Ladang Tuhan Baru
Selamat datang kepada sesama saudara Kristen dan saudara lain iman. Mari kita saling kenal dalam suasana bersahabat.

Ladang Tuhan Baru

Forum Komunitas Kristen
 
IndeksIndeks  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab   5th February 2011, 17:18

Mengerti gaya bahasa yang digunakan untuk mengerti pesan Alkitab

Seperti halnya pada sebuah karya tulis pada umumnya, peran gaya bahasa adalah sangat penting. Demikian juga pada Alkitab, sebab Allah berbicara pada kita dengan menggunakan bahasa manusia. Maka kita perlu memahami gaya bahasa yang digunakan, agar dapat lebih memahami isinya. Secara umum, gaya bahasa yang digunakan dalam Alkitab sebenarnya tidaklah rumit, sehingga orang kebanyakan dapat menangkap maksudnya. Dalam hampir semua perikop Alkitab, sebenarnya cukup jelas, apakah pengarang Injil sedang membicarakan hal yang harafiah atau yang rohaniah. Memang ada kekecualian pada perikop-perikop tertentu, sehingga kita perlu mengetahui beberapa prinsipnya:

1. Simili: adalah perbandingan langsung antara kedua hal yang tidak serupa. Misalnya, pada kitab Dan 2:40, digambarkan kerajaan yang ke-empat ‘yang keras seperti besi’, maksudnya adalah kekuatan kerajaan tersebut, yang dapat menghancurkan kerajaan lainnya.

2. Metafor: adalah perbandingan tidak langsung dengan mengambil sumber sifat-sifat yang satu dan menerapkannya pada yang lain. Contohnya, “Jiwaku haus kepada Allah Yang hidup” (Mzm 42:3). Sesungguhnya, jiwa yang adalah rohani tidak mungkin bisa haus, seperti tubuh haus ingin minum. Jadi ungkapan ini merupakan metafor untuk menjelaskan kerinduan jiwa kepada Allah.

3. Bahasa perkiraan: adalah penggambaran perkiraan, seperti jika dikatakan pembulatan angka-angka perkiraan.
Misalnya,“Yesus memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki” (Mat 14: 21; Mrk 6:44; Luk 9:14; Yoh 6:10) dapat berarti kurang lebih 5000 orang, dapat kurang atau lebih beberapa puluh.

4. Bahasa fenomenologi: adalah penggambaran sesuatu seperti yang nampak, dan bukannya seperti mereka adanya. Kita mengatakan ‘matahari terbit’ dan ‘matahari terbenam’, meskipun kita mengetahui bahwa kedua hal tersebut merupakan akibat dari perputaran bumi. Demikian juga dengan ucapan bahwa ‘matahari tidak bergerak’ (Yos 10: 13-14).

5. Personifikasi: adalah pemberian sifat-sifat manusia kepada sesuatu yang bukan manusia. Contohnya adalah ungkapan ‘wajah Tuhan’ atau ‘tangan Tuhan’ (Kel 33: 20-23), meskipun kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah adalah Roh (Yoh 4:24) sehingga tidak terdiri dari bagian-bagian tertentu.

6. Hyperbolisme: adalah pernyataan dengan penekanan efek yang besar, sehingga kekecualian tidak terucapkan. Contohnya adalah ucapan rasul Paulus, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23); di sini tidak termasuk Yesus, yang walaupun Tuhan juga sungguh-sungguh manusia dan juga tidak termasuk Bunda Maria yang walaupun manusia tetapi sudah dikuduskan Allah sejak dalam kandungan (tanpa dosa asal).
Kembali Ke Atas Go down
whiteeagle
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 46
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab   6th February 2011, 14:27

Quote :
Mengerti gaya bahasa yang digunakan untuk mengerti pesan Alkitab

untuk mengerti pesan alkitab , bukan cuma harus mngerti gaya bahasa yg digunakan.

melainkan juga kebudayaan pada waktu itu , adat istiadat dan kebiasaan2 yg berlaku pada waktu itu.

jadi untuk bisa mengerti pesan alkitab , bukan cuma harus pinter , melainkan juga harus punya hikmat Razz
Kembali Ke Atas Go down
alfa1
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 30
Join date : 04.02.11

PostSubyek: Re: Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab   7th February 2011, 10:55

karena Alkitab pertama kali di susun dalam bahasa Yunani, yang jadi pertanyaan adalah..

apakah faktor kebudayaan, bahasa dan latarbelakang kepercayaan orang Yunani tidak berpengaruh kepada hasil transliterasi sehingga dimungkinkan menyimpang dari prinsip dasar yang hendak disampaikan dalam bahasa Ibrani???

kenyataan menunjukan bahwa antara dua kebudayaan / bangsa, selalu ada kata / frase yang tidak ada padanan-nya satu sama lain.. bahasa Yunani misalnya tidak memiliki huruf Y H dan W.. atau ada kata ELOHIM (Ibrani) dan NAHNU (Arab) yang tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia sehingga orang Indonesia menggunakan kata KAMI..

dengan alasan tersebut, sudah pada tempatnya seharusnya, apapun transliterasi / hasil penafsiran terhadap sebuah ayat dalam bahasa apapun, sebaiknya di berikan juga informasi tentang bunyi ayat itu dalam bahasa asli ketika ayat itu diturunkan..

dengan begitu setiap orang dapat meyakini bahwa translit itu sudah benar / tidak menyimpang..
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab   7th February 2011, 13:02

alfa1 wrote:
karena Alkitab pertama kali di susun dalam bahasa Yunani, yang jadi pertanyaan adalah..

apakah faktor kebudayaan, bahasa dan latarbelakang kepercayaan orang Yunani tidak berpengaruh kepada hasil transliterasi sehingga dimungkinkan menyimpang dari prinsip dasar yang hendak disampaikan dalam bahasa Ibrani???

kenyataan menunjukan bahwa antara dua kebudayaan / bangsa, selalu ada kata / frase yang tidak ada padanan-nya satu sama lain.. bahasa Yunani misalnya tidak memiliki huruf Y H dan W.. atau ada kata ELOHIM (Ibrani) dan NAHNU (Arab) yang tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia sehingga orang Indonesia menggunakan kata KAMI..

dengan alasan tersebut, sudah pada tempatnya seharusnya, apapun transliterasi / hasil penafsiran terhadap sebuah ayat dalam bahasa apapun, sebaiknya di berikan juga informasi tentang bunyi ayat itu dalam bahasa asli ketika ayat itu diturunkan..

dengan begitu setiap orang dapat meyakini bahwa translit itu sudah benar / tidak menyimpang..


Anda tidak cermat mas. Betul, bahwa Alkitab ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi oleh orang Yahudi yang berbahasa Yunani, bukan ditulis oleh orang Yunani. Bisa mengerti perbedaannya?

Thanks
Kembali Ke Atas Go down
alfa1
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 30
Join date : 04.02.11

PostSubyek: Re: Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab   7th February 2011, 14:06

bruce wrote:


Anda tidak cermat mas. Betul, bahwa Alkitab ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi oleh orang Yahudi yang berbahasa Yunani, bukan ditulis oleh orang Yunani. Bisa mengerti perbedaannya?

Thanks

yups!!!

menurut sejarah, Septuaginta sebagai terjemah kitab-kitab Perjanjian Lama atau Tanakh dari bahasa Ibrani Kuno ke bahasa Yunani memang sudah dimulai pada abad ke-3 SM. Terjemahan ini disebut "septuaginta" yang dalam bahasa Yunani artinya adalah 70 dan sering ditulis sebagai "LXX" karena konon disusun 70 orang Yahudi yang ditugaskan oleh Ptolemeus II Filadelfus (285 - 247 SM) dari Mesir atas perintah raja Iskandariyah pada abad ke-3 SM untuk dimasukkan ke Perpustakaan Alexandria.

kita tidak pernah tahu siapa yang mengerjakan terjemahan ini. Namun yang pasti ialah terjemahan ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Yahudi yang tinggal di Diaspora, di luar Palestina dan tidak lagi memahami bahasa Ibrani. Mereka telah sangat dipengaruhi oleh budaya Yunani (helenis), yang saat itu merupakan bahasa internasional di kawasan Laut Tengah.

pada abad ke-4, Septuaginta ini diterjemahkan ke bahasa Latin, dan abad ke-16 disalin ke dalam bahasa Jerman oleh Martin Luther Kings.

pada kenyataanya, Septuaginta berbeda dengan kitab yang di akui oleh orang Yahudi sekarang karena mengandung beberapa kitab yang tidak ada dalam Alkitab orang Yahudi. Kitab-kitab ini kemudian disebut buku Deuterokanonika.


sebuah transliterasi / terjemah yg baik, sudah seharusnya memenuhi kriteria obyektifitas, dan itu dapat dipenuhi jika dilakukan oleh orang yang benar-benar memahami dengan baik 2 sisi budaya, sejarah dan tatabahasa dari bangsa yg bahasanya hendak ditranslit dan dari bangsa yg nantinya akan menghasilkan transliterasi karya terjemah.

hasil akhirnya adalah padanan kata yg paling mendekati bahasa asal.

>info sejarah yg mengatakan bahwa dari ke 70 orang itu tidak ada satupun orang Yunani, meninggalkan tanda tanya tersendiri...itu cerita tentang Alkitab Perjanjian lama..

bagaimana dengan Alkitab Perjanjian baru???

konon, Injil Matius sendiri aslinya ditulis dalam bahasa Yunani.. tidak ada perkamen Injil Matius dalam bahasa Ibrani.. jika ini benar adanya, maka masalahnya makin melebar, karena Jesus tidak pernah sekalipun berkata dalam bahasa Yunani.

dan mengenai Injil itu sendiri, menurut saya umat kristen saat ini telah terjebak dalam 'kerancuan istilah' yang akut..

banyak umat kristen yg seringkali memahami bahwa Alkitab itu adalah Injil.. padahal yang sebetulnya disebut Injil hanyalah empat kitab pertama dalam Perjanjian Baru (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes)... kitab diluar itu sebetulnya tidak tepat dikatakan sebagai Injil..

antara Injil, PL dan PB ada perbedaan pengertian yang begitu mendalam, tapi satu yang perlu diketahui bahwa surat-surat dari rasul Paulus bukanlah bagian dari Perjanjian Baru..
Kembali Ke Atas Go down
bruce
Global Moderator
Global Moderator


Jumlah posting : 9231
Join date : 27.01.11

PostSubyek: Re: Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab   7th February 2011, 15:20

alfa1 wrote:
bruce wrote:


Anda tidak cermat mas. Betul, bahwa Alkitab ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi oleh orang Yahudi yang berbahasa Yunani, bukan ditulis oleh orang Yunani. Bisa mengerti perbedaannya?

Thanks

yups!!!

menurut sejarah, Septuaginta sebagai terjemah kitab-kitab Perjanjian Lama atau Tanakh dari bahasa Ibrani Kuno ke bahasa Yunani memang sudah dimulai pada abad ke-3 SM. Terjemahan ini disebut "septuaginta" yang dalam bahasa Yunani artinya adalah 70 dan sering ditulis sebagai "LXX" karena konon disusun 70 orang Yahudi yang ditugaskan oleh Ptolemeus II Filadelfus (285 - 247 SM) dari Mesir atas perintah raja Iskandariyah pada abad ke-3 SM untuk dimasukkan ke Perpustakaan Alexandria.

kita tidak pernah tahu siapa yang mengerjakan terjemahan ini. Namun yang pasti ialah terjemahan ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Yahudi yang tinggal di Diaspora, di luar Palestina dan tidak lagi memahami bahasa Ibrani. Mereka telah sangat dipengaruhi oleh budaya Yunani (helenis), yang saat itu merupakan bahasa internasional di kawasan Laut Tengah.

pada abad ke-4, Septuaginta ini diterjemahkan ke bahasa Latin, dan abad ke-16 disalin ke dalam bahasa Jerman oleh Martin Luther Kings.

pada kenyataanya, Septuaginta berbeda dengan kitab yang di akui oleh orang Yahudi sekarang karena mengandung beberapa kitab yang tidak ada dalam Alkitab orang Yahudi. Kitab-kitab ini kemudian disebut buku Deuterokanonika.


sebuah transliterasi / terjemah yg baik, sudah seharusnya memenuhi kriteria obyektifitas, dan itu dapat dipenuhi jika dilakukan oleh orang yang benar-benar memahami dengan baik 2 sisi budaya, sejarah dan tatabahasa dari bangsa yg bahasanya hendak ditranslit dan dari bangsa yg nantinya akan menghasilkan transliterasi karya terjemah.

hasil akhirnya adalah padanan kata yg paling mendekati bahasa asal.

>info sejarah yg mengatakan bahwa dari ke 70 orang itu tidak ada satupun orang Yunani, meninggalkan tanda tanya tersendiri...itu cerita tentang Alkitab Perjanjian lama..

bagaimana dengan Alkitab Perjanjian baru???

konon, Injil Matius sendiri aslinya ditulis dalam bahasa Yunani.. tidak ada perkamen Injil Matius dalam bahasa Ibrani.. jika ini benar adanya, maka masalahnya makin melebar, karena Jesus tidak pernah sekalipun berkata dalam bahasa Yunani.

dan mengenai Injil itu sendiri, menurut saya umat kristen saat ini telah terjebak dalam 'kerancuan istilah' yang akut..

banyak umat kristen yg seringkali memahami bahwa Alkitab itu adalah Injil.. padahal yang sebetulnya disebut Injil hanyalah empat kitab pertama dalam Perjanjian Baru (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes)... kitab diluar itu sebetulnya tidak tepat dikatakan sebagai Injil..

antara Injil, PL dan PB ada perbedaan pengertian yang begitu mendalam, tapi satu yang perlu diketahui bahwa surat-surat dari rasul Paulus bukanlah bagian dari Perjanjian Baru..

Oke, itu versi anda mas, nah ini versi benarnya :

Quote :
Yesus tidak menulis Kitab Suci

Pernahkah anda bertanya dalam hati: “Mengapa Yesus sendiri tidak menulis Kitab
Suci?” Bukankah hal ini lebih baik, sehingga tidak ada pertanyaan tentang asal usul
Kitab Suci di kemudian hari? Demikianlah, mungkin hingga saat ini banyak orang
mempertanyakannya, bahkan sampai pada titik menolak untuk percaya kepada Kitab Suci
dan kepada pesan Keselamatan yang tertulis di dalamnya; bahwa Yesus, Sang Putera
Allah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita? Mari merenungkan hal ini: Yesus adalah Sang
Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14). Pribadi-Nya sendiri adalah
Sabda Allah: Dia-lah “Kitab Suci” yang hidup. Maka dapat dimengerti jika Yesus tidak
menulis Kitab Suci, karena Ia tidak ingin membatasi Diri-Nya hanya pada ajaran dan
peraturan yang tertulis oleh huruf-huruf. Ia tidak menulis Kitab Suci karena Ia
menghendaki semua orang untuk melihat dan membaca Pribadi-Nya yang tak terbatas. Di
sanalah tertulis segala kesempurnaan ajaran, teladan, dan gambaran Allah sendiri.
Bukankah bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui bahwa seorang pemimpin,
seniman ataupun guru yang terbesar adalah ia yang berhasil membentuk murid-muridnya
untuk menjadi pemimpin, seniman, ataupun guru yang besar juga? Demikianlah, dalam
kebijaksanaan-Nya, Allah membentuk manusia, untuk mengikuti teladan-Nya untuk
mencapai kehidupan kekal seperti yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus. Untuk
mewujudkan rencana-Nya, Allah memilih orang-orang beriman tertentu yang dibimbing
secara khusus oleh Roh Kudus-Nya, untuk menuliskan rencana Keselamatan-Nya ini.
Asal usul Kitab Suci

Maka umat Kristiani percaya bahwa Kitab Suci bukan merupakan kitab yang ‘jatuh’ dari
surga, ataupun kitab yang dituliskan oleh Kristus, melainkan Kitab yang terdiri dari
kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang pilihan Allah yang diilhami Roh Kudus.
Nah, pertanyaannya, dari mana kita tahu bahwa kitab-kitab tertentu diilhami oleh Roh
Kudus, sedangkan ada banyak kitab lainnya ‘hanya’ merupakan karya manusia? Sejarah
menunjukkan bahwa yang menentukan apakah suatu kitab tertentu diilhami Roh Kudus
atau tidak adalah Gereja Katolik. Hal ini mungkin karena kita percaya bahwa Gereja
Katolik dipimpin oleh para rasul dan para penerusnya yang dibimbing oleh Roh Kudus.
Karena Roh Kudus ini adalah Roh yang sama dengan Roh yang mengilhami penulisan
kitab-kitab itu, maka peneguhan yang ditetapkan oleh Gereja tentang kitab-kitab
tersebut tidak mungkin keliru, karena Roh Kudus tidak mungkin mempertentangkan
Diri-Nya sendiri.

Jika kita tidak mempercayai hal ini, kita sama saja dengan mempertanyakan janji
Kristus yang mengatakan akan menyertai para rasul-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat
28:19-20). Kita tahu, bahwa para rasul semuanya telah wafat, sehingga janji
penyertaan-Nya sampai akhir zaman hanya mungkin diartikan bahwa Yesus akan menyertai
para pengganti rasul- rasul tersebut, dan menjaga mereka dari kesesatan dalam
kapasitasnya memimpin Gereja dan melestarikan ajaran Kristus. Maka, dengan mengimani
janji Kristus itu, kita percaya bahwa para pengganti rasul diilhami oleh Roh Kudus
untuk meneguhkan kitab-kitab mana yang diilhami Roh Kudus, yang kemudian membentuk
Kitab Suci.

Wahyu Ilahi diberikan kepada beberapa orang pilihan-Nya untuk dituliskan

Allah memberikan wahyu Ilahi kepada banyak orang pilihan-Nya, tidak hanya kepada
satu orang saja, untuk dituliskan. Justru karena penulisan Alkitab melibatkan banyak
orang selama jangka waktu ribuan tahun, maka secara objektif kita melihat campur
tangan Allah dalam hal ini. Wahyu Ilahi ini diberikan dalam sejarah manusia, yaitu
kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, dan selanjutnya diteruskan oleh para rasul
dan para muridnya untuk menyampaikan penggenapan Perjanjian Lama dalam diri Kristus
dalam Perjanjian Baru. Ini adalah karya Allah yang sangat mengagumkan, dan justru
tidak mungkin salah, karena wahyu tersebut tidak tergantung oleh satu orang saja,
namun melibatkan banyak orang dari banyak generasi. Bagaimana naskah- naskah kitab
yang terpisah satu sama lain yang ditulis oleh orang-orang yang bisa saja tidak
saling kenal satu sama lain, karena terpisah oleh jarak dan waktu/ perbedaan
generasi, namun yang memberikan inti pengajaran yang sama, yang pada akhirnya
menunjuk dan membuka jalan bagi kedatangan Kristus, itulah yang seharusnya membuat
kita tertunduk kagum. Betapa indahnya rencana keselamatan Allah yang melibatkan
umat-Nya. Keikutsertaan manusia dalam rencana keselamatan Allah ini tidak mengurangi
kemuliaan-Nya, namun semakin melipat-gandakannya. Ia membuktikan DiriNya Mahakuasa,
karena Ia memampukan manusia yang lemah untuk mengambil bagian dalam rencana
Keselamatan-Nya; baik dalam menuliskan, menyebarluaskan dan melestarikan Kitab Suci,
dan tentu saja, dalam melaksanakannya, jika manusia mau bekerjasama dengan Dia.

Peran Gereja Katolik

Dari bukti sejarah kita melihat adanya banyak kitab yang menceritakan tentang Allah.
Tentu orang berhak bertanya, mana kitab yang benar, mana yang tidak. Semua orang
tentu dapat mempunyai penilaian sendiri-sendiri, namun berbahagialah kita yang
percaya bahwa Allah menyertai Gereja-Nya dengan Roh Kudus-Nya, sehingga Gereja yang
bertindak atas nama Kristus itulah yang paling berwewenang untuk menentukan kitab
mana yang otentik diilhami Roh Kudus, dan kitab mana yang tidak. Karena bimbingan
Roh Kudus pada Gereja Katolik inilah, maka kita percaya bahwa kitab-kitab yang
ditetapkan oleh Gereja adalah sungguh yang ditetapkan oleh Allah sendiri.

Bukti sejarah ini sungguh membuka mata kita bahwa sesungguhnya Kitab Suci yang kita
kenal sekarang ada karena Gereja Katolik, yang menetapkan kanon Kitab Suci. Kata
‘kanon’ sendiri berarti ‘batang pengukur’ atau ‘standar’. Jadi kanon Kitab Suci
adalah daftar kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus yang membentuk Kitab
Suci, yang ditentukan oleh tradisi apostolik Gereja Katolik.

Kitab Suci saja (‘Bible alone’) tidak cukup

Ada kelompok orang-orang yang mengatakan bahwa hanya Kitab Suci yang menjadi sumber
satu-satunya iman Kristen. Namun, pendapat ini tidak dapat menjelaskan bagaimana
kita dapat tahu dengan pasti bahwa kitab-kitab tertentu termasuk dalam Kitab suci
sedangkan kitab yang lainnya tidak. Sebab, kanon Kitab Suci tidak diketahui dari
Kitab Suci itu sendiri. Di dalam Kitab Suci (dari Kejadian sampai Wahyu) tidak
disebutkan bahwa kitab ini dan itu termasuk Kitab Suci, sedang kitab yang lain
tidak. Maka, secara objektif sesungguhnya dapat kita lihat, bahwa berpegang pada
Kitab Suci saja tidaklah cukup. Peran Gereja menjadi sangat penting, karena Gereja
lahir terlebih dahulu dari Kitab Suci. Gereja Katolik yang didirikan oleh
Kristus-lah yang menjadi saksi otoritatif yang dapat menentukan apakah kitab-kitab
tersebut diilhami oleh Roh Kudus atau tidak. Peran Gereja Katolik ini diakui juga
oleh pendiri gereja Protestan, Martin Luther, yang mengatakan, “Kita diwajibkan
untuk bersandar pada Gereja Katolik- bahwa mereka memiliki Sabda Tuhan yang kita
terima dari mereka, jika tidak, kita tidak dapat mengetahui apapun tentang itu.”

Kanon Kitab Suci menurut Gereja Katolik

Kanon Kitab Suci yang ditetapkan menurut tradisi apostolik Gereja adalah Perjanjian
Lama terdiri dari 46 kitab dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab. Mungkin
kita pernah mendengar bahwa Gereja Katolik dikatakan ‘menambahkan’ 7 kitab dalam
Perjanjian Lama, yaitu Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yudit, Barukh, Tobit, 1 dan 2
Makabe (beserta tambahan Kitab Daniel dan Esther), yang dikenal dengan Kitab
Deuterokanonika. Tetapi sesungguhnya, ketujuh kitab tersebut sudah ada sejak
jemaat awal. Baru sekitar 1500 tahun kemudian, Martin Luther memisahkan ketujuh
kitab ini dari kanon Perjanjian Lama. Kitab-kitab ini digabungkan dengan kitab-kitab
lain yang umum disebut sebagai kitab Apokrif/ “Apocrypha” oleh Gereja Protestan.

Kanon Perjanjian Lama (PL)

Kanon Perjanjian Lama gereja Protestan diambil berdasarkan kanon kaum Yahudi yang
berbahasa Ibrani di Palestina. Sedangkan kanon Perjanjian Lama Gereja Katolik
berdasarkan atas kanon kaum Yahudi yang berbahasa Yunani (Alexandria) di seluruh
Mediterania, termasuk di Palestina. Alexandria adalah kota di Mesir yang mempunyai
perpustakaan terbesar pada jaman itu, di bawah kepemimpinan Raja Ptolemy II
Philadelphus (285-246 BC). Maka keseluruhan Kitab Suci Ibrani diterjemahkan ke dalam
bahasa Yunani oleh 70 atau 72 orang ahli kitab Yahudi. Terjemahan ini selesai pada
tahun 250-125 BC, dan dari sanalah kita mengenal kata “Septuagint” yaitu kata Latin
dari 70 (LXX), sesuai dengan jumlah para penerjemah itu.

Pada jaman Yesus hidup, bahasa Ibrani adalah bahasa yang mati/ tidak digunakan.
Orang-orang Yahudi di Palestina pada saat itu umumnya bicara dengan bahasa Aramaic.
Sedangkan pada waktu itu, bahasa Yunani merupakan bahasa yang umum dipergunakan di
seluruh dunia Mediteranian. Maka tak mengherankan bahwa yang Alkitab yang
dipergunakan oleh Yesus adalah terjemahan Septuagint/ Yunani, dan terjemahan
Septuagint ini pula yang dipergunakan oleh para penulis kitab Perjanjian Baru.

Pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar
yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan
hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali. Dengan demikian, kita ketahui bahwa
dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan
lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Mengapa PL menurut Septuagint berisi 46 kitab sedangkan kanon Ibrani 39 kitab

Kanon Ibrani ditetapkan oleh para rabi Yahudi di Javneh/Jamnia, Palestina, pada
sekitar tahun 100, yang kemungkinan disebabkan oleh reaksi mereka terhadap Gereja
yang menggunakan kanon Yunani (Alexandria). Alasan mereka tidak memasukkan seluruh
kitab ini ke dalam kanon mereka adalah karena mereka tidak dapat menemukan ke-7
kitab Deuterokanonika tersebut dalam versi Ibrani. Namun Gereja Katolik tidak
mengakui keputusan para rabi Yahudi tersebut. Jangan kita lupa, bahwa mereka (para
rabi Yahudi) tidak pernah menerima Kristus, ajaran Kristiani maupun Perjanjian Baru
yang sudah ada sebelum kanon Ibrani ditetapkan. Bagaimana kita dapat mempercayai
keputusan para rabi Yahudi untuk menentukan kanon Kitab Suci? Atau mengakui bahwa
mereka dipimpin oleh Roh Kudus, padahal mereka malah telah menolak Kristus?

Memang harus diakui bahwa karena wahyu ilahi diberikan pertama-tama melalui bangsa
Yahudi, maka tak mengherankan jika Alkitab kita mengandung kitab-kitab suci yang
diakui juga oleh kaum agama Yahudi. Menurut The Pontifical Biblical Commision, on
The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible, (I, E,
3.Formation of the Christian Canon), disebutkan:

“Di Gereja- gereja Timur pada jaman Origen (185-253) ada usaha untuk menyesuaikan
dengan kanon Ibrani…. [Namun] usaha untuk menyesuaikan teks Ibrani dalam kanon
Ibrani tidak menghalangi para pengarang Kristen di gereja-gereja Timur untuk
menggunakan kitab-kitab yang tidak termasuk dalam kanon Ibrani, atau yang mengikuti
teks Septuagint. Maka pendapat bahwa – kanon Ibrani yang seharusnya dipilih oleh
umat Kristiani- tidak dipilih oleh gereja-gereja Timur, atau setidak-tidaknya tidak
ada kesan yang mendukung ke arah itu. Di gereja-gereja Barat, penggunaan Septuagint
adalah umum dan dipertahankan oleh St. Agustinus (354-430). Ia melandaskan
pandangannya pada praktek yang telah berlangsung lama dalam Gereja.”

Maka berdasarkan penggunaan kitab-kitab yang telah lama berakar di Gereja, Gereja
Katolik menetapkan kanon Kitab Suci pada Konsili di Hippo 393 dan Carthage 397,
yaitu 46 kitab dari kanon Yunani (Septuagint) sebagai kanon Perjanjian Lama/PL dan
27 kitab Perjanjian Baru/ PB termasuk di sini adalah ketujuh kitab di PL yang
disebut sebagai Deuterokanonika. Para Bapa Gereja, baik sejak jaman Kristen abad
pertama, Polycarpus, Irenaeus, Clement dan Cyprian mengutip kitab-kitab
Deuterokononika tersebut dalam pengajaran mereka, sebab mereka menganggap
kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus, sama dengan kitab-kitab PL lainnya.
Sejak saat diresmikannya kanon Kitab Suci pada abad ke-4, Septuagint ini diterima
oleh umat Kristiani, kecuali oleh mereka yang kemudian menolaknya pada sekitar tahun
1529 bersamaan dengan pemisahan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja Katolik.
Jadi tidak benar bahwa Kitab Deuterokanonika baru ditambahkan pada tahun 1546 pada
Konsili Trente; ini adalah mitos yang sangat keliru!

PL menurut Martin Luther dan gereja Protestan

Dengan berpegang pada kanon Ibrani berdasarkan Konsili Jamnia dan pendapat St.
Jerome, gereja Protestan menganggap ke- 39 kitab sebagai kanon Perjanjian Lama.
Namun demikian sebenarnya alasan ini tidak cukup kuat, karena walaupun St. Jerome
pernah menyatakan pendapatnya yang menolak status kanonik kitab Yudit, Tobit,
Makabe, Sirakh dan Kebijaksanaan, ia pada akhirnya dengan rendah hati tunduk pada
keputusan Gereja, dengan memasukkan kitab-kitab tersebut ke dalam terjemahan Kitab
Suci berbahasa Latin, “the Vulgate”. Juga penelitian terakhir dari the Dead Sea
Scroll di Qumran menunjukkan ditemukannya copy naskah berbahasa Ibrani dari beberapa
kitab yang dipermasalahkan (yang tidak termasuk kanon Ibrani). Selanjutnya,
penemuan naskah Ibrani pada sebagian besar kitab Sirakh/ Ecclesiaticus di Mesir
memperkuat anggapan para ahli kitab suci bahwa kitab Sirakh tersebut diterjemahkan
ke bahasa Yunani dari bahasa Ibrani.

Bukti-bukti ini sesungguhnya memperkuat bahwa Septuagint adalah terjemahan awal yang
lengkap dan otentik, hanya saja dengan berselangnya waktu, naskah Ibrani dari
beberapa kitab ini tidak dapat ditemukan seluruhnya. Jika suatu saat nanti ditemukan
semua naskah Ibraninya, barangkali semua menjadi lebih jelas. Namun dengan
ditemukannya sebagian saja dari naskah Ibrani kitab tersebut, itu sudah menunjukkan
bahwa alasan mencoret keberadaan kitab Deuterokanonika dari kanon hanya karena tidak
dapat ditemukan naskah Ibrani-nya, sesungguhnya bukan merupakan alasan yang kuat.
Sebab, jika suatu saat dapat ditemukan semua naskah Ibrani-nya, bagaimana
mempertanggungjawabkan pendapat ini?

Juga perlu direnungkan, mengapa gereja Protestan mengambil dasar konsili Jamnia
sebagai dasar penentuan kanon PL, sebab konsili itu tidak umum diketahui oleh kaum
Yahudi dan hasil konsili tersebut tidak diterima oleh segenap kaum Yahudi. Kaum
Saduki dan Samaria tidak menerimanya, bahkan kaum Yahudi di Ethiophia sampai
sekarang mempunyai kitab PL yang sama dengan yang kanon PL Gereja Katolik.

Sekarang mari kita melihat fakta sejarah. Walaupun Luther mempertanyakan
penetapan 46 kitab dalam kanon PL, namun ia sendiri tetap menyertakan Kitab
Deuterokanonika tersebut dalam terjemahan Alkitab pertamanya dalam bahasa Jerman
pada tahun 1530. Kitab Deuterokanonika juga ditemukan dalam edisi pertama King James
Version pada tahun 1611, dan pada saat pertama Alkitab dicetak. Maka kitab
Deuterokanonika memang sudah termasuk dalam semua Alkitab (setidak-tidaknya sebagai
appendix dalam Alkitab Protestan) sampai pada tahun 1825, yaitu saat Komite
Edinburgh dari the British Foreign Bible Society ‘memotongnya’. Maka terlihat bahwa
bukan Gereja Katolik yang menambahkan Kitab Deuterokanonika, melainkan gereja
Protestan yang menguranginya dari keseluruhan Kitab Suci.

Perlu juga diketahui bahwa Luther mempertanyakan keaslian kitab 2 Makabe, dari segi
historis dan karena di kitab tersebut juga berisi dasar doktrin Api Penyucian, yang
bertentangan dengan prinsip-nya “Salvation by faith alone”. Pandangan inilah yang
sering dianggap sebagai alasan mengapa Luther memisahkan kitab Deuterokanonika
sebagai “Apokrif ‘Apocrypha’, yaitu kitab-kitab yang tidak dianggap sama seperti
Kitab Suci lainnya namun sebagai kitab yang berguna dan baik untuk dibaca.”
Sayangnya, setelah jaman Reformasi, arti ‘apocrypha’ –yang terjemahan bebasnya
adalah ‘tersebunyi’ ini memperoleh konotasi negatif, sehingga diartikan sebagai
‘salah/ sesat’.

Kanon PL mana yang kita pilih?

Jika kita memilih untuk berpegang pada Kitab Suci yang mengandung ketujuh kitab
tersebut, artinya, kita mengikuti tradisi para rasul, para penulis kitab Perjanjian
Baru dan para jemaat awal. Namun jika kita berpegang pada Kitab Suci yang tidak
mencantumkan ketujuh kitab itu, artinya kita mengikuti tradisi para rabi Yahudi
non-Kristen yang kemudian diikuti oleh gereja Protestan.

Kanon Perjanjian Baru (PB)

Mengenai hal kanon PB, baik Gereja Katolik maupun Protestan setuju, bahwa terdapat
27 kitab di dalam kitab Perjanjian Baru. Kitab pertama PB dituliskan sekitar tahun
50, yaitu 1 Tesalonika, dan yang terakhir, Wahyu, pada tahun 90-100. Pertanyaannya
sekarang adalah, bagaimana sampai diperoleh Kitab Perjanjian Baru tersebut, jika
pada waktu yang sama dituliskan kitab-kitab lain, yang mengundang perbedaan pendapat
dalam kelompok jemaat mengenai hal ke-otentikan kitab sebagai yang diilhami Roh
Kudus. Misalnya ada yang berpendapat bahwa kitab Ibrani, Yudas, Wahyu dan 2 Petrus
itu tidak diilhami Roh Kudus, sedangkan sebaliknya ada yang berpendapat bahwa kitab
Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat Barnabas dan Clement adalah tulisan yang
diilhami Roh Kudus. Gereja memahami situasi ‘kebingungan’ ini maka pada akhir abad
ke- 4 dimulailah suatu konsili dan dekrit yang memutuskan Kanon seluruh Kitab Suci,
sebagai berikut:

1. Tahun 382, Paus Damasus I, didorong oleh Konsili Roma, menulis dekrit yang
menentukan ke 73 kitab, PL dan PB.

2. Tahun 393, Konsili Hippo di Afrika Utara menyetujui adanya ke-73 kitab
tersebut dalam kanon Kitab Suci, PL dan PB.

3. Tahun 397, Konsili Carthage/ Carthago, Afrika Utara, kembali menyetujui kanon
PL dan PB tersebut. Banyak gereja Protestan yang menganggap konsili ini sebagai yang
menentukan secara otoritatif kanon Perjanjian Baru.

4. Tahun 405, Paus St. Innocentius I (401-417) menulis surat kepada Uskup
Exsuperius dari Toulouse, menetapkan ke 73 kitab seperti yang disetujui oleh Konsili
Hippo dan Carthage.

5. Tahun 419, Konsili ekumenikal di Florence secara resmi mendefinisikan daftar
ke-73 kitab yang sama tersebut dalam kanon Kitab Suci.

6. Tahun 1546, Konsili ekumenikal di Trente meneguhkan lagi kanon Kitab Suci yang
terdiri dari ke-73 kitab tersebut.

7. Tahun 1869, Konsili ekumenikal Vatikan I kembali meneguhkan daftar kitab yang
disebutkan dalam Konsili Trente.

Maka kita ketahui dalam waktu 40 tahun dari tahun 382 sampai 419 diadakan beberapa
konsili dan keputusan Bapa Paus tentang Kanon Kitab Suci sampai akhirnya ke-73 kitab
tersebut diterima secara umum oleh Gereja pada sekitar tahun 450.

Gereja Katolik menggunakan wewenang mengajarnya untuk meneguhkan kanon Kitab Suci
tersebut, dan kita patut bersyukur atas campur tangan Roh Kudus yang memimpin Gereja
Katolik dalam hal ini. St. Agustinus berkata, “Saya tidak akan percaya pada Injil
seandainya otoritas Gereja Katolik tidak mengarahkan saya untuk itu”. Maka St.
Agustinus mengakui bahwa kepastian akan keaslian kitab tertentu sebagai yang sungguh
diilhami oleh Roh Kudus adalah dengan menerima ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja
Katolik, dan dengan demikian mengakui juga otoritas Gereja Katolik. Suatu
permenungan adalah: jika kita meragukan otoritas Gereja Katolik, maka kita
sesungguhnya juga menentang Para Bapa Gereja, seperti St. Agustinus. Adakah kita
lebih pandai dan lebih diilhami Roh Kudus daripada mereka?

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa Kitab Suci berkaitan erat dengan Gereja
Katolik. Kitab Perjanjian Lama ditetapkan berdasarkan terjemahan yang diakui oleh
Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Baru ditulis, diperbanyak, dikumpulkan dan
dilestarikan oleh Gereja Katolik. Dari kanon yang ditetapkan oleh Gereja Katolik
inilah semua gereja yang lain memperoleh Kitab Suci. Namun bukan berarti bahwa
otoritas Gereja Katolik-lah yang menciptakan Kitab Suci, sebab Roh Kuduslah yang
memberi inspirasi kepada para penulis Kitab Suci. Yang benar adalah, Gereja Katolik
diberi kuasa ilahi oleh Yesus Kristus sendiri untuk secara resmi meneguhkan dan
menentukan secara dogmatis daftar kitab-kitab tertentu sebagai kitab yang
diinspirasikan oleh Roh Kudus. Penentuan ini tidak mungkin salah, sebab Gereja
dipimpin oleh Roh Kudus yang tidak mungkin salah. Mari bersama, kita dengan rendah
hati mensyukuri rahmat bimbingan Roh Kudus terhadap Gereja Katolik yang olehnya kita
memperoleh Kitab Suci. Mari kita tunjukkan ketaatan iman kita kepada Kristus dengan
mempercayai ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja yang didirikan-Nya. Dan akhirnya,
mari bersama-sama kita belajar lebih tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci, yang
sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja Katolik.

Kembali Ke Atas Go down
alfa1
Tamtama
Tamtama


Jumlah posting : 30
Join date : 04.02.11

PostSubyek: Re: Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab   7th February 2011, 18:10

dear bro bruce,

apakah anda meyakini bahwa Injil Matius ditulis pertama kali dalam bahasa Ibrani dan bukan bahasa Yunani?

dapatkah anda memberikan referensi tentang keyakinan anda itu????

terimakasih....
Kembali Ke Atas Go down
striker
Perwira Menengah
Perwira Menengah


Jumlah posting : 1393
Join date : 03.02.11

PostSubyek: Re: Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab   7th February 2011, 20:40

alfa1 wrote:
dear bro bruce,

apakah anda meyakini bahwa Injil Matius ditulis pertama kali dalam bahasa Ibrani dan bukan bahasa Yunani?

dapatkah anda memberikan referensi tentang keyakinan anda itu????

terimakasih....

permisi ikut menyimak tuk menambah ilmu bro
monggo diteruskan bounce bounce bounce
Kembali Ke Atas Go down
Admin
Admin
Admin


Jumlah posting : 31
Join date : 20.01.11

PostSubyek: Re: Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab   7th February 2011, 23:26

alfa1 wrote:
dear bro bruce,

apakah anda meyakini bahwa Injil Matius ditulis pertama kali dalam bahasa Ibrani dan bukan bahasa Yunani?

dapatkah anda memberikan referensi tentang keyakinan anda itu????

terimakasih....


Mau lihat tulisan aslinya mas?

Very Happy Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
http://ltb1.indonesianforum.net
Sponsored content




PostSubyek: Re: Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab   Today at 12:57

Kembali Ke Atas Go down
 
Beragam Gaya Bahasa Dalam Penulisan Ayat Alkitab
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» Belajar Bahasa Arab, Yuk?
» Alon-alon Waton Klakon VS Pali Pali
» Nihongo [Dai Goka]
» DAI HACHI-KA

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ladang Tuhan Baru :: Ruang Antar Kristen (Khusus Penganut Kristen Trinitarian) :: Alkitab-
Navigasi: