Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah   23rd February 2011, 21:08

Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah


Pendahuluan
Orang berkata “banyak jalan menuju Roma”. Kita sering mendengar pepatah tersebut, dan orang-orang sering menerapkannya di dalam konteks agama, seolah-olah semua agama adalah sama karena mengajarkan tentang Tuhan dan perbuatan baik. Toh akhirnya, semua itu akan membawa seseorang kepada keselamatan. Namun, kenyataannya dibutuhkan peta yang baik untuk sampai ke Roma. Tanpa peta dan rencana yang baik, maka sangat sulit seseorang untuk sampai ke Roma dengan selamat. Dalam tulisan ini, maka kita akan melihat bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan peta dan rencana keselamatan manusia yang memuncak pada kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya. Dan dari misteri Paska inilah Gereja dilahirkan untuk menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa untuk memenuhi pesan Yesus yang terakhir, yaitu “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).

Keselamatan adalah suatu tujuan
Dokrin tentang keselamatan adalah salah satu hal yang paling penting dalam setiap agama, karena keselamatan adalah tujuan akhir hidup manusia atau “END“. Tujuan akan menentukan langkah hidup seseorang. Jika seseorang mempunyai tujuan hidup untuk menjadi kaya, maka orang tersebut akan terus berusaha untuk menjadi kaya dengan tidak melewatkan peluang-peluang yang ada atau bahkan membuat peluang-peluang yang baru. Seseorang yang tujuan hidupnya menjadi seorang pemain bulutangkis yang terkenal akan berlatih secara teratur, baik latihan fisik maupun teknik bermain bulutangkis dengan baik. Dari sini kita melihat bahwa setiap usaha senantiasa dipengaruhi oleh tujuan akhir. Bahkan dapat dikatakan, bahwa seseorang yang tidak mempunyai tujuan akhir, tidak dapat mengambil keputusan dengan baik dan tidak akan mempunyai prinsip yang teguh.

Setiap agama mempunyai konsep keselamatan, baik tujuan akhir atau keselamatan itu sendiri maupun cara untuk mencapainya. Konsep ini dapat merupakan permenungan dari pemikiran manusia maupun dari wahyu Allah, seperti yang ditunjukkan oleh agama-agama yang mempercayai satu Tuhan. Untuk mengkaji konsep keselamatan tersebut, maka satu hal yang dapat menjadi tolak ukur adalah keharmonisan antara akal budi dan wahyu, karena keduanya bersumber dari Tuhan yang sama, sehingga tidak mungkin bertentangan. Jadi pada saat seseorang memaparkan konsep keselamatan, namun menyimpang dari akal sehat, maka konsep keselamatan tersebut perlu diragukan. Menyimpang dari akal sehat, misalnya adalah meragukan keadilan, kebaikan, dan kasih Tuhan. Hal yang lain adalah kalau konsep keselamatan tersebut bertentangan dengan hukum kodrat, misalkan: melakukan kekerasan, membunuh sesama, dll.

Bagi orang Katolik dan juga agama yang percaya akan satu Tuhan, maka tujuan akhir dari keselamatan adalah bersatu dengan Tuhan, walaupun konsep persatuan dalam tiap-tiap agama itu berbeda satu sama lain. Bagi umat Katolik, wujud persatuan dengan Tuhan adalah “beatific vision“, dimana seseorang dapat melihat Allah muka dengan muka, dapat mengetahui dan mengasihi Tuhan. Ini adalah perwujudan kasih yang sempurna, di mana dalam kehidupan kekal, manusia dapat memberi dan menerima kasih secara sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Tujuan akhir ini adalah tujuan yang bersifat adi kodrati atau “supernatural“, yang melebihi tujuan akhir dari manusia yang sesuai dengan kodrat manusia. Hal ini disebabkan karena, melalui Pembaptisan, Tuhan mengangkat derajat manusia, sehingga manusia dapat menikmati kebahagiaan kekal bersama dengan Tuhan.

Artikel ini akan membahas tentang beberapa aspek dalam keselamatan dan hubungannya antara satu dengan yang lainnya, seperti 1) penciptaan, 2) dosa asal, 3) Inkarnasi, 4) Gereja, dan 5) Sakramen Pembaptisan.


1) Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran-Nya.

Karena Tuhan adalah maha baik dan maha bijaksana, maka segala rancangan dan ciptaan-Nya adalah baik dan sempurna sesuai dengan kodrat yang diberikan. Di dalam kitab Kejadian, dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah (Kej 1:26-27). Kemudian Tuhan mengatakan bahwa itu adalah sangat baik (Kej 1:31). Pada saat Tuhan menciptakan segala yang ada di bumi, maka Tuhan hanya bersabda, dan semuanya terjadi. Namun pada saat Tuhan menciptakan manusia, Dia melakukan suatu aktifitas yang tidak hanya bersabda, yaitu membentuk manusia dari tanah, dan kemudian Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia (Lih. Kej 2:7). Dari sini kita dapat melihat bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan lebih sempurna dibandingkan dengan semua yang ada di alam semesta, walaupun hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan malaikat (Lih. Ibr 2:7).

Pada saat Tuhan mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah, ini berarti bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk spiritual, dan di dalam kondisi yang berkenan di hadapan Allah. Hal ini dikarenakan manusia diberikan suatu berkat yang dinamakan “rahmat kekudusan” dan juga “preternatural gifts“. Manusia juga dikaruniai akal budi, yang terdiri dari akal (intellect) dan keinginan (will). Dan akal budi inilah yang membuat manusia mempunyai kodrat untuk mengenal dan mengasihi pencipta-Nya. Dan sesuai dengan prinsip bahwa “segala sesuatu bergerak menuju tujuan akhir“, maka Tuhan telah memateraikan dalam diri manusia, yaitu keinginan untuk mencapai tujuan akhir untuk bersatu dengan Penciptanya, yaitu Tuhan.

2) Dosa membuat manusia terpisah dari Allah.

Akal budi yang menjadi kodrat manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah adalah merupakan suatu berkat yang begitu indah. Dengan karunia akal budi, manusia mempunyai keinginan bebas, termasuk kebebasan untuk berkata “tidak” atau “ya” terhadap Penciptanya. Ini adalah suatu bentuk kasih Tuhan kepada manusia. Pada saat seseorang mengasihi, maka ia ingin memberikan kebebasan kepada orang yang dikasihi untuk mengasihi dengan bebas tanpa paksaan. Namun kebebasan yang disalahgunakan inilah yang menjadi sumber dosa pertama.

Adam dan Hawa berdosa pada saat mereka berkata “ya” terhadap godaan setan dan berkata “tidak” terhadap perintah Tuhan (Lih. Kej 3:1-7), atau pada saat manusia pertama menempatkan ciptaan lebih tinggi dari pada Sang Pencipta. Pada saat mereka menempatkan baik dan buruk dengan parameter mereka sendiri, dan bukan dari Tuhan, maka mereka tidak berada di dalam kasih Tuhan dan kebenaran. Atau dengan kata lain, mereka menjadi sombong dan lupa akan hakekat mereka yang sesungguhnya sebagai ciptaan yang tidak mungkin menjadi pencipta. Manusia seharusnya bergantung kepada Penciptanya terutama dalam menentukan yang benar dan yang salah. Jika kita berontak dari Allah dan ingin menentukan sendiri akan apa yang benar dan salah, maka kita menjadi seperti Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa asal.

Karena Tuhan adalah kudus (Maz 99:9) dan kasih (1 Yoh 4:Cool, maka dosa – yang berlawanan dengan kekudusan Tuhan dan merupakan penolakan akan kasih Allah – secara otomatis memisahkan manusia dengan Tuhan. Di dalam kitab kKejadian digambarkan manusia diusir dari Taman Firdaus (lih. Kej 3:22-24). Karena manusia pertama gagal untuk meneruskan “rahmat kekudusan atau sanctifying grace” dan “preternatural gifts“ yang telah diberikan Allah secara cuma-cuma, maka seluruh umat manusia kehilangan berkat-berkat ini.
Terlepas dari Tuhan dan terbelenggu oleh dosa, maka manusia tidak dapat berbuat apa-apa, seperti yang dikatakan oleh Yesus bahwa di luar Allah, manusia tidak dapat berbuat apa-apa (lih. Yoh 14:5). Karena dosa adalah penolakan manusia akan kasih Allah, maka dosa adalah ketidakadaan kasih. Oleh karena itu, dosa hanya dapat digagalkan dengan mengisinya dengan kasih. Namun terpisah dari Allah, maka manusia menjadi semakin tidak berdaya, karena ketiadaan kasih menjadi semakin dalam. Atau dengan kata lain, kasih adalah suatu pemberian, dan oleh karena manusia yang berdosa tidak punya kasih, maka ia tidak dapat memberikan kasih itu. Sebab seseorang tak dapat memberikan kasih kalau ia tidak terlebih dahulu mempunyai kasih itu. Oleh karena itu, manusia tidak dapat melepaskan diri dari belenggu dosa, tanpa bantuan Tuhan, Sang Kasih. Dan semakin manusia menjauh dari Allah atau Kasih itu sendiri (lih. 1 Yoh 4:Cool, maka manusia semakin tidak memiliki kasih dan semakin tidak berdaya untuk melepaskan diri dari belenggu dosa.

Karena dosa adalah suatu perlawanan dari hukum Tuhan, maka secara kodrat, dosa mempunyai suatu konsekuensi. Sebagai contoh, Kalau kita melanggar peraturan lalu lintas, maka kita juga menanggung akibat dari pelanggaran kita. Semakin yang dilanggar mempunyai derajat yang lebih tinggi, maka akibatnya akan semakin besar.

Karena manusia berdosa terhadap Tuhan yang mempunyai martabat yang begitu tinggi, maka manusia menjadi begitu berdosa dan tidak dapat menebusnya sendiri. Bayangkanlah, apakah ada bedanya kalau kita menghina teman kita dengan kalau kita menghina seorang presiden? Tentu saja ada suatu perbedaan yang besar, karena seorang presiden mempunyai martabat lebih tinggi dibandingkan dengan teman kita dan seorang presiden adalah suatu simbol dari suatu negara. Dan menghina presiden mempunyai implikasi menghina suatu negara. Tentu saja suatu negara mempunyai derajat lebih tinggi daripada seseorang atau beberapa individu. Oleh karena itu penghinaan terhadap suatu negara tidak cukup diselesaikan dengan permintaan maaf dari satu atau beberapa individu, namun harus diselesaikan antara perwakilan negara yang satu dengan perwakilan negara yang lain. Dengan alasan yang sama, maka manusia tidak dapat melepaskan diri dari dosa tanpa adanya campur tangan dari Tuhan sendiri.

3) Kristus adalah satu-satunya jalan untuk menyambung kembali hubungan manusia dengan Tuhan.

Di tengah-tengah ketidakberdayaan manusia, maka Tuhan yang begitu mengasihi umat-Nya tidaklah membiarkan manusia tidak berdaya dibelenggu dosa. Oleh karena itu, Tuhan sejak awal telah mempunyai rencana untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk keselamatan manusia dalam misteri Inkarnasi. Hal ini dinyatakan setelah manusia pertama jatuh ke dalam dosa, dimana Tuhan berkata kepada setan ” Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini [the woman], antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15). Perhatikan juga di ayat 21 ” Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” – yang dapat mengacu kepada kurban Kristus sebagai Anak Domba yang menghapus dosa. Dia yang melingkupi manusia dengan pengorbanan-Nya di kayu salib. Dan rencana Tuhan telah dipersiapkan dari awal mula dan Tuhan juga berbicara dengan perantaraan para nabi untuk mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus ke dunia atau misteri Inkarnasi.

Misteri Inkarnasi ini menjadi begitu sempurna, karena Yesus sebagai Putera Allah, yang mempunyai derajat yang sama dengan Tuhan, menjadi manusia. Sama seperti contoh di atas, bahwa perwakilan suatu negara menyelesaikan permasalahan dengan perwakilan negara yang lain, maka Yesus, yang sungguh adalah Tuhan dan manusia dapat menyelesaikan permasalahan antara keduanya. Yesus mempunyai derajat yang sama dengan Allah Bapa dan pada saat yang bersamaan, Yesus – yang sungguh adalah manusia – menjadi perwakilan seluruh manusia yang telah berdosa. Maka, Yesus memberikan suatu korban yang berkenan kepada Allah Bapa demi tersambungnya kembali hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Dan betapa besar harga yang dibayar oleh Kristus untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan manusia! Ia menyerahkan diri-Nya, untuk disalibkan. Rasul Paulus menegaskan bahwa pengorbanan Kristus bukan hanya cukup untuk menanggung dan menebus dosa seluruh umat manusia, namun dipenuhi secara berlimpah (superabundant) karena dilakukan dengan kasih-Nya yang sempurna (lih. Rm 5:15-20). Kasih yang sempurna ini adalah jawaban yang sempurna atas kasih Tuhan yang telah dilanggar oleh manusia pertama, sehingga keselamatan atau kesatuan manusia dengan Tuhan menjadi sesuatu yang mungkin. Kasih inilah yang membuka pintu surga untuk seluruh umat manusia. Inkarnasi adalah jawaban yang sempurna untuk karya keselamatan Allah, karena Yesus turun menjadi manusia, sehingga manusia dapat naik untuk bersatu dengan Tuhan.

4) Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus

Dari kayu salib inilah, Kristus melahirkan Gereja, yaitu Tubuh Mistik Kristus. Sama seperti Hawa dibentuk dari tulang rusuk Adam, maka Gereja terbentuk dari darah dan air yang mengalir dari luka di lambung Kristus. Dan lahirnya Gereja dimanifestasikan secara penuh pada saat Pentekosta, dimana Roh Kristus sendiri turun dan berkarya atas para rasul. Di kayu salib inilah, kasih Kristus yang sehabis-habisnya dicurahkan kepada Allah Bapa dan manusia untuk menebus dosa-dosa manusia.
Di kayu salib, saat darah dan air mengalir dari sisi Kristus, Gereja dilahirkan. Inilah pemenuhan dari janji Kristus ketika Dia mengatakan kepada rasul Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mt 16:18) Namun kenapa Yesus melahirkan Gereja-Nya pada saat kematian-Nya di kayu Salib? Karena ini adalah puncak ketaatan dari Adam terakhir atau Kristus. Ketidaktaatan dan dosa Adam pertama ditebus dengan ketaatan dan kasih dari Adam yang baru (lih. Rm 5:15). Dan kemudian, pada saat hari Pentakosta – hari pemenuhan janji kristus, yang mengatakan akan mengirimkan Roh Penghibur, Roh Kebenaran (Yoh 15:26; 16:13) – Gereja dimanifestasikan secara penuh di hadapan berbagai macam bangsa dan bahasa. Dan Gereja ini adalah Gereja yang sama yang dikatakan oleh rasul Paulus sebagai Tubuh Mistik Kristus (Ef 5:23), dan juga Gereja yang bertahan terus sampai saat ini di bawah kepemimpinan rasul Petrus dan penerusnya (Mt 16:18). Gereja ini adalah Gereja Katolik.

Kalau kita percaya bahwa Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus yang didirikan oleh Kristus, dan keselamatan mengalir dari Kristus, Sang Kepala Gereja, maka akibat logis dari hal ini adalah keselamatan manusia mengalir dari Gereja. Mengapa keselamatan harus melalui mediasi Gereja? Hal ini adalah sesuai dengan prinsip “mediation“/ pengantaraan. Adalah menjadi kebijaksanaan Tuhan untuk memilih prinsip pengantaraan ini untuk melaksanakan rencana keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu, prinsip ini menjadi “fitting” dan paling tepat. Dan rasul Paulus menegaskan bahwa sama seperti dosa turun ke dunia melalui satu orang (Adam), maka melalui satu orang juga, Adam yang baru (Kristus), maka belenggu dosa dipatahkan dan berkat-berkat mengalir (Rm 5:15). Dengan konsep “mediation” yang sama, maka pada masa Perjanjian Lama Allah mengutus para nabi untuk menjadi perantara antara Dia dan umat pilihan-Nya. Pada masa Perjanjian Baru, Kristus menjadi Pengantara yang sempurna antara Allah dan manusia, dan peran ini kemudian diteruskan oleh Gereja sampai akhir jaman. Oleh kuasa Roh Kudus, Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus juga menjadi perantara untuk membagikan berkat-berkat dari Kristus Sang Pengantara satu-satunya, melalui sakramen-sakramen.

Maka, kita melihat bagaimana Adam sesungguhnya dipilih Allah untuk menjadi suatu pengantara/ saluran “rahmat kekudusan (sanctifying grace)” yang dari Allah kepada segenap umat manusia, namun Adam gagal untuk melaksanakan tugas ini. Namun Allah terus menerus mengusahakan pulihnya hubungan kasih-Nya dengan manusia dengan mengutus para nabi. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan berbicara kepada manusia dengan menggunakan perantaraan para nabi. Ia juga menggunakan perantaraan para imam untuk mempersembahkan kurban bakaran, baik berupa kurban syukur ataupun kurban penebus dosa. Sampai akhirnya Tuhan mengutus Putera-Nya sendiri, untuk menjadi Perantara yang sejati, yang menjadi Korban sekaligus Imam, untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah rusak oleh dosa. Kristuslah tanda Perjanjian Baru dan kekal; dan karena bersifat kekal, maka artinya, karya-Nya masih berlangsung sampai sekarang. Hal ini dimungkinkan karena karya Roh Kudus yang terus bekerja melalui Gereja-Nya.

Namun demikian, mungkin ada keberatan yang menyatakan bahwa Yesus adalah Perantara satu-satunya antara manusia dan Tuhan dan tidak ada yang lain (lih. 1 Tim 2:5), sehingga manusia tidak membutuhkan Gereja. Keberatan ini sesungguhnya tidak mendasar, dengan beberapa alasan. Pertama, Kristus adalah Kepala Gereja, dan Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus (1 Kor 12:27). Oleh karena itu ada kesatuan yang terpisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya. Tanpa Kristus sebagai Kepala Gereja, maka Gereja tidak mungkin menjadi perantara. Oleh karena itu, kalau Kristus menjadi Pengantara satu-satunya antara manusia dan Tuhan, maka Gereja juga menjadi perantara antara manusia dan Tuhan.

Kedua, kalau Kristus menjadi Pengantara satu-satunya, itu berarti tidak menghalangi yang lain menjadi perantara, sejauh perantara yang lain tetap berhubungan dengan satu-satunya Pengantara sejati, yaitu Kristus. Kalau Kristus yang melahirkan Gereja, maka tidaklah mungkin Gereja bertentangan dengan Kristus, sama seperti tubuh tidak mungkin bertentangan dengan kepala. Kita dapat melihat contoh sehari-hari, bahwa Kristus sebagai satu-satunya Pengantara tidak menghalangi umat Kristen untuk meminta doa dari sesama anggota dalam satu iman. Apakah umat yang lain kemudian kita anggap sebagai penghalang? Tentu saja tidak, karena doa dari umat yang lain adalah merupakan partisipasi di dalam Kristus dan bahkan Kristus sendiri yang memerintahkan kita untuk turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus.
Ketiga, karena Roh Kristus adalah sebagai Roh yang menuntun seseorang kepada pertobatan dan keselamatan dan Roh Kristus ini sendiri yang terus berkarya di dalam Gereja, maka Gereja menjadi sakramen keselamatan bagi manusia. Bagaimana kita tahu bahwa Roh Kudus bekerja secara terus-menerus, memberikan inspirasi, dan melindungi Gereja sampai akhir jaman? Hal ini terjadi karena hakekat Gereja itu sendiri, sebagai Tubuh Mistik Kristus, yang senantiasa bersatu dengan Kepala Gereja, yaitu Kristus. Oleh sebab itu, Roh Kristus sendirilah yang menjadi jiwa dari Gereja.

5) Baptisan adalah pertemuan antara pengorbanan Kristus dan jawaban “ya” dari manusia

Kita melihat bahwa jalan sudah dibukakan oleh Kristus agar manusia dapat mencapai tujuan akhir, yaitu Surga: persatuan abadi dengan Tuhan. Kristus, melalui penderitaan-Nya di kayu salib telah melahirkan Gereja Katolik, yang dimanifestasikan secara nyata di hari Pentakosta. Kristus juga telah memberikan Roh Kudus-Nya untuk berkarya secara terus-menerus di dalam Gereja. Juga, Kristus telah memberikan ketujuh sakramen untuk menyalurkan berkat-berkat-Nya kepada setiap anggota Gereja. Dan lebih lagi, Tuhan juga terus memberikan dorongan di dalam diri setiap anggota-Nya agar dapat mengalami pertobatan dan mempunyai hubungan yang pribadi dengan-Nya. Dapat dikatakan bahwa Tuhan telah melakukan segala sesuatu untuk membawa manusia kepada-Nya.

Yang menjadi pertanyaan, apakah manusia benar-benar mau untuk menjawab panggilan Tuhan? Tindakan yang nyata dari manusia untuk menjawab tawaran kasih Kristus adalah dengan melalui Sakramen Pembaptisan, karena dengan Pembaptisan, seseorang mendapatkan “rahmat kekudusan atau sanctifying grace“, karunia Roh Kudus, “supernatural virtue atau kebajikan Ilahi”, yang mengalir dari Gereja dan bersumber pada Kristus. Dan melalui Sakramen Pembaptisan, seseorang menjadi anggota dari Gereja Katolik secara penuh. “Rahmat kekudusan” inilah yang membuat orang yang dibaptis menjadi berkenan di hadapan Allah, sama seperti keadaan Adam dan Hawa sebelum mereka berdosa. Itulah sebabnya Sakramen Pembaptisan menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan keselamatan, karena melalui Sakramen ini, seseorang menjadi anak Allah melalui Kristus, Sang Putera Allah.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, maka terlihat jelas, bahwa keselamatan adalah adalah suatu anugerah dari Allah, di mana manusia sebenarnya tidak berhak untuk mendapatkannya karena terpisah oleh dosa, karena upah dosa adalah maut (Rm 6:23). Namun karena Tuhan begitu mengasihi manusia, Dia tidak membiarkan manusia untuk terpisah dari Tuhan untuk selamanya. Inkarnasi adalah jawaban dari Tuhan terhadap hukuman dosa, karena Yesus telah membayar semua dosa dengan penderitaan-Nya di kayu salib. Karya keselamatan ini diteruskan oleh Gereja Katolik, sebagai Tubuh Mistik Kristus, dengan sakramen-sakramen yang didirikan oleh Kristus, terutama adalah Sakramen Pembaptisan yang menjadi pintu gerbang keselamatan untuk menerima sakramen-sakramen yang lain.

Dari sini kita melihat adanya suatu hubungan yang erat dan tak terpisahkan antara penciptaan, dosa, Inkarnasi, Gereja Katolik, dan Sakramen Pembaptisan. Namun kelima hal tersebut mengacu kepada Yesus Kristus, di mana 1) Tuhan menciptakan segalanya baik adanya, namun 2) dosa memisahkan manusia dari Tuhan, dan 3) Inkarnasi adalah jawaban dari Allah sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, 4) Gereja Katolik adalah Tubuh Mistik Kristus, yang menjadi sakramen keselamatan bagi umat manusia, dan 5) Sakramen Baptis menjadi sarana untuk keselamatan manusia, karena manusia menerima kembali harkatnya sebagai gambaran Allah untuk bersatu kembali dengan Allah. Dalam beberapa tulisan mendatang tentang keselamatan, akan dibahas secara lebih mendalam mengapa keselamatan hanya ada di dalam Kristus dan hanya ada di dalam Gereja Katolik.

Menurut St. Thomas Aquinas, yang ada pada Adam dan Hawa adalah rahmat pengudusan / “sanctifying grace” dan 4 jenis karunia yang disebut ‘preternatural gifts’ yaitu: 1) keabadian atau immortality, 2) tidak ada penderitaan, 3) pengetahuan akan Tuhan atau ‘infused knowledge’ dan 4)berkat keutuhan atau ‘integrity’ maksudnya, adalah harmoni atau tunduknya nafsu kedagingan pada akal budi. Namun, Adam dan Hawa belum sampai melihat Tuhan muka dengan muka, yaitu mengenal Allah dengan sempurna di dalam Allah sendiri.

Katekismus Gereja Katolik, 32.
Thomas Aquinas, Summa Theologica, II-I, q.1, a.1 Adalah merupakan kodrat manusia untuk bertindak sesuai dengan tujuan akhir yang telah ditetapkan oleh Penciptanya.
Menurut St. Thomas Aquinas, yang ada pada Adam dan Hawa adalah rahmat pengudusan / “sanctifying grace” dan 4 jenis karunia yang disebut ‘preternatural gifts’ yaitu: 1) keabadian atau immortality, 2) tidak ada penderitaan, 3) pengetahuan akan Tuhan atau ‘infused knowledge’ dan 4)berkat keutuhan atau ‘integrity’ maksudnya, adalah harmoni atau tunduknya nafsu kedagingan pada akal budi. Namun, Adam dan Hawa belum sampai melihat Tuhan muka dengan muka, yaitu mengenal Allah dengan sempurna di dalam Allah sendiri.

Rahmat pengudusan dan ke-empat karunia preternatural gifts ini yang hilang akibat dosa asal, sehingga manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa, atau disebut sebagai concupiscentia/ concupiscence. Concupiscence/ kecenderungan berbuat dosa ini adalah mencakup keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16).
KGK, 766.

Ditulis oleh : Stefanus Tay
Kembali Ke Atas Go down
 
Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Ruang Antar Kristen (Khusus Penganut Kristen Trinitarian) :: Ajaran Kristen-
Navigasi: