingga bagi-Nya, masa lalu, kini, dan masa yang akan
datang sama saja. Dari sini dan dari sekian ayat yang lain
sebagian pakar tafsir menetapkan adanya relativitas waktu.

Ketika Al-Quran berbicara tentang waktu yang ditempuh oleh
malaikat menuju hadirat-Nya, salah satu ayat Al-Quran
menyatakan perbandingan waktu dalam sehari kadarnya sama
dengan lima puluh ribu tahun bagi makhluk lain (manusia).

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (men~hadap) kepada
Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun
(QS Al-Ma'arij [70]: 4).

Sedangkan dalam ayat lain disebutkan bahwa masa yang ditempuh
oleh para malaikat tertentu untuk naik ke sisi-Nya adalah
seribu tahun menurut perhitungan manusia:

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian
(urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang
kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (QS
Al-Sajdah [32]: 5).

Ini berarti bahwa perbedaan sistem gerak yang dilakukan oleh
satu pelaku mengakibatkan perbedaan waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai suatu sasaran. Batu, suara, dan cahaya
masing-masing membutuhkan waktu yang berbeda untuk mencapai
sasaran yang sama. Kenyataan ini pada akhirnya mengantarkan
kita kepada keyakinan bahwa ada sesuatu yang tidak membutuhkan
waktu demi mencapai hal yang dikehendakinya. Sesuatu itu
adalah Allah Swt.

Dan perintah Kami hanyalah satu (perkataan) seperti
kejapan mata (QS Al-Qamar [54] 50).

"Kejapan mata" dalam firman di atas tidak boleh dipahami dalam
pengertian dimensi manusia, karena Allah berada di luar
dimensi tersebut, dan karena Dia juga telah menegaskan bahwa:

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki
sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!", maka
terjadilah ia (QS Ya Sin [36]: 82)

Ini pun bukan berarti bahwa untuk mewujudkan sesuatu, Allah
membutuhkan kata kun, sebagaimana tidak berarti bahwa ciptaan
Allah terjadi seketika tanpa suatu proses. Ayat-ayat di atas
hanya ingin menyebutkan bahwa Allah Swt. berada di luar
dimensi ruang dan waktu.

Dari sini, kata hari, bulan, atau tahun tidak boleh dipahami
secara mutlak seperti pemahaman populer dewasa ini. "Allah
menciptakan alam raya selama enam hari", tidak harus dipahami
sebagai enam kali dua puluh empat jam. Bahkan boleh jadi kata
"tahun" dalam Al-Quran tidak berarti 365 hari --walaupun kata
yaum dalam Al-Quran yang berarti hari hanya terulang 365
kali-- karena umat manusia berbeda dalam menetapkan jumlah
hari dalam setahun. Perbedaan ini bukan saja karena penggunaan
perhitungan perjalanan bulan atau matahari, tetapi karena umat
manusia mengenal pula perhitungan yang lain. Sebagian ulama
menyatakan bahwa firman Allah yang menerangkan bahwa Nabi Nuh
a.s. hidup di tengah-tengah kaumnya selama 950 tahun (QS 29:
14), tidak harus dipahami dalam konteks perhitungan Syamsiah
atau Qamariah. Karena umat manusia pernah mengenal perhitungan
tahun berdasarkan musim (panas, dingin, gugur, dan semi)
sehingga setahun perhitungan kita yang menggunakan ukuran
perjalanan matahari, sama dengan empat tahun dalam perhitungan
musim. Kalau pendapat ini dapat diterima, maka keberadaan Nabi
Nuh a.s. di tengah-tengah kaumnya boleh jadi hanya sekitar 230
tahun.

Al-Quran mengisyaratkan perbedaan perhitungan Syamsiah dan
Qamariah melalui ayat yang membicarakan lamanya penghuni gua
(Ashhabul-Kahfi) tertidur.

Sesungguhnya mereka telah tinggal di dalam gua selama
tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (QS
Al-Kahf [18]: 25).

Tiga ratus tahun di tempat itu menurut perhitungan Syamsiah,
sedangkan penambahan sembilan tahun adalah berdasarkan
perhitungan Qamariah. Seperti diketahui, terdapat selisih
sekitar sebelas hari setiap tahun antara perhitungan Qamariah
dan Syamsiah. Jadi selisih sembilan tahun itu adalah sekitar
300 x 11 hari = 3.300 hari, atau sama dengan sembilan tahun.

TUJUAN KEHADIRAN WAKTU

Ketika beberapa orang sahabat Nabi Saw. mengamati keadaan
bulan yang sedikit demi sedikit berubah dari sabit ke purnama,
kemudian kembali menjadi sabit dan kemudian menghilang, mereka
bertanya kepada Nabi, "Mengapa demikian?" Al-Quran pun
menjawab,

Yang demikian itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan
untuk menetapkan waktu ibadah haji (QS Al-Baqarah [2]:
189).

Ayat ini antara lain mengisyaratkan bahwa peredaran matahari
dan bulan yang menghasilkan pembagian rinci (seperti
perjalanan dari bulan sabit ke purnama), harus dapat
dimanfaatkan oleh manusia untuk menyelesaikan suatu tugas
(lihat kembali arti waqt [waktu] seperti dikemukakan di atas).
Salah satu tugas yang harus diselesaikan itu adalah ibadah,
yang dalam hal ini dicontohkan dengan ibadah haji, karena
ibadah tersebut mencerminkan seluruh rukun islam.

Keadaan bulan seperti itu juga untuk menyadarkan bahwa
keberadaan manusia di pentas bumi ini, tidak ubahnya seperti
bulan. Awalnya, sebagaimana halnya bulan, pernah tidak tampak
di pentas bumi, kemudian ia lahir, kecil mungil bagai sabit,
dan sedikit demi sedikit membesar sampai dewasa, sempurna umur
bagai purnama. Lalu kembali sedikit demi sedikit menua, sampai
akhirnya hilang dari pentas bumi ini.

Dalam ayat lain dijelaskan bahwa:

Dia (Allah) menjadikan malam dan siang silih berganti
untuk memberi waktu (kesempatan) kepada orang yartg
ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang
ingin bersyukur (QS Al-Furqan [25]: 62).

Mengingat berkaitan dengan masa lampau, dan ini menuntut
introspeksi dan kesadaran menyangkut semua hal yang telah
terjadi, sehingga mengantarkan manusia untuk melakukan
perbaikan dan peningkatan. Sedangkan bersyukur, dalam definisi
agama, adalah "menggunakan segala potensi yang dianugerahkan
Allah sesuai dengan tujuan penganugerahannya," dan ini
menuntut upaya dan kerja keras.

Banyak ayat Al-Quran yang berbicara tentang
peristiwa-peristiwa masa lampau, kemudian diakhiri dengan
pernyataan. "Maka ambillah pelajaran dan peristiwa itu."
Demikian pula ayat-ayat yang menyuruh manusia bekerja untuk
menghadapi masa depan, atau berpikir, dan menilai hal yang
telah dipersiapkannya demi masa depan.

Salah satu ayat yang paling populer mengenai tema ini adalah:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok (QS Al-Hasyr [59]:
18).

Menarik untuk diamati bahwa ayat di atas dimulai dengan
perintah bertakwa dan diakhiri dengan perintah yang sama. Ini
mengisyaratkan bahwa landasan berpikir serta tempat bertolak
untuk mempersiapkan hari esok haruslah ketakwaan, dan hasil
akhir yang diperoleh pun adalah ketakwaan.

Hari esok yang dimaksud oleh ayat ini tidak hanya terbatas
pengertiannya pada hari esok di akhirat kelak, melainkan
termasuk juga hari esok menurut pengertian dimensi waktu yang
kita alami. Kata ghad dalam ayat di atas yang diterjemahkan
dengan esok, ditemukan dalam Al-Quran sebanyak lima kali; tiga
di antaranya secara jelas digunakan dalam konteks hari esok
duniawi, dan dua sisanya dapat mencakup esok (masa depan) baik
yang dekat maupun yang jauh.

MENGISI WAKTU

Al-Quran memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan waktu
semaksimal mungkin, bahkan dituntunnya umat manusia untuk
mengisi seluruh 'ashr (waktu)-nya dengan berbagai amal dengan
mempergunakan semua daya yang dimilikinya. Sebelum menguraikan
lebih jauh tentang hal ini, perlu digarisbawahi bahwa
sementara kita ada yang memahami bahwa waktu hendaknya diisi
dengan beribadah (dalam pengertian sempit). Mereka merujuk
kepada firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang
menyatakan, dan memahaminya dalam arti

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar
mereka beribadah kepada-Ku.

Pemahaman dan penerjemahan ini menimbulkan kerancuan, karena
memahami lam (li) pada li ya'budun dalam arti "agar". Dalam
bahasa Al-Quran, lam tidak selalu berarti demikian, melainkan
juga dapat berarti kesudahannya atau akibatnya. Perhatikan
firman Allah dalam surat Al-Qashash ayat 8 yang menguraikan
dipungutnya Nabi Musa a.s. oleh keluarga Fir'aun.

Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang
akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.
Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya
adalah orang-orang yang bersalah (QS Al-Qashash [28]:
Cool.

Kalau lam pada ayat di atas diterjemahkan "agar", maka ayat
tersebut akan berarti, "Maka dipungutlah ia (Musa) oleh
keiuarga Fir'aun 'agar' ia menjadi musuh dan kesedihan bagi
mereka." Kalimat ini jelas tidak logis, tetapi jika lam
dipahami sebagai akibat atau kesudahan, maka terjemahan di
atas akan berbunyi, "Maka dipungutlah ia (Musa) oleh keluarga
Fir'aun, dan kesudahannya adalah ia menjadi musuh bagi
mereka."
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   6th November 2012, 12:02

Jadi, bagaimana penjelasan anda tentang Tuhan yang tidak terikat pada ruang dan waktu, bro?

Bagaimana Tuhan yang tidak terikat waktu itu menurut anda?

Salam

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
ichrezadariforumLI
Bintara
Bintara


Jumlah posting : 50
Join date : 06.11.12

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   6th November 2012, 12:14

Allah Swt. berada di luar batas-batas waktu. Karena itu, dalam
Al-Quran ditemukan kata kerja bentuk masa lampau (past
tense/madhi) yang digunakan-Nya untuk suatu peristiwa mengenai
masa depan. Allah Swt. berfirman:

Telah datang ketetapan Allah (hari kiamat), maka
janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya ...
(QS Al-Nahl [16]: 1).

Bentuk kalimat semacam ini dapat membingungkan para pembaca
mengenai makna yang dikandungnya, karena bagi kita, kiamat
belum datang. Tetapi di sisi lain jika memang telah datang
seperti bunyi ayat, mengapa pada ayat tersebut dilarang
meminta disegerakan kedatangannya? Kebingungan itu insya Allah
akan sirna, jika disadari bahwa Allah berada di luar dimensi
waktu. Sehingga bagi-Nya, masa lalu, kini, dan masa yang akan
datang sama saja. Dari sini dan dari sekian ayat yang lain
sebagian pakar tafsir menetapkan adanya relativitas waktu.

Ketika Al-Quran berbicara tentang waktu yang ditempuh oleh
malaikat menuju hadirat-Nya, salah satu ayat Al-Quran
menyatakan perbandingan waktu dalam sehari kadarnya sama
dengan lima puluh ribu tahun bagi makhluk lain (manusia).

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (men~hadap) kepada
Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun
(QS Al-Ma'arij [70]: 4).

Sedangkan dalam ayat lain disebutkan bahwa masa yang ditempuh
oleh para malaikat tertentu untuk naik ke sisi-Nya adalah
seribu tahun menurut perhitungan manusia:

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian
(urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang
kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (QS
Al-Sajdah [32]: 5).

Ini berarti bahwa perbedaan sistem gerak yang dilakukan oleh
satu pelaku mengakibatkan perbedaan waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai suatu sasaran. Batu, suara, dan cahaya
masing-masing membutuhkan waktu yang berbeda untuk mencapai
sasaran yang sama. Kenyataan ini pada akhirnya mengantarkan
kita kepada keyakinan bahwa ada sesuatu yang tidak membutuhkan
waktu demi mencapai hal yang dikehendakinya. Sesuatu itu
adalah Allah Swt.

Dan perintah Kami hanyalah satu (perkataan) seperti
kejapan mata (QS Al-Qamar [54] 50).

"Kejapan mata" dalam firman di atas tidak boleh dipahami dalam
pengertian dimensi manusia, karena Allah berada di luar
dimensi tersebut, dan karena Dia juga telah menegaskan bahwa:

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki
sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!", maka
terjadilah ia (QS Ya Sin [36]: 82)

Ini pun bukan berarti bahwa untuk mewujudkan sesuatu, Allah
membutuhkan kata kun, sebagaimana tidak berarti bahwa ciptaan
Allah terjadi seketika tanpa suatu proses. Ayat-ayat di atas
hanya ingin menyebutkan bahwa Allah Swt. berada di luar
dimensi ruang dan waktu.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   6th November 2012, 12:24

Oke, bro, dalam beberapa hal saya sependapat dengan tulisan anda di atas. Hanya tolong juga diingat ingat apa yang anda tuliskan itu. Karena dalam banyak kejadian, member Muslim suka lupa, bahwa apa yang ditulisnya dan disetujuinya, ternyata tidak disetujuinya ketika terjadi pada kasus yang sama untuk pihak yang berbeda (Kristen). Contohnya adalah, ketika ada ayat ini :

Yes 9:6 (9-5) Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

Dikatakan bahwa itu adalah kalimat past, dan tidak berlaku untuk future. Semoga saja anda lebih baik dan terhindar dari hal hal seperti itu.

Salam.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   7th November 2012, 08:58

Mumpung pembahasan tentang waktu, yang menurut pengertian awam, digambarkan dengan tahun. Tanpa niatan menginterupsi diskusi, hanya ingin memastikan, semua partisipan sudah menyadari bahwa sebelum ayat-ayat Al Qur'an 'diturunkan', sudah ada kisah-kisah sejenis, misalnya Abraham, Ayub, Musa, dll, dll, bukan? Menurut pikiran saya, bila angka-angka tahun ini dilupakan, akan sedikit menghambat diskusi, sebab pikiran partisipan akan terpaku pada ayat-ayat yang datang belakangan, tanpa membanding ke kisah-kisah yang sudah eksis.

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
nothingman
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1503
Join date : 13.11.12

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   21st November 2012, 22:51

ichrezadariforumLI wrote:

UTUSAN TUHAN DIBEKALI TANDA-TANDA

Tuhan mengirim kepada manusia utusan yang dilengkapi dengan tanda-tanda
yang cuma bisa berasal dari Tuhan. Dari tanda-tanda itulah manusia bisa
tahu bahwa utusan tadi memang bisa dipercaya untuk menyampaikan hal-hal
yang sebelumnya tidak mungkin diketahuinya dari sekedar mengamati alam
semesta. Karena itu perhatian yang akan kita curahkan adalah menguji,
apakah tanda-tanda utusan tadi memang autentik (asli) atau tidak.

Keyakinan pada autentitas inilah yang disebut "iman". Sebenarnya tak ada
bedanya, antara "iman" pada autentitas tanda-tanda utusan Tuhan, dengan
"iman"-nya seorang fisikawan pada instrumennya. Semuanya bisa diuji. Karena
bila di dunia fisika ada alat yang bekerjanya tidak stabil sehingga tidak
bisa dipercaya, ada pula orang yang mengaku utusan Tuhan tapi tanda-tanda
yang dibawanya tidak kuat, sehingga tidak pula bisa dipercaya.

Pada zaman Nabi Musa, ketika ilmu sihir sedang jaya-jayanya, Nabi Musa yang
diberi keunggulan mengalahkan semua ahli sihir, justru mengatakan bahwa ia
tidak belajar sihir, namun semuanya itu hanya karena ijin Tuhan semata.

Demikian juga Nabi Isa, yang menyembuhkan penyakit yang tidak bisa
disembuhkan, meski masyarakatnya merupakan yang termaju dalam ilmu
pengobatan pada masanya. Toh Nabi Isa hanya mengatakan semua itu karena
kekuasaan Tuhan semata, dan ia bukan seorang tabib.

Dan Nabi Muhammad? Tanda-tanda beliau sebagai utusan yang utama adalah
Al-Quran.
Pada saat itu Mekkah merupakan pusat kesusasteraan Arab, tempat
para sastrawan top mengadu kebolehannya. Dan meski pada saat itu semua
orang takjub pada keindahan ayat-ayat Al-Quran yang jauh mengungguli semua
puisi dan prosa yang pernah ada, Nabi Muhammad hanya mengatakan, ayat itu
bukan bikinannya, tapi datangnya dari Allah.

kok pembuktian Nabi Muhammad emang benar utusanNya cuma begitu doank bro..?
emang yg nulis ayat2 yg katanya Firman Tuhan ke dlm Al-Quran itu siapa bro ? Nabi Muhammad kah yg menuliskannya ?
hampir sebagian besar apa yg diajarkan ol Muhammad itu berasal dr Kitab Taurat ajarannya Yahudi ditambahkan ajaran2nya Muhammad sendiri tentunya.
nah sekarang pertanyaannya, bagaimana kita menguji bahwa apa yg diajarkan ol Muhammad itu emang benar2 berasal dr wahyu Tuhan bro ?????
ya tentunya anda jgn bilang bahwa itu bisa dibuktikan melalui Al-Quran donk, lah wong Al-Quran itu hasil karangannya Muhammad sendiri. Justru kebenaran Al-Quran itu yg harus dibuktikan kebenarannya..

ichrezadariforumLI wrote:

Itu 14 abad yang lalu. Pada masa kini, ketika ilmu alam berkembang pesat,
terbukti pula, bahwa kitab Al-Quran begitu teliti. Tidak ada ayat yang
saling bertentangan satu sama lain.
Dan tak ada pula ayat Al-Quran yang
tidak sesuai dengan fakta-fakta ilmu alam.
Aah, apakah anda yakin tidak ada ayat yg bertentangan satu sama lain dlm Al-Quran bro ?
apa lg yg bertentangan dgn Kitab Suci agama lain (Yahudi dan Kristen) yg jelas2 ajaranya lebih dulu dr pd Islam pasti ada banyak lah. padahal antara Kitab Yahudi dgn Kristen tidak ada pertentangan diantara mereka. justru Al-Quran ini lah yg datang belakangan yg bertentangan, dan mengklaim bahwa kitab yg lain telah dipalsukan.

ichrezadariforumLI wrote:

KONSEKWENSI SETELAH MEYAKINI AUTENTITAS TANDA-TANDA KENABIAN MUHAMMAD

Setelah kita menguji autentitas tanda-tanda kenabian Muhammad dengan
menggunakan segala piranti logika yang kita miliki, dan kita yakin bahwa
itu asli berasal dari Tuhan, maka kita harus menerima apa adanya yang
disebutkan oleh kitab Al-Quran maupun oleh hadits yang memang teruji
autentis berasal dari Muhammad.


Dan ajaran Nabi Muhammad saw ini adalah satu-satunya ajaran autentis dari
Allah
, yang diturunkan kepada penutup para utusan, tidak tertuju ke satu
bangsa saja, tapi ke seluruh umat manusia, sampai akhir zaman.
ini pake piranti logika yg mane bro ???
Al-Quran dan Hadits emang bener otentik ASLI berasal dr Muhammad, tp bagaimana cara mengetahui bahwa itu benar2 ASLI dr Tuhan, bukan hasil karangan Muhammad atau hasil jiplakan dr Kitab2 Yahudi/Kristen yg isinya sengaja dirubah sesuai kehendak nabi Muhammad.
orang pengakuan bahwa Muhammad telah mendapat wahyu dr malaikat Jibril kesayangannya aj cuma berasal dr mulutnya dia sendiri kan ?
tidak pernah atau tidak ada tuh, satu orang pun diantara pengikut nabi Muhammad yg lain, yg pernah mengalami penampakan/pewahyuan oleh Allah ataupun malaikat Jibril yg mengatakan bahwa benar2 Muhammad yg dipilih ol Allah utk mjd rasulnya.
semua pengakuan tsb hanya berasal dr mulutnya nabi Muhammad sendiri bro. Shocked
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   22nd November 2012, 08:41

Damai bagi LTBers sekalian.

Mumpung judul trit menggunakan kata logika, ingin menambahkan penjelasan atas ini,
nothingman wrote:
kok pembuktian Nabi Muhammad emang benar utusanNya cuma begitu doank bro..?
emang yg nulis ayat2 yg katanya Firman Tuhan ke dlm Al-Quran itu siapa bro ? Nabi Muhammad kah yg menuliskannya ?
hampir sebagian besar apa yg diajarkan ol Muhammad itu berasal dr Kitab Taurat ajarannya Yahudi ditambahkan ajaran2nya Muhammad sendiri tentunya.
nah sekarang pertanyaannya, bagaimana kita menguji bahwa apa yg diajarkan ol Muhammad itu emang benar2 berasal dr wahyu Tuhan bro ?????
ya tentunya anda jgn bilang bahwa itu bisa dibuktikan melalui Al-Quran donk, lah wong Al-Quran itu hasil karangannya Muhammad sendiri. Justru kebenaran Al-Quran itu yg harus dibuktikan kebenarannya...
Bahwa pada saat masih berumur 12 tahun, Muhammad sudah berkenalan dengan Buhaira, seorang Pendeta Nestorian, yaitu ketika Muhammad dibawa oleh pamannya Abu Thalib dalam ekspedisi dagang ke luar dari Arab.

Saya belum menemukan informasi sejak umur berapa Muhammad berkenalan dengan Waraka Ibn Nawfal yang adalah Pendeta Ebionite. Mengingat Waraka Ibn Nawfal adalah kerabat Siti Khadijah yang istri pertama Muhammad, logika saya menyimpulkan bahwa perkenalan Muhammad dengan Waraka Ibn Nawfal tidak berselang lama dengan perkenalan Muhammad dengan Siti Khadijah, dan sebelum menikahi Siti Khadijah, saya menduga bahwa Muhammad sudah bergabung di perusahaan ekspedisi/dagang dari Siti Khadijah. Pernikahan antara Muhammad dengan SIti khadijah sendiri berlangsung ketika Muhammad berumur 25 tahun, dan menyatakan diri sebagai Rasul Allah saat berumur 40 tahun.

Jadi, Muhammad mengaku sebagai Rasul Allah setelah 28 tahun berkenalan dengan Buhaira si Pendeta Nestorian, dan paling sedikit setelah 15 tahun berkenalan dengan Waraka Ibn Nawfal si Pendeta Ebionite. Dan, dengan logika, sangat sulit mengingkari bahwa dalam hal sosok Isa Putera Maryam menurut Al Qur'an sama dengan Sosok Jesus Kristus dalam ajaran Nestorian dan Ebionite, sama-sama hanya merupakan manusia belaka, bukan Tuhan.

Mungkin ada informasi lain?

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
nothingman
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1503
Join date : 13.11.12

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   22nd November 2012, 13:34

Husada wrote:
Damai bagi LTBers sekalian.

Mumpung judul trit menggunakan kata logika, ingin menambahkan penjelasan atas ini,
nothingman wrote:
kok pembuktian Nabi Muhammad emang benar utusanNya cuma begitu doank bro..?
emang yg nulis ayat2 yg katanya Firman Tuhan ke dlm Al-Quran itu siapa bro ? Nabi Muhammad kah yg menuliskannya ?
hampir sebagian besar apa yg diajarkan ol Muhammad itu berasal dr Kitab Taurat ajarannya Yahudi ditambahkan ajaran2nya Muhammad sendiri tentunya.
nah sekarang pertanyaannya, bagaimana kita menguji bahwa apa yg diajarkan ol Muhammad itu emang benar2 berasal dr wahyu Tuhan bro ?????
ya tentunya anda jgn bilang bahwa itu bisa dibuktikan melalui Al-Quran donk, lah wong Al-Quran itu hasil karangannya Muhammad sendiri. Justru kebenaran Al-Quran itu yg harus dibuktikan kebenarannya...
Bahwa pada saat masih berumur 12 tahun, Muhammad sudah berkenalan dengan Buhaira, seorang Pendeta Nestorian, yaitu ketika Muhammad dibawa oleh pamannya Abu Thalib dalam ekspedisi dagang ke luar dari Arab.
yupp, benar seperti yg bro sampaikan, setelah kematian kedua orang tua Muhammad sewaktu dia masih kecil, lalu kemudian Muhammad diasuh oleh kakeknya yg bernama Abdul Muttalib selama 2 tahun, kakek Muhammad ini adalah seorang 'kuncen' atau 'penjaga' Ka'bah yg jg berasal dr bani Quraish dan ia jg seorang penganut polytheisme. jd Muhammad kecil belajar ttg polytheisme ini dr kakeknya, dan setelah kakeknya meninggal 2 thn kemudian, Muhammad diasuh ol pamannya Abu Thalib yg seorang pedangang.

Dan krn pamannya seorang pedangang, pastilah ia sering mengajak Muhammad pergi utk ikut berdagang keluar Arab (Palestina dan Syria). jd selama mengikuti perjalanan dagang ini besar kemungkinan Muhammad bertemu atau berkenalan dgn pedagang2 yg menganut ajaran monotheisme entah itu Yahudi ataupun Kristen baik yg menganut ajaran trinitarian mapun yg unitarian, jd besar pula kemungkinan Muhammad mulai tertarik dgn ajaran2 monotheisme ini dan mungkin dia mulai mempelajari ajaran2 tsb pd awalnya.
jd klo ada yg bilang nabi Muhammad itu buta huruf alias tidak bisa baca dan menulis, sebenarnya hal tsb sangat tidak munkin lah, masa iya sih seorang pedangang kaga bisa baca tulis.

Husada wrote:

Saya belum menemukan informasi sejak umur berapa Muhammad berkenalan dengan Waraka Ibn Nawfal yang adalah Pendeta Ebionite. Mengingat Waraka Ibn Nawfal adalah kerabat Siti Khadijah yang istri pertama Muhammad, logika saya menyimpulkan bahwa perkenalan Muhammad dengan Waraka Ibn Nawfal tidak berselang lama dengan perkenalan Muhammad dengan Siti Khadijah, dan sebelum menikahi Siti Khadijah, saya menduga bahwa Muhammad sudah bergabung di perusahaan ekspedisi/dagang dari Siti Khadijah. Pernikahan antara Muhammad dengan SIti khadijah sendiri berlangsung ketika Muhammad berumur 25 tahun, dan menyatakan diri sebagai Rasul Allah saat berumur 40 tahun.

Jadi, Muhammad mengaku sebagai Rasul Allah setelah 28 tahun berkenalan dengan Buhaira si Pendeta Nestorian, dan paling sedikit setelah 15 tahun berkenalan dengan Waraka Ibn Nawfal si Pendeta Ebionite. Dan, dengan logika, sangat sulit mengingkari bahwa dalam hal sosok Isa Putera Maryam menurut Al Qur'an sama dengan Sosok Jesus Kristus dalam ajaran Nestorian dan Ebionite , sama-sama hanya merupakan manusia belaka, bukan Tuhan.

Mungkin ada informasi lain?
Khadijah isteri pertama Muhammad jg berasal dr suku Quraish, dan Waraqah itu adlh saudara sepupu Khadijah, berarti mereka bertiga adlh kerabat atau saudara satu suku, ibaratnya sama2 satu marga lah bro. jd besar kemungkinan mereka sudah saling mengenal sebelumnya, apa lg keluarga Khadijah merupakan saudagar kaya raya yg jg berasal dr daerah yg sama dimana Muhammad tinggal, pastilah mereka pernah berhubungan entah itu hub. dagang atau yg lain sebelum Muhammad berusia 25thn.
Namun tidak seperti kaum Quraish lainnya yg menganut ajaran polytheism, Waraqah adlh penganut Kristen aliran Nestorian/Ebionisme(paham yg menolak ajaran Trinitarian) bahkan ada yg menyebutkan klo Waraqah ini adlh seorang pendeta Gereja Nosrania di Mekah.
jd kemungkinan Muhammad jg belajar ttg keagamaan(polytheism) dr Waraqah ini yg jg seorang pendeta, dan bisa jd pd awalnya Muhammad mjd penganut Kristen aliran Nestorian ini.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   22nd November 2012, 13:42

Dan perkawinannya dengan Siti Khadijah, mungkin dilaksanakan menurut faham Nestorian/Ebionite yang melarang poligami, yang hanya mengenal istilah cerai mati, maka Muhammad hanya beristrikan Siti Khadijah selama Siti Khadijah hidup, kemudian berpoligami sepeninggal Siti Khadijah.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   22nd November 2012, 14:45

nothingman wrote:

jd klo ada yg bilang nabi Muhammad itu buta huruf alias tidak bisa baca dan menulis, sebenarnya hal tsb sangat tidak munkin lah, masa iya sih seorang pedangang kaga bisa baca tulis.

Kenapa tidak mungkin, bro?
Transaksi antara penjual dan pembeli tidak membutuhkan baca tulis kok.

Tinggal tunjuk barang dan mengucapkan sebuah angka... kalau berbeda bahasa, bisa dengan bahasa isyarat menggunakan tangan untuk menunjukkan harga barang tersebut.
Kalau zaman sekarang, caranya mengetikkan angka di kalkulator.
Sekarang pun kerap terjadi di pasar2 di Madinah dan Makkah lho.... Laughing

nothingman wrote:

Khadijah isteri pertama Muhammad jg berasal dr suku Quraish, dan Waraqah itu adlh saudara sepupu Khadijah, berarti mereka bertiga adlh kerabat atau saudara satu suku, ibaratnya sama2 satu marga lah bro. jd besar kemungkinan mereka sudah saling mengenal sebelumnya, apa lg keluarga Khadijah merupakan saudagar kaya raya yg jg berasal dr daerah yg sama dimana Muhammad tinggal, pastilah mereka pernah berhubungan entah itu hub. dagang atau yg lain sebelum Muhammad berusia 25thn.
Namun tidak seperti kaum Quraish lainnya yg menganut ajaran polytheism, Waraqah adlh penganut Kristen aliran Nestorian/Ebionisme(paham yg menolak ajaran Trinitarian) bahkan ada yg menyebutkan klo Waraqah ini adlh seorang pendeta Gereja Nosrania di Mekah.
jd kemungkinan Muhammad jg belajar ttg keagamaan(polytheism) dr Waraqah ini yg jg seorang pendeta, dan bisa jd pd awalnya Muhammad mjd penganut Kristen aliran Nestorian ini.

Indahnya teori... semua jadi memungkinkan :)
Sama kok bro, kadang2 saya pun membuat hipotesa atau menduga2 dalam kehidupan ini...

Maaf, Cah. postinganmu saya edit, karena yang engkau quote bukan dariku, melainkan dari Nothingman. Damai, damai, damai.


Terakhir diubah oleh Husada tanggal 22nd November 2012, 16:39, total 1 kali diubah (Reason for editing : faulthy in quoting)
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   22nd November 2012, 14:49

Ha ha ha ha ha

Laughing

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   22nd November 2012, 16:46

Mungkin ini bisa sedikit memperjelas, saya salin dari [You must be registered and logged in to see this link.]
Waraka ibn Nawfal (Arabic: ورقة بن نوفل) was the parental cousin of Khadija, the first wife of the prophet Muhammad, and was also the son of Muhammad's great-grandfather Hashim ibn 'Abd Manaf's half brother Nawfal ibn Abd Manaf. Waraka was a Christian Ebionites priest and is revered in Islamic tradition for being one of the first monotheists to believe in the prophecy of Muhammad.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara


Terakhir diubah oleh Husada tanggal 22nd November 2012, 17:21, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   22nd November 2012, 17:19

Dan ini dari [You must be registered and logged in to see this link.]
Buhaira (Arabبحير, Buheira, Bahira) adalah seorang mantan Yahudi yang menjadi rahib Kristen Nestorian yang melihat tanda-tanda kenabian Muhammad. Ia tinggal di kota Bushra, Selatan Syam (sekarang Syria) 600 tahun yang lalu.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
St Yopi
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 428
Join date : 24.10.12

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   23rd November 2012, 05:36

Sungguh menjadi batu sandungan membuktikan Alquran sungguh-sungguh dari Allah
Very Happy
Apalagi ditambah bahwa Alquran dalam bentuk dan jumlah sekarang, justru diseleksi oleh manusia bernama Usman, jauh setelah Muhammad mati, jadi, apanya yang ayatnya tidak bertentangan satu samu lain? Lha wong sudah diseleksi kok!
Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   23rd November 2012, 06:11

St Yopi wrote:
Sungguh menjadi batu sandungan membuktikan Alquran sungguh-sungguh dari Allah
Very Happy

Itu kan menurut Anda yang tidak mengimaninya....
Biar pun umat Islam berbusa2 menjelaskannya, kalau Anda sudah memiliki satu pandangan... pikiran Anda tidak akan terbuka selamanya

Seperti kata2 bijak teman saya (minta izin untuk mengutipnya):
Quote :
Selebihnya, orang mau percaya tulisan itu ataupun tidak, iman anda tidak akan goyah. Begitupun penjelasan anda apakah bisa diterima oleh orang lain ataupun tidak, tetap tidak akan merubah apa yang memang sudah ingin dipercaya oleh pembacanya.

St Yopi wrote:
Apalagi ditambah bahwa Alquran dalam bentuk dan jumlah sekarang, justru diseleksi oleh manusia bernama Usman, jauh setelah Muhammad mati, jadi, apanya yang ayatnya tidak bertentangan satu samu lain? Lha wong sudah diseleksi kok!
Very Happy

Kalau Anda mengetahui sejarah penulisan Al Quran dari zaman Rasulullah SAW hingga Khalifah Utsman bin Affan, niscaya Anda tidak akan bicara seperti ini.
Berkomentar seperti ini hanya membuktikan ketidaktahuan dan ke-sok tahu-an Anda....

Sangat disayangkan...
Kembali Ke Atas Go down
St Yopi
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 428
Join date : 24.10.12

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   23rd November 2012, 06:39

Silancah wrote:
St Yopi wrote:
Sungguh menjadi batu sandungan membuktikan Alquran sungguh-sungguh dari Allah
Very Happy
Itu kan menurut Anda yang tidak mengimaninya....
Biar pun umat Islam berbusa2 menjelaskannya, kalau Anda sudah memiliki satu pandangan... pikiran Anda tidak akan terbuka selamanya
Seperti kata2 bijak teman saya (minta izin untuk mengutipnya):
Quote :
Selebihnya, orang mau percaya tulisan itu ataupun tidak, iman anda tidak akan goyah. Begitupun penjelasan anda apakah bisa diterima oleh orang lain ataupun tidak, tetap tidak akan merubah apa yang memang sudah ingin dipercaya oleh pembacanya.
Ini bukan masalah iman atau merubahnya, melainkan pembuktian secara logika itulah yang menjadi masalah
Very Happy
Silancah wrote:

St Yopi wrote:
Apalagi ditambah bahwa Alquran dalam bentuk dan jumlah sekarang, justru diseleksi oleh manusia bernama Usman, jauh setelah Muhammad mati, jadi, apanya yang ayatnya tidak bertentangan satu samu lain? Lha wong sudah diseleksi kok!
Very Happy
Kalau Anda mengetahui sejarah penulisan Al Quran dari zaman Rasulullah SAW hingga Khalifah Utsman bin Affan, niscaya Anda tidak akan bicara seperti ini.
Berkomentar seperti ini hanya membuktikan ketidaktahuan dan ke-sok tahu-an Anda....
Sangat disayangkan...
Silahkan buktikan kalau memang ucapan saya salah, bahwa Usman tidak menyeleksi surat-surat Alquran!

Sungguh disayangkan anda tidak memberikan argumen...
Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   23rd November 2012, 14:00

St Yopi wrote:

Silancah wrote:

St Yopi wrote:
Apalagi ditambah bahwa Alquran dalam bentuk dan jumlah sekarang, justru diseleksi oleh manusia bernama Usman, jauh setelah Muhammad mati, jadi, apanya yang ayatnya tidak bertentangan satu samu lain? Lha wong sudah diseleksi kok!
Very Happy
Kalau Anda mengetahui sejarah penulisan Al Quran dari zaman Rasulullah SAW hingga Khalifah Utsman bin Affan, niscaya Anda tidak akan bicara seperti ini.
Berkomentar seperti ini hanya membuktikan ketidaktahuan dan ke-sok tahu-an Anda....
Sangat disayangkan...

Silahkan buktikan kalau memang ucapan saya salah, bahwa Usman tidak menyeleksi surat-surat Alquran!

Sungguh disayangkan anda tidak memberikan argumen...
Very Happy

Baiklah bro... kalau Anda sudah menyerah mencari referensi tentang sejarah penulisan Al Quran, saya paparkan informasi yang saya ketahui di sini tentang sejarah penulisan dan pembukuan Al Quran hingga zaman khalifah Utsman bin Affan.
Saya kutipkan dari Kitab Al Quran dan Terjemahannya yang merupakan Wakaf dari Pelayan Dua Tanah Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa'ud yang saya dapatkan ketika bulan kemarin berangkat ke Tanah Suci.

Saya merujuk kepada Bab II Sejarah Pemeliharaan Kemurnian Al Quran mulai halaman 18 hingga 23
1. Pemeliharaan Al Quran semasa Nabi SAW.
Saat itu para sahabat kerap menuliskan ayat Al Quran yang disampaikan Nabi SAW di atas sepotong kulit, batu, atau tulang karena bangsa Arab belum mengenal kertas yang kita pakai sekarang. Beda halnya dengan hadits yang dilarang keras untuk dituliskan oleh Rasulullah SAW. Pengenalan kertas baru terjadi pada saat wilayah Islam memasuki negeri Persia.
Beberapa penulis di kalangan sahabat antara lain Ali bin Abi Thalib ra, Utsman bin Affan ra, Ibay bin Ka'ab ra, Zaid bin Tsabit ra, dan Muawiyah ra.
Setahun sekali Malaikat Jibril mengulang hapalan Nabi SAW.
Nabi SAW sering mengadakan ulangan kepada para sahabat di mana sahabat diperintahkan beliau membacakan Al Quran di mukanya untuk menetapkan atau membetulkan hafalan atau bacaan mereka.

2. Al Quran di masa Abu Bakar ra
Setelah terjadi perang Yamamah yang mengakibatkan gugurnya 70 orang penghapal Al Quran, Umar bin Khaththab menyarankan kepada khalifah untuk menuliskan Al Quran. Setelah perdebatan, akhirnya khalifah memerintahkan Zaid bin Tsabit ra menuliskan Al Quran dengan cara mengumpulkan ayat2 Al Quran dari daun, pelepah kurma, bau, tanah keras, tulang unta atau kambing DAN dari sahabat2 yang hafal Al Quran.
Dalam usahanya tersebut, Zaid ra (yang hapal Al Quran) memandang perlu mencocokkan hafalan atau catatan sahabat yang lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi.
Lembaran2 hasil pencatatan ini disimpan oleh khalifah.

3. Al Quran di masa Utsman ra
Dengan semakin luas wilayah kekhalifahan Islam, banyak sahabat yang dikirimkan ke tempat seperti lembah sungai Yaruk di Syria, kota Hirah dan Anbar (Mesopotamia) Mesir, Armenia, Azerbaijan, Tripoli kembali dengan melaporkan adanya perbedaan dalam Quran yang dimiliki di tempat tersebut seperti susunan ayat yang beda, pelafalan yang beda.
Oleh karenanya Utsman membentuk satu pantia terdiri dari Zaid bin Tsabit ra sebagai ketua, Abdullah bin Zubair ra, Said bin Ash ra, dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam ra untuk membukukan Al Quran berdasarkan lembaran2 yang disimpan di Hasfah binti Umar lengkap dengan cara membacanya (yang merujuk kepada dialek suku Quraisy).

Setelah itu, dikumpulkanlah lembaran Al Quran dari seluruh penjuru negeri yang beda urutan atau tanpa tanda baca itu untuk dimusnahkan. Sedangkan Kitab yang bernama Al Mushhaf itu dibuat 5 salinan yang dikirimkan ke Mekah, Syria, Basrah, dan Kufah. Semua salinan kitab Al Quran setelahnya harus merujuk kepada lima Al Mushhaf tersebut sehingga tidak ada lagi perselisihan padanya.

Dan itulah yang terjadi hingga sekarang ini... jika membandingkan Al Quran di Indonesia, di Arab Saudi, di Inggris, di Amerika (tentunya membandingkan yang ada tulisan Arab-nya .. bukan terjemahannya) ... niscaya akan sama.


Jadi terjawab sudah bahwa penyeleksian dan penulisan Al Quran hingga sampai ke yang disebut al Mushhaf atau Mushaf Usmani itu memakan proses panjang yang cermat dengan cek dan recek berulang kali oleh sejumlah orang yang berbeda... bukan hanya dilakukan oleh satu orang saja (Usman bin Affan)

Semoga penjelasan dapat diterima dengan baik oleh Anda, bro...
Kembali Ke Atas Go down
St Yopi
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 428
Join date : 24.10.12

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   24th November 2012, 07:25

Silancah wrote:
St Yopi wrote:

Silancah wrote:

St Yopi wrote:
Apalagi ditambah bahwa Alquran dalam bentuk dan jumlah sekarang, justru diseleksi oleh manusia bernama Usman, jauh setelah Muhammad mati, jadi, apanya yang ayatnya tidak bertentangan satu samu lain? Lha wong sudah diseleksi kok!
Very Happy
Kalau Anda mengetahui sejarah penulisan Al Quran dari zaman Rasulullah SAW hingga Khalifah Utsman bin Affan, niscaya Anda tidak akan bicara seperti ini.
Berkomentar seperti ini hanya membuktikan ketidaktahuan dan ke-sok tahu-an Anda....
Sangat disayangkan...
Silahkan buktikan kalau memang ucapan saya salah, bahwa Usman tidak menyeleksi surat-surat Alquran!
Sungguh disayangkan anda tidak memberikan argumen...
Very Happy
Baiklah bro... kalau Anda sudah menyerah mencari referensi tentang sejarah penulisan Al Quran, saya paparkan informasi yang saya ketahui di sini tentang sejarah penulisan dan pembukuan Al Quran hingga zaman khalifah Utsman bin Affan.
Saya kutipkan dari Kitab Al Quran dan Terjemahannya yang merupakan Wakaf dari Pelayan Dua Tanah Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa'ud yang saya dapatkan ketika bulan kemarin berangkat ke Tanah Suci.
Saya merujuk kepada Bab II Sejarah Pemeliharaan Kemurnian Al Quran mulai halaman 18 hingga 23
1. Pemeliharaan Al Quran semasa Nabi SAW.
Saat itu para sahabat kerap menuliskan ayat Al Quran yang disampaikan Nabi SAW di atas sepotong kulit, batu, atau tulang karena bangsa Arab belum mengenal kertas yang kita pakai sekarang. Beda halnya dengan hadits yang dilarang keras untuk dituliskan oleh Rasulullah SAW. Pengenalan kertas baru terjadi pada saat wilayah Islam memasuki negeri Persia.
Beberapa penulis di kalangan sahabat antara lain Ali bin Abi Thalib ra, Utsman bin Affan ra, Ibay bin Ka'ab ra, Zaid bin Tsabit ra, dan Muawiyah ra.
Setahun sekali Malaikat Jibril mengulang hapalan Nabi SAW.
Nabi SAW sering mengadakan ulangan kepada para sahabat di mana sahabat diperintahkan beliau membacakan Al Quran di mukanya untuk menetapkan atau membetulkan hafalan atau bacaan mereka.
2. Al Quran di masa Abu Bakar ra
Setelah terjadi perang Yamamah yang mengakibatkan gugurnya 70 orang penghapal Al Quran, Umar bin Khaththab menyarankan kepada khalifah untuk menuliskan Al Quran. Setelah perdebatan, akhirnya khalifah memerintahkan Zaid bin Tsabit ra menuliskan Al Quran dengan cara mengumpulkan ayat2 Al Quran dari daun, pelepah kurma, bau, tanah keras, tulang unta atau kambing DAN dari sahabat2 yang hafal Al Quran.
Dalam usahanya tersebut, Zaid ra (yang hapal Al Quran) memandang perlu mencocokkan hafalan atau catatan sahabat yang lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi.
Lembaran2 hasil pencatatan ini disimpan oleh khalifah.
3. Al Quran di masa Utsman ra
Dengan semakin luas wilayah kekhalifahan Islam, banyak sahabat yang dikirimkan ke tempat seperti lembah sungai Yaruk di Syria, kota Hirah dan Anbar (Mesopotamia) Mesir, Armenia, Azerbaijan, Tripoli kembali dengan melaporkan adanya perbedaan dalam Quran yang dimiliki di tempat tersebut seperti susunan ayat yang beda, pelafalan yang beda.
Oleh karenanya Utsman membentuk satu pantia terdiri dari Zaid bin Tsabit ra sebagai ketua, Abdullah bin Zubair ra, Said bin Ash ra, dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam ra untuk membukukan Al Quran berdasarkan lembaran2 yang disimpan di Hasfah binti Umar lengkap dengan cara membacanya (yang merujuk kepada dialek suku Quraisy).
Setelah itu, dikumpulkanlah lembaran Al Quran dari seluruh penjuru negeri yang beda urutan atau tanpa tanda baca itu untuk dimusnahkan. Sedangkan Kitab yang bernama Al Mushhaf itu dibuat 5 salinan yang dikirimkan ke Mekah, Syria, Basrah, dan Kufah. Semua salinan kitab Al Quran setelahnya harus merujuk kepada lima Al Mushhaf tersebut sehingga tidak ada lagi perselisihan padanya.
Dan itulah yang terjadi hingga sekarang ini... jika membandingkan Al Quran di Indonesia, di Arab Saudi, di Inggris, di Amerika (tentunya membandingkan yang ada tulisan Arab-nya .. bukan terjemahannya) ... niscaya akan sama.

Jadi terjawab sudah bahwa penyeleksian dan penulisan Al Quran hingga sampai ke yang disebut al Mushhaf atau Mushaf Usmani itu memakan proses panjang yang cermat dengan cek dan recek berulang kali oleh sejumlah orang yang berbeda... bukan hanya dilakukan oleh satu orang saja (Usman bin Affan)
Semoga penjelasan dapat diterima dengan baik oleh Anda, bro...
1. Mengapa para muslim melanggar perintah Muhammad yang melarang menuliskan (terutama Hadits)?

2. Pada akhirnya diseleksi oleh Usman kan? Dan kalau tidak salah, sampai jaman Usman, banyak sekali kitab/surat yang dibakar karena dianggap tidak sesuai dengan "tukang hapal", benarkah?
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   24th November 2012, 18:03

@ichre. Kalo tidak salah, intisari postingan ini terdapat di sini:
ichrezadariforumLI wrote:
Keimanan adalah keyakinan, yang dalam Islam wajib dicapai dengan penuh kesadaran dan pengertian, karena hanya dengan inilah kesetiaan tunggal pada Islam (tauhid) bisa diharapkan, seperti halnya seorang fisikawan yang telah yakin akan keakuratan nstrumennya, sehingga ia pun segera berbuat sesuatu, begitu instrumen itu mengabarkan existensi radiasi atom yang tidak pernah bisa dideteksi oleh indera fisikawan itu sendiri.
Bagian lain itu, adalah untuk memperjelas itu, ya? Apakah boleh disimpulkan bahwa idealnya, kaum Muslimin itu mengacu ke simpulan itu, iya kan?

Saya coba renungkan, memang betapa bagusnya simpulan itu.

Hanya saja, benak saya menyimpulkan simpulan lain, bahwa indahnya simpulan itu, jika tidak digunakan menjadi semangat, atau spirit, atau ruh yang melatarbelakangi sikap Muslimin, maka simpulan itu menjadi enak diucapkan dan enak didengar tok. Hasilnya untuk kehidupan nyata, dalam berbangsa dan bermasyarakat, tidak terefleksi sebagaimana mestinya.

Saya renung-renung lebih jauh, jika Muslimin konsekuen dengan simpulan itu, idealnya, para penemu di dunia ini akan didominasi oleh Muslimin. Sebab, dari simpulan itu jelas menggambarkan bahwa Muslimin tidak akan menerima sesuatu falsafah tanpa mengujinya.

Kenyataannya, para penemu segala sesuatu yang berguna dalam hidup ini bukan dominasi penganut Islam. Ada apa ini? Apakah Islam itu hanya enak didengar, enak diucapkan, tetapi mempraktikkan hal yang berbeda dengan yang diucapkan? Contoh yang sering dapat dikemukakan, dikatakannya bahwa Islam itu rahmatan lil alamin. Tetapi betapa bertentangannya, ketika atribut-atribut Islam dikibarkan sambil melakukan pengrusakan-pengrusakan, yang bukan manifestasi rahmatan.

Atau, saya salah menganalisis?

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: penjelasan iman lewat logika   Today at 02:17

Kembali Ke Atas Go down
 
penjelasan iman lewat logika
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 3Pilih halaman : 1, 2, 3  Next
 Similar topics
-
» bercanda dengan LOGIKA
» Cara Browsing lewat ubuntu server
» Test Otak & Mata Anda
» YoYo
» sedikit ttg tulah mesir

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Forum Terbuka :: Diskusi - Non-Kristen Bertanya Kristen Menjawab-
Navigasi: