Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.
Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.
Ladang Tuhan Baru
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  Latest imagesLatest images  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

 

 TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca

Go down 
4 posters
Pilih halaman : 1, 2  Next
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 12:33

Quote :
TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca
Windoro Adi | Benny N Joewono | Kamis, 23 Juni 2011 | 08:38 WIB

KOMPAS.com - Juni 2009. Malam nan laknat itu datang. Di lantai tiga sebuah apartemen di Kota Hawali, Kuwait, pembantu rumah tangga Imas Tati (22) terpentang, terbaring telanjang di ruang tamu. Kedua tangan dan kakinya diikat pada kaki-kaki kursi. Majikannya, seorang pria berusia 30 yang ia panggil Baba, memandangi tubuh Imas dengan nanar. Tangan Baba menyentuh Imas.

”Ya Allah, Ya Rabbi,” bisik Imas dalam hati. Matanya berkaca-kaca. Tak berapa lama, air matanya tak terbendung lagi, mengairi pelipisnya. Ia terus menderas asma suci Allah dalam hati. Tangan dan kakinya terus meronta, menolak disentuh. Tapi Baba tambah bernafsu. Ia bukan hanya menyentuh, tetapi memukuli Imas.

Mata Imas terkatup rapat menahan rasa sakit, rasa takut, terhina dan marah. Ia meredamnya dengan terus menyebut asma suci Allah. Giginya menggigit bibir.

Tiba-tiba telepon genggam Baba berbunyi. Istrinya, Nyonya ”Z”, seorang dokter bedah, pulang. Baba buru-buru memakai pakaiannya. Imas pun ia lepas. Sambil berpakaian, Baba lalu menjambak rambut Imas dan mendekatkan mulutnya pada telinga Imas. Baba berbisik, ”Kalau kamu melawan, saya akan terus menjadi ancaman buat hidupmu. Seharusnya kamu mau melayani saya dan menerima lebih banyak uang untuk keluargamu." Tangan kiri Baba masih menjambak rambut Imas.

Imas membisu. Babak berikutnya adalah babak sandiwara sepasang suami istri. Setelah melayani keduanya, Imas pergi tidur. Tetapi di kamarnya, ia tak bisa memejamkan mata. Ini adalah yang kesekian kalinya ia nyaris diperkosa. Terakhir, ia hendak diperkosa si Baba dan lima keponakan prianya.

Ceritanya, usai mengantar belanja, Imas diminta tetap di mobil bersama kelima keponakan pria Baba. Ternyata mereka berniat memperkosa Imas. Sambil berjalan, kelimanya membekap Imas. Hampir seluruh pakaian Imas termasuk pakaian dalamnya sudah lepas. Demikian pula pakaian ke lima keponakan Baba.

Karena Imas terus meronta, kelima pria lamban mewujudkan niatnya. Saat kendaraan hendak sampai apartemen Baba, Baba mengingatkan kelima keponakannya agar mengurungkan niatnya. ”Kita cari waktu lain saja yang lebih leluasa,” ucap Baba. Meski kecewa, kelima keponakan menuruti permintaan Baba.

Lari

Imas mengejapkan matanya, mengusir genangan air mata. Ia masih terbaring di tempat tidur. Bayangan tentang Baba yang terus berusaha mencicipi tubuhnya di dapur, di ruang tamu, di ruang makan, bahkan di kamar mandi, membuatnya makin gelisah. Peluang Baba memperkosa Imas banyak. Sebab, Baba sehari-hari di rumah sementara istrinya setiap hari berangkat pagi, pulang malam. Hampir seluruh waktu Nyonya Z, dihabiskan di rumah sakit.

Tapi lama-lama Imas tak ingin lagi menjadi seekor ikan yang cuma bisa menggelepar tanpa suara. Imas ingin lari tapi, ragu bila mengenang kembali cita-citanya bekerja untuk membiayai sekolah adiknya, dan membantu ekonomi orangtuanya di desa.

Ingatan tentang penderitaannya selama menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi kemudian menepis cita-cita Imas. Ia lalu menguatkan tekad untuk kabur.

Pagi pukul 05.00, ia melepas dan menyambung-nyambung kain korden dan selimut. Ia pun mengendap-endap turun dari lantai tiga. Sampai di lantai dua, ia jatuh. Niatnya kabur gagal. Di depan istrinya, Baba pun mencaci maki Imas. ”Dasar budak tidak tahu diuntung!”. Mendengar teriakan itu, Imas tak ingin lagi jadi seekor ikan. Ia berkata, ”Saya tidak akan berbuat seperti ini bila majikan saya baik”.

Imas lalu dibawa ke Rumah Sakit Mubarak. Setelah dua pekan di rumah sakit, ia diberi tahu kakinya mungkin lumpuh dan harus diamputasi. Ia menjawab dengan menggelengkan kepala dan menangis.

”Tulang punggung saya dibagian tengah, hancur dan mendapat 40 jahitan luar dan dalam. Kedua engsel kaki saya pecah. Tulang-tulang yang rusak ini dipasangi pen,” kata Imas saat ditemui di pondokan Migrant Care di kawasan Jakarta Timur, Rabu (22/6/2011) sore.

Ia lalu menunjukkan bekas jahitan di punggung dan kedua pergelangan kakinya. Maret 2010, pen-pen di kedua pergelangan kakinya, dilepas di Rumah Sakit Polri Raden Said Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur.

Indonesia Raya

Sebelum bekerja pada Baba dan Nyonya Z, Imas, gadis Desa Ciparai RT 1/RW 7, Leuwi Mundaling Majalengka, Jawa Barat ini, bekerja pada keluarga polisi, J (30). Rumahnya di Jalan Mubarak al-Kabir. Di tempat ini, J sering menyiksa Imas.

”Saya sering jadi bulan-bulanan kekesalan dia meski saya tidak bersalah dan diam. Saya dipukuli dan ditendangi. Saya sudah seperti bola saja. Dia sering baru berhenti menganiaya setelah saya pingsan. Bahkan kadang, saat dia belum puas menyiksa saya, dia mengguyur saya supaya sadar, lalu memukuli saya lagi,” papar Imas.

Ketika ia melaporkan kasus ini ke KBRI, Imas justru dijebloskan penjara oleh majikannya yang polisi. ”Orang-orang KBRI tidak membela saya ketika mereka melihat saya diseret-seret dan dibawa ke penjara,” tutur Imas. Ia mengaku tidak digaji selama bekerja pada polisi J.

”Waktu saya di KBRI, saya dikejar-kejar agen pembantu. Saya lalu dijual ke keluarga lain dengan harga Rp 15 juta. Begitu seterusnya sampai saya bekerja di rumah Baba,” ungkap Imas.

Ia sempat bekerja dengan tenang di dua keluarga. Ia digaji sebulan 50 Dinar atau sekitar hampir Rp 2 juta. ”Tapi baru empat-lima hari bekerja, agen pembantu menteror majikan saya. Saya pun dilepas dan dijual kembali ke keluarga lainnya,” ujarnya.

Menurut Imas, Warganegara Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab, dilarang memakai bahasa Indonesia. ”Kalau menyanyi Indonesia Raya?”. ”Aduh...,” jawabnya sambil menggelengkan kepala.

Korban lain

Sejak Februari 2011, Imas berada di Indonesia. Saat dirawat di Rumah Sakit Polri, ia bertemu dengan seorang pembantu rumah tangga lainnya yang juga dirawat. Namanya Basaeri (25). Tulang punggung Basaeri patah. Beberapa jaringan syarafnya rusak. Ia tidak bisa lagi berkomunikasi. Bicaranya kacau.

Imas bercerita, Basaeri adalah pembantu rumah tangga yang bekerja di Suriah. Saat mengepel, ia jatuh didorong anak majikannya. Bukannya mendapat perawatan, Basaeri justru dianiaya. ”Sekarang dia sudah meninggal. Dia meninggal waktu dioperasi,” tutur Imas.

Nasib serupa juga dialami kawan Imas lainnya, Dewiyanti asal Brebes, dan Muslimah asal Tegal Gubuk, Indramayu, Jawa Tengah. Menurut Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, tidak kurang dari lima ribu pembantu rumah tangga warganegara Indonesia mendapat kekerasan fisik selama bekerja di Arab Saudi. Dua ribu di antaranya, menjadi korban kekerasan seksual. "Di negeri lain jumlah korban lebih kecil," jelasnya.

Budak nafsu

Pembantu rumah tangga lainnya, Rosnani (48) mengatakan, apa yang dialami Imas, Basaeri, Dewiyanti, dan Muslimah, menjadi hal yang biasa terjadi di Arab Saudi. ”Sejak 1985 saya bekerja di Arab Saudi dan sudah beberapa kali pulang ke kampung halaman. Saya bertemu mereka dimana-mana. Nasibnya serupa. Kalau tidak jadi sasaran nafsu syahwat, ya jadi sasaran nafsu membunuh,” tutur perempuan asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu.

Ia berpendapat, para pembantu rumah tangga warganegara Indonesia hidup seperti budak di Arab Saudi. Dijual oleh para agen pembantu rumah tangga. Ditarik lagi dan ditempatkan di keluarga lain, demi mendapat Rp 15 juta – Rp 20 juta dari setiap transaksi jual beli. ”Kalau belum laku. Di suruh nunggu di kamar kaca kantor agen pembantu, sampai ada orang yang membeli,” ujar Rosnani.

Menurut Imas, dianiaya dan diperkosa berulang kali oleh majikan dan keluarganya, dijual dan diperas agen-agen penyalur pembantu rumah tangga, menjadi pengalaman sebagian besar kawan-kawan satu pekerjaan di Arab Saudi.

"Kalau sudah tua seperti saya, orang-orang itu engga doyan. Sebagai gantinya, saya diperas bekerja 22 jam setiap hari tanpa libur. Bangun jam 05.00, tidur jam tiga hari berikutnya. Dipukuli, disekap, diludahi, dilempar ke comberan,” lanjut Rosnani.

Ia mengaku, setelah memukuli, majikannya dengan mudah menempelkan pisau di lehernya sambil mengancam, ”Saya bisa gorok dan potong-potong kamu sesuka hati saya. Tidak ada yang melindungi kamu di sini bukan?”. Karena ancaman seperti itu datang berulangkali, Rosnani pun tidak tahan dan kabur dengan uang sendiri.

Rosnani mengingatkan, tidak mudah kembali ke Tanah Air setelah para perempuan pembantu rumah tangga terjerat jaringan agen pembantu rumah tangga. ”Bisa lepas dari agen dan punya uang untuk pulang saja sudah mujur,” tuturnya.

Meski mengaku nasibnya lebih beruntung, tetapi Rosnani tak mau lagi ke Arab Saudi menjadi pembantu rumah tangga. ”Lebih senang hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang,” katanya menutup percakapan. (WINDORO ADI)

Sudahi dan hentikan pengiriman TKI dan TKW ke negara biadab seperti Arab Saudi, mereka belum memiliki martabat yang layak disebut sebagai manusia, perilakunya tidak jauh dari hewan melata.

Evil or Very Mad Evil or Very Mad Evil or Very Mad
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 12:41

Quote :
TKI: Saya Dijadikan Budak Seks
C. Windoro AT. | Benny N Joewono | Rabu, 22 Juni 2011 | 17:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didesak segera melakukan langkah pembelaan terhadap 28 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang kini menunggu hukuman mati di Arab Saudi.

Desakan disampaikan Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, yang ditemui di kantornya, Rabu (22/6/2011). "Hentikan saling tuding dan berpolemik soal kematian Ruyati yang dihukum mati. Lakukan langkah membela dan melindungi 28 TKI lainnya yang bakal bernasib sama dengan Ruyati," tandas Anis.

Ia mendesak Presiden segera melakukan langkah nyata. "Jangan cuma sibuk beretorika dan membela diri dari tudingan. Bayarlah kesalahan yang menyebabkan kematian Ruyati dengan menyelamatkan 28 TKI lainnya," kata Anis.

Menurut dia, ke-28 TKI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi adalah Sulaimah, Siti Zaenab Duhri Rupa, Muhammad Zaini asal Madura. Dwi Mardiyah, Nurfadilah, Suwarni, Hafidz Bin Kholil Sulam, Nursiyati asal Jawa Timur.

Eti Thoyib Anwar, Yanti Irianti, Karsih, Ruyati, Darsem, Emi, Nesi, Rosita Siti, Saadah, Jamilah asal Jawa Barat serta Satinah asal Jawa Tengah.

Dari Kalimantan Selatan tercatat Aminah Budi, Darmawati Tarjani, Muhammad Niyan, Abdul Aziz Supiyani, Muhammad Mursyidi, dan Ahmad Zizi Hatati. Dari Kalimantan Barat tercatat Sulaimah.

Dua TKI lainnya belum diketahui asal daerahnya, yaitu Nurmakin Sobri dan Ahmad Fauzi. Sejumlah TKI yang ditemui di rumah pondokan Migrant Care di Jakarta Timur mengakui, hidup bagai budak bekerja di Arab Saudi.

"Mereka memuaskan nafsu seks dan nafsu membunuhnya pada kami," ungkap tenaga kerja wanita (TKW) Imas Tati (22).

Dua tahun lalu perempuan asal Majalengka ini bekerja di Kuwait. Di sana dia beberapa kali lolos dari pemerkosaan majikan dan para ponakannya. Terakhir, ia berusaha lolos dari pemerkosaan dengan turun dan jatuh dari lantai tiga apartemen majikannya.

Tulang punggung bagian tengah remuk, kedua tulang sendi telapak kaki patah. Nasib serupa dialami rekannya, Dewiyanti asal Brebes, dan Muslimah asal Tegal Gubuk, Indramayu, Jawa Tengah.

Imas mengatakan, di Arab Saudi, para pembantu perempuan Indonesia diperlakukan sebagai budak. "Dianiaya dan diperkosa berulang kali oleh majikan dan keluarganya, dijual dan diperas agen-agen penyalur pembantu rumah tangga. Itulah pengalaman saya dan sebagian besar kawan-kawan satu pekerjaan di Arab Saudi," papar Imas.

Rosnani (48), TKW yang duduk di samping Imas, membenarkan. "Kalau sudah tua seperti saya, orang-orang itu engga doyan. Sebagai gantinya, saya diperas bekerja 22 jam setiap hari tanpa libur. Dipukuli, disekap, diludahi, dilempar ke comberan. Saya tidak tahan, akhirnya kabur pulang ke Indonesia dengan uang sendiri. Lolos dari agen juga sudah mujur," tuturnya.


Mad
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 12:48

Quote :
Penempatan TKI ke Arab Distop
Erlangga Djumena | Kamis, 23 Juni 2011 | 07:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Atas rekomendasi DPR dan desakan masyarakat, pemerintah akhirnya memutuskan menghentikan sementara penempatan tenaga kerja Indonesia pekerja rumah tangga ke Arab Saudi mulai 1 Agustus 2011.

Jeda penempatan akan dicabut apabila pemerintah kedua negara menandatangani nota kesepahaman perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI), khususnya pekerja rumah tangga di Arab Saudi.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mengumumkan keputusan ini di Jakarta, Rabu (22/6/2011). Muhaimin didampingi Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Mohammad Jumhur Hidayat, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Kemennakertrans Reyna Usman, Duta Besar RI untuk Arab Saudi Gatot Abdullah Mansyur, serta Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Tatang B Razak.

Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan rekomendasi Rapat Paripurna DPR dan desakan publik yang menguat pascaeksekusi mati Ruyati binti Satubi. Eksekusi pada hari Sabtu di Riyadh, Arab Saudi, itu tanpa pemberitahuan kepada Kedutaan Besar RI dan keluarga.

Sedikitnya 1,5 juta TKI bekerja di Arab Saudi dan mengirim devisa sedikitnya 2,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 21,4 triliun) pada 2010. Arab Saudi merupakan negara tujuan kedua terbesar setelah Malaysia. Total ada 6 juta TKI di luar negeri dan pada 2010 mereka mengirim devisa 7,1 miliar dollar AS (sekitar Rp 64,6 triliun). (ETA/HAM/ATO/WIN/NDY/IAM)

Mengapa cuma sementara? Hentikan saja selama orang-orang Arab belum bisa bertingkah laku layaknya manusia beradab !!!!!!!!
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 12:52

bener kata Kang Lancah...
tuh sebagian orang arab disana perilakunya masih kayak di jaman jahiliyah. Sad
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 13:05

T2Y wrote:
bener kata Kang Lancah...
tuh sebagian orang arab disana perilakunya masih kayak di jaman jahiliyah. Sad

Mungkin orang2 jadi bertanya, bagaimana dengan peran ajaran agama di sana? Apakah ada manfaatnya? Apakah ada sedikit saja yang nyangkut di benak mereka?

Mad
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 13:24

bruce wrote:
T2Y wrote:
bener kata Kang Lancah...
tuh sebagian orang arab disana perilakunya masih kayak di jaman jahiliyah. Sad

Mungkin orang2 jadi bertanya, bagaimana dengan peran ajaran agama di sana? Apakah ada manfaatnya? Apakah ada sedikit saja yang nyangkut di benak mereka?

Mad

mungkin (ini mungkin loh, ya...), mereka mirip sama Israel yang merasa jadi bangsa yang terpilih, terberkati dan lain sebagainya.
sehingga sering semena2 dan lupa sama apa yang baik.

(wheeew, ternyata saya juga masih sering kayak gitu... Sad)
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 13:27

Seburuk buruknya orang Israel, sepertinya ngga sampe memperlakukan pembantunya seperti orang Arab gitu deh bro, tapi entahlah.

Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 13:30

maksud saya semena2 nya itu, Om...
menghalalkan segala cara untuk memenuhi apa yang diinginkannya.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 13:41

Eeeehmm, sepertinya saya juga belum pernah mendengar ada orang Arab yang di rajam karena memperkosa TKW ya, atau saya salah? Karena menurut hukum syarian Islam, seseorang yang sudah menikah dan melakukan zinah, maka kepadanya diancam hukuman rajam (kalau belum menikah cuma dicambuk). Sedangkan orang (Arab) yang memperkosa tidak pernah terdengar ada yang dirajam, sementara banyak para TKW yang pulang terbukti membawa anak anak berhidung mancung.

Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
Husada


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 13:53

Tapi, sepertinya, ada juga TKW yang bisa menikmatinya. Saya katakan begitu, soalnya begini.

Pada suatu hari, saya diutus datang di Jakarta. Kepada saya diberi surat tugas 3 hari, dengan hitungan sehari perjalanan ke Jakarta, sehari melaksanakan tugas, dan sehari perjalanan pulang ke daerah. Ternyata tugas yang saya emban sudah selesai dalam waktu dua jam.

Saya menginap di Bekasi, ber-nomaden di rumah konco lawas. Pada penerbangan pulang ke daerah, saya pilih yang terakhir, jam 18.05, dengan harapan agar bisa lebih lama berkongkow ria dengan konco-konco. Saya bergerak dari Bekasi jam 16.00. Saya pikir, waktu perjalanan 2 jam cukup untuk tiba di bandara. Saya sengaja check in dari Bekasi. Apa lacur, kerna kemacetan, saya tiba di bandara jam 18.15, ternyata pesawat baru saja terbang.

Pikir punya pikir, sungkan kalau harus kembali ke Bekasi. Selain akan menghabiskan waktu, juga agak berasa gimana gitu bertemu lagi dengan konco-konco yang baru tadi sudah bersalaman. Sudah. Hitung-hitung, untuk bernostalgia pada masa sebelum bekerja, kuputuskan untuk menggelandang di bandara.

Jenuh menunggu di domestic departure, saya berjalan ke international departure. Pikir-pikir, ya numpang nampang seolah akan bepergian ke mancanegara. Semakin larut, semakin banyak para penggelandang.
Menjelang tengah malam, saya rebahan di lantai bandara.

Dari pembicaraan mereka kusimpulkan bahwa mereka adalah TKW yang sudah berulang kali pulang ke kampung halaman. Mereka sering berganti majikan, baik di negara yang sama, maupun antarnegara. Yaman, Saudi, Arab, dan berbagai negara Timur Tengah terlontar dari mulut mereka dengan nada ceria.

Busananya cukup modis, aksesorisnya berbagai macam. Banyak yang berpakaian ketat. Berhaha-hihi, mereka saling cerita tentang majikannya. Sering ceritanya menjurus ke adegan-adegan panas kegemaran majikan. Banyak kisah yang dialami di penampungan, perusahaan penyalur TKW.

Singkat cerita, kusimpulkan, ada juga TKW yang menikmati pengalamannya selama menjadi babu di Timur Tengah. Terbukti dari kisah mereka yang mengalami langsung, penuh canda mereka berkisah tentang majikan, nyonya majikan, penyalur, antek-antek penyalur, dll.

Itu sedikit pengalaman, ketika menggelandang di bandara, entah apes atau apa, yang pasti, ada pertambahan hasanah pemikiran saya tentang TKW.

Damai bagi TKW, hehhehheee...
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 14:03

Saya setuju dengan pendapat anda bro Husada, memang sudah pasti ada saja para TKW yang justru memanfaatkan 'kegemaran' pria arab akan daging lokal. Cuma, tentu kita ngga bisa kemudian menganggap bahwa para TKW kita itu banyak yang gemar diperlakukan seperti itu.

Karena, walau ada para 'TKW" yang bekerja sambilan, tentu lebih banyak TKW kita yang sungguh berangkat dengan niat memperbaiki hidup keluarganya di kampung.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 16:06

Quote :
Gus Choi: Di Arab, TKW Seperti Budak!
Ary Wibowo | Robert Adhi Kusumaputra | Kamis, 23 Juni 2011 | 15:45 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Effendy Choirie, mengatakan, untuk mengurangi kasus yang sama dengan Ruyati binti Sapub, tenaga kerja wanita (TKW) yang dihukum mati di Arab Saudi, pemerintah terlebih dahulu harus memperhatikan skill para tenaga kerjanya yang ingin bekerja di negara Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi.

Pasalnya, dia menilai, skill tersebut merupakan salah satu cara untuk beradaptasi dengan kultur beberapa negara di wilayah tersebut yang memang mempunyai kultur keras, telebih dengan para buruh migran yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

"Kultur di sana (Arab Saudi) itu memang keras. Kultur mereka pembantu itu dianggap budak. Sehingga sering kali tenaga kerja kita disiksa di sana. Jadi, kalau pengiriman tenaga kerja yang tidak pakai skill itu lebih baik diberhentikan secara total. Itu artinya pemerintah harus mencarikan atau membangun kesempatan kerja bagi mereka di dalam negeri ini, Karena tidak ada jaminan keselamatan kalau mereka kesana," ujar politisi yang akrab dengan panggilan Gus Choi ini, seusai mengikuti sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (23/6/2011).

Gus Choi menambahkan, pemerintah juga tidak dapat lepas tanggung jawab, jika warga negaranya yang bekerja di Timur Tengah melakukan tindakan-tindakan pidana. Menurutnya, sebagian besar para pekerja di negara tersebut, melakukan tindakan pidana, karena memang telah diperlakukan secara kasar, dan tidak mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai kultur dari negara yang akan dituju.

"Selain itu juga ada faktor-faktor yang tidak pernah diungkap. Contohnya, kita lihat saja, mereka ke sana karena disini tidak ada pekerjaan. Lalu ketika disana keterampilannya tidak ada. Kenapa tidak ada? Karena tidak dididik. Kenapa tidak dididik? Karena yang mengirim tidak mendidik. Lalu, kenapa kok jika dididik, boleh dikirim ke sana? Ya, karena pemerintah memperbolehkan. Disinilah peran pemerintah," ungkapnya.

"Dan ketika disana mereka diperlakukan dengan kultur yang keras, sehingga mereka melakukan berbagai tindakan pidana itu. Nah ini faktor-faktornya. Inilah akibatnya jika hilirnya saja dilihat, tetapi hulunya tidak," imbuhnya.

Karena itu, lanjut Gus Choi, pemerintah harus tegas dalam mengatasi kasus ini. Dia mengharapkan, agar kementrian dan instansi-instansi, yang terkait dengan permasalahan tenaga kerja mampu bekerja secara maksimal agar kasus-kasus kekerasan terhadap TKI di Timur Tengah dapat diatasi.

"Apalagi kan kemarin itu masih ada 23 orang yang lagi yang sedang menunggu vonis. Jadi, pemerintah harus serius. Kalau memang tidak bisa menjamin keselamatan warga negaranya, lebih baik stop saja pengiriman TKI kita ke sana secara permanen, tidak usah pakai istilah moratorium, masyarakat tidak akan ngerti. Dan saya yakin itu bisa, jika pemerintah ini kreatif," tukasnya.

Kasihan nasib TKW kita Sad
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 16:19

Quote :
FPI: TKI Kita Lebih Rendah dari Sapi Australia?
Rizka Diputra - Okezone
Kamis, 23 Juni 2011 06:33 wib


JAKARTA - Front Pembela Islam (FPI) turut angkat bicara terkait kasus eksekusi pancung terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) Ruyati di Arab Saudi.

Seakan sudah gerah dengan nasib nahas yang dialami para TKI, FPI menuding pemerintah adalah pihak paling bertanggungjawab atas tewasnya Ruyati di negeri kaya minyak tersebut.

"Dalam kasus Ruyati pihak yang paling bertanggungjawab adalah pemerintah," kata Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab kepada okezone, Kamis (23/6/2011).

Rizieq menegaskan sikap FPI terhadap deretan kasus terkait kemalangan yang menimpa para TKI khususnya wanita sudah jelas dan tidak akan pernah berubah, yakni untuk tidak mengirimkan TKW ke negara manapun untuk menjadi budak.

"Setop pengiriman TKW ke luar negeri dan ciptakan lapangan kerja yang bagus di dalam negeri. Ironis, Australia langsung menghentikan ekspor sapinya ke Indonesia karena dipotong dengan cara kasar. Eh, Indonesia masih tetap ekspor TKW nya ke luar negeri," katanya.

"Padahal sudah diperlakukan sangat kasar. Apa TKW Indonesia lebih rendah dari sapi Australia? Di mana harga diri bangsa ini? Astagfirullahalazhim," tutupnya.
(ful)


Ane numpang tanya Bib, kalo Australia stop kirim sapi ke Indo, yang salah siapa tuh? Orang sini yang kasar cara potong sapinya?

Kalo ada TKW yang disiksa diperkosa dan dibunuh di Saudi, yang salah siapa tuh Bib? Kok balik ke pemerintah Indonesia lagi?

Pemerintah memang salah karena masih (sekarang sudah ngga lagi) mengirim TKW ke Saudi, tetapi bagaimana dengan para pelakunya (pemerkosa, penyiksa dan pemancung) ?

C'mon Bib, jangan terapkan double standard dalam hal ini.

Mad
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
Husada


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 17:50

bruce wrote:
Saya setuju dengan pendapat anda bro Husada, memang sudah pasti ada saja para TKW yang justru memanfaatkan 'kegemaran' pria arab akan daging lokal. Cuma, tentu kita ngga bisa kemudian menganggap bahwa para TKW kita itu banyak yang gemar diperlakukan seperti itu.

Karena, walau ada para 'TKW" yang bekerja sambilan, tentu lebih banyak TKW kita yang sungguh berangkat dengan niat memperbaiki hidup keluarganya di kampung.
Ya, saya sependapat. Dari sekian ratus ribu jiwa perempuan Indonesia yang jadi TKW di mancanegara, ada yang benar-benar merasa beruntung menjadi TKW, ada yang biasa-biasa aja, ada yang menderita. Dan, itu tadi, sebagian kecil justru mencari 'untung' dari pembeli mancanegara. Karena kalau jualan di dalam negeri, malah dikejar-kejar satpol PP, atau polisi, atau FPI. Dituduh maksiat.

Penyebab utama pengiriman TKW ke luar negeri adalah sempitnya lapangan kerja dalam negeri. Sangat disayangkan, para pengambil kebijakan di negeri ini sibuk memikirkan diri sendiri dan kelompoknya. Ada warga yang dipancung serta diancam pancung di luar negeri, kok malah memikirkan pesawat pribadi, kok malah mikirin kenaikan gaji. Mbok mikirin penciptaan lapangan kerja yang dijanjikan waktu hendak jadi pejabat kek. Hhh...
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 17:58

Quote :
C'mon Bib, jangan terapkan double standard dalam hal ini.

disono kan juga diterapkan double standard, buat warga lokal hukum lebih ringan.
nah, karena si habib masih berdarah sana tentu ngebelain yang disono... Razz
udah jelas salah masih mencoba cari kambing item... Sad
paraaaahhhggghhhh... 🇳🇴
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
Husada


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty23rd June 2011, 20:13

Quote :
TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca
Windoro Adi | Benny N Joewono | Kamis, 23 Juni 2011 | 08:38 WIB

Hihihiiii... kayak kue di etalase toko roti dong?
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty24th June 2011, 11:42

Quote :
Dicambuk Majikan, TKI Tewas di Arab
Heru Margianto | Jumat, 24 Juni 2011 | 10:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Satu lagi Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia tewas di Arab Saudi akibat penyiksaan yang dilakukan majikannya.

Ernawati (15) warga Desa Ngeceng Kararawo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tewas setelah dicambuki majikannya dengan selang air di Riyadh, Arab Saudi.

Hari ini keluarga Ernawati datang ke Jakarta untuk meminta sikap pemerintah Indonesia atas peristiwa ini. Yeni, kakak kandung Ernawati seperti dilaporkan Tribunnews, Jumat (24/6/2011), menceritakan kejadian ini.

Menurut Yeni, adiknya bisa berangkat karena memalsukan identitas termasuk umurnya. Ernawati berangkat dengan PJTKI bernama PT PLC. "Ernawati lari dari rumah dan kami semula tidak tahu kalau ia pergi jadi TKW," kata Yeni.

Yeni menceritakan, pada tanggal 31 Januari 2011 keluarganya mendapat telepon dari teman Ernawati yang sama-sama kerja di Arab Saudi bernama Mise. Mise mengabarkan saat itu Ernawati dalam keadaan kritis. "Kami dapat kabar dari temannya, bukan dari pemerintah," kata Yeni.

Yeni mengaku setelah mendapat kabar itu keluarganya langsung meminta bantuan ke Kemenlu dan Kemenakertrans. "Tapi kami tidak dapat jawaban apapun dan tak ada penyikapan. Padahal adik saya saat itu dalam keadaan kritis dan mungkin masih bisa diselamatkan," kata Yeni.

Akhirnya Ernawati menghembuskan nafas terakhirnya pada 10 Februari. "Kami sedih sekali, kenapa tidak ada yang peduli pada permasalah ini," katanya.


Apakah melakukan penyiksaan berbuah kematian tidak dianggap pembunuhan dan diancam hukuman qishosh di Arab Saudi?

Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty24th June 2011, 11:46

ntar paling yang disalahin si korban itu sendiri dengan alasan :

Quote :
Menurut Yeni, adiknya bisa berangkat karena memalsukan identitas termasuk umurnya.

wheeewwww...
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty24th June 2011, 11:57

T2Y wrote:
ntar paling yang disalahin si korban itu sendiri dengan alasan :

Quote :
Menurut Yeni, adiknya bisa berangkat karena memalsukan identitas termasuk umurnya.

wheeewwww...

Betul bro, memang dalam hal ini, pemerintah tidak bia seratus persen dipersalahnkan, karena memang selalu ada saja celah untuk diterabas.

Jadi yang salah, seharusnya memang :

1. Pelaku tindak kekerasan/perkosaan
2. Calo tenaga kerja, yang mengeksploitasi manusia
3. Pemerintah RI, yang abai terhadap keselamatan warga negaranya.
4. Pemerintah Arab yang bertindak tidak adil terhadap manusia.
5. Korban kekerasan, mengapa masih mau ke negara yang belum beradab

Evil or Very Mad
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty24th June 2011, 12:15

bruce wrote:
T2Y wrote:
ntar paling yang disalahin si korban itu sendiri dengan alasan :

Quote :
Menurut Yeni, adiknya bisa berangkat karena memalsukan identitas termasuk umurnya.

wheeewwww...

Betul bro, memang dalam hal ini, pemerintah tidak bia seratus persen dipersalahnkan, karena memang selalu ada saja celah untuk diterabas.

Jadi yang salah, seharusnya memang :

1. Pelaku tindak kekerasan/perkosaan
2. Calo tenaga kerja, yang mengeksploitasi manusia
3. Pemerintah RI, yang abai terhadap keselamatan warga negaranya.
4. Pemerintah Arab yang bertindak tidak adil terhadap manusia.
5. Korban kekerasan, mengapa masih mau ke negara yang belum beradab

Evil or Very Mad

6. takdir (buat yang percaya takdir). Razz Laughing
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
Husada


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty24th June 2011, 13:36

Selain sudah menyangkut hilangnya nyawa seorang warga NKRI, kasus Ernawati ini juga menyangkut kebobrokan mental pejabat Indonesia khususnya yang terkait dengan berangkatnya warga NKRI ke luar negeri. Ternyata bukan cuma Gayus Tambunan yang bisa bayar mahal mudah mendapatkan persyaratan ke luar negeri, Ernawati yang berumur dibawah 17 tahun ini juga bisa.

Malaysia bilang, "Indon, nak kemanekah?"
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty25th June 2011, 10:03

Quote :
JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian tengah menyelidiki kasus dugaan pemalsuan dokumen persyaratan milik almarhum Ruyanti binti Satubino (54), tenaga kerja Indonesia, sebelum berangkat ke Arab Saudi.

"Sedang diselidiki. Kita cari tahu siapa penyalurnya. Apakah ada pemalsuan umur dan sebagainya," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jumat (24/6/2011).

Boy mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Boy belum tahu apakah sudah ada laporan dari BNP2TKI. "Hasil koordinasi akan ditindaklanjuti," kata dia.

Seperti diberitakan, BNP2TKI telah meminta semua dokumen persyaratan milik Ruyati dari Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS), yakni PT Darsa Graha Utama, setelah Ruyati dihukum pancung di Arab Saudi.

Dalam UU Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, umur calon tenaga kerja saat mendaftarkan yakni minimal 18 tahun dan maksimal 39 tahun. Adapun umur Ruyati kini 54 tahun. Dia dikirim ke Arab Saudi sejak tahun 2008.

tuh, kan...
yang salah si ruyati sendiri, malsuin dokumen sihhhh...!
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
Husada


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty28th June 2011, 18:09

T2Y wrote:
tuh, kan...
yang salah si ruyati sendiri, malsuin dokumen sihhhh...!

Yeee... dari info itu saja, menurut saya, kurang tepat kalau kita langsung memvonis bahwa Ruyati yang malsuin dokumen. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi sebagai penyebabnya. Bisa saja perusahaan penyalurnya yang mengutak atik dokumennya agar kuota pengirimannya tercapai. Bisa saja tidak ada yang dipalsuin, tetapi petugas tutup mata dengan aturan mengenai batas usia TKW/TKI. Bisa saja tulisan berupa huruf dan angka-angka di dokumen tertutup oleh gepokan Soekarno Hatta. Masih banyak kemungkinan deh. Yang pasti, itu semua mengindikasikan kebobrokan pengurusan NKRI. Para pejabat lebih mengutamakan devisa daripada nyawa warganya. Mungkin karena TKW/TKI itu bukan darah dagingnya sendiri, atau kerabatnya, atau golongannya. Minjam kata Arab, Wallahu a'lam.

Damai, dmai, damai.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty29th June 2011, 09:58

@husada
benar, bro... :)
saya cuman nyindir pake kalimat itu... Razz Laughing
Kembali Ke Atas Go down
leonardo
Calon Perwira
Calon Perwira



Jumlah posting : 301
Join date : 07.03.11

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty30th June 2011, 21:30

Dear all,

ini ada lagi berita memprihatinkan tentang saudari kita TKW Sumartini [You must be registered and logged in to see this link.]

Kok bisa2nya nuduh orang pake sihir...emang gimana pembuktiannya yah???
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content





TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty
PostSubyek: Re: TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca   TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca Empty

Kembali Ke Atas Go down
 
TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 2Pilih halaman : 1, 2  Next
 Similar topics
-
» Kemenlu Belum Jawab Pertanyaan Dewan HAM PBB Soal GKI Yasmin
» Memberi "Ruang Tembak" Bagi Penganut ABK (Asal Bukan Katolik)?

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Diskusi Umum :: Obrolan bebas-
Navigasi: