Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia   29th November 2012, 07:40

Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia
Kamis, 29 November 2012 | 06:53 WIB

[You must be registered and logged in to see this image.]
Polandia adalah salah satu pemasok daging kosher dan halal di Eropa.

KOMPAS.com - Polandia masih punya waktu hingga tahun depan untuk mengizinkan penyembelihan hewan dengan alasan agama setelah larangan dari Mahkamah Konstitusi.

Keputusan Mahkamah Konstitusi yang diumumkan Selasa (27/11/2012) menetapkan hewan hanya boleh disembelih setelah lebih dulu dibius.

Namun ajaran agama Yahudi dan Islam mensyaratkan penyembelihan dilakukan atas hewan dalam keadaan sadar yang kemudian dibiarkan hingga mati.

Menteri Pertanian Polandia, Stanislaw Kalemba, mengatakan undang-undang Uni Eropa yang membolehkan penyembelihan hewan dengan alasan keyakinan agama bisa menjadi preseden bagi Polandia, seperti dilaporkan wartawan BBC Adam Easton dari ibukota Warsawa.

UU Uni Eropa tersebut -yang bisa melampaui peraturan nasional di 27 negara anggotanya- mulai diberlakukan Januari 2013.

Bagaimanapun masing-masing negara boleh memutuskan untuk tidak menerima UU Uni Eropa itu dan memberlakukan larangan total penyembelihan hewan.

Polandia merupakan salah satu produsen penting untuk daging kosher dan halal yang diekspor ke negara-negara Timur Tengah, antara lain Israel dan Turki.

Nilai ekspor daging kosher dan halal dari Polandia tahun lalu mencapai US$250 juta lebih.

Sedikitnya tercatat 17 rumah potong di Polandia yang memiliki lisensi pemotongan hewan sesuai kaidah agama.

Polandia mengesahkan undang-undang pada tahun 1997 yang menetapkan hewan harus dibius hingga pingsan sebelum dibunuh dan tujuh tahun kemudian Kementerian Pertanian mengeluarkan peraturan yang mengecualikan penyembelihan hewan demi alasan agama.

Kini Mahkamah Konstitusi memutuskan keputusan menteri tersebut melampai wewenang dan menegaskan larangan penyembelihan hewan di negara itu.

Para pegiat hak hewan akan menggunakan keputusan tersebut untuk meyakinkan pemerintah agar menerapkan larangan itu tanpa pengecualian.

Tapi, seperti dilaporkan wartawan kami, tampaknya peluang mereka tipis karena adanya payung UU Uni Eropa yang memungkinkan penyembelihan hewan tanpa dibius.

Sumber :BBC Indonesia
Editor :Tri Wahono
[quote]


Sekedar bertanya, apakah di dalam Quran dan Taurat ada perihal larangan membius hewan sebelum disembelih?

Karena kalau sama sama tidak ada larangan dan di sembelih di nadi leher, seharusnya tidak masalah apakah hewan itu dibius lebih dahulu atau dibiarkan menggeliat geliat kesakitan.

Salam

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

PostSubyek: Re: Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia   29th November 2012, 08:11

Wadduh, maaf, nggak pernah belajar Taurat dan Al Qur'an secara detil.

Kalo pake pikiran saja, saya pikir begini.

Jika dipotong dalam keadaan terbius, berarti hewan yang dipotong tidak merasakan sakit. Tetapi, waktu pembiusannya, kalau bius itu dilakukan dengan suntuikan, ya tetap saja hewan merasakan sakit ketika penyuntikan, meskipun tingkat sakitnya hanya sedikit. Kalau pembiusannya dilakukan melalui nafas (mis, bius melalui asap), memang hewan yang akan dipotong tidak merasakan sakit.

Jika hewan dipotong ketika hewan itu terbius, berarti detak jantungnya begitu lemah, dan darah yang sedang dalam pembuluh darahnya tidak terpompa keluar. Artinya, sebagian besar darahnya utuh dalam pembuluh darah. Sementara kalau dipotong tanpa bius, kesadaran hewan itu penuh, maka saat-saat meregang nyawa, jantungnya memompa sangat kuat, dan darah muncrat hampir habis dari dalam tubuh.

Lalu, apa dampak dari kehabisan darah, atau darah yang masih utuh dalam tubuh hewan ditinjau dari aturan agama Yahudi ato Islam? Entahlah.

_________________________________________________
Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan, berikan kepada negara apa yang menjadi hak negara
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia   29th November 2012, 08:20

Tidak om, saya bisa coba menjelaskan.

Seekor sapi cenderung tidak merasa suntikan bius, karena ukuran tubuh dan ototnya, perbandingannya seperti saat kita periksa gula darah di lab, atau seperti digigit semut.
Itu dari rasa sakit.

Sedangkan sola darah, setiap hewan yang telah disembelih ataupun ditembak (di US) akan digantung secara terbalik. tujuannya untuk menguras seluruh darahnya. Mengapa? Karena darah yang tersisa di dalam pembuluh, akan menjadi sarang bakteri yang akan merusak daging.

[You must be registered and logged in to see this image.]

Sad

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia   29th November 2012, 09:18

Qurban vs. Menyembelih Cara Barat, Sains Menjawabnya

Setiap tahun, dirayakan Hari Raya ‘Idul Ad-ha yang jatuh tanggal 10 Dzulhijjah Tahun Hijriyah. dan disunnahkan bagi yang mampu memiliki hewan ternak, untuk mengorbankan ternaknya (dalam artian harta benda) dan dibagikan dagingnya pada yang kurang mampu untuk sarana mendekatkan diri kepada Ilahi. (qurban berasal dari kata “qarib” yang artinya “dekat”), ternak-ternak yang disembelih itu tidak berdaya, hanya bisa meronta-ronta dan mengerang kesakitan saat disembelih.

Menurut kebanyakan orang, cara menyembelih yang baik adalah dengan memingsankan ternak itu terlebih dahulu, baru disembelih (dalam keadaan pingsan) dalam hal ini, pemingsanan itu dapat dilakukan dengan berbagai alat, seperti: stunning gun, pembiusan, atau menggunakan arus listrik.
selain itu, metode pemingsanan terbaik yang sering mereka lakukan adalah dengan cara memukul bagian tertentu di kepala ternak dengan alat tertentu, dengan beban dan kecepatan yang tertentu pula.

Alat yang dipakai untuk memingsankan ternak itu, di antaranya adalah Captive Bolt Pistol (CBP). menurut kebanyakan orang, inilah cara yang terbaik dan lebih “manusiawi”, cara ini juga, menurut mereka lagi, dapat melindungi pekerja dari kemungkinan kecelakaan karena hewan meronta-ronta ketika disembelih. Setelah pingsan, menurut mereka juga, hewan itu tidak akan merasa kesakitan bila disembelih. Cara seperti ini mereka yakini sebagai cara yang terbaik, karena hewan tidak meronta-ronta, tidak tampak kesakitan, dan “sepertinya” tidak merasakan sakit (karena telah pingsan).

Melalui penelitian ilmiah yang dilakukan oleh dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman yaitu Prof. Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim.
keduanya membuat dan memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan:
manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)?
keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa).

Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG), Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.

Dalam Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis.

Patut pula diketahui, syariat Islam tidak merekomendasikan metoda atau teknik pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat justru mengajarkan atau bahkan mengharuskan agar ternak dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih.

Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang sangat ditunggu-tunggu!

Dari hasil penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut Syariat Islam menunjukkan:

Rasa Sakit
Pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.

Kesadaran dan Aktivitas Jantung
Pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.

Pemompaan Darah Keluar
Setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: "No feeling of pain at all!" (tidak ada rasa sakit sama sekali!)

Kondisi Akhir Daging
Karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.

Hasil penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut metode barat menunjukkan:

Mudah Dikendalikan
Segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (roboh). Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan, oleh karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta, dan tampaknya tanpa mengalami rasa sakit pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan),

Rasa Sakit
Segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (seperti karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan).

Berhentinya Kerja Jantung
Grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah, hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik dari dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

Kondisi Akhir Daging
Karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi kurang layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam ilmu dan teknologi pengolahan daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.

Darah menjadi tempat berkembangnya kuman, bakteri, racun dan unsur merugikan lainnya, unsur itu yang membuat kekakuan mayat hewan oleh karena itu cara penyembelihan hewan secara Islam lebih higienis dimana semua darah dialirkan atau dibuang.

Meregangnya Ternak Bukan Ekspresi Rasa Sakit!
Kejang dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah lazim menjadi keyakinan kita bersama, bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka, pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Terlebih lagi yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar.!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim justru membuktikan yang sebaliknya. Yakni bahwa pisau tajam yang mengiris leher (sebagai syariat Islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Oleh karenanya kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Hal ini tentu tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena grafik EEG tidak membuktikan juga tidak menunjukkan adanya rasa sakit itu.

Apabila telah disembelih, tetapi sapi tidak segera mati, bolehkah kita menusuk jantungnya?

Sering kita melihat bahwa setelah disembelih, banyak sapi yang tidak segera mati. Seringkali pula kita merasa kasihan, sehingga muncul ide di benak kita untuk menusuk jantungnya. Sikap ini umumnya berawal dari kekhawatiran kita kalau-kalau sapi terlalu lama menahan sakit.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Blackmore (1984), Daly et al. (1988), Blackman et al. (1985), dan Anil et al. (1995) di 4 negara yang berbeda membuktikan bahwa setelah disembelih, sapi memerlukan waktu lebih lama untuk benar-benar mati. Hal ini diduga disebabkan oleh ukuran tubuh sapi yang lebih besar dibandingkan kambing, domba, rusa, ayam, dll. Untuk itu, sebaiknya kita menunda hingga sapi benar-benar mati dan tidak perlu menusuk jantungnya. Bila kita menusuk jantungnya, maka jantung akan sobek dan kehilangan fungsinya untuk memompa darah, sehingga darah tidak dapat maksimal terpompa keluar tubuh. Selain itu, sobeknya jantung diduga akan menimbulkan kejutan rasa sakit yang amat sangat bagi hewan ternak yang bersangkutan.

“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya.” (H.R. Muslim).

Ditulis oleh:
Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P.
Sekretaris Eksekutif LPPOM Majelis Ulama Indonesia Propinsi DIY dan Dosen Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta. Mobile phone : 081 2277 6763

Sumber :
[You must be registered and logged in to see this link.]
[You must be registered and logged in to see this link.]
dengan perubahan seperlunya.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia   29th November 2012, 09:25

Quote :
Ditulis oleh:
Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P.
Sekretaris Eksekutif LPPOM Majelis Ulama Indonesia Propinsi DIY dan Dosen Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta. Mobile phone : 081 2277 6763

Sumber :
[You must be registered and logged in to see this link.]
[You must be registered and logged in to see this link.]

Apakah anda punya artikel dari pihak yang 'tidak berkepentingan' kang? SUpaya tidak bias.

Salam


_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia   29th November 2012, 09:34

bruce wrote:

Apakah anda punya artikel dari pihak yang 'tidak berkepentingan' kang? SUpaya tidak bias.

Salam

Sejauh ini sih saya belum pernah mendapatkan/belum pernah mencari artikel lain tentang penyembelihan ini.
Kalau sudah dapat, saya share di sini...
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia   29th November 2012, 09:45

Berikut mungkin bisa mewakili kedua pandangan, antara stunned slaughter dan shechita / dhabiha.

[You must be registered and logged in to see this link.]
[You must be registered and logged in to see this link.]

Selebihnya, kita tidak memiliki data nyata, karena kita tidak bisa bertanya kepada seekor sapi yang akan disembelih, pilih mana.

Shocked

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Silancah
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1492
Join date : 29.01.11
Lokasi : Bandung Barat

PostSubyek: Re: Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia   29th November 2012, 16:10

bruce wrote:
Berikut mungkin bisa mewakili kedua pandangan, antara stunned slaughter dan shechita / dhabiha.

[You must be registered and logged in to see this link.]
[You must be registered and logged in to see this link.]

Selebihnya, kita tidak memiliki data nyata, karena kita tidak bisa bertanya kepada seekor sapi yang akan disembelih, pilih mana.

Shocked

Hehehe... lucu juga ya.
Pernyataan yang dikeluarkan Muslim and Jew authorities disebut bias oleh non-Muslim dan non-Jew
Lalu pernyataan dari scientist disebut bias dan ada agenda oleh Muslim dan Jew.

Tapi satu penelitian yang menarik dari artikel di atas:
One scientist who has observed closely the work of trained shochets is Dr Temple Grandin of Colorado University, a renowned expert on the humane treatment and slaughter of livestock.

Her verdict is that conventional slaughter with preliminary stunning, and religious slaughter without stunning, are both acceptable when conducted properly.

"There's good and bad stunning but the research shows very clearly that when you stun an animal properly with a well-maintained captive bolt, unconsciousness is instantaneous - it's like turning off a light switch," she told the BBC.

"Similarly when I've seen shechita on a cow done really right by a really good shochet, the animal seemed to act like it didn't even feel it - if I walked up to that animal and put my hand in its face I would have got a much bigger reaction than I observed from the cut, and that was something which really surprised me."


Apakah Dr. Temple Grandin ini bisa disebut sebagai seseorang yang netral karena bukan beragama Islam atau Yahudi?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia   29th November 2012, 16:21

Quote :
Apakah Dr. Temple Grandin ini bisa disebut sebagai seseorang yang netral karena bukan beragama Islam atau Yahudi?

Dr. Temple Grandin, sepertinya bisa disebut netral, kang.
Beliau seperti pernah saya tuliskan, entah di forum ini, atau di FIK, adalah seorang pengidap autism sejak kecil. Kegemarannya adalah mengamati ternak terutama sapi. Ia bisa 'kumat' berteriak teriak jika melihat sapi disakiti. Tetapi dengan jujur ia berkata, bahwa tidak ada yang salah kalau sapi dimakan oleh manusia, tetapi perlakukanlah sapi dengan martabat. Kira kira seperti itu ucapannya yang saya ingat.

Apakah dia seorang Kristen ataukah seorang Yahudi, saya tidak tahu, karena sama sekali tidak dikisahkan, dan sepertinya juga tidak tertulis di sejarahnya.

Salam

_________________________________________________

Jn 3:16 For God so loved the world, as to give his only begotten Son; that whosoever believeth in him, may not perish, but may have life everlasting.
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia   Today at 14:59

Kembali Ke Atas Go down
 
Larangan Penyembelihan Hewan di Polandia
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» 7 Larangan Setelah Makan
» MITOS DI MASYARAKAT
» Hal-Hal yang dapat membuat kaum lelaki menangis
» Apakah ganti knalpot racing itu akan beresiko di tilang...?
» waspada penipuan polisi modus baru!!pdhal smua kelengkapan surat2 ad

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Forum Terbuka :: Diskusi - Kristen Bertanya Non-Kristen Menjawab-
Navigasi: