Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.
Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.
Ladang Tuhan Baru
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  Latest imagesLatest images  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

 

 Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan

Go down 
+3
leonardo
Husada
bruce
7 posters
Pilih halaman : 1, 2, 3  Next
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty11th July 2011, 07:44

Pendahuluan

Pernahkah anda ditanya, “Apakah anda sudah diselamatkan?” atau “Apakah anda sudah menerima Yesus Kristus sebagai Penyelamat anda secara pribadi?” Sebagai orang Katolik mungkin saja kita tidak terbiasa untuk menanyakan hal-hal di atas kepada orang lain, tetapi bukan berarti kita sebaiknya mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, karena umumnya mereka yang bertanya demikian mempunyai motif kasih yang berkobar kepada Yesus dan semangat yang besar untuk menyebarkan Injil, yaitu kabar gembira tentang keselamatan. Untuk itu, janganlah kita bersikap negatif terhadap mereka yang bertanya demikian kepada kita. Namun, mari kita belajar dari perkataan Yesus sendiri tentang keselamatan kekal, dan kehendakNya bagi kita untuk mencapai keselamatan itu, sehingga kita dapat menanggapi pertanyaan-pertanyaan seperti di atas dengan sikap yang positif dan dengan iman yang benar.


Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan

Sedikitnya ada tiga kesempatan penting di mana Yesus sendiri menyatakan bahwa Pembaptisan adalah permulaan jalan menuju keselamatan kekal. Pertama, Yesus sendiri memberi diri-Nya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, di awal masa pewartaan Injil dan pernyataan diriNya sebagai Mesias. Pembaptisan Yesus ini bukan berarti penghapusan dosa- karena sebagai Putera Allah, Yesus tidak berdosa- namun Yesus menunjukkan rasa solidaritas kepada kita manusia yang berdosa, dan memberi contoh akan langkah awal yang harus kita ambil untuk dapat mengambil bagian dalam kehidupan Allah. Makna Pembaptisan Yesus ini dinyatakan dengan jelas dalam Misteri Paska. Turunnya Yesus ke dalam air melambangkan kematian-Nya karena menanggung dosa-dosa kita, dan naikNya kembali melambangkan kebangkitan-Nya dari mati, suatu tanda yang nyata bahwa Yesus adalah sungguh Anak Allah, yang kepadaNya Allah berkenan.[1] Solidaritas Yesus ini membawa berkat yang tak terhingga bagi kita, yaitu urapan Roh Kudus yang turun atas-Nya, dan seruan Allah Bapa yang ditujukan kepadaNya itupun ditujukan kepada kita semua yang dibaptis, “Engkaulah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:22). Yesus telah merendahkan diri untuk mengangkat kita yang berdosa, agar kita digabungkan dengan kematian-Nya supaya kitapun mengambil bagian di dalam kebangkitan-Nya. Maka melalui Pembaptisan, kita pergi ke tempat di mana Yesus menyatakan solidaritasNya sebagai manusia, dan di sana kita menerima rahmatNya yang mengangkat kita menjadi anak-anak Allah. Paus Benedict XVI menuliskannya dengan begitu indah, “To accept the invitation to be baptized… is to go where he identifies himself with us and to receive there our identification with him.” [2]

Kedua, dalam pembicaraannya dengan Nikodemus, Yesus menghubungkan keselamatan kekal dengan Kerajaan Allah (lih. Yoh 3:16 dan Yoh 3:3,5).[3] Yesus berkata bahwa seseorang harus dilahirkan kembali di dalam air dan Roh agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (lih. Yoh 3:5). Kelahiran kembali di dalam air dan Roh inilah yang disebut sebagai Pembaptisan. Karena itu, Pembaptisan ini menjadi pintu gerbang kehidupan di dalam Roh dan awal yang memungkinkan kita menerima sakramen-sakramen yang lain, yang menguduskan kita dan mengarahkan kita kepada keselamatan kekal. Melalui Pembaptisan, dosa-dosa kita diampuni; kita dilahirkan kembali sebagai anak-anak angkat Allah, sebagai anggota Kristus dan dipersatukan dengan Gereja-Nya, serta mengambil bagian di dalam misi Gereja.[4] Tentu, dilahirkan kembali di dalam Roh Kudus ini hanya mungkin jika seseorang bertobat dari segala dosa, dan mempunyai iman akan Allah Tritunggal yang menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus.

Ketiga, sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan amanat kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (lih. Mat 28:19-20). Oleh karena Kristus sendiri mengajarkan bahwa Pembaptisan itu diperlukan untuk keselamatan dan kebahagiaan abadi, maka Gereja Katolik juga mengajarkan demikian.[5]

Pembaptisan ini tidak bertentangan dengan pengajaran Rasul Paulus, yang dalam suratnya kepada jemaat di Roma menyebutkan bahwa “dengan hati orang percaya dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rom 10:10). Karena, Pembaptisan tidak saja merupakan upacara ‘mencelupkan’ seseorang ke dalam air, tetapi juga pengakuan iman dengan perkataan yang diucapkan dengan mulut, yang berdasarkan atas Sabda Tuhan. Gereja Katolik, melalui Roman Cathechism mengajarkan bahwa Pembaptisan merupakan kelahiran kembali oleh air dalam Sabda,[6] berdasarkan atas pengajaran bahwa Kristus mengasihi jemaat-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya untuk menguduskannya, dengan memandikannya dengan air dan firman (Ef 5:26). Pembaptisan sebagai gerbang menuju keselamatan juga diajarkan oleh Rasul Paulus, seperti yang dikatakannya kepada kepala penjaranya di Filipi, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Dan seketika itu juga, ia dan keluarganya memberi diri dibaptis (Kis 16:31- 33). Maka dalam hal ini, iman kepada Yesus tidak terpisahkan dengan Pembaptisan, yang merupakan pernyataan seseorang akan imannya itu.


Makna Sakramen Pembaptisan

Pembaptisan berasal dari kata “baptizein” (Yunani) yang artinya “mencelup”. Pencelupan ke dalam air ini melambangkan dimakamkannya kita sebagai manusia lama ke dalam kematian Kristus, dan keluarnya dari air melambangkan kebangkitan kita bersama dengan Kristus sebagai ‘manusia baru’.[7] Pada saat Pembaptisan inilah, kita dapat berkata, ‘aku yang dulu sudah mati, sekarang aku hidup bersama Kristus dan di dalam Kristus’. Artinya, kita dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus (Yoh 3:5), menjadi ciptaan yang baru (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Gal 4:5-7), mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Ptr 1:4), anggota Kristus (1 Kor 12:27), ahli waris bersama Kristus (Rom 8:17) dan kenisah Roh Kudus (1 Kor 6:19).[8] Oleh rahmat Allah kita dimampukan untuk meninggalkan dosa-dosa dan kebiasaan lama yang buruk, untuk hidup baru seturut dengan ajaran Kristus.

Pembaptisan juga dikatakan sebagai Penerangan, karena melalui sakramen ini kita menerima Sabda, yaitu Kristus, Sang Terang dunia. Maka oleh Pembaptisan kita menjadi anak-anak terang (1 Tes 5:5), bahkan menjadi terang itu sendiri (Ef 5:Cool[9] yang meneruskan Terang Kristus. Melalui Pembaptisan kita diubah menjadi serupa dengan Kristus, dan kita ditandai dengan meterai rohani yang tak terhapuskan.[10]


Rahmat Pembaptisan: Pembersihan dari dosa dan Pembaharuan dalam Roh

Pencelupan ke dalam air yang melambangkan kematian ‘manusia lama’ di dalam Kristus, membawa dua macam rahmat. Pertama adalah pembersihan dari dosa-dosa, kedua adalah kelahiran kembali dan pembaharuan di dalam Roh Kudus.[11] Dengan demikian rahmat pembaptisan merupakan perwujudan dari firman Tuhan yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, yaitu “jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya… Demikianlah hendaknya… bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” (Rom 6:6-7, 11)

Melalui pembaptisan, kita dibersihkan dari segala dosa, baik dosa asal (dari Adam) maupun dosa pribadi yang dilakukan sebelum dibaptis. Namun demikian, kita tetap tidak terbebas dari kecondongan kepada dosa, atau yang dikenal sebagai ‘concupiscentia‘ (keinginan tak teratur). Keinginan tak teratur ini ‘tertinggal’ agar kita terus berjuang untuk mengalahkannya, agar kelak kita menerima mahkota (2 Tim 2:5). [12] Itulah sebabnya, pada saat dibaptis, kita memang diubah menjadi kudus, namun selanjutnya, kita harus berjuang mempertahankan kekudusan itu dengan mengalahkan kecondongan berbuat dosa. Bukanlah memang demikian halnya? Setelah dibaptis, contohnya, kita masih saja mengalami godaan untuk marah, malas, berdosa dengan mulut dan pikiran, dst. Namun, kuasa dan rahmat Roh Kudus yang kita terima dalam Pembaptisan memungkinkan kita untuk mengalahkan dorongan tersebut, dan memilih melakukan perintah Tuhan.

Jika kita terus menerus memilih mengikuti kehendak dan perintah Tuhan, maka di akhir nanti kita akan dibenarkan oleh Tuhan. Hal ini yang diartikan sebagai “keselamatan”. Namun sebaliknya, jika setelah dibaptis, kita memilih untuk mengikuti kecondongan berbuat dosa dari pada mengikuti perintah Tuhan, maka kita akan ‘kehilangan’ rahmat keselamatan tersebut; bukan karena meterai rohani yang diberikan oleh Allah itu terhapus oleh dosa, ataupun rahmat Tuhan itu kurang ‘berkuasa/powerful‘, tetapi karena kita dapat, oleh kehendak sendiri menolak keselamatan tersebut.[13] Jadi keselamatan bukanlah rahmat yang diperoleh seketika untuk selamanya, melainkan rahmat yang harus selalu kita jaga dan pertahankan, agar kita dapat terus bertumbuh di dalam rahmat itu.

Makna kedua dari Pembaptisan adalah pembaharuan di dalam Roh Kudus, dan ini dinyatakan tidak saja dengan di dalam hidup kita sebagai individual, tetapi juga di dalam kelompok sebagai pengikut Kristus. Melalui Pembaptisan, kita diurapi oleh Roh Kudus, dan digabungkan menjadi anggota dalam Kristus. Urapan Roh Kudus yang mengalir dari Kepala kepada anggota Tubuh-Nya menjadikan kita mengambil bagian di dalam misi Kristus sang Kepala, sebagai imam, nabi dan raja.[14]


Peran kita sesudah dibaptis: sebagai imam, nabi dan raja[15]

Setelah dibaptis, kita menjalani ketiga peran Kristus sebagai imam, nabi dan raja. Peran imam di sini bukan berarti bahwa setelah dibaptis kita semua menjadi pastor/ imam, melainkan bahwa kita mengambil bagian dalam imamat Kristus (Why 1:6) sebagai bangsa pilihan Allah, imamat yang rajani (1 Pet 2:9). Partisipasi dalam imamat Kristus ini diwujudkan dalam dua macam peran yang saling berkaitan, yang pertama adalah imamat bersama/ common priesthood, dan yang kedua adalah imamat jabatan/ hirarchical priesthood.[16] Mereka yang menjabat sebagai imam bertugas melayani umat yang oleh Pembaptisan menerima peran imamat bersama.

Perwujudan peran imamat ini mencapai puncaknya di dalam sakramen-sakramen, terutama perayaan Ekaristi. Para imam mengajar umatNya, dan bertindak atas nama Kristus dalam perayaan Ekaristi, dan mempersembahkan kurban Ekaristi kepada Tuhan atas nama umat. Sedangkan umat menjalankan peran imamat mereka dengan menggabungkan kurban mereka dengan kurban Kristus. Selanjutnya, mereka semua menjalankan peran imamat mereka dengan menerima sakramen-sakramen, dengan doa dan ucapan syukur, dengan hidup kudus melalui mati raga dan berbuat kasih.[17] Jika kita menghayati peran imamat bersama, maka seharusnya kita dapat lebih menghayati keterlibatan kita di dalam sakramen-sakramen, terutama pada perayaan Ekaristi, karena pada saat itulah kita mempersembahkan diri kita sebagai bagian dari persembahan Kristus kepada Allah Bapa. Persembahan kita ini berupa ucapan syukur, segala suka duka dan pergumulan yang sedang kita hadapi, maupun segala pengharapan yang kita miliki. Keterlibatan ini menjadikan kita sebagai bagian dari Sang Pelaku utama yaitu Kristus, dan bukan hanya sebagai ‘penonton’ Misteri Paska.

Selain sebagai imam, kita yang sudah dibaptis mengambil bagian di dalam peran Kristus sebagai nabi, dengan cara, berpegang teguh pada iman, memperdalam iman kita, dan menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia.[18] Di sinilah kita dipanggil untuk mewujudkan iman di dalam perbuatan, sehingga dapat menjadi kesaksian yang hidup akan pengajaran Kristus.

Akhirnya, Pembaptisan juga mengakibatkan kita mengambil peran Kristus sebagai raja, yang tidak sama dengan pengertian raja menurut dunia. Sebagai Raja, Kristus menarik manusia kepada-Nya melalui kematian dan kebangkitanNya. Sebagai pengikut Kristus, kitapun dipanggil untuk membawa banyak orang kepada Kristus. Selanjutnya, sebagai Raja, Kristus datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, maka panggilan kita sebagai raja adalah untuk melayani Dia di dalam sesama terutama di dalam mereka yang miskin dan menderita, sebab di dalam merekalah Gereja melihat wajah Sang Kristus, yang menderita.


Hanya ada satu Pembaptisan

Begitu pentingnya makna Pembaptisan, yang meninggalkan pada kita meterai rohani yang tak terhapuskan, maka Gereja Katolik mengajarkan bahwa hanya ada satu Pembaptisan. Kristus sendiri mengajarkan hal ini, saat Ia berkata pada Rasul Petrus yang memohon kepada Yesus untuk mempermandikan dirinya. Yesus berkata, “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi…” (Yoh 13:9-10). Tertullian, mewakili para Bapa Gereja melihat hal ini sebagai tanda bahwa para murid telah menerima baptisan Yohanes, dan karenanya tidak perlu dibaptis lagi oleh Kristus.[19] Dengan demikian Gereja Katolik mengakui satu pembaptisan yang mengukirkan meterai rohani yang tak terhapuskan dan tak dapat diulangi.[20]

‘Satu Baptisan’ ini mempersatukan kita umat Katolik dengan para pengikut Kristus dari gereja lain. “Sebab mereka itu, yang beriman akan Kristus dan dibaptis dengan sah (di dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus), berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja Katolik, sungguhpun tidak secara sempurna. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama Kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja Katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan.” [21]

Sekarang, bagaimana dengan mereka yang menginginkan Pembaptisan, namun sebelum menerima baptisan mereka sudah meninggal, atau para martir yang belum sempat dibaptis? Untuk hal ini Gereja Katolik mengajarkan bahwa, selain Pembaptisan oleh air, dikenal juga Pembaptisan darah, yaitu mereka yang menyerahkan nyawanya sebagai martir untuk membela iman mereka. Para martir ini dibaptis untuk dan bersama Kristus oleh kematiannya.[22] Selanjutnya juga dikenal Pembaptisan oleh keinginan (Baptism of desire), seperti pada para katekumen yang wafat sebelum menerima Pembaptisan. Mereka diselamatkan oleh kerinduan mereka akan Pembaptisan, oleh penyesalan atas dosa-dosanya dan cinta kasih mereka. Juga semua orang yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan, sebab orang-orang semacam itu dapat menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar bahwa baptisan diperlukan untuk mencapai keselamatan.[23] Hal ini dimungkinkan karena “Kristus telah wafat bagi semua orang… dan Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan Misteri Paska itu.”[24]


Pembaptisan menurut Para Bapa Gereja

1. Didache, Pengajaran para Rasul (80-160), mengajarkan untuk “membaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus di dalam air … tuangkan tiga kali pada kepala dengan berkata ‘di dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.’ Sebelum Pembaptisan, biarlah yang membaptis dan yang menerima baptisan berpuasa terlebih dahulu, dan yang lain juga, jika sanggup…. Mereka yang dibaptis harus berpuasa sehari atau dua hari sebelum Pembaptisan.”[25]

2. Yustinus Martyr (100- 165), First Apology, menuliskan bahwa pengganti para rasul “berdoa dan memohon pada Tuhan dengan berpuasa untuk mendatangkan penghapusan dosa bagi mereka yang akan dibaptis. Kemudian, mereka dibawa kepada air tempat mereka akan dibaptis, sebagaimana para penerus rasul tersebut-pun dibaptis. Sebab, di dalam nama Allah Bapa Pencipta alam semesta, Allah Putera Penyelamat dunia, dan Roh Kudus, mereka yang dibaptis menerima pembersihan (dari dosa) oleh air… Untuk alasan inilah, kami menerima mandat dari para Rasul.”[26]

3. Tertullian (155-222), melalui tulisannya, On Baptism, menyatakan bahwa melalui Sakramen Permandian kita dibersihkan dari dosa-dosa, dibebaskan (dari kuasa dosa) dan diterima di dalam kehidupan kekal.[27] Tanpa Pembaptisan, orang tidak dapat diselamatkan, berdasarkan atas ajaran Yesus, “Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah”(Yoh 3:5).[28]

4. Santo Cyril dari Jerusalem (313-386), mengatakan tanpa dibaptis, seorang tidak dapat diselamatkan, kecuali para martir, yang walau tanpa dibaptis dapat mencapai Kerajaan Allah.[29]

5. Santo Agustinus (354-430), melalui Enchiridion, mengatakan bahwa Sakramen Pembaptisan menunjukkan kematian diri kita terhadap dosa bersama Kristus, dan kebangkitan kita bersama Dia ke dalam kehidupan yang baru.[30]

6. Santo Ambrosius (338-397), melalui On Repentance, menjelaskan bahwa apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah. Allah mau dan mampu mengampuni dosa kita, meskipun kita berpikir bahwa dosa tidak dapat diampuni. Sebab kelihatannya mustahil bahwa air dapat menghapuskan dosa, namun hal yang tidak mungkin ini dibuat menjadi mungkin oleh Allah … [31]

Pengajaran Para Bapa Gereja ini menjadi saksi yang nyata bahwa Pembaptisan adalah sesuatu yang ditentukan oleh Yesus sendiri, dan yang dilaksanakan oleh para rasul dan para penerus mereka sejak jaman abad-abad awal.


Kesimpulan

Berdasarkan pengajaran Yesus sendiri, maka kita mengetahui bahwa Pembaptisan diperlukan supaya kita dapat diselamatkan. Melalui Pembaptisan, kita dibersihkan dari segala dosa dan diperbaharui di dalam Roh Kudus; kita meninggalkan manusia lama beserta dengan dosa-dosa kita, dan mengenakan Kristus, sebagai manusia baru. Melalui Pembaptisan seseorang menyatakan imannya kepada Yesus Kristus, (lih. Rom 10:10) dan dengan demikian oleh rahmat Allah yang diterimanya saat Pembaptisan, ia dapat diselamatkan. Dengan perkataan lain, kita digabungkan dengan kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama Kristus sebagai ciptaan yang baru, yaitu menjadi anak-anak angkat Allah, menjadi anggota Kristus dan Gereja-Nya, yang menghantar kita kepada kehidupan kekal. Dengan demikian kita mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi dan di dalam misi Kristus, sebagai imam, nabi dan raja di dunia ini, untuk mempersiapkan diri memasuki Kerajaan Allah di surga.

Kembali ke pertanyaan di atas, “Apakah kita sudah diselamatkan?” Maka, jawabannya adalah: jika kita telah dibaptis, kita telah diberi rahmat awal keselamatan itu. Kita telah memasuki pintu gerbang yang membawa kita ke sana. Jika kita terus mempertahankan rahmat itu dengan hidup kudus, menolak dosa dan segala keinginan berbuat dosa, dan terus tinggal di dalam Tuhan, dan dalam perbuatan kasih, maka kita bertumbuh dan berjalan menuju kepenuhan janji keselamatan itu. Singkatnya, agar kita diselamatkan, kita yang sudah dibaptis harus hidup sesuai dengan janji Pembaptisan kita. Mari kita berjuang dengan bantuan rahmat Tuhan, agar kita dapat setia kepada-Nya sampai pada kesudahannya, sehingga di akhir nanti kita dapat mendengar suara Allah, “Engkaulah anak-Ku, yang Kukasihi, kepadamu-lah Aku berkenan.”(Luk 3:22)

[1] Lihat Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (Double Day, New York, 2007), p. 18, “The Baptism is an acceptance of death for the sins of humanity, and the voice that calls out “This is My beloved Son” over the baptismal waters is an anticipatory reference to the resurrection. This also explains why… Jesus used the word of baptism to refer to his death (cf. Mk 10:38; Lk 12:50)”
[2] Ibid., p. 18
[3] Lihat Katekismus Gereja Katolik 1215
[4] Lihat KGK 1213
[5] Lihat KGK 1257
[6] Lihat Roman Catechism, Part Two, The Sacraments, Baptism, The Definition of Baptism, 5, “Baptism… as the sacraments of regeneration by water and in the word.”
[7] Lihat KGK 1214
[8] Lihat KGK 1265
[9] Lihat KGK 1216
[10] Lihat KGK 1272, “Pembaptisan menandai warga Kristen dengan satu meterai (character) rohani yang tidak dapat dihapuskan oleh dosa manapun, meskipun dosa menghalang-halangi Pembaptisan untuk menghasilkan buah keselamatan.”
[11] Lihat KGK 1262
[12] Lihat KGK 1264
[13] St. Augustinus, dalam On Rebuke and Grace, Chap. 6:9R, seperti dikutip oleh John Willis, SJ, The Teachings of the Church Fathers, (Ignatius Press, San Francisco, 2002, reprint 1966 Herder and Herder, New York), p. 294.,”If however, being already regenerate and justified (through Baptism), he relapses of his own will into an evil life, assuredly he cannot say, ‘I have not received,’ because of his own free choice to evil he has lost the grace of God, that he had received.”
[14] Lihat KGK 1241, KGK 783
[15] Lihat KGK 782, 783, 784, 785, 786.
[16] Lihat Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatic tentang Gereja, 10
[17] Ibid.
[18] Lihat KGK 785
[19] Tertullian (155-222), On Baptism, chap. 9
[20] Lihat KGK 1280.
[21] Unitatis Redintegratio 3, Dokumen Vatikan II, Dekrit tentang Ekumenisme.
[22] Lihat KGK 1258
[23] Lihat KGK 1260
[24] Gaudium et Spes, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Pastoral tentang Gereja di dalam Dunia Modern, 22
[25] Diterjemahkan dari The Didache, Chap. 7
[26] Diterjemahkan dari St. Yustinus Martir, First Apology, Chap. 61.
[27] Tertullian (155-222), On Baptism, Chap. 1
[28] Ibid., Chap. 12
[29] Lihat St. Cyril dari Yerusalem, Catecheses, 3:10
[30] St. Augustinus, Enchiridion 8, chap. 42
[31] Lihat St. Ambrosius, On Repentance, Bk.2, Chap.2.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
Husada


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty11th July 2011, 08:02

Proficiat. Saya duga artikel ini diketengahkan terangsang oleh Sekali Selamat Tetap Selamat yah? Apapun pemicunya, memang sebaiknya saling berbagi atas informasi-informasi penting. Bruce memang moij.

Trims, danke, matur nuwun, thanks, hatur nuhun, mauliate, tarimo kaseh, hehhehheee...
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty11th July 2011, 13:51

@Husada

Saya memang menghindari saling serang antar denom bro, karena itu sungguh tidak patut ditampilkan, memberi kean perpecahan. Saya lebih suka saling menyampaikan artikel saja, karena terkesan bukan asal berbeda, he he he.

Terlebih lagi, sebagai yang tertua dari semua gereja Kristen, dan satu satunya yang didirikan langsung oleh Kristus, Katolik mengemban misi memberi 'bimbingan' moral dan rohani kepada seluruh umat manusia dan kepada saudara Protestan pada khususnya.

Tetapi tentu saja, tanpa 'cabai rawit' gado gado jadi kurang asik, kurang seru, tapi kebanyakan cabai bisa bikin sakit perut kan, ha ha ha.

Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty11th July 2011, 15:57

Very Happy
perasaan yang bilang doktrin sekali selamat tetap selamat tidak alkitabiah Om dehhh... Razz
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty11th July 2011, 16:14

T2Y wrote:
Very Happy
perasaan yang bilang doktrin sekali selamat tetap selamat tidak alkitabiah Om dehhh... Razz

Memang betul bro, pembabtisan adalah gerbang, selanjutnya kita harus memelihara iman dan perbuatan kita.

Coba baca lagi, khususnya pada bagian yang saya bold.

Salam kasih
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty12th July 2011, 14:24

@Bruce
maksud saya ngomong gitu untuk komentari perkataan anda yang ini :

Quote :
Saya memang menghindari saling serang antar denom bro,

sorry banget nih, Om... Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
Husada


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty13th July 2011, 08:40

Damai bagimu Bruce.
bruce wrote:
@Husada
Saya memang menghindari saling serang antar denom bro, karena itu sungguh tidak patut ditampilkan, memberi kesan perpecahan. Saya lebih suka saling menyampaikan artikel saja, karena terkesan bukan asal berbeda, he he he.

Ya, elegan sekali. Kalau dari artikel yang tersaji ada yang ingin dikonfirmasi, atau diperjelas, atau diadu dengan data relevan lainnya, kan bisa dibicarakan, ya? Demikian sebaliknya, kalau ada artikel dari orang lain, yang dirasakan perlu penjelasan lebih lanjut, kan bisa dimintakan penjelasan tambahan, ya?

Jika mekanisme seperti itu ditempuh oleh semua pengikut Kristus, saya duga, Ut Omnes Unum Sint akan lebih cepat terwujud. Namun, sampai saat ini, dan mungkin sampai akhir jaman, egoisme pribadi baik individu maupun kelompok, sangat cepat mempersalahkan orang lain. Jika diri atau sikapnya dipersalahkan oleh orang lain, tanpa usaha lebih dahulu mengetahui dasar tuduhan mempersalahkan itu, orang itu akan serta merta melabrak pihak yang mempersalahkan.

Baiklah, damai bagimu, bagi Indonesia juga.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty13th July 2011, 12:33

Quote :
Jika mekanisme seperti itu ditempuh oleh semua pengikut Kristus, saya duga, Ut Omnes Unum Sint akan lebih cepat terwujud. Namun, sampai saat ini, dan mungkin sampai akhir jaman, egoisme pribadi baik individu maupun kelompok, sangat cepat mempersalahkan orang lain. Jika diri atau sikapnya dipersalahkan oleh orang lain, tanpa usaha lebih dahulu mengetahui dasar tuduhan mempersalahkan itu, orang itu akan serta merta melabrak pihak yang mempersalahkan.

kalau saja Paus Leo X punya pemikiran seperti anda, tentu tidak akan menyebut Luther sebagai "seorang Jerman mabuk yang menulis dalil-dalil itu"... Razz Laughing

Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty13th July 2011, 13:11

T2Y wrote:
Quote :
Jika mekanisme seperti itu ditempuh oleh semua pengikut Kristus, saya duga, Ut Omnes Unum Sint akan lebih cepat terwujud. Namun, sampai saat ini, dan mungkin sampai akhir jaman, egoisme pribadi baik individu maupun kelompok, sangat cepat mempersalahkan orang lain. Jika diri atau sikapnya dipersalahkan oleh orang lain, tanpa usaha lebih dahulu mengetahui dasar tuduhan mempersalahkan itu, orang itu akan serta merta melabrak pihak yang mempersalahkan.

kalau saja Paus Leo X punya pemikiran seperti anda, tentu tidak akan menyebut Luther sebagai "seorang Jerman mabuk yang menulis dalil-dalil itu"... Razz Laughing


Kondisi saat itu memang rumit bro, selain masalah ego antar pribadi, masalahnya diperuncing lagi dengan gesekan antar bangsa (Jerman dan Roma), juga antar kelas (rakyat dan ningrat). Jadi masing masing memang melontarkan ucapan yang tidak layak, yang seharusnya bisa kita sadari saat ini, bahwa ucapan seperti itu kepada sesama manusia terlebih lagi kepada sesama Kristen adalah sungguh tidak layak.

Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty13th July 2011, 13:44

bruce wrote:
T2Y wrote:
Quote :
Jika mekanisme seperti itu ditempuh oleh semua pengikut Kristus, saya duga, Ut Omnes Unum Sint akan lebih cepat terwujud. Namun, sampai saat ini, dan mungkin sampai akhir jaman, egoisme pribadi baik individu maupun kelompok, sangat cepat mempersalahkan orang lain. Jika diri atau sikapnya dipersalahkan oleh orang lain, tanpa usaha lebih dahulu mengetahui dasar tuduhan mempersalahkan itu, orang itu akan serta merta melabrak pihak yang mempersalahkan.

kalau saja Paus Leo X punya pemikiran seperti anda, tentu tidak akan menyebut Luther sebagai "seorang Jerman mabuk yang menulis dalil-dalil itu"... Razz Laughing


Kondisi saat itu memang rumit bro, selain masalah ego antar pribadi, masalahnya diperuncing lagi dengan gesekan antar bangsa (Jerman dan Roma), juga antar kelas (rakyat dan ningrat). Jadi masing masing memang melontarkan ucapan yang tidak layak, yang seharusnya bisa kita sadari saat ini, bahwa ucapan seperti itu kepada sesama manusia terlebih lagi kepada sesama Kristen adalah sungguh tidak layak.


betul, Om...
sampai sekarang dan sampai akhir zaman juga masalah ego ini tetep gak akan berubah. :)
yang Katolik bilang mereka yang bener, juga denom2 lainnya.
manusia kan memang mahluk yang paling kompleks... Razz
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty13th July 2011, 14:15

Berita terakhir, di Belfast terjadi lagi kerusuhan, antara masing masing pengikut, begitulah yang terjadi, apalagi dalam hal ini tujuan politik sudah ikut campur.

Parah.
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
Husada


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty16th July 2011, 17:51

Quote :
yang Katolik bilang mereka yang bener, juga denom2 lainnya.
manusia kan memang mahluk yang paling kompleks... Razz

Hehhehheee... masing-masing kelompok mengklaim paling benar ya? Tapi ada bagusnya juga lho. Dengan demikian, tidak gampang terbujuk untuk pindah denom. Masing-masing pengikut mendalami sejarah denomnya, dan semoga semakin mengasihi dan dikasihi Tuhan.

Damai, damai, damai.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty16th July 2011, 18:25

Quote :
Masing-masing pengikut mendalami sejarah denomnya, dan semoga semakin mengasihi dan dikasihi Tuhan.

Rasanya sejarah gereja tidak semua denom menyukainya bro, ada yang punya sejarah panjang dan memeliharanya dengan baik, sementara ada yang menganggap sejarah itu tidak penting.

:)
Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
Husada


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty17th July 2011, 11:54

bruce wrote:
Rasanya sejarah gereja tidak semua denom menyukainya bro, ada yang punya sejarah panjang dan memeliharanya dengan baik, sementara ada yang menganggap sejarah itu tidak penting.
:)
Damai bagi pengikut Kristus.

Ya, selaku umat yang telah dimerdekakan, saya kira adalah hak seseorang mau percaya, atau tidak percaya pada sejarah. Adalah haknya juga mau mementingkan atau mengabaikan kisah sejarah.

Namun, kayaknya tidak seorang pun mampu menolak kalau nilai-nilai universal sudah mengemuka. Meskipun secara formal tidak mengakui sejarah, tapi saya yakin bahwa hati kecil masing-masing orang (berdasarkan bisikan Roh Kudus?) dapat menyimpulkan mana yang lebih benar.

Ambil contoh sejarah NKRI terkait peristiwa 30 September 1965. Secara formal, masyarakat umum mengetahui bahwa peristiwa itu adalah coup d'tat dari PKI untuk mengambil alih kekuasaan resmi. Namun, belakangan, banyak bukti yang diajukan bahwa peristiwa itu adalah kudeta dingin dari seorang penguasa orde baru kepada penguasa orde lama.

Berdasar bukti-bukti yang ada, dikaitkan dengan akal sehat, masing-masing orang menyimpulkan dalam hati, kebenaran mana yang dipihakinya. Apakah kebenaran sejarah yang formal oleh penguasa jaman itu, atau kebenaran yang didukung bukti nyata. Meskipun adalah menjadi kurang berguna meneliti ulang nilai kebenaran sejarah itu, mengingat biaya dan hasil yang akan diperoleh, maka cukuplah kalau masing-masing orang mempunyai sikap memilih kebenaran berdasarkan nalar sehat.

Nah, kalau saya pribadi, selain dengan adanya sejarah itu, saya akan membandingkannya dengan realita di lapangan, apakah teori-teori yang dikumandangkan teraplikasi atau tidak. Karena, bisa saja secara teoritis dikatakan bahwa sesuatu ideologi, atau faham, atau doktrinasi, atau apapun itu adalah baik untuk semua lapisan, namun kalau aplikasinya di kehidupan nyata di tengah masyarakat menunjukkan hal yang bertolak belakang, apakah itu masih harus dipercaya dan didukung?

Jawabannya kembali kepada pribadi masing-masing orang, keuntungan apa yang diperolehnya untuk menyikapinya? Tidak tertutup kemungkinan, meski berbeda dengan bisikan nuraninya (bisikan Roh Kudus?), seseorang akan memilih sikap tertentu karena dengan demikian dia memperoleh keuntungan pribadi. Kalau demikian halnya, saya menyimpulkan bahwa orang tersebut mengutamakan keuntungan pribadinya dan membungkam nuraninya. Istilah kasarnya, orang tersebut hidup diatas kebohongan.

Wih... panjang dan lebar yah? Entah masih di koridor trit ato udah melenceng, wallahu a'lam.

Damai, damai, damai.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty18th July 2011, 06:02

Husada wrote:
Quote :
yang Katolik bilang mereka yang bener, juga denom2 lainnya.
manusia kan memang mahluk yang paling kompleks... Razz

Hehhehheee... masing-masing kelompok mengklaim paling benar ya? Tapi ada bagusnya juga lho. Dengan demikian, tidak gampang terbujuk untuk pindah denom. Masing-masing pengikut mendalami sejarah denomnya, dan semoga semakin mengasihi dan dikasihi Tuhan.

Damai, damai, damai.

wah, kalau saya sih malahan berpendapat apapun denomnya yang penting yang dijunjung tinggi adalah Kepalanya yaitu Kristus, Om... Very Happy
bener gak, Om ? Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty18th July 2011, 06:45

Quote :
wah, kalau saya sih malahan berpendapat apapun denomnya yang penting yang dijunjung tinggi adalah Kepalanya yaitu Kristus, Om...
bener gak, Om ?

Bagi kebersamaan memang betul, tetapi bagi penganutnya sendiri, adalah baik jika tidak gonta ganti denom dan aliran.

Kembali Ke Atas Go down
Husada
Global Moderator
Global Moderator
Husada


Jumlah posting : 4981
Join date : 07.05.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty12th August 2011, 19:31

Quote :
Bagi kebersamaan memang betul, tetapi bagi penganutnya sendiri, adalah baik jika tidak gonta ganti denom dan aliran.
Saya sepakat, kalau sampai gonta-ganti denom memang kurang pas. Jika demikian adanya, itu indikasi bahwa orang tersebut hanya beragama di KTP. Namun, kalau berganti denom karena setelah membading-banding berbagai hal, saya kira lumrah saja. Bukan karena saya pernah berganti denom ya?

Saya kira, yang menjadi bibit masalah ialah bahwa seorang penganut denom tertentu, setelah mendapat informasi dari guru rohaninya, yang belum tentu seperti yang diinformasikan itu, kemudian si orang tadi menumbuhkan pobia di benaknya. Pobia terhadap sesuatu yang diajarkan guru rohaninya.

Padahal, idealnya, menurut hemat saya, seorang guru rohani tidak berupaya menimbulkan pobia di hati anak didiknya, apakah berupa kebencian, atau ketakutan, atau alasan apapun. Guru rohani, ya mengajarkan kebaikan kepada anak didiknya sebagaimana adanya kebaikan itu. Sang siswa atau anak didik, akan dengan sendirinya memilih secara merdeka, denom mana yang akan dianutnya. Tapi yang saya katakan itu adalah teoritis.

Seorang guru rohani, disadari atau tidak, pasti akan mengajarkan denomnyalah yang terbaik di dunia. Sama dengan seorang tua kepada anaknya, yang secara kodrati menginginkan anaknya seanutan dengannya. Konon, suatu anomali di Yogyakarta yang dalam satu rumah keluarga, bisa saja para anggota keluarga itu menganut agama yang beragam.

Damai, damai, damai.
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty15th August 2011, 13:57

Quote :
Bagi kebersamaan memang betul, tetapi bagi penganutnya sendiri, adalah baik jika tidak gonta ganti denom dan aliran.

kalau seorang Katolik berpindah menjadi protestan dan menyangkal iman katoliknya katanya dianggap bidah ya, Om ? (CMIIW)
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty15th August 2011, 14:06

Quote :
kalau seorang Katolik berpindah menjadi protestan dan menyangkal iman katoliknya katanya dianggap bidah ya, Om ? (CMIIW)

Bidah? Ngga lah, cuma disayangkan saja, karena meninggalkan jalan yang sudah tepat.

Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty15th August 2011, 15:12

bruce wrote:
Quote :
kalau seorang Katolik berpindah menjadi protestan dan menyangkal iman katoliknya katanya dianggap bidah ya, Om ? (CMIIW)

Bidah? Ngga lah, cuma disayangkan saja, karena meninggalkan jalan yang sudah tepat.


oh, berarti info yang saya dapat salah... Razz
bahwa dulu Kardinal Pirerias, advisor Paus Leo X, juga mencap Luther sebagai bidat.
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty15th August 2011, 15:40

Quote :
oh, berarti info yang saya dapat salah...
bahwa dulu Kardinal Pirerias, advisor Paus Leo X, juga mencap Luther sebagai bidat

Beda kasus kali bro. GAM juga termasuk musuh pada jaman orba. Sukarno juga ditangkap pada tahun 47an. Anda mau bicara berdasarkan apa?
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty15th August 2011, 16:28

bruce wrote:
Quote :
oh, berarti info yang saya dapat salah...
bahwa dulu Kardinal Pirerias, advisor Paus Leo X, juga mencap Luther sebagai bidat

Beda kasus kali bro. GAM juga termasuk musuh pada jaman orba. Sukarno juga ditangkap pada tahun 47an. Anda mau bicara berdasarkan apa?

jadi sesat tidak sesat tergantung waktunya gitu, yah ?
kebenaran yang sejati bisa berubah :?:
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty15th August 2011, 17:01

Quote :
jadi sesat tidak sesat tergantung waktunya gitu, yah ?
kebenaran yang sejati bisa berubah

Apa yang anda maksud dengan kebenaran sejati? Sepertinya anda memang gemar melebar kemana mana ya bro? Saya ikuti kemana mau anda, silahkan....
Kembali Ke Atas Go down
Tamu
Tamu




Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty15th August 2011, 17:22

bruce wrote:
Quote :
jadi sesat tidak sesat tergantung waktunya gitu, yah ?
kebenaran yang sejati bisa berubah

Apa yang anda maksud dengan kebenaran sejati? Sepertinya anda memang gemar melebar kemana mana ya bro? Saya ikuti kemana mau anda, silahkan....

yah, kembali ke pertanyaan saya itu...
kalau seorang katolik berpindah ke protestan apakah dianggap bidat ?

kalau memang tidak, kenapa Kardinal Pirerias, advisor Paus Leo X, juga mencap Luther sebagai bidat ?
dasarnya apa ?

itu saja, thank you...
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator
bruce


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty15th August 2011, 17:25

Quote :
kalau memang tidak, kenapa Kardinal Pirerias, advisor Paus Leo X, juga mencap Luther sebagai bidat ?
dasarnya apa ?

Dasarnya karena Luther membuat doktrin yang berbeda dengan doktrin awalnya. Sola scriptura, sola fide, sola Gracia, itu semua ternyata tidak dapat dipertahankan sendiri oleh penerus Luther. Itu dasarnya.


Jika anda bertanya ke masa sekarang, saya jawab bukan bidat, tetapi jelas patut disayangkan, karena ybs telah keluar dari jalan yang tepat.

Ada lagi?
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content





Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty
PostSubyek: Re: Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan   Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan Empty

Kembali Ke Atas Go down
 
Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 3Pilih halaman : 1, 2, 3  Next
 Similar topics
-
» Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah
» Status kaya dan miskin, apakah berpengaruh terhadap keselamatan ?
» 7 pesan terakhir Yesus di kayu salib yang mengantar manusia pada keselamatan

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Ruang Antar Kristen (Khusus Penganut Kristen Trinitarian) :: Ajaran Kristen-
Navigasi: