Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   16th July 2011, 12:16

Maria Co-Redemtrix

Co-Redemptrix, apa maksudnya?

Menurut arti bebasnya, Co- artinya adalah ‘dengan’. Maka menurut definisinya yang dikenal dalam Mariologi, Co-Redemptrix mengacu kepada partisipasi Bunda Maria yang tidak langsung namun sangat penting dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Dalam arti inilah Bunda Maria bekerja sama dengan Yesus dalam rencana Keselamatan Allah. Namun, partisipasi Maria dalam karya keselamatan ini sepenuhnya tergantung dan berada di bawah peran Kristus Putera-Nya.

Maka, dengan mengatakan Maria sebagai Co-Redemptrix, kita tidak menjadikan Bunda Maria sejajar dengan Yesus dalam karya Keselamatan. Bunda Maria sendiri tetap memerlukan Yesus sebagai Juru Selamatnya, dalam hal ini untuk menjadikannya kudus tanpa noda sejak dalam kandungan, dan karena itu tidak mungkin Bunda Maria memiliki kedudukan yang sama dengan Yesus.

Bagaimana Maria melakukannya?

Bunda Maria dikatakan sebagai Co- Redemptrix karena dua hal utama, yaitu atas ketaatannya pada saat menerima kabar gembira, dan ketaatan selama hidupnya, yang memuncak di kaki salib Yesus. Saya ingin mengutipnya dari tulisan pakar Mariologi yang bernama Mark Miravalle, S.T.D, yang mengajarkan:[1].

1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, yang berupa sebuah ‘undangan’ untuk mengambil bagian dalam karya Keselamatan Allah, dengan menjadi ibu bagi Yesus sang Penyelamat. Maria menanggapi undangan ini dengan kesediaannya mengizinkan penjelmaan Yesus menjadi manusia ini mengambil tempat di dalam rahimnya. Para Bapa Gereja di abad-abad awal mengajarkan bahwa Inkarnasi dan Karya keselamatan sebagai suatu kesatuan tindakan Allah untuk menyelamatkan manusia. Maka terlihat di sini peran Maria yang sangat penting sebab oleh ketaatannya, ia membawa Kristus Sang Penyelamat ke dunia, melalui Inkarnasi. Oleh Maria, maka ayat ini tergenapi, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” (Yoh 1:14)

Dengan demikian Maria menjadi Hawa yang baru. Sebab oleh ketidak taatan Hawa yang pertama, umat manusia jatuh ke dalam dosa, sedangkan oleh ketaatan Maria (Hawa yang baru) umat manusia memperoleh Sang Penyelamatnya. St Irenaeus (180) berkata, “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya.”[2]. Dan karena tubuh Yesus, sebagai alat Keselamatan (lih. Ibr 10:10) diberikan kepada Yesus oleh Maria saat Ia terbentuk dalam rahimnya, maka Maria sebagai Ibu Yesus memiliki peran yang sangat istimewa dalam keselamatan manusia, yang tidak dapat dibandingkan dengan semua ciptaan lainnya.

Paus Yohanes Paulus mengatakan bahwa pada saat mengatakan “YA”/ Fiat pada kabar Malaikat itu, maka iman Maria dapat disejajarkan dengan iman Bapa Abraham yang menandai permulaan Perjanjian Lama antara Tuhan dengan umat-Nya. Iman Maria menandai dimulainya Perjanjian Baru. Seperti halnya Bapa Abraham yang percaya “sekalipun tidak ada dasar untuk berharap” (Rom 4:18) bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa padahal pada saat janji itu diberikan ia belum mempunyai keturunan, maka Mariapun juga percaya, bahwa meskipun ia tetap perawan (tidak bersuami), ia akan melahirkan seorang Anak atas kuasa Roh Kudus, dan “Anaknya itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk 1:35).[3].

2. Maria secara unik berpartisipasi dalam kurban salib Yesus demi keselamatan umat manusia. Di kaki salib Kristus, Bunda Maria mempersembahkan kepada Allah hak-haknya sebagai ibu, segala belas kasih, dan penderitaannya yang tak terlukiskan melihat Putera-Nya sendiri disiksa sampai wafat.

Di kayu salib inilah, menurut Paus Yohanes Paulus II, Bunda Maria melihat seolah-olah kebalikan dari perkataan Malaikat di saat menerima kabar gembira, “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33) Di kayu salib ini, terpampang di hadapan matanya kenyataan yang begitu memilukan, “Ia (Yesus) dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan…. (Yes 53:3-5). Betapa besarnya ketaatan Maria yang menyerahkan diri seutuhnya, segala “akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang keputusan dan jalan-jalan-Nya tak terselami! (Lih. Rom 11:33). Dengan cara inilah Maria berpartisipasi dalam “pengosongan diri” yang dilakukan oleh Yesus di kayu salib (lih. Flp 2: 5-Cool. Ini mungkin adalah suatu bentuk “pengosongan diri” yang terdalam sepanjang sejarah manusia. Di sinilah terpenuhi nubuat Simeon, “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri…” (Luk 2:35).[4]

Para Bapa Gereja membandingkan iman Maria di kaki salib Kristus ini dengan iman Bapa Abraham yang mempersembahkan Ishak anaknya sebagai persembahan kepada Tuhan.
Dasar Kitab Suci

Sebenarnya, tidak sulit untuk menerima ajaran bahwa Bunda Maria disebut sebagai “Co- Redemptrix” kalau kita dapat menerima pengajaran sebagai berikut:

1. 1 Kor 3:9: “Karena kami adalah kawan sekerja Allah ….” Jika kita semua saja adalah kawan sekerja Allah dalam rencana Keselamatan, tentulah Bunda Maria yang membawa Kristus ke dunia adalah kawan sekerja Allah yang begitu istimewa. Sebab tanpa ketaatannya melalui kehendak bebasnya, maka Yesus tidak lahir ke dunia.

2. Kolose 1:24: Rasul Paulus mengajarkan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Maka dengan penderitaannya, yang dipersatukan dengan penderitaan Kristus di kayu salib, Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

Memang korban penebusan Kristus telah digenapi dengan sempurna di Golgota, namun demikian, penerapan korban penebusan ini kepada semua manusia masih berlanjut sepanjang sejarah manusia. Itulah sebabnya, di dalam hidup kita sebagai anggota Tubuh Kristus di dunia, kita masih mengalami penderitaan. Maka kita layak untuk mencontoh teladan Bunda Maria yang menyerahkan segala penderitaannya dan mempersatukannya dengan korban Yesus di kayu salib, agar dengan demikian kitapun, dengan porsinya masing-masing, mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

3. Yoh 2:5: Maria Ibu Yesus berkata…. “Apa yang dikatakan kepadamu, (oleh Yesus) buatlah itu!”
Sebagaimana yang terjadi di Kana, Bunda Maria sangat memperhatikan kebutuhan umat beriman. Namun apa yang dikatakannya selalu mempunyai Kristus sebagai pusatnya, dan ia membawa para beriman untuk menaati perintah Yesus.

Maria, Co- Redemptrix menurut Bapa Gereja

Walaupun sampai saat ini pengajaran bahwa Maria sebagai Co-Redemptrix belum diangkat secara definitif menjadi Dogma, namun sebenarnya, dasar pengajaran ini telah ada sejak lama. St. Yustinus (100) adalah Bapa Gereja yang pertama yang mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru. Kemudian, murid Rasul Yohanes, St. Irenaues (180), juga mengajarkan tentang peran Maria sebagai Hawa yang baru, yang berkerjasama dengan Adam yang baru yaitu Kristus untuk menyelamatkan dunia. Ia mengkontraskan ketidaktaatan Hawa dengan ketaatan Maria. Kesaksian St. Irenaeus tentu sangat penting, karena ia adalah murid dari St/ Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes, yang kepadanya Yesus telah mempercayakan Bunda Maria di saat ajal-Nya di kayu salib. (Yoh 19:25). Kesaksian St. Irenaeus ini banyak dikutip oleh para Bapa Gereja, dan dikutip pula dalam dokumen Konsili Vatikan II.[5]

Tertullian (abad ke 3), juga mengajarkan Bunda Maria sebagai Hawa yang baru. Ia mengkontraskan bahwa Hawa percaya pada perkataan sang ular/Iblis, sedangkan Maria percaya kepada perkataan Malaikat.[6] Selanjutnya, St. Agustinus (354-430), St, Yohanes Damascene (754-787) dan St. Thomas Aquinas (1225-1274), mengajarkan hal yang sama, diikuti oleh banyak para kudus lainnya. Dengan prinsip Maria sebagai Hawa yang baru, maka tidak sulit untuk memahami mengapa Bunda Maria disebut sebagai Co-Redemptrix.
Pengajaran para Paus

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Paus tentang Maria sebagai Co- Redemptrix:[7]

1. Paus Pius Benediktus XV (1918) dalam Surat Apostoliknya mengatakan, “Pada tingkat yang tak terlukiskan, Maria menderita dan hampir mati dengan Anak-nya yang menderita dan mati, dan dengan demikianlah ia menyerahkan segala hak-hak keibuannya demi keselamatan manusia…. sehingga kita dapat berkata bahwa ia bersama-sama dengan Kristus menyelamatkan umat manusia.”[8]

2. Paus Pius XI (1922- 1939) menyebutkan Maria sebagai Co-Redemptrix sebanyak sekurang-kurangnya 6 kali dalam dokumen-dokumen kepausan-nya. Ia mengajarkan, “O, Bunda kekudusan dan belas kasih, yang ketika Anakmu menyelesaikan karya Keselamatan manusia di kayu salib, sungguh mengemban sengsara dengan Dia dan sebagai seorang Co-Redemptrix, menjaga di dalam kita buah berharga dari karya Keselamatan ini, dan dari belas kasihmu.”[9]

3. Paus Pius XII (1939-1958) menyebutkan Maria sebagai “rekan sejawat yang terkasih dari Sang Penyelamat” mengajarkan, “Oleh kehendak Tuhan, Perawan Maria yang terberkati bersatu tak terpisahkan dengan Kristus di dalam menyelesaikan karya Keselamatan, sehingga keselamatan kita mengalir dari kasih Yesus Kristus dan penderitaan-Nya secara erat bersatu dengan kasih dan dukacita Ibu-Nya.”[10]

4. Konsili Vatikan II, mengajarkan, “Demikianlah Santa Perawan juga melangkah maju dalam peziarahan iman. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga di salib, ketika ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya (lih. Yoh 19:25). Disitulah ia menanggung penderitaan yang dashyat bersama dengan puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.”[11]

5. Paus Yohanes Paulus II, dalam surat Ensikliknya, mengajarkan, “Betapa besar, dan betapa heroiknya ketaatan iman yang ditunjukkan Maria di hadapan kebijaksanaan Allah yang tak terpahami! Betapa lengkapnya ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan tanpa syarat, “menyerahkan kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah” kepada Ia yang segala jalan-jalan-Nya yang tak terselami! (lih. Rom 11:33). Melalui iman ini Maria secara sempurna bersatu dengan Kristus dalam hal pengosongan diri…. Di kaki salib Kristus, Maria mengambil bagian melalui iman di dalam misteri pengosongan diri yang tragis ini. Ini mungkin merupakan merupakan sebuah kenosis/ pengosongan diri yang terdalam sepanjang sejarah manusia. Melalui iman Bunda Maria mengambil bagian di dalam kematian Kristus, di dalam kematian-Nya yang menyelamatkan…”[12]

Di tahun 1985, dalam sebuah pernyataan kepausan yang lain, Paus Yohanes Paulus mengajarkan bahwa gelar Co-Redemptrix berkaitan dengan penyaliban rohani yang dialami Maria di kaki salib Kristus: “Disalibkan secara rohani dengan Putera-Nya yang tersalib (lih. Gal 2:20), ia [Maria] memandang dengan kasih yang heroik kematian Tuhannya, “dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, dengan penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya.”[13]… seperti ia berada di dalam cara yang istimewa di dekat kayu salib Kristus, ia juga pasti mempunyai pengalaman istimewa dalam Kebangkitan-Nya. Nyatanya, peran Maria sebagai Co-Redemptrix tidak berhenti dengan kemuliaan Putera-Nya.”[14]

Kesimpulan

Jika kita melihat rencana Keselamatan Allah yang melibatkan kehendak bebas manusia, maka selayaknya kita mempunyai penghormatan yang besar kepada Bunda Maria. Sepertihalnya Abraham, Bunda Maria telah menunjukkan ketaatan iman yang sangat istimewa. Bunda Maria merupakan teladan bagi kita semua orang beriman untuk mempersatukan diri dengan Kristus, dalam setiap langkah kehidupan kita. Ketaatan Maria yang tanpa syarat sungguh merupakan contoh bagi semua murid Kristus. Dengan melihat kepada Bunda Maria, kita dapat melihat bagaimana seharusnya kita menjadi “kawan sekerja Allah”. Sebab dalam arti sesungguhnya, “kawan sekerja” ini tidak saja berupa kawan yang menyertai di saat kemuliaan Yesus, tetapi juga dengan mengambil bagian di dalam penderitaan-Nya. Sebab suka cita kebangkitan Yesus tak terlepas dari korban salib-Nya; kemuliaan Yesus tidak terlepas dari “pengosongan diri”-Nya. (Flp 2:5-11)

Perihal suatu hari Co- Redemptrix diangkat menjadi Dogma, atau tidak, tidak terlalu menjadi masalah bagi kita yang mengetahui prinsip ajarannya. Persatuannya dengan Kristus sepanjang hidupnya, menjadikan Maria layak disebut ‘rekan sekerja Allah’, namun karena perannya yang istimewa dengan ketaatan imannya sebagai ibu Yesus sejak menerima kabar gembira sampai berdiri di kaki salib Kristus, ia memang layak disebut Co- Redemptrix. Kita mengetahui sebutan Co-Redemptrix ini tidak untuk menyamakan peran Maria dengan peran Yesus, namun di saat yang sama kita mengakui dengan rendah hati bahwa memang peran Maria tidak akan pernah sama dengan peran manusia manapun dalam menjadi ‘rekan sekerja Allah’ dalam karya Allah menyelamatkan dunia.

Tuhan Yesus, bukakan mata hati kami untuk melihat betapa layaklah kami belajar dari teladan Ibu-Mu, untuk dengan taat menyerahkan diri kami seutuhnya kepada-Mu, agar kamipun dapat Engkau jadikan ‘kawan sekerja-Mu’ untuk menyelamatkan dunia ini. Amin.”

CATATAN KAKI:

Lihat Mark Miravalle, S.T.D, Introduction to Mary, The Heart of Marian Doctrine and Devotion, (Santa Barbara, CA: Queenship Publishing Company, 1993), p. 68-70 [↩️]
St. Irenaeus, Adversus Haereses, III, 22, 4: S. Ch. 211. 438-44, Lumen Gentium, 56, note 6 [↩️]
Paus Yohanes Paulus II, Surat Ensiklik, Redemptoris Mater, 14 [↩️]
Paus Yohanes Paulus II, Surat Ensiklik, Redemptoris Mater, 18 [↩️]
Lihat Lumen Gentium 56 [↩️]
Lihat Tertullian, On the Flesh of Christ, Chap 17 [↩️]
Lihat Mark Miravalle, Ibid., p. 70-72 [↩️]
Paus Pius Benediktus XV, Surat Apostolik, Inter Sodalicia [↩️]
Paus Pius Xi, Penutupan tahun Yubelium 1935, L’Observatore Romano, April 29, 1935 [↩️]
Paus Pius XII, Haurietis Aguas, no.2 [↩️]
Lumen Gentium 58 [↩️]
Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater, 18 [↩️]
Lumen Gentium 58 [↩️]
Paus Yohanes Paulus II, Allocution at the Sanctuary of Our Lady of Alborada in Quayaquil, Jan 31, 1985, dikutip dari L’Observatore Romano, March 11, 1985, p.7 [↩️]


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   16th July 2011, 12:17

Husada wrote:
T2Y wrote:
Quote :
pengkultusan seperti apa yang dimaksud?
“maut melalui Hawa, hidup melalui Maria."
Menarik nih. Terus terang, bagi saya, kalimat yang T2Y ketengahkan itu sangat asing. Kalau berkenan, tunjukkan dong siapa yang menyatakan seperti itu. Kalau boleh dengan dasar argumennya untuk kita pelajari bersama. Karena menurut pengalaman dan pemahaman saya, sampai sejauh ini, belum pernah saya temui simpulan seperti itu. Terima kasih.

Damai bagimu T2Y.

itu kata bapak gereja, bro...
coba baca2 lagi secara teliti postingan diatas.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   16th July 2011, 12:20

T2Y wrote:
itu kata bapak gereja, bro...
coba baca2 lagi secara teliti postingan diatas.
Siap. Segera dibaca dan diteliti. Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   16th July 2011, 12:26

Mengapa Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang baru?

Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang baru, sebab seperti halnya Hawa, Bunda Maria memainkan peran yang penting dalam sejarah keselamatan manusia: Hawa, adalah manusia perempuan pertama yang oleh ketidaktaatannya membawa maut ke dunia, sedangkan Bunda Maria, oleh ketaatannya melahirkan Sang Hidup ke dunia. Perbandingan antara Hawa dengan Bunda Maria -sebagai Hawa Baru- tidak berdiri sendiri, melainkan sebagai kesatuan dengan perbandingan antara Adam dengan Kristus yang disebut sebagai “Adam yang baru” (lih. Rom 5:12-21, 1 Kor 15:21, Ef 2:1-3). Jadi sama seperti bahwa ada keterlibatan Hawa, sehingga Adam jatuh ke dalam dosa, dan menurunkan dosa asal tersebut kepada semua umat manusia, maka demikian pula, ada keterlibatan Hawa yang baru yaitu Bunda Maria, sehingga Adam yang baru (Kristus) dapat lahir ke dunia untuk menghapus dosa manusia. Maka tepat jika dikatakan bahwa oleh Hawa, umat manusia jatuh dalam dosa, dan karena itu dalam kuasa maut; sedangkan oleh Maria, umat manusia menerima penghapusan dosa, dan karena itu menerima kehidupan kekal.

Hawa, terpedaya oleh bujukan Iblis, sehingga ia tidak taat kepada kehendak Tuhan, sedangkan Bunda Maria percaya oleh pemberitaan Malaikat, sehingga ia taat akan kehendak Tuhan. Maka di sini, ikatan ketidaktaatan Hawa, yaitu belenggu dosa yang mengikat manusia karena ketidaktaatannya kepada Allah, diuraikan oleh ketaatan Bunda Maria. Harus diakui, bahwa pada awal mula, meskipun Adam juga berdosa, namun dosanya dilakukan setelah Hawa terlebih dahulu jatuh dalam dosa ketidaktaatan kepada kehendak Allah. Oleh karena itu, pada saat penebusan dosa, “obat penawar”nya adalah kondisi lawannya, yaitu diawali dengan ketaatan Maria, sang Hawa yang baru, kepada kehendak Allah (lih. Luk 1: 38) maka Kristus sebagai Adam yang baru dapat datang ke dunia oleh ketaatan-Nya kepada kehendak Allah Bapa (lih. Ibr 10:5-7).

Cara menginterpretasikan Kitab Suci dengan cara tipologis seperti ini, yaitu membandingkan penggambaran Perjanjian Lama dengan penggenapannya di dalam Perjanjian Baru, diajarkan oleh Kristus sendiri. Contohnya adalah Kristus mengatakan bahwa Ia merupakan penggenapan dari tanda Yunus (lih. Luk 11:30); pengorbananNya di kayu salib merupakan penggenapan akan gambaran ular tembaga yang ditinggikan di tiang oleh Musa (Yoh 3:14; Bil 21:8-9); dan penjelasan-Nya kepada kedua murid-Nya di perjalanan ke Emaus juga adalah tentang penggenapan Kitab Suci Perjanjian Lama di dalam diri-Nya (lih. Luk 24:13-35). Penggenapan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru ini juga diajarkan oleh para murid, seperti Rasul Petrus menghubungkan bahtera Nuh dengan Baptisan (lih. 1 Pet. 3:18-22); Rasul Paulus menghubungkan perjamuan Paskah dengan kurban Kristus (lih. 1 Kor. 5:7), dan Adam (manusia pertama) dengan Kristus sebagai Adam yang kedua. Maka tak mengherankan bahwa Tradisi Suci para rasul dan para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang kedua. Dengan demikian, penggambaran rencana keselamatan Allah yang samar-samar dinyatakan di dalam Perjanjian Lama, kemudian digenapi di dalam Perjanjian Baru.

Dasar Kitab Suci

Rom 5:12-21, 1 Kor 15:21, Ef 2:1-3: Kristus sebagai Adam yang baru:
Luk 1:38: Ketaatan Maria membuka jalan bagi ketaatan Yesus. Oleh perkataan Maria, “Jadilah padaku menurut perkataanmu.” Kristus masuk ke dunia melakukan kehendak Bapa (lih. Ibr 10:5-7)

Dasar Tradisi Suci

St. Yustinus Martir (155): “Ia menjadi manusia melalui Sang Perawan, agar ketidaktaatan yang terjadi dari sang ular dapat dihancurkan dengan cara yang sama seperti pada awalnya. Sebab Hawa, yang adalah seorang perawan dan tidak bernoda, yang percaya pada perkataan sang ular, membawa ketidaktaatan dan maut. Tetapi Perawab Maria menerima dengan iman dan suka cita, ketika Malaikat Gabriel memberitakan Kabar Gembira kepadanya bahwa Roh Kudus Tuhan akan turun atasnya dan kuasa yang Maha Tinggi akan menaungi dia: sehingga Yang Kudus yang dilahirkannya adalah Putera Allah; dan ia menjawab, “Jadilah padaku menurut perkataan-mu.” Dan melaluinya[Maria] Yesus telah lahir, yang kepada-Nya kita buktikan banyak Kitab Suci mengacu, dan yang melalui-Nya Tuhan menghancurkan baik sang ular maupun para malaikat dan manusia yang serupa dengannya; tetapi membebaskan dari maut mereka yang bertobat dari kejahatan dan percaya kepada-Nya.” (St. Justin Martyr, Dialogue with Trypho, 100).

St. Irenaeus (180): “Sesuai dengan rencana ini, Perawan Maria taat, dengan berkata, “Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu.” Tetapi Hawa tidak taat; sebab ia tidak taat ketika ia masih perawan. Dan bahkan ketika ia, yang memang telah bersuami, namun masih perawan …., yang menjadi tidak taat, menjadi sebab kematian, baik bagi dirinya sendiri maupun nagi seluruh umat manusia. Demikian juga Maria, yang telah bertunangan, meskipun ia perawan; dengan ketaatan, menjadi sebab keselamatan, baik bagi dirinya maupun seluruh umat manusia…. Juga Lukas, memulai silsilah dari Tuhan Yesus, sampai kembali ke Adam, menunjukkan bahwa hanya Dia [Tuhan Yesus] yang melahirkan mereka kembali ke dalam Injil kehidupan, dan bukan mereka yang melahirkan-Nya. Dan dengan demikian, ikatan ketidaktaatan Hawa telah dilepaskan dengan ketaatan Maria. Sebab apa yang telah diikat kuat oleh perawan Hawa melalui ketidakpercayaannya, telah diuraikan oleh Perawan Maria melalui iman.” (St. Irenaeus, Against Heresy, 3:22)

Tertullian (212): ” Sebab ketika Hawa masih perawan, perangkap kata-kata telah masuk ke dalam telinganya yang membangun kematian. Maka serupa dengan itu, ke dalam jiwa seorang perawan, harus diperkenalkan kata-kata Sabda Allah yang membangun jalinan kehidupan; sehingga apa yang telah dihancurkan oleh jenis kelamin ini dapat, oleh jenis kelamin yang sama, dipulihkan kepada keselamatan. Seperti Hawa telah percaya kepada sang ular, Maria percaya kepada sang Malaikat. Pelanggaran yang terjadi karena seorang telah percaya [kepada sang ular], oleh seorang yang lain dihapuskan karena percaya [kepada malaikat]. (Tertullian, Flesh of Christ, 17)

Dasar Magisterium

Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium:

Atas titah Allah ia diberi salam oleh Malaikat pembawa Warta dan disebut “penuh rahmat” (Luk 1:38). Demikianlah Maria Puteri Adam menyetujui sabda ilahi, dan menjadi Bunda Yesus. Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi serta karya Putera-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan. Maka memang tepatlah pandangan para Bapa suci, bahwa Maria tidak secara pasif belaka digunakan oleh Allah, melainkan bekerja sama dengan penyelamatan umat manusia dengan iman serta kepatuhannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh S. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia.”[1]. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati meyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya.”[2] Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”[3]. Sering pula mereka menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.”[4]. (Lumen Gentium 56)
“Sebab dalam iman dan ketaatan ia melahirkan Putera Bapa sendiri di dunia, dan itu tanpa mengenal pria, dalam naungan Roh Kudus, sebagai Hawa yang baru, bukan karena mempercayai ular yang kuno itu, melainkan karena percaya akan utusan Allah, dengan iman yang tak tercemar oleh kebimbangan. Ia telah melahirkan Putera, yang oleh Allah dijadikan ynag sulung di antara banyak saudara (Rom 8:29), yakni Umat beriman. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik mereka.” (Lumen Gentium 62)

Katekismus Gereja Katolik:

KGK 411 Tradisi Kristen melihat dalam teks ini pengumuman tentang “Adam baru” (Bdk. 1 Kor 15:21-22.45). yang oleh “ketaatan-Nya sampai mati di salib” (Flp 2:Cool berbuat lebih daripada hanya memulihkan ketidak-taatan Adam (Bdk. Rm 5:19-20). Selanjutnya banyak bapa Gereja dan pujangga Gereja melihat wanita Yang dinyatakan dalam “protoevangelium” adalah Bunda Kristus, Maria, sebagai “Hawa baru”. Kemenangan yang diperoleh Kristus atas dosa diperuntukkan bagi Maria sebagai yang pertama dan atas cara yang luar biasa: ia dibebaskan secara utuh dari tiap noda dosa asal (Bdk. Pius IX: DS 2803). dan oleh rahmat Allah yang khusus ia tidak melakukan dosa apa pun selama seluruh kehidupan duniawinya (Bdk. Konsili Trente: DS 1573).

KGK 489 Sepanjang Perjanjian Lama panggilan Maria sudah dipersiapkan oleh perutusan wanita-wanita saleh. Kendati ketidak-taatannya, sejak awal Hawa menerima janji akan seorang keturunan yang akan mengalahkan yang jahat (Bdk. Kej 3:15), dan ia akan menjadi ibu semua orang hidup (Bdk. Kej 3:20). Berdasarkan janji ini, Sara mendapat seorang putera kendati usianya sudah lanjut (Bdk. Kej 18:10-14; 21:1-2). Bertentangan dengan harapan manusiawi, Allah memilih apa yang bodoh dan lemah bagi dunia (Bdk. 1 Kor 1:27), supaya menunjukkan bahwa ia setia pada janji-Nya: Hanna, ibu Samuel (Bdk. 1 Sam 1), Debora, Rut, Yudit, dan Ester, demikian pula banyak wanita yang lain lagi. Maria adalah “yang unggul di tengah Umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari-Nya. Akhirnya ketika muncullah ia, Puteri Sion yang amat mulia, sesudah pemenuhan janji lama dinanti-nantikan, genaplah masanya” (Lumen Gentium 55).

KGK 726 Pada akhir perutusan Roh, Maria menjadi “wanita”; Hawa baru, “bunda orang-orang hidup”, bunda “Kristus paripurna ” (Bdk. Yoh 19:25-27). Dalam kedudukan itu ia bersama dengan keduabelasan “sehati bertekun dalam doa” (Kis 1:14), ketika Roh Kudus pada pagi hari Pentekosta menyatakan awal “zaman terakhir” dengan memunculkan Gereja.

KGK 2618 Injil menyatakan kepada kita, bagaimana Maria berdoa dan menjadi perantara dalam iman: di Kana (Bdk. Yoh 2:1-12). ibu Yesus meminta apa yang dibutuhkan untuk perjamuan perkawinan. Perjamuan ini adalah tanda bagi satu perjamuan lain: yakni perjamuan perkawinan Anak Domba, di mana Kristus, atas permohonan Gereja sebagai mempelai-Nya, menyerahkan tubuh dan darah-Nya. Pada saat Perjanjian Baru, Maria didengarkan pada kaki salib. Karena ia adalah wanita, Hawa baru, “ibu semua orang hidup”, yang benar.

KGK 2853 Pada saat Yesus menerima kematian dengan sukarela guna memberikan kehidupan-Nya kepada kita, kemenangan diperoleh atas “penguasa dunia” (Yoh 14:30) satu kali untuk selama-lamanya. Itulah pengadilan atas dunia ini, dan penguasa dunia ini “dilemparkan ke luar” (Yoh 12:31, Bdk Why 12:11). Ia “memburu wanita itu” (Bdk. Why 12:13-16), tetapi ia tidak berkuasa atasnya; Hawa baru yang “terberkati” oleh Roh Kudus, dibebaskan dari dosa dan dari kebusukan kematian (karena dikandung tanpa noda dosa dan karena sebagai Bunda Allah yang selalu perawan, Maria diangkat ke dalam surga). “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain” (Why 12:17). Karena itu Roh dan Gereja berdoa: “Datanglah, ya Tuhan Yesus” (Why 22:20, Bdk. Why 22:17), karena kedatangan-Nya akan membebaskan kita dari yang jahat.

KGK 129 Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya (Bdk. Mrk 12:29-31). Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama (Bdk. 1 Kor 5:6- 8; 10:1-11.) Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: “Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet.” (Agustinus, Hept. 2,73, Bdk. Dei Verbum 16)

CATATAN KAKI:
Lih. St. Ireneus, Melawan bidaah-bidaah III, 22,4: PG 7,959A; HARVEY 2,123 [↩️]
St. Ireneus, Ibid., : HARVEY 2,124. [↩️]
St. Epifanus, Melawan bidaah, 78,18: PG 42,728CD-729AB [↩️]
St. Hieronimus, Surat 22,21: PL 22,408. Lih. St. Agustinus, Kotbah 51,2,3: PL 38,335; Kotbah 232,2: kolom 1108. St. Sirilus dari Yerusalem, Katekese 12,15: PG 33,741 AB. St. Yohanes dari Damsyik, Homili 2 pada Hari Raya Meninggalnya St. Perawan Maria, 3: PG 96,728 [↩️]

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   16th July 2011, 12:48

apakah kalau Maria tidak mau/tidak taat Kristus tidak akan terlahir kedunia ? Razz
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   16th July 2011, 13:48

Husada wrote:
T2Y wrote:
itu kata bapak gereja, bro...
coba baca2 lagi secara teliti postingan diatas.
Siap. Segera dibaca dan diteliti. Damai, damai, damai.
Damai bagimu T2Y.

Setelah membaca (sebelumnya memang tidak baca sih, kepanjangan), saya kira artikel-artikel yang di-posting oleh Bruce, dan juga komentarnya, sudah sangat bagus menjawab pertanyaan T2Y.

Ingin menambahkan pikiran terkait dengan
Quote :
“maut melalui Hawa, hidup melalui Maria."
begini.
Maut melalui hawa, saya artikan bahwa kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, dimana mereka lupa pada perintah Tuhan agar mereka taat, ternyata dimulai atau diawali oleh Hawa. Ketika itu Hawa terperdaya oleh iblis dalam rupa ular, sehingga Hawa memakan buah terlarang dan selanjutnya memberikannya kepada Adam. Akibatnya, mereka mati. Nah, dari situ, saya dapat memaklumi kalau dikatakan maut melalui Hawa.

Hidup melalui Maria, saya artikan begini. Yesus kan pernah bilang kira-kira, begini, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup cari ndiri ayatnya ya? Nah, dikatakanNya, Yesus adalah hidup. Dan dalam Credonya Katolik, mungkin sama dengan Aku Percayanya Protestan bilang, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria. Itu saya artikan, bahwa kedatangan Yesus Kristus yang adalah hidup itu, ke dunia ini melalui kelahiran dari Perawan Maria. Jadi, ya, hidup melalui Maria.

Begitu pemahamanku. Menurutku, itu tidak aneh. Bagaimana menurut T2Y?

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   16th July 2011, 16:14

Quote :
Maut melalui hawa, saya artikan bahwa kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, dimana mereka lupa pada perintah Tuhan agar mereka taat, ternyata dimulai atau diawali oleh Hawa. Ketika itu Hawa terperdaya oleh iblis dalam rupa ular, sehingga Hawa memakan buah terlarang dan selanjutnya memberikannya kepada Adam. Akibatnya, mereka mati. Nah, dari situ, saya dapat memaklumi kalau dikatakan maut melalui Hawa.

Hidup melalui Maria, saya artikan begini. Yesus kan pernah bilang kira-kira, begini, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup cari ndiri ayatnya ya? Nah, dikatakanNya, Yesus adalah hidup. Dan dalam Credonya Katolik, mungkin sama dengan Aku Percayanya Protestan bilang, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria. Itu saya artikan, bahwa kedatangan Yesus Kristus yang adalah hidup itu, ke dunia ini melalui kelahiran dari Perawan Maria. Jadi, ya, hidup melalui Maria.

Bagus sekali bro Husada, memang seperti itulah yang menjadi dasar dari sebutan bahwa Maria adalah Hawa yang baru.


Quote :
apakah kalau Maria tidak mau/tidak taat Kristus tidak akan terlahir kedunia ?

Coba baca lagi bro, Maria dipilih karena kesucian, kesalehan dan ketaatannya, jika ia tidak taat maka ia tidak terpilih.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   16th July 2011, 23:48

Husada wrote:
Husada wrote:
T2Y wrote:
itu kata bapak gereja, bro...
coba baca2 lagi secara teliti postingan diatas.
Siap. Segera dibaca dan diteliti. Damai, damai, damai.
Damai bagimu T2Y.

Setelah membaca (sebelumnya memang tidak baca sih, kepanjangan), saya kira artikel-artikel yang di-posting oleh Bruce, dan juga komentarnya, sudah sangat bagus menjawab pertanyaan T2Y.

Ingin menambahkan pikiran terkait dengan
Quote :
“maut melalui Hawa, hidup melalui Maria."
begini.
Maut melalui hawa, saya artikan bahwa kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, dimana mereka lupa pada perintah Tuhan agar mereka taat, ternyata dimulai atau diawali oleh Hawa. Ketika itu Hawa terperdaya oleh iblis dalam rupa ular, sehingga Hawa memakan buah terlarang dan selanjutnya memberikannya kepada Adam. Akibatnya, mereka mati. Nah, dari situ, saya dapat memaklumi kalau dikatakan maut melalui Hawa.

Hidup melalui Maria, saya artikan begini. Yesus kan pernah bilang kira-kira, begini, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup cari ndiri ayatnya ya? Nah, dikatakanNya, Yesus adalah hidup. Dan dalam Credonya Katolik, mungkin sama dengan Aku Percayanya Protestan bilang, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria. Itu saya artikan, bahwa kedatangan Yesus Kristus yang adalah hidup itu, ke dunia ini melalui kelahiran dari Perawan Maria. Jadi, ya, hidup melalui Maria.

Begitu pemahamanku. Menurutku, itu tidak aneh. Bagaimana menurut T2Y?

Damai, damai, damai.
Benar sekali bro husada memang demikianlah maksud Gereja katolik yang diajarkan lewat para bapa gereja termasuk Iraneus yang dikutip panjang oleh Bruce.

Jadi tuduhan pengkultusan, penuhanan sama sekali tidak berdasar. Yang benar adalah penghormatan.

Yesus adalah terang dunia , Sang Hidup yang sejati dan Dia datang ke dunia lahir lewat perawan Maria dalam konteks itulah Iraneus menyatakan Hidup lewat Maria.

so bukan Maria lah sang Hidup tetapi Yesuslah sang Hidup yang datang lewat Maria.

Jika Yesus / Sang Hidup datang lewat santa Elisabeth maka ungkapan bapa Gereja bisa saja menjadi Maut melalui hawa dan hidup melalu Elisabeth :)

salam :)
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   17th July 2011, 01:08

T2Y wrote:
@Husada
Quote :
Katolik menyatakan bahwa berdevosi kepada Maria adalah bagian dari Tradisi Suci Gereja.

ini tradisi sejak kapan dimulainya kalau boleh tahu ? :)

sejak dari liturgi santo Yakobus bro...abad pertama Very Happy

"Divine Liturgy of St. James the Apostle and Brother of CHRIST"


Remember, O Lord, according to the multitude of Your mercy and compassion, me also, Yourhumble and unprofitable servant; and the deacons who surround Your holy altar, and graciously give them a blameless life, keep their ministry undefiled, and purchase for them a good degree, that we may find mercy and grace, with all the saints that have been well pleasing to You since the world began, to generation and generation— grandsires, sires, patriarchs, prophets, apostles ,martyrs, confessors, teachers, saints, and every just spirit made perfect in the faith of Your CHRIST.

Ini adalah bukti bahwa para rasul mengajarkan bahwa roh orang2 benar yg sudah disempurnakan di dalam KRISTUS, mereka sudah hidup bersama KRISTUS dan kami tetap menjaga persekutuan dengan mereka.

Hail, Mary, highly favoured: the Lord is with You; blessed are you among women, andblessed the fruit of your womb, for you bore the Saviour of our souls.
Satu lagi bukti bahwa para rasul dan gereja selalu menjaga persekutuan dengan Bunda Maria di dalam doa2 gereja.


Commemorating our all-holy, pure, most glorious, blessed Lady, the God-Mother and Ever-VirginMary, and all the saints that have been well-pleasing to You since the world began, let us devote ourselves, and one another, and our whole life, to CHRIST our God:

Sekali lagi bukti bahwa Rasul Yakobus mengajarkan utk selalu mengenang Bunda Maria dan para santo/santa yg telah kembali kepada Bapa, dan selalu menjaga persekutuan dengan para kudus di surga. Doa Salam Maria di atas menjadi bukti bahwa kami tetap berdoa bersama dan dengan perantaraan para kudus ini.

Ini link utk membaca liturgi rasul yakobus ini secara lengkap:
[You must be registered and logged in to see this link.]
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   17th July 2011, 01:12

T2Y wrote:
leonardo wrote:
T2Y wrote:
bruce wrote:
Quote :
pertanyaan saya yang ini belum terjawab :
mana yang lebih manjur doanya, doa yang dinaikan dalam nama Tuhan Yesus atw doa melalui Maria ?

Doa kok cari manjur sih bro, kalau makan cari obat yang manjur, he he he.

Kalau saya sih berdoa kepada Tuhan, dan kepada Tuhan dengan bantuan doa Maria (mohon didoakan kepada Putera nya). Saya tidak mencari cari mana yang lebih manjur dan tokcer.

saya hanya mencoba mencerna apa yang dikatakan St. Thomas Aquninas :

Quote :
Doa kepada Maria lebih berarti DENGAN ALLAH. Tentang ini St. Thomas Aquninas menjelaskan, doa dalam artinya sebenarnya memang hanya ditujukan kepada Allah karena hanya Allah yang patut disembah. Selain itu doa kita dimaksudkan untuk memperoleh rahmat yang hanya bisa diberikan oleh Allah seorang diri. Tapi kalau doa-doa kita ditujukan kepada para malaikat dan orang kudus, maka hal itu terjadi karena mereka sudah dipersatukan secara erat dengan Allah dan doa-doa kita akan menjadi lebih efektif melalui doa-doa dan jasa kepengantaraan mereka. Jadi para kudus sendiri tidak mengabulkan doa kita, tapi mereka dapat mendoakan kita pada Allah, atau menyampaikan doa-doa kita kepada Allah.

nah, lohhh... Very Happy

Apanya yang nah loh bro...
bro T2Y bilang mana lebih manjur dalam nama Yesus atau melalui Maria padahal penjelasan Thomas Aquinas jelas banget bahwa bukan para kudus termasuk bunda Maria yang mengabulkan doa tetapi TUhan sendiri .

Jadi para kudus hanya sebagai perantara saja.

Loh kok sekarang dibandingkan antara perantara dan Tuhan sendiri Laughing

kalau memang mau dibanding2 kan yah mungkin antara sesama pengantara bro...

misalnya...dibandingkan antara bunda Maria sama si poltak raja minyak dari medan ....

bukan pengabul doa itu benar, bro... :)
cuma Thomas Aquinas mengatakan doa kita menjadi lebih efektif.


T2Y wrote:

Quote :

Tapi untuk menggambarkan secara mudah, tentu anda ingat kepada mujijat pertama yang dilakukan Jesus di Kana, merubah air menjadi anggur? Saat itu Jesus 'belum' mulai masa penyelamatanNya, tetapi Jesus melaksanakan permintaan Maria. Kira kira seperti itulah yang dilakukan umat Katolik saat ini. Menganggap Maria sebagai Ibu yang dengan mudah kita dapat bicara dari hati ke hati dan mohon didoakan kepada Tuhan.

Mudah mudahan mengerti maksudnya.

maksudnya kita memanfaatkan status Maria sebagai bunda Tuhan yang perkataannya lebih cenderung didengar dikabulkan ?
kayak nepotisme gitu yah, Om ? Razz
Quote :
nepotisme yang seperti apa bro hehe...

nepotisme sebagai sesama saudara untuk saling mendoakan jelas iya diajarkan kok di alkitab.
Tetapi bukan sebagai pengabul doa karena yang mengabulkan doa hanya Tuhan .

seperti teladan bunda Maria : Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu.

maksudnya "nepotisme" memanfaatkan status Maria sebagai bunda Allah untuk lebih memperlancar dikabulkannya doa kita. Very Happy
apalagi dengan mengajukan dasar kisah perkawinan di Kana. :)

Quote :

Jadi pada dasarnya setelah kita berdoa hendaknya di balik segala permohonan muncul juga kerendahan hati untuk menerima apapun rancangan Tuhan karena kita yakin rancangan Tuhan tentu lebih baik dari rancangan manusia.

salam Very Happy

amiiinnn...
Doa orang benar bila dengan yakin didoakan lebih besar kuasanya (Yak 5:16) Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   18th July 2011, 06:14

@Husada
Quote :
Hidup melalui Maria, saya artikan begini. Yesus kan pernah bilang kira-kira, begini, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup cari ndiri ayatnya ya? Nah, dikatakanNya, Yesus adalah hidup. Dan dalam Credonya Katolik, mungkin sama dengan Aku Percayanya Protestan bilang, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria. Itu saya artikan, bahwa kedatangan Yesus Kristus yang adalah hidup itu, ke dunia ini melalui kelahiran dari Perawan Maria. Jadi, ya, hidup melalui Maria.

betul, bro... :)
tapi kalau saya lebih percaya hidup itu dari sumber pemberi hidupnya itu sendiri,bukan dari Marianya.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   18th July 2011, 06:25

wah, kayaknya saya jadi "dikeroyok" sama orang2 Katolik yahhh... Razz Laughing
he..he..he...

@Bruce
Quote :
Jadi tuduhan pengkultusan, penuhanan sama sekali tidak berdasar. Yang benar adalah penghormatan.

bukannya penghormatan yang berlebihan itu bisa jadi pengkultusan, Om... :)

@Leonardo
thank's buat jawaban dan artikelnya, tapi saya jadi ingat cerita Lazarus dan orang kaya.

Quote :
Doa orang benar bila dengan yakin didoakan lebih besar kuasanya (Yak 5:16)

amiiinnn...
tapi gak ditulis kalau doa orang yang ditujukan pada Maria lebih besar kuasanya. Razz
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   18th July 2011, 06:38

Quote :
tapi kalau saya lebih percaya hidup itu dari sumber pemberi hidupnya itu sendiri,bukan dari Marianya.

Kan ngga ada yang nyuruh anda percaya bro?


Quote :
bukannya penghormatan yang berlebihan itu bisa jadi pengkultusan, Om...

Yang bilang kan anda, bukan penganut Katolik.


Quote :
tapi gak ditulis kalau doa orang yang ditujukan pada Maria lebih besar kuasanya.

Menurut anda, Maria termasuk dalam kriteria 'orang benar' atau bukan ?





_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   18th July 2011, 07:19

bruce wrote:
Quote :
tapi kalau saya lebih percaya hidup itu dari sumber pemberi hidupnya itu sendiri,bukan dari Marianya.

Kan ngga ada yang nyuruh anda percaya bro?

gak ada, cuman saya berpegang pada apa yang dikatakan Yesus sendiri, Om... :)
cuma Yesus satu2nya sumber hidup, gak ada yang lain.

Quote :

Quote :
bukannya penghormatan yang berlebihan itu bisa jadi pengkultusan, Om...

Yang bilang kan anda, bukan penganut Katolik.

yaiyalah, kalau saya Katolik saya pasti gak akan mau bilang begitu. :)
saya akan bilang itu adalah ajaran yang sesungguhnya dari Allah.

Quote :

Quote :
tapi gak ditulis kalau doa orang yang ditujukan pada Maria lebih besar kuasanya.

Menurut anda, Maria termasuk dalam kriteria 'orang benar' atau bukan ?

manusia yang dibenarkan Allah
bukan manusia yang suci seperti Yesus yang adalah Allah itu sendiri. :)
tapi disucikan karena Roh Kudus yang ada didalamnya, bukan dari diri Marianya sendiri.

lagipula Yakobus 5:16 ini menurut saya bukan ditekankan pada pengabulan doanya.
tapi bagaimana orang yang benar itu sungguh2 mengerti akan kehendak Allah dan berdoa seturut kehendak-Nya.
kan dicontohkan lewat ayat selanjutnya tentang Elia.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   18th July 2011, 08:48

Damai bagimu T2Y
T2Y wrote:
wah, kayaknya saya jadi "dikeroyok" sama orang2 Katolik yahhh... Razz Laughing
he..he..he...
Menurut saya, dengan T2Y membubuhkan tanda kutip pada dikeroyok itu sangat bijaksana. Namun, sebenarnya bukan dikeroyok deh. Ketepatan, substansi apa yang T2Y sampaikan itu ternyata ada sedikit perbedaan dengan yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik menurut penerimaan umat. Ketepatan juga, hal-hal yang diperhatikan partisipan diskusi ini ada perbedaan. Yang sorang merasa tertarik dengan yang ini, sementara yang lainnya tertarik dengan yang itu. Nah tiap partisipan memberi pandangannya sesuai dengan yang lebih menarik perhatiannya.

Saya ilustrasikan begini. Ini Hanya ilustrasi ya? Misalkan saja, untuk menanggapi sebentuk wajah manusia tertentu, T2Y menggambarkannya sedetil mungkin. Kemudian, para pendengar uraian T2Y itu mengulas apa yang diperhatikannya. Misalnya, tentang hidung, T2Y menggambarkannya. Karena itu merupakan yang diperhatikan seorang pendengar, dia mengulasnya untuk mendapatkan gambaran yang sebenarnya, sementara orang lain yang tidak memperhatikannya tidak mengulas hidung. Ketika T2Y menggambarkan bibir, ternyata pemerhati bibir melihat ada yang perlu digambarkan sebenarnya, dia mengulas bibir. Nah begitu kira-kira, bukan berarti mengeroyok T2Y. Sesama pengikut Kristus janganlah saling mengeroyok, hehhehheee...

Damai bagi Indonesia.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   18th July 2011, 21:14

T2Y wrote:
wah, kayaknya saya jadi "dikeroyok" sama orang2 Katolik yahhh... Razz Laughing
he..he..he...
andaikata martin luther, calvin, zwingli dikumpulkan disini mereka pun tidak akan mendukung anda bro Very Happy

T2Y wrote:

@Bruce
Quote :
Jadi tuduhan pengkultusan, penuhanan sama sekali tidak berdasar. Yang benar adalah penghormatan.

bukannya penghormatan yang berlebihan itu bisa jadi pengkultusan, Om... :)
Dan kenyataannya seluruh ajaran katolik yang menghormati Maria tidak pernah merubah Maria menjadi Tuhan kan bro...hehe...

Dari sejak zaman liturgi Yakobus sampai liturgi Novus Ordo yang sekarang dirayakan di Gereja katolik ritus latin seruan2 penghormatan kepada orang kudus termasuk Maria tetap ada dan tidak rancu atau tertukar dengan seruan penyembahan pada Allah Tritunggal :)


T2Y wrote:

@Leonardo
thank's buat jawaban dan artikelnya, tapi saya jadi ingat cerita Lazarus dan orang kaya.
Dan tentu anda ingat juga kisah nyata gathering Musa dan Elia di gunung tabor Laughing

T2Y wrote:

Quote :
Doa orang benar bila dengan yakin didoakan lebih besar kuasanya (Yak 5:16)

amiiinnn...
tapi gak ditulis kalau doa orang yang ditujukan pada Maria lebih besar kuasanya. Razz
dan apakah Maria dikecualikan dari kumpulan orang benar ....
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   19th July 2011, 09:51

leonardo wrote:
T2Y wrote:
wah, kayaknya saya jadi "dikeroyok" sama orang2 Katolik yahhh... Razz Laughing
he..he..he...
andaikata martin luther, calvin, zwingli dikumpulkan disini mereka pun tidak akan mendukung anda bro Very Happy

yah, tergantung dari sudut mana anda mampu menilai penghormatan saya terhadap Maria, bro... Very Happy

Quote :

T2Y wrote:

@Bruce
Quote :
Jadi tuduhan pengkultusan, penuhanan sama sekali tidak berdasar. Yang benar adalah penghormatan.

bukannya penghormatan yang berlebihan itu bisa jadi pengkultusan, Om... :)
Dan kenyataannya seluruh ajaran katolik yang menghormati Maria tidak pernah merubah Maria menjadi Tuhan kan bro...hehe...

Dari sejak zaman liturgi Yakobus sampai liturgi Novus Ordo yang sekarang dirayakan di Gereja katolik ritus latin seruan2 penghormatan kepada orang kudus termasuk Maria tetap ada dan tidak rancu atau tertukar dengan seruan penyembahan pada Allah Tritunggal :)

bro, buat sepupu jauh (sebagian dari mereka) pun tidak merasa mengkultuskan junjungannya.
jadi perbedaannya adalah "sudut pandang".

Quote :

T2Y wrote:

@Leonardo
thank's buat jawaban dan artikelnya, tapi saya jadi ingat cerita Lazarus dan orang kaya.
Dan tentu anda ingat juga kisah nyata gathering Musa dan Elia di gunung tabor Laughing

Musa dan Elia saat itu sedang mendoakan anda yah ? Razz
apa sih yang sedang Yesus bicarakan bersama Musa dan Elia disana ?
kira2 tentang penggenapan pekerjaan Tuhan atw pengabulan doa manusia ? :)

btw kisah orang kaya dan lazarus itu punya arti berbeda menurut Katolik (berhubungan sama purgatory mungkin) ?
silahkan disharingkan disini supaya kita bisa punya sudut pandang yang lain.

Quote :

T2Y wrote:

Quote :
Doa orang benar bila dengan yakin didoakan lebih besar kuasanya (Yak 5:16)

amiiinnn...
tapi gak ditulis kalau doa orang yang ditujukan pada Maria lebih besar kuasanya. Razz
dan apakah Maria dikecualikan dari kumpulan orang benar ....

sudah saya bilang, bro... :)
Maria dibenarkan Allah, dikuduskan oleh RK.
Maria sama seperti anda dan saya yang bukan lahir tanpa dosa.
atw anda juga berpendapat Maria sudah suci sejak lahir ?
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   19th July 2011, 11:16

Damai bagi semua.

Tentang penghormatan kepada Bunda Maria, menurut pemahaman saya, semua orang yang menjadi pengikut Kristus yang telah membacakan syahadat, atau Aku Percaya, pasti menghormati Bunda Maria. Saya berpandangan seperti itu karena syahadat yang ada sekarang, baik yang di Protestasn maupun yang di Katolik, sma-sama mengakui bahwa Yesus Kristus dilahirkan, bukan dijadikan. Yang melahirkan Yesus Kristus, ya Bunda Maria. Maka saya berkesimpulan bahwa seluruh pengikut Kristus, pasti menhormati Bunda Maria yang telah melahirkan Sang Penebus.

Yang berbeda ternyata terletak pada tatacara penghormatannya. Yang Protestan menilai bahwa penghormatan Katolik kepada Bunda Maria dipandang sebagai pengkultusan, bahkan ada pikiran kaum Protestan yang menyatakan bahwa Katolik memposisikan Bunda Maria setara bahkan melebihi Tuhan. Sementara itu, Katolik menghormati Bunda Maria sedikit melebihi penghormatan kepada orang-orang kudus lainnya, mengingat bahwa Bunda Maria yang melahirkan Sang Juru Selamat.

Banyak pertanyaan yang telah diajukan, dan semuanya telah dijawab dengan baik. Namun, meski tanya telah berjawab, argumen telah ditanggapi dengan argumen, ternyata pandangan atas hal tersebut, ayitu penghormatan kepada bunda Maria, tetap juga seperti sebelum mengajukan pertanyaan.

Kalau begini naga-naganya, kata sepakat akan sulit diperoleh, dan kalau tidak ada lagi hal baru yang akan didiskusikan tentang ini, saya usul agar disudahi saja.

Damai, damai, damai.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   19th July 2011, 12:21

Quote :
sudah saya bilang, bro...
Maria dibenarkan Allah, dikuduskan oleh RK.
Maria sama seperti anda dan saya yang bukan lahir tanpa dosa.
atw anda juga berpendapat Maria sudah suci sejak lahir ?


Dogma Perawan Bunda Maria dikandung tidak bernoda

Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal.[1]

Mungkin ada orang bertanya, -terutama mereka yang bukan beragama Katolik- kenapa ada perlakuan khusus buat Bunda Maria, bukankah Maria itu manusia biasa saja seperti kita? Lalu, kenapa baru pada tahun 1854 diumumkan dogma ini, apakah ini pengajaran buatan manusia saja (Paus dan pembantu-pembantunya) ataukah sungguh dari Allah? Mari kita lihat, kenapa kita sebagai orang Katolik percaya bahwa pengajaran ini berasal dari Allah, dan karenanya wajib kita yakini dan kita syukuri.

Bukan pengajaran ‘kagetan’ melainkan sudah diajarkan oleh para Bapa Gereja sejak lama
Gereja Katolik tidak pernah mengubah, menghapus, atau menambah pengajaran “deposit of faith” yang ada padanya sejak dari Gereja awal, namun hanya menjaga dan mempertahankannya. Perlu kita ingat bahwa Tradisi Suci dan Kitab Suci bagi orang Katolik itu sama pentingnya, karena berasal dari sumber yang sama: Allah sendiri. (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, Bagian 3) Dogma Perawan Maria dikandung tanpa noda ini telah dirintis oleh Paus Sixtus IV (abad ke-15) yang diteruskan sampai ke jaman Paus Pius IX (abad ke -19), tetapi sesungguhnya pengajaran tersebut sudah merupakan hal yang diyakini oleh Gereja sejak abad awal, seperti dinyatakan oleh Santo Ephraem (abad ke-4)[2] dan Santo Agustinus (abad ke-5)[3]dengan dasar pemikiran dari Santo Ireneus (abad ke-2).[4]

Jadi Dogma tersebut bukan pengajaran ‘kagetan’ atau innovasi dari Paus Pius IX di abad ke-19!

Bunda Maria sendiri menyatakan dirinya sebagai “Immaculate Conception”

Empat tahun setelah pengajaran yang diberikan oleh Paus Pius IX, Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes, Perancis (1858). Penampakan Bunda Maria di Lourdes (di grotto Massabielle) terjadi selama 18 kali kepada Bernadette Soubirous, seorang gadis desa yang yang waktu itu berumur 14 tahun. Penampakan Bunda Maria di Lourdes ini sudah diakui oleh Gereja Katolik sebagai penampakan yang otentik. Dalam penampakan itu (penampakan ke- 16), Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai “Perawan yang dikandung tanpa noda dosa”/ the Immaculate Conception kepada Bernadette yang pada waktu itu tidak memahami makna “the Immaculate Conception“, terutama karena ia adalah gadis desa yang buta huruf. Pernyataan dari Bunda Maria ini mengkonfirmasikan ajaran dari Bapa Paus Pius IX, dan dengan demikian juga membuktikan infalibilitas ajaran Bapa Paus tersebut.

Dasar dari Kitab Suci

Alasan pertama Bunda Maria dikandung tanpa noda ini berhubungan dengan peran istimewanya sebagai Ibu Tuhan Yesus. Jadi, walaupun benar Maria manusia biasa, ia bukan manusia ‘kebanyakan’ seperti kita. Sebab, memang rencana keselamatan itu terbuka untuk semua orang (Yoh 3:16), tetapi Ia hanya memilih satu orang untuk menjadi ibu-Nya, yaitu Maria. Kita tahu bahwa Allah adalah Kudus, sempurna dan tak ada dosa di dalam Dia, maka sudah sangat layaklah bahwa ketika memutuskan untuk dilahirkan di dunia, Yesus menguduskan terlebih dahulu seseorang yang melaluinya Ia akan dilahirkan. Mungkin hal ini tidak terbayangkan oleh kita, karena kita manusia tidak bisa melakukannya. Kita tidak bisa memilih ibu kita sendiri, apalagi membuat dia kudus dan sempurna sebelum kita lahir. Tetapi, Allah bisa, dan itulah yang dilakukan-Nya. Mengapa Tuhan melakukan ini? Karena Ia tidak dapat mengingkari jati DiriNya sebagai Allah yang Kudus. Mari kita lihat kebesaran Allah melalui apa yang dilakukanNya terhadap Bunda Maria seperti yang ditulis dalam Alkitab.

1. Bunda Maria disebutkan pada awal mula, sebagai ‘perempuan’ yang keturunannya akan mengalahkan ular (iblis) (Kej 3:15).
Di sini, perempuan yang dimaksud bukanlah Hawa, tetapi Hawa yang baru (‘New Eve’). Para Bapa Gereja membaca ayat ini sebagai nubuatan akan kelahiran Yesus (Adam yang baru) melalui Bunda Maria (Hawa yang baru). Hal ini sudah menjadi pengajaran Gereja sejak abad ke-2 oleh Santo Yustinus Martir, Santo Irenaeus dan Tertullian, yang lalu dilanjutkan oleh Santo Agustinus.[5] Sayangnya, memang dalam terjemahan bahasa Indonesia, pada ayat ini dikatakan ‘perempuan ini’, seolah-olah menunjuk kepada Hawa, namun sebenarnya adalah ‘the woman’ (bukan this woman) sehingga artinya adalah sang perempuan, yang tidak merujuk kembali ke lakon yang baru saja dibicarakan.[6] Ungkapan ‘woman‘ ini yang kemudian kerap diulangi pada ayat Perjanjian Baru, misalnya pada mukjizat di Kana (Yoh 2:4)[7] dan di kaki salib Yesus, saat Ia menyerahkan Bunda Maria kepada Yohanes murid kesayanganNya (Yoh 19:26).[8]Pada kesempatan tersebut, Yesus mau menunjukkan bahwa Maria adalah ’sang perempuan’ yang telah dinubuatkan pada awal mula dunia sebagai ‘Hawa yang baru’.

‘Hawa yang baru’ ini berperan berdampingan dengan Kristus sebagai ‘Adam yang baru’. Santo Irenaeus, mengatakan, “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria” sehingga selanjutnya dikatakan, “maut (karena dosa) didatangkan oleh Hawa, tetapi hidup (karena Yesus) oleh Maria.”[9] Oleh karena itu, sudah selayaknya Allah membuat Bunda Maria tidak tercemar sama sekali oleh dosa, supaya ia, dapat ditempatkan bersama Yesus di tempat utama dalam pertentangan yang total melawan Iblis (lih. Kej 3:15).

2. Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian yang Baru.

Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, Kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.

3. Bunda Maria dikatakan sebagai ‘penuh rahmat’ pada saat menerima Kabar Gembira.

Pada saat malaikat Gabriel memberitakan Kabar Gembira, ia memanggil Maria sebagai, ‘…hai engkau yang dikaruniai’, Tuhan menyertai engkau.’ (Luk 1:28) (“Hail, full of grace…”, – RSV Bible) Kata, ‘Hail, full of grace‘ ini tidak pernah ditujukan kepada siapapun di dalam Alkitab, kecuali kepada Maria.[10] Kepada Abraham yang akan menjadi Bapa para bangsa, ataupun kepada Musa salah satu nabi terbesar, Allah tidak pernah menyapa mereka dengan salam. Kepada Maria, Allah bukan saja hanya memberi salam, tetapi juga memenuhinya dengan rahmat (grace), yang adalah lawan dari dosa (sin). Dan karena dikatakan ‘full of grace’, maka para Bapa Gereja mengartikannya bahwa seluruh keberadaan Maria dipenuhi dengan rahmat Allah dan semua karunia Roh Kudus, sehingga dengan demikian tidak ada tempat lagi bagi dosa, yang terkecil sekalipun, sebab hadirat Allah tidak berkompromi dengan dosa. Artinya, Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa asal.

4. Dasar dari Kitab Wahyu

Kita mengetahui dari Kitab Wahyu, bahwa Bunda Maria-lah yang disebut sebagai perempuan yang melahirkan seorang Anak laki-laki, yang menggembalakan semua bangsa… yang akhirnya mengalahkan naga yang adalah Iblis (Why 12: 1-6). Kemenangan atas Iblis ini dimungkinkan karena dalam diri Maria tidak pernah ada setitik dosa pun yang menjadi ‘daerah kekuasaan Iblis’.

Dasar dari Tradisi Suci

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyatakan bahwa Bunda Maria tidak bernoda:

1. St. Irenaeus (180): “Hawa, dengan ketidaktaatannya [karena berdosa] mendatangkan kematian bagi dirinya dan seluruh umat manusia, … Maria dengan ketaatannya [tanpa dosa] mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan seluruh umat manusia…. Oleh karena itu, ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”[11]

2. St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.”[12]

3. Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu satunya”[13].

4. Ephraim (361): ”Engkau sendiri dan Bunda-Mu adalah yang terindah daripada semua yang lain, sebab tidak ada cacat cela di dalam-Mu ataupun noda pada Bunda-Mu…[14]

5. St. Athanasius (373), “O, Perawan yang terberkati, sungguh engkau lebih besar daripada semua kebesaran yang lain. Sebab siapakah yang sama dengan kebesaranmu, O tempat kediaman Sang Sabda Allah? Kepada ciptaan mana, harus kubandingkan dengan engkau, O Perawan? Engkau lebih besar daripada semua ciptaan, O Tabut Perjanjian, yang dilapis dengan kemurnian, bukannya dengan emas! Engkau adalah Tabut Perjanjian yang didalamnya terdapat bejana emas yang berisi manna yang sejati, yaitu: daging di mana Ke-Allahan tinggal.”[15]

6. Ambrose (387): “Angkatlah tubuhku, yang telah jatuh di dalam Adam. Angkatlah aku, tidak dari Sarah, tetapi dari Maria, seorang Perawan, yang tidak saja tidak bernoda, tetapi Perawan yang oleh rahmat Allah telah dibuat tidak bersentuh dosa, dan bebas dari setiap noda dosa.”[16].

7. St. Gregorius Nazianza (390): Ia [Yesus] dikandung oleh seorang perawan, yang terlebih dahulu telah dimurnikan oleh Roh Kudus di dalam jiwa dan tubuh, sebab seperti ia yang mengandung layak untuk menerima penghormatan, maka pentinglah bahwa ia yang perawan layak menerima penghormatan yang lebih besar. [17]

8. St. Augustine (415): Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika ia kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya, yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa[18]

9. Theodotus (446): “Seorang perawan, yang tak berdosa, tak benoda, bebas dari cacat cela, tidak tersentuh, tidak tercemar, kudus dalam jiwa dan tubuh, seperti setangkai lili yang berkembang di antara semak duri.” [19].

10. Proclus dari Konstantinopel (446): “Seperti Ia [Yesus] membentuknya [Maria] tanpa noda dari dirinya sendiri, maka Ia dilahirkan daripadanya tanpa meninggalkan noda.[20]

11. St. Severus (538): “Ia [Maria] …sama seperti kita, meskipun ia murni dari segala noda, dan ia tanpa noda.”[21]

12. St. Germanus dari Konstantinopel (733), mengajarkan tentang Maria sebagai yang “benar- benar terpilih, dan di atas semua, … melampaui di atas semua dalam hal kebesaran dan kemurnian kebajikan ilahi, tidak tercemar dengan dosa apapun.”[22]

Jika Maria tanpa noda dosa, apakah dia membutuhkan Kristus untuk menyelamatkannya?

Jawabnya tentu: YA! Karena segala keistimewaan yang diberikan kepadanya hanya mungkin diperoleh melalui Keselamatan yang diberikan oleh Kristus sendiri. Duns Scotus (1264- 1308) seorang Franciskan mengatakan hal ini dengan indahnya, “Malah Maria, melebihi siapapun membutuhkan Kristus sebagai Penyelamatnya, sebab ia dapat tercemar oleh noda dosa asal seandainya rahmat dari Sang Penyelamat tidak mencegah hal ini.”[23] Keistimewaan rahmat yang membuat Maria dibebaskan dari noda dosa asal adalah bentuk penghormatan Yesus kepada Maria ibu-Nya, sesuatu yang menjadi hak-Nya sebagai Tuhan.
Apa pentingnya Dogma ini buat kita?

Bunda Maria yang tidak bernoda, tubuh dan jiwanya, tidak dimaksudkan ‘hanya’ untuk melukiskan keistimewaan Maria, tetapi untuk memberi gambaran bagi Gereja.[24] Seperti Maria, Gereja juga dikatakan sebagai ‘tidak bernoda.’ Hal ini juga dikatakan oleh Rasul Paulus yang mengatakan bahwa Kristus akan menempatkan Gereja di hadapanNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut …supaya GerejaNya kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27). Jadi, kita sebagai anggota Gereja diajak untuk melihat Maria sebagai teladan. Kita harus berjuang ‘mengalahkan’ bujukan Iblis setiap hari, dengan mengandalkan kekuatan Roh Kudus.

Kesimpulan:

Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa Asal (Ineffabilis Deus/ The Immaculate Conception) adalah pengajaran yang berdasarkan atas kebijaksanaan Allah yang tak terselami, yang membebaskan Bunda Maria dari dosa asal, sebab ia telah dipilih Allah sejak semula untuk menjadi Ibu PuteraNya Yesus Kristus. Pengajaran yang telah berakar lama dalam Gereja ini mengajak kita untuk melihat Bunda Maria sebagai teladan kekudusan, agar kitapun dapat berjuang hidup kudus setiap hari dengan mengandalkan rahmat Tuhan. Jadi fokus utama dogma ini bukan semata- mata untuk meninggikan Maria, tetapi untuk menyatakan kerahiman Tuhan yang tiada terbatas untuk menguduskan Maria sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus di dunia ini. Karena itu, Maria adalah model bagi Gereja dan teladan bagi kita masing-masing dalam hal kekudusan.



CATATAN KAKI:
Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang bunyinya antara lain sebagai berikut: Dengan inspirasi Roh Kudus, untuk kemuliaan Allah Tritunggal, untuk penghormatan kepada Bunda Perawan Maria, untuk meninggikan iman Katolik dan kelanjutan agama Katolik, dengan kuasa dari Yesus Kristus Tuhan kita, dan Rasul Petrus dan Paulus, dan dengan kuasa kami sendiri: “Kami menyatakan, mengumumkan dan mendefinisikan bahwa doktrin yang mengajarkan bahwa Bunda Maria yang terberkati, seketika pada saat pertama ia terbentuk sebagai janin, oleh rahmat yang istimewa dan satu-satunya yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh karena jasa-jasa Kristus Penyelamat manusia, dibebaskan dari semua noda dosa asal, adalah doktrin yang dinyatakan oleh Tuhan dan karenanya harus diimani dengan teguh dan terus-menerus oleh semua umat beriman.” [↩]
Santo Ephraem dalam “Nisibene Hymns”, 27, (dikutip dan diterjemahkan dari buku The Teachings of the Church Fathers, ed. John R Willis, S.J., Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, edisi asli Herder and Herder, New York, 1966 h. 361) menulis, “Sungguh Engkau, Tuhan, dan BundaMu adalah hanya satu-satunya yang cantik sempurna di dalam segala hal; sebab, Tuhan, tidak ada noda di dalam-Mu dan juga tidak ada noda apapun di dalam BundaMu…” [↩]
Santo Agustinus, dalam “On Nature and Grace“, Chap. 36:42, (dikutip dan diterjemahkan dari buku The Teachings of the Church Fathers, Ibid., h. 265) menulis, “Kita harus menerima Perawan Maria yang kudus, tentangnya saya tidak akan pernah mempertanyakan jika kita membahas tentang dosa, karena hormatku kepada Tuhan, sebab dari Dia kita tahu akan betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa sampai sekecil- kecilnya, telah diberikan kepadanya (Bunda Maria) yang telah dipercayakan untuk mengandung dan melahirkan Dia (Yesus) yang sudah pasti tidak berdosa…” [↩]
Santo Irenaeus, dalam “Against Heresies, V, The New Creation in Christ” (dikutip dan diterjemahkan dari buku Early Christian Fathers, ed. Cyril C. Richardson, Touchstone, Simon & Schuster, NY, 1996) hl. 389-390, menyebutkan Maria sebagai Hawa yang baru, “Seluruh umat manusia berada dalam kuasa maut melalui perbuatan seorang perawan (Hawa), maka seluruh umat manusia juga diselamatkan melalui seorang perawan (Maria, Hawa yang baru) dan karenanya, ketidaktaatan seorang perawan diimbangi oleh ketaatan perawan yang lain.” Dari sini, para Bapa Gereja menyimpulkan bahwa ketaatan total Maria dimungkinkan oleh ketotalan kemurniannya tanpa dosa asal. [↩]
John R Willis, S.J. ed., The Teachings of the Church Fathers, Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, edisi asli Herder and Herder, New York, 1966 h. 356 [↩]
“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15). [↩]
John 2:4, RSV Bible, “O Woman, what have you to do with me? My hour has not yet come.” Diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saatku belum tiba.” [↩]
John 19:26-27, RSV Bible, “When Jesus saw his mother, and the disciple whom he loved standing near, he said to his mother, “Woman, behold, your son! Then he said to the disciple, “Behold, your mother!” diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia: Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu! Kemudian kata-Nya kepada murid-muridNya: “Inilah ibumu!” [↩]
Lihat Lumen Gentium 56, S. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia” Maka … para Bapa zaman kuno, … menyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya” Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka (St. Jerome, St. Agustinus, St. Cyril, St. Yohanes Krisostomus, St. Yohanes Damaskinus) menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.” [↩]
Lihat, Defining the Dogma of the Immaculate conception, Ineffabilis Deus, par. The Annunciation, “They (the Church Fathers) thought that this singular and solemn salutation, never heard before, showed that the Mother of God is the seat of all divine graces and is adorned with all gifts of the Holy Spirit…“ [↩]
Lihat St. Irenaeus, Against Heresies, 189 AD, 3:22:24 [↩]
St. Hippolytus, Orations Inillud, Dominus pascit me [↩]
Origen, Homily 1 [↩]
St. Ephraim, Nisibene Hymns 27:8 [↩]
St. Athanasius, Homily of the Papyrus of Turin, 71:216 [↩]
St. Ambrose, Commentary on Psalm 118: Sermon 22, no.30, PL 15, 1599 [↩]
St. Gregorius, Sermon 38 [↩]
St. Augustine, Nature and Grace 36:42 [↩]
Theodotus, Homily 6:11 [↩]
Proclus, Homily 1 [↩]
St. Severus, Hom. cathedralis, 67, PO 8, 350 [↩]
Germanus dari Konstantinopel, Marracci in S. Germani Mariali [↩]
Diterjemahkan dari New Catholic Encyclopedia, The Catholic University of America, Washington D.C., 1967, Book VII, p. 381. [↩]
Lihat Hugo Rahner, SJ, Our Lady and the Church, (Zaccheus Press, Bethesda, 1968, reprint 1990), p. 17, “But this mystery of the Immaculate Conception of Mary is not only a personal priviledge granted to her who was to become the Mother of God. Mary thereby become the figure of the Church…” and p. 20, “The word ‘immaculate’ indeed sums up the mystery of our own spiritual life. We are members of the Church, and in us the Church’s mystery must be accomplished; it begins with Mary Immaculate, and we in turn, by the power of the Holy Spirit, must once more become immaculate. In each of us the victory over the serpent must be achieved….” [↩]

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
samiaji
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 392
Join date : 26.02.11
Age : 39

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   19th July 2011, 12:55

Berarti menurut iman katholik ada dua sosok manusia yang tidak mewarisi dosa asal dan tidak berbuat dosa ataupun cela, yaitu Bunda Maria dan Yesus .. Begitu ya Oom ?


Salam
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   19th July 2011, 13:21

Setahu saya sih cuma satu bro, yakni Maria. Kalau Jesus setahu saya sih Tuhan dan manusia, he he he.

Very Happy

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
samiaji
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 392
Join date : 26.02.11
Age : 39

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   19th July 2011, 13:40

Iya lah Oom, kan Yesus juga sepenuhnya manusia (dan sepenuhnya Tuhan)..

Tanpa mengurangi kepercayaan kepada ke-mahakuasaan Allah, apakah Allah bisa membatalkan/menghindarkan dosa asal dari Bunda Maria tanpa kehilangan konsistensiNya ? Bukankah Yesus tidak memiliki benih dosa karena memang tidak diperanak dalam hasrat manusia berdosa, sedangkan Bunda Maria melalui proses pembuahan seperti normal ?

Ataukah karena dikatakan bahwa Bunda Maria SELALU dipenuhi dan dalam perlindungan Roh Kudus jadi dia tidak berbuat dosa sedikitpun ? Tetapi umat Katholik kan menolak OSAS yang pada dasarnya adalah janji Yesus untuk selalu menyertai umatnya (yang terpilih)..


Salam
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   19th July 2011, 16:02

@samiaji

Secara jujur saja, saya tidak terlalu mempermasalahkan apakah Maria betul dikandung tanpa noda dosa asal atau tidak. Karena hal itu tidak akan merubah apapun, apalagi akan 'mengotori' janin Jesus yang dikandungnya.

Tetapi, jika kita bisa percaya bahwa Jesus dikandung dari Roh Kudus, Jesus tidak terkena dosa asal, bahkan tidak pernah berbuat dosa sekecil apapun. Maka sepertinya kita juga harus bisa menerima fakta bahwa 'barang' yang bersih membutuhkan 'wadah' yang bersih. 'Barang' yang suci membutuhkan 'wadah' yang suci pula.

Terlebih lagi jika kita mengingat bahwa Tabut Perjanjian yang sangat disucikan, membutuhkan perlakuan yang khusus, hanya para Imam agung saja yang diperkenankan satu ruangan di dalam ruang maha suci, dan memegangnyapun membutuhkan tingkat kesucian yang tinggi pula. Jadi, apa mungkin Jesus yang Mahasuci ditempatkan pada wadah 'tercemar' dengan 'dosa asal' Maria? Perlu diingat bahwa Jesus juga hidup sebagai janin, yang menggunakan DNA manusia dari Maria.

:)


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
samiaji
Calon Perwira
Calon Perwira


Jumlah posting : 392
Join date : 26.02.11
Age : 39

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   19th July 2011, 16:39

brue wrote:
@samiaji

Tetapi, jika kita bisa percaya bahwa Jesus dikandung dari Roh Kudus, Jesus tidak terkena dosa asal, bahkan tidak pernah berbuat dosa sekecil apapun. Maka sepertinya kita juga harus bisa menerima fakta bahwa 'barang' yang bersih membutuhkan 'wadah' yang bersih. 'Barang' yang suci membutuhkan 'wadah' yang suci pula.
Apabila barang suci HARUS selalu ditempatkan di wadah yang suci, apakah itu berarti Bunda Maria juga harus ditempatkan di rahim yang suci [ibunya] ?
Saya lebih senang kalau melihat sebagai berikut : Barang yang suci (Yesus) akan menyucikan wadah dimana ia berada (rahim Bunda).. Gimana menurut Oom ?
Bukankah Yesus juga yang menyucikan orang percaya dan bukan sebaliknya orang percaya yang menyucikan dirinya agar Yesus layak datang ke dalam hatinya...


Salam
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
avatar

Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   19th July 2011, 16:46

Quote :
Saya lebih senang kalau melihat sebagai berikut : Barang yang suci (Yesus) akan menyucikan wadah dimana ia berada (rahim Bunda).. Gimana menurut Oom ?

Bisa jadi, tetapi pada intinya adalah barang suci harus ditempatkan di tempat yang suci juga.

Quote :
Bukankah Yesus juga yang menyucikan orang percaya dan bukan sebaliknya orang percaya yang menyucikan dirinya agar Yesus layak datang ke dalam hatinya...

Pada kondisi kita sebagai orang yang berdosa, mungkin tulisan anda bisa diterima bro. Tetapi tentu anda harus mempersiapkan hati anda agar Jesus bisa masuk kan? Jika hati kita penuh kedengkian, rasanya Jesus 'tidak akan bisa' masuk, atau mungkin lebih mudahnya adalah, kita harus bertobat lebih dahulu dan mati lenih dahulu agar bisa bangkit bersama Kristus, istilahnya dilahirkan kembali.


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: (ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.   

Kembali Ke Atas Go down
 
(ask) Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 2 dari 5Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next
 Similar topics
-
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» MITOS DI MASYARAKAT
» WTA >> cara pasang plat no di dalam windshield
» Tips Berguna di Kehidupan Sehari-hari
» IGO... seni menyerang, bertahan dan memperluas wilayah...

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Ruang Antar Kristen (Khusus Penganut Kristen Trinitarian) :: Ajaran Kristen-
Navigasi: